LAST AND FOREVER

Pandora Hearts © Jun Mochizuki-sensei

Rated: T

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Warning(s): OOC, Typos, Garing, Lebay, Crazy, kata-kata yang cukup bahkan SANGAT kasar, dan lainnya.

Summary: Alice dkk kini telah lulus dari SMA dan melanjutkan sekolah di sebuah universitas. Di sinilah seorang Alice kembali bertemu dengan Oz dan di sinilah Oz membuktikan janjinya.

.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan meng-update chapter 2 ini.

-faricaLucy-

.

Enjoy! ^^

.

"Alice, lama sekali kita tidak bertemu."

"Oz? Kau… Oz Vessalius?"

.

"Gilbert?"

"Alice?"

"Loh, kalian sudah saling kenal?"

.

"Ada apa ini? Mengapa bisa? Aku bertemu dengan dua orang lelaki yang pernah ku cintai!"

Takdir? Ataukah hanya kebetulan?

.

.

Chapter 2: Fate or Coincidence?

"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Oz.

"…"

"Ya. Dulu saat aku masih berada di London, aku satu kelas dengannya," jawab Gilbert sekenanya.

"Oh, bagus kalau begitu. Aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan kalian berdua. Haha…" Oz tersenyum senang di hadapan mereka dan Gilbert tersenyum hambar di hadapannya. Oz tidak tahu apa yang sedang dirasakan Alice saat ini.

"Ah! Kau Echo, bukan?" tanya Gilbert setelah menyadari keberadaan Echo di sana.

"Hn, ya benar. Senang bertemu lagi denganmu, Gilbert," balas Echo.

"Hmm… Sepertinya aku pernah melihatmu," desis Oz sambil menatap ke arah Echo.

"Kita berada di SMA yang sama, Oz."

"Oh! Ya, ya! Aku pernah melihatmu di SMA. Tapi kita tidak pernah mengobrol, ya."

"Hn."

"Eh, kalau begitu, kau, Echo, dan Alice sudah kenal cukup lama, ya?" tanya Oz pada Gilbert.

"Eng… Begitulah. Sebelum aku pindah ke Oxford, aku bersekolah di Latowidge Gakuen saat SMP."

"Oh, begitu. Jadi, Nona Echo saat SMP bersekolah di Latowidge Gakuen, ya?"

"Panggil Echo saja. Ya, begitulah."

Mereka tetap berbincang-bincang tanpa menyadari bahwa sedari tadi Alice menahan perasaannya. Semakin lama, Alice semakin berada di puncaknya. "Maaf, aku ada keperluan dengan Echo. Ayo, Echo!" kata Alice sambil menarik tangan Echo tanpa memandang ke arah Oz dan Gilbert.

Oz melihatnya bingung lalu tertunduk dengan wajah yang semula senang menjadi lesu. Ya, Gilbert bisa melihatnya dengan jelas. "Apa yang telah terjadi selama aku pergi?" tanya Gilbert dalam hati.


Dua gadis itu sedang berlari ke tengah halaman kampus mereka. Mereka terlihat sangat kelelahan.

"Ada apa, Alice? Kau tiba-tiba menarikku ke sini…"

"Echo, aku…" Alice melepaskan genggamannya dari tangan Echo. Ia duduk di bangku yang berada di dekat lapangan tersebut, lalu menggenggam ujung bajunya sendiri sambil tertunduk. "Aku… bingung."

"Ternyata kau masih tidak sanggup melupakan Gilbert, ya? Padahal dulu kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau telah melupakan Gilbert."

"Aku… entahlah." Alice menghembuskan nafasnya.

Mereka terdiam sejenak. Berkelut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Alice menghembuskan nafasnya yang berat dan terasa menyesakkan.

"Perasaanku campur aduk. Sedih, senang, bingung, dan sakit…" kata Alice dalam hati.

Echo melihat sahabat lamanya itu dengan wajah mengasihani. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah langit yang biru. "Jadilah seperti awan," lirihnya.

"Eh?"

"Jadilah seperti awan. Awan bergerak sesuai tiupan angin yang menghantarnya. Awan tidak menghindar walaupun badai dan angin topan datang menderu."

