Side Story#1:

Let Us Tutor You

Rated: M

Warning: Lemon, OOC, Typos, Yaoi, BL

G2718

.

.

.

.

Tsuna menggaruk kepalanya. Matanya berpusat pada buku tebal yang ada di depannya. Berusaha memasukkan materi-materi yang ada ke otaknya. Entah mengapa, rasanya sangat sulit bagi Tsuna.

'Huee! Colonello-sensei kejam!' rengek Tsuna dalam hati. Ia melirik dua orang remaja yang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Si Kaichou Vongola Academy Giotto atau Sawada Ieyatsu dan sang Fuku Kaichou, Kyoya Hibari.

'Kenapa hanya aku yang diajari oleh Giotto-san dan Hibari-san?!' batinnya lagi. Tsuna ingin sekali menjambaki rambutnya jika Hibari tidak melirik ke arahnya. Tsuna menelan ludah, kemudian Hibari melanjutkan aktifitasnya tadi, memainkan tonfa kesayangannya.

Tsuna mengingat perkataan Colonello kemarin, ia terpaksa mengorbankan waktu libur musim panasnya untuk pelajaran tambahan. Tsuna merasa lega, karena tidak hanya dirinya yang mengikuti pelajaran tambahan ini. Tetapi, semua itu seakan-akan hilang terbawa angin ketika Colonello-sensei bilang kepadanya bahwa–

Flashback.

"Oi, Sawada!" panggil sang guru, Colonello. Tsuna dengan wajah berbunga-bunga–Karena mengetahui bahwa banyak temannya yang mengikuti pelajaran tambahan–datang kepada senseinya

"Besok, datang ke sekolah jam 8 pagi, kora!" pesan Colonello-sensei. Tsuna mengangguk dan hendak pulang tapi–

"Oi Sawada! Kau minta tolong kepada Ieyatsu dan Hibari saja, kora!" senyum Tsuna menghilang.

"E-eh?"

"Karena kau satu-satunya murid sekolah ini yang akrab dengan mereka berdua, dan kau juga sering datang ke kantor mereka setelah pulang sekolah, kan? Kora!" Colonello meninggalkan Tsuna.

"Tunggu sensei! kenapa begitu?!"

"Itu karena, kursi yang di pakai kurang. Dan kita tidak bisa meminjam dari kelas lain karena di pakai untuk ujian kenaikan kakak kelas, kora! Ya sudah, pulang sana! Kora!" Colonello-sensei pergi begitu saja.

"Ah..." Tsuna jatuh terduduk sambil membatin: 'Berakhir sudah...'

Flashback End.

"Tsunayoshi~" Hembusan nafas Giotto di telinganya membuatnya bergidik dan merasa geli. Begitu juga Hibari yang menciumi pundaknya. Wajah Tsuna memerah.

"Hentikan, hentikan! Jangan menggangguku!" Tsuna berusaha menghentikan mereka. Namun mereka malah semakin menjadi-jadi. Giotto menjilati daun telinga Tsuna, Hibari menggigiti pundak Tsuna, dan beralih ke lehernya.

"Hentikan, aku tidak bisa berkonsentrasi–" mereka tidak mau berhenti.

"HENTIKAN!"

"Baiklah, kami berhenti, Tsunayoshi." Hibari dan Giotto mencium pipi Tsuna bersamaan hingga wajahnya kini muncul rona-rona merah muda.

"Mau kami ajari?" tawar Giotto. Tsuna langsung menggeleng.

"Nanti kau pakai cara waktu itu! Tidak mau!"

"Tapi cara itu cukup efektif, kau mendapat nilai 78 untuk Sosial, nilai 80 untuk Biologi, lalu nilai 67 untuk fisika, dan nilai 90 untuk matematika." Hibari sudah memegang kumpulan hasil test milik Tsuna.

"Da-darimana kau dapat itu?!" Tsuna merebut kertas-kertas tersebut.

" –Nilai sebelumnya...Sosial 17, biologi 35, fisika hanya dapat 52, bahkan matematika hanya dapat...3" Hibari melirik Tsuna.

"Jangan disebutkan semuanya, Hibari-san!" pekik Tsuna. "Lagipula cara belajar kalian itu gila!"

Giotto melirik Hibari. Hibari yang merasa di lihat oleh seseorang membalas lirikan Giotto. Tsuna mengernyitkan kening melihat tingkah keduanya.

"Kalau begitu kami akan pakai cara lain." Giotto mengambil sesuatu dari meja kerjanya. "Sekarang, kerjakan."

