Bab 2

Title: The Zing

Pair: Yunjaelah -_-

Genre: Romance, and Fantasy, and many more

Rated: T?

wanr: YAOI, TYPOSSSSS, FANTASY(dikit) agak gaje kalo menurutku hehehe ^_^


Makhluk itu bergerak perlahan di dalam air yang menyelimuti seluruh tubuhnya, kedua mata bulat dan besarnya mengerjap, menyesuaikan cahaya yang menerjang kedua benda sensistif itu, dan kesepuluh jari tangannya bergerak lemah.

Yunho mengangakan mulutnya cukup lebar, bahunya serasa lemas, dan kepalanya terasa kosong sekarang.

Ia yakin Jaejoong akan hidup. Tapi benarkah makhluk itu hidup sekarang?Maksudnya saat ini? Saat ia hanya sendirian, dan sedang diliputi oleh keinginan besar untuk makhluk itu hidup?

Lebih mirip seperti ilusi, daripada sebuah realita.

Kedua mata musang itu tak pernah lepas, dari sesosok tubuh yang berusaha menggerakan kedua tangan dan kakinya, untuk menjangkau area yang lebih luas lagi.

Makhluk tadi memberengut lucu, menyadari tali-tali tipis yang mengikat kedua tangan dan kakinya, membatasi segala pergerakannya. Ia mengedarkan mata segelap malam miliknya ke seluruh penjuru ruangan. Mengedip lucu, saat kedua benda itu bertemu dengan kedua mata musang milik Yunho.

Ia memiringkan kepalanya saat meneliti, makhluk apa yang ada di depannya itu sekarang. Makhluk asing tadi bergerak mendekati kaca setebal 2 inchi di depannya, dan menempelkan kedua tangannya kesana. Ia ingin melihat lebih dekat, ia ingin keluar, dan menyentuh makhluk yang sedari tadi berdiri dan terdiam di depannya itu.

Yunho tersentak saat sosok asing itu melambai kepadanya. Segala perintah juga informasi yang sedari tadi tertahan di otaknya, seakan menerjang organ itu dengan sekali hentakan.

Pemuda tampan itu menolehkan kepalanya ke kanan juga kiri dengan panik! Terlalu banyak hal yang ada di otaknya, membuatnya bingung.

"Aku harus mencari apa? Aku harus mencari apa? Aaaargh!" namja itu berlari mengelilingi seluruh ruangan museum tadi dengan kedua mata yang bergerak liar.

Otaknya memerintahkannya untuk bergerak, dan mencari sesuatu. Tapi ia tidak dapat menemukan apa itu.

Jaejoong hanya diam dan memperhatikan namja yang sekarang bertingkah seperti orang gila, yang berlari kesana-kemari tanpa tujuan. Ia tidak tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Yunho, dan ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Brugh!

Jaejoong melotot kaget saat ia melihat tubuh Yunho yang tersungkur di dekat ambang pintu. Kaki namja itu terantuk oleh kaki meja, membuatnya limbung dan jatuh.

Yunho mengaduh kesakitan. Ia memegang hidungnya yang pasti memerah sekarang, dan meringis kecil.

Pukulan itu membuat otaknya serasa tenang, dan tertata rapi seperti semula. Ia menoleh, dan menatap Jaejoong yang tengah menatapnya dengan khawatir.

Namja itu berdiri, dan berjalan perlahan kearah makhluk air tadi.

"Ini… nyata?" lirihnya.

Sekarang, di depannya. Makhluk yang selama ini menghantuinya, memenuhi pikirannya. Ada di depannya, bergerak, dan menatapnya.

Yunho maju dan menempelkan kedua telapak tangannya ke depan akuarium kaca itu. Rasa dingin yang menjalar dari kaca tebal itu membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi, saat makhluk air tadi merendahkan tubuhnya, dan ikut menempelkan kedua telakan tangannya ke depan tangan Yunho. Membuat seluruh indranya tumpul seketika.

Hanya ada ia, dan Jaejoong.

Apakah kau tahu apa itu Zing? Saat dua orang yang telah ditakdirkan untuk menjadi Zing bertemu pandang. Sebuah kilatan akan tercipta di kedua mata mereka. Kilatan itulah yang akan mengikat hati mereka, dan sebisa mungkin mempertahankannya untuk terus bersama.

