Three-Shoot (?) PART 2

Jisoo melamun menghadap jendela, sesekali air mata turun ke pipinya yang langsung dihapusnya.

"Apa kepalamu masih sakit?" Mingyu mencoba memecah keheningan.

"Sedikit."

"Liat saja, akan kuberi pelajaran si bodoh itu karena telah melukai my princess." Jisoo menatap Mingyu.

"Jangan, Gyu. Aku lemas bukan karena pukulannya. Tapi karena kondisiku memang sudah tidak baik dari pagi."

"Hah, kenapa sih kau masih saja membelanya?" Mingyu sedikit emosi.

"Karena memang itu kenyataannya."

"Kepalamu sampai biru begitu. Di rumahmu ada es batu kan? Ngomong-ngomong apartemenmu yang mana?"

"Antarkan aku ke hotel saja, gyu."

"Loh, kok hotel?" Mingyu memandang lelaki manis di sampingnya sejenak.

"Aku malas pulang ke apartemenku." Mingyu terdiam. Ia memandang ke depan masih berfikir. Sebenarnya banyak yang ia ingin tanyakan, tapi melihat keadaan Jisoo sekarang sangat tidak memungkinkan. Ia takut Jisoo malah makin bersedih. Dan ini semua karena lelaki berbulu mata overdosis itu!

"Baiklah."

Mereka pun sampai di hotel terdekat. Jisoo tak bersuara sedari tadi, jadi Mingyu pikir ia pasti tertidur karena kelelahan.

"Soo, sudah sampai." Mingyu menggoyangkan bahu Jisoo pelan beberapa kali, tapi tak ada jawaban.

"Soo, my princess.." Mingyu mengguncangnya agak keras. Dia tidur apa pingsan sih? Mingyu turun dari mobilnya. Ia membuka pintu Jisoo dan memperhatikan kondisinya. Wajahnya makin pucat, diperiksanya denyut nadi dilengannya. Lemah. Pingsan? Mingyu pun langsung menutup pintunya, dan kembali kedalam mobil melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.

.

.

.

Seungcheol berjalan gontai memasuki apartemennya. Pandangannya kosong. Hatinya hampa tanpa Jisoo disisinya. Ia memperhatikan pigura foto yang tertempel di dinding. Foto pertunangannya dengan Jeonghan. Sekarang semua foto yang ada di apartemennya telah terganti dengan fotonya dengan Jeonghan, padahal awalnya semua itu fotonya dengan Jisoo. Tentu saja, itu semua perbuatan Jeonghan yang telah menggantinya secara diam-diam. Seungcheol pun sempat marah karena fotonya dengan Jisoo telah ia bakar. Tapi, sekali lagi, ancaman Jeonghan untuk mencabut bantuannya ke perusahaan ayah Seungcheol membuatnya tak berkutik.

Tapi sekarang, apalagi arti hidupnya kini tanpa Jisoo bersamanya. Seungcheol mengambil salah satu pigura di dinding, lalu membantingnya hingga kacanya pecah berkeping-keping. Selanjutnya, ia mengambil foto yang lainnya lagi dan mulai menghancurkannya satu persatu. Seungcheol mengambil tongkat bassball di dekat pintu apartemennya dan mulai menghancurkan isi apartemennya. Memecahkan televisi, meja kaca, dan sebagainya. Menyalurkan amarah, kecewa, dan kesedihannya yang terpendam.

Setelah merasa sedikit lega, ia duduk menyender di belakang sofa, melepaskan tongkatnya dan mulai menangis memanggili nama Jisoo. Maafkan aku tak bisa melindungimu, sayang.

.

.

.

Jeonghan terkejut mendapati aprtemen Seungcheol berantakan seperti habis perang. Ia berjalan hati-hati menghindari beling yang berserakan. Emosinya sedikit naik saat dilihatnya foto mereka telah tersobek menjadi potongan kecil. Apa-apaan orang bodoh ini?

"Heh! Bangun!" Jeonghan menendang kaki Seungcheol yang berbaring di belakang sofa. Seungcheol pun bangun dan terduduk, memandang Jeonghan dengan benci.

"Apa-apaan ini? Kau habis main perang-perangan dengan siapa?" Seungcheol tidak menjawab, ia lalu berdiri menuju kulkas untuk mengambil minum.

"Wajahmu juga kenapa biru begitu? Kau berkelahi dengan siapa?" Seungcheol tetap diam dan meminum air yang telah ia tuang di gelas.

"Jangan bilang kau berkelahi dengan pacar baru selingkuhanmu itu karena kau cemburu." Seungcheol membanting gelasnya di lantai mendengar kata 'selingkuhan'. Membuat Jeonghan sedikit terkejut.

"Jangan memanggilnya dengan kata 'selingkuhan' !"

"Lalu kalau bukan selingkuhan apa namanya?"

"Dia kekasihku!"

"Aku tunananganmu, lalu dia kekasihmu? Hubunganmu dengannya sudah berakhir Seungcheol-ah. Dia sudah tak menginginkanmu!" Seungcheol berjalan ke depan Jeonghan.

"Sebenarnya apa yang sudah kau katakan padanya?"

"Aku tidak mengatakan apa-apa. Memangnya dia mengadu apa?"

"Dia tidak mengadu apa-apa, karena dia orang yang baik tidak sepertimu. Tapi aku tau kau pasti telah melukai hatinya dengan kata-kata jahatmu."

"Sudah kubilang aku tak mengatakan apa-apa. Lagian apa sih yang kau suka darinya, lelaki lemah dan letoi seperti itu? Tidak ada bagusnya!"

"Kau!" Seungcheol mengangkat tangannya hendak menampar mulut sialan itu, tapi ia masih menahannya.

"Tampar! Ayo tampar kalau kau berani! Lalu, hidup keluargamu akan hancur!" Seungcheol menarik tangannya. Ia mengambil mantelnya dan keluar dari apartemennya, mengabaikan teriakan Jeonghan memanggil namanya.

.

.

