Title:

Brain

Cast:

Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke

Nakajima Yuuto as Nakajima Yuuto

Suzuki Airi as Suzuki Airi

Chinen Yuuri as Chinen Yuuri

Yabu Kouta as Yabu Kouta

Genre :

Sci-Fi, Mistery

Rating :

T

Length:

Series, Ch2 of 3

Author:

Akiyama Fuyuki

Disclaimer:

I own nothing beside the story

Summary:

Ketika kota Tokyo mulai diserang dengan teknologi yang merenggut banyak nyawa, Yamada Ryosuke juga terancam akan teknologi itu. Sampai ia diselamatkan oleh sekelompok orang yang menangani hal tersebut dan bertemu dengan orang yang tak terduga. Siapakah dia? Dan apakah Ryosuke dan teamnya dapat menyelamatkan Tokyo? Apa ia juga dapat mengetahui siapa orang yang ia temui tersebut?

A/N:

Akhirnya chapter 2 sudah selesai pada 01-05-2013! Happy reading! ^^/

.BRAIN.

-First Explanation-

(Penjelasan Pertama)


Hari sudah malam ketika mereka tiba di kediaman Yamada. Ia tinggal sendirian, sebenarnya. Di sebuah apartemen bertingkat dua sederhana yang diberi orangtuanya pada saat ulang tahunnya yang ke-18 dua tahun yang lalu, agar ia dapat hidup mandiri di sini.

Setelah membersihkan diri masing-masing dan mengganti pakaian yang ada, mereka berkumpul di ruang makan Ryosuke dan berusaha untuk menyibukkan diri di ruang yang cukup luas itu. Mereka duduk mengelilingi meja makan dan terus bergerak gelisah, tak bisa diam. Kini mereka hanya menunggu Ryosuke yang masih membersihkan diri.

"Sudah menunggu lama?" tanya Ryosuke yang baru saja masuk ke ruang makan sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk. Wajahnya masih dihiasi luka lebam dan sebuah bekas goresan di pelipis kanannya. Tapi melepas semua itu, ia terlihat baik-baik saja. Kini ia tampak lebih bersih dan terawat seperti sedia kala dengan pakaiannya.

Mereka menoleh padanya dan menggeleng perlahan.

"Tidak juga," jawab Kouta.

Ryosuke mengambil tempat di depan Kouta, di sebelah seorang pemuda lainnya yang mengenakan pakaian ganti Ryosuke, yang merupakan kursi kosong yang terakhir.

"Bagaimana, apa pakaian kakak atau adikku cocok untukmu?" tanya Ryosuke pada gadis yang duduk di sebelah Kouta.

Ia memiliki paras yang manis setelah Ryosuke perhatikan. Memiliki tinggi tubuh ideal dan mengucir ekor kuda rambutnya yang panjang, memiliki wajah yang agak tirus namun tampak berisi.

Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Ya. Terima apa tidak apa jika aku memakainya?" katanya.

Ryosuke buru-buru menggeleng. "Tidak apa-apa. Terkadang mereka sengaja meninggalkan pakaian supaya pada saat mereka akan tinggal di sini mereka tidak perlu beres-beres barang mereka," jelas Ryosuke. "Pasti mereka tidak akan keberatan kalau pakaiannya dipakai."

Gadis itu mengangguk mengerti.

"Oh, iya, aku belum mengenal kalian," ujar Ryosuke lagi sambil menoleh pada pemuda yang ada di sebelahnya dan gadis itu.

"Benar juga. Kalau aku dan Yabu kunkau pasti sudah kenal," sahut Yuuri yang duduk di sebelah pemuda itu.

Ryosuke mengangguk membenarkan. Yuuri adalah teman satu angkatannya, sedangkan Kouta adalah kakak kelas saat di sekolahnya dulu dan sekarang merupakan mahasiswa kepolisian, detektif, tepatnya. Dan kini sudah bekerja paruh waktu di salah satu kepolisian setempat.

"Namaku Suzuki Airi," sahut gadis itu.

"Nakajima Yuuto," kata pemuda yang duduk di samping Ryosuke pendek dan tersenyum tipis.

"Aah.. Yamada Ryosuke. Yoroshiku!" sahut Ryosuke sambil tersenyum lebar. "Tentang sebelumnya, terima kasih," lanjutnya.

Mereka tersenyum dan mengangguk. "Kembali."

"Oh iya, bagaimana kalain tahu kalau aku ada di sana?" tanya Ryosuke.

"Bukankah teknologi sekarang sudah canggih?" sahut Yuuri sambil tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. "Kami melacak sinyal ponselmu dan kami segera mencarimu. Kebetulan aku sedang berkumpul bersama mereka untuk ke rumahmu saat kau meneleponku."

"Aah..," gumam Ryosuke sambil mengangguk. "Bagaimana dengan mind-reader? Kalian tahu sesuatu?"

