A/N : Wahaaa, saya kayaknya agak-agak pindah haluan ini… Kenapa hati saya mesti nyangkut di Kamen Rider Den-O sih? Errr… Saya cinta Kamen Rider series. #pletak Dan saya pengen nonton Kamen Rider W lagi…

Disclaimer : Inazuma Eleven © Level-5

Warning :Alternate Universe, Out Of Character, Hint(s) of Yaoi/Shounen-ai/BL/Slash, Gore, Death Chara(s), Bloody, Violence.

Don't like don't read!

.

.

Setiap manusia, mempunyai hal yang harus disembunyikan. Sesuatu yang disebut rahasia. Bahkan aku juga mempunyainya. Wajah asli yang kusembunyikan dibalik senyum ramah.

Aku itu orang aneh. Dan, semua orang tidak menyadarinya. Hanya dia yang terang-terangan berkata bahwa aku adalah orang aneh.

Orang yang menarik. Orang yang bisa melihat celah di topeng ramahku. Celah yang cukup besar. Aku tidak boleh memperlihatkan wajahku semudah itu. Dan membiarkan topeng itu jatuh dari wajahku dan pecah berkeping-keping.

Dia tidak akan kulepaskan.


.

.

#

With Me

.

©Akazora no Darktokyo

#

.

.


.

.

Lagi-lagi kelas ramai, tidak ada guru yang mengajar. Sedangkan Ichirouta dan Ryuuji hanya duduk-duduk di kursi masing-masing. Kursi mereka yang saling depan-belakang. Mengobrol, biasa.

"Ryuuji, ada sesuatu yang kau sembunyikan ya?" tanya Ichirouta.

"Eh, tidak ada. Kenapa bicara begitu?" tanya Ryuuji balik.

"Senyummu tidak menunjukkan hatimu. Apa kau tidak sadar kalau kau ini orang aneh?"

"Begitu ya. Memang dimana anehku?"

"Kau melihat seseorang tidak seperti sedang melihat manusia. Senyummu sekilas ramah, namun matamu seolah tidak mendukung senyummu–," jelas Ichirouta belum selesai. Ryuuji keburu memotong.

"Wah, berarti kau memperhatikanku! Ah, aku tidak menyangka Ichirouta segitu mencintaiku."

"–bahkan terkadang kau mengalihkan pembicaraan untuk menutupi masalah," lanjut Ichirouta tanpa memerdulikan tatapan aneh Ryuuji. "Kenapa tidak jujur saja, sih?"

"Kenapa, ya? Habis tidak seru sih kalau jujur…" kata Ryuuji melanjutkan bercanda. Dan, ia tertawa.

"Dasar orang aneh," komentar Ichirouta. Ia hanya melihat kearah jendela. Tanpa memerdulikan pandangan Ryuuji.

Pandangan yang gelap.

.

.

.

"Entah kenapa kok rasanya ada yang kurang ya…" kata seorang siswa berambut coklat yang memakai headband berwarna oranye.

"Kau sadar ya, Mamoru," komentar seorang berambut dread dan ber-goggle biru berkata kepada si rambut coklat.

"Handa Shinichi kan yang menghilang? Teman dekat Matsuno Kuusuke," tambah seorang mempunyai rambut putih yang melawan gravitasi.

"Bukannya sebelum menghilang dia agak dekat dengan Miyasaka itu ya?" tanya siswi berambut ungu.

"Ya, begitulah. Miyasaka yang penyendiri, jarang orang yang mau menemani dia," jawab siswa yang berambut merah.

"Tidak baik mengatai orang itu penyendiri, Hiroto," timpal orang yang disebut 'Mamoru'.

"Oh ya, Ryuuji akhir-akhir ini kok tidak ada ya?" celetuk Hiroto.

"Dia itu kan sedang mendekati Kazemaru, wajar saja kalau tidak ada," kata si goggle biru.

"Oh iya, ya…" lanjut Hiroto.

"Sepertinya aku sudah ketinggalan banyak tentang suatu hal yang menarik ya," kata murid yang lain pula. Cantik, siswa yang cantik. Berambut pirang dan bermata ruby.

