One Little Light

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by CMA

Happy Reading!

Matsuri bukan pembuat onar. Ia tidak pernah membuat celah bagi orang lain untuk mencari-cari kesalahannya. Sebaik mungkin ia menyelesaikan tiap pekerjaannya hingga ke ditail terkecil. Dan tentu saja, datang terlambat adalah hal haram untuk ia lakukan. Bodoh sekali jika pegawai magang berani datang lebih lambat dari pemimpin perusahaan.

Setengah jam sebelum masuk, Matsuri sudah duduk dalam kubikel kerjanya. Seperti yang ia duga, belum ada siapa pun yang datang. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke pantry dan menenggak sebutir aspirin. Mimisannya memang tidak kumat lagi, tapi pagi ini ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh sedikit linu. Entah apa yang salah dengan sistem imunnya.

Tapi Matsuri tak punya waktu untuk mengkhawatirkan keadaannya karena pekerjaan yang tak kalah banyak dengan kemarin memaksanya siaga. Tangannya kaku sekali setelah menstaples dua ratus surat pemberitahuan dan memasukkannya ke dalam amplop lantas menyortirnya ke setiap divisi. Ia bahkan tak sempat menyapa Sari yang sibuk mengekor seorang pegawai, membantunya merampungkan sebuah laporan.

Selintas pikiran sempat mengganggu Matsuri. Setahunya, tidak ada hal urgent yang sedang dihadapai perusahaan. Tidak ada perjanjian besar dengan perusahaan lain dan ini bukan akhir kuartal, tapi semuanya tampak super sibuk. Lewat tugas remeh-temehnya yang bejibun, Matsuri tak menemukan hal berarti dan hanya bisa berasumsi kalau mereka adalah sekumpulan pegawai beretos kerja kelewat tinggi atau memiliki bos super galak.

Rupanya, yang kedua adalah jawabannya.

Si kepala cabang yang kemarin diceritakan Sari muncul tepat pukul sepuluh. Dari balik tumpukan berkas yang sedang Matsuri bawa, ia bisa melihat pucuk kepala merahnya sebelum menghilang di balik pintu berplat 'Kepala Cabang'.

"Ma-marah ya?" salah seorang pegawai memecah keheningan akibat kemunculan kepala cabang yang bahkan tak lebih dari sepuluh detik. "Tadi wajahnya kelihatan marah ... 'kan?"

"Apa ada hal buruk yang terjadi dalam perjalanan bisnisnya?" tanya yang lain takut-takut.

"Pasti begitu." Dengan berat hati, pegawai yang lain mengamini.

"Gawat ini." Aura negatif dengan cepat menguar di seisi ruangan hingga—CTREK.

Lebih dari dua puluh kepala menoleh bersamaan ke arah Matsuri yang sedang melanjutkan pekerjaannya—menstaples dan memilah surat—tanpa peduli sekitar. Sesungguhnya, Matsuri memang tidak peduli. Memang sudah prinsipnya. Toh ia tidak harus kontak langsung dengan kepala cabang, peduli amat dengan apa yang ia rasakan sekarang.

"Matsuri," panggil salah seorang pegawai—kalau tidak salah namanya Ibuki.

"Ya?" Matsuri menyahut, tangannya masih menstaples surat-surat.

"Buatkan kopi untuk Pak Sabaku dan antarkan ke kantornya."

"Pak Sabaku?"

"Pak Kepala Cabang."

"Oh."

Sari menepuk dahinya di ujung lain ruangan.

Matsuri beranjak menuju pantry tanpa menyadari tatapan mata yang berubah gelisah.

"Yakin menyuruhnya masuk ke sana? Kalau benar Pak Sabaku sedang marah, bisa habis pegawai magang itu." Seorang pegawai wanita berucap takut-takut.

"Tapi kita perlu mengecek," yang lain beralasan. "Kalau kita melapor sebelum tahu keadaannya, bisa kita yang kena amuk."

Gumam persetujuan terdengar sebelum semuanya kembali ke pekerjaan masing-masing. Tinggallah Sari yang merapal doa demi keselamatan temannya.

.

.