Namun Yunho, bahkan sebelum kedua mata mereka bertemu pandang. Ia telah merasakan, bahwa ia dan Jaejoong telah terikat. Dan sekarang, saat kedua bola mata yang besar, dan gelap itu berada tepat di depan wajahnya. Ia tahu, bahwa selamanya ia akan terikat oleh makhluk di depannya ini. Terlepas dari semua perbedaan yang mereka miliki.

"Terima kasih" lirihnya menatap dalam kedua mata Jaejoong.

Sejujurnya, ia ingin sekali menangis dan berteriak bahagia sekarang. Namun entah kenapa, kehadiran Jaejoong menahannya melakukan tindakan bodoh itu. Ia ingin menjaga imagenya di depan makhluk ini.

"A-aku akan mengeluarkanmu!" ia melesat menuju salah satu dari ruangan yang ada di museum itu, dan kembali dengan menenteng sebuah tangga berbentuk A yang besar.

Yunho menggunakannya untuk naik ke atas akuarium tempat Jaejoong berada. Ia melihat sebuah kotak pintu yang berdiagonal 25 inchi di atas penutup berbahan logam berat itu.

Pemuda itu mengeluarkan gantungan berisi kunci-kunci yang sebelumnya telah di titipkan oleh Lee ahjumma padanya kemarin. Ia mencoba semua kunci, yang sekiranya cocok untuk gembok kecil yang terpasang indah di samping pintu itu, dan tersenyum lega saat percobaan ke tujuhnya berhasil.

Pemuda itu menghembuskan napasnya keras, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu di depannya ini.

Sedikit berat untuk posisinya sekarang, sehingga Yunho memutuskan untuk naik ke tangga yang lebih tinggi, dan mencoba untuk membuka pintu logam itu sekali lagi.

Pemuda tampan tadi melongokkan kepalanya dengan hati-hati, saat pintu besi itu telah terbuka sempurna.

"He-hei…" ia meneguk ludahnya kasar, saat melihat Jaejoong yang hanya diam, dan menatapnya dengan kedua mata besarnya dari dalam akuarium itu.

Makhluk tadi mengangkat sebelah tangannya, kemudian mengguncang-guncangkan organ itu ke depan wajahnya.

Yunho mengerti dengan maksudJaejoong. Ia berusaha memberitahunya, bahwa kedua tangannya masih terikat dengan tali tipisitu. Ia merogoh kantungnya, dan menemukan sebuah gunting di sana.

"Err… Ka-kau bisa menggunakan ini" katanya ragu, sebelum menjatuhkan benda tajam itu kedalam akuarium Jaejoong.

Makhluk asing tadi menangkap gunting Yunho dengan gesit. Namun ia hanya terdiam mengamati benda itu.

"Gunakan itu untuk memotong tali di tangan juga kakimu!" seru Yunho yang menyadari kebingungan Jaejoong.

Jaejoong mendongak, kemudian kembali menatap gunting itu dengan tatapan bingungnya. Ia mengerucutkan bibirnya, sejenak kemudian, ia memegang bagian besi dari gunting tadi, dan memukul-mukulkan pegangan gunting itu ke tali yang mengikat tangan kanannya.

Yunho menepuk dahinya , ini kesalahannya. Tentu saja makhluk itu tidak mengerti bagaimana cara menggunakan gunting, tahu apa benda itu saja, mungkin ia tidak.

Namja tampan itu kembali turun dari atas tangga, kemudian melepaskan sepatu, celana panjang, juga kausnya dari tubuhnya.

Yunho melipat bajunya asal, namun gerakannya terhenti, saat ia merasakan Jaejoong tengah menatapnya. Dengan gerakan ragu, ia menoleh, dan melihat Jaejoong yang terdiam, dan kedua mata yang terpaku ke arahnya.

Namja tampan itu dapat merasakan pipinya menghangat berdehem, dan melemparkan bajunya ke kursi tempat ia biasa duduk.

Mencoba menghiraukan tatapan Jaejoong, ia naik kembali ke atas akuarium besar itu hanya menggunakan sebuah celana pendek yang menutupi pahanya saja.

Yunho duduk, dan membiarkan separuh kakinya tenggelam ke dalam air dingin itu untuk beberapa saat. Kemudian menarik napasnya dalam-dalam, sebelum menjatuhkan seluruh tubuhnya ke dalam akuarium setinggi 3 meter itu.

Jelas, ia bisa melihat wajah Jaejoong dengan sangat jelas sekarang. Ia tidak percaya, bahwa makhluk yang biasanya hanya bisa ia tatap dari kejauhan, sekarang hanya berjarak 30 senti meter di depan wajahnya.

