Serenade project presents

From The Darkest Side

(remake)

Rate M

Pair : Kyumin/Jungmin

Main Cast :

Lee Sungmin

Cho Kyuhyun

Victoria Song

Kim Jungmo

Shindong Hee

Summarry : Hidup Sungmin semula biasa-biasa saja. Dia adalah anak yang tidak diakui ibunya sendiri, seorang artis ternama yang memilih merahasiakan keberadaannya di depan umum dan membiarkannya dibesarkan oleh kakek dan neneknya sampai kemudian Victoria, ibunya memintanya berkenalan dengan calon ayah tirinya, seorang lelaki muda yang begitu berkuasa. Kim Jungmo, milyader kaya yang tampaknya menyimpan rahasia kelam yang berhubungan dengan masa lalu Sungmin. Bagaimana Sungmin bisa mengungkapkan rahasia sosok ayah tirinya itu?

A/N : baru 3 hari saya tinggalin udah pada minta lanjutin :) tapi yaa gak papa tandany alhamdulillah karena sudah mau mengahrgai karya ffnya walau remakean ._. tapi sesuai permintaan para readers yang mau cepet update lagi saya update cepet langsung. so, if you dont want to read this, please click back on your monitor and dont bash it :)

Warning : genderswitch! Many typo dan masih banyak lagi -_-

Happy Reading! ~

enJoy !

Chapter 2 : 'Call Me Kyuhyun, Baby'

.

.

.

.

Meskipun sudah berjanji pada Jungmo untuk menahan diri, dia tetap saja mendatangi Sungmin di kamarnya.

Jungmo bisa marah, nanti. Tapi dia tidak peduli. Bagaimana mungkin dia tahan berdiam diri begitu saja saat gadis yang sudah ditunggu-tunggunya sekian lama sekarang ada di rumah yang sama dengannya ?

Dia berdiri di sudut ranjang, mengamati Sungmin yang tertidur pulas seperti bayi.

Sejenak kemarahan menyelimuti hatinya,

Sampai kapan dia hanya bisa melihat Sungmin di saat gadis itu sedang tertidur?

Dia harus cepat. Mereka sudah sepakat tentang Sungmin, padahal jarang sekali mereka berdua sepakat. Dia dan Jungmo bertolak-belakang dalam segala hal.

Jungmo cenderung baik hati dan menggunakan cara-cara pintar untuk meraih tujuannya, sedangkan dia selalu menggunakan cara-cara licik - licik, bukan pintar - untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan seperti yang Jungmo katakan tadi, dia sangat kejam.

Tapi Sungmin adalah gadis yang sudah menyentuh perasaannya. Mungkin gadis itu sudah melupakannya, bahkan mungkin gadis itu tidak menyadarinya, tapi kejadian dua belas tahun lalu itu tidak akan pernah dilupakannya. Pertemuan pertamanya dengan Sungmin sekaligus hari di mana dia memutuskan akan memiliki Sungmin.

Dia harus memaklumi ketidaksabarannya, dia sudah menunggu selama dua belas tahun. Menunggu dan menunggu sampai Sungmin siap menjadi miliknya. Dan sekarang gadis itu ada di depan matanya.

Dia mendekat, tangannya menyentuh pipi Sungmin dengan lembut. Sungmin bergeming, masih pulas, tidak menyadari ada sosok yang mengamatinya lekat di tepi ranjangnya.

"Kau milikku Sungmin, jangan lupakan itu."

KYUUUMIINN~

Sungmin bermimpi. Dia berada di sebuah taman hiburan yang sangat ramai. Penuh dengan pedagang dan para orangtua yang menggandeng anak-anak mereka. Suara musik dari berbagai stan permainan dan suara-suara manusia terdengar bercampur menjadi satu, riuh rendah di telinganya.

"Sungmin, jangan ke situ." suara neneknya terdengar memperingatkan.

