We'd Fight For You

Cast: Suho/Chanyeol/Sehun/ EXO [OT9]

Genre: Hurt/Friendship

Sumamary: Dadaku berdetak dengan cepat. Saat aku semakin meyakini aku mengenali sosok itu. Sosok dengan pakaian serba hitam dan hanya menggunakan hoodie hitam tipis sebagai penghalau dinginnya udara pagi ini.

Dia adalah orang yang aku cari saat ini. Orang yang sangat ingin aku temui saat ini.

Junmyeon hyung…

...

Salju turun dengan lebat di kota Seoul pagi itu. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalanan kota Seoul dengan cuaca seperti itu.

Kecuali satu orang. Seorang pria muda yang terlihat masih berusia dipertengahan duapuluhan. Berambut cokelat muda terang berantakan. Dia berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah berat. Hanya dengan memakai baju turtle neck hitam dan hoodie hitam tipis membalut tubuhnya, ia terus berjalan tanpa memperdulikan udara dingin kala itu.

Beruntung saat itu masi sangat pagi. Dia tidak akan khawatir jika ada orang yang mengenalinya karena belum banyak orang bahkan nyaris tidak ada orang yang berpapasan dengannya. Atau bahkan dia tidak peduli jika ada yang mengenalinya sekalipun.

Dia berjalan terus tanpa tujuan yang pasti. Ia hanya berjalan kemana kakinya melangkah membawanya. Hingga di sebuah taman ia berhenti. Dia masih menunduk di depan sebuah ayunan. Perlahan ia mengangkat tangan kirinya yang sudah sangat merah karena kedinginan. Dia memegang besi penyanggah ayunan tersebut. Suhu dingin yang menjalar dari besi-besi itu hingga ketangannya pun sudah tidak ia rasakan lagi.

Dia terdiam hingga beberapa saat. Hingga bahunya yang turun lemah sedari tadi bergetar dan terlihat bulir-bulir air mata turun dari kedua matanya dan membasahi pipinya yang sudah memucat dan bibirnya yang sudah membiru.

Perlahan tubuhnya merosot. Dia terduduk lemah di depan ayunan tersebut masih dengan kepala menunduk dan menangis. Tidak ada raungan keluar dari bibirnya. Hanya sesenggukan lemah terdengar dan terbawa angin yang semakin kencang berhembus.

Tangan kanannya yang sedari tadi terjatuh lemah disisi tubuhnya terkepal dan ia taruh diatas pahanya yang hanya terbalut celana bahan hitam yang tak kalah tipis dengan pakaiannya.

"Mianhae… Mianhae…" Perlahan terdengar suara lemah dari bibirnya yang semakin bergetar karena tangis dan udara dingin.

Kata-kata tersebut terus terulang. Suaranya lemah, bergetar, dan menyiratkan begitu banyak luka dan. kelelahan. Jika ada yang mendengarnya, mereka akan merasakan jutaan kesedihan dibalik suaranya itu.

Salju semakin lebat turun. Hampir seluruh tubuhnya kini tertutupi salju. Buih-buih asap putih pun semakin terlihat jelas keluar dari setiap helaan napasnya. Tetapi ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya untuk mencari tempat yang lebih hangat.

...

Sehun POV

Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang tidak enak mengganjal dihati ku. Awalnya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak pernah merasakan perasaan sesedih dan sesepi ini. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam hatiku.

Hingga akhirnya aku menemukan sebuah buku bersampul cokelat di atas meja hyungku, Junmyeon hyung.

Awalnya aku tidak begitu tertarik untuk mengambil buku tersebut. Aku tahu itu adalah buku pribadi milik Junmyeon hyung. Dan seharusnya aku tidak berhak melihatnya. Itu bukan hal yang akan disukai oleh Junmyeon hyung. Ia akan marah kalau tahu aku melihat privasinya.

Tetapi entah mengapa hatiku yang paling dalam menyuruhku untuk mengambil buku yang agak terbuka itu. Beberapa saat aku mengalami perang batin dengan diriku sendiri. Saat akal sehatku melarang ku untuk mengambilnya, tetapi hatiku mengingankan aku untuk mengambilnya.

Akhirnya hati kecilku lah yang menang. Perlahan aku mengambil buku tersebut. Aku membawanya kembali ke kasurku. Dan aku mulai membaca setiap kalimat yang tertuang di atas kertasnya. Aku membacanya dengan seksama. Tidak inginku kehilangan arti dari setiap katanya.