Ia berani bersumpah. Jaejoong adalah makhluk terindah yang pernah ia lihat semasa hidupnya. Meskipun sebenarnya, air sedikit mengganggu pandangannya, tapi ia masih bisa melihat wajah Jaejoong dengan jelas.

Yunho berenang turun, dan meraih gunting yang tadi di jatuhkan Jaejoong, saat makhluk itu, ehem, melihatnya lepas baju, ehem.

Dada Yunho berdegup kencang, saat ia hendak meraih tangan kanan Jaejoong. Kulitnya begitu pucat, dan pergelangan tangannya lebih kecil dari yang ia kira.

Yunho benar-benar gugup, ketika ia menggenggam pergelangan tangan Jaejoong untuk membantunya menggunting tali yang mengikat makhluk itu. Ia bakhan bisa merasakan sirip kecil Jaejoong menyentuh telapak tangannya, terasa tajam, namun menggelitik di saat bersamaan.

Astaga, kulit Jaejoong terasa amat licin, juga halus.

Setelah menggunting tali yang mengikat tangan Jaejoong yang satunya. Ia kembali ke permukaan, untuk mengambil napas.

Yunho berusaha mengabaikan pemandangan yang bisa dilihatnya, saat ia tadi berenang turun untuk menggunting tali pada kedua kaki Jaejoong.

Ia mensejajarkan tubuhnya pada tubuh Jaejoong, dan mengangguk sambil menunjuk permukaan. Ia ingin Jaejoong mengikutinya keluar dari 'sangkar' itu, dan makhluk air tadi mengangguk mengerti.

Yunho keluar terlebih dahulu, dan ia mengulurkan tangannya untuk membantu Jaejoong keluar dari air.

Makhluk tadi terlihat ragu dan ketakutan, saat kepalanya menyembul dari air. Ia tahu, bahwa ini bukanlah tempatnya, dan itu membuatnya khawatir.

"Gwenchana, aku ada disini" ujarnya yakin.

Jaejoong mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum pada Yunho. Seakan mengerti, ia mengangguk dan menerima uluran tangan Yunho untuk membantunya keluar dari air.

Yunho mengernyit. Saat ia sudah berdiri di salah satu pijakan tangga, Jaejoong hanya diam dan menatapnya.

"Ayo, kemarilah. Kita harus turun terlebih dahulu" ujarnya meyakinkan.

Tapi makhluk cantik itu hanya menggeleng.

Kerutan di dahi Yunho semakin dalam. Ia tidak mengerti, makhluk itu sudah setuju untuk mengikutinya keluar tadi. Lalu kenapa ia menolak untuk turun sekarang.

"Gwenchana, aku akan membantumu" ia mengulurkan sebelah tangannya, yang kembali disambut oleh gelengan dari Jaejoong.

Yunho membuang napasnya memikirkan cara lain untuk membujuk Jaejoong, agar makhluk itu mau turun bersamanya.

Apa ia tidak bosan hanya berada di dalam akuarium itu terus menerus? Bahkan saking lamanya berada di dalam air, kulitnya menjadi licin. Baiklah, mungkin ia memang makhluk air, dan makhluk air… tidak bisa… berjalan.

Yunho menepuk dahinya dengan keras-lagi-

Ia sadar, Jaejoong bukan menolak ajakannya, tapi makhluk itu tidak bisa mengikutinya. Tentu saja! Menghabiskan selama hidupnya saat ini berada di dalam air, membuatnya tidak bisa berjalan di daratan. Yah, ia bisa mengajarinya nanti. Ia memiliki banyak waktu untuk makhluk itu. Bahkan ia bisa memberikan semua waktunya untuk Jaejoong, jika kedua orang tuanya mengijinkan.

Yunho kembali naik, dan berdiri di belakang Jaejoong. Ia menarik tubuh makhluk itu, dan membawanya agar menghadapnya, sebelum berjongkok di depan makhluk air itu.

"Naiklah, err… aku rasa, aku bisa menggendongmu turun" ujarnya ragu.

Jika ia jatuh, itu tidak masalah. Tapi bagaimana jika Jaejoong yang jatuh?Itu merupakan masalah besar buatnya.

Yunho menarik kedua tangan Jaejoong, dan mengalungkannya ke lehernya, kemudian mengangkat tubuh pemuda manis itu.