Sungmin mengernyit. halmeoninya masih hidup? Dia menolehkan kepalanya dan mendapati halmeoninya berdiri di belakangnya, halmeoninya benar-benar masih hidup. Hidup dan tampak lebih muda.

Dengan bingung Sungmin mengamati sekeliling, dan menyadari kalau bukan dia yang dipanggil halmeoninya. Di sana berdiri seorang anak, mungkin tujuh tahun, kurus, dan agak canggung. Itu adalah dirinya yang masih berumur tujuh tahun!

"Jangan bermain terlalu jauh Sungmin, halmeoni tidak mau kamu tersesat, di sini sangat ramai." sang halmeoni menggandeng tangan Sharin kecil. Lalu membawanya ke sebuah kursi kosong yang terletak di pinggir taman.

"Duduk di sini dulu, nenek akan membelikanmu es krim," kata halemoninya sambil menunjuk stan es krim dengan antrian pembeli yang panjang, yang terletak kurang dari seratus meter dari tempat mereka, "Jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan orang asing. Kalau ada apa-apa teriak saja, halmeoni pasti akan mendengarnya."

Sungmin kecil mengangguk, tapi matanya memandang sekeliling dengan penuh semangat.

Sungmin tetap mengamati dari kejauhan, kenangan ini masih terpatri samar-samar di benaknya, kenangan saat pertama kali dia di ajak ke taman hiburan.

Tiba-tiba Sungmin kecil melangkah turun dari kursi, dan mulai berjalan menjauh.

Sungmin langsung panik,

Hey... Kembalilah, kau bisa tersesat!

Dengan gugup Sungmin menoleh ke arah sang halmeoni yang sedang antri di stan es krim, dia ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak keluar. Setelah beberapa kali usaha yang sia-sia, akhirnya Sungmin memutuskan untuk mengikuti Sungmin kecil.

Sungmin kecil terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa tertarik, tidak menyadari bahwa dia makin tersesat menembus keramaian. Dengan susah payah Sungmin berusaha mengikuti sampai kemudian mereka berdua sampai di pinggiran taman, berlokasi di bagian belakang stan yang sepi.

Sungmin pucat pasi ketika sadar, pemandangan yang ada di depan mereka sungguh mengejutkan, di sana ada sosok lelaki tinggi dengan pakaian rapi, sedikit acak-acakan karena baru saja berkelahi. Rambutnya yang sedikit lebih panjang dan sedikit ikal daripada seharusnya menutupi sisi wajahnya, lelaki itu berdarah di bahunya, darahnya merembes menembus kemeja putihnya. Tangan lelaki itu memegang pisau yang penuh darah... Dan di depannya... di depannya tergeletak sesosok lelaki lain besar dan berpakaian kusam, dengan perut terluka parah oleh tusukan pisau, sosok itu tidak bergerak. Mati.

Lelaki tampan itu menoleh dan melihat Sungmin kecil sedang terpaku menatapnya. Seperti halmeoninya tadi, lelaki itu sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Sungmin, dan entah bagaimana Sungmin seolah-olah terpaku, hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Well, halo nak", sapa lelaki itu sambil tersenyum mempesona, "Apakah kau tersesat?" tanpa peduli lelaki itu melipat pisau penuh darah di tangannya dan memasukkannya ke saku.

Sungmin kecil mengerutkan keningnya, "Aku bersama halmeoniku tadi. Apakah kau membunuhnya ?" tanyanya dengan polos dan suara kekanak-kanakan.

Lelaki itu melirik mayat di kakinya, lalu mengangkat bahunya tak peduli, "Dia pantas mati, dia tadi berusaha merampokku dengan pisau ini, jadi aku membunuhnya dengan pisaunya sendiri. Manusia seperti itu tidak pantas hidup."

Sungmin kecil menatap lelaki itu tanpa takut, "Kau tidak lapor polisi?" tanyanya polos lagi.