#Flaskback

Seungcheol terkejut karena Jeonghan membawanya makan siang ke restauran tempat favotire Jisoo. Ia berusaha bersikap wajar sambil sesekali menatap sekeliling mencari wajah manis kesayangannya. Dan benar saja, Jisoo ada disana dan tak lama ia langsung pergi tanpa memakan makanannya. Jisoo pasti sudah melihatku. Apa maksudnya dia membawaku kesini? Apa jangan-jangan Jeonghan sudah tau tentang aku dan Jisoo?

.

.

.

Inikan tempat kerja Jisoo. Mau apa lelaki ini membawaku kesini.

"Maaf ya, bosku sedang keluar mengantar client melihat tempat."

"Apa masih lama?" tanya Jeonghan sembari melirik jamnya.

"Waduh, kurang tau. Akan saya telpon dulu ya."

"Yasudah kalau begitu, kami akan datang nanti sore saja."

"Sekali lagi maaf." Seokmin membungkukkan badannya saat pasangan ini pergi.

"Kenapa kesini sih? Liat saja, bosnya tidak ada padahal kita sudah buat janji. Tidak profesional. Tempat lain saja ya." Maafkan aku Jisoo.

"Itu yang diparkiran bosnya bukan? Wajahnya mirip dengan foto yang ada di dalam tadi. Dengan pacarnya ya? Mesra sekali."

Apa-apaan itu. Beraninya mencium Jisoo-ku. Clientnya, hah?

.

.

.

Jeonghan yang berada di dalam mobil dekat apartemen Jisoo tersenyum senang saat melihat Jisoo keluar dari apartemennya menangis.

"Mereka bertengkar? Kurasa semuanya sudah berakhir. Seungcheol jadi milikku seutuhnya."

.

.

.

"Kau darimana?" Seungcheol baru saja akan pergi dari restauran itu kalau saja Jeonghan tidak juga memunculkan batang hidungnya.

"Maaf. Aku baru dari tempat WO kita."

Tempat Jisoo?

"Kenapa kau tidak mengajakku?"

"Tidak apa. Lagian tanpa bertanya padamu, dia juga pasti sudah tau seleramu." Seungcheol tertegun.

"Maksudmu?" Jeonghan menghela nafasnya pelan.

"Kau pikir aku bodoh tidak tau hubungan gelapmu dengan si ceking itu?"

"Jaga ucapanmu Jeonghan!" Jeonghan memutar bola matanya malas. Dia bersender ke kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Seungcheol mengepalkan tangannya menahan amarah.

"Jadi selama ini kau sudah tau. Baguslah kalau begitu, jadi aku tak perlu berpura-pura lagi."

"Tentu saja kau tidak perlu berpura-pura lagi. Toh, hubungan kalian juga sudah berakhir."

"Apa maksudmu?!" Seungcheol menggebrak meja. Membuat Jeonghan sedikit terkejut, karena selama ini Seungcheol tidak pernah bersikap kasar dan selalu lembut di depannya.

"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?!"

"JANGAN MEMBENTAKKU!" orang-orang disekeliling mulai memperhatikan mereka.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Justru aku berterima kasih kepadanya karena mau membantu pernikahan mantan kekasihnya dan menyudahi hubungan gelap kalian."

"Dia bukan mantanku dan hubungan kami bukan hubungan yang terlarang! Kami melakukannya atas dasar cinta, bukan keterpaksaan seperti yang kumiliki denganmu!" Seungcheol langusng berdiri dan angkat kaki dari tempat itu. Jeonghan mendengus kesal dengan ucapan Seungcheol.

"Seungcheol bodoh!"

#Flashback End

.

.

"Maaf tuan Choi, tapi, bos tidak masuk hari ini."

"Tidak masuk? Kenapa?"

"Sepertinya bos kurang sehat. Tapi, kalau anda a-"

"Sakit?! Terus dimana dia sekarang?"

"Eh? Bos.. dia.. di.." Seokmin berfikir sejenak. Ia bingung harus memberitahu keberadaan bosnya ini atau tidak kepada seorang client.

"Dimana?!" Seungcheol sedikit menaikkan nada bicaranya yang membuat Seokmin terkejut. Ini orang kenapa ngotot gini sih?

"Di rumah sakit."

.

.

.

Jisoo merasakan genggaman hangat di tangan kanannya. Ia membuka matanya dan mendapati Mingyu yang tersenyum cerah kearahnya. Jisoo memperhatikan sekitarnya dan sedikit kebingungan.

"Hotelnya kok kayak rumah sakit?"

"Karena ini memang rumah sakit, manis~" Mingyu sedikit mengacak rambut Jisoo.

"Eh?"

"Kau pingsan semalam."

"Oh.." Jisoo memposisikan dirinya menyandar dipan kasur dibantu oleh Mingyu.

"Baju pengantinnya? Oh iya, ada client yang minta contoh bunga importnya juga. Ah, dimana ponselku." Jisoo langsung sibuk sendiri memikirkan perkerjaannya yang menumpuk. Mingyu pun langsung menyentil jidat Jisoo pelan.

"Aw!"

"Sakit begini masih mikirin pekerjaan. Tadi aku dah bilang si Mimin itu buat mengurus kantor karena bosnya sedang sakit karena lupa makan!" Mingyu mengerucutkan bibirnya. Jisoo setengah mati menahan tawanya melihat kelakuan mantan nya ini masih saja kekanakan seperti anak berumur 5 tahun walau umur sebenarnya 20 tahun lebih tua dari itu.

"Namanya Seokmin, bukan Mimin." Jisoo tidak dapat menahan senyumnya, yang tentu saja membuat Mingyu sangat senang.

"Tapi, pekerjaan hari ini banyak sekali, Gyu."

"Hah.. baiklah. Kau bisa mengerjakannya nanti. Di apartemenku."

"Loh, kok?"

"Kau masih sakit. Dan karena kau sendirian di Korea, lebih baik kalau kau tinggal bersama orang yang bisa mengurusmu. Dan itu aku." Mingyu menegaskan kata-katanya. Lebih seperti perintah daripada sekedar tawaran. Jisoo menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tapi, kau kan juga punya pekerjaan. Aku tidak mau membebanimu." Mingyu menatap Jisoo dalam. Ia menghembuskan nafasnya pelan. Mengusap pipi Jisoo yang mulai lebih merona ketimbang semalam.

