.
.
Author: svtAlien
Rate: T
Cast: Lee Jihoon, Kwon Soonyoung, etc.
Disclaimer: Cerita milik saya dan karakter dari Tuhan YME
.
.
Kau seharusnya tidak membuat janji yang tidak dapat kau tepati, Kwon Soonyoung.
.
.
Naik ke kelas tiga, Jihoon dan Soonyoung berada di kelas yang sama. Soonyoung tentu sangat senang. Bahkan ketika Soonyoung tahu, ia langsung mencari Jihoon kemudian memeluk yang lebih pendek hingga terangkat beberapa sentimeter dari lantai. Jihoon juga senang bisa sekelas dengan Soonyoung.
Satu hal yang yang membuat keduanya sedikit kecewa, jarak kursi mereka cukup jauh.
"Jihoon! Kursi kita jaraknya jauh sekali.. Rasanya pengaturan tempat duduk ini jelek sekali~" ujar Soonyoung penuh rasa kekecewaan usai mereka mengatur tempat duduk masing-masing. Soonyoung sekarang sedang berdiri di depan meja Jihoon.
"Iya.." ucap Jihoon dengan siku di atas meja sambil memangku kepala dengan tangan kanannya. Soonyoung terharu, ada nada kecewa dari ucapan Jihoon. Ia mengira Jihoon akan bersikap dingin dan tidak peduli.
"Jihoon.. Kau juga kecewa karna letak tempat duduk kita yang berjauhan?"
Jihoon mendecih, "Siapa bilang?"
"Eh, tapi kau tadi bilang iya."
"Aku mengiyakan ucapanmu yang bilang bahwa pengaturan tempat duduk ini jelek sekali." Jihoon memasang wajah cemberut. "Sebenarnya sih, mau kursi kita jaraknya sejauh inti bumi dan langit ketujuh pun, aku tidak peduli." Lanjutnya, "Tapi masalahnya, aku duduk paling depan dekat meja guru pula, makanya menurutku pengaturan tempat duduk ini jelek sekali.'
Mood Soonyoung langsung berubah. Muka Soonyoung terlihat sangat dingin sekarang.
"Hei, Soonyoung, kau tidak ingin tukar tempat denganku?"
Soonyoung tersenyum lebar. Sangat lebar hingga matanya terlihat hanya seperti sebuah garis. "Tukar tempat?"
"Iya. Tempatmu ada di barisan paling belakang dekat jendela kan? Mau tidak?"
"Hem, coba kau ber-aegyo dulu."
"Eh? Tidak mau, ah."
"Mau tukar tempat tidak?"
Jihoon berpikir sejenak. Mungkin ia lakukan saja, dibanding harus duduk di tempat ini selama beberapa bulan.
"Baiklah."
Jihoon mengepalkan kedua tangannya lalu memposisikannya di samping pipinya yang ia gembungkan, "Soonyoung, tukar tempat dengan Jihoon-ie ya? Bbuing-bbuing."
Unyu. Unyu sekali. Soonyoung bersumpah ia bisa diabetes jika Jihoon terlalu sering melakukan aegyo seperti ini.
"Sudah kan?
"Berdirilah, Jihoon."
"Yey, Soonyoung memang yang terbaik~"
Jihoon berdiri sesuai permintaan Soonyoung. Ekspetasinya, Soonyoung akan mengambil tas Jihoon dan meletakannya di meja Soonyoung dan bukannya mengangkat meja dan kursi Jihoon, meletakkanya tepat di depan meja guru.
"Soonyoung! Apa yang kau lakukan?" seru Jihoon. Ia bingung melihat mejanya yang kini berada sangat dekat dengan meja guru.
"Memperbaiki letak tempat dudukmu." jawab Soonyoung. "Bagus kan? Dengan begini, mungkin kau bisa jadi anak kesayangan guru, Ji. Oh ya, hati-hati dengan Park seonsaengnim. Jangan terlalu lama menatapnya. Aku tidak mau kau meninggalkan sekolah dengan alasan hamil muda, oke?" Soonyoung tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Pemuda itu lalu berlari keluar kelas dengan cepat.
Jihoon murka, tentu saja. Ia langsung mengejar Soonyoung. "Pabo Kwon! Kemari kau!"
Yang dikejar hanya tertawa biasa saja, "Tangkap aku kalau bisa, Jihoon~"
Hari itu, Jihoon dan Soonyoung diberi hukuman oleh Park seonsaengnim karena lari dan membuat keributan di koridor.
.
.
Soonyoung itu baik. Ia terkadang bisa menjadi sangat baik seperti malaikat dan terkadang, Soonyoung bisa menjadi sangat jahil seperti setan. Makanya ketika Yoongi—kakak sepupu yang tinggal serumah dengan Jihoon—menanyakan Soonyoung itu siapa saat mereka berdua tengah bersantai di ruang keluarga, jawaban Jihoon simpel saja.
