Kamar dengan dinding berwarna putih penuh ornamen di sekitarnya selalu terlihat rapi, tanpa kekacauan yang berarti, hingga membuat kedua bola matamu tidak merasa sakit ketika memandangnya. Ultear-nee mulai menyalahkan laptop, menyalahkan wi-fi dan membuka sebuah website bernama fanfiction. Mataku langsung membulat ketika melihat halaman awalnya yang tidak seperti twitter ataupun facebook, sulit sekali untuk dijelaskan, tetapi cukup aneh.
"Heh, website apa ini? Berbeda sekali dari twitter ataupun facebook" ucapku terus menggerutu, meski sebenarnya sedang memberi komentar
"Sekarang waktunya bagian yang paling penting"
Terdengar bunyi dari ketikan keyboard, suara mouse dan sesekali Ultear-nee menghentak-hentakkan kakinya. Lagu berjudul "Love is War" tengah mengalun di dalam kamarnya, aku sendiri kurang tau tentang hal-hal seperti itu, bisa dibilang kuper dan kudet. Parah sekali bukan? Entah mengapa perlahan-lahan aku mulai tertarik dengan website itu, bahkan keinginanku untuk membaca seakan meluap hingga tak bisa ditahan lagi.
"Tidak perlu menyembunyikannya lagi, nee-san sering melihatmu membaca novel dan menonton anime"
"Dasar stalker! Minggir, aku mau melihat-lihat"
Memang perbuatanku tadi sangatlah kasar, namun Ultear-nee tetap tersenyum, mungkin karena melihat semangatku yang membara bak si jago merah. Sebenarnya yang membuatku tertarik adalah kolom review dari para readers, bukan cerita ataupun kata pengantar. Sekitar lima menit aku sudah selesai membaca seluruh komentar yang ada, lanjut ke cerita berikutnya dan berikutnya.
"Kenapa kamu malah tertarik untuk membaca review dibandingkan cerita?"
"Apa salah? Kalau dipikir kembali, aku mulai mengerti soal website ini. Kamu tidaklah mencari teman dengan mengajak mereka mengobrol, melainkan melalui cerita dan review"
"Seratus untukmu, bagaimana tertarik untuk bergabung?"
"Tentu saja iya! Ultear-nee pikir aku akan berkata seperti itu, huh...?" balasku sambil menunjukkan sorot mata penuh amarah, langsung membuatnya merinding di tempat
"Bu-bukankah website ini keren? Kamu tidak perlu mengobrol dengan mereka untuk mendapat teman, tetapi melalui cerita! Sekalian juga untuk mengasah bakat menulismu"
"Humph...akan kupikirkan lagi nanti, aku ingin membaca review"
Maniak review? Mungkin Ultear-nee tengah berpikiran seperti itu. Setiap kali membaca komentar yang muncul di layar komputer aku selalu komat-kamit tidak jelas. Hampir semua orang memberi review dengan tidak ikhlas. Pada cerita yang memiliki sedikit review pasti isinya pun tak kalah singkat, seperti hanya berkata 'Lanjut ya', 'Update', 'Aku tunggu loh', dan lain sebagainya. Jika hanya merasa kasihan jangan menunjukkan simpati penuh sandirawa seperti itu, semua orang sama saja...
"Lucy, ada apa?" ketika menanyakan hal tersebut Ultear-nee terlihat khawatir, karena aku terus mengigit bibir sedari tadi
"Para readers hanya memberi simpati belaka, jika merasa kasihan maka berilah komentar yang panjang, beritau di mana letak kesalahan sehingga bisa menjadi lebih baik. Untuk apa memberi review singkat semacam itu?! Sama sekali tidak berarti!"