"Bukankah sebelumnya sudah dibereskan?" jawab Yuuto. "Cara yang ampuh agar kau tidak dikejar-kejar mereka lagi adalah menghancurkan alat itu."

"Itu..," kata Ryosuke pelan. Diam-diam ia kembali mengingat kejadian tadi, sebelum mereka ke rumah Ryosuke, sesaat setelah ia lepas dari orang yang mengejar-ngejarnya.

.Flashback.

"Kau..," gumam Ryosuke pelan sambil mengingat-ingat pemuda yang berdiri di sana. Tapi ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas, semuanya terasa kabur di ingatan Ryosuke. Dan ia memutuskan untuk tak memikirkannya lebih lanjut.

Ryosuke memperhatikan mereka dengan seksama. Pakaian mereka juga berantakan, sama seperati dirinya, namun tidak parah, terutama gadis yang berada di sana. Ia menduga bahwa gadis itu juga dikejar-kejar orang tak dikenal karena memiliki mind-reader.

"Di mana mind-readermu?" tanya Kouta pada Ryosuke.

Ryosuke segera menoleh ke arah kiri dan kanannya, mencari mind-reader.

"Di sini," ujar pemuda itu sambil meraih mind-readeryang berada tak jauh dari pria yang tergeletak di samping Ryosuke kemudian melemparkannya pada Kouta.

"Yang harus kau lakukan sekarang adalah, menghancurkan alat ini," kata Kouta pada Ryosuke lagi. Ia memberikan alat itu pada Ryosuke.

Ryosuke mengerjap-ngerjap bingung. "Caranya?"

"Terserah padamu," jelas Yuuri.

"Bukankah banyak cara untuk menghancurkan sebuah benda?" sahut gadis berkucir ekor kuda tersebut.

Ryosuke tak menyahut. Namun ia mengangguk perlahan, memikirkan salah satu cara termudah untuk menghancurkan benda itu. "Tapi... kenapa harus dihancurkan?"

"Kau tahu kenapa kau dikejar-kejar oleh orang itu?" tanya Kouta.

"Karena mind-reader," jawabnya.

"Kenapa Chinen menyuruhmu untuk membuang alat itu?"

Ia mengangguk. Karena alat itu berbahaya.

"Tetapi kalau kau membuang alat itu, percuma. Karena itu berarti alat itu masih bisa berfungsi. Dan orang-orang seperti ini akan tetap mengejarmu sampai kau menggunakannya," kata Kouta sambil menunjuk pria itu.

"Mind-readermungkin merupakan alat guna sekali pakai. Supaya sekali orang itu memakainya, ia akan langsung mendapatkan dampak akibat menggunakan alat itu," lanjut pemuda yang berdiri di belakang Kouta.

Ryosuke kembali mengingat tayangan di televisi itu. Dampak akibat menggunakan alat tersebut—kehilangan nyawa? Ia mengerutkan keningnya, tak mengerti mengapa orang yang menciptakan alat tersebut menjadi seperti itu. Apa tujuannya?

"Tapi Chii menyuruhku untuk membuangnya tadi," katanya sambil melirik Yuuri yang duduk di sebelahnya.

Yang bersangkutan hanya terkekeh. "Tadi aku belum tahu soal itu. Tapi setelah bertemu Yabu bersama kedua orang ini, aku baru tahu. Dan kami segera mencarimu," jelasnya.

Ia mendesah. "Sebaiknya kita pulang dulu. Aku lelah sekali... dan kotor," lanjut Ryosuke sambil memerhatikan pakaiannya.

Yang kain tersenyum.

"Baiklah. Kita ke rumahmu saja. Kau tinggal sendiri kan?" sahut Yuuri.

Kenapa jadi dia yang memutuskan?

"Ya," jawab Ryosuke. Ia tak membantahnya kali ini. Ia sudah terlalu lelah untuk membalas perkataan Yuuri yang menurutnya begitu mempromosikan rumahnya.

"Bagaimana dengan orang itu?" tanyanya.

"Tidak apa-apa. Ia hanya pingsan. Aku sudah menelepon polisi untuk ke sini dan membereskan semuanya," jawab Kouta.

Ryosuke mengangguk mengerti. Itu berarti pistol itu tidak sungguhan. Tapi kenapa rasanya tadi ada yang merembes di pakaiannya? Ia melihat ke pakaian bagian kanannya. Benar saja. Itu adalah sebuah cairan berwarna merah. Tapi ia segera menelan pertanyaan yang sudah akan terlontar dari ujung lidahnya.

Kemudian ia melirik ke arah orang-orang yang sudah menyelamatkannya. "Sebaiknya kalian juga mengganti pakaian. Kalian tampak berantakan. Dan kalau kau," katanya dan menoleh pada gadis itu, "bisa memakai pakaian kakak atau adik perempuanku."