Yah, ia bersyukur. Berat badan Jaejoong sangat ringan untuk ukuran namja, membuatnya bisa mengatasi masalah turun dari tempat itu, dengan mudah.

Pemuda itu tersenyum senang. Astaga, ia menggendong Jaejoong sekarang! Ia tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini.

Namja tinggi itu membawa Jaejoong beserta bajunya ke dalam kamar yang di tunjukan Lee ahjumma kemarin. Ia menaruh tubuh basah Jaejoong ke atas ranjang, kemudian berjalan untuk mengambil sebuah handuk.

Yunho menepis semua imajinasi kotor yang sedari tadi berusaha memenuhi pikirannya. Bayangkan saja, ia berada di dalam kamar bersama Jaejoong, hanya berdua, di sebuah tempat yang sepi, dengan kedua baju yang sama-sama basah. Tapi ia tidak ingin melakukan hal yang senonoh pada makhluk itu, yah, tidak untuk saat ini.

Namja berumur 17 tahun itu mengeringkan tubuh Jaejoong menggunakan handuk besar miliknya. Kulit Jaejoong yang semula licin, menjadi kering ketika ia mengusapkan benda berbahan katun itu dengan telaten dan hati-hati.

Yunho menelan ludahnya gugup melihat baju basah Jaejoong. Ia tahu dengan pasti, bahwa namja itu tidak akan dapat memakai baju sendiri. Lalu apa? Ia adalah seorang remaja,berada di umur yang sangat tepat, saat perlonjakan hormon di dalam tubuhnya. Ia bisa menyerang namja manis itu kapan saja bukan?

Tetapi ia juga tidak dapat membiarkan Jaejoong dengan baju basahnya. Tidak mungkin hal itu terjadi. Ia tidak akan rela jika Jaejoong sakit karena kedinginan. Melupakan kenyataan, bahwa Jaejoong adalah makhluk yang terbiasa berada di dalam air yang dingin.

Yunho membuka kaus berlengan pendek-yang akan ia kenakan pada Jaejoong- lebar-lebar. Ia benar-benar harus mengganti baju Jaejoong sekarang.

Jadi, ia memutuskan untuk menutup kedua matanya erat-erat, dan mulai melucuti pakaian yang melekat di tubuh makhluk itu.

Memasangkan baju dengan kedua mata yang tertutup, adalah hal yang mudah untuk Yunho. Tetapi menahan hasrat saat tangannya menyentuh kulit Jaejoong, itulah yang membuatnya berkeringat dingin.

Kaus juga sweater miliknya telah terpasang di tubuh Jaejoong. Sekarang, tugasnya adalah menyingkirkan kain yang masih menutupi bagian bawah makhluk itu, dan memasangkan celana pada namja manis ini.

Astaga... Bahkan tanpa dilepaspun, ia dapat melihat organ Jaejoong dengan jelas dari luar. Apalagi ia harus melepas kain itu, dan memasangkan celana padanya?

"A-apakah… Apakah, kau bisa memasang celanamu sendiri?" tanya Yunho terbata.

Meskipun sebenarnya ia sudah tahu apa jawaban Jaejoong, namun pemuda ini benar-benar tidak akan tahan jika memberanikan diri memasang celana panjang itu.

Seperti dugaannya, Jaejoong hanya menerima celana yang ia sodorkan, dengan kedua mata yang mengerjap polos ke arahnya.

Yunho mengerang tertahan. Ia benar-benar berada di posisi yang tidak menguntungkan saat ini. Menggigit bibir bawahnya, namja tampan itu berjongkok tepat di depan kedua kaki Jaejoong. Ia menelan salivanya gugup, menyadari apa yang berada di hadapannya sekarang.

"Hhah! Mari kita selesaikan ini sekarang!" ujarnya sebelum menutup kedua matanya erat, dan melepas kain penutup bagian bawah Jaejoong.

Napas Yunho tercekat, saat sebelah tangannya sempat menyentuh kulit paha Jaejoong tadi. Namun dengan cepat ia memakaikan celan berbahan kain, yang tampak kebesaran itu, pada kaki Jaejoong.

"Hah… baiklah. Kau sudah selesai!" ujarnya tersenyum puas menatap penampilan Jaejoong yang sebenarnya, tampak sangat cute karena bajunya 3 ukuran lebih besar dari baju yang seharusnya dipakai oleh makhluk air itu.