Setelah memberi review singkat, pada chapter selanjutnya mereka tidak akan lagi memberi komentar, menghilang begitu saja seakan hanya sekedar orang asing tengah berlalu-lalang. Dasar munafik, jika tidak menyukai cerita tersebut untuk apa memberi review penuh harapan kosong? Entah bagaimana, aku yakin pasti para penulis di website itu, selalu mengharapkan review dari orang yang sama maupun baru, karena bagi mereka sendiri hal tersebut amatlah penting.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Wajar saja bukan, melihat sekilas pun aku sudah tau, mereka sama sekali tidak ikhlas memberi review. Selalu berakhir seperti ini, memberi komentar pada chapter pertama yang berbunyi 'cepat update ya' lalu ketika chapter dua di publish orang itu tidak lagi memberi review"
"Siapa tau saja mereka sibuk dengan dunia nyata"
"Kalaupun sibuk, jika sang pembaca benar-benar menyukai cerita tersebut maka dia akan meluangkan waktu agar bisa membacanya, terus menunggu hingga tamat"
"Pemikiran yang bagus, padahal kamu bisa saja mengalahkan rangking satu di kelasmu"
"Aku tidak pernah memiliki ambisi seperti itu, yang terpenting adalah memusnahkan orang-orang jahat, munafik, menganggap hidup orang lain tak lebih dari debu, melakukan fitnah hingga bullying. Suatu hari nanti aku pasti akan menegakkan keadilan sehingga semua orang tidak perlu menderita"
"Kamu tetap adik yang baik, meski sudah berubah banyak, Lucy..." puji Ultear-nee mengelus pelan kepalaku, yang langsung memunculkan semburat merah pada kedua pipiku, merasa malu karena sudah lama Ultear-nee tidak melontarkan sedikit pun pujian semenjak insiden itu terjadi
Tetapi di antara mereka semua, ada satu orang yang menurutku cukup menarik
"Apa Ultear-nee mengenalnya?" tanyaku sambil menggerakkan mouse hingga kursor menunjuk nama JellalFernandes179
"Siapapun pasti mengenalnya. Jellal adalah pereview terbaik yang pernah ada! Dan mungkin dia bukanlah seorang tukang simpati belaka seperti readers lain"
"Be-begitulah"
Hampir dari seluruh kolom review yang kubaca pasti selalu terpampang nama itu, memang cukup panjang namun mudah diingat oleh siapapun karena setiap saat muncul dimana pun dan kapan pun. Jellal bukanlah seperti pereview lainnya, yang sekedar asal memberi komentar lalu pergi begitu saja. Dipenuhi oleh saran, cukup panjang dan menggunakan bahasa sopan adalah ciri khas dari seorang Jellal, begitulah kira-kira menurutku. Dari awal hingga akhir chapter pun dia tidak pernah melewatkannya meski hanya sedikit, benar-benar luar biasa...pada zaman seperti ini, apa ada orangm yang mau membuat letih jari-jari mereka, hanya demi memajukan orang lain?
"Aku yakin dia tidaklah sekedar memberi simpati belaka, orang ini selalu serius dalam memberi review"
"Sampai sebegitu yakinnya..."
"Lagi pula aku memiliki banyak bukti. Apa ada orang, seperti Jellal yang dengan rela membuat diri mereka sendiri lelah demi memajukan kemampuan orang lain? Setiap kali memberi komentar dia selalu memulainya dengan kelebihan dari cerita, lalu memberitau dimana letak kesalahan, bagaimana perbaikannya, bahkan memberi saran serinci mungkin"
"Jadi, mau bergabung menjadi member fanfiction?" tawar Ultear-nee yang langsung membuatku menunjukkan death glare, bukan berarti menemukan orang seperti itu, bisa merubah pikiranku dalam sekejap
"Sayang, jawabannya adalah tidak! Orang seperti Jellal benar-benar menyeramkan"
"Menyeramkan darimana? Beberapa menit lalu kamu memberi pujian dan sekarang menyindir, apa sih maumu?"
"Yang kuiinginkan adalah, jangan mencampuri urusan pribadi orang lain! Aku tetap pada motto teman hanyalah sampah yang sering memanfaatkanmu"
"Bagaimana jika begini? Ini bukanlah permintaan, nee-san menantangmu untuk membuat cerita dan setelah selesai akan dipublish di fanfiction, bagaimana?"
"Lalu bagaimana cara kita menentukan pemenangnya?"