Seumur-umur, Matsuri tidak pernah meminum kopi. Jadi, dibanding nekat menyajikan air keruh dengan rasa yang lebih keruh, Matsuri menyerahkan tugas itu pada OB kantor berhubung tidak ada kopi sachet yang cara buatnya cuma ditambah air. Lagipula, OB itu langsung sigap menyeduhkan secangkir kopi setelah Matsuri mengatakan nama pak kepala cabang.

Ketika Matsuri kembali pun, ia masih tak peduli. Padahal seisi ruangan mengintipnya—meski sebenarnya tak bisa dibilang mengintip juga—sambil menahan napas saat Matsuri memutar kenop pintu dan mendorongnya terbuka. Selama satu menit pertama, tidak ada yang berani bergerak di tempatnya.

Matsuri yang berada di dalam kantor itu, berusaha menjaga keseimbangan di atas hak-hak sepatunya. Kalau Matsuri bisa sampai ada hubungan dengan kepala cabang, pastilah dalam hal menyiapkan minuman begini. Karena itu, Matsuri tidak mau bertindak ceroboh.

"Silahkan, Pak." Dengan senyum puas karena berhasil meletakkan cangkir kopi dengan selamat di atas meja, Matsuri mempersilahkan sang kepala cabang yang duduk memunggunginya. Hanya kepalanya saja yang terlihat dari balik kursi bersandaran tinggi itu.

Matsuri sudah membalik tubuhnya ketika ia merasa kakinya terbakar, bersamaan dengan suara pecahan cangkir yang kini menyerpih di sekitar kaki Matsuri. Ia bahkan terlalu kaget untuk bisa bersuara dan hanya mematung di tempat, menjaga jantungnya agar tidak ikut hancur meledak.

"Jangan ada yang masuk sampai selesai jam istirahat," ujar satu suara rendah nan dingin dari belakang Matsuri.

"Y-ya," sahut Matsuri dengan tenggorokan tercekat. Ia lantas buru-buru berjongkok, berusaha mengumpulkan pecahan cangkir yang digenangi cairan hitam yang masih mengepul.

"Sedang apa kau di situ?" Tapi rupanya inisiatif Matsuri untuk merapikan kekacauan itu tak dianggap positif. "Cepat keluar dari sini!" kalimat terakhir itu diucapkan dengan suara keras yang membuat Matsuri terlonjak, ikut menggores jarinya saat ia meletakkan kembali cangkir pecah itu sebelum keluar secepat kilat.

Matanya berhadapan dengan dua puluhan pasang mata lain yang menyambutnya di luar pintu dengan ekspresi campur aduk.

.

.

Matsuri mendapat kelonggaran waktu atas pengorbanannya. Semua pegawai di lantai itu merasa terbantu atas info Matsuri untuk tidak masuk ke ruangan pak kepala cabang setidaknya sampai setelah jam makan siang. Karena itu, Matsuri dibiarkan duduk santai di kubikelnya sementara Sari berlutut di hadapannya, mengobati luka bakar Matsuri yang membuat kulit di atas mata kakinya merah dan membengkak.

"Kutarik ucapanku, aku tidak meminati pak kepala cabang lagi," gumam Sari sambil mengolesi kulit Matsuri dengan gel yang terasa menyejukkan. "Aku juga baru tahu pagi ini kalau perangainya sangat mengerikan jika sedang marah. Ia tidak segan mendamprat semuanya atau melempari mereka dengan barang-barang berhubung ia irit bicara. Huh. Dasar tiran!"

Sari mendongak menatap Matsuri.

"Apa?" Matsuri balas bertanya heran. Sejak tadi ia lebih fokus dengan secangkir teh herbal yang dipesankan seorang pegawai untuknya.

Sari menghela napas gemas, sambil melemparkan tatapan jengkel ia mengambil duduk di hadapan Matsuri. "Kau tidak ingin memakinya atau apa gitu?"

Matsuri menaikkan alis. Perlu satu menit penuh sebelum ia menjawab pertanyaan Sari. Inilah sebabnya ia lebih suka sendirian, menaruh perhatian banyak pada orang juga memperbesar resiko membencinya. Lihat saja temannya ini, hanya selang sehari pujiannya langsung lenyap.