"Mana mungkin merawat orang yang kita sayang itu beban sih, princess."

"Gyu.."

"Kata dokter, kau boleh pulang setelah siuman. Aku akan mengurus administrasinya dulu, setelah itu kita sarapan. Aku lapar." Mingyu berdiri dan mengusap tangan kanan Jisoo yang sedari tadi digenggamnya sebelum keluar dari ruangan tersebut. Jisoo melirik jam di dinding.

"Sarapan apa jam 2 begini?" Jisoo menghela nafasnya panjang, menatap kursi disamping ranjangnya.

"Jadi, dia menungguiku semalaman dan melewatkan sarapannya?"

.

.

.

Jisoo dan Mingyu menuju parkiran. Mingyu merangkul pundak Jisoo sedari tadi, jaga-jaga kalau dia pingsan lagi katanya, tapi Jisoo tau kalau itu cuma modus. Tapi, Jisoo refleks menyingkirkan lengan Mingyu begitu ia melihat sosok yang kini berlari kearahnya dan memeluknya erat, membuat Mingyu sedikit kecewa. Tapi, Jisoo langsung melepaskan diri dengan mendorong tubuh itu.

"Ngapain kesini?" Seungcheol langsung memegang kedua pundak Jisoo, menatapnya khawatir.

"Kau tak apa? Apa kepalamu masih sakit? Aku benar-benar minta maaf sayang." Mingyu gerah mendengar kata sayang dari mulut Seungcheol, ingin sekali ia menghajarnya, tapi ia sadar ia belum jadi siapa-siapanya Jisoo. Jisoo pun menyingkirkan tangan Seungcheol dari pundaknya.

"Ini bukan salahmu. Jadi berhenti minta maaf. Ini salahku sendiri karena lupa makan."

"Tapi tetap saja. Karena aku semalam-"

"Gyu, kita pulang yuk." Jisoo menarik lengan Mingyu menuju mobil meninggalkan Seungcheol yang bahkan belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Ok, Mingyu gak jadi kecewa. Sebelum memasuki mobil, Jisoo berbalik menghadap Seungcheol yang masih mematung di tempatnya.

"Kau sadar tidak kalau kau jelek sekali sekarang ini? Kau tidak mandi semalam, hah? Bajumu masih sama seperti semalam, bahkan lebih berantakan. Pulang dan rapikan dirimu. Jangan lupa makan setelah itu. Kau itu sudah besar, jadi urus dirimu dengan baik." Jisoo naik ke mobil. Seungcheol sedikit tersenyum dengan mata berkaca-kaca mendengar perkataan Jisoo yang masih perhatian padanya. Dan Mingyu, ia kembali kecewa.

.

.

.

Ini sudah seminggu sejak Jisoo tinggal di apartemen Mingyu. Ia sudah bilang sejak hari kedua bahwa ia ingin pulang saja dan tidak mau merepotkan. Tapi, Mingyu kekeh ingin merawat Jisoo. Barang-barang Jisoo pun sudah sebagian dibawa ke apartemennya dan Jisoo pun tidak pernah ke kantor untuk menghindari Seungcheol, setidaknya sampai ia menikah dengan Jeonghan. Alhasil, inilah Jisoo di ruang tengah, dengan laptop di pangkuannya tak lupa kacamata bacanya yang membuatnya semakin manis, sejak pagi-pagi sekali mengerjakan rancangan pernikahan client nya untuk nanti dikirimkan ke Seokmin. Seokmin jadi bos sementara dan bekerja lebih berat dua kali lipat dari biasanya. Jisoo tidak akan lupa untuk memberinya bonus yang besar di akhir bulan nanti.

"Sarapan dulu, Soo."

"Oh? Iya, sebentar lagi." Mingyu kesal, karena Jisoo tidak memandangnya saat bicara. Ia berjalan ke ruang tengah dan berdiri di belakang sofa mengintip pekerjaan Jisoo. Ia melingkarkan tangannya di leher Jisoo dan menopang dagunya di atas kepala lelaki mungil itu.

"Wah, pesta pantai ya? Cantik."

"Memang. Tapi semoga saja tidak hujan. Setiap merencanakan pesta outdoor aku selalu khawatir akan turun hujan."

"Kalau kau bagaimana?"

"Eh?"

"Kau ingin pesta pernikahan seperti apa?" Jisoo menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard.

.

.

#flashback

"Cheol-ah, hentikan!" Seungcheol terus saja mengecup leher Jisoo, membuat Jisoo mendelik geli dan sesekali kelepasan mendesah, yang tentu saja membuat Seungcheol makin senang.

"Salah sendiri. Sudah di ranjang tapi masih saja berkutat dengan laptopmu. Kau lebih cinta laptopmu, hah?"

"Pernikahannya tinggal Minggu depan, jadi aku harus memeriksa lagi kalau semuanya sudah siap. Pekerjaan ini sangat penting."

"Tapi bukankah kau punya pekerjaan yang lebih penting sekarang?"

"Seungcheol!" Jisoo melirik Seungcheol tajam setelah ia meremas paha Jisoo kuat.

"Sebentar lagi." Jisoo kembali berkutat di laptopnya. Seungcheol menghembuskan nafasnya pelan.

"Baiklah." Seungcheol menyender di bahu Jisoo ikut memperhatikan layar di depannya.

"Pernikahan kita nanti, apa kau akan merancangnya sendiri juga?"

"Eh?" Jisoo melirik Seungcheol sebentar.

"Kau tidak berfikir kalau kita akan begini terus kan?" Jisoo masih berkutat dengan pekerjaannya.

"Aku sudah ingin menikahimu sejak pertama kali aku melihatmu di universitas, Soo."

"Gombal!"