Setelah aku selesai membacanya, kedua tanganku seperti kebas. Buku tersebut jatuh begitu saja dari kedua tanganku. Hatiku terasa perih setelah membacanya. Aku terdiam sesaat, meresapi kembali isi dari tulisan yang baru saja aku baca. Hati ku sesak. Aku ingin menangis, tetapi tidak setetespun air mata mampu aku keluarkan. Aku ingin berteriak, tetapi aku seperti tidak dapat menemukan suaraku sendiri. Kehampaan itu semakin terasa. Rasa kehilangan itu semakin nyata.

Hingga akhirnya aku merasa, aku kembali menemukan sedikit tenagaku dan suaraku. Hal pertama yang bisa aku lakukan adalah berteriak memanggil semua hyungku yang ada di dorm. Dan aku berjalan, nyaris berlari menuju ruang TV kami. Kyungsoo hyung menjadi yang pertama menghampiriku. Saat aku melihatnya, aku seperti melihat tumpuanku. Aku merengkuh tubuh kecilnya kedalam pelukanku. Aku menangis. Menumpahkan semua air mata yang sedari tadi tidak dapat aku keluarkan.

Semua bertanya mengapa aku menangis. Tetapi aku tidak mampu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku bingung harus mengatakan bagaimana kepada mereka semua. Aku bingung harus memulainya darimana.

Minseok hyung mengambil alih tubuhku dari pelukan Kyungsoo hyung. Ia membawaku menuju sofa kami. Dia menenangkanku dengan membela lengan dan kepalaku. Aku sedikit merasakan ketenangan darinya. Dari hyung tertuaku. Dan semua mulai mengitari kami. Semua menatapku penasaran. Dan aku kembai kekamar untuk mengambil buku yang tadi aku jatuhkan. Meminta Jongdae hyung untuk membacakan isinya.

Setelah semua mengerti apa yang terjadi, mereka semua terdiam. Termasuk aku juga. Kami semua seperti kehilangan akal kami. Tidak ada seorang pun yang memulai untuk mengatakan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian suara sesengkukan lirih mulai terdengar. Sedari tadi kami semua menangis dalam diam.

Dan akhirnya suara berat Chanyeol hyung memecahkan keheningan kami. "Kita harus mencarinya…"

Dan Baekhyun mengangguk, membenarkan perkataan Chanyeol hyung. Dia menghapus airmatanya. "Iya… Kita harus mencarinya. Kita tidak boleh membiarkannya pergi" Ujarnya mantap meski ada getaran kesedihan terdengar disana.

Aku seperti menemukan kembali sedikit semangatku dan keyakinanku setelah mendengar perkataan mereka. "Aku hanya ingin Junmyeon hyung menjadi pemimpinku. Bukan yang lain. Kita harus mencegahnya meninggalkan kita" Ujarku.

Ya … Aku hanya ingin Junmyeon hyung seorang. Dia adalah yang terbaik. Aku tahu itu. Aku harus menmukannya dan mengatakan, jika apa yang ia katakana adalah salah. Ia tidak lemah. Ia tidak gagal. Dia adalah yang terkuat diantara kami. Bukan kuat hanya secara fisik. Tetapi hati. Hatinya adalah yang terkuat. Dan karena dia kami masih bisa ada dipuncak tertinggi seperti saat ini. Dia sudah sangat melindungi kami selama ini. Dia selalu dapat menunjukan kami jalan yang benar yang harus kami lalui, untuk menuju kesuksesan kami.

Sekarang adalah waktunya bagi kami untuk mengembalikan dia kesemangatnya yang telah hilang. Harus menumbuhkan kembali semangat dan percaya dirinya, seperti yang telah ia lakukan selama ini kepada kami. Ini adalah waktunya bagi kami untuk membalas semua kerja keras dan kebaikannya. Waktunya bagi kami berjuang untuk dirinya. Dan waktu bagi kami untuk melindunginya. Melindungi mimpinya yang juga adalah mimpi kami.

Junmyeon hyung… Jangan pergi… Tunggu kami. Kami akan membawamu kembali pulang.

Sehun POV END…

...