"Eh?" sahut gadis itu.

"Kalau kalian bisa menggunakan pakaianku. Kuharap pakaianku tidak terlalu besar atau terlalu kecil," kata Ryosuke lagi sambil menoleh pada ketiga pemuda lainnya.

"Ya. Kuharap aku tidak terlalu tampak tenggelam saat menggunakan pakaianmu," sahut Yuuri yang memang agak lebih pendek dari Ryosuke—dari mereka, tepatnya.

"Haha.. Tenang saja. Aku akan mencarikan pakaian yang ukurannya paling kecil untukmu," jawab Ryosuke sambil tertawa kecil.

"Memangnya kau buka butik?" tanya Yuuri.

Ryosuke tertawa. "Tidak. Tentu saja tidak. Kau ini bagaimana sih," ujarnya. "Ayo kita pulang. Aku sudah kangen pada kamar mandi."

Kemudian mereka bersama-sama melangkah menuju kediaman Yamada, meninggalkan pria itu tergeletak dengan rapi di sana sambil mendengar suara sirine mobil kepolisian di kejauhan.

.End of flashback.

"Yah.. Kurasa begitu," gumam Ryosuke. Ia masih penasaran dengan pemuda yang ada di sebelahnya ini. Ia merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya, tapi ia tak tahu di mana. Atau bahkan kapan. Wajahnya familiar. Itu saja, dan ia juga merasa bahwa Yuuto adalah orang yang pernah dikenalnya dulu.

"Apa kau sudah memikirkan cara untuk menghancurkan alat itu?" tanya Airi.

"Belum, kurasa. Membakar benda itu kedengarannya bagus," jawab Ryosuke. Ia beranjak menuju lemari dapur dan mengeluarkan beberapa gelas untuk membuat teh hangat.

"Eeh..," sahut yang lain kompak sambil mengangguk mengerti.

Yuuto ikut beranjak dan membantu Ryosuke membuatkan teh hangat. Ia mengeluarkan bubuk teh dari lemari, seolah memang sudah tahu bahwa benda itu berada di sana. Dan mulai sibuk memasukkannya ke setiap gelas sementara Ryosuke memasak air.

Yang lain menatap mereka dengan penasaran. Mereka baru saja kenal. Tetapi mereka seperti sudah kenal sejak lama dan kompak.

Dan hal itu juga mengusik Ryosuke. Yuuto mengetahui di mana ia meletakkan barang-barangnya. Padahal ia sama sekali tidak memberitahukan di mana letak bubuk teh itu. Namun ia tak memikirkannya lebih lanjut walaupun ia, jujur, merasa penasaran tentang hal ini. Siapa Nakajima Yuuto sebenarnya?

Air sudah mendidih dan Ryosuke bergerak untuk mematikan kompornya. Kemudian menyeduh teh dan membawanya ke meja bersama Yuuto.

Ia meletakkannya di depan mereka dan membagikannya.

"Terima kasih," kata mereka.

Ryosuke hanya mengangguk dan kembali duduk bersama Yuuto. Ia menyesap teh hangat itu perlahan. Hal itu membuatnya teringat akan rumah. Ia tersenyum kecil dan meletakkan gelas di atas meja.

"Jadi, apa rencana setelah ini?" tanya Airi setelah meminum tehnya.

"Aku berencana untuk menyelamatkan orang-orang yang masih memiliki mind-reader," jawab Kouta sambil memainkan gelasnya.

"Kenapa tidak diberitahukan saja lewat media kalau tidak ingin dikejar oleh orang-orang itu cukup menghancurkan mind-reader?" usul Yuuri.

"Tidak bisa. Segala bentuk berita tentang mind-reader sudah dihentikan agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak diinginkan," jawab Kouta.

"Bahkan berita tentang pencarian orang yang menciptakan alat itu ditiadakan untuk sementara sampai orang itu tertangkap," kata Yuuto.

Pantas saja keadaan kota Tokyo tampak tenang-tenang saja tadi saat ia baru pulang dari Harajuku.

"Ngomong-ngomong, ada yang tahu pencipta mind-reader itu siapa?" tanya Airi.

Ryosuke terdiam. Begitu juga dengan Yuuri. Mereka tahu, tentu saja.

Kouta menyipitkan matanya yang memang sudah sipit dari sananya. Dan kelakuannya membuat matanya tinggal segaris saja. "Kalian tahu sesuatu?" tanyanya curiga.

"Kalian tidak tahu? Bukannya ada disiarkan di televisi?" sahut Yuuri cepat, berusaha menghindari topik itu sebenarnya.

Mereka menggeleng.

"Aku tidak melihat televisi. Aku mengetahui tentang mind-readerdari temanku," kata Airi.