"Dari banyaknya orang yang meriview. Syarat dari tantangan ini adalah kita tidak boleh membuat multichapter, kedua nee-san tidak akan melakukan promosi cerita di akun sosmed baik facebook ataupun twitter, ketiga cerita yang dibuat tidaklah boleh menjiplak karya orang lain, baik novel dan karya author lain, keempat harus dipublish paling lambat tiga hari dari sekarang"
"Menarik, akan kubuktikan bahwa aku lebih hebat darimu, Ultear-nee!"
Sudah tidak ada kata mundur, apa pun yang terjadi, akan kubuat sebuah maha karya yang amat luar biasa! Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, aku langsung pergi ke kamar dan mulai mengetik di microsoft word, tetapi...
Beberapa jam kemudian...
Apa maksudnya ini?! Sudah berjam-jam menatap layar komputer aku tak kunjung mendapatkan ide, ternyata sulit juga. Seseorang mengetuk pintu kamar pelan, lalu membukanya hingga tidak menghasilkan sedikit pun suara dan tiba-tiba terdengar...
"Lucy kamu pikir sekarang jam berapa? Cepatlah tidur, besok harus sekolah!" sudah kuduga suara ini tidaklah asing. Siapa lagi kalau bukan ibu, yang menjadi sangat cerewet jika kedua buah hatinya tak kunjung tidur, ketika jam tepat menunjukkan pukul sembilan malam
"Ssst...aku sedang berpikir"
"Sepuluh menit lagi ya"
"Iya!"
Ketika ibu sudah berada di luar, samar-samar aku mendengar Ultear-nee dan ibu sepertinya tengah berbincang. Paling membicarakan hal-hal yang tidak penting.
"Apa Lucy sedang membuat cerita?"
"Begitulah, aku menantangnya untuk melakukan hal tersebut"
"Kamu tau bukan, jika Lucy paling membenci kekalahan? Apa begini tidak apa-apa?"
"Ibu tenang saja, aku memiliki rencana hebat agar Lucy bisa mendapatkan teman. Jadi percayalah padaku"
"Baiklah, asalkan itu bisa membuat Lucy seperti sediakala, ibu tidak masalah"
Keesokan harinya...
Jam tepat menunjukkan pukul enam lewat lima belas, aku terbangun dari tidur lelap akibat bunyi nyaring dari jam weker. Usai melakukan aktivitas harian seperti mandi dan sarapan, aku dengan Ultear-nee tengah pergi bersama menuju sekolah, sejak kapan dia berada di sebelahku?
"Kita belum pernah berangkat bersama, jangan menjaga jarak dengan kakakmu ini"
"Cih...sayang sekali aku tidak mengenalmu"
"Sandiwara yang benar-benar hebat. Oh iya, bagaimana perkembangan dari ceritamu?"
"Aku sama sekali tidak mendapat ide. Padahal sudah membaca novel sebagai referensi"
"Awalnya pasti sulit, tetapi setelah terbiasa, maka membuat cerita akan menjadi sangat mudah"
"Maaf, tetapi aku tidak butuh saran dari orang asing sepertimu"
"Mungkin agak sedikit susah untuk merubah sifatnya yang sok pura-pura tidak kenal itu" gumam Ultear dalam hati, berjalan terlebih dahulu meninggalkan Lucy
"Bagus bagus, kita boleh saja terlihat akrab di dalam rumah, tetapi hanya di si-tu!"
Sekarang harus bagaimana, ya ampun mengapa jadi sulit begini?! Gumamku sambil mengacak-acak rambut sendiri. Notes ini akan menjadi tempatku untuk membuat kerangka cerita, tetapi tetap saja, ide tak kunjung datang menghampiri diriku, yang tengah berpikir keras tanpa mempedulikan keributan di dalam kelas. Kalau dipikir-pikir kembali, aku salah memilih orang untuk dijadikan lawan, kemarin tanpa sepengetahuannya aku melihat profile user Ultear-nee, dan ada sekitar tiga puluh cerita yang sudah dia publish, bahkan rata-rata pendapatan review adalah lima puluh hingga seratus lebih! Newbie sepertiku mana bisa mengalahkannya.
"Meski tidak bisa, aku akan memberikan perlawanan yang baik!"
Ketika bel istirahat berbunyi...