Author POV

Mereka semua berpencar. Ada yang menuju gedung SM, ruang latihan mereka, dorm para sunbaenim, rumah teman Junmyeon yang mereka tahu, sungai han, lapangan basket tempat mereka biasa menghabiskan waktu untuk bermain basket disaat mereka belum seterkenal saat ini, café tempat mereka sering mengobrol santai dulu, dan taman yang sering mereka kunjungi bersama Junmyeon saat masih training dulu.

Baekhyun POV

Pagi ini adalah pagi terburuk dalam hidupku. Lebih buruk daripada saat aku mendengar ketiga temanku pergi meninggalkan group kami.

Orang yang aku percayai sangat kuat selama ini. Orang yang aku selalu jadikan tempat sandaraan saat aku mengalami masa-masa sulit. Orang yang selalu aku jadikan panutan semangat dan kerja kerasnya. Ia mendadak menghilang dari dorm kami dengan meninggalkan sebuah tulisan yang begitu menyayat hati kami.

Aku merasa bodoh karena selama ini tidak pernah menyadari jika dirinya sangat rapuh. Lebih rapuh dari kami. Selama ini kami semua, dan aku yang paling utama, selalu memberinya beban karena ulah kami. Aku sering membuatnya susah. Karena kebodohanku yang tidak dapat memahami kesulitannya.

Aku bodoh karena tidak dapat merasakan kesedihannya dan beban berat yang ia pikul sendirian. Aku harusnya menyadari sejak awal. Dia pemimpin kami. Sudah pasti ia yang paling berat menghadapi ini semua daripada kami. Kesedihan dan kesulitan kami tidak sebanding dengan dirinya.

Ia selalu membantu kami disaat kami ada didalam masa-masa sulit. Ia selalu menyemangati kami dan membantu kami memikul beban kami. Tetapi saat ia sendiri yang mengalami itu semua, siapa dari antara kami yang membantunya? Tidak ada… Dia sama sekali tidak membagi beban nya kepada kami. Ia selalu tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Dan kami dengan begitu mudahnya mempercayai senyumannya.

Jika kami mau lebih peka, di dalam sorot matanya terdapat begitu banyak luka, keletihan, dan beban yang terpancar. Di dalam senyumnya, ada kegetiran dan kepalsuan di sana. DI setiap hela napasnya ada kelelahan yang sangat teramat terasa.

Tetapi kami terlalu mementingkan dan memikirkan diri kami sendiri sehingga kami tidak dapat merasakannya.

Ia tidak akan membagi kesulitannya kepada kami. Dia tidak akan menceritakan masalahnya kepada kami. Dia tidak akan menunjukan lukanya kepada kami. Seharusnya kami tahu itu dan kami menyadarinya. Kami seharusnya dapat melindunginya seperti apa yang ia lakukan kepada kami selama ini.

Dan saat ini dia telah menghilang. Dia pergi begitu saja. Ia pergi begitu saja dan hanya meninggalkan sebuah tulisan yang sangat menyayat hati kami.

Kami sekarang mencarinya. Dan ingin membawanya kembali kepada kami. Kami semua hanya menginginkannya yang memimpin kami. Hanya ia yang dapat. Tidak orang lain. Hanya Kim Junmyeon, pemimpin kami satu-satunya. Bukan orang lain, bukan siapapun.

Baekhyun POV END

...

Author POV

Baekhyun pergi menggunakan mobilnya menuju dorm Super Junior. Dia berharap Junmyeon ada di sana mengunjungi Jungsoo ataupun Kyuhyun. Sunbaenim yang lumayan dekat dengan Junmyeon.

"Ada apa kamu pagi-pagi ke sini, Baekhyunie?" Tanya Ryeowook yang membukakan pintu untuk Baekhyun dan mempersilahkannya masuk.

"Apa Junmyeon hyung ada di sini, hyung?"

Ryeowook mengrenyitkan dahinya. "Junmyeon? Tidak… Dia tidak ada di sini" Ujar Junmyeon.

Tatapan mata Baekhyun yang tadi penuh harap, mendadak meredup begitu mendengar jawaban dari Ryeowook.

"Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini, Wookie-ya?" Sesosok pria cantik datang dengan penampilan berantakan, khas orang baru bangun tidur.

Heechul, orang tersebut, menguap dan kemudian ekspresinya menatap aneh Baekhyun yang berdiri di ruang depan bersama dengan Ryeowook.