"…"

"Ikuti saja aliran waktu, Alice. Waktu akan mengatur semuanya. Waktu akan menjawab semua pertanyaanmu dan menuntunmu pada jalanmu."

Alice mendongakkan kepalanya, menatap sayu kepada Echo. "Benarkah?"

"Ya. Tapi tentu saja selama di perjalanan kau akan mendapat beberapa pilihan. Kau harus memilih satu dari beberapa pilihan tersebut."

"Kalau aku salah memilih?"

"Kau harus memilih sesuai kata hatimu, Alice. Maka pilihanmu itu tidak akan salah."

"Hmm…"

Alice kembali berpikir. Echo mengalihkan pandangannya dari langit kembali kepada Alice. "Akan 'ku coba," kata Alice. "Terima kasih, Echo."

Echo tersenyum sambil berkata, "Itulah gunanya sahabat, Alice."

"Haha… Kau benar. Dasar anak pintar!" kekeh Alice. Kini Alice memang benar-benar terlihat kembali bersemangat. Tapi…

"Kau lebih pintar, Alice. Ah, tidak! Jenius!"

Hatinya tetap saja tidak bersemangat.


Di tempat lain…

Sharon berlari cukup kencang hingga ia lelah untuk berlari. Kini ia telah berada di belakang gedung sekolah. "Hosh! Hosh!" Ia duduk di bawah salah satu pohon yang berada di dekatnya untuk mengademkan diri. "Sial!" keluhnya.

"Mengapa aku malah bertemu dengan gadis itu, sih? Gadis perusak hubungan orang!" Entah kepada siapa ia berbicara, saat ini Sharon benar-benar merasa marah. "Aku benci padamu, Alice Baskerville!"

Deru nafas Sharon masih terlihat. Ia menyenderkan punggung badannya kepada pohon yang menjadi tempat berteduhnya dari sengatan matahari yang mulai melambung. "Aku benci Alice! Aku benci Oz! Aku benci mereka berdua!" katanya lagi.

"Sharon?"

Seseorang memanggil namanya dan menghampirinya. Jelas saja Sharon langsung menyembunyikan wajahnya yang sedang kesal. "Lottie?" katanya kaget.

"Hai. Lama tidak berjumpa, Sharon," sapa Charlotte-Lottie-Baskerville sambil mengangkat tangannya ke arah Sharon.

"I- Iya…"

Lottie mengambil posisi duduknya di sebelah Sharon, dan merenggangkan tubuhnya dipohon itu. "Bagaimana hubunganmu dengan 'Playboy Cap Mawar' itu setelah lulus SMP?"

"Kami sempat putus, tapi kami merajut hubungan lagi. Lalu Oz – " Sharon tertunduk, mencoba menahan air matanya yang akan jatuh. "Tidak! Aku tidak boleh menangis!" kata Sharon dalam hati.

"Ada apa dengan playboy itu?" tanya Lottie, ia benar-benar penasaran saat ini.

"Dia… memutusi aku karena seorang wanita," lirihnya sambil menutup matanya dan menyeka air matanya yang mulai mengalir.

"Heh? Sudah 'ku duga! Dia memang playboy yang tidak berperasaan! Aku memang sudah tidak sreg dengannya. Tapi kau sendiri yang keras ingin bersamanya dulu…"

Sharon melepaskan tangannya yang menutup matanya itu. Tapi pandangannya tertuju ke bawah. "Ya… Memang… Saat itu…"

-_Flashback On_-

Saat itu di SMP, Pandora Gakuen…

"Sharon! Aku dengar 'Playboy Cap Mawar' itu menyukaimu!" teriak seseorang dari pintu kelas. Sharon yang sedang membaca sebuah novel, dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Lottie, asal suara tersebut.

Lottie berlari mendekati Sharon sambil diiringi dengan suara seruan dari seisi kelas. "Jangan diterima!"

"Kenapa, Lottie? Kau sendiri tahu aku menyukainya dari dulu, kan. Kau kejam," desis Sharon sambil menyipitkan matanya.

"Bukan begitu, Honey… Aku hanya ngerasa kalau dia gak pantes buatmu…"

"Memangnya apa alasanmu?"

"Entahlah. Aku hanya kurang sreg aja," jawab Lottie santai.