"Kwon Soonyoung itu bocah setan dari Namyangju yang terkadang bisa sebaik malaikat."
Yoongi mengangkat alisnya bingung, "Kukira kalian berteman."
"Memang."
"Lalu kenapa jawabanmu sesadis itu?"
"Bukannya Yoongi hyung juga sering kali bersikap sadis ke Jimin hyung?"
Yoongi mendengus, "Jangan membawa-bawa nama si bodoh itu. Aku sedang tidak ingin memikirkannya."
Jihoon terkekeh pelan mendengar jawaban dari Yoongi yang sedang ngambek dengan pacarnya.
"Hei, apa kalian memang berteman?"
"Tanya saja ke Soonyoung, ia pasti menjawab 'ya'."
"Bukan begitu. Maksudku.. Apa kalian benar-benar cuma teman?"
"Tentu saja, kami cuma teman." ujar Jihoon dengan pipi sedikit memerah.
"Heh, lalu kenapa pipimu merah? Kalian pacaran ya, Jihoon?"
"Tidak. Pipiku tidak merah dan kami tidak pacaran."
"Kalau begitu kau menyukainya lebih dari sebagai seorang teman." tambah Yoongi sambil tersenyum jahil.
"Tidak, hyung. Kau salah." Pipi Jihoon semakin memerah, "Sudahlah, aku capek. Aku ke kamar."
Jihoon beranjak ke kamarnya, sedangkan Yoongi masih memasang senyuman jahil di wajahnya. "Ya ya~ Terserah kau saja, Jihoon."
Dalam hati, Jihoon membenarkan perkataan Yoongi. Ia merasa menjalani hubungan dengan Soonyoung sebagai teman saja tidak cukup. Ia ingin lebih. Ya, Jihoon memang serakah saat itu.
.
.
Esoknya, Jihoon menunggu Soonyoung di ruang klub dance. Niat awalnya sih, ia hanya ingin menunggu Soonyoung untuk pulang bersama, tapi ia tiba-tiba teringat dengan perkataan Yoongi kemarin.
"Soonyoung," panggil Jihoon. Ia sekarang sedang duduk di sebuah kursi secara terbalik dengan menyandarkan kedua lengannya pada punggung kursi sambil memperhatikan Soonyoung yang sedang menari.
"Hem?" respon Soonyoung. Ia masih terus menari.
"Sebenarnya.. hubungan kita ini apa?"
Berhenti. Soonyoung menoleh ke arah Jihoon, "Kau terdengar seperti seorang gadis yang sedang galau."
Jihoon memasang muka cemberut, "Aku ini lelaki tulen, Kwon!"
"Memangnya kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Yoongi hyung bertanya seperti itu kepadaku kemarin. Kujawab kalau kita ini teman, tapi rasanya kurang srek. Kau tahu aku menganggapmu lebih dari seorang teman."
Soonyoung mematikan musik di ponselnya yang mengiringi ia latihan tadi, "Hem, memangnya maumu bagaimana?"
"Tidak tahu.." jawab Jihoon bingung.
"Kau juga lebih berharga bagiku dari sekedar teman, Ji, tapi tidak cocok rasanya jika hubungan ini dibilang persahabatan." Soonyoung mengambil handuk kecilnya yang ia letakan di meja dekat kursi Jihoon, "Kau juga bukan pacar ataupun kekasihku." Soonyoung tertawa kecil.
Mendengar itu, Jihoon makin cemberut, ia menenggelamkan wajahnya di lengannya.
"Kalau menurutku sih.." Soonyoung meminum air mineralnya kemudian melirik Jihoon, "Kalau ada yang tanya begitu denganku, aku akan bilang kau temanku. Toh, cukup aku yang tau seberapa berharganya Lee Jihoon bagiku." Jihoon diam. Soonyoung memutar kembali musik di ponselnya kemudian lanjut latihan.
Waktu itu, Jihoon berdoa agar Soonyoung tidak dapat melihat rona merah di pipinya.
.
.
Jihoon percaya bahwa Soonyoung menganggapnya sebagai teman yang berharga. Pernah suatu saat mereka camping seangkatan di sebuah kaki gunung. Malam itu, mereka mengadakan eksplorasi per grup di hutan terdekat. Jihoon dan Soonyoung segrup dengan Seokmin, Wonwoo, dan Mingyu.
