Disclaimer : Masasshi Kishimoto
1
Hari berikutnya kehidupanku yang sejak beberapa tahun lalu damai kembali menjadi penuh dengan rasa lelah dan keringat yang bercucuran. Banyak orang bilang kalau mempertahankan itu lebih sulit dari merebut, tapi bagiku keduanya sama saja sulitnya. Untuk orang sepertiku yang biasanya cuma mencari nilai aman di setiap pelajaran, mengejar peringkat satu adalah hal yang terlalu sulit untuk dicapai.
Pertama aku harus membuka kembali catatan yang dulu kusimpan jauh di dalam lemari dan mungkin sudah dimakan rayap, setelah itu mempelajarinya kembali, ditambah lagi aku harus bergelut dengan rasa malas yang terus saja mengajaku untuk bersantai-santai.
Tapi. Karena aku sudah memutuskan untuk serius melayani tantangan anak itu, sekarang aku tidak akan mengeluh. Bukan maksudku untuk bertindak sok tangguh atau yang sejenisnya, alasan sederhananya adalah aku tidak ingin lebih menderita dari ini. Walau aku tidak ingin mengakuinya, tapi perkataan guruku tentang mengeluh membuat hidup jadi lebih tidak enak memang benar.
"Mengalahkannya ya?"
Aku sama sekali tidak yakin kalau aku bisa mengalahkannya dalam urusan akademik. Berbanding terbalik denganku yang lulus tes masuk dengan nilai yang mepet, dia adalah pencetak rekor nilai terbaik tes masuk tahun ini. Perbedaan level kami terlalu jauh.
Bagaimana aku tidak berpikir pesimis? Dia itu murid yang sudah mengalahkan lebih dari dua ratus orang lebih dengan otaknya. Sedangkan aku adalah murid yang mengandalkan keberuntungan untuk bisa lulus tes masuk sekolahku yang sekarang. Dilihat dari manapun harapan kemenanganku benar-benar setipis kertas.
Selain itu. Mungkin kalau kedua kakakku sudah lulus, dialah yang akan jadi penerusnya sedangkan aku cuma akan jadi karakter tambahan yang kerjaannya cuma jalan ke sana ke mari.
Sebenarnya, Hyuuga itu orang seperti apa?
Selain fakta kalau dia itu pintar dan punya ukuran badan yang sama dengan anak SD, aku tidak tahu hal lainnya.
Malam itu kuhabiskan dengan membaca beberapa pelajaran yang kuprediksi akan dikeluarkan oleh guru sebagai bahan untuk ulangan. Meskipun begitu, walau sudah hampir lima buku tebal bisa kuselesaikan baca. Tapi saat membacanya aku sama sekali tidak bisa konsentrasi sebab aku selalu saja ingat tentang Hyuuga dan kata-katanya.
Kenapa dia sampai bertindak sejauh itu? Kenapa sampai dia mau repot-repot menantangku, apa keinginannya untuk mengalahkan kedua kakakku sebegitu besarnya? Kalau dia memang hanya ingin mengalahkan mereka berdua kenapa tidak menantangnya saja secara langsung? Ajak saja duel atau apa dengan begitu masalah selesai kan?
Setelah kupikir baik-baik alasannya sedikit aneh. Bukan hanya aneh malah, tapi tidak masuk akal.
Dan yang lebih tidak masuk akalnya lagi adalah. Aku menyetujuinya.
"Hah. . . . "
Aku sendiri sadar kalau aku ini tidak konsentrasi membaca jadi aku mencatat beberapa hal yang kuanggap penting di sebuah buku yang dulu pernah kugunakan saat SMP, buku yang hampir penuh dengan gambar.
Dari dulu aku memang suka menggambar, jadi kalau guru sudah berubah ke mode bicara tanpa sadar tanganku akan bergerak dan membentuk banyak hal di sudut-sudut sempit kertas yang tidak terisi tuHanabin. Berhubung gambarku tidak bagus-bagus amat dan malah cuma jadi bahan olok-olokan teman-teman sekelasku, aku mencoba menghentikan kebiasaan itu dan beruntungnya. Setelah dua tahun berlalu aku sudah berhenti total melakukannya.
Tanpa musik pengantar tidurpun begitu badanku rasanya agak capek, tanpa sadar aku tertidur dengan tumpukan buku berada di sekelilingku.
Dan begitu pagi datang.
Entah kenapa jam waker yang kuset tidak berbunyi dan yang membangunkanku malah rasa panas dari sinar matahari yang menembus melewati ventilasi di atas jendela kamarku.
Biasanya saat aku bangun, suasana masih gelap dan bahkan burung-burung di dahan pohon yang terletak di belakang rumahku belum berbunyi Tapi kali ini selain kamarku sudah terasa terang, keadaan sekitar rumahku juga sudah samar-samar terdengar ramai.
Otakku masih belum sepenuhnya bangun karena itulah instingku menyuruhku langsung ke kamar mandi untuk menyegarkan mataku.
Lalu saat aku turun ke lantai satu, keadaan malah sudah lebih terang lagi dan bahkan di meja sudah ada makanan.
Mungkin saja kedua orang tuaku sudah pulang dan Ibuku sudah memasak untuk kami semua, kalau memang begitu syukurlah! Pikiran naifku berpikir seperti itu. Hanya saja aku ini orang yang sering sial dan kesialanku itu kadang sudah datang meski hari masih pagi.