"Aku serius." Seungcheol memainkan pinggiran piyama biru milik Jisoo. Tidak seperti dirinya yang lebih suka memaki kaos oblong atau bahkan tak memakai baju saat tidur. Jisoo selalu rapih dengan piyamanya. Bahkan sepertinya kekasih manisnya ini adalah seorang pajama freak karena ia punya koleksi piyama satu lemari besar sendiri. Tapi tak apalah, Jisoo yang manis cocok pakai apa saja, apalagi kalau tidak pake apa-apa (?)

"Entah itu outdoor atau indoor aku tak masalah. Apapun konsepnya juga aku ok ok saja. Asal, musik pengiringnya orkestra ya?"

"Orkestra? Kenapa?"

"Entahlah. Menurutku itu sangat klasik dan elegan. Jarang orang yang memakai musik seperti itu di pernikahan. Tapi, aku selalu menginginkannya. Di pernikahanmu dan aku nanti."

"Hmm. Akan kupikirkan."

"Kau mau kan menikah denganku, Soo."

"Soo.."

"Soo?"

"Sayang.." Jisoo menutup laptopnya. Seungcheol langsung menyandar di dipan saat Jisoo bergerak meletakkan laptopnya di meja dekat kasur. Jisoo pun kembali menatap Seungcheol serius.

"Kau mau kan?" Jisoo langsung mengecup bibir kekasihnya singkat.

"Iya. Kau berisik sekali." Seungcheol tersenyum senang. Ia langsung menarik tengkuk Jisoo untuk membuatnya mendekat dan melumat bibir plum nya itu lembut. Awalnya lembut, lama-lama jadi makin tak terkontrol karena rasa candunya. Jisoo juga tak kalah nafsunya dengan membalas ciuman Seungcheol sebisanya dengan tangannya yang sudah melingkar erat di leher Seungcheol. Seungcheol pun menempatkan Jisoo tertidur di ranjang tanpa sedetikpun melepaskan bibirnya hingga ia sudah berada di atas Jisoo. Mereka mulai memainkan lidahnya saat tangan Seungcheol melepaskan kancing baju piyama Jisoo satu persatu. Jisoo seharusnya tak perlu repot-repot memakai piyama saat Seungcheol menginap.

.

.

#Flashback End

"Aku berangkat ya, Soo."

"Hati-hati."

"Kenapa menatapku seperti itu Gyu? Sudah pergi sana." Mingyu pun memeluk Jisoo erat.

"Mana mungkin aku berangkat kerja tanpa memeluk my princess." Jisoo pun hanya bisa menghela nafasnya pelan.

"Kau mau menitip sesuatu?" Mingyu melepaskan pelukannya.

"Tidak."

"Baiklah aku berangkat."

"Eh, Gyu!" Mingyu membalikkan badannya menatap Jisoo heran.

"Emm sebenarnya, aku ingin meminta tolong padamu kalau kau tidak keberatan."

.

.

.

"Ah, terima kasih ya Tuan Kim, sudah repot-repot mengantarkan berkasnya."

"Iya tak apa Min, lagian aku sekalian lewat."

"Bagaimana kabar Bos? Aku merasa kesepian karena tidak ada yang mencerewetiku. Hehe" Mingyu pun ikut terkekeh pelan. Ternyata Jisoo masih cerewet ke semua orang seperti dulu.

"Baik. Dia juga minta maaf karena membuatmu jadi kerepotan."

"Ah tidak apa. Lagian ini juga untuk sementara."

"Yasudah, aku pergi ya." Mingyu berbalik hendak pergi saat dilihatnya keberadaan orang yang selalu membuatnya gerah ingin dihajarnya.

"Wah, dia datang lagi ternyata."

"Hm?" Mingyu menatap Seokmin penuh tanya.

"Sejak bos tidak masuk, ia selalu kesini setiap hari menanyakan dimana bos berada. Tapi aku tidak akan pernah memberitahunya walau ia akan membunuhku sekalipun karena bos sudah bilang untuk tak memberitahukan keberadaannya pada siapapun."

"Dia benar-benar gila."

"Benarkan? Padahal ia akan menikah sebentar lagi. Kenapa dia mengejar-ngejar bos ya."

"Sudahlah, tak usah kau pedulikan. Kalau ada apa-apa, hubungi aku."

"Ah iya. Terima kasih tuan. Hati-hati di jalan." Seokmin membungkukkan badannya saat Mingyu pergi. Seungcheol kaget melihat kehadiran Mingyu dan langsung menghampirinya.

"Dimana Jisoo?"

"Tidak tau." Mingyu terus berjalan tanpa memperdulikan Seungcheol yang mengikutinya.

"Dimana?!" Seungcheol mencengkram lengan Mingyu erat. Mingyu menatap gerah dan menghempaskannya kasar.

"Aku bilang tidak tahu!"

"Kalau begitu, kemana kau mengantarkannya setelah dari rumah sakit? Barang-barangnya juga beberapa sudah tidak ada di apartemennya. Dimana Jisoo?"

"Apa urusannya denganmu? Kau itu akan menikah sebentar lagi. Jadi jangan ganggu Jisoo lagi!" Seungcheol menghembuskan nafasnya kasar sambil menaruh kedua tangannya di pinggangnya.

"Jadi kau tau dimana Jisoo kan? Katakan ia dimana?!" Seungcheol menarik kerah kemeja Mingyu yang langsung dilepaskan Mingyu dan menghantam pipi kiri Seungcheol.

"Kau takkan pernah menemukannya! Aku akan mengambilnya kembali, dasar brengsek! Aku menyesal telah membiarkan Jisoo berada disisimu!" Seungcheol menatap Mingyu tajam sambil memegangi pipi kirinya.

"Berhenti mengganggunya dan nikmati hidup barumu dengan suami cantikmu itu! Kalau kau terus meneror tempat kerjanya, aku akan melaporkanmu ke polisi!" Mingyu memasuki mobilnya dan berlalu pergi.

Aku pasti akan menemukanmu Soo. Aku rindu.

.

.

.

"Wonwoo?"

"Lah, Jisoo?"

