A/N : ..krik? Makasih banyak semua yang udah baca dan review di chapter prolog(?) kemarin ^^ Nah~ Selamat baca chapter satunya 8D Are—tapi mau pajang(?) balesan ripiw dulunya. Silahkan skip aja kukuku. Soalnya saya ga sempet bales lewat PM gegara FFn error mulu, jadi sekalian di sini aja deh. *ditendang*
Sad Ending Lover Iya~ Tadaima. Setelah bulan kemarin wb total ;w; Ara~ Tentunya, soalnya saya ga bisa nulis selain mereka orz *ambil boneka 6918-nya* Hee makasih X"D Baguslah kalau gitu. Ja—udah cukup kilat kah? XD Thx for review~
Suzuru Seiyo Kukuku.. *tendang2 webe* Pfftt.. Iya, Tsuna gitu lho ruangannya tahan gempa pula. Yep~! Seminggu yang bahagia kukuku. Updated 8D Thx for ripiw~
bhiblu21 Hohohohohoho~! *logat santa* Jangan gilaaa *tarik2 Cath* Oya. Kira-kira gimana, ya? Wokeh~ Semoga kesampaian 2 minggu sekali. Thx ripiwnya XD
Nyasararu—KiReiKi Flaurenoct (eh? bener ngga?) Kukuku~ Saya setuju. E-Eh? Jadi... Di lantai dong tidurnya? *ngakak bayangin pada tidur di lantai* Yak~ Updated. Makasih reviewnya XD
Hikari Kou Minami Nuhuhu akhirnya ya.. *tendangin webe* Itu karena Tsuna percaya ohohohoh. Yep. Ini lanjutannya XD Semoga kesampaian dua minggu sekali. Yosh~ Thx reviewnya XD
J.J psycho Whoa. But it's suprised me that you can read my fanfic XD; Well, Shino is just like any normal toddler(?) has browny hair (because both of his parents have brown hair lol) and light brown eyes. Thank you for the review :3 And here is the second chapter~ (the single bed issue will shown on the next chap~)
Hyuuzu LOL ide random ahaha. Yak, sankyuu XD Ini dia chapter selanjutnya. Semoga bisa nyampe ya, dua minggu sekali.. Makasih ripiwnya :D
Vocallone Ahahah XD; Hati-hati tar dikira orang gila. *shot* Makaaaasih. Ini dia chap duanya. Thx reviewmu~
Heartless Lotus Ahah. Hibari apapun jadi, yang penting bisa bertarung sama Muku tercinta(?). Hint 1869? Wokeh. Biarkan Mukuro mengalah kali-kali. Kekekeke. Makasih buat ripiwnya~
Eszett del Roya Kaasaaaan~ Reviewmu selalu membuat hariku(?) #salahbahasa Cough maksudnya review Kaasan selalu bikin semangat lagi ^^ Makasih. Semoga makin berkembang #halah Ara. Iya, mereka bukan kekasih. Soalnya lagi latihan bikin yang IC, tapi romancenya pasti berkembang kok. Thanks reviewnya, Kaasan ^o^
quan 'Titanium Kiririn? *shot* Yay~ Makasih reviewnya XD Saya juga suka...emang lagi mau ngubah sifat Muku di tiap fanfic, biar lebih IC. Semoga berhasil \o
— Baby Daycare —
- First Day -
Ditulis oleh hibalicious
Pen-tidak-klaim-an? KHR punya Amano Akira-sensei
Hint pasangan 6918. Atau kemungkinan jadi 1869.
Hati hati dengan kemungkinan OOC dan typo, BL, OC (2795's child)
.
.
.
"Jadi—"
Vongola Decimo berumur 25 tahun itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memandangi dua sosok yang saling memegang kerah satu sama lain. Yang berambut hitam mendorong yang lainnya ke tembok, wajah mereka bisa dibilang dekat, sangat dekat. Kedua orang itu lantas memandang balik sepasang iris karamel sang Decimo yang menampakkan sorot mata penuh kesuraman.
"—aku hanya bermaksud membawa barang yang tertinggal. Dan, uh, kalian—" Tsuna berhenti sejenak untuk berdeham sambil melirik ke langit-langit, sedang mencari kata yang tepat untuk mengumpamakan apa yang mereka lakukan dalam posisi seperti itu. Siapapun yang menjadi Tsuna saat ini, ia pasti sedang memikirkan hal 'itu'. Oke, terutama fakta bahwa Mukurolah yang terdorong ke tembok.
Tunggu, bukan itu masalahnya.