"I-ini kan sama saja!" protes Tsuna.

"Diam dan kerjakan." Hibari menodongkan tonfa kesayangannya ke arah Tsuna. Membuat Tsuna menelan ludah dan mengerjakannya. Hibari mengambil salah satu kursi untuk dirinya dan duduk tepat di depan Tsuna. Hal tersebut membuat Tsuna menjadi agak gugup.

"Waktunya sepuluh menit." Jelas Giotto sambil duduk di sebelah kanan Hibari. Pupil Tsuna melebar. 10 menit? Waktu yang singkat. Tetapi untuk mengerjakan soal seperti ini?! Oh, Tsuna merasa Giotto sedang membuat lelucon.

"Eh? Tiga puluh menit, kan?"

"Sepuluh menit."

"Apa enam puluh menit?"

"Sepuluh menit."

"Eng...bagaimana kalau empat puluh menit?"

"Sepuluh menit, Tsuna. Cepat kerjakan dan berhenti menawar waktu yang di tentukan atau aku akan memberikan waktu yang lebih singkat lagi." Ujar Giotto tenang, namun dengan nada mengancam. Tanpa banyak bicara, Tsuna segera mengerjakannya.

#

"Ini, Giotto-san, Hibari-san..." Tsuna memberikan tumpukkan kertas tebal tersebut. Hibari menerimanya. Tsuna kembali menelan ludah, memperhatikan sepasang mata metal blue itu sedang menelusuri satu per satu baris. Kalimat demi kalimat, kata demi kata. Tsuna melihat Hibari mencoret salah satu soal dengan tinta merah. Hibari menyeringai.

"Salah satu." Tsuna melirik lembar jawabannya. Namun, Hibari segera menarik lembaran tersebut agar tidak dapat dilihat Tsuna.

"Eng...eng..."

"Salah dua." Hibari mencoret satu soal lagi. Membuat Tsuna terpaku di tempat, menyadari Hibari mempunyai niat tersembunyi. Oh tidak, jangan sampai Giotto mengetahuinya. Namun terlambat, Giotto memperhatikan Hibari dari belakang. Tsuna mengepalkan tangannya kemudian memukul meja. Benar-benar, habis sudah.

"Salah tiga." Hibari melirik Tsuna yang sudah berkeringat dingin. Kemudian sepasang mata metal blue itu kembali memusatkan perhatiannya pada lembaran soal. Tak lama kemudian, ia membuka halaman kedua.

"Salah lima." Hibari kembali tersenyum kepada Tsuna.

'Gawat...' batin Tsuna.

"Salah lima. Kau lulus." Hibari meletakkan lembaran itu di meja besar di depannya. Tsuna hampir bersorak kegirangan. Kemudian Hibari mengeluarkan soal lain. Membuat Tsuna tidak jadi berteriak kegirangan. Melainkan wajah pucat yang menggantikan ekspresinya tadi.

"Kali ini kau tidak boleh salah lebih dari tiga." Giotto tersenyum bak malaikat kepada Tsuna. Tsuna membelalakkan kedua mata caramelnya. Ia tidak yakin bisa melakukannya. Lebih baik, pasrah saja.

"Um...aku..."

"Kau diberi waktu satu jam, ini matematika. Karena matematika itu merepotkan dan kau harus menghitungnya dengan rumus yang benar." Pesan Giotto. Tsuna mengangguk. Sementara Hibari mulai bosan, kemudian memainkan kedua tonfanya sambil memfokuskan pandangannya ke jendela. Membuat Tsuna merasa lebih ringan karena Hibari tidak menulari aura membunuhnya kepada Tsuna seperti tadi.

"Tsuna,ingat. Kalau sampai kau salah lebih dari empat, kami akan menghukummu!" bisik Giotto membuat keringat Tsuna kembali mengucur deras. Tsuna berusaha memusatkan pikirannya pada kumpulan soal di depannya.

Tsuna tersenyum kecil ketika mengerjakan soal-soal di lembaran tersebut. 'Mudah.' Batinnya. Namun ia mengingat kata-kata Giotto, rumusnya harus tepat. Tak sampai empat puluh menit, Tsuna berhasil menyelesaikan lembaran matematika tersebut. Ia melirik Hibari. Karena Hibari sudah tertidur pulas, maka ia menyerahkan soal tersebut kepada Giotto.

"Salah tiga. Kau masih selamat, Tsunayoshi."

'Ce-cepat sekali!' batin Tsuna. Ia pun kembali ke tempat duduk dan mengerjakan soal baru dari Giotto.