Saat aku membuka pintu kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, kepalaku disambut oleh lemparan sabun.
"Konohamaru apa yang kau lakukan? cepat keluar!"
"Maaf!"
Kakak perempuanku ada di kamar mandi! Bagaimana bisa? Seumur hidup dia belum pernah bangun lebih awal dariku. Dia itu adalah orang yang kalau masih sadar tidak bisa diam dan menghabiskan energinya untuk berlari ke sana kemari, jadi sekali tidur dia akan jadi seperti orang mati. Kesimpulannya dia itu tidak akan bisa bangun kalau tidak ada yang membangunkannya.
Apa jangan-jangan dia sudah berubah? tapi bukankah tidak mungkin kalau seseorang berubah hanya dalam waktu satu malam! Mengubah kebiasaan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Jadi sepertinya itu tidak mungkin. Yang tersisa tinggal satu kemungkinan. Bukan dia yang bangun lebih pagi. Tapi aku yang bangun telat!
Selain itu tolong kunci pintunyaaaaa!...
Aku berlari ke arah ruang tamu di mana jam dinding warisan kakeku berada, lalu saat aku sampai di sana kudapati informasi yang sudah kuperkirakan.
Ternyata memang benar aku yang bangun kesiangan!
Jam dinding tua itu menunjukan pukul enam. Itu berarti aku bangun satu jam lebih lambat dari biasanya.
Penyebabnya mungkin karena tadi malam aku belajar sampai jam dua belas, karena aku melakukan hal yang tidak biasa kulakukan. Oleh sebab itulah tubuhku yang sama sekali tidak bisa diajak berkompromi ini kelelahan dan meminta istirahat lebih lama.
Gawat. Kalau begini aku akan benar-benar telat pergi ke sekolah.
Menunggu kedua kakakku untuk selesai mandi itu sama saja dengan menunggu bis umum di tempat macet yang sedang ada pasar tumpahnya.
Sepertinya aku harus men-skip mandi dari daftar kegiatanku hari ini, kalau begini sebaiknya sarapan saja dulu, lagipula kalau aku sikat gigi tidak akan ada yang tahu kalau aku tidak mandi hari ini. Dan juga kalau ada yang tahu aku tidak mandi memangnya ada yang mau tanya? Aku rasa tidak. Mandi atau tidak sama saja.
Lagi-lagi, dengan pikiran naif aku menuju ruang makan dan bersiap untuk sarapan pagi tanpa memperhatikan kakak pertamaku Sakura yang sedang membaca tanpa melirik sedikitpun makanan di sebelahanya.
"Konohamaru apa kau yakin akan makan itu, aku lebih memilih tidak sarapan daripada makan itu"
"Memangnya kenapa?."
Tanpa disuruh aku langsung duduk dan mengambil piring serta mengisinya dengan makanan yang tersedia di depanku.
Belajar semalaman lumayan melelahkan dan membuatku sedikit lapar di pagi hari. Aktifitas fisik seperti olahraga memang menguras tenaga, tapi aktifitas otak semacam berpikir juga memerlukan energi. Walau yang tadi kulakukan hanya membuat catatan-catatan kecil tentang apa yang kubaca di buku tetap saja aku merasa lelah dan jariku juga lumayan pegal. Syukurlah kalau kedua orang tuaku sudah pulang, setidaknya aku tidak perlu lagi untuk memasak.
Kusuapkan makanan dari sendok ke dalam mulutku, kukunyah pelan setelah itu kupindah ke kanan dan ke kiri.
Semua masih lancar-lancar saja saat dua detik pertama aku mengunyah makanan di depanku, tapi setelah itu rasa objek di dalam mulutku mulai berubah dan memancing rasa mual di perutku.
"Sebenarnya Ayah dan Ibu belum pulang"
Diam. Cuma kediaman yang menyelimuti suasana ruangan itu untuk sesaat.
"Jadi yang memasak Hinata"
Kata-kata terakhir kak Sakura mencekik tenggorokanku, bukan secara kiasan. Tapi memang tenggorokankuk rasanya seperti tercekik sunggughan.
"Uhuk... uhuk..."
Ini benar-benar masakan kak Hinata! Seratus persen masakannya! Hanya kakak kedua itu yang bisa memasak makanan dengan rasa unik seperti ini. Cuma dia yang bisa membuat nasi goreng tanpa nasi, ya. Dia mencoba membuat nasi goreng tapi sepertinya dia lupa membuat nasinya. Yang dia goreng malah beras. Bukan cuma itu, dia juga sudah berhasil membuat telur goreng isi kulit. Benar-benar kreatifitas tingkat tinggi.
"Aku rasa aku akan mengikuti apa yang Kak Sakura lakukan untuk hari ini! Aku akan ke atas lagi untuk ganti baju"
Aku kembali ke kamarku. Dengan kerusakan jadwal yang terjadi hari ini sepertinya mau tidak mau aku harus ikut mengubah tatanan kegiatanku untuk sementara. Langkah pertama yang harus kulakukan untuk menghindari ketidakbenaran jadwal kegiatanku agar lebih parah adalah ganti baju dan langsung berangkat sekolah sebelum Kak Hinata keluar dari kamar mandi.