"Memang selama ini kau kemana, Aphrodi?" tanya si siswi berambut ungu.

"Menjodohkan sejoli itu, Fuyuki~ Mereka menyenangkan sekali! Ah, pasangan yang serasi!" jawab Aphrodi. "Kazemaru itu murid baru kan? Memang dia manis sekali, ya?" lanjutnya.

"Secantik kaulah," kata Fuyuki. "Jadi, mereka jadian? Suzuno-kun dan Nagumo-kun?"

"Iyaaa~ Ayo tabur confetti. Minta pajak jadian. Hahahaha…" jawab Aphrodi sambil tertawa riang.

.


.

.

"Kenapa kau selalu sendirian sih? Kayak tidak punya teman pula. Lagi juga, kok kamu tidak bawa bekal dari rumah?" tanya Ichirouta bertubi-tubi. Mana enak di jam istirahat makan bekal sendirian. Padahal, pemandangan di atap sekolah sudah bagus.

"Aku memang tidak punya teman, pengecualian kau. Aku tidak membawanya, karena aku memang tidak bisa masak," jawab Ryou dengan tenang.

"Orang tuamu?"

"Tidak ada. Mati."

"Tenang sekali kau menjawabnya. Apa kau tidak sedih?" tanya Ichirouta, peduli.

"Tidak. Biasa saja, bahkan aku ingat kejadian saat mereka mati. Mereka dibunuh," jawab Ryou.

"Maaf, telah mengingatkanmu pada orang tuamu," ucap Ichirouta minta maaf.

"Tidak masalah. Lagipula, ada saatnya kita harus melupakan seseorang dan kenangannya,"

"Dibunuh, ya? Kenapa kau bisa selamat?"

"Keajaiban, mungkin."

Pembicaraan mereka dijeda dengan suara sepi. Sama-sama diam, tidak ada yang berbicara. Setidaknya sampai Ichirouta mulai berbicara lagi.

"Meski kau bilang aku adalah temanmu, kau itu tetap saja mempunyai ruang lingkup sendiri. Kurasa adakalanya kau harus sedikit membuka ruang itu," kata Ichirouta.

"Untuk?"

"Kalau kau sudah mulai mempunyai teman, kurasa tidak baik kalau kau terlalu tertutup seperti itu, Cobalah bersikap menyenangkan seperti seorang teman yang normal," nasihat Ichirouta.

"Aku itu bukan orang normal, maklumi saja," balas Ryou.

Bel berbunyi. Ryou bangkit dari tempat ia duduk. Berjalan ke belakang. Berjalan menuju tangga kebawah. Sebelum itu, ia menengok kearah belakang, melihat Ichirouta yang sedang memberesi kotak bekalnya.

"Kazemaru, kau mau kuberi tahu sesuatu? Tentang salah satu hal dari ruang lingkupku yang tertutup," tawar Ryou.

"Apa?"

Ryou hanya berkata kecil, nyaris berbisik, "orang tuaku dibunuh olehku," seraya tersenyum kecil. Senyum polos yang menyembunyikan sisi gelap.

"Apa kau bilang tadi? Aku tidak dengar," kata Ichirouta.

"Salahmu sendiri kalau kau tidak mendengarnya," balas Ryou sambil melenggang pergi menuju tangga. Dan turun kebawah, meninggalkan Ichirouta yang menggerutu diatas.

Ryou tetap berjalan turun, sampai ia berpapasan dengan seseorang. Dan, seseorang itu menyapanya.

"Kau ya, yang namanya Miyasaka," sapa orang itu. Ryuuji.

"Ya, itu aku. Salam kenal, Midorikawa-senpai," balas Ryou dingin. Acuh tak acuh. Dan, ia mulai berjalan lagi.

"Dingin sekali, kau. Miyasaka," kata Ryuuji.

"Maafkan atas kelancanganku, Midorikawa-senpai. Tapi, aku masih bisa berpikir untuk tidak berteman dengan orang yang sejenis denganku," kata Ryou balik. "Untuk orang sepertiku, sisi gelapmu kelihatan sekali," lanjut Ryou.

"Kau juga. Memang tidak terlalu kentara sih, kau kan penyendiri. Tapi, aku tidak menyangka ada orang yang bisa melihat wajah asliku semudah itu."