Ryosuke dan Yuuri saling lirik dengan cemas.

"Kenapa? Kalian sepertinya kenal dengan orang itu," kata Yuuto.

Ryosuke dan Yuuri menoleh cepat ke arahnya. "Kau juga tidak tahu?" tanya mereka. Yang ditanya menggeleng.

"Sebenarnya, yang menganjurkanku untuk membeli mind-readeradalah orang yang menciptakan alat itu sendiri," ujar Ryosuke memulai. "Waktu itu, Chii juga ikut bersamaku waktu aku pergi menemuinya."

"Eh?" gumam yang lain kaget.

.Flashback.

Beberapa hari yang lalu...

Ryosuke tengah berdiri di sebuah bangunan yang mirip dengan sebuah kantor pada umumnya. Memiliki beberapa lantai dan berwarna putih dengan jendela-jendela kaca yang mengelilingi tiap sisi dan lantai bangunan itu. Menunggu.

Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel biru metaliknya dan menghubungi seseorang, Chinen Yuuri, orang yang ditunggunya sejak 10 menit yang lalu.

"Moshi moshiChii? Kau sudah siap belum?" tanya Ryosuke begitu sambungannya direspon oleh Yuuri.

"Ya. Sebentar lagi aku sampai di sana," jawab Yuuri di seberang sana.

"Ya sudah. Sampai jumpa nanti," kata Ryosuke dan mengakhiri percakapan.

Hari ini Ryosuke akan bertemu dengan teman lamanya. Dan ia juga mengajak serta Yuuri karena ia pun teman sang penemu. Mereka membuat janji untuk bertemu di depan bangunan di mana teman lamanya itu bekerja, sebuah laboratorium di pusat kota.

"Yama chan!" seru Yuuri tak lama kemudian.

Ryosuke yang merasa dirinya dipanggil menoleh pada arah suara, sebelah kirinya. Dan ia menemukan Yuuri yang sedang berjalan ke arahnya sambil melambai kecil. Ia pun membalas lambaian itu dan menunggu Yuuri sampai di hadapannya.

"Ayo, masuk. Kurasa Yuma sudah menunggu kita," ajak Ryosuke dan melangkah memasuki lobi bangunan itu. Setelah bertanya di mana ruangan orang yang disebut Yuma oleh Ryosuke pada sang resepsionis, mereka segera melangkah menuju lift yang berada di sisi tengah.

Denting halus berbunyi dari lift yang sedang terisi oleh Ryosuke dan Yuuri. Kemudian pintu lift tersebut terbuka dan mempersilahkan mereka untuk keluar. Mereka pun melangkah keluar lift dan berjalan mengikuti arah jalur yang ada.

Jalur itu berupa koridor yang tidak terlalu lebar. Hanya selebar lift yang baru saja digunakan Ryosuke dan Yuuri. Di sisi kiri dan kanan mereka merupakan dinding berkeramik putih bersih. Dan tiap beberapa meter terdapat sebuah pintu berwarna biru langit dan tampak begitu tenang sekaligus misterius.

Ryosuke merasa dirinya ingin membuka pintu itu karena rasa penasaran yang menyambar hatinya. Rasanya ia ingin tahu lebih banyak soal laboratorium. Ia menjadi teringat kata-kata yang pernah dikatakan oleh Yuma padanya dulu, "Kalau ingin tahu, jadilah seorang profesor sepertiku." Mengingat hal itu ia merengut.

Ia tak sepintar itu untuk menjadi seorang profesor. Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang dokter. Terkadang ia salut pada Yuma. Padahal ia lebih muda setahun darinya, tetapi ia sudah mendapat gelar profesor di usianya yang masih muda.

Mereka berbelok ke kiri pada sebuah tikungan dan menemukan sebuah pintu yang terbuka pada sisi kanan koridor. Mereka merasa itu adalah ruangan yang mereka cari, karena persis seperti yang dijelaskan oleh sang resepsionis tadi.

Mereka berjalan menuju pintu itu. Dan tepat pada saat mereka hanya berjarak satu meter dari pintu itu, seseorang jatuh dengan posisi yang tidak bisa dibilang bagus. Jatuh dengan tubuh menghadap langit-langit koridor dengan sedikit terbatuk-batuk.

Seorang pemuda. Memiliki rambut kecoklatan dengan tubuh berbungkus balutan jubah laboratoriumnya.

"Yuma?" heran Ryosuke dan Yuuri.

Pemuda itu menoleh pada kedua pemuda itu dan menatap mereka kosong kemudian melirik langit-langit lagi. "Langit-langitnya indah," gumamnya.

Ryosuke dan Yuuri pun ikut melirik ke atas. Dan mereka tercengang. Tidak ada apa-apa di sana, hanya langit-langit putih biasa.