Baekhyun membungkuk, member salam kepada Heechul, hyung di Super Junior yang lumayan dekat dengannya. "Annyeonghaseyo, hyungnim. Maaf mengganggu kalian pagi-pagi seperti ini"

"Ada apa, Baekkie?" Heechul mengabaikan permintaan maaf Baekhyun dan langsung bertanya.

"Junmyeon hyung mendadak menghilang pagi ini. Dan kami sedang mencarinya" Ujar Baekhyun.

"Junmyeon? Menghilang? Pagi-pagi bersalju seperti sekarang?" Heechul Nampak heran, Ryeowook pun begitu namun ia hanya diam saja.

Baekhyun menganggukan kepalanya. "Iyaa hyung. Pagi ini Junmyeon pergi dan menghilang begitu saja tanpa membawa mantel, handphone ataupun dompetnya. Kunci mobilnya pun masih ada di kamarnya. Kami tidak tahu dia kemana. Saat ini kami semua sedang mencarinya"

"Siapa yang menghilang? Aku mendengar nama Junmyeon di sebut" Tiba-tiba seseorang mengintereupsi mereka. Dan bukan hanya seseorang yang ternyata telah ada di sekitar mereka. Tetapi beberapa orang.

Kyuhyun, orang yang tadi menginterupsi mereka, menatap ketigaknya meminta penjelasan. Junmyeon adalah seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Karena mereka sudah dekat sejak masih sama-sama training, meski Kyuhyun hanya sebentar mengalami masa training.

Mendengar nama Junmyeon di sebut dan mendengar sedikit penjelasan Baekhyun tadi, ia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.

"Junmyeon katanya menghilang dari dorm tanpa membawa apapun. Dan Baekhyun mencarinya kemari. Ia kira Junmyeon ada di sini" Ujar Ryeowook yang sedari tadi hanya dia mendengar penjelasan Baekhyun.

"Kenapa ia tiba-tiba menghilang? Apa kalian ada masalah atau bertengkar dengannya?" Tanya Jungsoo, pemimpin Super Junior dengan lembut dan penuh charisma kepemimpinannya.

Baekhyun sekilas seperti melihat diri Junmyeon dari cara bicara Jungsoo. Walau tidak mirip 100%, tetapi ada sedikit kemiripan dari kelembutan dan jiwa pemimpin mereka.

"Tidak hyung. Semalam kami kembali dari gedung SM untuk membicarakan tentang album natal terbaru kami. Dan kami semua langsung tidur sesuai dengan perintah Junmyeon hyung. Tetapi pagi tadi kami dikejutkan dengan menghilangnya dia tanpa petunjuk apapun dan meninggalkan semua barangnya di dorm. Hanya sebuah buku yang Sehun temukan, yang merupakan buku Junmyeon hyung yang menjadi petunjuk kami" Ujar Baekhyun. Matanya kembali memanas mengingat setiap kalimat yang ditulis oleh Junmyeon.

Jungsoo mendekati Baehyun dan mengusap pelan bahunya untuk member ketenangan untuk Baekhyun. Ia dapat melihat, ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi berkaitan dengan apa yang Junmyeon tulis dibuku tersebut.

"Apa yang ia tulis dibuku tersebut?"

Baekhyun menghela napas pelan dan mulai berbicara. "Ia meminta maaf kepada kami. Dia bilang dia telah gagal memimpin kami. Dia ingin pergi melepas mimpinya demi melindungi mimpi kami. Dia ingin pergi meninggalkan kami dan berharap kami menemukan orang lain untuk memimpin kami"

Tangan Baekhyun terkepal dengan erat dikedua sisi tubuhnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan, perlahan mengalir turun membasahi pipinya. Jungsoo yang melihatnya dengan jelas, langsung memeluk Baekhyun dan memberikan ketenangan dengan mengusap kepala Baekhyun.

"Dia pergi, hyung. Junmyeon hyung ingin pergi meninggalkan kami seperti mereka yang sebelumnya meninggalkan kami. Tetapi ia pergi bukan karena ia terluka. Ia pergi karena kami. Kami yang membuatnya pergi, hyung. Kami ingin dia kembali. Kami tidak ingin orang lain memimpin kami menuju mimpi kami. Hanya Junmyeon hyung yang kami inginkan…" Baekhyun menangis sesenggukan dipelukan Jungsoo.