Lelaki itu langsung tertawa, "Polisi? Apa yang bisa dilakukan polisi di sini? Aku sudah cukup beruntung tidak ada yang melihat kejadian ini, sampai kau datang." ekspresinya berubah kejam. Lalu lelaki itu mendekati Sungmin kecil.

Lari ! Ayo lari!

Sungmin berusaha berteriak, memperingatkan Sungmin kecil, tetapi suaranya tidak bisa keluar, kakinya seolah-olah terpaku.

Lelaki itu lalu berjongkok di depan Sungmin kecil, "Aku minta maaf kau berada di tempat yang salah nak, tapi sepertinya aku harus menyingkirkanmu juga."

Sungmin kecil sama sekali tidak memperhatikan ucapan laki-laki itu tatapannya terarah pada darah di bahunya,

"Kau terluka." gumam Sungmin kecil.

"Apa?" lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bahunya yang penuh darah, "Oh... Ini hanya luka kecil, akan kututup dengan jaket." sambungnya sambil melirik jaket cokelatnya yang tergeletak di tanah.

Tanpa diduga, Sungmin kecil mengeluarkan plester luka yang selalu dibawa-bawanya dari sakunya,

"Bisa diobati dengan ini? Halmeoni selalu menutup lukaku yang berdarah dengan ini."

Lelaki itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak, "Tentu saja bisa, terima kasih," sambil masih tersenyum dia mengambil plester luka itu dari tangan Sungmin dan memasukkannya ke saku, "Siapa namamu nak?"

"Sungmin. Lee Sungmin imnidda" jawab Sungmin polosnya.

Dengan pelan lelaki itu berdiri, mengambil jaketnya dari tanah dan memakainya, lalu mengulurkan tangannya kepada Sungmin kecil,

"Sungmin... dan kau bilang sedang bersama halmeonimu tadi? Sungguh suatu kebetulan karena aku kemari untuk melihatmu," Lelaki itu mengamati Sungmin dengan teliti, tampak puas dengan apa yang ditemukannya, "...hmm...sepertinya kau tersesat, ayo, aku akan mengantarkanmu ke bagian informasi supaya halmeonimu bisa menemukanmu."

Sungmin menarik napas lega karena lelaki itu sepertinya sudah mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Sungmin kecil seperti yang dikatakannya tadi.

Tangan Sungmin kecil menerima uluran lelaki itu, dan mereka bergandengan menuju ke area yang lebih ramai. Buru buru Sungmin mengikuti mereka berdua.

Mereka sampai ke bagian informasi dan lelaki itu menyerahkan Sungmin kecil ke petugas yang berjaga di sana, sebelum pergi dia berjongkok lagi di depan Sungmin kecil,

"Kau tidak akan mengatakan apapun yang kau lihat tadi kepada orang lain kan?" tanyanya sambil tersenyum.

Sungmin kecil menganggukkan kepalanya imut.

Lelaki itu memajukan kelingkingnya.

"Janji?"

Sungmin kecil tersenyum, senyum polos anak-anak dan menautkan kelingkingnya di jari lelaki itu,

"Janji! Janji seorang Lee Sungmin tidak akan pernah diingkari." Jawabnya dengan senyum polos mata bulat foxynya

Dengan senyumnya yang sedikit berbahaya, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan.

"Kalau begitu selamat tinggal aku janji kita akan bertemu lagi, dan saat kita bertemu, kau akan menjadi milikku, jangan lupakan itu." gumamnya sambil melangkah menjauh meninggalkan Sungmin kecil.

Tiba-tiba lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya, berhadapan langsung dengan Sungmin.

Sungmin langsung pucat pasi, lelaki tampan itu menatap langsung ke arahnya! Apakah dia menyadari kehadirannya? Bukankah di mimpi ini dia tak terlihat? Karena semua orang sepertinya tak menyadari dia ada...