"Hehe.. Tertipu," sahut sang pemuda yang dipanggil Yuma. Ryosuke dan Yuuri kembali menatap pemuda itu yang kini sudah berdiri di depan mereka. "Ayo masuk. Akan kuperkenalkan dengan rekan-rekan kerjaku."

Apa yang bisa dilakukan Ryosuke dan Yuuri selain mengikuti Yuma? Mereka melangkah memasuki ruangan yang luas itu tanpa meninggalkan wajah heran mereka. Di sana mereka menemukan beberapa orang dengan pakaian yang sama seperti Yuma sedang berkumpul di sebuah meja panjang dan terlihat sibuk dengan sesuatu yang ada di atasnya.

"Penemuan baruku," jelas Yuma pada Ryosuke dan Yuuri pada saat mereka sampai di dekat meja itu. "Akan diluncurkan lusa, dan diedarkan pada keesokan harinya. Hanya di Tokyo, karena masih tahap percobaan," tambahnya sambil tersenyum lebar.

Salah seorang pekerja di situ membalikkan tubuhnya dan menoleh pada mereka. "Hai! Teman Yuma?" sapa orang itu. Ia memiliki rambut cokelat kepirangan yang agak berantakan namun berkesan keren.

"Ya," jawab Ryosuke dan Yuuri.

"Ini Ikuta Toma kun, rekan kerja satu timku. Ia juga membantuku membuat mind-reader ini," jelas Yuma lagi.

Pria yang dipanggil Ikuta Toma itu tersenyum lebar kemudian kembali sibuk melihat-lihat benda yang ada di meja itu.

"Mind-reader?" sahut Yuuri.

"Ya. Nama alat penemuan baruku adalah mind-reader. Alat pembaca pikiran. Coba lihat ini," kata Yuma riang sambil berjalan menjauh dari kumpulan orang itu menuju sebuah meja lainnya di tengah ruangan. Ryosuke dan Yuuri menurut mengikutinya.

Di atas meja itu ada sekumpulan benda berbentuk balok tipis yang memiliki aneka warna. Tapi secara keseluruhan merupakan warna hitam. Benda itu mirip ponsel layar sentuh yang akhir-akhir ini sedang nge-tren di kalangan orang banyak di seluruh dunia.

Yuma mengambil salah satunya dan memperlihatkan benda itu pada Ryosuke dan Yuuri. "Di bagian atas ini untuk menyalakannya, seperti ponsel pada umumnya. Kemudian di bagian samping kiri ini untuk menyambungkannya dengan listrik untuk men-charge baterainya," jelas Yuma sambil menunjukkan bagian-bagian yang disebutkannya. "Kemudian yang ini," ia menunjuk pada sisi kanan atas benda itu, "tempat untuk menyambungkan headset."

Yuma berjalan ke arah meja lain dan memperlihatkan sekumpulan headset yang berkumpul di sana dan tersusun secara rapi. "Ini bukan headsetsembarangan. Ini dirancang khusus untuk mengumpulkan gelombang-gelombang pikiran yang ada pada otak untuk menghantarkannya pada kabel menuju alat ini. Dan apa yang ada di pikiranmu akan muncul berupa tulisan-tulisan di layar mind-readerini," lanjutnya.

Mereka mengangguk mengerti.

"Sugoi yo, Yuma kun," puji Ryosuke dan tersenyum lebar. "Semoga sukses dengan penemuan barumu."

"Terima kasih," balas Yuma. Kemudian ia meletakkan kembali benda yang sedari tadi dipegangnya ke tempat semula.

"Omedetou na, sukses dalam peluncurannya nanti," susul Yuuri dan menepuk-nepuk pundak Yuma dengan akrab.

"Hehe..," kekeh Yuma. "Oh iya, bagaimana kalau kita minum teh atau kopi? Sudah sore nih. Ayo, kutraktir," ajaknya sambil melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

"Tentu," ujar Ryosuke dan Yuuri kompak kemudian mereka beranjak dari sana setelah pamit pada orang-orang yang ada di sana.

"Oh iya, kalian juga beli mind-readerya," ujar Yuma pada saat mereka sedang berjalan menuju pintu keluar lobi utama.

"Ya. Tentu saja," sahut keduanya.

Yuma tersenyum senang. Kemudian mereka berjalan ke arah kafe terdekat yang ada di sana dan masuk ke ruang yang dilengkapi pendingin ruangan itu.

"Hei, Yuma, aku ingin bertanya," panggil Ryosuke saat pelayan yang tadi menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan mereka pergi.

"Ya?" sahut Yuma.

"Pada saat mind-reader digunakan, tulisan apa yang akan keluar di sana?"

"Oh ya, benar juga. Aku lupa bilang. Hm... Bahasa yang akan muncul di sana adalah bahasa Inggris," jawab Yuma sambil tersenyum.