Setelah mengganti bajuku dengan seragam dan memasukan semua hal yang kuperlukan ke dalam tasku, aku langsung turun ke lantai satu. Dan untungnya, kali ini harapanku terkabul. Kak Hinata belum keluar dari kamar mandi.
"Kak Sakura aku berangkat duluan! "
"Iya temanmu juga sudah menunggu di luar"
Teman? ngomong-ngomong. Temanku yang mana?.
Berangkat ke sekolah dengan teman. Kedengaran sangat normal. Tapi sampai umurku sepanjang ini orang yang pernah berangkat ke sekolah bersamaku hanyalah kedua kakakku. Bukan karena aku ini orang anti sosial, aku tidak berangkat bersama mereka karena teman-temanku rumahnya jauh. Dan di sekolahku yang sekarangpun sama saja. Aku tidak ingat punya teman yang rumahnya berdekatan denganku.
Tapi ya sudahlah. Biasanya hal normal itu baik, jadi aku akan keluar saja dan lihat siapa yang sedang menungguku di luar sana.
"Apa kau tidak bisa lebih cepat sedikit! Aku sudah lelah berdiri dari tadi!"
"A... Hyuuga, apa yang kau lakukan di sini? "
"Apa kau bodoh? Tentu saja aku menunggumu agar kita bisa berangkat bersama! Dasar orang bodoh! Kebodohanmu itu benar-benar mengalahkan orang paling bodoh sedunia."
Woi. . Woi. . . bisa tidak kau berhenti terus-terusan mengucapkan kata bodoh di depan mukaku.
"Aku tahu itu! Yang kutanyakan kenapa kau mengajakku berangkat bersama?"
"Aku sudah bilang kan kalau aku akan mengawasimu, mulai hari ini aku akan berangkat dan pulang bersama denganmu untuk memastikan kau tidak malas-malasan!"
Angin berhembus melewati wajahku dan dengan tidak sopannya dia menggelitik telingaku sampai aku merinding, bukan! Aku tidak merinding karena angin tapi karena membayangkan bagaimana aku harus melanjutkan hidup kalau aku harus bersama si Hyuuga ini setiap hari.
Aku mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen dari dalam tasku lalu menuliskan jeritan isi kepalaku. Aku merasa kalau aku cuma punya kesempatan hari ini, karena bagiku hari esok sudah tidak ada lagi.
"Apa yang kau tulis Konohamaru?"
"Surat wasiat!"
"Memangnya bersamaku akan membunuhmu? "
"Itu yang kupikirkan dari tadi!"
"Grrrrrrr"
Dia menggeram. Terakhir kali dia menggeram seperti itu hal buruk terjadi padaku, apa yang harus kulakukan? Seseorang tolong bantu aku sekarang juga.
"Apa aku kelihatan seperti singa bagimu hah?"
Dia menatapku dengan tatapan pemangsa itu lagi untuk kesekian kalinya dalam dua hari ini, dia benar-benar marah sekarang. Apa yang harus kulakukan? Sekali lagi! Apa yang harus kulakukan.
"Tentu saja tidak! Kau lebih mirip kucing yang ekornya terinjak"
"Apa kau bilang! "
Dia mencengkram kerah bajuku seperti yang kulakukan kemarin padanya, bedanya dia tidak akan bisa mengangkat badanku karena dia lebih pendek dariku. Matanya coklat besarnya menyipit sampai benar-benar kecil dan dahinya mengerut yang tandanya adalah. Ini sangat buruk!
"Hars.. apa yang sedang kau lakukan dengan? "
Kak Hinata keluar dengan membawa tas di tangan kanannya bersama dengan Kak Sakura yang juga membawa dengan cara yang sama. Kak Sakura memperhatikan Si Hyuuga dari atas sampai bawah sedangkan Kak Hinata meletakkan jarinya di dagu. Aku yakin kalau dia bingung mau berkata apa.
"Apa yang sedang kau lakukan dengan anak SD?"
Hyuuga langsung bersembunyi di belakang punggungku sambil memegang tangan kiriku dengan erat. Seperti anak kecil yang takut melihat preman bermuka sangar, dia bersembunyi di belakangku.
Kemana agresifitas yang tadi dia tunjukkan padaku lari? Dan kenapa dia bersembunyi di belakangku?
"Kak Sakura, Kak Hinata dia bukan anak SD! Dia teman sekelasku dan dia bilang dia akan menantammmmmmm….."
"Teman sekelas? Tapi dia sangat kecil"
Kau salah kak Hinata, harusnya kau belajar dari ungkapan jangan lihat buku dari sampulnya! dia memang kelihatan tidak berbahaya dari luar, tapi mengesampingkan penampilannya yang misleading itu di sangat berbahaya. Setidaknya untuku.
"Kalau kau berani mengatakan apa yang kukatakan padamu, aku jamin kau benar-benar harus membuat surat wasiat nanti siang!"
"Baiklah baiklah!"
Dalam suasana seperti ini aku tidak mungkin bilang tidak padanya, kalau aku melakukannya ancamannya mungkin akan jadi nyata saat tidak ada orang lain di sekitarku.
Melihatku dan si Hyuuga berbicara dengan berbisik Kak Hinata datang menghampiriku.
