Yah, saya ga nyangka, padahal si empunya belum nongol, eh, permintaan buat dilanjutkan uda muncul aja terharu saya /nangis di pojokkan/

Hng, sambil menunggu sang empu muncul, mungkin ada baiknya saya lanjutkan saja ya ._. Eiya, soal karakternya, maaf banyak yang over OOC, soalnya.. gimana jelasinnya ya... err, ya pokoknya begitulah /di gantung/ Yaudah, hepi reading yoo~ :*


Title :

星空のミステイ[Hoshizora no misuteiku]

(Kesalahan Bintang)

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Story :
©Rall Freecss

Cast :

Fem!Kuroko, GoM, etc

Pair :

AkaKuro,

Warning :

GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko,OOC, etc :v


"Baiklah, sampai jumpa Akashi-kun." Kuroko turun dari mobil, dan menutup pintunya. Langsung saja mobil itu melesat meninggalkan putri tunggal keluarga Kuroko itu.

Dengan langkah kecilnya, ia berjalan memasuki kediamannya itu. Rumah besar dan megah, dengan pilar-pilar tinggi menjulang. Bunga-bunga yang menghiasi taman, benar-benar rumah yang sempurna.

Nona muda itu meraih ponselnya, ia tampak sedang menulis pesan. Tapi, untuk siapa?
Kuroko duduk di pinggiran tempat tidurnya menunggu pesan balasan masuk. Sesekali ia melirik ponselnya, namun pesan itu tak kunjung masuk.

Lelah menunggu, Kurokopun beralih dari kamar menuju ruang makan. Ia menemui Maid yang paling akrab dengannya, Riko, entah dia ingin membicarakan pada teman bermainnya semasa kecil dulu itu.

"Riko-san, ada yang ingin aku tanyakan. Boleh?" "Tentu saja, nona."

"Aku mungkin jatuh cinta pada seseorang."


Akashi duduk di depan meja kerjanya, ia memandang malas dokumen-dokumen yang menumpuk di sana. Pemuda bersurai merah itu menghela nafas, ia memutar kusrsinya 180°, menghadap jendela besar di belakangnya.

Langit tampak cerah dengan sedikit awan di sana. Akashi menyipitkan matanya, berusaha memandang matahari secara langsung dengan matanya. Tiba-tiba saja, pembicaraannya dengan Kuroko saat pulang sekolah beberapa waktu yang lalu terbesit dibenaknya.

"Hujan metero Mnemid kah?" gumam Akashi. Pemuda itu meninggalkan kursi putar yang barusan ia duduki. Berjalan menuju gudang yang menyimpan barang-barang tak terpakai. Begitu pintu dibuka, debu yang mengepul menyambut. Akashi sampai harus memakai masker agar ia tak bersin-bersin.

Beberapa saat setelah pintu itu terbuka, Akashi kembali menutupnya. Tampaknya, niatnya untuk mencari sesuatu telah memudar. Ia melepas masker yang menutupi mulut hingga hidungnya. Di lemparkannya masker itu ke lantai.

Seorang Butler yang kebetulan ada di sana memungutnya, Akashi menoleh pada Butler itu.

"Kau, cepat bersihkan gudang itu. Jangan tinggalkan debu sedikitpun!" perintah Akashi sebelum akhirnya berjalan menuju kamarnya.


Pagi hari, keesokan harinya.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang yang perlahan terbuka. Seorang gadis dengan iris aquamarine yang tampak bersinar di terpa mentari pagi, melangkah menuju mobil itu.

Tangan mungilnya membuka pintu mobil perlahan, dan gadis itupun mendaratkan bokongnya di jok mobil yang empuk.

"Ohayou, Akashi-kun." "Hm, ohayou."

Mobil itupun mulai berjalan menjauhi rumah itu. Melaju dengan kecepatan stabil di jalan raya menuju SMA Teiko.

Gadis itu memandang keluar jendela sambil bersenandung lirih. Tiba-tiba, kedua alis gadis itu terangkat, sepertinya ia ingat sesuatu.

Gadis itu memutar posisi duduknya, menghadap pemuda dengan iris heterokrom yang kini tengah sibuk dengan bukunya. Lengan kemejanya di tarik pelan oleh gadis itu.

"Akashi-kun, Akashi-kun!" "Hm? Ada apa?" sahut pemuda itu acuh,

"Aku membuat harapan," "Eh?" "Semalam, pada hujan meteor Mnemid."