Tatapan mata Sungmin menelusuri lelaki itu. Kali ini wajah lelaki itu benar-benar jelas. Dan sebuah kesadaran menyentaknya, rambut cokelat dengan sulur keemasan ikalnya itu... Mata cokelat itu... Semuanya tampak lebih muda, tetapi Sungmin mengenalinya.

"J-Jungmo?" gumamnya ragu.

Lelaki itu tersenyum, senyum puas yang sedikit keji, senyum yang tidak mungkin ditampilkan Jungmo yang begitu dingin.

"Bukan chagiya, panggil aku Kyuhyun."

KYUUUMIIIN~

Sungmin tersentak dan membuka matanya. Keringat dingin mengalir di dahinya, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejenak kehilangan orientasi karena dia tidak mengenali kamar ini.

Tapi lalu dia sadar, ini di kamar tamu rumah Jungmo, calon ayah tirinya.

Dengan gugup Sungmin mengusap keringat di dahinya, mimpi itu... Mimpi itu terasa begitu nyata sekaligus aneh, tapi Sungmin tidak tahu apakah itu kenangan masa kecilnya atau cuma mimpi...

Sungmin duduk di tepi ranjang lalu menuang air ke gelas dari teko yang terletak di meja samping ranjang. Setelah meminum seteguk air dia memejamkan mata. Perasaannya tidak enak. Seperti ada yang terus menerus mengawasinya di kegelapan, menunggu sesuatu terjadi. Tetapi sesuatu apa?

Dengan putus asa Sungmin mengeryit, mengingat mimpi anehnya tadi. Benar-benar mimpi yang aneh. Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yakin bahwa dia sendirian di kamar ini, Sungmin membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.

Itu pasti cuma mimpi yang aneh karena dia tidak terbiasa tidur di kamar yang bukan kamarnya cuma mimpi.

Tapi kata-kata itu tetap terngiang-ngiang di benaknya,

"Kau milikku Sungmin, jangan lupakan itu..."

KYUUMIIINN~

Sungmin terbangun di dini hari yang temaram, masih fajar dan sinar matahari sudah mulai menembus jendela-jendela yang ditutup oleh gorden putih yang indah.

Hey... Kamar ini indah sekali...

Sungmin baru menyadarinya sekarang, kemarin ia terlalu lelah sehingga tidak sempat melihat ke sekeliling.

Kamar ini bernuansa putih gading, semua ornamen dari karpet bulu yang tebal, gorden dan tempat tidur semuanya bernuansa putih. Bahkan dinding-dinding dan kusen jendela serta atapnya semuanya berwarna putih. Sayang tidak ada warna pinknya, warna kesukaannya.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, "Masuk." jawab Sungmin sambil mengernyitkan kening, siapa gerangan yang mengetuk pintu sepagi ini? Ternyata yang masuk adalah seorang pelayan, masih muda seumur dengannya dan kelihatan agak gugup,

"Nona Sungmin, saya diperintahkan untuk melayani anda."

Sungmin mengernyit. Melayaninya? Seumur-umur dia tidak pernah dilayani oleh siapapun, apalagi oleh pelayan. Konsep ini terasa sangat baru baginya,

"Tidak usah. Saya bisa melakukan semuanya sendiri." Sungmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari tasnya. Untung saja dia membawa pakaian ganti. Victoria sudah mengingatkannya akan kemungkinan mereka menginap di akhir pekan ini.

Tapi di mana tasnya itu?

Pelayan wanita itu seolah-olah tidak peduli dengan perkataan Sungmin, dia melangkah menuju lemari pakaian indah yang juga berwarna putih,

"Saya akan menyiapkan perlengkapan mandi nona, dan ini... Semua pakaian nona sudah disiapkan disini." dia lalu membuka lemari itu,

Sungmin ternganga.

Di dalam lemari itu terdapat banyak gaun dan pakaian, mungkin puluhan dan semuanya digantung dengan rapi di balik plastik pembungkus yang masih baru. Tidak mungkin kan pakaian itu untuknya? Pelayan itu pasti salah.