"Senyummu bahkan tidak dapat menyembunyikan sisi gelapmu, Midorikawa-senpai."

"Langsung saja ke intinya, jauhi Kazemaru sekarang," ucap Ryuuji tapa basa-basi. "Dia milikku,"

"Tidak semudah itu, Midorikawa-senpai. Sayang ya, kau harus berusaha keras untuk itu. Aku ingin memilikinya juga. Orang menarik itu," kata Ryou.

"Lihat saja nanti. Kau kulepaskan."

"Maksudmu?"

"Aku tidak suka dengan orang yang melihat wajah asliku semudah itu. Tapi, karena kau sejenis denganku, aku memakluminya," jelas Ryuuji. "Tapi, tidak untuk orang lain, seperti dia,"

"Begitu? Kau berurusan denganku, kan? Sepertinya kau mempersulit dirimu sendiri, Midorikawa-senpai," kata Ryou menantang.

"Kau yang akan dibuat sulit, Miyasaka."

"Oh, kutunggu kesulitan itu, Midorikawa-senpai." Kata Ryou langsung berjalan meninggalkan Ryuuji.

Sayang, seseorang mendengarnya. Seseorang yang lain mendengarnya. Mendengar pembicaraan Ryuuji dan Ryou. Seorang Kazemaru Ichirouta mendengarnya.

"Apa maksud mereka?"

.


.

.

Ryuuji's POV

.

Banyak yang terjadi hari ini. Benar-benar banyak. Mulai dari ucapan Ichirouta tentang diriku sampai 'perkenalan yang baik' dari Miyasaka. Aku memadangi papan darts yang tertempel di balik pintu kamar. Bukan papannya, tepatnya aku memandangi foto yang tertempel disana. Foto yang terletak pas di tengah-tengah papan darts.

Foto seorang Kazemaru Ichirouta.

"Sepertinya topengku perlahan-lahan mulai retak ya. Karena kau melihat celahnya," kataku berbicara pada foto itu. Aku ambil tiga panah darts di tempatnya yang berada tepat dibawah papan darts itu.

Aku melempar salah satunya. Meleset. Panah darts itu hanya tertancap di lingkaran paling luar papan darts.

"Padahal kau menarik sekali, Ichirouta."

"Pertama kali aku melihatmu, aku hanya ingin menjadikanmu sebagai orang yang lebih dari teman. Sekedar pelengkap suatu topeng yang sempurna,"

Satu panah terlempar lagi. Meleset. Tapi, tidak terlalu meleset seperti sebelumnya. Meski belum mengenai foto Ichirouta.

"Sayang kau nyaris melihat asliku. Aku tidak bisa membiarkanmu bebas, bukan?"

"Pengecualian untuk Miyasaka. Dia sejenis denganku. Orang yang mengerti tentang kematian dan betapa menyenangkannya suatu kematian itu."

"Tentu kematian itu tidak untukku. Kematian itu untuk orang yang berharga. Bukannya kematian itu indah, Ichirouta? Menghentikan segala dosa manusia."

"Aku yang akan mengantarkan kematian itu padamu."

Dan, satu panah itu sudah melesat menuju papan darts. Aku hanya tersenyum melihat kemana panah darts itu tertancap.

"Bull's-eye."

"Tapi, sebelum itu, bagaimana kalau aku menghancurkan penghalang dahulu?"

Aku melihat kearah asbak. Tidak, aku tidak merokok. Asbak itu kupakai untuk menampung sampah yang akan kubakar. Dalam hal ini, sampah yang ada di dalam asbak itu adalah foto Miyasaka Ryou.

Aku bukan stalker, kalau kalian pikir begitu. Foto Ichirouta dan Miyasaka mudah didapat. Kau hanya perlu mencarinya di data siswa yang ada di website sekolah. Pakai kemampuan hack sedikit, dan berhasil.

"Kau menghalangi, Miyasaka. Kau yang akan kesulitan karena telah berurusan denganku."

Saatnya menyalakan pemantik. Sulutkan api ke sampah itu. Dan biarkan sampah itu hancur terbakar.