"Itu sih kamunya aja. Tiap orang 'kan berbeda-beda, Lottie. Kau ini…"

"Iya, iya, Sharon. Terserah kamu, deh. Kalau dia bisa jagain kamu saat SMA nanti, aku akan merestui hubungan kalian."

"He? Kamu seperti mamaku aja. Memangnya SMA nanti kamu mau ke mana?"

"Aku akan menjalani SMA di Oxford. Tapi, saat kuliah nanti aku akan kembali ke London."

"Kok gitu, sih? Gak setia kawan, nih! By the way, kuliah memangnya kamu mau masuk ke mana?"

"Imperial College London," jawabnya to-the-point.

"Ha? Mustahil kamu bisa masuk ke sana! Hahaha…"

"Kau benar-benar jahat, Sharon. Pokoknya saat kuliah nanti kita harus bertemu di sana. Oke?"

"Iya, oke, deh. Haha… Kita 'kan masih SMP tapi kamu sudah mikirin kuliah," kata Sharon sambil menyeka air matanya yang sedikit keluar karena tertawa terbahak-bahak tadi.

"Biarin aja… Weekk!" Lottie menjulurkan lidahnya, Sharon juga membalasnya dengan juluran lidah.

"Haha… Tapi, kalau boleh tahu, kenapa kau SMA di Oxford?"

"Aku mau mengikuti pacarku! Hehe…" kata Lottie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Dasar kau ini! Giliran aku dapet cowok gak boleh. Tapi kalau giliran kamu boleh. Curang!"

"Yeee, biarin aja."

"Curang!"

Obrolan mereka terus berlangsung seru dengan disisipi canda, tawa, dan ejekan. Sampai suatu teriakan menghentikan obrolan mereka. "Kyaaaa! Oz datang!"

Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka kepada asal suara tersebut. Tampaklah sosok seorang pemuda berambut emas dan beriris emerald masuk ke dalam kelas mereka.

Lottie membisikkan sesuatu kepada Sharon. "Jangan diterima!"

"Berisik!" balas Sharon, tentu saja dengan berbisik. Wajah Sharon merah padam, ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

Pemuda itu-yang disebut Oz-datang menghampiri Sharon dengan tangannya yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya. "Hei, pergilah," bisik Sharon kepada Lottie.

"Kau gila? Aku tidak mau membiarkan kau bersama dengannya," bisik Lottie lagi. "Huh!" Sharon hanya bisa mendengus kesal di dalam hatinya.

"Sharon, bisa kita bicara?" tanya Oz sebagai pembukaan.

"Bukankah kau sudah berbicara padanya, heh?" sahut Lottie tiba-tiba. "Lottie!" tegur Sharon dengan suara kecil sambil menyenggol lengan Lottie. "Apaan, sih?"

"Haha… Benar juga. Sahabatmu pintar, ya, Sharon?" kata Oz ringan.

"Haha… Begitulah." Lottie hanya menatap mereka dengan kesal.

Tiba-tiba, Oz bertekuk lutut di hadapan Sharon, yang asli membuat wajah Sharon merona hebat. Lalu, Oz menunjukkan tangannya yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya. Tampak setangkai bunga mawar yang masih segar berada di genggaman tangannya. Sharon makin ber-blushing-ria.

"Terimalah cintaku, Sharon. Jangan dilihat dari bunga ini, tapi lihatlah dari hatiku."

KYAAAA!

Seantero kelas-bahkan sekolah-menjadi ricuh dan mereka bersorak-sorak bersahutan, kecuali Lottie tentu saja. Ia hanya mendengus kesal.

Perlahan-lahan, Sharon mengambil bunga mawar dari genggaman tangan Oz lalu menghirup harum bunga itu. "Harum sekali. Masih segar rupanya," komentar Sharon sambil memasang wajah imutnya. Hal ini spontan membuat Oz merona hebat. "Manis sekali," batin Oz.

"Ya. Aku terima," lanjut Sharon.

Hal ini membuat Oz serasa terbang melayang di udara, mengitari bumi dan cakrawala, dan menuju langit ke tujuh. Dia sangat senang sampai-sampai dia hanya terdiam dengan memasang wajah tidak percaya. "Aku menyukaimu, Oz," kata Sharon lagi.