Tsuna menghela nafas lega. Hibari terbangun, dan mengusap kedua matanya. Giotto hanya meliriknya ditambahkan dengan death glare. "Jangan tidur."

"Membosankan." Jawab Hibari singkat.

Giotto hanya mengangkat kedua pundaknya. "Terserah kau saja, tetapi jika waktu 'hukuman' nanti kau tidak bangun, aku tidak mau membagimu."

"Che." Hibari melirik pemuda pirang di sebelahnya. Kalau saja ia bukan atasannya, pasti Hibari sudah menggigitnya hingga mati.

Hibari mendapati Tsuna sedang menatapnya.

"Apa?" tanya Hibari. Tsuna menggeleng.

"Tidak apa-apa, aku hanya sedang bingung..." Tsuna tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hibari tanpa berkata-kata langsung menggeser tempat duduknya ke sebelah kiri Tsuna. Giotto menajamkan matanya.

'Jangan curi start, bodoh!' batinnya kesal. Hibari yang menyadari Giotto menjadi kesal hanya menunjukkan senyum kemenangan. Kemudian sengaja mencium leher Tsuna untuk membuat Giotto semakin memanas. Aroma jeruk bercampur dengan vanili langsung menyapa penciumannya.

"A-ah, ini...ada yang ingin ku-kutanyakan pada–Hibari-san..." Tsuna berusaha menahan sensasi geli yang ditimbulkan Hibari. Bibirnya menggigiti daerah sensitif tersebut dengan agak keras sehingga menimbulkan berkas-berkas kemerahan. Hibari dapat mendengar Tsuna mendesah pelan.

"Tunggu. Hibari!" Giotto mencegah Hibari untuk berbuat lebih lanjut. "Belum waktunya." Hibari menatapnya jengkel.

"Aku tidak suka di perintah." Hibari mengayunkan tonfanya. Tsuna menyadari suasana di sekitarnya semakin panas.

"Hibari-san, Giotto-san, hentikan." Tsuna sedang sibuk berpikir. Hibari dan Giotto melirik Tsuna.

"Kurasa tidak perlu menunggu waktu hukuman."

"Apa kubilang."

"Jadi?"

"Sekarang."

"Kau yakin?"

Hibari hanya menatap Giotto dalam diam. Giotto tersenyum dan menepuk pundak remaja raven itu. "Diam artinya 'iya' "

"Hm." Hanya itu respon dari orang yang dimaksud. "Hari ini giliranku." Hibari menyeringai, taring vampirenya dapat terlihat dari celah mulutnya.

"Hn. Terserah. Yang penting, nikmati saja."

Tsuna menatap dua seniornya, sedang memandanginya. Tsuna menghentikan aktivitasnya dan menelan ludahnya untuk kesekian kalinya. Kedua remaja vampire itu memandanginya dengan tatapan lapar.

"Um...Hibari-san? Giotto-san?" Tsuna mengangkat alisnya. Hibari menarik tangan Tsuna hingga Tsuna meringis kesakitan. Hibari mengangkat tubuh Tsuna dan meletakkannya di atas permukaan meja yang dingin.

"Waktu belajar selesai." Hibari mengeluarkan sebuah borgol dari balik kemejanya dan memainkannya di depan Tsuna. "Hi-Hibari-san..."

Cklek! Hibari memasang borgol itu ke tangan Tsuna. Mata Tsuna melebar.

"Hi-Hibari-san! Lepaskan!" Tsuna meronta-ronta. Namun Hibari mengunci gerakannya dan menggigit bibir bawah Tsuna hingga berdarah. Membuat Tsuna membuka mulutnya karena kesakitan, Hibari segera melumat bibir Tsuna, membuat Tsuna mengerang.

'Manis' batin Hibari sambil menghisap bibir atas Tsuna. Tsuna hanya bisa pasrah saat ini. Borgol yang mengunci kedua tangannya membuat dirinya tak bisa bergerak bebas. Tsuna menutup kedua matanya, berusaha menikmati apa yang dilakukan Hibari.

Ciuman Hibari semakin mendominasi. Hibari memutuskan untuk melanjutkan ciuman ini dengan tahap yang lebih. Hibari menghisap lidah Tsuna dan mengajaknya untuk saling bergulat. Membuat saliva menetes dan mengotori ciuman mereka.

Hibari masih menghisap lidah Tsuna dan menggunakan taringnya untuk menggigit lidah Tsuna. Tsuna merasakan sesuatu yang tajam kini menusuk lidahnya, membuatnya melenguh. Tak lama kemudian Hibari melepaskan ciuman keduanya, berusaha menghirup oksigen.