"Aku tidak mengambil hati. Suasana hati Pak Kepala Cabang sedang buruk, maklumi saja. Kau juga sering rese kalau sedang baper." Matsuri menenggak habis tehnya. "Terima kasih sudah mengobatiku, sebaiknya kita kembali bekerja sekarang."

Sari nampak ingin protes tapi ia tak menemukan sanggahan. Matsuri ikut berdiri ketika Sari kembali ke kubikelnya karena ia harus ke toilet. Tapi betapa herannya ia saat menemukan lelaki-lelaki berseragam biru pupus tengah mondar-mandir di dalam toilet wanita.

"Maaf, Nona. Sementara ini toiletnya sedang tidak bisa digunakan. Ada saluran air yang bocor. Tapi, Nona bisa pergi ke toilet di lantai bawah."

Matsuri mengucapkan terima kasih pada si petugas ledeng sebelum pergi menuju lift. Samar ia merasakan luka di kakinya berkedut. Mau tak mau ia teringat lagi dengan kejadian tadi dan melirik ke jari telunjuknya yang sekarang terbalut plester luka. Semuanya gara-gara cangkir kopi yang dilempar oleh atasannya dengan penuh cinta. Ah. Ia bahkan tak melihat wajahnya.

Tapi Matsuri rasa ia juga tak ingin melihatnya, tak peduli seberapa pun tampannya ia.

.

.

Ia menyelesaikan urusannya di toilet tak lebih dari lima menit. Yah, dia sih tidak seperti perempuan lain yang menyempatkan diri untuk men-touch up riasan mereka hingga menghabiskan waktu setengah jam di toilet. Selama ini ia hanya memakai riasan seadanya, bedak, eye liner, maskara, dan lipstick warna merah muda pudar beraroma stroberi (kekanakkan, ia tahu), yang sama sekali tak terlalu merubah tampilan wajah baby face-nya.

Matsuri baru saja memencet tombol agar pintu lift tertutup ketika seseorang menahannya dan merangsek masuk, lantas mendorong tubuh Matsuri merapat ke dinding lift sambil menutupi mulutnya.

"Maaf, tapi tolong jangan berteriak," kata lelaki yang bertubuh dua kali besar tubuh Matsuri itu. Matanya menampakkan kepanikan saat pintu lift menutup di belakang mereka.

Posisi ini, ucapan seperti itu, situasi seperti ini ... sepertinya Matsuri pernah menontonnya di salah satu drama kesukaan Sari. Kata temannya itu, ini adalah salah satu adegan yang paling mendebarkan. Romantis. Tapi Matsuri yang sekarang sedang di-kabe-don sedemikian rupa tak mengerti sama sekali di mana bagian romantisnya.

Matsuri menarik lepas tangan yang menutupi mulutnya dan bertanya, "Kau siapa?" bertepatan dengan pintu lift yang terbuka lagi. Seorang wanita berdiri di depan lift tapi Matsuri tak bisa melihatnya dengan jelas karena pandangannya terhalang oleh rambut cokelat agak berantakan lelaki di hadapannya yang tanpa ia sadari sudah merundukkan tubuh, menyejajari kepala mereka.

Dan bibirnya ...

Bibirnya—

"Kankurou! Apa yang kau lakukan dengan wanita itu?!"

Detik berikutnya, jas lelaki itu direnggut dan ia terhuyung keluar lift. Tapi lelaki itu sempat menekan tombol pintu lift. Sebelum menutup, Matsuri sempat melihat sekelebat sepatu berhak tinggi diayunkan dengan kecepatan yang cukup sadis oleh wanita yang kini menjadikan si lelaki sebagai samsak hidup.

"Aw! Shi-chan! Hentikan! Aduh! Itu tajam, tahu!"

Matsuri berdiri di dalam lift dengan mata berkedip-kedip.

Apa sih yang terjadi hari ini?

.

.

Istirahat makan siang, Matsuri menyantap makanannya di kafetaria kantor karena ia terlalu malas ke kafe di seberang jalan. Plus, kakinya membengkak makin parah hingga kalau tersentuh sedikit saja akan terasa perih. Sementara itu, Sari yang duduk di depannya sambil memakan semangkuk salad menatapnya curiga sejak tadi.