Lagi-lagi Oz merasa terbang. Dia begitu sangat-sangat senang. Rasanya dia menari-nari di udara, tidur di awan nan empuk, dan sesuatu hal lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Oz berdiri lalu menatap lurus kearah Sharon. "Aku juga menyukaimu. Ah! Sangat menyukaimu."

Wajah mereka berdua memanas, makin memanas ketika Oz mencoba meraih tangan Sharon dan menggenggamnya erat.

"Huuaaah! Panas, ya! Gerah, nih!" celetuk Lottie sambil mengipas dirinya sendiri. Jelas saja rasa malu menjalar di dalam hati dua sejoli ini. Tapi rasa bahagia menyelimuti mereka.

-_Flashback Off_-

"Saat itu… aku benar-benar termakan emosiku sendiri. Aku mengaku kau memang benar, Lottie. Seharusnya saat itu aku tidak menerimanya."

"Tepat sekali."

"Tapi… sampai saat ini aku masih menyukainya…"

"…. Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku ingin membalas dendamku kepada gadis itu. Kebetulan dia kuliah di sini. Setelah itu, aku akan kembali kepada Oz dan aku akan mencampakkannya."

"Eh?" Lottie sedikit terbelalak. "Kau berubah."

"Aku merasa dicampakkan, Lottie. Aku mau membalasnya kepada mereka berdua."

"Hn. Aku dukung. Jadi, siapa nama gadis itu?"

"Alice. Alice Baskerville."


Waktu belajar sudah usai. Para mahasiswa ini keluar ruangan dan segera menaiki kendaraan mereka masing-masing yang membawa. Ada pula yang menunggu untuk dijemput.

"Penghianat!" bentak seorang gadis berambut peach.

"Diamlah Sharon! Apa maumu?" sahut seorang pemuda berambut emas.

"Kau dan gadis itu! Menjijikkan!"

"Diam! Kau boleh mengataiku, tapi jangan untuk Alice!"

"Kau tidak mengerti!"

"Tentang apa? Kita sudah tidak punya hubungan lagi!"

Saat itu, Alice baru saja keluar dari ruangan. Lalu ia mendengar namanya disebut, segera ia mencari asal suara tersebut. Di sisi lain, Gilbert mengikutinya diam-diam dari belakang.

Alice akhirnya sampai kepada asal suara. Ia sembunyi di balik dinding karena ia melihat Oz dan Sharon sedang bertengkar hebat. Ia tidak mau mencampuri urusan mereka. Jauh di belakang Alice, sosok Gilbert masih mengamati.

"Kau kejam!" teriak Sharon.

"…"

"Mengapa kau diam, huh? Penghianat! Playboy! Tidak tahu diri! Kau lebih memilih gadis murahan itu daripada aku? Dia hanya gadis kecil yang punya hati kecut!"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Sharon tanpa kenal ampun. Sharon hanya meringis kesakitan sambil memegangi pipinya.

"Sudah aku katakan, Sharon! Kau boleh mengataiku, tapi jangan mengatai Alice! Apa kau tidak mengerti?" Oz berkacak pinggang. Wajahnya terlihat murka.

"Jangan menyakitinya, Playboy Cap Mawar!" Tiba-tiba Lottie datang lalu dengan sigap menolong sahabatnya itu. "Kau tidak apa-apa, Sharon? Jangan bertindak sendiri seperti ini!"

"Aku tidak apa-apa, Lottie. Terima kasih." Sharon tersenyum, tentu saja senyum yang palsu. "Jangan memberi wajah seperti itu," kata Lottie. Lalu Lottie kembali berhadapan dengan Oz.

"Masih ingat aku?" tanya Lottie tajam.

"Kau-"

"Apa?"

"Sahabat Sharon yang sangat merepotkan itu, bukan?"

"Diam!"

"Apa urusanmu padaku? Aku mau pulang!"

"Jangan sakiti Sharon!"

"Aku tidak menyakitinya!"

"Kau menyakitinya, Baka! Apa bagusnya Alice itu dibandingkan Sharon, hah?"

"Jangan merendahkan Alice!"