"Egh...haah...haah..."

Hibari dapat melihat cairan merah mengalir keluar, bercampur dengan benang saliva.

Hibari mencium kening Tsuna, perlahan-lahan turun ke mata, hidung, dan dagu. Ia juga membersihkan sisa saliva miliknya yang telah bercampur jadi satu dengan Tsuna. Tsuna perlahan-lahan membuka matanya, walaupun hanya sedikit.

Giotto langsung menyerangnya dengan ciuman yang lebih ganas. Giotto menelusuri langit-langit mulut Tsuna yang mengabsen satu per satu giginya, membuat Tsuna kehabisan oksigen. Giotto melihat bibir Tsuna yang sudah semakin memerah. Membuat libidonya naik saat itu juga.

Hibari menyingkirkan lembaran-lembaran soal milik Tsuna. Tidak peduli bahwa lembaran itu akan sobek atau jatuh berantakan ke bawah. Hibari melepaskan celana Tsuna, hingga kini ia tinggal mengenakan boxer dan sebuah kaos pasangan dari celana miliknya. Hibari membentangkan kedua kaki Tsuna.

Hibari menekan kejantanan Tsuna yang masih terbungkus celana sehingga membuat tubuh Tsuna berkedut. Hibari menggesek-gesekkan kejantanan Tsuna dengan jari telunjuknya, membuat tubuh Tsuna menegang dan menegang.

"Nggh...nggh..." lenguh Tsuna di sela-sela ciuman Giotto. Giotto melepaskan Tsuna dan perlahan-lahan menyelipkan tangannya ke dalam baju Tsuna. Giotto meraih kedua nipple Tsuna dan memainkannya dengan kasar. Membuat Tsuna mengeluarkan erangan kecil.

Hibari melepaskan boxer milik Tsuna dan membebaskan kejantanan Tsuna. Tsuna melenguh ketika Hibari mengulum kejantanannya. Tsuna mendesah agak kencang. Hibari menggerakkan lidahnya.

"Egh...! aahn...! ahn!"

Tsuna mencapai klimaksnya, Hibari menelan cairan milik Tsuna. Hibari berdiri dari kursinya, kemudian memasukkan lidahnya ke dalam mulut Tsuna, membiarkan Tsuna merasakan cairannya sendiri. Tsuna kembali melenguh saat Hibari memasukkan jari telunjuknya ke dalam anal Tsuna membuat Tsuna terlonjak. Hibari mengeluarkan kembali lidahnya dan kembali dalam posisi duduk.

Giotto perlahan-lahan menjilati pusar Tsuna, kemudian naik ke nipple miliknya. Giotto menggigit nipple kiri Tsuna dan memainkan yang kanan. Kemudian beralih ke sebelah kanan. Giotto memperlakukan keduanya dengan adil. Tsuna berhasil menahan semua erangan dan desahannya sampai Hibari menghantam titik lemah Tsuna dengan dua digit jarinya.

"Egh! Ahh!" Tsuna kembali mengeluarkan cairan miliknya yang mengotori perutnya, dan permukaan meja kayu itu. Hibari menyeringai kemudian memasukkan lidahnya ke dalam anal Tsuna.

"Ahn...! egh..! Ahh...Nyaa...hn.." Tsuna mengubah sudut kepalanya. Giotto melepaskan ikat pinggang miliknya dan memposisikan kejantanannya di depan mulut Tsuna. Kemudian dirinya mengulum kejantanan milik Tsuna seperti yang Hibari lakukan. Posisi 69.

Tsuna sudah tenggelam rupanya.

Tsuna perlahan-lahan membiarkan lidahnya menari di atas kepala kejantanan Giotto. Giotto mendesis pelan. Tsuna mengubah kembali sudut kepalanya dan mengulum sisi lainnya. Kemudian perlahan-lahan memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, Tsuna menggerakkan kepalanya naik-turun untuk membuat Giotto merasa lebih.

Hibari merasa celananya sudah mulai sesak akibat kejantanannya yang sudah tegak sempurna. Akhirnya Hibari mengeluarkan lidahnya dan berdiri untuk memposisikan dirinya di depan lubang anal Tsuna. Tubuh Tsuna lagi-lagi berkedut, Tsuna melenguh kesakitan. Hibari perlahan-lahan memasukkan kejantanannya lebih dalam. Tsuna mencakar meja sehingga kukunya mengelupas dan mengerluakan darah. Hibari menggerakkan pinggulnya dan menggerakkan kejantanannya perlahan-lahan.