Pemuda itu, Akashi Seijuro, menutup buku yang tengah ia baca itu. Ia memusatkan perhatiannya pada hal yang Kuroko bicarakan saat ini,

"Kau.. apa?" "Membuat harapan, Akashi-kun." Akashi menaikkan alisnya sebelah,

"Maksudmu kau memohon pada bintang begitu?" Kuroko mengangguk dengan polosnya. Akashi menepuk jidat, ia tidak percaya, di zaman teknologi seperti ini, ada saja yang masih percaya dengan hal seperti itu.

"Kau ini bodoh atau polos, Tetsura?" "Tidak keduanya, Akashi-kun."

Akashi menghela nafas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Itu tak mungkin terkabul." Komentar Akashi, Kuroko mengerutkan dahinya,

"Kenapa?" Akashi menatap Kuroko sejenak, kemudian memijat pelipisnya pelan.

"Karena memang tidak mungkin." Kuroko diam, ia menatap Akashi lekat-lekat. Akashi merasa terganggu atas perlakuan Kuroko, pemuda itu menghela nafas, tampaknya ia harus mengikuti jalan cerita yang telah di buar oleh Kuroko.

"Baiklah, apa yang kau harapkan?" Kuroko membuka mulutnya, bibir peach itu bergerak dengan luwesnya, mengalunkan setiap rangkaian kata, benar-benar indah.

"Eh? Apa kata mu?" Kuroko mengulang perkataannya. Akashi menepuk dahinya,

"Bodoh," hanya kata itulah yang dapat keluar dari bibir Akashi saat ini. Kuroko tetap memandangi Akashi dengan tatapan datarnya.

"Tuan, kita sudah sampai."

Akashi turun dari mobil diikuti Kuroko. Keduanya berjalan menuju tujuan yang sama, ruang kelas 1-2.

"Ya, ohayou Akashicchi!" sapa Kise. Akashi tak membalas, ia langsung saja berjalan menuju mejanya. Kise menggaruk kepalanya yang tak gatal, melirik ke Aomine.

"Apa? Kenapa lihat-lihat?" Kise memajukan bibirnya 5 centi.

"Sepertinya Akashi, sudah kembali, nanodayo." Kata Midorima sambil meletakkan sekotak kartu poker yang merupakan lucky item hari ini ke dalam sakunya.

"Akachin sudah kembali? Heeeeee." Murasakibara tampak berusaha membuka potato chipsnya.

"Apa yang kalian bicarkan?" Kise, Aomine, dan Midorima tampak terkejut melihat Kuroko yang tiba-tiba saja ada di tengah-tengah mereka.

"Sejak kapan kau ada di sana? Kurokocchi?" "Aku sudah di sini dari tadi."

"Sejak... kapan?" tanya Kise, "Tadi," balas Kuroko, "Hee.."

"Jadi apa yang kalian bicarakan?" Kuroko mengedarkan pandangannya pada keempat pemuda yang ada di depannya saat ini.

"Bukan urusanmu, Tetsu." Kuroko memandangi wajah Aomine lekat-lekat, dia tampak kesal, tunggu, bagaimana bisa tau? Entahlah, mungkin itu hidayah dari Yang Maha Esa.

"Kau akan tau nanti Kurochin." Murasakibara menepuk-nepuk kepala Kuroko pelan.

Kuroko menoleh pada Midorima dan Kise, berharap keduanya akan memberi jawaban. Namun, keduanya menggeleng. Kuroko menghela nafas, ia tampak sudah menyerah,

"Baiklah. Kalau aku memang tidak boleh tau." Kuroko berjalan meninggalkan keempatnya, namun tiba-tiba ia berbalik, melirik Kise.

"Kise-kun, aku sudah melakukannya sesuai saranmu. Terimakasih." Kise melongo, ia berusaha mencerna kata-kata Kuroko barusan. Hingga sebuah lampu pijar muncul entah dari mana.

"Oh, begitukah, Kurokocchi." Kise menggosok-gosok dagunya, namun tiba-tiba matanya terbelalak,

"EH!? KAU MELAKUKANNYA!? KUROKOCCHI!?"

"Oi, Kise, kau ini kenapa huh!?" Aomine menjitak kepala Kise yang tiba-tiba saja berteriak seperti ba*ci.