Merasa bosan terus-menerus berada di kelas, aku pun memutuskan untuk pergi ke halaman belakang sekolah, di sana begitu sepi tanpa seorang pun yang akan menganggu. Tempat ini cocok bukan, untuk berpikir? Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bersiap-siap mengambil posisi, tepat di bawah pohon rimbun, sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan mendengarkan lagu kesukaan, dengan memasang earphone. Namun tiba-tiba saja...
"Jangan melawan terus, berikanlah uangmu atau aku akan menghajarmu!"
"Ta-tapi, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk diberikan pada kalian..." pembelaan darinya langsung membuat hati kecilku iba, tetapi aku berpura-pura cuek dan fokus berpikir
"Tidak perlu mengada-ada! Ayah dan ibumu adalah orang kaya, bukan? Membohongi kami tidak ada gunanya!"
"Aku serius...aku tidak memiliki uang..."
"Kau...inilah akibatnya jika melawan kami bertiga!"
Salah satu dari mereka, mengayunkan tinju ke arah murid perempuan tersebut, dan entah mengapa tubuhku bergerak sendiri, langsung mendorongnya ke samping agar dia tidak terluka.
"Muncul penganggu lain rupanya, kamu pikir bisa menang melawan kami, huh...?"
"Kalian bertiga adalah sekumpulan murid pengecut yang hanya berani memukul wanita, jika bertemu dengan polisi, aku yakin kalian akan lari sampai terkencing-kencing, hahaha...!"
"Ucapanmu tadi terdengar kasar sekali nona kuper"
"Baguslah jika kalian mengenalku, sekumpulan lelaki mental monyet"
Provokasi dariku sukses membangkitkan amarah mereka bertiga. Murid berambut raven dengan warna biru ketuaan itu, bermaksud ingin menghajarku, tetapi dengan lincahnya aku menghindar lalu naik ke atas pohon, agar mereka tidak bisa mengejar. Meski tindakan nekatku ini cukup membahayakan, salah satu langkah saja kepalaku-lah bayarannya, bahkan nyawa pun bisa saja melayang.
"Teruslah berada di sana, hingga kau menangis seperti bayi karena tidak bisa turun!"
"Justru kamu adalah si pecundang, jika memang berani maka lawan kami jangan bersembunyi di sana, hahahaha..."
"Sayang sekali aku tidak tertarik dengan laki-laki yang suka main keroyokan. Rasakanlah serangan balasan dariku, apel dengan ulat bulu!"
Mendadak nama jurus yang teramat sangat aneh itu muncul dari dalam kepalaku, hanya dengan sekali lempar aku langsung mengenai target, yakni si murid berambut raven. Sampai-sampai dia berlari ketakutan, karena ada ulat bulu yang menempel pada seragamnya, lucu sekali melihat ekspresi semacam itu, tergambar jelas dari raut wajahnya tanpa perlu menebak-nebak.
"Sekarang adalah giliran kau, pingky boy! Rasakanlah ini tembakan tiga apel maut!" dengan cepat aku melempar tiga buah apel berukuran besar ke dalam mulutnya, yang sedang terbuka lebar, bagaimana bisa pertahananmu terbuka saat berada di medan perang?! Well, bisa dibilang aku cukup berlebihan
"Kedua temanmu itu sudah KO, selanjutnya giliranmu kakek berambut putih. Bersyukurlah karena kamu bisa melihat jurus pamungkasku, Lucy's kick!"
Tanpa rasa takut atau apapun aku langsung loncat dari atas ranting pohon, menendang kepala si kakek berambut putih dengan kaki kanan, hingga dia tak sadarkan diri. Mereka tidaklah menyeramkan seperti rumor yang beredar. Aku mengenal ketiga murid tersebut, Natsu Dragneel, Gray Fullbuster dan Lyon Vastia, dikenal sebagai murid paling nakal dan ditakuti oleh seluruh penghuni sekolah. Siapa sangka, ternyata mereka lemah dan hanya besar mulut.