"Bahasa Inggris?" tanya Yuuri sambil menaikkan sebelah alisnya, memastikan apa yang didengarnya barusan tidak salah.

"Ya," jawab Yuma. "Karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional pertama. Dan kalau misalnya mind-reader akan diedarkan ke luar negeri, mereka akan mengerti dengan tulisan yang muncul di sana. Tidak mungkin aku menggunakan bahasa Jepang kan?" jelasnya.

"Benar juga sih," gumam Yuuri.

Ryosuke tersenyum kecil. Ia tahu Yuuri tidak begitu suka dengan pelajaran Bahasa Inggris. Tapi di tiap ulangan apa pun ia hampir selalu mendapatkan nilai A. Jenius.

"Jadi, kalian akan membelinya kan?" tanya Yuma.

Ryosuke tersenyum. "Lihat saja nanti."

.End of flashback.

"Kau membelinya," ujar Airi.

Dia kan juga membelinya?

"Tentu saja. Kalau tidak, aku tidak mungkin dikejar-kejar oleh orang itu," jawab Ryosuke.

"Kau tidak membelinya? Bukannya Yuma memintamu untuk membelinya?" tanya Yuuto pada Yuuri.

"Tidak. Makanya aku tidak dikejar-kejar. Lagi pula, walaupun diminta, kurasa aku tidak akan membelinya," ujar Yuuri.

"Kenapa?" tanya Kouta.

"Dia tidak terlalu suka dengan bahasa Inggris," jawab Ryosuke sebelum Yuuri bisa berkata apa-apa. Ia terkekeh.

"Begitu ya. Haha..," sahut Airi sambil tertawa kecil.

"Oh, ya ampun," gumam Yuuri. "Ngomong-ngomong ini sudah jam berapa? Aku sudah lapar sekali," tambahnya.

Ryosuke melihat ke arah jam dinding yang berada di sisi atas ruang kosong yang merupakan sisi menuju dapur. Jarum panjang berada di angka delapan sementara jarum pendeknya berada di antara delapan dan sembilan. Kemudian menyadari bahwa dirinya juga sudah lapar. "Jam sembilan kurang dua puluh menit. Ada yang mau makan ramen?"

Semuanya kelihatan antusias dengan ramen yang disebut-sebut Ryosuke dan mengangguk-angguk. Sepertinya mereka juga sudah begitu lapar.

"Ada di lemari dapur. Aku sudah lelah. Tolong masakkan untukku ya?" pintanya.

"Eh?"

Airi beranjak dan membuka pintu lemari di sebelah tempat tadi Yuuto mengambil bubuk teh. Dan ia menemukan beberapa cup bergambar seperti mie instan pada bungkusannya.

"Ramen... instan?" katanya sambil menaikkan sebelah alisnya, tidak melepaskan pandangannya dari cup-cupitu.

"Ya. Maaf ya. Hanya itu yang aku punya saat ini. Soalnya aku belum beli bahan masakan untuk minggu depan," kata Ryosuke dan menyengir tanpa dosa.

"Ramen instan juga tidak apa deh," sahut Yuuto. "Aku lapar. Akan kubantu membuatnya dan bahan tambahannya." Kemudian ia beranjak dan mengeluarkan ramen instan itu dan beberapa bahan tambahan lainnya, dan mulai memasak bersama Airi.

"Aku pikir akan memakan masakanmu, Yama chan," kata Yuuri sambil tertawa kecil lalu memutuskan untuk membantu Yuuto dan Airi membuat ramen instan mereka.

Sepeninggal Yuuri, tinggallah Ryosuke bersama Kouta. Ia bertanya-tanya apa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertanya. Ia masih penasaran tentang pistol itu.

"Hei, Yabu kun, apa pistol yang kau gunakan itu sungguhan?" tanya Ryosuke pada akhirnya

Kouta menoleh padanya. "Ini?" tanyanya sambil mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaket kulitnya yang ia letakkan di pangkuannya sedari tadi. Kini ia menggenggam sebuah pistol berwarna hitam seperti pistol pada umumnya. Namun rasanya ada yang sedikit berbeda. "Ini adalah penemuan beberapa waktu yang lalu oleh pihak kepolisian. Dibuat secara khusus agar tidak menimbulkan suara yang besar. Kau pasti pernah mendengar bunyinya," jelasnya.

Ryosuke mengangguk. Ia memang seperti pernah mendengar suara tembakan itu. Tapi ia tak berhasil menggali ingatannya.

"Bunyinya sekilas seperti pistol anak-anak. Tapi jika didengar benar-benar, seperti bunyi pistol betulan," kata Kouta lagi. Ia memperlihatkan sebuah sisi yang merupakan tempat mengisi peluru. Kemudian ia membukanya dan memperlihatkan isinya yang berupa kumpulan tabung-tabung kecil berisi bubuk merah—yang mengambang di atas sebuah permukaan air yang mengisi tabung— dan sebuah jarum kecil di ujungnya, mirip sebuah tabung suntikan.