"Ti... tidak mungkin pakaian-pakaian ini untukku. Kamu pasti salah," Sungmin berusaha mengatasi rasa gugupnya, "Mungkin... mungkin ini untuk eommaku?"

Dengan tegas pelayan itu menggeleng,"Saya mendapat instruksi langsung oleh kepala pelayan. Mari, saya akan menyiapkan air dan peralatan mandi anda."

Sungmin sebenarnya ingin membantah. Tidak mungkin kan Jungmo menyiapkan pakaian baru sebegitu banyak untuknya? Dia kan hanya akan tinggal di sini selama akhir pekan, apakah Jungmo tetap berpendapat Sungmin akan tinggal bersama mereka setelah pernikahannya dengan Victoria? Tapi, meskipun Jungmo berpendapat begitu, lelaki itu kan tetap saja tidak perlu menyiapkan baju sebanyak itu?

Pelayan itu pasti salah, Sungmin memutuskan. Semua baju itu pasti untuk Victoria. Sungmin mengernyit ketika membayangkan kemarahan Victoria atas kesalahan ini. Eommanya itu sangat posesif. Egois dan posesif, dan Victoria pasti tidak akan suka kalau Sungmin memakai salah satu baju yang disiapkan untuknya.

"Aku... Aku ingin memakai bajuku sendiri, kau tahu tidak dimana tas pakaianku yang berwarna cokelat? Sepertinya kemarin aku meletakkannya di atas meja."

Pelayan itu menggeleng, "Tidak ada tas disini." jawabnya datar lalu meninggalkan Sungmin untuk masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuknya.

Sungmin termangu, matanya masih mencari-cari dan dia masih belum putus asa mencari sampai pelayan itu muncul lagi dari kamar mandi, "Mari nona, airnya sudah siap. saya akan merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian nona."

Mau tak mau, meski dengan dahi berkerut Sungmin melangkah masuk ke kamar mandi. Dia tidak terbiasa dilayani, dan tidak suka di layani. Seperti jaman feodal saja, gerutunya dalam hati. Tapi apapun keberatan yang ada di dalam hatinya itu langsung hilang melihat keindahan kamar mandi di depannya. Kamar mandi itu dipenuhi kaca, di dinding dan di atap, dengan bingkai-bingkai putih di sekelilingnya, kaca itu beruap karena air panas dari bathtub yang penuh busa dan menguarkan aroma wangi campuran mawar dengan susu.

Tiba-tiba saja mandi terasa sangat menggoda bagi Sungmin.

Pelan-pelan dia mencelupkan tangannya ke air hangat dalam bathtub itu, hangatnya pas. Pelayan tadi benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Sungmin lalu berendam dan memejamkan matanya. Rasanya nikmat sekali, seperti otot-ototnya yang kaku dilemaskan dengan pelan-pelan. Rasanya sangat nyaman hingga Sungmin hampir tertidur. Perasaannya damai hingga makin lama Sungmin makin tenggelam ke dalam alam mimpi.

"Jangan tertidur disini. Dari yang kudengar, banyak orang mati tenggelam karena tertidur dibathtub."

Suara itu begitu mengejutkan Sungmin dari tidur-tidur ayamnya. Dia terlonjak kaget dan begitu menyadari siapa yang berdiri sambil bersandar santai di kusen pintu penghubung kamar mandi, wajahnya langsung merah padam.

Secepat kilat Sungmin menenggelamkan tubuhnya sampai ke leher, menyembunyikannya di balik busa yang tebal.

Jungmo, yang bersandar di pintu tampak tidak terpengaruh dengan rasa malu Sungmin. Lelaki itu malah menyeringai dalam senyuman sedikit mengejek.