"Apa yang kalian bicarakan? Dan siapa namamu gadis kecil"
Si Hyuuga semakin dalam bersembunyi di belakang punggungku. Setiap Kak Hinata mendekat untuk melihatnya lebih jelas dia selalu menghindar dan memegangku semakin erat. Semakin lama tindakan mereka membuatku jadi berpikir kalau mereka itu benar-benar tidak waras.
"Kenapa kau bersembunyi? Aku ingin melihat wajahmu!."
Mereka berdua akhirnya terus berputar-putar mengelilingiku sampai aku sendiri merasa capek dan memutuskan untuk menghentikan tindakan bodoh yang mereka berdua lakukan.
"Berhenti kalian berdua!"
Aku merentangkan kedua tanganku dan membuat mereka menyingkir dariku. Bukan hanya si Hyuuga yang bertingkah aneh, tapi sekarang Kak Hinata juga bertingkah aneh. Kenapa hal-hal abnormal terus saja terjadi padaku sepanjang pagi ini? Apa aku bangun di dimensi lain di mana aku yang sekarang bukanlah orang normal.
"Kau memerintahku? "
Mereka berdua berteriak bersamaan padaku!
Dua orang dengan kepribadian yang menyusahkan ada di depanku, sekarang! Di saat yang bersamaan. Dan lebih menyebalkannya lagi aku harus bertemu dengan mereka semua setiap hari.
"Konohamaru kita harus cepat-cepat atau kita akan terlambat!."
"Baiklaaaaaa..."
Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku, tapi aku sudah ditarik oleh lawanku dengan paksa ke arah sekolah. Walau badannya kecil tapi dia itu kuat, bayangkan saja! Dengan badan sekecil itu dia bisa menarikku yang notabene lebih besar darinya dengan mudah. Bisa dibilang monster ukuran kecil. Aku benar-benar penasaran apakah dia mesin v-tec di dalam badannya itu.
Tapi monster kecil itu melupakan sesuatu karena kemarahannya yang berlebihan itu.
"Woi Hyuuga bisakah kau lepaskan tanganku, aku mulai merasa kesemutan!"
"Apa kau merasa terganggu?."
Tidak mungkin tidak.
"Tentu saja!"
"Apa kau tidak menyukainya?"
Pasti iya.
"Tentu saja!"
Dia diam sebentar, tapi setelah beberapa langkah dia kembali berbicara.
"Apa kau tidak suka padaku!"
Memangnya perlu ditanya?
"Tentu saja!."
"Kalau begitu pendam dalam-dalam semua itu!"
Orang gila!.
"Yang benar saja?"
"Kau mau menentangku hah? mau mati cepat apa?."
Dia mengancamku lagi! Kalau sudah begini aku cuma akan diberinya dua pilihan "iya" atau "ok" keduanya memang sama saja, sama-sama sengsaranya.
2
Aku sudah mencoba melupakan kejadian tadi pagi, tapi aku tetap saja tidak berhasil. Dari tadi aku terus saja ingat kejadian itu, tidak semua hal kuingat memang, hanya saat si Hyuuga menggengam tanganku sangat erat tadi pagi. Entah kenapa bayangannya terus saja muncul di otakku.
Impresi seram yang kudapat tadi pagi masih tidak mau menghilang.
"Kenapa kau terus saja melihat tanganmu, apa kau terluka?"
"Oh Ise, tidak! Hanya saja tadi pagi sesuatu terjadi dan aku tidak bisa melupakannya"
"Ohhh itu ya?"
Itu? Apa maksudnya? kenapa kau berbicara seakan kau tahu sesuatu yang aku tidak tahu.
Meski aku tidak melakukan hal-hal berat tapi gara-gara hal-hal aneh terus saja terjadi aku sudah merasa capek padahal hari masih sepagi ini. Aku sedang tidak mood untuk mendengarkan omongannya.
"Aku sudah dengar dari teman-teman kalau kau dan Hyuuga ada sesuatu, selain itu kemarin aku juga melihatmu berduaan di dalam kelas saat pulang sekolah"
"Apapun yang kau pikirkan tentangku, semua itu tidak benar. Aku dan si Hyuuga itu hanya terjebak dalam situasi yang menyulitkan karena itulah aku terpaksa harus bersamanya!"
"Oh jadi kau merasa berdosa dan memutuskan untuk bertanggung jawab, aku paham apa yang kau rasakan"
Apanya yang paham. Apa yang kau bicarakan dan apa yang kumaksud sama bukan hal yang sama.
"Hahh. ."
Apapun yang kukatakan kepadanya hanya akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga sebelahnya. Percuma saja aku bicara padanya! Selain itu aku yakin seratus persen kalau aku tidak akan punya kesempatan untuk melawan opini publik.
Mungkin yang banyak orang pikirkan adalah "ada sesuatu di antara mereka" ya memang benar! Ada sesuatu di antara kami, Ancaman!
Setelah itu aku dan Ise membicarakan hal-hal tidak jelas sampai bel masuk berbunyi.
"Murid-murid kalian tahu kan kalau hari ini ada ulangan?"