"Nasibmu akan menjadi seperti sampah itu, Miyasaka. Hancur lebur menjadi abu."

Api hanya melahap foto itu. Membiarkan sisi yang terbakar menghitam tak berbentuk.

"Sebentar lagi, saatnya melenyapkanmu."

.


.

.

Ryou's POV

.

"Selamat tinggal, Matsuno Kuusuke," kataku memberi salam kepada potongan-potongan mayat yang siap kubakar. Aku memasuki potongan-potongan mayat itu kedalam lubang yang biasa kupakai untuk membakar mayat.

Akan kuceritakan dengan jelas bagaimana ia bisa menjadi seperti ini. Juga suatu keputusan mutlak yang akan dilakukan.

Tadi, ia datang ke rumahku. Mencari jejak tentang keberadaan Handa Shinichi, teman baiknya. Aku mempersilahkannya masuk. Menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Saat itu, aku mengambil minum di dapur dahulu. Lalu, menyuguhkan minuman itu.

Dia bilang dia khawatir tentang Handa-san. Karena Matsuno tahu aku dekat dengan Handa-san akhir-akhir ini, makanya ia bertanya kepadaku. Keputusan yang salah. Saat itu, ada rasa sayang di hatiku.

Yah, sayang sekali. Aku baru membakar kepalanya seminggu yang lalu karena bosan. Lagipula, sudah ada Kazemaru kan… Tapi, mungkin jika kepala Handa-san masih ada, aku akan memberi itu untuk Matsuno sebagai kenang-kenangan.

Dia bertanya dan aku menjawab. Dia yang bertanya tentang perihal hilangnya Handa-san, terkejut. Padahal, aku menjawab fakta. Aku yang membunuh Handa-san. Dia tidak percaya, ia lalu berdiri dari tempat duduk. Paras terkejut, ketakutan, dan kesedihan bercampur dengan jelas.

Ia langsung memilih berlari menuju pintu keluar seraya mengambil ponsel. Mungkin untuk menghubungi polisi. Tanpa ragu-ragu, aku mengambil stick golf. Aku mengejarnya dan memukul dia tepat di kepala. Ia jatuh tersungkurdan berteriak kesakitan.

Kepalanya mungkin bocor. Mengeluarkan darah, sih…

Ah, dia masih hidup. Aku memukul kepalanya sekali lagi. Dia mengerang kesakitan. Ah, dia terlalu berisik. Mungkin satu pukulan lagi cukup untuk menghentikan suara keluar dari mulutnya. Ehm… bagian vital kepala itu kan bagian belakangnya. Jadi, kupilih untuk menghantam bagian belakang kepalanya.

Dia mengerang agak keras, lalu dia pingsan. Aku berharap pukulanku membuat tengkorak-nya pecah dan langsung mengenai otak. Langsung mati. Dan selesai.

Yah, untuk berjaga-jaga, aku pukul saja bagian kepala belakangnya sampai hancur. Kan kalau begitu, manusia pasti sudah mati. Tapi, mayatnya jadi teronggok di lantai begini. Sekarang, lebih baik pikirkan cara membersihkan mayatnya.

Bel rumah tiba-tiba berbunyi. Aku mengintip dulu dari dalam rumah. Ternyata itu tetanggaku. Dia sekarang ada di depan pagar.

"Siapa?" tanyaku dari dalam, mencoba memastikan sekali lagi siapa yang ada di luar.

"Ini aku," kata suara dari luar. Ah, benar. Itu suara tetanggaku.

Aku membuka pintu rumah dan berjalan sampai pagar rumah. Aku tidak membuka pagar itu.

"Ada apa?" tanyaku.

"Rasanya aku mendengar suara teriakan tadi. Aku kemari untuk memastikan tidak ada apa-apa," jelas tetanggaku.

"Maaf, teriakan tadi adalah teriakanku. Tadi, tidak sengaja aku menginjak kecoa. Dan, aku kaget. Kontan, aku berteriak. Tapi, aku tidak menyangka teriakanku sekeras itu. Maaf ya," jelasku dan meminta maaf. Ditambah sedikit senyum canggung yang palsu.

"Tapi, kau tidak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.