KYUUUMIIN~

"Aku bertanya-tanya kenapa kau tidak segera keluar dan sarapan, pelayan itu bilang kau sedang mandi dan dia tidak berani mengganggumu."

Rona merah di wajah Sungmin mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, dia malu sekali! Tapi kenapa lelaki ini seolah-olah tidak peduli? Tidak sopan bukan masuk ke kamar mandi di mana ada perempuan sedang mandi?

Tapi sepertinya Jungmo tidak peduli dengan etika ataupun kesopanan, mata tajam Jungmo menelusuri wajah dan leher Sungmin yang merona. Ada api memancar di sana, dan ekpresinya berubah, sedikit liar tapi menakutkan. Bukan seperti ekspresi yang akan muncul di wajah lelaki sedingin Jungmo, pikir Sungmin tiba-tiba. Ini terasa sangat aneh karena ketika menatap mata Jungmo, ada nyala api yang sedikit menakutkan di dalam mata kecokelatan itu. Seperti pernah melihatnya.

"Aku sudah menyelamatkan nyawamu tadi, kalau terlambat kau mungkin sudah mati tenggelam di kamar mandi, tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih?" Suara itu setengah berbisik, diucapkan dengan nada malas, tapi bulu kuduk Sungmin langsung berdiri. Dia menatap Jungmo dan menyadari lelaki itu masih berdiri di sana, menunggu.

"Te... Terima kasih." gumamnya pelan entah kenapa meskipun tidak yakin kenapa harus berterimakasih dia merasa terdorong untuk melakukannya. Lelaki ini begitu mengintimidasi dan sepertinya kalau keinginannya tidak dituruti dia akan melakukan sesuatu yang tak terduga.

Senyum yang muncul pelan-pelan di bibir lelaki itu malah membuat Sungmin sedikit takut dan gelisah. Hey... Apakah ini orang yang sama dengan calon ayah tirinya yang berkenalan dengannya kemarin? Kenapa auranya begitu berbeda? Bukannya menunjukkan senyum malah seringaian?

"Bagus," gumam Jungmo lambat-lambat, lalu melangkah mundur, "Cepat selesaikan mandimu, aku menunggu di ruang makan, Oh ya, bajumu sudah kusiapkan di ranjang, kupilihkan sendiri dari lemari."

Jungmo menyiapkan bajunya? Sungmin mengernyit dan bertanya-tanya. Jadi memang pakaian-pakaian itu disiapkan untuknya? Tapi kenapa? Lagipula kenapa Jungmo menyiapkan bajunya?

Dia menoleh untuk bertanya, tapi sosok Jungmo sudah lenyap. Dengan gugup Sungmin menyelesaikan mandinya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Pelayan wanita itu masih di sana, tapi tampak lebih pucat.

"Kau tidak apa-apa?" Sungmin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Pelayan itu mengangguk sedikit gemetar, "Tuan Jungmo memarahi keteledoran saya karena tidak memeriksa anda di kamar mandi. Tuan jungmo sangat menakutkan kalau marah." suara pelayan wanita itu berbisik ketakutan.

Sekali lagi Sungmin mengernyit. Menakutkan kalau marah? Dalam majalah-majalah bisnis dan gosip mengenai Jungmo yang dibacanya karena ingin tahu, calon ayah tirinya itu dikenal sangat pandai mengendalikan emosi, malah ada yang menyebutnya tak punya emosi. Apakah selama ini Jungmo menyembunyikan sifat aslinya?

"Baju anda sudah disiapkan, nona"

Sungmin menoleh ke ranjang, tempat bajunya dihamparkan dan sekali lagi terperangah.

Indah sekali.

Itulah yang terpikir pertama kali olehnya ketika melihat gaun itu. Gaun itu panjang di bawah lutut, berpotongan sederhana tetapi sangat indah. Warnanya ungu muda, dan bahannya dari sutra yang sangat halus, berdesir setiap kali kain itu sayang sekali lagi, warnanya tidak pink, tapi tak apa ungupun tak masalah. Batin Sungmin.