"Apa? Kenapa?" Matsuri mengerutkan alis. Jujur saja, dibanding kejadian-kejadian sebelumnya, kediaman Sari sekarang adalah yang paling aneh. Ngomong-ngomong, ia merasa orang-orang sejak tadi menatap ke arah mejanya sambil berbisik-bisik.

"Kau kenal dengan kakaknya Pak Kepala Cabang?"

"Hah? Siapa?"

"Itu loh, kakak Pak Sabaku yang dari bagian perencanaan!" Sari berseru gemas.

"Tidak, tuh." Matsuri menjawab lugas. Adiknya saja ia tidak tahu bagaimana wajahnya (meski ia sudah mendapat tembakan cangkirnya yang penuh sayang), apalagi kakaknya?

"Tapi kenapa semua orang membicarakanmu?!"

"Bicara apa?"

Seperti shinkansen, Sari menceritakan apa yang sudah didengarnya. "Katanya kau kepergok bermesraan di lift dengan Pak Sabaku saat seorang wanita datang dan mulai memukulinya!"

"Pak Sabaku?"

"Maksudku, kakaknya Pak Sabaku. Ah! Lagipula memang satu marga!"

"Wanita?"

"Pacar kakaknya Pak Sabaku." Sari menjawab datar. "Well, mantan."

Matsuri diam sebentar, lalu, "Oh."

"'Oh'? Reaksimu cuma 'oh'?" Hidung Sari mulai mengerut-ngerut lucu. "Kau mengerti tidak sih dengan yang kukatakan?!"

"Menger—"

"Ah. Sudahlah." Sari mengibaskan tangan, sepertinya berhasil mengetahui gelagat Matsuri yang ingin berbohong. "Sekadar informasi, sebaiknya kau jauh-jauh juga dengan lelaki itu. Dia bukan tipe orang yang akan memenuhi semua standarmu."

"Memangnya kau tahu standarku?"

Sari memutar mata. "Sayangku, memangnya tiga tahun ini aku tak kasat mata? Tentu saja aku tahu! Kau hampir saja menerima anak jurusan hukum yang waktu itu mengajakmu kencan, sayangnya dia terlalu pilih-pilih makanan."

Matsuri tersenyum geli mendengar celotehan temannya. Ia memang hampir menerima pemuda itu, tapi jelas ia menolaknya bukan karena soal pilih-pilih makanan.

"Lalu, apa jelasnya standarku itu?"

"Yah, untuk ukuran gadis yang tidak suka pilih-pilih makanan, kau sangat pilih-pilih soal lelaki," Sari menegakkan punggungnya. "Kau, sangat jelas menunjukkan apresiasi pada pemuda yang mandiri, baik hati, ramah ... pintar, hm, tidak, coret itu. Kau terlalu baik hingga bisa saja menerima lelaki ber GPA 2 selama dia mau menyebrangkan seorang nenek-nenek. Dan satu yang paling penting: setia."

Matsuri diam. Ia rasa yang Sari ucapkan adalah standar umum yang diinginkan semua wanita. Dan ya, Matsuri tentu senang jika bisa menemukan semua itu dalam satu orang pemuda. Tapi, Sari salah kalau mengatakan kalau itu adalah standar utamanya. Standar utamanya bukan itu.

"Jadi, dengar baik-baik," Sari sepertinya tak peduli dengan persetujuan Matsuri atas argumennya dan meneruskan ucapannya, "lelaki itu memang terkenal bermulut manis dan sebagainya. Punya selera humor yang baik dan, yah ... tampan—"

"Kau bertemu dengannya?" potong Matsuri.

"Lihat di foto seseorang." Sari menjawab cepat.

"Gerakmu cepat," goda Matsuri.

Sari mendelik. "Apa aku terlihat seperti teman yang tak pedulian?!"

Matsuri mengulum senyum dan mempersilahkan Sari untuk melanjutkannya.