Yang berambut hitam segera menjauhkan dirinya dari Mukuro ketika menyadari apa yang Tsuna pikirkan. Ia melepaskan kerah Mukuro dengan kasar, mengelap tangannya ke celana. "Kau salah pah—"
"Hibari-san."
Jeh, terpotong.
"Aku tidak tahu kalau gosip nomor delapan tentang kau dan Mukuro itu benar, tapi—eto.. Bisakah untuk tidak melakukan hal 'itu' selama seminggu? Kau tahu, ada...Shino." ucap Tsuna dengan sedikit ragu, tanpa mengetahui aura gelap kasat mata sudah muncul di sekitar Hibari.
Butuh satu detik bagi Tsuna untuk menyadari aura mistis itu. Ia kemudian tersenyum miris dan tertawa kaku sambil meletakkan kardus yang lumayan besar di depan pintu. Dan dengan kecepatan kilat, langsung bergerak mundur, menutup pintu apartemen sebelum Hibari benar-benar menghajarnya.
...
Dan mood Hibari turun drastis karenanya.
Moodnya memang sudah jelek hari ini. Apalagi ditambah cuapan Tsuna tadi. Membuatnya malas melakukan apapun, termasuk bertarung dengan rivalnya itu. Jadi, ia memutuskan mengabaikan Mukuro yang sudah menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Dan mengambil langkah malas ke arah kamar—
"..."
—hanya untuk menemukan balita berambut coklat muda tertidur pulas di tengah kasur.
Hibari memasang tampang kesal dan kembali lagi ke ruang televisi. Wajah bingung Mukuro yang sedang duduk santai di atas sofa menyambutnya, lelaki Itali itu terlihat tengah membolak-balikkan channel tv tanpa memandang ke arah tv itu sendiri.
"Tidak jadi tidur?" tanya ilusionis itu seramah mungkin. Berhati-hati terhadap mood Hibari yang sedang buruk.
Dan yang ditanya menunjuk ke arah kamar.
"Ada herbivora."
...
YA IYALAH.
Mukuro memilih kembali menatap televisi yang menayangkan acara tidak jelas daripada membalas jawaban Hibari. Bisa-bisa ia membuat mood mantan prefek itu semakin parah. Lebih baik pura-pura menonton sambil memasang tampang cool. Ia akan menghindari berbicara dengan Hibari hari ini.
Sayangnya, itu tidak akan terjadi. Karena—
"Oi. Lakukan sesuatu. Membosankan."
—Hibari mendadak memasuki mode bossy!Hiba?
Menoleh dengan senyum miris terpasang, Mukuro menyaut. "Oh. Apa yang ingin anda lakukan, master?" Dengan penekanan di ujung kalimat.
Hibari menoleh dengan tatapan bosan. Ia tahu si ilusionis ini sedang bermain-main dan tidak benar-benar akan melakukan perintahnya. Lalu ia berpikir, apa salahnya kalau dibalas dengan yang main-main juga? Toh apapun yang ia suruh—mau serius atau tidak, Mukuro tidak akan melakukannya.
Dan ini dia, Hibari mengangkat bahunya, memasang tampang tidak peduli sambil mengibaskan tangannya, gestur memerintah. "Entah. Striptease, samba, atau apapun."
WHATHEFU—
Urat kemarahan kasat mata tampak di kepala Mukuro. Ia memiringkan kepalanya sedikit, tersenyuuuum miris seseram mungkin. "Maaf, anda bilang apa?"
"Kubilang aku ingin beefburger spesial dengan daging sapi khusus dari peternakan di Denmark dan dipanggang dengan bumbu asli Albania. Pakai roti Swedia, tanpa mayonaise dan keju."
"...Kurasa yang sebelumnya bukan itu, master."
"Nah itu kau tahu. Sekarang lakukan."
"..."
Mukuro benar-benar ingin memegang tridentnya saat ini juga.
Menghela nafas sambil memindahkan channelnya, ia bersandar ke sofa, mencari posisi nyaman. Sudah, ia tidak mau melanjutkan permainan kecilnya itu, toh kalau pada ujungnya malah ia yang dipermainkan. Sekarang giliran Mukuro yang memasang tampang kesal, membolak-balikkan channel yang jumlahnya ratusan itu.
Dan ia sadar, enam hari ke depan akan berjalan seperti ini; membosankan. Ia akan menghabiskan waktu dengan bersantai di ruang tv, memindah-mindah channel tv atau membaca koran, seperti seorang pensiunan yang tidak ada kerjaan. Rasanya saat-saat berada di Vendicare lebih baik. Setidaknya ia bisa keluar melihat dunia dengan bantuan Chrome-nya. Sayangnya, akses bertelepati ria dengan Chrome diputus. Entah kenapa ia tidak bisa menghubungi gadis itu maupun menggunakan ilusi. Tsk, dasar Vongola dan gedung berteknologi tingginya.