Member Super Junior yang lain hanya terdiam. Air mata mereka telah mengalir. Tanpa sesenggukan ataupun isakan, mereka menangis. Mereka mengerti perasaan kehilangan. Karena mereka juga pernah kehilangan beberapa anggota mereka. Tetapi mereka masih memiliki Jungsoo yang masih memimpin mereka. Mereka tidak tahu bagaimana jadinya jika Jungsoo juga pergi meninggalkan mereka. Mereka akan sama hancurnya sepert Baekhyun yang ada di hadapan mereka saat ini.

"Aku ingin Junmyeon hyung kembali. Aku ingin dia kembali bersama kami. Aku ingin Junmyeon hyung,ku…"

...

Chanyeol POV

Aku berkeliling kesemua tempat yang pernah aku kunjungi bersama Junmyeon hyung. Tetapi Junmyeon hyung tidak ada dimana pun.

Hingga aku lelah. Aku menghentikan mobilku di pinggir sebuah taman. Aku ingat taman ini. Dulu kami sering menghabiskan waktu kami menghilangkan lelah kami setelah berlatih. Dulu Junmyeon hyung adalah mentor kami. Beberapa dari kami telah dipimpin Junmyeon hyung sejak masa training. Karena dia yang paling lama diantara kami masa trainingnya, pelatih kami mempercayainya menjaga dan membimbing kami.

Dulu dia sangat kurus. Sekarang pun masih kurus. Tetapi tidak sekurus dulu. Dia orang yang aku kenal berlatih dengan sangat keras. Dia menghabiskan lebih banyak waktu untuk berlatih dibandingkan kami semua. Kami semua mengira ia akan didebutkan bersama dengan SHINee sunbaenim.

Tetapi saat SHINee sunbaenim terbentuk, ia ternyata tidak juga didebutkan. Aku kira ia akan menyerah saat itu. Ternyata tidak. Ia menerima itu semua dengan lapang dada. Ia tetap berlatih dengan keras, meskipun tidak ada tanda-tanda management kami akan segera mendebutkan dirinya.

Jika aku menjadi dirinya, aku sudah pergi sedari dulu meninggalkan masa pelatihan yang sangat keras dan melelahkan itu. Aku akan sangat kecewa jika aku tidak juga didebutkan padahal aku sudah berlatih dengan sangat keras.

Awalnya aku tidak mengerti mengapa Junmyeon hyung tetap berlatih tanpa mengenal lelah hanya demi cita-cita yang terlihat seperti sudah mustahil ia raih. Tetapi melihat semangatnya, aku akhirnya merasa semangat juga. Dan aku memiliki mimpi baru selain menjadi bintang. Aku bermimpi untuk menjadi bintang terkenal dan berada di puncak bersama dengan orang ini. Dengan orang yang telah begitu banyak memberikan aku inspirasi dan semangat. Aku bermimpi untuk dipimpin terus olehnya. Oleh Kim Junmyeon, seseorang yang telah aku anggap seperti hyung bagiku sendiri.

Dan saat akhirnya aku debut, betapa senangnya aku, ternyata mimpiku menjadi nyata. Aku didebutkan bersama dengan dirinya. Kami berada di group yang sama, EXO. Bahkan kami berada di sub group yang sama, EXO K. Dan dia menjadi pemimpin ku. Dan kami benar-benar berada di puncak bersama. Aku menerima banyak penghargaan bersama dengan EXO, dan dengan dirinya sebagai pemimpin kami.

Saat kami jatuh karena tertimpa begitu banyak masalah disaat seharunya kami merasakan titik tertinggi kami sebagai sebuah group, aku merasakan rasa sangat putus asa untuk pertama kalinya di dalam hidupku. Disaat kami semua terluka dan terpuruk, hanya satu orang yang masih mampu berdiri mewakili kami semua menghadapi semuanya dan melindungi kami sekali lagi. Dan ia adalah Junmyeon hyung.

Aku kembali tidak mengerti dengan dirinya. Mengapa ia masih bisa tersenyum meski aku tahu itu adalah senyum terpaksa. Mengapa ia masih bisa berdiri seperti itu di atas panggung itu. Kami semua tidak ada yang berani naik keatas panggung dan bertemu dengan penggemar kami. Tetapi dia, seorang diri, berdiri disana mewakili kami semua dan mengatakan kami baik-baik saja walau sebenarnya kami tidak baik-baik saja.