"Oke. Kembali ke topik. Dia memang punya banyak kelebihan yang membuatnya disukai orang, TAPI memang begitulah perangai seorang womanizer. Wanita itu baru dikencaninya beberapa minggu dan ia sudah bosan." Sari menatap Matsuri lekat-lekat. "Jadi, AWAS saja kalau kau mau dirayunya. Aku tak akan biarkan. Laporkan padaku kalau dia coba mendekatimu lagi. Kau terlalu polos untuk menghadapi serigala berbulu domba seperti lelaki itu."

"Wow," Matsuri meminum sedikit dari gelas. "Dia tidak terdengar mirip dengan adiknya."

"Kebetulan kau singgung," Sari ganti memasang wajah prihatin. "Seisi lantai sedang tegang. Setelah makan siang ini mereka harus memberikan laporan. Wajah mereka seperti sapi yang digiring masuk ke tempat penjagalan."

"Kau berlebihan."

"Matsuri, orang yang sudah melemparimu dengan cangkir itu memang menyeramkan." Sari membelalakkan matanya, mencoba membuat maksudnya lebih jelas. "Nona Araki di kubikel sebelahku cerita panjang-lebar tentang kelakuan pak kepala cabang yang ternyata lebih parah dari yang tadi pagi. Ia bahkan pernah memecat seorang pegawai hanya karena satu kesalahan."

"Tapi katamu dia populer."

"Yah ... anomali cinta. Mungkin semua wanita itu masokis." Dengan sadis, Sari menusuk-nusuk makan siangnya.

"Mungkin." Matsuri tersenyum. "Tapi mereka pasti tahu kelakuan pak kepala cabang kita. Alasan mereka masih menyukainya pasti karena wajahnya. Apa kau yakin akan tetap membencinya setelah melihatnya nanti?"

"Dia harus setampan setan penggoda untuk menggoyahkanku," ujar Sari mantap, membuat Matsuri bertepuk tangan tanpa suara untuk menyalutinya.

"Kau sudah benar. Lelaki kasar memang tidak baik." Matsuri mengamini. "Aku juga akan jaga jarak dengannya."

"Kau memang selalu jaga jarak dengan semua orang," koreksi Sari.

"Yah. Berarti dia masuk kategori proteksi ganda." Matsuri tertawa kecil. "Sudah, sudah. Waktu istirahat kita tinggal sebentar lagi, sebaiknya kita habiskan makan siang kita."

"Selamat siang, Nona!"

Matsuri dan Sari serempak mendongak. Di hadapan mereka kini, berdiri seorang lelaki yang sejak tadi mereka perbincangkan. Tampilannya agak lebih berantakan dari yang sekilas Matsuri lihat ketika di lift tadi. Tapi, ia tidak pernah menjadi pengamat yang baik. Cara lelaki itu menyampirkan jasnya di bahu dan memasukkan dasinya ke saku kemeja terlihat natural, seolah itu memang bagian dari gaya berpakaiannya dan bukan karena habis gulat dengan mantannya.

Matsuri melirik ke arah Sari yang tak bersuara dan tertegun mendapati temannya itu tampak terpana. Sepertinya mereka kedatangan setan penggoda.

"Selamat siang, ng, Tuan Sabaku." Matsuri akhirnya berinisiatif untuk membalas sapaannya. Lagipula ia tidak mampir tanpa alasan. Pasti ada yang ingin dibicarakannya pada Matsuri.

"Perkenalkan, nama saya Sabaku Kankurou," ia mengambil duduk menghadap Matsuri. "Kau ... yang tadi di lift, 'kan?"

Matsuri mengangguk singkat.

"Bagus!" Ia tampak senang. Matanya yang berwarna cokelat berkilat-kilat seperti anak kecil. "Begini, saya ingin minta tolong. Tapi saya tidak bisa menjelaskannya sekarang, boleh saya minta nomormu?"

"Eh, itu ..." Matsuri melirik ke arah Sari, tapi temannya itu masih juga membatu.

"Saya tak punya banyak waktu," ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. "Jadi ...?"

"Maaf, saya rasa itu terlalu ... riskan." Matsuri bukannya tidak menyadari, hampir semua orang yang sudah sejak tadi mengintipinya, sekarang terang-terangan menatap ke arah mejanya. Dan Sari sama sekali tidak menolong.

"Tolonglah! Ini masalah hidup dan mati!" Kankurou menatap Matsuri mengiba.