Yunho berbalik, dan mulai mengeringkan tubuhnya sendiri.

"Aku pikir, umurmu pasti lebih tua daripada aku. Tapi, kenapa tubuhmu lebih kecil dariku? Yah, meskipun aku akui, otot yang kau punya lebih bagus, tetapi tetap saja, aku terlihat lebih manly daripadamu" namja tampan itu terus mengoceh, sambil memakai pakaiannya sendiri. Tidak begitu memperdulikan, apakah Jaejoong menyimaknya, atau tidak.

Yunho berbalik seraya melipat celana pendeknya yang basah, kemudian mengambil baju Jaejoong yang juga basah ke tangannya.

"Aku yakin kau belum pernah melihat bagaimana isi kota Seoul. Aku akan menunjukanmu hal-hal menarik yang ada di kotaku ini. Aku akan membawamu ke tempat-tempat yang indah, membelikanmu makanan yang enak, juga menunjukan hal-hal baru yang kau tidak tahu" pemuda itu tersenyum saat mengemasi barang-barangnya ke dalam tas punggungnya yang besar.

Ia terus bercerita dengan semangat, sementara Jaejoong duduk di pinggir ranjang. Memperhatikan Yunho sambil menggerak-gerakan kakinya. Makhluk itu tersenyum melihat segala pergerakan yang di lakukan oleh Yunho.

"Tapi aku rasa, kita harus menunggu beberapa jam lagi. Lee ahjumma akan kembali tengah malam nanti, jadi kita akan pulang setelah aku mengembalikan kunci-kunci ini kepada Lee ahjumma. Aaah… kau akan tinggal di rumahku setelah ini. Kita bisa berbagi kamar. Kamarku cukup besar untuk kita berdua" pemuda itu tersenyum, kemudian mendudukan tubuhnya ke samping Jaejoong. Menaikan kedua kakinya, dan melipatnya nyaman.

"Ah! Aku akan membawamu ke kolam renang yang ada di dekat rumahku setiap hari minggu. Dan jika kau benar-benar ingin berenang, aku rasa kau bisa menggunakan bath up milik umma. Meskipun tidak sebesar kolam renang, ataupun tempat tinggalmu dulu. Tapi aku rasa itu cukup!"

Kalian tahu? Pemuda itu sangat senang sekarang. Akhirnya, ia memiliki seorang teman untuk dirinya sendiri. Seseorang yang membuatnya berdebar, dan yang ia pastikan untuk selalu bersamanya apapun yang terjadi.

Melihat ketertarikan pada kedua mata Jaejoong, saat makhluk itu mendengarnya bicara, membuatnya semakin antusias. Bahkan ia melupakan imagenya sebagai pemuda pemalu juga pendiam. Dan berubah menjadi sosoknya yang sebenarnya.

"Selama aku sekolah, kau bisa menungguku di rumah, sambil membantu umma. Aku akan cepat pulang dan mengajakmu berkeliling lagi. Oh! Apakah kau pernah makan es krim? Ah, aku yakin pasti belum pernah. Kau akan menyukainya!"

Dan sepanjang malam itu, Yunho terus bercerita hal apapun yang ia ketahui pada Jaejoong. Dan makhluk itu mendengarkan, entah mengerti atau tidak, hanya dia, Tuhan, dan author yang tahu.


Well, sebenarnya tidak sepanjang malam juga. Karena pada pukul 2 pagi, Lee ahjumma telah kembali dari desanya, dan ia tidak dapat menutup mulutnya, saat menyadari bahwa namja yang tadi dibawa pulang oleh Yunho, adalah salah satu koleksi milik majikannya.

Ia terlalu shock untuk bertanya.

Yunho menggendong tas besarnya pada depan dada, dan menggendong tubuh Jaejoong pada punggungnya. Ia tidak keberatan meskipun harus berjalan kaki menuju rumahnya. Toh, rumahnya hanya 4 blok dari museum itu. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

Dan masih seperti tadi. Yunho tak henti-hentinya berceloteh riang tentang apa saja hal yang menurutnya menarik. Dan Jaejoong juga masih setia mendengarkannya. Kaki jenjang miliknya melankah perlahan, membelah jalanan yang amat sepi dan sunyi dari hirau-pikuk kota. Cahaya lampu-lampu jalan mengiringi langkah mereka. Dan terangnya bulan penuh seakan ikut mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh Yunho.

.