"Ya, aku tidak apa-apa. Semuanya sudah terkendali," jawabku.

"Kau memang anak yang manis. Pintar, berani pula. Maaf ya, mengganggu malam-malam. Aku pulang dulu," pamit tetangga itu.

"Ya, terima kasih," kataku sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Setelah dia masuk kedalam rumahnya, aku bergegas masuk kedalam rumahku. Menutup pintu rapat-rapat dan mengunci pintunya.

"Sekarang saatnya membereskanmu. Kau ingin kupertemukan dengan Handa-san bukan?"

Matsuno diam.

"Jadi, bagaimana aku mempertemukanmu?"

Ia tetap diam.

"Kupotong dulu semua badanmu. Agar kau lebih mudah dibakar. Tentu untuk bertemu dengan Handa-san, kau harus dibereskan dengan cara yang sama kan?"

Aku mengambil pisau pemotong daging. Membawanya menuju Matsuno. Pertama, aku memotong kepalanya dahulu. Membiarkan kepalanya terpisah dari lehernya. Setelah itu kedua tangannya. Juga kedua kakinya. Tidak kuperdulikan suara tulang yang bergesekan dengan pisau, ataupun darah yang menyiprat ke baju dan lantai.

Nikmati saja. Hal ini menyenangkan.

Sekarang saatnya menginvasi badannya. Hal yang paling kusuka adalah bagian dari bawah leher sampai atas paha. Didalam bagian itu ada organ-organ yang menyenangkan untuk dilihat.

Aku mengganti pisau dengan pisau biasa. Pertama, aku membelah dada bagian tengah. Tidak sampai putus. Aku lalu membuka daging yang menempel di tulang-tulang. Agak sulit membuka daging yang ada di tulang rusuk. Darah juga membuat tanganku licin.

Lalu, aku tarik organ-organnya keluar. Jantung, paru-paru, hati dan lain-lain. Tubuh manusia itu rumit, sungguh menyenangkan jika bisa membuatnya mudah. Jantung Matsuno masih terasa berdetak sedikit, meski sangat-sangat lemah.

Kutusuk jantung itu. Menghentikan detak yang berpacu.

Dan, aku baru menyadari. Lantai rumahku dan bajuku sudah dipenuhi dengan darah. Menyenangkan.

Mungkin sebagai seorang psikopat, aku tidak begitu peduli cara membunuh yang rapi. Aku membunuh karena aku senang. Suara kematian itu menyenangkan. Suara yang tersiksa, suara yang meminta ampun, ataupun suara kesakitan.

Aku mengubah posisiku menjadi berbaring terlentang. Berbaring beralaskan darah. "Apakah nanti giliranmu, Kazemaru?"

Diam. Tanpa ada yang menjawab. Aku tidak perlu itu.

"Ah, aku lupa masih berurusan dengan Midorikawa-senpai…" kataku. Menghela nafas sebentar, aku melanjutkan bicara, "bagaimana caranya aku menghabisi dia ya?"

Dan aku memutuskan,

"Akan kusiapkan sebuah akhir untuknya,"

.

.


.

.

Normal POV

.

Pagi ini cerah. Tidak sesuai dengan hati Ichirouta. Tentu saja karena pembicaraan antara Ryou dan Ryuuji saat istirahat kemarin. Perlu sebuah keterangan yang jelas tentang hal itu. Tidak bisa diam saja untuk mengetahui.

Berjalan ke kelas dengaan perasaan yang campur aduk sebenarnya bukan sebuah pilihan memulai hari yang bahagia. Setidaknya, bagi Ichirouta.

"Ichi!" sebuah suara dan sebuah tangan menepuk pundak Ichirouta. Suara dan tangan Ryuuji.

"Ryuuji, aku–"

"Apa? Kau sakit ya?" tanya Ryuuji yang melihat tingkah Ichirouta yang –menurutnya- aneh. Dan menempelkan telapak tangannya di dahi Ichirouta.

Sayang, telapak tangan itu ditepis oleh Ichirouta.

"Jam istirahat. Aku perlu berbicara denganmu," kata Ichirouta.

"Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Ryuuji lagi.