Hujan. Tanah becek hingga sangat rawan untuk tergelincir. Mereka berjalan dengan urutan Mingyu, Seokmin, Wonwoo, Soonyoung, Jihoon. Jihoon merasa hari itu mungkin hari sialnya, ia tergelincir hingga ke dataran yang lebih rendah. Tanah yang licin menyebabkan Jihoon sulit untuk kembali ke tempat sebelumnya. Terpisah dari grupnya, posisinya yang paling belakang membuatnya yakin tidak ada yang menyadari bahwa ia menghilang. Ditambah lagi, suaranya sedang serak hingga hampir habis. Berteriak pun percuma.
Jihoon hampir menangis, tapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Berusaha untuk berpikir positif. Sialnya, hujan semakin deras, jaringan menjadi sangat jelek. Jihoon duduk sambil memeluk lututnya, berusaha untuk menghangatkan diri.
Bunyi guntur terdengar. Jihoon langsung kaget. Ia memeluk lututnya lebih erat.
"Mungkin seharusnya aku tidak berjalan paling belakang.."
Jihoon lelah dan takut. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya kala itu.
.
Bangun. Jihoon merasa suhu tubuhnya lebih panas dari yang seharusnya, sedangkan hal yang pertama kali ia lihat adalah Soonyoung yang tidur di sampingnya berbantalkan tangannya sendiri. Jihoon mengatur posisinya menjadi duduk dengan kaki diluruskan. Ia melihat sekeliling, mereka berdua ada di tenda sekarang.
Matahari bersinar semakin terang, Soonyoung pun terbangun. Ia memejamkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sadar bahwa Jihoon yang di sampingnya juga sudah terbangun.
"Jihoon, kau sudah sadar!"
Soonyoung memeluk Jihoon erat. Sangat erat seolah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, Jihoon akan pergi.
"Jihoon!" Wonwoo dan Seokmin yang baru masuk ke tenda itu langsung berseru keras. Wonwoo berlari keluar untuk memanggil dokter sekolah. Seokmin berjalan masuk sambil membawa makanan untuk Jihoon dan Soonyoung.
"Kau harus berterima kasih kepada Soonyoung, Jihoon." ujar Seokmin.
"Hem?"
"Soonyoung yang pertama kali sadar kau menghilang dan langsung berteriak histeris. Ia juga yang berusaha paling keras mencarimu sambil merutuki dirinya sendiri." Seokmin mengatakan itu sambil tertawa kecil.
"Aku bodoh sekali! Harusnya aku menjaganya yang berada di belakangku, bukannya hanya berjalan sambil memikirkan diriku sendiri! Ini semua salahku!" seru Seokmin, menirukan suara Soonyoung. "Ketika ia menemukanmu. Ia menangis. Mukanya jadi jelek sekali, kau tahu."
Jihoon tersenyum, masih dengan Soonyoung yang memeluknya.
"Apalagi ketika ia tahu kau demam tinggi karena hujan. Ia bersikeras tidak mau pergi dari tenda ini dan memutuskan untuk menemanimu semalaman dengan air mata yang terus keluar." Seokmin mengatur suaranya menjadi seperti Soonyoung (dan gagal, tentu saja). "Aku tidak mau, seonsaengnim! Bagaimana kalau Jihoon mati karena aku? Jihoon tidak boleh mati!"
Jihoon dan Seokmin tertawa kecil.
Soonyoung lalu melepaskan pelukannya dari Jihoon kemudian mengusap matanya, menghapus air matanya yang telah keluar meski tidak banyak, "Itu karena kau sangat berharga bagiku, Ji. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu."
Jihoon tersipu malu. Apakah itu kalimat yang cocok dikatakan ke seorang teman?
Jihoon tersenyum. Ia lalu mengusap rambut Soonyoung, "Makasih." Setelahnya, Jihoon kembali menerima pelukan erat Soonyoung.
.
.
Festival sekolah. Mereka kembali menikmati malam bersama. Bedanya, jika tahun lalu Jihoon yang menghampiri Soonyoung, maka sekarang, Soonyounglah yang mengajak Jihoon. Pemuda sipit itu membawa Jihoon ke atap sekolah, menikmati waktu berdua menunggu kembang api.
Soonyoung sedang terbaring di lantai dengan kepalanya yang menghadap ke atas, sedangkan Jihoon sedang berdiri dengan kedua tangannya yang memegang pagar pembatas atap bangunan tersebut.
'"Jihoon."
"Ya?" respon Jihoon tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan sekolah yang ramai seperti tahun lalu.
"Kau tahu apa yang aku pikirkan ketika melihat langit seperti ini saat malam hari?"
"Tidak." jawab Jihoon dingin, tapi Soonyoung nampaknya tidak terlalu mempermasalahkan respon dingin Jihoon.
"Aku membayangkan jika bintang jatuh muncul. Kupikir aku mungkin bisa membuat beberapa permintaan." ujar Soonyoung lalu terkekeh pelan.
"Itu konyol. Mustahil bintang jatuh muncul, ini Seoul—jika kau lupa, Kwon Soonyoung."