"Tapi ..."

"Tolonglah!" Kankurou bersikeras. Tak tahan dengan tatapan semua orang, Matsuri akhirnya mengalah dan memberikan nomor teleponnya. Baru saja selesai menyimpan nomornya, ponsel di tangan Kankurou berdering.

"Dengan Sabaku ... ah, ya! Ya! Saya mengerti. Baiklah, saya akan segera ke sana! Terima kasih." Kankuro kembali menatap Matsuri seraya berdiri. "Aku akan menghubungimu nanti, nona ..." Kankurou menaikkan satu alis, bertanya.

"Matsuri."

"Ya, ya. Matsuri." Kankurou tersenyum lebar, membuatnya nampak lebih muda seketika. Untuk sejenak, Matsuri seolah bisa merasakan perasaan terpesona para wanita yang dijerat oleh Kankurou. Kalau lelaki itu mau, ia bisa jadi sangat memesona. Tapi lelaki memesona ini tak punya banyak waktu. Sepertinya ia ada rapat di luar kantor.

Namun, sebelum ia beranjak, tiba-tiba saja ia menyadari kehadiran Sari yang masih dengan wajah terpesonanya. Mulutnya bahkan terbuka agak lebar dibanding tadi. Tapi, satu kalimat dari Kankurou membuatnya langsung tutup mulut.

"Nona, kau meneteskan liur."

Sebelum sepatu Sari sempat dilempar, Kankurou sudah menghilang dari pandangan.

.

.

Matsuri sangat suka berjalan kaki. Yah, sebagian karena keharusan agar ia bisa berhemat, sebagiannya lagi karena ia—untuk alasan tertentu—tidak ingin cepat sampai di apartemennya. Lantai yang dingin, suara kunci yang bergema ke seisi ruangan, lampu yang belum dinyalakan, seolah mengingatkan Matsuri kalau ia hidup sebatang kara. Setelah seharian bertemu dengan orang-orang di tempat kerja, sulit untuk kembali ke sebuah ruangan kecil yang hanya dipenuhi suara langkah kakinya sendiri.

Matsuri mampir ke sebuah mini market, teringat lemari makannya sudah kosong. Ia serius menimbang untuk membeli semua varian mie instan masing-masing satu, tapi uangnya tak cukup. Ia baru membayar sewa dan transpor ke kantornya memakan lebih banyak simpanannya. Gaji perdananya mungkin akan menutupi semuanya, tapi itu masih tiga minggu lagi dan Matsuri harus berhemat hingga saat itu. Akhirnya ia hanya membeli lima bungkus mie instan untuk seminggu. Ia bisa puasa untuk sisa dua harinya.

Tapi ketika ia berjalan ke arah kasir, matanya hinggap di jajaran makanan kalengan dan melihat sederet kaleng makanan kucing. Ia menghampirinya. Makanan kucing itu lebih mahal dua kali lipat dari lima bungkus mie instan di pelukannya. Tangannya meraba dengan ragu, menimbang-nimbang. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali ke rak mie instan, meletakkan dua bungkus mie dan menyisakan tiga dalam pelukannya lalu kembali ke rak sebelumnya lantas mengambil satu kaleng makanan kucing berisi ikan tuna impor.

Alih-alih murung akibat pembelian tak terduga, Matsuri malah berjalan riang ke arah sebuah taman kecil di dekat apartemennya. Itu taman yang berbeda dengan yang sebelumnya. Taman itu benar-benar kecil, hanya ada beberapa permainan luar-ruangan dengan sebuah kubah berlubang-lubang di bagian tengah. Di depan kubah itu lah Matsuri berdiri sekarang.

"Shi-chan! Shi-chan!" Matsuri mulai memanggil-manggil sambil melongok ke dalam kubah. "Shi-chan!"

"Meong!"

Sebuah eongan kecil terdengar dari arah kursi besi tak jauh dari tempatnya berdiri. Dari balik bayangan, seekor kucing berbulu putih dengan cincin-cincin hitam di ekornya yang meliuk-liuk berjalan ke arah Matsuri. Mata kuning cerahnya berkilat-kilat senang.