Seorang guru masuk, tapi orang yang masuk ke dalam kelas bukanlah guru pengajar yang bersangkutan melainkan guru pelajaran lain. Aku sempat mendengar kalau guru Bahasa sedang sakit, jadi mungkin dia menggantikan tempatnya hari ini.
"Tapi sayangnya Bu Kushina sakit dan tidak bisa mengajar"
Jadi?
Ulangan tetap di laksanakan walau dengan guru yang berbeda.
Biasanya aku hanya akan mengerjakan apapun dengan setengah hati, termasuk ulang. Sebab yang kukejar hanyalah nilai aman jadi aku tidak perlu bekerja terlalu keras dan menjawab soal ulangan seingatku saja. Tapi, itu semua hanya masa lalu sekarang.
Di ulangan kali ini aku harus mendapat nilai lebih tinggi darinya, dari si Hyuuga. Kalau startnya saja sudah buruk bagaimana dengan selanjutnya? Langkah pertama untuk mengalahkannya dan jadi nomor satu adalah sebuah kemenangan kecil. Mungkin kalau aku terus menang kecil-kecilan poin-poinku akan sedikit demi sedikit bertambah lalu tanpa sadar menumpuk dan jadi gunung. Lalu saat akhir semester tiba-tiba aku jadi rengking satu.
Tentu jalanku tidak akan semudah itu, tapi tidak ada yang melarang seseorang memotifasi dirinya sendiri kan?
"Hay Konohamaru... sttt"
"Jangan tanya jawaban padaku! Kau akan jadi bodoh"
Dari kursi belakangku bisa kurasakan ada tangan yang mengganggu ketenanganku.
"Bukan itu, ini dari Hyuuga"
Ha?.
Gadis ini. Setelah banyak hal-hal abnormal yang dilakukannya, aku jadi ingin bertanya apakah dia itu memang pintar atau cuma kelihatannya saja pintar. Bagaimana dia bisa dengan muka tenang bertukar pesan lewat orang-orang yang mukanya sama sekali tidak meyakinkan untuk bisa dipercaya? meski bukan itu masalah utamanya.
"Sttt... ssttt"
"Apa? Kau bisa diam tidak sih Ise?"
"Hubungan sepesialmu sudah sampai di mana? dia sampai menyemangatimu segala."
Apanya yang sepesial? Apanya yang menyemangati? yang dia tulis itu 'kalau kau tidak serius akan kupukul kepalamu sampai hilang ingatan' Bagian mananya yang kedengaran menyemangati?.
"Kau sudah baca kan? apa kau masih berpikir ancamannya itu bentuk dari sebuah kata-kata motifasi?"
Dia menghela nafas lalu membalas pertanyaanku.
"Jangan berlebihan dia itu cuma malu, kau tahu kan yang namanya tsundere?."
Jadi orang yang tidak tahu apa-apa memang menenangkan. Jika dia tahu kalau apapun yang dikatakan si Hyuuga itu serius pasti dia tidak akan membicarakan gadis kecil dengan santainya.
Ngomong-ngomong, aku sudah selesai mengerjakan setengah soal ulanganku jadi aku tidak punya rencana untuk berdiam diri saja setelah menerima surat ancaman itu. Meski aku memang tidak bisa melakukan apapun pada orangnya, tapi kalau sekedar membalas pesan singkatnya itu aku masih punya cukup banyak waktu.
"Hay Ise, berikan ini padanya! Jangan lihat isinya atau kau akan menyesal"
Aku menengok ke belakang untuk melihat apa yang dilakukan Ise. Sesuai instruksiku dia tidak melihat isinya walau sebenarnya dia melihatpun tidak masalah.
Setelah beberapa kali berpindah tangan dari satu murid ke murid lainnya, akhirnya surat balasanku sampai ke tujuan. Lalu, setelah si Hyuuga menerima suratku dia langsung menggebrak meja dan berdiri serta berteriak.
"Grrrrr dasar bodoh!"
Dia menggulung suratku lalu dilemparkan tepat ke mukaku, meski begitu aku malah sedikit tersenyum. Bagaimana tidak, selain dia mungkin tidak ada gadis lain yang dengan terang-terangan menunjukan rasa marahnya pada seseorang saat di dalam kelas sedang berlangsung ujian. Dia sama sekali tidak perduli dengan imagenya.
"Hyuuga tolong tenang sedikit dan duduk kembali"
Sebagai seorang pengajar yang baik, si guru pengganti mencoba membuat Hyuuga yang mengganggu ketenangan kelas kembali duduk manis dan mengerjakan soal ulangannya. Tapi gara-gara si gadis itu sedang menahan marah dan rasa ingin memukul seseorang di saat yang bersamaan. Reaksi yang didapatkan si guru pengganti sangatlah tidak bisa dibilang bersahabat.
"Diam!"
Layaknya seekor kucing yang baru saja diinjak ekornya dia mengaum pada guru di depannya.
Si guru pengganti sama sekali tidak bisa membalas kata-katanya dan malah hanya bisa tertawa tidak alami. Mungkin saja daripada marah, yang dia rasakan saat ini adalah terkejut karena baru saja dibentak oleh seorang siswa terbaik se kelas satu yang bahkan tampangnya tidak mirip anak SMU sama sekali.
"Maaf. . "
Hyuuga yang sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya langsung minta maaf dan duduk kembali, tapi sebelum guru pergi meninggalkan tempatnya dia tidak lupa memberiku sebuah souvenir berupa tatapan tajam.