Soonyoung bangkit. Ia berjalan perlahan kemudian berdiri di samping Jihoon, "Hei, mau dengar salah satu permintaanku?"
Jihoon menoleh, "Katakan satu yang paling realistik."
"Aku berharap hubungan kita akan selalu seperti ini bahkan lebih dekat lagi. Aku ingin sering-sering menghabiskan waktu berdua bersamamu."
Jihoon memalingkan wajahnya dari Soonyoung, "Kau tahu, itu mungkin tidak akan terkabul."
Soonyoung menunjukan wajah protes, "Eh, kenapa?"
"Kita sebentar lagi lulus. Aku yakin kita nantinya akan sibuk dengan kesibukan masing-masing. Kau dengan duniamu dan aku dengan duniaku, jadi jangan terlalu berharap, Soonyoung. Kau pasti akan melupakanku suatu saat nanti."
Soonyoung merengut, "Tidak akan, Jihoon. Bagaimana bisa aku dengan gampangnya melupakanmu?"
"Dan itulah yang semua orang katakan." Jihoon menghela nafas.
"Aku tidak tahu dengan orang lain, tapi aku tidak akan pernah melupakan Lee Jihoon."
"Bohong."
"Tidak, aku tidak bohong." Soonyoung menatap Jihoon serius, sedangkan Jihoon hanya menatap Soonyoung datar.
"Benarkah?"
Soonyoung mengangguk mantap, "Aku—Kwon Soonyoung—berjanji untuk tidak akan pernah melupakan Lee Jihoon sampai sisa umurku berakhir."
"Kalau kau lupa?"
"Datanglah kepadaku dan aku akan mengabulkan satu permintaanmu." Soonyoung tersenyum.
"Heh, memangnya kau jin pengabul permintaan?"
Dalam hati, Jihoon berharap Soonyoung tidak akan mengingkari janjinya.
.
.
Hari kelulusan. Acara formal telah selesai. Jihoon sedang berbincang-bincang dengan Wonwoo dan Seokmin. Ponsel Jihoon bergetar. Ia mendapatkan sebuah pesan teks.
From: Soonyoung
Ada yang ingin kukatakan. Aku menunggumu di atap sekolah
Jihoon segera pamit dengan Wonwoo dan Seomin. Ia berlari menuju atap sekolah. Ia sebenarnya tidak punya ide tentang apa yang ingin dikatakan Soonyoung, tapi firasatnya berkata bahwa itu adalah hal penting.
Jihoon membuka pintu atap sekolah, dilihatnya Soonyoung yang sedang berdiri dekat pagar pembatas dengan kepala yang menoleh ke arahnya. Ia berjalan perlahan ke arah Soonyoung.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
"Coba tebak."
Kesal. "Aku bukan datang ke sini untuk main tebak-tebakan, Soonyoung."
"Iya iya~ Jangan cemberut begitu, dong." Soonyoung tersenyum jahil. Jihoon masih terlihat agak kesal.
Diam.
Hening sejenak sebelum akhirnya Soonyoung membuka mulutnya, "Aku mencintaimu, Jihoon. Jadilah pacarku."
"Eh?" Jihoon terkejut.
"Tidak mau ya?" Raut muka Soonyoung terlihat kecewa.
"Bu-bukan begitu. Hanya saja.. Maksudku.. Aku—" Jihoon speachless. Mukanya memerah. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Soonyoung yang berdiri di depannya tersenyum sambil menunggu dengan sabar.
Jihoon menelan ludahnya. Ia menarik kemudian menghembuskan nafasnya perlahan., "Kau pernah bilang ingin masuk di universitas yang sama denganku kan?" Soonyoung mengangguk, "Kalau kita masuk di universitas yang sama, aku akan menerimamu."
"Tapi kalau tidak," Jihoon mencium bibir Soonyoung singkat, "Maka aku juga akan menerimamu." Jihoon tersenyum. Soonyoung juga tersenyum. Ia lalu memeluk Jihoon erat kemudian mencium bibir pemuda yang lebih mungil.
Hari itu, Jihoon sangat bahagia.
.
_ToBeContinued_
.
Halo~ Makasih buat yang udah R&R chapter sebelumnya. Makasih juga buat yang udah baca chapter ini.
[1] Ini belum masuk konflik sih. Fanfic ini mungkin selesai dalam satu atau dua chapter lagi (kalau masih lanjut, hihi)
[2] Saya lihat kemarin banyak author yang open req. ya? (padahal cuma lihat dua) Haruskah saya ikut juga? /plak/ #NggakTauDiri
[3] Maaf kalau ff ini tambah jelek :'v
Heum heum. Kritik, saran, dan respon anda sangat berarti untuk saya. Review juseyooo~
