Disclaimer: Detective Conan © Gosho Aoyama.
Warning: OOC, OC, Typo, Hiperbol, klise, dll.
A/N: di chapter ini Shiho menjelma menjadi karakter yang benar-benar-benar-benar berbeda atau OOC. Disini Shiho menjadi temper dan kehilangan ketenanganyakarena PMS nya. Enjoy!
PMS
AAARRRRRKGH!
"DIMANA NOVEL THE WINTERS TALE KU?"
Terdengar jeritan dengan nada murka dari kamar di lantai dua sehingga membangunkan seluruh penghuni yang di dalam rumah tersebut juga tetangga sebelah. Keempat pria itu mendobrak masuk ke kamar Shiho yang merupakan sumber suara ribut tadi. Mereka masih menggunakan piyama.
"Ada apa, Shiho?" tanya Heiji sebal karena jeritan Shiho membuatnya langsung melek secara otomatis dan mengganggu tidurnya yang nyenyak. Yang lain juga menatapnya dengan kesal.
"Kau pasti mengambil novel favoritku, kan?" tanya Shiho marah dan tatapannya mengarah pada keempat pria itu. Sontak pria-pria itu kaget, "APA?!"
"Kami tidak pernah mengambilnya, kok. Kau saja yang mungkin asal simpan." Bantah Saguru. Shiho memutar matanya, "Aku tadi malam membacanya dan kusimpan di rak bukuku tapi sekarang tidak ada disitu."
"Sudahlah, Shiho! Jika itu hilangnya di dalam rumah, pasti nanti akan kembali lagi kok." Ujar Kaito yang berusaha menenangkan Shiho yang tiba-tiba menjadi temper. Tatapan mata Shiho menuju ke arah Kaito.
"Kau! Kau pasti yang mengambilnya kan, maling?" Shiho makin menjadi-jadi. Kaito terbelalak dan Shiho pun maju dan mencengkram kerah piyama pria itu.
"A-aku tidak mengambilnya. Sumpah! Sasaranku jika mencuri hanyalah permata ajaib itu. Jika aku menginginkan novel itu, aku bisa membelinya sendiri." Bantah Kaito dan Shiho pun menjadi sedikit melunak. Wanita itu pun melepaskan kerah piyama Kaito dan segera mengambil handuk.
"Sudahlah! Minggir sana! Aku ingin mandi." Ujarnya ketus lalu meninggalkan keempat pria yang bingung tersebut. Ada apa dengan wanita itu?
Sudah berbulan-bulan semenjak mereka tinggal bersama Shiho dan juga mengenal sifat asli Shiho tapi belum pernah melihat hal ini. Shiho terkadang memang suka marah tapi bukan mengamuk seperti ini. Paling-paling biasanya hanya seperti kesal. Well, setiap bulan dia selalu marah tak jelas.
Hari ini Shiho benar-benar berbeda dan pagi itu diawali dengan amarah. Wanita itu sudah bukan marah, melainkan murka. Pagi itu diawali dengan buruk. Shiho yang biasanya dingin menjadi panas dan gejala-gejala temper nya selalu terlihat. Biasanya wanita itu selalu tenang dan handal menyembunyikan emosi yang ada dibalik topeng datarnya.
"Tidak biasanya aku melihat Shiho seperti ini. Ini bukan seperti Shiho yang kukenal." Keluh Shinichi. Heiji mengangguk sementara Saguru menghela napas. Kaito? Dia sibuk mengomel tidak jelas. Mungkin tuduhan Shiho yang mengira pria itu mencuri novelnya benar-benar membuat dirinya mengomel tidak jelas.
"Dia bahkan lebih parah dari Kazuha." Timpal Heiji, "Shiho yang kukenal adalah pendiam, cuek, dingin, tapi perhatian dan sangat baik di dalam. Bukannya ketus dan pemarah seperti ini." Tambahnya
"Daripada kita sibuk mengeluh tidak jelas, lebih baik kita membantunya mencari novel itu." usul Shinichi dan akhirnya yang lainnya sepakat. Mereka pun membantu Shiho mencari novel karya Shakespeare milik wanita itu.
"Bagaimana. Kau sudah dapat?" tanya Kaito. Heiji menggeleng, "Ternyata wanita itu sulit ya?" keluh Heiji. Kaito hanya mengangkat bahu lalu kembali mencari.
"Minna, aku akan pergi keluar sebentar ya." ujar Shiho yang perasaannya sudah agak membaik. Dia sudah kembali menjadi dirinya lagi dan itu membuat yang lainnya sedikit lega.
"Kau mau kemana?" tanya Saguru.
"Ke supermarket saja. Bahan makanan di dapur sudah habis." Jawab Shiho.