"Tentang pembicaraan Miyasaka dan kau kemarin. Kurasa itu bukan termasuk pembicaraan yang dapat dibicarakan dengan santai," jelas Ichirouta.

"Ya, jam istirahat. Di toilet lantai 3," kata Ryuuji mengiyakan. Nada suaranya agak sedikit berubah serius.

"Setuju."

'Semudah ini mendapatkanmu, Ichirouta,' batin Ryuuji. Senang.

"Saat itu, sekalian akan kuceritakan diriku yang sebenarnya. Juga, semua hal yang membuatku seperti ini," balas Ryuuji. Dengan memasang senyum senang.

"Ayo kita ke kelas," ajak Ichirouta.

"Ya."

.

#

.

Setiap pelajaran terasa berlalu dengan cepat.

Waktu itu terkadang jauh lebih cepat dari yang diduga. Ketika bel istirahat berbunyi, Ichirouta dan Ryuuji langsung beranjak ke 'tempat perjanjian'.

"Bolehkah aku bercerita lebih dahulu?" pinta Ryuuji.

"Silahkan," Ichirouta mempersilahkan.

"Sejak kecil, aku bukanlah anak yang aneh. Meski ada sesuatu yang salah. Aku merasakan hal itu. Namun, aku tidak bisa mencegahnya."

"Apa itu?" tanya Ichirouta.

"Aku sangat senang ketika memutuskan bagian tubuh boneka. Boneka itu, boneka punya ibuku. Disimpan di gudang dan berdebu. Ada rasa yang aneh ketika melihat boneka itu hancur. Aku hanya merasa hal itu sepele. Wajar, mungkin?"

Ichirouta diam. Mendengarkan.

"Tidak ada apa-apa yang terjadi padaku. Ketika mulai memasuki kelas 6 SD, aku sering dijadikan sasaran gencetan. Mereka sering memperlakukanku dengan kasar. Dan aku, tidak bisa melawan mereka sekali. Dari dalam diriku, ada dorongan. Dorongan untuk menghancurkan mereka,"

Ichirouta tidak bereaksi sama sekali. Ryuuji tetap melanjutkan ceritanya.

"Saat mereka mencoba menggencetku lagi, aku berusaha lari. Mereka yang belum bisa menemukan aku, berpencar. Aku bersembunyi di belakang pohon. Bersembunyi terus, dan ada salah satu dari mereka menemukanku. Sesaat sebelum ia berteriak memanggil teman-temannya, aku melakukan sesuatu yang tidak kuduga,"

"Aku menusuk lehernya dengan cutter yang kubawa di kantung celana. Dia pingsan. Saat itu, aku ketakutan dengan apa yang telah kulakukan, bersamaan dengan sebuah rasa senang. Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku senang bisa melukainya. Saat itu, aku memutuskan langsung pulang saja kerumah. Membiarkan dia pingsan di tanah,"

"Setelah kejadian itu, aku merasa perlahan-lahan mulai kehilangan sebuah bagian penting diriku. Aku membenci diriku sendiri. Terutama, ketika aku mendengar dia mati. Saat itu, aku belum tahu bahwa aku menusuk lehernya tepat di nadi. Aku tidak tertangkap karena kurangnya bukti sang pelaku. Mulai sejak itu, aku tidak bisa menentukan mana diriku yang asli. Aku mulai membetuk topeng yang kupakai untuk menyembunyikan diriku yang asli."

"Untuk menahan dorongan itu, aku mencoba untuk membunuh orang-orang disekitarku. Baik yang dikenal ataupun tidak. Dan baru aku sadari, itu menyenangkan. Tapi, akhir-akhir ini aku sudah mulai jarang membunuh orang lain," Ryuuji mengakhiri ceritanya. "Sekarang, bagaimana kalau aku menceritakan pembicaraan antara Miyasaka dan aku? Itu kan yang kau tanyakan?"

Ichirouta mengangguk. Tetap diam dan mendengarkan.

"Apa kau tahu Miyasaka mengincarmu sebagai korbannya?" tanya Ryuuji.

Ichirouta menggeleng.

"Aku juga sama seperti Miyasaka. Aku mengincarmu. Karena kau dapat melihat wajah asliku," tambah Ryuuji.