"Beraninya kau memerintahku! Kau mau mencari masalah, hah?"

Kemarahan Oz kini sudah sampai pada puncaknya. Kesal, marah, merasa bersalah, semuanya campur aduk menjadi satu. Oz menggenggam tangannya erat. Sepertinya dia hendak menampar Lottie.

"Kau-"

Oz mengayunkan tangannya dan…

"Jangan, Oz! Hentikan!"

Tiba-tiba Gilbert datang dan menahan Oz. "Ada apa, Gilbert? Lepaskan aku! Kau tidak tahu apa-apa, Gilbert!"

"Aku mengenal gadis itu, Oz," kata Gilbert sambil menunjuk ke arah Lottie.

"Eh?"

"Aku mengenalnya di Oxford."

Lottie menyeringai. "Hai, Gilbert," sapa Lottie.

"Mengapa kau di sini?"

"Terima kasih sudah menolongku, ya."

"Aku tanya, mengapa kau di sini?" tanya Gilbert sedikit membentak.

"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"

"Jangan membuat masalah, Lottie."

"Bukan aku, tapi dia," balas Lottie sambil menunjuk ke arah Oz yang baru saja menenangkan diri.

"Apa? Aku?"

"Tentu saja kau. Kalau kau bisa setia dengan Sharon, keributan ini tidak mungkin terjadi," kata Lottie.

"Kalian tidak tahu apa-apa! Jangan menyalahkanku terus!" Oz mencoba membela dirinya.

"Memangnya apa yang tidak kami ketahui, he?" tanya Lottie ketus.

Oz bisa menjawabnya, tapi bibirnya tidak mampu untuk berucap. Takut dan sedih, kini telah menghantui seorang pemuda Vessalius ini.

"Pembohong!" seru Sharon tiba-tiba, lalu ia berlari meninggalkan mereka.

"Sharon!" teriak Oz dan Lottie bersamaan. "Jangan sakiti dia lagi!" bentak Lottie kepada Oz. Oz hanya diam, dia sudah malas melanjutkan pertengkaran ini. Lalu Lottie berlari mengejar sahabatnya itu.

Kini tinggal Oz dan Gilbert yang berada di sana. Oh- tidak. Ada Alice. Ia menangis tersedu-sedu mendengar pertengkaran mereka. Ia merasa tak kuat lagi untuk berdiri, kakinya lemas karena sakit hati yang lagi-lagi ia rasakan.

"Ini semua karena aku… Karena aku…" isaknya dalam hati. "Andaikan aku tidak bertemu Oz, andaikan aku tidak menyukai Oz, pasti kini semuanya akan baik-baik saja. Aku memang rendah!"

Gilbert yang tahu akan keberadaan Alice segera melangkah menuju Alice. Alice menyadari ada seseorang yang datang padanya. Tapi tetap saja, ia sulit untuk melangkah. "Tenanglah," ucap Gilbet sambil mengelus lembut puncak kepala Alice. Alice masih terus menangis.

Oz yang mengikuti Gilbert dari belakang, terkejut ketika mengetahui Alice berada di sana dan mendengar pertengkarannya dengan Sharon.

Gilbert tiba-tiba memeluk Alice dengan lembut, mengelus rambutnya, dan menggumamkan kata-kata yang membuat Alice menjadi lebih tenang. "Tenanglah. Semua baik-baik saja."

Oz yang melihat kedekatan mereka hanya terdiam. Hatinya sakit. Setelah pertengkaran tadi, dia langsung disuguhi dengan pemandangan seperti ini. Terlebih lawannya harus Gilbert.

KIIIT!

"Ada apa dengan mereka? Mereka dekat sekali," batin Oz.

Alice tidak menyadari akan keberadaan Oz di sana. Yang ia rasakan adalah hangatnya pelukan Gilbert yang telah sekian lama tidak ia rasakan lagi. "Aku merindukan kehangatan ini," pikir Alice disela-sela kesedihannya.

Oz tetap mengamati mereka. Tangannya dia genggam sangat kuat, dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan amarahnya. "Jangan dekati Alice," batin Oz untuk Gilbert. Tapi sayangnya, Gilbert tidak dapat mendengarnya.

