Angkasa yang Berselimut Awan

Words Count: 630

Rating: K+, for this chapter.

Genre: romance, for this chapter.

Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn! milik Amano Akira

Warnings: Shounen-ai, (maybe) OOC, (maybe) typos, judul nista, drabble di dalam drabble. uwu

Special for: 1827 Month


Day 4Holding Hands


"Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring."

- Dewi Lestari


Sebuah pegangan tangan selalu memiliki arti tersendiri—


Kau adalah orang yang ia cintai. Sosok yang pernah memberikan warna di hari-harinya yang sepi. Apa yang ada di hatinya mungkin tak akan pernah orang lain ketahui. Ada satu hal, akan tetapi, yang akan memberikanmu kunci untuk membaca hatinya yang orang lain tak ketahui.

Ia dapat dikatakan jenius, kau tahu? Meskipun ia selalu membisu, kepintarannya bukanlah sesuatu yang dapat kau tanggapi dengan ragu-ragu. Kepossessiveannya juga tidak membantu, hanya membuat masalah baru. Maka dari itu, akan kuberi tahu semua arti dari tindakannya yang tampaknya tak memiliki arti apapun.


Aku merasa nyaman di sisimu.

Musim dingin. Kalian berjalan berdua, menembus dinginnya malam yang menusuk tulang. Yang lain telah bersembunyi, menghabiskan waktu di depan perapian sambil menghangatkan raga.

Tangan kalian berpautan, dengan tangannya berada di atas tanganmu. Kau dan ia sama-sama kedinginan. Sama-sama ingin secepatnya tiba di tujuan. Meski begitu, kau merasa nyaman. Genggaman tangannya memberikanmu kehangatan. Genggaman tangannya memberikanmu kekuatan. Di wajahmu, terlukiskan sebuah senyuman.

Kau tahu? Senyuman itu akan selalu menjadi hal yang dipikirkannya hingga ia ketiduran. Kau tahu? Genggaman itu mengatakan bahwa ia merasa nyaman di sisimu dalam berbagai keadaan.

Aku menyanyangimu, kamu milikku.

Kau melesat cepat, sedangkan ia tetap berdiri di tempat. Seolah kedua kakinya tak dapat lagi dia angkat, seolah kelumpuhan telah memegang kakinya dengan erat.

Kau meneriakkan namanya, melambaikan tanganmu untuk menarik perhatiannya. Berhasil. Diangkat kepalanya, matanya menatapmu lurus dengan kehangatan yang berada di sana. Teriakanmu yang memanggil namanya berhasil membuatnya bergerak.

Tanganmu segera digenggamnya. Jari tangan kalian berpautan. Erat, kau merasa hangat. Erat, mungkin terlalu kuat, meski kalian tetap seiring. Siapa peduli? Yang penting kalian bersama. Karena memang begitu adanya kalian, tak ada yang mempertanyakan atau menghiraukan. Kalian selalu menikmati waktu berdua, apapun kondisinya. Mencintai satu sama lain apa adanya, menyayangi kekurangan yang ada.

Ah, cinta. Masih berupa misteri mengapa emosi itu ada. Saat kau dilanda cinta, dunia ini tampak tak ada artinya bila orang yang kau cinta tak ada. Perasaan ini mencandukan. Kau tak akan pernah mengerti mengapa kau menikmati siksaan perasaan ini. Kau hanya mengetahui bahwa perasaan itu ada di hati, bahwa kau menikmati fakta bahwa orang yang kau cintai berada di sisi.

Semua orang mengetahuinya. Kau mencintainya, menyanyanginya, mungkin rela mati baginya. Kau miliknya. Begitu juga dia, karena itu arti pegangan tanggannya sekarang.

Dan begitu seterusnya. Menikmati senja berdua dengan tangan yang saling berpautan.

Aku ada di belakangmu untuk selalu mendukungmu.

Rasa takut itu ada. Rasa takut itu memenuhi dada. Jangan mencoba mengatakan tidak, ia mengetahuinya. Kau ketakukan. Perasaanmu berantakan. Tubuhmu mencoba melukis sebuah senyuman, tapi kau tak mampu melakukannya. Kau mencoba tegar, namun kau tetap gusar.

Kau ketakutan. Kau tak percaya. Kau ingin menghilang dari dunia.

"Tsunayoshi," Kau mendengar bisikannya. "Kau menyerah?" Kau mendengar ia bertanya.

Kau ingin menjawab iya. Kau ingin menjadi egois untuk pertama kalinya dan tidak peduli dengan apa-apa. Kau lelah. Kau tidak ingin lagi menghadapi dunia.

Yang keluar bukanlah sebuah isyarat yang mengatakan iya, bukan juga sebuah anggukan kepala.

Tapi sebuah isak tangisan.

"Aku takut, Hibari-san. Aku tidak ingin lagi menghadapi ini semua."

"Kau bukan Tsunayoshi Sawada. Tsunayoshi Sawada yang kukenal selalu menangis, namun tak menyerah."

"Aku tidak yakin aku bisa menjadi Tsunayoshi Sawada lagi."

Kalian berbisik. Air matamu berjatuhan. Pandanganmu buram. Ruangan yang tadinya sunyi kini dipenuhi suara tangisanmu. Kedua bola mata kehitamannya melembut. Kedua tangannya terangkat untuk memegang tanganmu.

"Kau bisa, Tsunayoshi. Akan kubantu kau semampu yang aku bisa."

Tangannya berada di belakangmu sekarang. Tangannya yang lain menghapus air matamu. Matanya menatap lurus matamu dan sebuah senyum terlukis di wajah tampannya.

Kalimat itu bergema di kepalamu. Kau bisa, kau bisa, kau bisa. Kau tersenyum kecil. Senyuman manis yang selalu ada setelah ia menenagkanmu.

Ia adalah bagianmu yang lain, bukan? Sosok seseorang yang akan selalu ada ketika kau membutuhkannya. Ia akan selalu ada untuk mendukungmu, sama seperti arti pegangan tangannya sekarang.


Author's note: Tolong jangan tanya di mana hari kedua dan ketiga. Saya menyerah. Saya terlambat membuatnya, dan ini jadiny. Ini hari keenam, sebenarnya. Oke, saya gak tahu mau beri alasan apa lagi... Well, I'm not a really good writer, you see. Diksi dan gaya penulisan saya mungkin sedikit berubah, mungkin. Saya tidak terlalu yakin ini lebih baik, sih. /lah Doakan saja saya bisa lebih cepat mengupdate, ya? -w-

Tapi meski begitu, boleh saya minta review? :"D

Dan untuk balasan review:

Aoi is Blue: Halo, Aoi-san! Terima kasih banyak karena telah membaca fanfiksi abal ini dan menyempatkan waktu untuk mereview! :D Terima kasih banyak! Saya benaran tidak menyangka akan ada orang yang membaca drabble nista ini. -w- Ini lanjutannya, meski tetap gaje membahana. uwu Semoga Anda suka! :D