"Te-terima kasih sudah menolongku"
"Tidak perlu berterima kasih, aku menolongmu bukan karena ingin mendapatkan ucapan mulia seperti itu. Aku benci dengan seseorang yang suka menindas orang lain demi kesenangan pribadi. Mereka itu lemah, kekuatan sejati hanya dimiliki oleh mereka yang mau menolong sesama, dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Jadi, kamu tidak perlu takut jika ditindas kembali oleh berandalan itu"
"Kalimatmu barusan benar-benar keren, apa boleh kita berkenalan?"
"Kalau sekedar berkenalan boleh saja. Namaku Lucy Heartfilia, dari kelas 1-C"
"Levy McGarden, salam kenal Lucy-san"
"Urusanku denganmu sudah selesai, jadi setelah ini jangan pernah temui aku lagi, bye" ucapku membalasnya dengan tatapan dingin, pergi menuju kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi
Ah...dasar bodoh, karena Levy dan kejadian barusan, aku jadi mendapatkan ide untuk cerita. Tidak sopan jika kabur begitu saja, tanpa mengucapkan terima kasih, apalagi tindakanku barusan sangat buruk, tetapi dengan begitu Levy tidak akan pernah ingin menjadi temanku, karena dia jadi mengetahui bahwa aku adalah seorang murid yang kasar tanpa tata krama sedikit pun. Sama sekali tidak pantas memiliki teman, paling buruk di antara semuanya!
Pukul 13.00 siang...
Ketika bel pulang berbunyi, aku dipanggil menuju ruang guru bersama dengan Gray, Natsu dan Lyon. Kami dimarahi habis-habisan oleh Erza-sensei, sang guru BK. Juga diberi peringatan untuk tidak melakukan tersebut meski hanya satu kali, kalau tidak akan diskors selama satu minggu penuh, bahkan di DO. Namun kejadian saat jam istirahat pertama tadi, sama sekali tidak membuatku menyesal, meski hanya sedikit. Lagi pula, aku merasa melakukan tindakan yang benar, dan mereka bertiga pun terlihat baik-baik saja tanpa luka apa pun.
Sesampainya di rumah, ibu langsung menatap kearahku dengan tajam, beliau pasti sangat marah mengetahui aku dimarahi Erza-sensei, karena melakukan tindak kekerasan, terhadap laki-laki pula.
"Kali ini kamu sangat keterlaluan, menghajar anak lain sampai mereka ketakutan!"
"Sudahlah aku lelah, kalau mau marah-marah nanti saja"
Dengan keras aku menutup pintu kamar, langsung menyalahkan komputer dan mulai mengetik hasil dari buah pikiranku. Tanpa menunggu tiga hari ke depan aku membuka website fanfiction, membuat akun dan mempublishnya dengan menggunakan pen name Lucy.H, kira-kira berapa banyak review, yang akan kudapatkan?
"Kalaupun kalah itu sudah wajar. Aku bagaikan rakyat jelata yang melawan penguasa dunia. Bodoh memang, menerima tantangan tersebut tanpa pikir panjang"
Dan keesokan harinya...
Aneh, sedari tadi aku terus merasa deg-degan saat ingin melihat berapa review yang telah berhasil didapatkan, bahkan sampai menutup kedua mata, seakan hal tersebut amat sangat menyeramkan. Ketika sedikit memberi celah agar kedua retina mataku mampu menangkap tampilan dari layar komputer, ternyata hasilnya adalah...
Bersambung...
A/N : Maaf ya kalau di cerita ini aku tak kunjung menampakkan Jellal, cuman sekedar menulis pen name doang hahaha...oke deh semoga chapter tiga nanti tidak mengecewakan. RnR please?
Balasan Review :
Momo Katsuhira : Baguslah kalo kamu suka ceritanya. Semoga chap dua ini gak mengecewakan ya. Oke deh, kalo penasaran ikutin terus sampe tamat. Cuman sembilan chapter kok. Jangan bosan menunggu
Lucefilla : Kalo buat pairing sih, sebenarnya gak main yang begituan. Jadi, lebih ke persahabatan mereka bertiga. Hubungan selanjutnya, kita lihat nanti aja ya. Sayang sekali, 'J' itu bukan Juvia, dan 'L' memang Lisanna. Lucy emang gak pernah cerita, malu2 gitu, wkwkwkw. Thx ya udh review. Tgg lanjutannya kalo penasaran.