"Jangan membuat keributan, nanodayo." Tambah Midorima, Kise menggosok-gosok kepalanya.

"Memangnya Tetsu kenapa?" tanya Aomine, wah, tampaknya pemuda berkulit tan itu penasaran dengan hal yang dibicarakan Kuroko barusan,

"Kurochin kenapa?" sahut Murasakibara, Kise berdehem, kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kemarin, Kurokocchi mengirimiku pesan, ssu. Begini nih.." Kise menunjukkan pesan yang di kirim Kuroko kemarin siang.


From : Kuroko Tetsura
To : Kise Ryouta
Subject : Apa?

Kise-kun, aku jatuh cinta pada seseorang. Apa yang harus aku lakukan?
-Kuroko


Aomine terbelalak tepat setelah membaca pesan itu, bahkan kacamata Midorimapun sampai melorot. Murasakibara? Stay cool bro, dia tetap fokus pada snacknya.

"Lalu?" Aomine tampak antusias, sepertinya Midorima juga tertarik, tetapi karena sikap Tsunderenya, jadi ya, dia..

"I-ini bukan seperti aku tertarik atau semacamnya, mengerti?" ingatnya sambil memperbaiki letak kacamatanya yang tidak melorot itu.

Kise dan Aomine hanya bersweat drop ria melihat kelakuan teman mereka ini.

"Jadi? Apa yang kau katakan pada Kurochin?" tanya Murasakibara tiba-tiba, Kise menggaruk kepalanya yang agak gatal itu.

"Aku bilang padanya, 'bagaimana kalau membuat harapan pada bintang?' Begitu, ssu." Jawab Kise. Aomine, Midorima, dan Murasakibara mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Lalu?" "Sepertinya Kurokocchi melakukannya, ssu." Midorima menggosok dagunya dengan telunjuk dan jempol.

"Berarti pada Hujan Meteor Mnemid ya?" "Woh, dengan bintang sebanyak itu pasti terkabul bukan?"

"Tapi, Aominecchi, itukan meteor, ssu." Midorima menggeleng, "Bintang jatuh yang biasa kita lihat juga merupakan pecahan meteor, nanodayo." Jelas Midorima sambil memainkan boneka kodok yang tampaknya merupakan lucky item hari ini.

"Oi, kau dapat dari mana boneka itu?" tanya Aomine, "Oh, ini milik adikku, nanodayo."

"Wuah, Kakak yang buruk/ssu." Batin Aomine dan Kise sambil bergidik.

Kesunyian melanda mereka beberapa saat, sebelum akhirnya Aomine memecah keheningan itu,

"Menurutmu, siapa pemuda yang membuat Tetsu jatuh cinta ya?" Kise dan Midorima secara kompak melipat kedua tangannya di depan dada, mereka tampak berfikir.

"Mau cari tau, ssu?" usul Kise, "Ide bagus, tumben kau pintar!?" Kise memajukan bibirnya 5 cm. "I-itu ide yang bagus, mungkin. Nanodayo." Midorima memalingkan wajahnya, namun sesekali bola matanya bergerak melirik si pirang.

"Murasakicchi juga ikut, ssu?" Murasakibara memperhatikan wajah Kise dengan seksama.

"Kau ini siapa?" Kise cengo, Midorima dan Aomine berusaha menahan tawa.

"Hidoi! Aku ini teman sekelas mu! Kise Ryouta! Setidaknya ingatlah wajahku!"

Team penyelidik, di bentuk!


Oke, selesai ._.v Yah, jujur aja saya lagi ga ada ide, ini cerita mau di bawa kemana dan mau di gimanain -_-

Gomenne, chap 2nya ga menarik ssu, ini aja di paksain ngetik padahal lagi di kejar waktu buat nyelesain laporan ToT Urrrghhhh,

Maafkan aku Tuhan, ampunilah diriku ini, yang tidak percayakan cinta~ aku adalah wanita yang jahat ah~ *malah nyanyi die -_-*

Hah? Maksud dari Akashi uda kemali apaan? Entah akupun ga tau /di todong/ Ah, diem deh, ntar tau sendiri deh, /di lempar ke laut/

Oke dah, pokoknya makasih uda mau baca, tungguin chap 3nya yo xDD *emang ada?* do'ain aja dah,

*e bukan, maksudnya emang ada yang mau baca?* ._. /speechless/

Eh, bener juga ya, emang ada yang mau baca ._.a