"Topeng itu bercampur dengan wajah aslimu, Ryuuji. Terlihat, meski agak samar," balas Ichirouta.

"Aku telah melepas topengku, Ichi. Di hadapanmu, sekarang. Karena kau sudah tahu, aku tidak bisa membiarkan orang biasa sepertimu keluar hidup-hidup."

"Apa aku salah telah mengetahui dirimu yang asli?"

"Salah. Sangat salah. Bagiku, hanya diriku yang boleh tahu bagaimana diriku! Tidak ada orang biasa seperti kau yang mengetahui diriku yang sesungguhnya," kata Ryuuji. Tersirat nada marah dari suaranya.

Perlahan, dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, sebuah benda yang dibungkus kain. Dapat ditebak bahwa isinya adalah pisau.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Ichirouta.

"Membunuhmu, tentu."

Ichirouta tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Lantai 3 adalah lantai dimana isinya ruang PKK, ruang kesenian, laboratorium, dan ruang komputer. Alias lantai 3 bukanlah lantai yang berisi kelas.

Dan ruangan-ruangan lantai 3 hanya dipakai saat jam pelajaran tertentu. Ini adalah jam istirahat. Siapa yang mau rajin-rajin ke ruang yang disebutkan diatas?

"Tadinya, aku mau menghabisi Miyasaka dulu. Namun, kau datang padaku lebih dulu, pekerjaanku jadi lebih mudah," lanjut Ryuuji.

Perlahan, Ryuuji berjalan maju kearah Ichirouta. Ichirouta hanya bisa mundur ke belakang. Sayang sekali, belakang Ichirouta adalah tembok. Ia terpojok.

"Selamat tinggal," ucap Ryuuji. Salam perpisahan.

Pisau itu terayun. Terayun menuju Ichirouta yang ada disana. Ichirouta hanya bisa diam, menunggu apa yang terjadi.

Namun yang terdengar adalah suara pintu yang menjeblak terbuka dan dentingan pisau. Bukan suara pisau yang tertancap di kulit.

Sebuah pisau yang lain menghentikan ayunan pisau Ryuuji. Terlihat pula sesosok anak yang mungil didepan Ryuuji.

"Sudah kubilang, tidak semudah itu, Midorikawa-senpai,"

.

.


To be Continued


.

.

A/N : Ya-ha! Sudah diapdet… Saya cukup semangat karena sedang membaca novel Death Note : Another Note. Hei, keren sekali kau, Beyond Birthday! Oh, ia adalah salah satu psikopat kesayangan saya. Dia keren sekali~ Udah lama tau sih novelnya, cuma baru dapat sekarang~ XD

Saya mencintai sifatnya yang sadis itu. Soal muka sih, muka B itu persis L tanpa kantung mata. Kenapa dia keren sekaliii? Kenapa? Kenapa? Kenapa? *teriak di tengah cakrawala* *lebeh* #geplaked. Saya jadi lebih menyukai B daripada L. Dan, jika dijadikan pair, mereka itu menarik. Fufufufu… dari nama pair-nya aja udah ngocak. B x L, kalau nggak pake x kan jadinya BL alias Shounen-Ai. Muahahaahahaaaa…. XDDD

Lupakan ramblingan diatas, ayo kita membalas ripiu.

.

The Fallen Kuriboh

Arigatou gozaimasu, Dika-san XD

Anak sadis itu adalah Miyasaka Ryou. :)

Ya, disana itu emang POV-nya Ryou, tapi itu adalah Second POV. Jadi, format penulisannya itu kayak seolah ada sesuatu yang lain yang nyeritain si Ryou. Tapi, kayak hanya khusus untuk Ryou aja. Makanya Ryou disebutnya 'kamu'. Susah ngejelasinnya... Tapi di chapter ini gak ada second POV kok... tenang saja.

Updated. Maaf telat. :)

Thanks for review XD

.

Aishiro de Zeal Zealous

Saya juga udah lama gak nulis cerita gamang begini XD. Chapter 2... silahkan lihat sendiri #senyumsenyumgaje. Ini sudah di-update XD

Thanks for review XD