"Jarum itu merupakan alat penusuk. Cairannya merupakan cairan obat bius yang dapat menyebar dan memecah menjadi banyak. Makanya airnya bisa menjadi sangat banyak, seolah air itu berkembang. Padahal sebenarnya pada saat kita menarik pelatuk untuk menembak tabung itu terguncang sebentar, sehingga bubuk merah ini bercampur dengan cairan dan menjadi berbusa, atau bersoda, atau—sesukamulah. Jadi intinya, bubuk ini merupakan soda kue, pengembang.

Pada saat ditembakkan, cairannya akan memasuki salah satu bagian tubuh dan membuat orang itu tertidur. Sementara botol akan pecah akibat tekanan udara yang dihasilkan cairan soda dalam tabung dan menjadi cairan berwarna merah, mirip darah, kan? Itu juga membuat orang tersebut kaget. Sebuah suntikan tidak ada yang tidak sakit," jelas Kouta panjang lebar. Ryosuke hanya mengangguk mengerti sambil berdecak kagum. Kouta memasukkan kembali pistolnya dan menggantung jaketnya pada gantungan yang berada di sudut ruang makan, dekat dengan pintu keluar.

"Kau tahu, kenapa orang-orang itu memintamu untuk menyelesaikan hal itu di Tokyo?" tanya Kouta pada Ryosuke sembari duduk di kursinya kembali.

Hal itu...?

Oh.

"Ya. Aku memikirkannya pada saat di kereta tadi," jawab Ryosuke. "Mind-readeradalah alat yang diciptakan di kota Tokyo, dan hanya beredar di kota Tokyo. Jangan sampai ada yang mengetahui kalau aku memiliki mind-reader, itu karena jika orang-orang yang menyebut mereka sebagai agen tahu kita memiliki mind-reader, mereka akan mengejar kita sampai kita memakai alat itu.

Soal kenapa kita harus menyelesaikan urusan yang mereka katakan di Tokyo, itu sudah kubilang tadi. Mind-readerhanya beredar di kota Tokyo karena benda itu masih dalam tahap percobaan. Karena itu, jika ada seseorang yang memakai benda itu di luar kota Tokyo dan meninggal di sana, pasti akan menimbulkan kekacauan di luar."

Kouta mengangguk membenarkan ucapan Ryosuke.

Ryosuke mengerutkan keningnya. "Tapi aku heran. Kenapa mind-reader bisa beredar di Harajuku?"

Kouta meliriknya. "Itu bukan masalah besar. Sebenarnya, jika kita perhatikan, hanya segelintir orang yang membeli mind-reader di luar. Harajuku dan Shibuya adalah pusat pembelanjaan yang cukup terkenal. Jadi ada beberapa toko yang menjual mind-reader. Itu pun toko yang tidak terlalu besar. Hanya orang dari Tokyo yang tahu toko-toko itu menjual mind-reader. Yang lain tidak. Kau bisa memastikannya dari brosur ini," jelas Kouta. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas yang ia lipat-lipat dari saku celana panjang yang tampak pancung di kakinya—karena celana panjang itu merupakan pinjaman dari Ryosuke—dan memberikan brosur itu pada Ryosuke.

Ryosuke membulatkan matanya. "Pantas saja. Aku juga mendapat brosur ini waktu itu. Karena itu aku tahu di Harajuku juga ada menjual mind-reader. Kebetulan aku sedang berjalan-jalan ke Harajuku siang tadi, jadi aku membelinya," cerita Ryosuke.

"Begitu," sahut Kouta. Ia memasukkan kembali brosur itu ke dalam sakunya.

"Kenapa kau membawa-bawanya?" tanya Ryosuke heran.

"Aku mengumpulkan banyak informasi. Aku bertemu dengan Suzuki Airi dan Yuuto pada saat aku sedang berjalan-jalan juga. Mereka dikejar-kejar oleh orang dari laboratorium itu. Jadi aku juga ikut mengejar mereka dan berhasil menyelamatkan mereka di salah satu taman yang sepi. Aku sudah lupa di mana. Di sana juga aku mengetahui bahwa orang-orang itu tidak akan mengejar mereka lagi pada saat alat itu sudah rusak, dihancurkan. Setelah itu aku langsung menghubungi pihak kepolisian yang lain," kata Kouta.

"Oh..," tanggap Ryosuke. Ia mengangguk mengerti.

x.x

"Yosh! Makan malam sudah siap!" seru Airi semangat sambil membawa nampan dengan lima mangkuk ramen instan di atasnya ke arah meja makan dengan diikuti oleh Yuuto dan Yuuri yang membawa sumpit dan sendok untuk mereka pakai.