Curi-curi pandang, ia melirik pada Hibari dari ujung matanya. Mendapati lelaki itu memasang tampang yang sama dengannya, menatap datar layar LCD televisi.
Benar-benar suasana yang kaku.
Dan suasana yang krik ini terus berlangsung sampai salah satu menyadari ini sudah jam makan siang. Hibari beranjak dari sofa, berjalan ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia membuka kabinet, dan menemui banyak persediaan makanan kecil. Ia melirik ke dalam kulkas, mendapati banyak stok bahan makanan.
...
Si Tsunayoshi itu benar-benar menyiapkan segalanya.
Tapi satu kesalahan Tsunayoshi adalah; ia tidak menyiapkan makanan jadi. Ayolah, Hibari bukan tipe orang yang repot mau memasak. Karena biasanya setiap makan malam, pagi maupun siang, makanan sudah tersedia. Tepatnya disediakan oleh Kusakabe maupun pelayan yang lain.
Mendecak kesal, ia mengambil panci, meletakkannya di atas kompor. Tunggu, memangnya ia mau masak apa?
Manaiatahu.
Dan ia masih berdiri di depan kompor selama beberapa menit. Tidak tahu mau memasak apa. Dan kalaupun mau, ia—ehm, jujur saja, tidak tahu cara memasaknya. Oke, salahkan Hibari dan kebiasaan dilayaninya.
"Oya oya. Jangan bilang seorang Hibari Kyouya tidak bisa memasak?" Dengan ekspresi kaget yang didramatisasi.
Membuat sang Skylark menatap tajam Mukuro.
Ia tidak marah—karena memang benar. Hanya kesal kok, kesal. Mungkin. Jelasnya, ia langsung menghantamkan panci di tangan ke wajah Mukuro. Yang sayangnya dapat dihindari dengan mudah oleh ilusionis itu.
"Kufufu. Mau kumasakkan sesuatu, hm?" tawar Mukuro dengan tulus. Yah—walaupun ada kemungkinan tulusnya Mukuro dengan tulus di kamus biasa berbeda. Tapi siapa peduli. Ia melangkah ke sebelah Hibari, memandangi peralatan dapur yang ada di sekitar. Yang ternyata—woah, lengkap. "Kau tahu, mungkin aku bisa memasakkan makanan Itali. Kufu~"
"Masa bodoh."
...Fsyuu.
Mukuro mendecak, "Yah, itu lebih baik daripada yang tidak bisa sama sekali." cibirnya sambil membuka-buka kabinet di atas kompor, mencari beberapa bahan makanan.
Dan Hibari memberungut.
Sampai mereka menyadari, suara tangisan samar terdengar dari arah kamar. Kedua guardian itu saling memandangi dengan tatapan datar. Tapi keduanya seakan mengatakan 'Urusi bocah itu' di pandangan masing-masing. Dan tentu saja, tidak satupun dari mereka yang mau. Ayolah, mereka bukan tipe orang yang akrab dengan anak-anak.
"Aku memasak, kau urusi dia."
Mukuro menunjuk ke arah kamar.
"Kau bodoh? Aku bisa membunuhnya tanpa senggaja."
Hibari mengerutkan alisnya.
Dan tangisan terdengar semakin keras.
Sang mantan prefek mendengus kesal sambil berbalik menuju kamar, sedang menyiapkan mental dan menahan kesabaran untuk menghadapi lawan terkuat seminggu ini; seorang balita berumur tiga tahun bernama Sawada Shino. Dan ia bersumpah, jika makanan yang Mukuro masak tidak enak, ia akan menghajar lelaki itu.
Menghela nafas panjang sebelum membuka pintu, Hibari mendapati sosok mungil yang tengah duduk di tengah kasur, dengan mata sembab dan pipi basah. Tunggu, ia sudah menangis sejak tadi? Dan—oke, entah sudah berapa lama juga, Hibari tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi anak itu terlihat berhenti menangis ketika Hibari memasuki kamar, duduk di ujung kasur dengan tampang datar.
"Jangan menangis."
...
O—Oi, Hibari Kyouya, yang seperti itu tidak akan berpengaruh pada balita berumur tiga tahun. Yang ada, bocah itu jadi ketakutan melihat death glare-nya. Dan tentu saja, air mata kembali membendungi mata dan menetes di pipi bulat anak itu. Rengekan terdengar semakin keras.
Dan Hibari menggaruk kepalanya frustasi.
"B... Baba.. Oosan.. Habubuu.. Huu.."