Oz melangkah pergi meninggalkan Alice dan Gilbert. Tak satupun di antara mereka berdua menyadari akan hal itu.


"Aku pulang," seru Alice ketika memasuki rumahnya.

"Kau sudah pulang, Alice? Ah! Matamu sembab! Apa yang terjadi?" Lacie menyambut dan kini mulai panik.

"Tidak ada apa-apa, Ibu. Tadi kebanyakan tertawa sampai menangis begini," jawab Alice bohong.

"Oh, untunglah. Ibu pikir ada kejadian buruk yang menimpamu."

"Tidak ada apa-apa, Ibu. Hari pertama kuliah sangat menyenangkan," ucap Alice seraya berjalan menuju kamarnya. Ibunya hanya membalas dengan suatu senyuman.

Alice menutup pintu kamarnya. Ia melatakkan tasnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.

TIK! TIK! TIK!

"…"

"Sepi," gumamnya.

"Kalau sepi begini, aku semakin mudah mengingat kejadian tadi."

TIK! TIK!

"Jadi, semuanya salahku, ya?"

TIK! TIK!

"Maaf, Sharon."

TIK! TIK! TIK!

Alice bangun dari rebahannya, ia duduk sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Lagi-lagi ia kembali berpikir.

"…"

"Tadi Gilbert memelukku. Rasanya hangat."

TIK! TIK!

Alice menghembuskan nafas panjang. "Aku merindukan Alyss. Seandainya Alyss berada di sini, pasti perasaanku menjadi nyaman."

TIK! TIK!

"Perasaanku benar-benar tidak nyaman. Hmm… Apa aku telepon saja dia?"

Alice meraih handphone miliknya. Lalu ditekannya nomor HP Alyss. Tak lama kemudian, terdengar suara dari sebrang sana.

"Hallo, Alice! Apa kabar, nih? Aku sudah rindu banget sama kamuuu…" ucap Alyss manja.

"Haha… Aku juga rindu padamu, Alyss. Alyss, aku…"

"Ada apa, Alice? Kau terdengar sangat kalut. Kau punya masalah? Ceritakan saja padaku." Suara Alyss terdengar cemas.

"Ini… tentang Oz."

"Oz? Ada apa dengannya?"

"Dia putus dari pacarnya… karena aku."

"Eh?"

"Karena aku, hubungan mereka jadi kacau. Tadi mereka bertengkar. Selain itu…"

"Selain itu? Apa lagi?"

"Selain itu… Gilbert kembali. Gilbert kembali, Alyss… Hiks…" Alice mulai menangis.

"A-Apa?"

"Semuanya kacau! Kacau!"

"Te-Tenanglah, Alice. Kau harus menenangkan dirimu dulu baru berpikir."

"Aku harus bagaimana?"

"Bukankah Oz sendiri yang mengatakan padamu untuk menunggunya, bukan? Kau sudah menunggu dan dia kini benar-benar datang. Tapi sayangnya…"

"…"

"Kalian akan mengalami ombak yang besar. Kau harus kuat, Alice, untuk mendapatkan cintamu."

"Tapi…"

"Tapi apa, Alice?"

"Sharon. Aku yakin dia anak yang baik. Tapi dia benar-benar terpuruk dan aku merasa bersalah. Aku bisa tidak tahan jika berlama-lama begini. Aku… ingin melupakan semuanya."

"…"

"Aku ingin memulai hal yang baru. Aku akan melupakan janji Oz tersebut dan aku ingin semuanya berjalan dengan baik. Tapi… bagaimana?"

"Hmm… Ah!"

"Ada apa, Alyss?"

"Bagaimana kalau kau pindah ke Korsel?"

"Korsel?"

"Ya. Dengan begitu keinginanmu akan terwujud. Kita juga bisa sama-sama lagi. Bagaimana?"

"Eng… Tidak buruk."

"Tapi, kau harus memikirkannya masak-masak, Alice. Apa kau yakin."

"Tidak perlu. Aku sudah yakin."

Alyss terdengar menghembuskan nafas berat. "Ya, sudah. Kalau kau memang sudah yakin, cepatlah datang. Aku menunggumu, Aliceee…"

"Hahaha… Baiklah. Tunggu aku, ya!"

"Oke!"