"Yatta~!" gumam Ryosuke sambil menggosokkan kedua tepalak tangannya, bersiap untuk memakan ramen instan yang dibuat oleh Airi, Yuuto, dan Yuuri. Ramen itu mengepulkan asap di hadapan Ryosuke, yang membuat dirinya bertambah lapar.

"Saa," gumam Kouta.

"Itadakimasu!" seru mereka semua dan mulai memakan makan malam mereka.

"Enak!" sahut Ryosuke setelah melahap satu suapan dan memasukkan suapan keduanya.

"Benar! Enak sekali. Padahal ini ramen instan," kata Kouta.

"Kalau sudah lapar semuanya selalu terasa enak kok," sahut Yuuto.

Kalau sudah lapar semuanya selalu terasa enak kok, Yama chan!

Dheg!

Kata-kata itu terngiang dalam ingatan Ryosuke. Ia mengernyit. Rasanya begitu familiar, begitu dekat, begitu akrab, begitu hangat, begitu... Entahlah. Rasanya begitu melekat di otaknya.

"Oh iya, ehm..," kata Airi pada Ryosuke. Ia terdiam, tampak berpikir sebelum berkata, "Yamada kun, kau bilang tadi orang yang menganjurkan dirimu untuk membeli mind-readeradalah seseorang yang bernama Yuma. Apa orang yang kau maksud itu... Nakayama Yuma?"

Yamada kun? pikir Ryosuke. Rasanya agak aneh saat Airi memanggilnya begitu. Rasanya ada yang aneh. "Ya. Orang yang kumaksud adalah Nakayama Yuma. Ngomong-ngomong, panggil aku Yama chansaja. Atau Ryosuke," jawabnya.

Suzuki Airi mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang memegang sumpit terhenti di udara. Matanya melebar. Entah hanya perasaan Ryosuke atau tidak, tatapan mata itu tampak kaget dan... takut?

.BRAIN.

-First Explenation-

.End.

Tsuzuku...

Mini glosarium:

Yoroshiku : Salam kenal, mohon bantuannya

Moshi moshi: Halo

Sugoi : Keren

Omedetou : Selamat

Yatta : Asyik, horee!

Saa : Jadi

Itadakimasu: Selamat makan

Tsuzuku : Bersambung

Ryu: Eciee~ Yang Fanficnya di-review~ =P

A.R: Aku ga nyangka lho, bakal direview! Haha.. xD Trima kasih banyak buat yang udah ngomen yaa! Wkwk.. Oke. Aku bakal balas review para readers tachi! ^o^

Yang pertama dari rafiz sterna

Hola! Eeh...? Fic JUMP banyak juga kok di Ffn. ^^/ Tapi aku juga baru nemu beberapa. Dan ceritanya juga bagus" kok. ^^ Terima kasih ya! Yamada jadi main castnya karena waktu itu ini fic untuk lomba projek ulang tahunnya! ^^ Ini chapter dua-nya! Semoga memuaskan. =) Makasih juga untuk nge-follow! ^^

Yang kedua dari Baby Panda Zhi TaoRis EXOtics

Hello There! Iya, aku juga. Sebenarnya sih, pingin publish di Misc. Tapi ga jadi. Haha.. Lagi pula, pingin coba ke fandom screenplays. =3 Sankyuu ya, udah mampir + review + favorite + follow-nya! ^^ Review lagi? =D

Ryu: Yang ini dari Guest! Sankyuu ya, udah mampir~! =D

A.R: Hoi.. -_-"

Ryu: Apa? Aku ini tobikko juga!

A.R: ... Udahlah, lanjutt! Ada hal-hal yang ingin dijelaskan sedikit di sini. =3 Eto... Mulai dari mana ya? -_- Kuharap kalian mengerti tentang cerita ini. Dan... penjelasannya di chapter terakhir aja deh. Wkwk.. Kalau ada pertanyaan, tanyakan saja langsung di kotak review! ^^

Ryu: Hehe.. Berkat Fic ini, aku jadi tahu ada EXOtic yang suka JUMP juga. Hoho.. Salam kenal ya, Baby Panda- chan! xD Juga rafiz dan Guest! ^^ Btw, Ichibanku Daiki~! 3

A.R: Oke. Sekian deh. Sampai jumpa di chapter selanjutnya! ^o^/

Ryu: Chapter depan adalah chapter terakhir! Jadi kalau ada pertanyaan, langsung saja di sini yaa! Hehe.. =D

A.R: Tunggu! Ada satu review lagi! Dari PandaMYP! Wah.. Aku juga. Biasanya di Musical kan ya? =D Tapi ga tahu si Ryu deh. Hehe.. =P Sankyuu udah mampir n ngefollow! ^^v

Ryu: Oke... Tataw! See you guys on the next and last chapter! xD

.Sekian.