Ada yang punya kamus balita?
Oke, tidak ada. Dan Hibari tidak tahu apa yang dilakukan kecuali duduk di sana sambil memandangi balita yang tengah menangis, sebuah perbuatan yang tidak patut ditiru orang tua manapun. Masalahnya, biasanya orang-orang langsung diam jika dihadiahi tatapan maut darinya. Tapi sepertinya hadiah itu tidak mempan pada anak kecil. Yang ada malah memperparah keadaan.
Menghela nafas (lagi), Hibari mengulurkan tangannya. Terhenti sebentar, sebelum melanjutkan dan menepuk pelan kepala anak laki-laki tersebut. Dan dengan sekuat tenaga, Hibari berusaha menghaluskan tatapannya, juga melekukkan sedikit senyum di bibirnya—walaupun dipaksakan, tapi yah, namanya juga usaha.
Dan—hei, tangisannya terdengar mereda, dan mata coklat muda anak itu terbuka, dengan ragu menatap balik kedua iris biru pucat milik Hibari. Cloud Guardian itu berusaha menjaga raut wajahnya sampai anak itu benar-benar tenang. Bagusnya, tidak butuh waktu lama untuk membuat yang bernama Shino tersebut mengelap pipinya sendiri.
Merasa balita itu sudah tenang, Hibari memutuskan untuk keluar—sampai Shino mengangkat tangannya ke arah Hibari. Lelaki berambut hitam itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap balik orb coklat muda milik anak tersebut.
Yang langsung membuat Shino melebarkan senyuman, kemudian menunjuk ke arah lelaki yang jelas lebih tinggi itu.
"Papa!"
...Apa?
- oOo -
Mukuro melenggang meletakkan macaroni schotel yang masih panas itu dari oven ke atas piring di meja. Ia tidak yakin Hibari suka makanan yang seperti ini atau tidak. Tapi ia tidak terlalu peduli sih, toh ia yang sedang menginginkannya. Dan ia tahu, Hibari tidak bisa menolak. Kecuali kalau yang bersangkutan mau memasak sendiri sih, silahkan saja.
Lelaki berambut biru itu menyiapkan macaroni schotel mereka di meja, kemudian menuangkan kopi ke gelas masing-masing. Dan ketika ia menyadari—kenapa ia malah terlihat seperti seorang pembantu? Tinggal menggunakan apron saja, dan voila, jadilah meido!Mukuro.
...Krik.
Menghilangkan pikiran tidak jelas tadi dari kepala, Mukuro memutuskan mengintip ke kamar. Entah kenapa rasanya Hibari lama juga berada di sana. Mukuro curiga Hibari tidak sengaja membunuh anak itu dan sedang berusaha menyembunyikan mayatnya di suatu tempat. Hidih, kalau benar terjadi, ia akan segera keluar dari tempat ini bagaimanapun caranya—takut-takut malah ia yang dituduh sebagai pelaku. Cuih, mana mau dikurung lagi di penjara akuarium itu?
Eh tapi—
Mengintip ke dalam dari bingkai pintu, pemandangan yang ia dapati jauh lebih mengagetkan daripada mendapati mayat balita tersebut tergeletak di lantai. Oke—ia salah besar. Sosok Hibari dengan boneka beruang di tangan kanan dan action figure di tangan kiri sambil menggerakkan keduanya pada balita di hadapannya lebih membuat Mukuro shock daripada perkiraannya yang sebelumnya.
"Kyouya... Kau.."
Sang pemilik nama terhentak, langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah suram yang seakan berkata, 'Tidak, bukan saya pelakunya!' begitu, seperti kriminal yang tertangkap basah. Hibari terlihat menggelengkan kepalanya dengan pelan dan kaku. Ia—sangat—tidak terima jika rivalnya itu mengira dirinya sengaja memainkan benda kedua benda di tangan. Ini bukan keinginannya, ini—terpaksa.
Sementara balita berambut coklat itu menoleh dengan wajah tanpa dosa ke arah Mukuro. Entah kenapa langsung tersenyum lebar, menunjuk riang lelaki berambut biru panjang itu.
"Mama!"
...EH?
: Tsuzuku :
*sungkemin Mukuro-sama*
Gyahahaha suruh siapa rambut ente dipanjangin gitu heh? Kan kayak cewek tahuk! Sini ane gantengin lagi ente 8{ *kejar Mukuro-sama pake gunting*
Ehm—cough. Why hello milady~ XD Akhirnya kesampaian juga update orz;; Semoga chapter depan ga macet ya Q^Q
Omong-omong... Mind to review? 8"D #lha