TUT! TUT!

Sambungan terputus. Ternyata sinyal Alice tidak ada. "Untung saja terjadi di saat yang baik," gumam Alice. Dengan ligat, Alice segera turun ke lantai bawah dan menemui ibunya.

"Ibu!"

"Ada apa, Alice?"

"Aku ingin pindah ke Korsel! Aku ingin bertemu Alyss!"

"Eh? Tapi kenapa tiba-tiba? Kau baru saja masuk kuliah."

"Tidak apa, Ibu. Ternyata berpisah dari Alyss lebih berat daripada meninggalkan London."

Lacie menaikkan sebelah alisnya. "Kau yakin, Alice?"

"Yakin, Bu! Sangat yakin!"

"Baiklah, Alice! Ibu juga ingin bertemu Alyss dan juga ayahmu. Ibu telepon ke bandara dahulu untuk memesan tiket."

"Baik, Bu!"

Menit-menit telah berlalu. Alice menunggu Ibunya dengan hati yang gemetar. "Apakah yang aku pilih ini benar?" batin Alice.

"Kau harus memilih sesuai kata hatimu, Alice. Maka pilihanmu itu tidak akan salah."

"Aku yakin pilihanku benar," gumam Alice.

"Alice! Kita bisa berangkat lusa nanti!" kata Lacie seraya memeluk Alice.

"Be- Benarkah?"

"Ya, benar. Ibu juga sudah menghubungi ayahmu. Dia kelihatan senang sekali. Dia tidak merasa rugi karena kamu hanya sebenatar kuliah di sini. Katanya, kebersamaan lebih bahagia daripada uang."

"Huwaaa! Senangnya!" Alice kembali memeluk Ibunya lagi. Wajah mereka terlihat sangat bahagia. Lacie bersyukur, akhirnya Alice meminta pindah lebih cepat dari yang ia duga. Tapi, sayang bagi Alice. Hatinya masih ragu.


Alice menapaki halaman kampusnya dengan senyum sumringah. Sesekali ia menyapa teman-teman barunya itu. Lalu terlihat sosok Echo yang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Ia bersama-

Gilbert.

"Pagi, Echo! Pagi, Gilbert!"

"Pagi, Alice!" sahut Echo.

"Pagi," sahut Gilbert.

"Wah, tumben berdua, nih!" goda Alice kepada Echo.

"Kami baru saja bertemu, kok," ujar Gilbert.

"Kau tampak senang sekali, Alice. Ada apa?" tanya Echo.

"Hehe… Besok aku akan pindah ke Korsel!" Alice menjawab masih dengan senyum sumringahnya.

"A-Apa?" Tiba-tiba wajah Gilbert terlihat tidak senang.

"Memangnya ada apa, Gilbert?"

"Ah! Tidak apa…"

Tiba-tiba, ada yang memukul Alice dengan buku dari arah belakang. "Cewek murahan!"

Alice memutar badannya dan didapatinya Lottie yang sedang melipat tangannya.

"Bisakah kau pergi dari kehidupan Oz? Kau sama sekali tidak mengerti perasaan orang!"

"Lottie, hentikan!" sahut Gilbert.

"Oh! Jadi kau lebih memihak gadis rendahan itu daripada aku? Padahal saat di Oxford kau selalu memihakku."

"Itu…"

"Hah! Sudahlah, lupakan saja. Aku berurusan dengan orang itu, bukan kau, Gilbert." Lottie mengarahkan telunjuknya ke arah Alice.

"Aku yang berurusan dengan gadis itu, Lottie. Bukan kau!" sahut Sharon tiba-tiba sambil sedikit menyenggol Lottie. "Yah, aku 'kan membantumu."

"Sharon…" gumam Alice.

"Jangan sebut namaku!"

"Ma-Maaf…" Alice tertunduk.

"Aku benci padamu. Kenapa kau tidak mati saja, hah?" Kata-kata Sharon ini sukses membuat Alice kembali sakit hati. Sakit sekali. "Mati?"

"Ya. Mati!"

"Aku juga ingin mati."

"Kalau begitu, cepatlah mati."

"Aku juga berharap begitu. Tapi harapanku tidak terkabul."