Saguru pun melihat Shiho dari atas ke bawah.
"Sepertinya pakaianmu agak sempit. Lihat saja." Ujar Saguru dengan polosnya dan membuat Shiho mulai mengeluarkan jurus barunya.
"Sempit?! Sempit katamu?! Asal kau tahu, Saguru. Kaus ini memang ketat tapi aku sama sekali tidak gemuk. Itu kan yang ingin kau katakan? Bahwa aku ini gadis yang gemuk?" sembur Shiho dengan marah lagi. Kaito mengerucutkan bibirnya bosan, Heiji mendelik ke arah Saguru karena sudah membuat rumah menjadi kehilangan ketenangannya lagi, Shinichi memutar mata sementara Saguru hanya facepalm. Susah menangani gadis yang tiba-tiba mengamuk.
"Tidak, Shiho. Kau tidak gemuk, kok. Saguru terkadang memang suka asal bicara." Bujuk Shinichi dan membuat Shiho mulai melunak walau kilatan api di matanya masih membara.
"Aku pergi." Tutup gadis itu lalu pergi.
Ketika Shiho sudah berlalu, keempat pria itu pun langsung lega.
"Huh! Nona-tukang-marah-tak-jelas itu akhirnya berlalu. Ada apa dengannya?" ujar Kaito. Saguru menggeleng.
"Dasar wanita!" seru Heiji. "Mulai sekarang ini, bersikap manis lah padanya seolah tak pernah terjadi apa-apa."
"Baiklah."
Shinichi pun pergi ke kamar Shiho dan mencari bukunya. Akhirnya dia mendapatkan buku yang hilang dan ternyata buku itu berada di laci meja sebelah tempat tidur wanita itu.
"Dasar wanita! Ternyata bukunya itu ada di laci meja sebelah tempat tidurnya." Keluh Shinichi sambil memandangi novel yang dicari Shiho yang sekarang tergeletak di meja ruang tamu.
"Biarkan saja." Timpal Saguru. Shinichi meliriknya dengan sebal, "Apa maksudmu dengan 'biarkan saja'?"
"Apa yang kau maksud 'biarkan saja mendapat makian tanpa alasan yang jelas'? itukah? Asal kau tahu, aku sudah lelah mendapat makian seharian ini." Tambah Shinichi dengan nada kesal. Heiji tertawa bersama Kaito sementara Saguru hanya memutar mata.
"Oh ayolah, Shinichi! Kau mulai terdengar seperti Shiho versi 2.1. Haha! Kau sudah mulai suka negative thinking pada orang." Ujar Kaito.
"Shiho versi 2.1?" tanya Shinichi dan Kaito mengangguk.
"Maksudnya?" Heiji mulai bingung dengan arah pembicaraan ini. "Ada dua Shiho di dalam rumah ini sekarang. Ada Shiho, itu Shiho yang kita kenal. Ada lagi yang namanya Shiho 2.1, itu Shiho yang pemarah."
Yang lainnya tertawa.
"Aku pulang." Ujar Shiho dengan nada yang sedikit kesal sehingga membuat kaget yang lainnya karena takut akan kena marah lagi. "hari ini benar-benar hari yang buruk. Rokku basah kena cipratan air gara-gara taksi sialan itu dan sekarang sepatuku bolong."
"Huh! Mulai lagi tuh!" bisik Kaito pada Shinichi yang berada di sampingnya. "Biarkan saja, KID."
"Kalian mengatakan sesuatu?" tanya Shiho walau masih ada sedikit nada jengkel dalam suaranya. Kaito dan Shinichi menggeleng, "Tidak, kok."
Shiho menggeleng pelan lalu pergi menuju dapur untuk menyimpan belanjaan yang baru saja dibelinya dan setelah itu menghilang menuju kamarnya. Shiho menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menghela napas. Sudah seharian ini dia murka tanpa sebab. Ya, dia mengalami PMS alias Premenstrual Syndrome. Gejala ini sudah melekat pada dirinya jelang masa-masa menstruasi. Sungguh! Dia lelah menjadi pemarah seperti naga gila yang marah dan menjadikan keempat sahabatnya korban bulan-bulanan PMS nya (walau bulan-bulan sebelumnya temper nya tidak terlalu parah seperti bulan ini). Tapi apa boleh buat? Amarah dan semburan kata-kata itu lepas tak terkendali tanpa dikontrol. Mendesah sedih, dia pun berbaring di ranjangnya.
TOK TOK TOK
"Silahkan masuk, Ran-san, Aoko-kun." Ujar Saguru yang membukakan pintu untuk Ran. Ran pun duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa kau datang kesini, Ran?" tanya Shinichi. "Untuk menengok Miyano-san, apalagi?"