"Shi-chan! Di sana kau rupanya!"

Matsuri menggendong kucing itu dan duduk di kursi. Bulu-bulu putih pendek menempel di setelan kerjanya saat kucing itu menggesekkan wajah dan tubuhnya ke dada Matsuri. Jelas si kucing kecil sudah menantikan kehadiran Matsuri.

"Maaf aku baru bisa menengokmu lagi, kerjaanku sedang banyak." Matsuri menurunkan kucing yang ia namai Shi-chan itu dan mengeluarkan makanan kalengannya. "Lihat! Aku membawakan makanan kesukaanmu!"

Sama seperti Matsuri, Shi-chan juga tidak suka pilih-pilih makanan. Kucing kecil itu memakan apa yang bisa dimakannya saat Matsuri tak bisa menengoknya untuk memberi makan. Tapi dari semuanya, Shi-chan paling suka dengan tuna kalengan yang dibeli Matsuri ini. Ia selalu makan dengan lahap tanpa menyisakan serpihan daging tuna sama sekali.

"Nah, makanlah!" Matsuri meletakkan kaleng yang sudah ia buka itu di atas kursi dan dengan semangat Shi-chan mulai memakannya. Ekornya bergerak-gerak di belakang tubuhnya.

Matsuri bertemu dengan Shi-chan dua tahun lalu, di tahun terakhirnya kuliah. Kucing itu dulu kumal dan kurus, juga terluka. Dengan sedikit uang yang Matsuri miliki, ia membawanya ke sebuah klinik hewan. Tapi setelah ia sembuh, Matsuri kebingungan sendiri. Inang apartemennya tidak mengizinkan penyewa untuk memelihara hewan dan ia cukup galak. Belum lagi Matsuri kadang menunggak sewa, bisa-bisa ia langsung ditendang keluar jika ketahuan memelihara Shi-chan.

Dengan berat hati, Matsuri meninggalkan Shi-chan di taman ini, berharap insting bertahan hidup kucing itu bisa menyelamatkannya. Matsuri ingat, ia sempat menangis semalaman. Ia jarang terlihat begitu emosional, tapi mata Shi-chan yang pertama ia lihat mengingatkannya pada dirinya sendiri. Terluka, kesakitan, sendirian, tak ada yang sudi menemani. Tapi, pilihan apa yang ia punya? Biarlah ia menyerahkan Shi-chan pada kehendak Tuhan.

Berhari-hari kemudian ia masih juga terbayang pada kucing kecil yang telah ia selamatkan (dan ia campakkan) dan tanpa sadar kakinya melangkah ke taman itu hanya untuk mendapati Shi-chan ada di sana, tepat di depan kubah berlubang tempat Matsuri meninggalkannya. Seolah ia menunggu Matsuri untuk menemuinya kembali.

Sejak saat itu, Matsuri mengunjungi Shi-chan sesering ia bisa. Meski ada hari di mana ia tak dapat datang dan membawakannya makanan, Shi-chan tidak terlihat kelaparan atau terluka. Sepertinya ia mencari makan di tempat lain. Kucing pintar.

"Meong."

"Wah! Kau sudah menghabiskannya? Kucing pintar." Matsuri menggaruk bagian belakang telinga Shi-chan yang kemudian meloncat ke atas pangkuannya dan bergelung nyaman di sana. "Kau merindukanku?"

"Meong."

"Sama. Aku juga merindukanmu."

Matsuri tak pernah bisa mencurahkan perasaannya secara gamblang pada seseorang, bahkan Sari sekali pun. Tapi dengan Shi-chan, ia bisa bebas mengelusnya, membisikkan kata-kata sayang, duduk sepanjang malam dan berbincang—meski hanya satu arah. Rasanya lebih mudah dan ringan. Seekor kucing tak akan membuatnya kecewa. Jika ia memberinya makan, ia akan menurut. Jika ia mengelusnya lembut, ia akan menjilatnya balik. Jika ia memeluknya, ia akan membola.

Berbeda sekali dengan manusia yang sulit ditebak.