"Hahaha… Jelas saja. Permohonan orang seperti kau memang tidak pantas untuk dikabulkan."

"Ya, kau benar."

Sharon mengangkat sebelah alisnya sambil menyeringai. Ia menatap Alice dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kau orang aneh pertama yang pernah aku tahu."

"Aku memang selalu menjadi yang pertama, kok. Dari dulu, sampai sekarang."

"Oh! Jadi sekarang kau menyombongkan dirimu, hah? Apakah maksudmu juga termasuk mengenai Oz?"

"…"

"Apakah maksudmu kau juga orang yang pertama di hati Oz? JAWAB!"

"Tidak. Yang pertama di hatinya adalah kau."

Sharon diam sejenak. Ia kembali menyeringai. "Bohong! Pembohong! Kau dan Oz, sama-sama pembohong!" geramnya.

"Sudah! Hentikan, Sharon!" Suara Oz tiba-tiba terdengar dan membuat mereka menghentikan perang mulut yang terjadi.

"Aku salah. Maaf," kata Oz sembari memegang lembut tangan Sharon. Seketika wajah Sharon memerah.

"Aku menyukaimu. Tapi-"

DASH!

Alice berlari. Ia berlari menahan air matanya. "Aku tidak sanggup melihat dan mendengarnya lagi," batin Alice. "Hatiku sakit…"

"Tunggu, Alice!" Gilbert mengejar dan disusul oleh Echo. Oz, Sharon, dan Lottie hanya memperhatikan.

"Kau tidak ikut mengejar, huh?" ujar Lottie kepada Oz.

"Tidak. Aku belum selesai bicara dengan Sharon." Oz menatap lekat-lekat ke arah Sharon. Wajah Sharon memerah, tetapi hatinya tidak enak.

"Tapi…"


"Alice, tunggu!" teriak Gilbert.

"Jangan kejar aku!"

Gilbert masih mengejar Alice hingga Alice terjatuh dan tidak mampu lagi berlari. "Sudah 'ku katakan, jangan kejar aku!"

"Alice!"

"Hiks… Hiks…" Lagi-lagi, Alice menangis. Gilbert memeluknya dengan lembut sambil menghembuskan nafas panjang. "Jangan pergi," gumam Gilbert.

"Eh?" Alice melepas pelukannya.

"Jangan pergi."

"Kenapa?"

"Aku merindukanmu. Makanya aku kembali." Wajah Gilbert memerah.

"Eh?"

Alice terkejut. Wajahnya juga ikutan memerah. Tapi entah kenapa, jantungnya tidak berdebar. Yang merasa berdebar adalah…

Echo.

Echo memandang mereka dari jauh dengan wajah sedu. "Semuanya akan indah pada waktunya, aku percaya itu," gumam Echo.

TBC

.

Huwaaa! TT^TT

Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena seharusnya chapter 2 ini di-update tanggal 4 kemarin. Selain itu saya juga mohon maaf karena saya meng-update-nya cukup lama. T.T

Bagaimana chapter 2 ini? Aneh? Saya juga merasa begitu. TT^TT

Saya mengucapkan terima kasih bagi yang sudah membaca fanfic ini dan terima kasih untuk yang telah me-review ch 1 maupun silent readers, terima kasih banyak.

Ini adalah balasan dari review ch 1:

Cho-AlyssVessalius : Maaf, update-nya lama… Jangan pecat saya, Himeee… DX Ending… Hmm… OzFarica sepertinya. *BUAGH!* *DUGH!* *PLAK!* Hahaha… Iya, Cho-chan. Terima kasih atas review-nya, Hime! :p

Rin 'aichii' Kagamine : Maaf, ya, update-nya lama… . Haha… Terima kasih sudah me-review. Wajah datar Echo disimpan dulu di peti emas (harta karun?)? Dan terima kasih banyak sudah nge-fave… XD

anryn leicesterberry : Eh? Bagus? O.O Menurut saya malah aneh, loh. Tapi gak apalah… Terima kasih banyak! XD Terima kasih juga sudah me-review, ya. Maaf, nih, update-nya lama… Hehe… =="

Last, tidak banyak berkata lagi, langsung saja…

R

E

V

I

E

W

And Thank You! ^^