"Kenapa kau senyum-senyum? Nanti akulah yang akan tertawa belakangan camkan itu!"
"Ya, ya"
Memangnya selain iya apa lagi yang bisa kukatakan?. Setelah melepaskan kemarahannya dia kembali mengerjakan soal ujiannya dengan tenang di tempat duduknya.
"Memangnya apa yang kau tulis?"
Ise menggaguku lagi dengan pensilnya.
"Bukan apa-apa"
Dengan bel yang berdentang sebanyak dua belas kali, ulangan hari itupun berakhir dan istirahatpun tiba. Biasanya, jam-jam segini aku akan ke kantin dan makan sesuatu tapi untuk hari ini ada pengecualian. Gara-gara paginya kau buru-buru dan diarik-tarik si Hyuuga aku jadi lupa membawa uang dan terpaksa menghabiskan waktu tiduran di atas meja untuk mengehemat tenaga.
"Konohamaru kenapa kau?"
"Tidak, aku hanya sedang menghemat tenaga"
Dari tatapan sinisnya jelas dia tidak percaya dengan kata-kataku. Lagipula kalau dia percayapun juga dia tidak kelihatan ingin berbaik-baik denganku.
"Apanya yang menghemat tenaga? Kau hanya malas-malasan seperti biasa. Sekarang cepat bangun dan belajar!"
Benar kan. Apa juga kubilang, dia tidaklah sebaik hati itu untuk membiarkanku sejenak beristirahat dan memampirkan pikiran ke dunia lain.
"Sekarang kan istirahat"
"Berhenti malas-malasan! manusia itu wajib belajar dari dari lahir sampai ke liang kubur."
Kenapa dia harus menggunakan kata-kata itu di saat seperti ini?
Setelah hanya mendapatkan respon yang tidak memuaskan dariku, dia mencoba menariku, mendorongku, dan melakukan berbagai macam hal lain untuk membuatku meninggalkan bangku dan melakukan sesuatu yang mungkin sedang dipikirkannya.
Rasa laparku sudah membuatku benar-benar tidak perduli dengan apa yang sedang dia lakukan padaku. Kakiku rasanya lemas dan bahkan telapak tanganku agak bergetar, meski aku masih bisa dibilang sehat tapi keadaanku juga sama sekali tidak bisa dibilang baik.
Jangan anggap kalau aku ini cengeng atau sejenisnya, ini cuma reaksi penyakit turunan dari Ayahku, dia yang sudah mewariskan sesuatu tidak berharga seperti ini.
Kadar gula di darahku sepertinya mulai turun. Meski aku tidak sarapanpun asalkan aku minum atau makan sesuatu yang manis, siangnya aku tidak akan mengalami hal seperti ini. Tapi, tadi pagi aku diserang secara mendadak sehingga tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan apapun. Ujung-ujungnya ya begini ini.
Saat aku sedang berdoa agar guru-guru ada rapat dan murid-muridnya disuruh pulang cepat, tanpa bisa kukontrol perutku berbunyi criuuuuttt keras.
Hah.
Begitu mendengarnya, Hyuuga langsung mundur dan sekali lagi memeriksa seberapa mengenaskannya keadaanku.
"Aku akan keluar sebentar! kau jangan pergi dari sini! ingat itu!"
Tanpa disuruhpun aku tidak akan ke mana-mana. Empat jam masih harus kulalui dengan perut lapar tidak mungkin aku akan membuang-buang kalori di badanku ini untuk hal yang tidak berguna. Dan, kalau kau mau pergi ya pergi saja. Kalau bisa jangan balik-balik malah.
Lima menit setelah si Hyuuga pergi, seseorang masuk ke kelas dan duduk di atas mejaku.
"Rupamu kok kelihatan buruk."
"Aku lapar, apa kau tidak punya sesuatu untuk di makan Ise? Aku tidak membawa uang hari ini"
Aku mengulurkan tanganku tanpa melihat mukanya.
Di saat perut lapar, yang namanya harga diri, rasa malu, atau yang sejenisnya itu tidak ada harganya lagi. Asalkan aku bisa makan sesuatu, tanpa ragu aku akan memohon pada temanku ini.
"Aku hanya punya ini apa kau mau?"
"Tentu saja!"
Tepung terigu, air, gula pasir, margarin , telur, ragi, susu bubuk, garam, dan sedikit selai menyatu dalam sebuah benda yang disebut roti manis. Sebuah makanan sempurna sebagai pemulih tenaga.
Karena suasana kelas yang sepi, aku bisa mendengar suara seseorang yang sedang berlari di lorong kelas. Tapi hal itu terlalu semacam itu terlalu kecil untuk mengalihkan perhatianku dari benda yang akan segera aku terima.
Dengan muka bahagia aku menerima uluran tangan temanku yang satu itu.
Hanya saja, tepat sebelum benda itu menyentuh ujung jariku seseorang kembali masuk ke dalam kelas.
Hyuuga masuk ke dalam kelas dengan buru-buru dan, tanpa aba-aba apapun langsung berjalan menuju ke tempat duduku. Hanya saja begitu dia menyadari kalau ada Ise di sampingku dia langsung menyembunyikan sesuatu di balik badanya dan berjalan dengan santai. Serta wajahnya yang tadi agak cerah dia ubah jadi tidak bersahabat. Seperti biasa.