Masih termangu, Sungmin membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan pakaiannya. Lalu membiarkan lagi dirinya dibimbing untuk duduk di depan meja rias. Seperti sudah biasa melakukannya, pelayan itu langsung menyisir rambut panjang Sungmin yang terurai. Sementara Sungmin menatap bayangan dirinya di cermin.

Betapa sebuah gaun bisa mengubah penampilan seseorang! Yang terpantul di sana bukanlah Sungmin yang kuno dan berpenampilan seperti kutu buku. Bayangan yang muncul di cermin di depannya itu adalah bayangan perempuan muda yang cantik, dengan pipi kemerahan dan rambut panjang hitam tergerai sampai bahu,

"Rambut anda indah sekali." gumam pelayan itu sambil terus menyisir.

Sungmin tergeragap. Menyadari bahwa dari tadi dia melamun sambil menatap bayangannya sendiri, "Oh iya, aku harus mengikat rambutku." matanya mencari-cari, akhirnya menyadari bahwa ikat rambutnya sama raibnya dengan tas pakaiannya.

"Anda tidak boleh mengikat rambut lagi, begitu perintah Tuan Jungmo kepada saya tadi."

Hah?

Kali ini Sungmin tidak bisa menahan gumaman kagetnya. Tetapi pelayan wanita itu tidak bereaksi apa-apa, setelah selesai membereskan semuanya, dia berpamitan dan melangkah keluar dari kamar. Meninggalkan Sungmin sendirian di kamar ini. Sejenak Sungmin termangu, lalu teringat pesan Jungmo tadi. Sarapan... Tadi Jungmo bilang begitu kan? Mungkin Jungmo dan eommanya sudah menunggu di sana.

Dengan bergegas, Sungmin melangkah ke ruang makan.

Tapi, ada satu hal yang baru menyadari di pikirannya namun masih cukup membingungkan,

Itu bukan Jungmo yang dia temui di kamar mandi, senyumannya.. seperti laki-laki yang ada di mimpinya...

TuBerColosis! (TBC)

Mian,jeongmal miahae. Tadi salah repost hehe, ini yang lanjutannya. Naahh ketauankan disini siapa sosok yang posesif terhadap sungmin? Jawabannya tentu kyuhyun. Karena lucas punya sifat posesif yang sama kayak kyuhyun, jadi di remakein ala kyumin *walau ancur -_-"* *pundung* sebenernya kyuhyun itu bukan psikopat, dia hanya terlalu posesif dengan apa yang akan jadi miliknya, oya, katanya ada yang nanya 'jungmo itu kembar sama kyuhyun?' nah jawabannya akan ada di chap2 selanjutnya. Ada lagi 'kyu itu hantu?' jawabannya bukaaann =_= dia itu pokoknya gak bisa dibilang hantu deh dan akan dijawab di chap selanjutnya juga. Terus ada yang nanya lagi 'yang nyiumin min itu kyu?' naah itu bener, karena kyu selalu ngomong sungmin itu miliknya. D

oya lanjutan ini mungkin didiscontinued sebentar karena 2 minggu lagi UN :"( hape udah disita, bentar lagi laptoppun juga disita sama appa eomma bahkan sama 2 oppaku sekaligus ==" *miris* nih juga lanjuttinnya karena ngumpet2 dari kedua orangtua yang teriaknya bisa sekampung *curhat abaikan* okeyy gomawo banget buat reviewnya, seneng banget ff saya dihargai sebenernya ff smile! itu remakean juga, dari ichikawa snow, tapi karena dibuatnya pas mati lampu jadinya lupa ditulis =_= tapi makasih sekali lagi buat reviewnya. 2 minggu lagi saya pasti akan langsung ngibrit ngetik ff lagi hehe

gomawo banget ya reviewnya! XD

REVIEW PLEASE ! :)

New Authors,

Jueta.