"Dimana Kaito?" tanya Aoko sambil mencari-cari Kaito. Heiji datang dan meghampiri mereka, "Oh, Nakamori dan Ran-san, ada apa datang kalian datang kemari?"
"Hattori-kun, kami ingin menengok Miyano-san. Omong-omong, dimana Miyano-san–" dan Aoko memotong perkataan Ran, "dan Kaito. Dimana mereka?"
"Oh, itu. Kalau Shiho, dia sedang berada di kamarnya dan Kaito, dia tadi pergi ke lantai dua." Jawab Heiji. Terdengar suara langkah kaki yang keras di tangga dan muncullah Kaito dengan wajah kusut.
"Kau kenapa?" tanya Aoko. Kaito tidak mempedulikan pertanyaan Aoko dan masih dengan wajah kusutnya.
"Sinting! Mengapa aku bisa serumah dengannya?!" ujar Kaito jengkel dengan suara yang besar. Para pria yang lain hanya bisa sweatdrop dan akhirnya facepalm.
"Mulai lagi tuh." Ujar Heiji berusaha sabar. Kaito makin menjadi-jadi, "Dasar sinting! Ingin dibantu malah marah! Aku tidak mau lagi berteman dengannya!"
"APA KATAMU! KAU BILANG AKU SINTING! HALO?! SIAPA YANG SINTING DISINI?! DASAR MALING BRENGSEK!" suara teriakan terdengar dari kamar Shiho di lantai dua. Semua yang ada di lantai bawah langsung sweatdrop dan takut. Ran dan Aoko hanya bisa kaget mendengar Shiho mengamuk karena jika Shiho mengamuk, itu adalah hal yang sangat langka.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Ran. Yang lainnya memilih bungkam tapi Saguru angkat bicara.
"Itu, maksudku Shiho. Sudah seharian ini dia marah-marah tak terkendali dan bahkan dia sudah seperti seseorang yang tidak kukenal. Setiap bulan dia memang selalu marah-marah tak jelas tapi tidak seperti ini."
"Apa kau bisa mengatasinya?" tanya Shinichi. Ran dan Aoko saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak. Para pria semakin bingung.
"Dasar pria! Dia itu sedang PMS–"belum sempat Ran melanjutkan, Kaito sudah menyimpulkan dan langsung terkejut dengan memotong perkataan Ran, "Ap-apa? Shiho terkena Penyakit Menular Seksual? Kau sungguh-sung–"
"Dengar dulu, Bakaito!" potong Aoko jengkel. Kaito dan yang lain pun diam untuk mendengar penjelasan Ran.
"PMS itu adalah gejala-gejala yang terjadi sebelum wanita menstruasi alias Premenstrual Syndrome dan itu terjadi pada kaum wanita pada setiap bulannya. Sensitif dan gampang marah juga salah satunya. Kunci untuk menenangkan wanita yang PMS adalah kebahagiaan. Bersikap manislah di depannya dan buat dia senang. Jangan pernah membuatnya tersinggung."
Para pria menganggukkan kepala mereka tanda mengerti. Shiho turun dari kamarnya dan melihat Ran datang bersama Aoko.
"Oh, Mouri-san, Nakamori-san. Ada apa kalian datang kemari?"
"Kami ingin menengokmu, Miyano-san." Jawab Ran. Shiho mengangguk dan menghampiri mereka. "Aku tidak tahu kalian akan datang. Omong-omong, maafkan aku untuk keributan tadi."
"Kami tahu kok bahwa kamu sedang PMS." Balas Ran. Shiho tersenyum tipis dan melihat ke jendela. "Wah, sudah siang. Aku akan buatkan makan siang. Kalian makan siang disini?"
"Boleh juga."
Shiho pun pergi menuju dapur dan memasak makan siang untuk enam orang yang ada di dapur plus dirinya. Setelah selesai makan siang, Ran dan Aoko sudah pulang. Saat itu Shiho dan Saguru ada dirumah sementara yang lainnya pergi entah kemana. Shiho pun berbaring di sofa ruang nonton sambil mendengarkan rekaman milik ibunya.
Setelah beberapa hari menangkan gadis yang tiba-tiba menjadi temper, keempat pria dalam 5 genius pun lega karena sosok Shiho yang disayanginya sudah kembali menjadi dirinya dan itu adalah hal yang menyenangkan. Satu hal yang benar-benar disadari oleh keempat pria itu adalah...
Wanita benar-benar unik.
-FIN-
Shiho benar-benar beda ya disini. btw, gara-gara aku PMS..aku jadi terinspirasi buat judul ini. Hehehe.. tapi nggak separah Shiho sih disini.
Silahkan memberi review dan flame juga boleh (jika perlu).