Wonwoo pun duduk di ruang tengah. Jisoo datang dengan membawa dua gelas jus jeruk.

"Jadi kau seminggu ini disini? Kenapa Mingyu tak memberitahuku." Jisoo yang duduk di samping Wonwoo hanya tersenyum malu.

"Aku yang menyuruhnya tidak memberitahu siapapun kalau aku tinggal disini untuk sementara. Tapi, aku tidak menyangka ternyata kau kerja di tempat Mingyu selama ini. Kau hanya bilang kerja diperiklanan, tapi tidak pernah bilang kalau bosnya ternyata Mingyu. Kenapa?"

"Dia yang menyuruhku untuk tidak memberitahumu."

"Eh?"

"Saat dia tau kau sudah punya kekasih. Dia memutuskan untuk tak muncul dulu di depanmu. Ia butuh waktu untuk menenangkan hatinya."

"Kau ngomong apasih Woo?" Jisoo mengernyitkan dahinya.

"Hah! Lambat laun kau juga pasti tau. Jadi kurasa tak masalah aku memberitahumu sekarang." Wonwoo meminum jus jeruknya. Setelah itu ia menatap Jisoo serius.

"Jadi, sebenarnya Mingyu sudah kembali dari Amerika dua tahun lalu untuk membuka cabang kantor periklanan yang berpusat di New York. Waktu itu ia menghubungiku terlebih dahulu karena ingin mengejutkanmu. Tapi, saat aku bilang kau sudah punya kekasih lagi, Mingyu mengurungkan niatnya. Ia masih mencintaimu Soo." Jisoo terdiam. Jadi ini alasan kenapa ia tahu segala sesuatunya tentang Jisoo selama ini. Wonwoo, sahabat mereka dari SMA, yang memberitahunya.

"Selama dua tahun ini ia selalu memperhatikanmu dari jauh. Saat melihatmu bahagia bersama pacar barumu, ia ikut senang. Tapi tetap saja, masih belum bisa menata hatinya menerima kenyataan kau bersama orang lain. Karena bisa dibilang, kalian putus secara baik-baik kan. Jadi ia pikir masih punya kesempatan."

"Baik-baik? Tidak lama setelah kuliah di Inggris ia menghilang begitu saja. Jadi ya sudah, aku kirim saja email padanya supaya kita putus."

"Kau tau kenapa dia menghilang?"

"Kau tau?"

"Sebenarnya ia melarangku untuk memberitahumu. Tapi.."

"Kenapa?" Jisoo mendekatkan duduknya. Menatap mata Wonwoo lekat. Wonwoo yang melihat mata kucing memohonnya pun tidak tega.

"Dia sakit."

"Sakit?"

"Jantung."

"Apa?"

"Sebenarnya ia sudah lama mengidap kelainan jantung. Sebelum kau bertanya padaku kenapa ia tidak memberitahumu, jawabannya adalah karena ia tidak mau kau khawatir. Setelah beberapa lama disana, jantungnya makin parah. Ia mungkin tidak akan ada disini kalau ia tidak segera mendapat jantung baru dan dioperasi disana. Dia tidak menghilang Soo. Ia sedang terbaring di rumah sakit berjuang untuk tetap hidup agar bisa selalu bersamamu. Itu yang ia katakan padaku." Jisoo mulai berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawahnya.

"Saat ia sudah dioperasi dan membuka email darimu, ia sangat sedih. Tapi, ia tidak pernah menghubungimu kembali karena ia pikir ia bisa mati kapan saja dan mungkin akan lebih baik kalau ia mati saat kalian sudah putus. Supaya kau tidak terlalu sedih. Karena walau sudah dioperasi, jantungnya belum stabil. Tapi sekarang, ia sudah sehat dan jantungnya ternyata cocok ditubuhnya." Jisoo mulai menitikkan air matanya, ia tidak tau kalau ternyata selama ini Mingyu mempunyai beban yang sangat berat. Ia sedih dan juga kecewa karena Mingyu tidak mau jujur padanya. Wonwoo mengusap punggung Jisoo pelan.

"Tapi, waktu itu saat kami selesai meeting di sebuah kafe sekitar dua bulan lalu. Mingyu mendengar kalau kau ternyata dijadikan selingkuhan. Tunangannya Seungcheol yang cantik itu.. siapa ya namanya? Ia mencibir dan menjelek-jelekkanmu bersama teman-temannya. Dan mulai saat itu, Mingyu bertekad untuk merebutmu kembali katanya." Wonwoo pun memeluk Jisoo yang mulai terisak dipelukannya.

"Jadi bagaimana perasaanmu setelah mendengar semua ini?"

.

.

.

"Aku pulang." Mingyu terkejut mendapati Jisoo dengan mata sembabnya berdiri di ruang tengah.

"Soo? Ada apa?" Mingyu menangkup kedua pipi Jisoo cemas.

"Kenapa kau tidak pernah bilang tentang penyakitmu?"

"Eh?" Mingyu menghela nafasnya pelan. "Pasti Wonwoo yang memberitahumu ya? Hah, sudah kubilang untuk menemuiku di kantor tapi dia tetap kesini."

"Apa kau memang tidak pernah menganggapku? Kenapa kau bisa menceritakannya pada Wonwoo tapi tidak denganku?" Mingyu mengeratkan tangannya di pundak Jisoo, menariknya kepelukannya, mendekapnya erat saat mata Jisoo mulai berkaca-kaca lagi.

"Karena ini yang aku takutkan. Aku tak bisa melihatmu menangis seperti ini. Aku ingin membuatmu bahagia." Jisoo melepaskan diri dari dekapan Mingyu.

"Saat kau memutuskan untuk menjalin ikatan dengan orang yang kau cintai, itu tandanya kau harus membagi suka dan duka. Bukan hanya suka, Gyu." Air mata mulai mengalir perlahan di pipi Jisoo. Mingyu memeluk Jisoo lagi, mengusap rambutnya perlahan. Mingyu pun tak dapat menahan air matanya.

"Apa kau bisa mendengar detak jantungku?" Mingyu bisa merasakan Jisoo mengangguk di dadanya.