"Oh ya Konohamaru aku lupa kalau hari ini aku ada Ekstrakulikuler."
"Eh tapi!"
"Sudah ya!"
Dia melambaikan tangannya lalu pergi dari kelas. Sambil membawa roti yang tadinya akan dia berikan padaku.
Sialan!
Aku tidak perduli kalau kau ada ekstra, tapi tolong jangan ambil kembali barang yang sudah kau berikan padaku? dasar orang tidak tahu sopan santun! .
"O... Dan, apa kau masih lapar?"
Perlahan Hyuuga mulai mendekatiku lagi setelah beberapa kali melihat pintu kelas.
"Tentu saja!"
Bagaimana tidak lapar? makan siangku baru saja kabur dengan laki-laki lain.
"Syukurlah."
Tolong jangan bersyukur atas penderitaan orang lain, kau akan kena karma.
"Ini"
"Ah..?"
"Cepat ambil! Sebuah pertandingan tidak akan adil kalau lawannya saja tidak punya kekuatan untuk melawan!"
Persis seperti apa yang baru saja Ise akan lakukan, dia mengulurkan sebungkus roti kepadaku. Bukan cuma itu, bahkan mereknyapun sama. Dan, apa-apaan wajah malu-malunya itu. Apa dia sedang main-main denganku?
"Roti ini tidak ada racunnya kan?"
Bagaimanapun aku melihatnya, tindakan yang dia lakukan terlalu mencurigakan. Pasti dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik.
"Aku memberikan ini bukan karena aku perduli padamu! Tapi untuk kepentinganku sendiri! sekarang cepat makan dan berhenti malas-malasan!"
Dengan kasarnya, dia menjejalkan roti yang masih belum bisa kucapai ke mulutku, membuatku tidak bisa mengeluarkan suara apapun kecuali awawaawawawa layaknya orang yang diculik dan dibekam mulutnya. Aku sudah tahu tapi, aku akan tetap bilang. Gadis ini benar-benar sadis.
Semua rasa marah, sebal, dan gerutuanku kutelan paksa bersamaan dengan roti yang Hyuuga jejalkan ke mulutku. Untuk sementara aku akan menggunakan selogan 'semua ada hikmahnya' pada kejadian tadi, meski memang caranya tidak bisa dibilang baik. Tapi dengan roti yang dia berikan itu, aku bisa bertahan sampai jam pulang sekolah tanpa harus menahan rasa tersiksa di perutku karena lapar. Yah, mungkin nanti aku harus berterima kasih padanya.
Setelah pelajaran jam terakhir selesai, aku langsung keluar kelas secepatnya dengan maksud meninggalkan Hyuuga. Tapi, sesuai dugaanku dia sama sekali tidak rela dan berhasil mencegatku di depan gerbang. Padahal aku yakin kalau dia masih di kelas saat aku ke luar, tapi entah bagaimana caranya dia malah sudah sampai di luar duluan. Dan, tanpa diminta dia berjalan di sampingku.
Dengan alasan, tidak bisa membiarkanku malas-malasan. Dia menemani perjalanan pulangku di bawah langit siang yang terasa tidak panas.
"Hay Hyuuga, apa tidak lebih baik kau pulang duluan saja? sepertinya akan hujan."
Dari langitnya yang sudah gelap seakan jam enam sore, aku bisa menebak kalau mungkin hari ini akan hujan. Dan, tentunya bukan hujan biasa tapi hujan yang sangat deras.
"Maksud mengusir terselubungmu itu kelihatan sangat jelas! kalau kau memang benar-benar peduli padaku jalan yang cepat agar aku tidak kehujanan!"
Kalau aku melanjutkan pembicaraan ini ada kemungkinan besar kalau ujung-ujungnya kami akan berdebat, dan kalau aku sudah berdebat dengannya tidak mungkin aku bisa menang. Lagipula, kalaupun dengan ajaib aku menang berdebat dengannya, dia hanya akan meninju mukaku kalau sudah terpojok. Kesimpulannya, melanjutkan pembicaraan tidak ada gunanya.
"Aku tidak bawa payung, jadi kalau hujan. . . . . . . ."
Entah karena kata-kataku itu adalah mantra sihir atau ini yang namanya kebetulan yang benar-benar kebetulan. Saat aku bilang 'hujan' tiba-tiba hujan benar-benar turun dengan derasnya..
Berhubung tempat di mana kami sedang berada adalah kawasan perumahan orang-orang kaya yang tempat tinggalnya ada di belakang pintu gerbang terkunci, tidak ada satupun bangunan atau benda yang cukup besar untuk bisa kami gunakan sebagai tempat berteduh. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menaruh tasku di atas kepala dan mulai berlari. Lagipula rumahku tinggal satu kilo lagi dari sini, kalau lari kami cukup cepat harusnya dalam beberapa menit kami sudah sampai di sana.
"Kau juga harus lari kalau tidak mau sakit!"
"A..."