Mereka masuk mengendap-endap dari pintu depan. Yunho memang membawa kunci cadangan untuk pintu rumahnya, ia hanya tidak ingin mengganggu ketenangan yang telah menyelimuti keluarga itu.

"Aaah… tunggulah disini" pemuda itu mendudukan Jaejoong pada ranjangnya, dan berlari menuju dapur untuk membuatkan secangkir minuman hangat untuk mereka.

Ia merasa terlalu bersemangat sekarang. Ia sudah berjanji untuk memberikan Jaejoong secangkir cokelat hangat saat pulang. Dan sekarang, ia benar-benar ingin mengabulkannya. Tidak peduli bahwa ini pukul 2 pagi.

"Yunho?" pemuda itu terlonjak saat seseorang memanggil namanya. Ia menoleh dengan cepat, dan mendesah lega mendapati ummanya berdiri di ambang pintu dapur.

"Umma mengagetkanku!" serunya kembali menekuni dua gelas cokelat hangat di depannya.

"Kapan kau kembali? Dan kenapa kau ada di dapur selarut ini?" yeoja itu memeluk tubuhnya sendiri, dan beranjak menghampiri Yunho.

"Uhm… Baru saja" jawab Yunho tak fokus.

"Kau membuat cokelat hangat pukul 2 pagi?" Mrs. Jung dibuat heran oleh sikap anak bungsunya itu.

"Hu'um… Aku ingin temanku mencobanya!" Yunho menaruh dua mug berat itu kedalam sebuah nampan, dan bersiap untuk mengangkatnya.

"Kau membawa temanmu menginap? Siapa? Ini pertama kalinya kau membawa temanmu pulang" yeoja manis tadi mengikuti Yunho sampai ke dasar tangga.

"Hm… aku bertemu dengannya di museum. Orang yang berada di sketsaku kemarin, umma" Yunho beranjak memasuki kamarnya. Mengacuhkan Mrs. Jung yang belum sadar dengan perkataan namja itu.

"Mwo?!" pemuda tadi terkikik mendengar jeritan ummanya, sesaat setelah ia menutup pintu kamarnya.

Ia menghampiri Jaejoong yang masih tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk. Kemudian memeberikan segelas cokelat hangat itu padanya.

"Ini cokelat hangat yang aku ceritakan tadi. Cobalah, rasanya enak. Ini masih panas, jadi sebaiknya kau meniupnya terlebih dahulu" ujar pemuda itu tersenyum senang saat Jaejoong meraih mug yang ia sodorkan.

Yunho memegang mug berat itu dengan kedua tangannya, meniup isinya sejenak, sebelum menyeruput cokelat hangat itu sedikit. Ia sengaja melakukannya dengan perlahan, karena Jaejoong tengah memeperhatikannya sekarang.

Tak lama, makhluk air tadi mengikuti apa yang dilakukan oleh Yunho. Ia meringis kecil saat bibirnya menyentuh cairan panas itu.

"Kau harus meniupnya terlebih dahulu. Aku tahu kau tidak terbisa dengan air sepanas ini" kata Yunho yang ikut was-was melihat ringisan Jaejoong tadi.

Kedua mata Jaejoong melebar saat cairan hangat nan kental itu mengalir membasahi seluruh mulutnya. Rasa asing yang menyenangkan menyusup di sela-sela lidahnya. Ia tidak bisa mendeskripsikannya, ini terlalu baru buatnya.

"Kau suka?" Yunho tersenyum lebar melihat perubahan di wajah Jaejoong.

Pertanyaannya terjawab, saat makhluk tadi kembali meneguk minuman di tangannya dengan rakus.

"Hahaha… Kau begitu manis" ia mengacak puncak kepala Jaejoong.

Apapun yang dilakukan oleh makhluk itu sangat imut di matanya, dan ia suka.

Ceklek(?)

Pintu kamar Yunho terbuka, dan seorang yeoja yang membawa nampan penuh makanan mengendap masuk.

"Yunho?" ujarnya.

Namja tinggi tadi menoleh, dan tersenyum melihat ummanya berdiri di depan pintu kamarnya.

"Umma, ada yang ingin kuperkenalkan"

Mrs. Jung melotot tidak percaya, seorang yang ia ragu adalah namja duduk di hadapan putranya. Tersenyum, dan memandangnya dengan kedua mata besarnya yang mengerjap polos. Namja paling cantik yang pernah ia lihat.