"Terima kasih, karena dirimu jantung ini bisa tetap berdetak." Mingyu makin mengeratkan pelukannya.

"Disaat-saat terpurukku, saat aku hampir kehilangan nyawaku, bayanganmu yang sedang tersenyum memanggil namakulah yang selalu menguatkan. Kaulah alasan aku bisa bertahan." Jisoo meremas kemeja Mingyu di bagian punggungnya, saat tangisnya mulai deras.

"Maaf karena tidak menghubungimu lebih cepat dan malah membiarkanmu bersama orang brengsek itu. Karena saat itu, aku benar-benar berfikir kalau aku akan mati." Mingyu terkekeh pelan di tengah tangisnya.

"Aku masih mencintaimu, Soo. Sangat." Mingyu melonggarkan pelukannya, menghapus air mata Jisoo dengan mengelus kedua pipinya lembut. Jisoo pun mengusap kedua tangan Mingyu yang menangkup pipinya. Saat mata mereka saling pandang, Mingyu pun mengecup lembut bibir plum Jisoo. Lambat-laun, Jisoo menutup matanya saat Mingyu melumat bibirnya lembut dan membalas ciumannya.

.

.

.

Mingyu sudah bangun sedari tadi, tapi ia tidak langsung bersiap dan malah memandangi ciptaan Tuhan yang paling indah dihadapannya. Setelah ciuman manis semalam, Mingyu mengajak Jisoo untuk tidur. Hanya tidur. Mendekapnya erat didekat dadanya untuk meyakinkan Jisoo bahwa jantung Mingyu masih berdetak dan baik-baik saja. Ia mengambil salah satu tangan Jisoo dan menghujaninya dengan ciuman. Rasanya seperti mimpi bisa menggenggam tangan Jisoo seperti ini dan melihat wajah manisnya saat membuka mata. Walau ia harus mati saat ini juga, ia tidak akan menyesal. Eh? Tidak tidak! Mingyu tidak mau mati sekarang, ia ingin terus hidup, hidup bersama Jisoo.

"Morning." Ucapan selamat pagi Jisoo membuyarkan lamunan Mingyu.

"Oh, pagi."

"Kau tidak ke kantor?"

"Aku meliburkan diri."

"Eh?"

"Mau ke taman hiburan? Kau terlalu lama di rumah, Soo."

.

.

.

Mingyu tidak melepaskan tangan Jisoo sedari tadi.

"Gyu, aku tidak akan hilang."

"Disini ramai sekali Soo, nanti kalau kau kulepas dan bercampur dengan keramaian orang disini, aku tidak yakin akan menemukanmu." Jisoo mencubit lengan Mingyu.

"Aku sudah besar! Kalau memang nanti kita terpisah, aku kan bisa menelponmu, atau aku pulang sendiri saja."

"Oh? Sudah besar?" Mingyu terdiam dihadapan Jisoo, salah satu tangannya yang kosong ditempatkan di atas kepala Jisoo dan ke dadanya bergantian.

"Yak! Kim Mingyu!"

"AAAA!" Jisoo yang kesal pun langsung menggigit tangan Mingyu yang mengenggam tangannya hingga terlepas. Ia lalu berlari meninggalkan Mingyu yang mengaduh kesakitan.

Sudah 10 menit Mingyu berputar-putar mencari Jisoo. Telponnya pun tidak diangkat.

Apa aku sudah keterlaluan ya? Dia sekarang makin ganas saja sudah berani main gigit.

"Aw!" lemparan bola dikepalanya membuat Mingyu membalikkan badannya.

"Ambil bolanya."

"Soo?" Mingyu pun mengambil bola di dekat kakinya dan menghampiri Jisoo.

"Tadi menggigit, sekarang melempar kepalaku dengan bola. Wajahmu tidak sesuai dengan dengan kelakuanmu."

"Berisik! Sekarang lemparkan bolanya ke ring itu dan dapatkan sepasang bando kucing itu."

"Kenapa tidak beli saja? Disana ada yang menjual." Tunjuk Mingyu ke arah sebuah toko.

"Tidak mau!" Jisoo menurunkan tangan Mingyu.

"Pokoknya kau harus mendapatkannya di sini!" Jisoo mengerucutkan bibirnya dan menyipitkan matanya yang semakin menghilang. Tanpa memakai bando itu kau sudah sangat mirip kucing Soo, manis.

"Baiklah." Jisoo pun tersenyum senang. Apapun untukmu Soo.

.

.

.

Mingyu mencoba menutupi wajahnya dengan buku menu. Tapi tetap saja, orang-orang tetap menatap ke arah mereka. Bagaimana tidak, dua lelaki tampan memakai bando dengan kuping kucing di kepalanya. Terdengar cekikikan dari orang di sekitar yang memandang lucu, gemas, dan heran. Mingyu hendak mencopot bando terkutuk itu saat orang di hadapannya yang terlihat tidak peduli membuka suaranya menghentikan tindakannya.

"Kau copot dan aku akan pergi dari apartemenmu malam ini juga."

"Kau kok jadi aneh sih Soo? Biasanya kan kau tidak suka hal-hal seperti ini?" Jisoo mengalihkan pandangannya dari buku menu ke arah Mingyu. Ia terdiam sejenak.

"Yasudah kalau tidak mau. Buang saja!" Jisoo mencopot bandonya dan hendak melemparnya dari lantai dua tempat mereka berada.

"Eeeeh... iya iya. Aku mau kok. Mau!" Mingyu mengambil bando Jisoo ditangannya dan memakaikannya di kepala Jisoo. Jisoo jadi tambah aneh. Tapi aku suka.

.

.

.

Setelah Mingyu dan Jisoo menyaksikan pesta kembang api di taman hiburan, mereka pulang ke rumah dengan Bis. Mingyu sengaja mengajak Jisoo jalan-jalan dengan Bis, biar seperti saat SMA dulu katanya, dan nyatanya, Jisoo juga bersikap seperti saat mereka SMA dulu saat seharian di taman hiburan. Eh? Apa karena itu ya Jisoo jadi aneh? Mungkin dia jadi ikut terbawa suasana dan menjadi dirinya saat kencan pertama mereka dulu di taman hiburan. Pokonya Mingyu senang kalu Jisoo juga senang.