Dia kembali menjadi panutanku sekali lagi. Aku semakin mengagumi dirinya. Dia yang kecil dan lebih kurus dariku, mampu menjadi lebih kuat dan tegar dibandingkan denganku. Dia yang selalu di cela karena dianggap tidak memiliki bakat apapun dan gagal menjaga keutuhan kami, tetap mampu berdiri menghadapi semua itu seperti semuanya bukanlah sebuah masalah yang harus ditakuti. Aku sangat salut dengannya. Aku kembali mencontoh semangatnya. Dan aku berjanji, aku akan melindunginya seperti ia melindungi kami.

Tetapi aku gagal. Aku ternyata tidak begitu mampu melindunginya. Aku sekarang kehilangannya. Kehilangan sosok yang menjadi panutanku. Sosok yang menjadi tujuanku. Orang yang selalu aku kagumi. Hyungku, yang sangat aku sayangi. Aku kehilangannya saat ini. Dan aku merasa sangat putus asa karena tidak dapat menemukannya.

Duk…

Aku memukul stir mobilku dengan sangat keras. Aku eratkan kedua tanganku hingga memerah. Aku membanting kepalaku kedepan, membentur kedua kepalanku. Aku menangis putus asa. Menangisi kebodohanku dan ketidak pekaanku.

"Aaaaaaaaaaaa" Aku berteriak. Meluapkan segala emosiku yang bertumpuk di dadaku. Rasa ini lebih sesak dibandingkan sebelumnya.

Saat kehilangan ketiga temanku yang lain, aku merasa sedih. Tetapi saat itu ada Junmyeon hyung yang membantuku menghilangkan rasa sedih itu dan kembali membangun semangatku. Tetapi saat ini aku kehilangan dirinya. Dan aku tidak tahu siapa yang dapat menghilangkan rasa sedih dan sesak ini. Ini rasanya jauh lebih sesak dari sebelumnya. Dan aku merasa ratusan kali lebih sedih disbanding sebelumnya.

Aku menangis sesenggukan sendiri sekarang. Aku seperti kehilangan arah. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi untuk mencarinya. Aku sudah pergi kesemua tempat tetapi aku tidak menemukannya.

Tetapi aku tidak boleh menyerah…

Sesaat, aku kembali menemukan semangatku. Aku menumpuk lagi harapanku untuk menemukannya. Aku kembali semangat untuk membawanya kembali kepada kami semua. Cukup aku kehilangan untuk tiga kali. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Apalagi kehilangan dirinya. Kehilangan Junmyeon hyung, satu-satunya orang yang aku akui dan aku ingini menjadi pemimpinku menuju impian ku.

Aku kembali menatap kedepan. Dan bersiap untuk melajukan kembali mobilku.

Hingga aku melihat orang yang bersimpuh ditengah taman, dibawah hujan salju yang lebat. Aku memicingkan mataku, berusaha melihat sosok itu. Hatiku mengatakan aku mengenal orang tersebut.

Deg… Deg… Deg…

Dadaku berdetak dengan cepat. Saat aku semakin meyakini aku mengenali sosok itu. Sosok dengan pakaian serba hitam dan hanya menggunakan hoodie hitam tipis sebagai penghalau dinginnya udara pagi ini.

Dia adalah orang yang aku cari saat ini. Orang yang sangat ingin aku temui saat ini.

Junmyeon hyung…

.

.

.

TBC

Hai... Aku kembali ^^ aku membawa chap baru untuk cerita ini...

Terimakasih atas semua dukungan kalian semua melalui review-nya. Aku merasa semangat untuk melanjutkan cerita ini.
Semoga chap ini tidak mengecewakan kalian semua.

Dan aku harap kalian mau kembali me-review ceritaku ini...

Maaf aku tidak dapat menyebutkan satu-persatu yang telah memberikan aku masukan positif dan menyemangatiku.

Aku sangat-sangat berterimakasih kepada kalian.

Nantikan kelanjutan cerita ini. Dan aku berjanji akan segera melanjutkannya.

Maaf jika banyak typo, aku tidak sempat mengeditnya karena aku tidak sabar untuk meng-publishnya. hehehe...

Sekian dan sekali lagi terimakasih banyak semuanya... ^^