Ia hampir saja melepaskan pegangan nampannya jika refleknya tidak bagus. Ibu Yunho meletakan nampan besi itu ke meja nakas milik Yunho, dan berjalan mendekati dua namja yang masih menatapnya.

"Yu-Yunho… Dia… Temanmu?" Jaejoong melirikan mata bulatnya kearah Yunho, seakan menunggu jawaban yang akan diberikan oleh namja tampan itu.

"Hu'um… Aku bertemu dengannya di museum. Namanya Jaejoong, umma" ujar Yunho bersemangat.

Mrs. Jung menangkup pipinya dengan kedua tangannya, kemudian menggeleng lemah.

"Dia… Dia cantik sekali!" pekik yeoja itu girang.

Jaejoong mengulum senyum mendengarnya, memperlihatkan lipatan bibirnya yang manis. Ia merasakan sesuatu yang bagus dengan sikap ibu Yunho barusan.

Yunho mendengus sebal melihat ummanya yang mulai menjerit-jerit histeris. Ummanya itu, meskipun berumur 45 tahun, tapi memiliki semangat juga kegemaran seperti anak muda. Seperti melihat-lihat namja tampan, mengidolakan namja manis, juga mengoleksi poster-poster boyband. Sama seperti author -_-

"Umma… Sudahlah. Kau membuatku malu" namja tampan itu mengerucutkan bibirnya lucu.

Mrs. Jung melemparkan tatapan kesal pada putra bungsunya, namun sejenak kemudian kembali menatap Jaejoong dengan wajah penuh senyuman.

"Apakah kau akan menginap disini malam ini? Ah, kau bisa memanggilku umma jika kau mau. Astaga, kau sangat manis! Aku harap aku memiliki anak sepertimu"

"Err… Umma?" Yunho mencoba menyela pembicaraan ummanya.

"Kau bisa datang dan menginap kapanpun kau mau. Oh, aku bisa mengajarimu memasak juga mengajakmu berbelanja"

"Umma…" Yunho menarik-narik ujung baju ummanya.

"Meskipun kamar Yunho sedikit berantakan, namun aku yakin kau akan betah berada disini. Apakah kau suka pasta? Umma bisa membuatkanmu pasta kesukaan Yunho. Tenang saja, kau bisa menganggap kami keluargamu sendiri kau juga-"

"Umma!" jerit Yunho frustasi.

"Ada apa Jung Yunho? Kenapa kau meneriaki ummamu sendiri?" mrs. Jung melotot marah pada anak tirinya tersebut. Ia sudah lelah acara mengobrolnya diganggu.

"Umma… Jaejoong akan tinggal disini mulai sekarang. Dia tidak memiliki keluarga dan tempat tinggal" seru pemuda itu.

Mrs. Jung terdiam, otaknya sibuk mencerna apa maksud dari anak bungsunya tersebut.

"Bolehkan?" Yunho memasang puppy eyesnya. Yang meskipun sudah susah-susah ia keluarkan, tetap tidak dianggap oleh mrs. Jung.

"B-Boleh saja! Tentu saja boleh! Umma akan menyuruh appamu untuk menyiapkan kamar sebelah. Lalu kita akan berbelanja kebutuhan barang-barang untuk keluarga baru kita!" ujar yeoja itu bersemangat.

"Umma? Bisakah Jaejoong tidur satu kamar denganku saja?"

Ibu Yunho kembali terdiam. Sebenarnya ia mengerti tentang anaknya yang seorang kutu buku, dan memiliki sedikit teman. Mungkin tidak apa-apa jika membiarkan mereka dalam satu kamar. Masalahnya adalah, ia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan pada dua namja ini.

"Err… Tentu saja. Jika kalian tidak keberatan, maka silahkan. Ah, kita harus membeli beberapa baju untuknya. Aku rasa err… Dia membutuhkannya" kata wanita itu sembari melirik kearah baju kebesaran milik Yunho yang dipakai Jaejoong, kemudian berlalu dari sana.

Blam!

Yunho menghela napasnya lega. Ia sudah mengira bahwa ummanya pasti akan menyetujui jika Jaejoong tinggal di ruangan ini.

Ia membalik badannya, dan menemukan Jaejoong tengah menatap sketsa yang ia buat saat Jaejoong masih di dalam akuarium.

Yunho tersenyum kecil. Ia suka merasakan dadanya bergetar saat ia menatap namja asing itu.

"Kau tahu?" Yunho mendekatkan tubuhya ke arah pemuda manis tadi.