Jisoo ketiduran, jadi mau tidak mau Mingyu menggendongnya di punggungnya. Saat memasuki gedung apartemennya, Mingyu tidak menyadari bahwa ada mata dengan tatapan tajam memantau mereka sedari tadi.

"Akhirnya aku menemukanmu Soo."

Sudah dua jam Seungcheol di dalam mobil menunggu Mingyu keluar dari dalam gedung berlantai 22 itu.

"Kenapa manusia genter itu tidak keluar juga? Ini sudah larut. Jangan-jangan?!" Seungcheol menegakkan tubuhnya dan memukul stir kemudinya.

"Jadi kalian tinggal bersama, hah?"

.

.

.

Keesokan harinya, Seungcheol membuntuti Mingyu saat ia pulang kerja. Ia harus tau dimana apartemen Jisoo dan juga.. ugh! Manusia genter itu. Mingyu berhenti di lantai 18 dan saat ia hendak membuka pintu, Jisoo keluar terlebih dahulu dengan kantung sampah ditangannya. Mingyu mencium bibirnya singkat dan mendapat pukulan ringan di lengan sebelum mengambil kantung sampah itu dan berbalik.

Apa-apaan ini?! Soo, kenapa kau membiarkannya menciummu begitu?

Saat Mingyu menghilang, Seungcheol berjalan perlahan ke pintu apartemen kekasihnya dan menggedornya.

"Gyu? Kau cepat se-" Jisoo terbelalak dengan mulutnya yang menganga saat melihat Seungcheol di depan pintu apartemennya. Ia dengan cepat menutupnya kembali, tapi gerakannya kalah cepat oleh tangan Seungcheol. Seungcheol langsung masuk dan mendekati Jisoo yang jalan mundur perlahan.

"Mau apa kesini?"

"Kenapa kau tinggal bersamanya?"

"Kita sudah berakhir Cheol-ah" langkah Jisoo terhenti saat ia sudah menabrak tembok.

"Aku tak pernah bilang kita berakhir."

"Tapi aku iya." Seungcheol mencengkram pundak Jisoo kuat.

"KENAPA DIA MENCIUMMU?! APA KALIAN JUGA SUDAH TIDUR BERSAMA, HAH?!" Seungcheol mengguncangkan pundak Jisoo, membuat Jisoo was-was. Seungcheol sangat menyeramkan saat marah, walau Seungcheol aslinya sangat lembut dan penyanyang. Hanya sekali Seungcheol marah padanya saat mereka berpacaran (tentunya sebelum Jeonghan muncul), yaitu saat ada saudara client nya yang mencium pipi Jisoo tiba-tiba di sebuah pernikahan yang di tanganinya. Seungcheol yang melihatnya langsung menghajar lelaki tersebut dan memarahi Jisoo habis-habisan, baru keesokannya Seungcheol meminta maaf karena emosinya.

"Bukan urusanmu." Jisoo mencoba santai.

"KAU SUDAH MENYERAHKAN TUBUHMU PADANYA ATAU BELUM?!" Jisoo terdiam. Ia merasa tidak punya alasan untuk menjelaskan apa-apa kepada lelaki di depannya.

"JAWAB!" Seungcheol langsung menarik paksa Jisoo dan mendorongnya ke sofa. Seungcheol langsung naik ke atas Jisoo. Jisoo mencoba meronta tapi Seungcheol menggenggam tangan Jisoo erat di samping kepalanya. Jisoo memandang Sengcheol penuh ketakutan, tanpa sadar air mata sudah mengalir begitu saja. Seungcheol yang menyaksikannya pun jadi merasa bersalah dan mulai mendapati kesadaran dari emosinya. Genggamannya pun melunak.

"Aku tidak melakukannya. Kami tidur terpisah" Ucap Jisoo lirih ditengah tangisnya.

"Soo..." Seungcheol menghapus air mata Jisoo lembut. "Maaf." Jisoo menganggukkan kepalanya.

"Aku sangat merindukanmu sampai aku jadi gila. Maafkan aku Soo." Seungcheol duduk dipinggiran sofa dan membantu Jisoo untuk duduk. Ia terus mengusap pipi Jisoo yang memerah karena menangis dan memeluknya erat. Untuk beberapa saat akhirnya Jisoo berhenti menangis.

"Kau harus menikah, Seungcheol-ah. Keluargamu dan perusahaanmu membutuhkanmu."

"Apa kau rela aku melakukannya? Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Seungcheol menatap mata Jisoo dalam dengan menangkup pipinya.

"Apa kita punya pilihan?" Seungcheol terdiam.

"Kita pasti punya pilihan. Aku akan cari jalan keluarnya. Jadi aku mohon, tetaplah mencintaiku." Jisoo menggelengkan kepalanya.

"Pernikahanmu tinggal 10 hari lagi, kau mau dapat uang darimana dalam 10 hari? Bank pun tidak akan memberikan pinjaman."

"Aku akan melakukan apapun Soo. Aku hanya mencintaimu." Seungcheol mengecup bibir Jisoo lembut, Jisoo meronta tapi Seungcheol sangatlah kuat. Seungcheol pun kembali membaringkan Jisoo di sofa dan naik keatasnya. Seungcheol mengecup leher Jisoo dan meninggalkan bekasnya disana.

"Cheolh, janganh di-si-nih." Seungcheol benar-benar gila saat bersama Jisoo, ia tidak memperdulikan apapun lagi. Ia merindukan 'sayang' nya. Ia terus mengecupi leher jenjang Jisoo walau tangan Jisoo terus saja mendorong dadanya agar menjauh.

"Cheolhh!" Jisoo sedikit mendesah saat Seungcheol meremas butt nya. Tangannya mulai memasuki piyama Jisoo dan mengusap-usap daerah nipplenya. Jisoo menutup matanya dan menggigiti bibirnya menahan untuk tidak mendesah agar Seungcheol tidak makin gila.