Kalau paginya dia yang menariku ke sekolah, kali ini aku yang menariknya berlari ke rumahku. Ya, aku menggandengnya di bawah guyuran hujan yang sangat deras. Kalau aku disaksikan dari TV mungkin akan ada yang bilang kalau keadaan seperti itu kelihatan romantis, tapi setelah merasakannya sendiri mereka mungkin akan mengganti komentarnya. Semua ini benar-benar merepotkan.
Dalam hitungan menit, kami berdua bisa sampai ke rumahku. Ya, kami berdua. Tanpa sadar, aku juga ikut membawa si Hyuuga yang basah kuyup masuk ke dalam rumahku.
Tentu saja bukan hanya dia yang basah kuyup, keadaanku juga sama saja malah bisa dibilang lebih parah. Gara-gara cipratan air hujan pakaianku jadi kotor di sana-sini, dengan begini kalau aku tidak mau tugas hari mingguku bertambah banyak saat mandi aku harus sekalian mencuci pakaianku.
Hampir saja aku lupa menyebutkan satu hal.
Sampai lima detik yang lalu aku selalu berpikir kalau selain punya sifat anak-anak dia juga punya badan yang sama dengan anak-anak, dengan kata lain tidak menarik secara seksual. Tapi pikiranku itu hilang seketika saat aku melihat seragam Hyuuga yang basah. Gara-gara air hujan, seragamnya jadi menempel erat ke tubuhnya dan menunjukan lekuk-lekuk serta bagian-bagian yang tidak bisa dipungkiri menarik perhatianku.
Kulit mulusnya sekelas bayinya itu entah kenapa sekarang jadi terlihat agak berkilau terkena sinar lampu, dan sebab bajunya menempel pada badannya aku juga bisa melihat dengan jelas lekukan pinggang serta tonjolan kecil di bagian dadanya yang kelihatan lembut untuk dipegang.
Ukurannya memang kecil tapi dengan ukuran tubuhnya yang juga kecil, semuanya jadi kelihatan serasi dan indah.
"Apa yang kau lihat?"
Gadis itu menyilangkan kedua lengannya di atas dadanya lalu mencoba membelakangiku. Aku tidak tahu persis sudah berapa lama aku menatapinya, tapi sepertinya waktu yang tidak kuketahui itu sudah cukup untuk membuat Hyuuga sadar kalau mataku sedang melihat ke arah mana.
"A... aku tidak melihat apa-apa"
Ini pertanda buruk. Pembelaanku tidak mungkin dia terima.
"Apanya yang tidak melihat apa-apa!?."
Akhirnya aku dipukulnya sampai merasa benar-benar akan hilang ingatan.
Tidak lama setelah aku dihajar dan jatuh ke lantai, kedua kakakku datang dan mengisolasi Hyuuga di kamar mandi. Dan, seakan tidak pernah terjadi apa-apa, Hyuuga yang sejak pagi menghindari kedua kakaku memilih duduk di sampingku saat makan malam. Awalnya dia tidak mau dan memaksa pulang, tapi kak Sakura memaksa dan akhirnya dia mau makan malam di rumah kami. Cuma sekedar informasi, makan malam kami adalah mie instant.
Aku harap jangan ada yang meniru kebiasaan makan kami, sebab terlalu banyak makan mie instan tidak baik untuk kesehatan.
Kedua kakakku mencoba mengajaknya mengobrol tapi Hyuuga tidak terlalu koopertif dan malah menyampaikan berbagai macam alasan agar dia boleh segera pulang. Lalu, setelah jam setengah tuju keinginannyapun terkabul.
"Kakakku menyuruhku mengantarmu pulang apa rumahmu jauh dari sini?"
Meski hubungan kedua kakakku dengan Hyuuga tidak bisa dibilang terlalu baik, tapi mereka itu orang yang tidak bisa membiarkan seorang gadis lima belas tahun berjalan di tengah jalan yang gelap sendirian saja. Meski aku berpikir kalau sebenarnya kekhawatiran mereka itu tidak perlu dan menjelaskan kalau si Hyuuga itu bisa menjaga dirinya sendiri, tapi mereka tetap memaksaku mengantarnya pulang.
"Jangan repot-repot aku bisa pulang sendiri!"
"Kalau begitu syukurlah aku tidak perlu repot-repot mengantarmu!"
Dia kembali memukul kepalaku setelah mendengar jawabanku. Meski kali ini pukulannya tidak terlalu keras tapi masih terasa sakit.
"Kenapa kau ini?"
Apa dia tidak punya cara normal untuk berbicara dengan seseorang.
"Jangan banyak tanya! Kau itu senang sekali malas-malasan? Sekarang antarkan aku pulang untuk mendisiplinkan diri!"
Dia bilang tidak mau diantar, dia bilang tidak suka berjalan denganku, tapi kontras dengan semua kata-katanya dia malah tersenyum-senyum sepanjang perjalanan seakan hal yang membahagiakan baru saja terjadi.
Malam itu setelah aku mengantar pulang Hyuuga, aku baru sadar akan sesuatu yang harusnya kuperhatikan dari awal. Saat Hyuuga sudah masuk ke dalam rumahnya dan aku ingin melangkahkan kaki pergi dari tempat itu, aku tidak tahu harus berjalan ke mana, aku tadi datang dari mana, dan aku ini ada di mana?
Dua jam kemudian aku baru sampai di rumah karena tersesat.