"Aku sangat bahagia sekarang…" senyuman yang terpatri di bibir Yunho seakan menular. Menyebabkan kedua sudut bibir Jaejoong terangkat tinggi-tinggi.

"Terima kasih"

Dan Yunho menyentuhkan bibirnya dengan kening Jaejoong tanpa sadar, ia memberikan sebuah kecupan yang ringan dan basah untuk area itu. Membuat Jaejoong menutup kedua matanya, merasakan lembut sesuatu yang asing menyentuhnya.

Wajah putih miliknya memerah, dan Yunho mencium puncak kepalanya saat melihat hal manis itu.

"Sekarang tidurlah, kita akan sangat sibuk besok" namja tampan itu mengedipkan sebelah matanya pada Jaejoong, dan beranjak untuk mengambil piyamanya juga piyama untuk Jaejoong.

Jaejoong menatap punggung Yunho dengan senyum lebar di wajah rupawannya. Ia merasakan sesuatu yang asing. Dunia ini terlalu penuh dengan hal-hal asing yang menyenangkan buatnya.

.

.

.

.

.

.

TBC?


jiahahaha... mian kalo lemot postnya ^_^

balasan review?

princess yunjae: Night at The Museum yah? hahaha... aku juga pas selesai ngetik ini, keinget ama itu film . makasih udah baca :D ini udah apdet kyahahaha

iloyalty1 : ini udah lanjut... buat cast lain eum... mungkin nanti ya :) author gak gitu pinter bikin feel di lain cast. tapi bakal aku usahain

Isnaeni love sungmin: ini lanjutannya :)

bumkeyk: ini udah apdet... mian kalo lama . thanks udah mau baca :)

nunoel31: sebenernya aku gak gitu mentingin review sih . asal post n asal bikin aja :v thanks juga udah mau baca ^_^

BooMilikBear: bakal diceritain secara perlahan kok... sabar ya :) makasih udah mau bacaaaaa

missjelek: ini lanjutannya :) thanks udah mau baca n review

Cho MinHyun: sebenernya itu udah ngomong ._. *digampar* thanks udah mau review n bacaaaaa

Cho Sungkyu: udah apdet, tapi gak bisa kilat... miaaannnnnn .

Taeripark: mian gak bisa cepet . thanks udah review

HeroKittyJae: Jaejoong emang hidup lho... mau ngeluarin album baru malah ._. *digampar*

ifa. : ini udah lanjut .

yoon HyunWoon: ini next chap nyaaaaa . makasih udah mau baca

Sirayuki Gia: iyaaaaaa unniiii . thanks bgt buat dukungannyaaaaaaa

ichigo song: iya, Jae bangun... . author juga bangun kalo dicium... sama lantai ._. *menghilang perlahan*

jae sekundes: ini udah dilanjutin . thanks buat reviewnya

BambiJung: nah itu! kemaren di fb juga ada yg bilang sama persis begitu... aku mau nanya judulnya lupa mulu -_- sekarang udh tau tapi :) aku belum pernah liat MVnya sih... tapi bakal liat wkwkwkw *malah curhat* thanks buat reviewnyaaaaa

js-ie: sebenernya ini YH gak gitu culu sih disini... cuman pendiem n penyendiri aja... anak rapi juga :v thanks buat review...

SiDer Tobat: daripada aku tulis end? gimana hayooo? hahaha... ini lanjjtannya... ^_^ thanks buat review n baca... meskipun gak bisa asap aku lanjutnya

Kim RyeoSungHyun: aku juga kudu merelakan umma ToT *diketekin* hahaha... thanks buat review n baca ^_^

Guest: ini udah lanjut ^_^ thanks buat baca

hi-jj91: ini cerita apa ya? aku juga gak tau :v *digampar* saia juga setia menunggu inspirasi buat nulis kok hehehe... thanks buat baca n review ^_^

Fha: hai juga ^_^ aku juga author baru :D salam kenal :) thanks udah baca n review ff iniiiii

CuteCat88: sayangnya mereka bukan power rangers yg bisa bersatu begitu :v *dibuang laut* hahahah... aku juga berharap, semoga hepi end kok hehehe... thanks buat review ^-^


pegel tanganku -_-

hahaha... THANKS BUAT SEMUA YANG UDAH BACAAAAAAAA

AKU SELALU MENCINTAI JUNSUUUUUUU *dilempar bom*

hahaha... .