"Cheolh, ja-"

BUG!

Seungcheol sudah terbaring di lantai. Mingyu menghajarnya habis-habisan. Jisoo terduduk dengan kedua kaki menekuk di atas sofa, ia terus-terusan meremas sofa. Tangannya bergetar karena ketakutan. Seungcheol tidak membalas pukulan Mingyu hingga akhirnya Mingyu menarik Seungcheol keluar dan membanting pintu.

"BERANI KESINI LAGI MAKA KAU AKAN MATI!"

Mingyu kembali mendapati Jisoo yang ketakutan. Ia mengelus rambut Jisoo lembut dengan nafasnya yang tersengal-sengal selesai bertinju.

"Kau tak apa? Apa dia menyakitimu?"

"Ti-tidak." Mingyu pun memeluk Jisoo erat. Merasakan tubuh Jisoo yang sedikit bergetar.

"Kau ketakutan." Iya, Jisoo ketakutan. Tapi bukan karena Seungcheol seperti pikiran Mingyu. Ini seperti, ia ketangkap basah selingkuh.

.

.

.

"Ayah, aku mohon, apapun akan aku lakukan asal ayah mau membatalkan pernikahanku dengan Jeonghan ayah." Seungcheol berlutut dihadapan ayahnya. Ibunya yang mengintip dari dekat pintu tidak dapat menahan tangisnya melihat anak satu-satunya harus menanggung beban yang begitu berat.

"Ini bukan hanya tentang dirimu Seungcheol, tapi juga ratusan karyawan yang bergantung hidup dari perusahaan kita. Kalau perusahaan keluarga Jeonghan tidak membantu kita, bukan hanya keluarga kita, tapi akan ada banyak keluarga yang akan kehilangan tulang punggung mereka."

"Aku akan berusaha keras ayah. Aku akan lakukan apa saja agar perusahan kita-"

"Yang bisa kau lakukan adalah menikahi Jeonghan!" Tuan Choi berdiri dan meninggalkan anaknya yang masih berlutut berlinang air mata.

"Sayang, tidak bisakah kita melakukan cara lain? Haruskah kita mengorbankan anak kita?" Nyonya Choi menatap suaminya sendu saat berpapasan di depan pintu.

"Kita tidak punya pilihan lain."

.

.

.

"Apa yang kau lakukan? Berdiri!"

"Aku bilang berdiri bodoh!" Jeonghan pun mengambil bantal yang ada di sofa lalu melemparkannya satu persatu ke arah Seungcheol yang berlutut di ruang tengah apartemennya.

"Aku mohon Jeonghan bisakah kau-"

"TIDAK! KALAU AKU BILANG TIDAK YA TIDAK!"

"Aku mohon Jeonghan."

"Apa kau tau betapa menyedihkannya dirimu saat ini, hah? Dimana harga dirimu? Setahuku kau itu adalah pria tangguh yang penuh percaya diri. Tapi lihat! Karena seorang lelaki tidak seberapa itu kau rela berlutut dengan semua air matamu itu. Kau sangat menyedihkan!"

"Aku akan melakukan apa saja asal kau mau membatalkan pernikahan kita."

"AKU TIDAK MAU!"

"Tapi kenapa? Kenapa kau sangat ingin menikah denganku? Seperti yang kau bilang, aku ini menyedihkan! Hidupku menyedihkan!" Seungcheol memukul-mukul dadanya. Jeonghan menatap Seungcheol lekat, mengehembuskan nafasnya pelan mengatur emosinya yang meluap.

"Karena aku mencintaimu." Seungcheol terhenyak.

"Kita baru bertemu tiga bulan lalu dan kau sudah mencintaiku?"

"Bukan tiga bulan, tapi tiga tahun."

"Maksudmu?"

"Tiga tahun lalu kau menyelamatkanku saat aku dirampok. Setelahnya, takdir mempertemukan kita lagi sebagai rekanan bisnis. Kau begitu baik dan membuatku nyaman. Sejak sering menghabiskan waktu bersamamu itulah aku mulai menyukaimu."

"Dirampok? Kau?"

"Kau pasti tidak akan mengenaliku karena dulu rambutku tidak sepanjang ini. Aku mulai memanjangkannya sejak kau menolakku dengan alasan bahwa kau straight! Tapi nyatanya, tidak lama setelah itu kau berkencan dengan lelaki kurus itu! Kau bohong! Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya saja?!" Jeonghan menjambak rambut Seungcheol dan menghempaskannya keras hingga ia berlutut dihadapan Jeonghan."

"Maaf."

"Hanya maaf?!"

"Dulu aku memang masih bingung dengan perasaanku apakah aku ini straight atau tidak. Tapi Jisoo, dia membuatku yakin bahwa menjadi berbeda tidaklah masalah asal bersamanya. Maka dari itu, aku tidak bisa tanpanya." Jeonghan mendengus kesal. Ia mengambil foto dirinya dengan Seungcheol yang terpajang di dinding.

"Kau bilang tidak bisa tanpanya?" Jeonghan membanting pigura foto ditangannya.

"Kalu begitu kenapa tidak mati saja?" Seungcheol menatap Jeonghan penuh tanda tanya.

"Iris pergelangan tanganmu dengan kaca itu." Seungcheol membelalakkan matanya tak percaya.

Note :

Akhirnya update~

Mian kalau gak menarik ceritanya.

Terima kasih buat semua reviewnya, aku sangat menghargai semua review kalian. Really really really thank you~

So, gimana menurut kalian? Masih tetap dengan keputusan awal atau udah berubah pemikirannya tentang siapa yang harus jadi endingnya? Minshua/Cheolsoo? Cheolsoo/Minshua?

Btw, SEVENTEEN MAU COMEBACK! OMG! I LOVE THEIR SONGS!

JOSHUA HONG JISOO SARANGHAE! MAAF TELAH MENISTAKANMU DISETIAP CERITAKU! I LOVE YOU! /seketika dikeroyok warga/