Jika Matsuri bersikap baik, ada yang akan balas berbuat baik padanya, ada yang mencibirnya di belakangnya, ada yang mengiranya sedang mencari perhatian. Jika Matsuri mengungkapkan pendapatnya, ada yang akan menerima, ada yang mengejeknya terang-terangan, dan ada yang pura-pura setuju untuk kemudian mencelanya di belakang. Rumit sekali. Apalagi perbandingan orang yang merespon dengan positif lebih sedikit dari yang merespon negatif. Matsuri tidak tahu, apakah ia yang memang salah berbuat dan berucap atau orang-orang di sekitarnya memang semuanya pendengki? Tapi, untuk bersikap kasar seperti mereka, Matsuri juga tak bisa. Ia ingin diperlakukan dengan baik, karena itu ia berlaku baik dan mencoba berpikir positif pada semuanya.

Lalu, untuk urusan mencintai. Nah, itu bahkan lebih rumit lagi. Matsuri tidak ingin memikirkannya sekarang karena pikirannya pun sudah dipenuhi dengan kejadian di kantor sore tadi.

Lima tumbal. Lima lemparan. Dari luar ruangan yang tertutup, Matsuri dan yang lainnya mendengarkan 'pembantaian' yang dilakukan oleh sang kepala cabang. Memang hanya terdengar suara gebrakan meja dan lemparan barang tanpa bentakan, tapi itu sudah cukup membuat mereka gentar. Apalagi, wajah pegawai terakhir yang keluar dari sana begitu pucat seolah ia siap pingsan kapan saja. Tapi, hingga jam pulang, Matsuri tak berkesempatan untuk melihat rupa sang tiran karena ia tinggal untuk lembur. Mungkin di balik sikap kerasnya, ia memang seseorang yang berdedikasi.

"Meong!" Matsuri terlonjak sedikit saat kaki-kaki depan Shi-chan bertumpu di dadanya, dan lidah kasar si kucing menjilat pipinya. Mata kuningnya terlihat bertanya-tanya, mencoba mengerti keresahan Matsuri.

"Aku tidak apa-apa." Matsuri mengangkat Shi-chan dan memeluknya. "Aku baik-baik saja."

A/N:

Ada yang merasa tokoh-tokohnya OOC? Ada yang merasa gaya bercerita saya berbeda?

Oke, jadi ini rahasianya. Saya menulis fic ini tanpa beban. Benar-benar lancar. Saya bahkan tidak memikirkan akan jadi apa cerita ini. Saya juga akui kalau cerita ini memang minim riset. Dalam sehari, saya menulis lebih dari 3 ribuan kata dan itu sebuah rekor tersendiri bagi saya. Dan ternyata, rahasianya adalah ... tanpa sadar saya membuat Matsuri jadi seperti saya—tidak secara fisik, tapi kepribadian. Beberapa memang ada yang berbeda karena keharus-sesuaian dengan plot tapi saya bisa melihat diri saya sendiri dalam tokoh Matsuri yang ini. Saya jadi tidak yakin ingin meneruskan tapi toh idenya masih terus mengucur keluar. Jadi, ya ... saya mohon maaf jika ada yang tidak menyukai Matsuri yang seperti ini (saya juga kadang benci diri sendiri—tidak bagus, saya tahu).

Awalnya saya pikir ingin menggunakan plot ini untuk pair lain—NejiTen misalnya. Tapi saya merasa GaaMatsu yang paling cocok. Dan semakin saya pikirkan, semakin cocok jadinya.

Oke. Next.

Sebagai orang melankolis-romantis, tema yang saya ambil memang tidak jauh-jauh dari cinta. Saya suka menulis cinta antar sahabat, keluarga, atau pasangan dan saya coba tuliskan semuanya di sini. Secara garis besar cerita ini menggambarkan perjuangan Matsuri untuk mendapatkan keinginannya dengan berpegang pada prinsip-prinsip hidupnya yang kemudian coba dirobohkan oleh Gaara. Semoga cerita ini tidak terlalu pasaran, ya?

Terima kasih bagi yang sudah menyempatkan membaca. Semoga ada cukup waktu juga untuk menulis review. Dan maaf kalau-kalau saya belum membalas review kalian. Chapter ini saja di-post secara otomatis. Nanti, saya akan membalas review kalian.

Jaa!