Air mata Tsuna menetes, dari mata perlahan-lahan mengalir ke leher, dan bercampur dengan keringat. Ia merasakan tangan Hibari meraih tangannya yang berdarah dan menjilati darah yang mengalir. Tsuna merasa seperti terisi penuh. Gerakan Hibari berubah seiring berjalannya waktu. Tsuna melenguh karena merasa kenikmatan dalam dirinya semakin lama semakin menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Engh...AHH!" Tsuna memuntahkan hasratnya, dan mengotori perut Hibari. Namun Hibari sama sekali belum mencapai klimaksnya. Maka, dengan sekali hentakkan, ia membenamkan seluruh kejantanannya di dalam tubuh Tsuna, dan menghantam titik lemah Tsuna. Hibari melakukan hal itu berkali-kali, sampai dinding-dinding dalam Tsuna mulai menjadi sempit.

"Ngh..." Hibari mencapai klimaksnya. Tsuna merasa bagian dalamnya telah terisi penuh dengan cairan milik Hibari. Nafas Tsuna terengah-engah. Giotto mengganti posisinya. Hibari membetulkan kembali pakaiannya, lalu duduk di atas meja tersebut.

Giotto memasukkan lidahnya ke dalam anal Tsuna. Tsuna terlonjak dan merenggangkan tubuhnya. Giotto menjilati cairan Hibari yang ada di dalam anal Tsuna. Setelah di rasa bersih, Giotto memasukkan kejantanannya dengan satu hentakkan. Giotto mengunci mulut Tsuna. Membuat Tsuna tidak bisa berbuat apa-apa.

"Engh...Engh..." Tsuna merasa titik lemahnya di hantam berkali-kali sehingga membuat penglihatannya agak kabur. Giotto merasa dinding-dinding Tsuna menjadi sangat sempit. Giotto juga merasa dekat dengan klimaksnya. Maka Giotto kembali menghantam titik lemah Tsuna berkali-kali.

"EGH!" Tsuna mencapai klimaks lagi untuk yang kesekian kalinya. Dengan susah payah, ia mencoba mengangkat tubuhnya, namun tubuhnya sudah terlalu lelah.

"Bisa duduk?" tanya Giotto pada Tsuna. Tsuna menggeleng kecil. Giotto mengangkat tubuh Tsuna.

"Tubuhku rasanya lengket..." Tsuna mengeluh.

"Kalau begitu mau mandi?" tawar Giotto sambil tersenyum kecil.

"Aku tidak mau mandi di kamar mandi sekolah."

"Hn. Siapa yang bilang kau akan mandi di kamar mandi sekolah?" sahut Hibari. "Ruangan ini berbeda, kami punya kamar mandi sendiri."

"A-Ah..." Giotto mengangkat tubuh Tsuna ke kamar mandi. "Tu-tunggu dulu! Tunggu!"

#

Giotto meletakkan tubuh Tsuna perlahan-lahan di dalam bathtub. Tsuna mengerang. Rasa lelahnya seakan-akan hilang begitu saja. Hibari memperhatikan Tsuna dari depan. Kemudian Giotto melepaskan kemejanya. Mata Tsuna melebar.

"Tunggu! Giotto-san mau apa!?" Tsuna melihat Giotto melepaskan pakaiannya.

"Tentu saja mandi." Balas Giotto seakan-akan semuanya adalah normal. Hibari menajamkan matanya.

"Eh-eh, tapi aku belum selesai–Hibari-san! " Tsuna di kagetkan oleh Hibari yang seenaknya saja melompat ke dalam bath tub.

"Oi, sempit tahu!" omel Giotto. Hibari hanya membuang muka. Tsuna kembali berkeringat dingin mengingat bagaimana mereka berdua berkelahi.

"E-eh...aku keluar saja."

"Jangan!"

.

.

.

.

.

.

Side Story#1, OWARI~

Jaa, karena banyak yang minta sequel, kubuat side story aja! xD seperti biasa, berakhir dengan gajenya. Maaf jika lemonnya kurang asem! Otak lagi blank sejenak karena terkuras akibat belajar(Boong, kerjanya tidur aja kok).

Sebenernya sih, masih ragu-ragu. Tapi dengan bantuan Yamamoto Takeshi KW 10(sebutanku buat temenku di sekolah xD), dia sudah mengeluarkan seluruh idenya untuk side story ini! Makasih, makasih, YamamotoKW10! xD

Nee, aku belum balasin review lewat PM, karena males lewat sini aja xD.

Izuryuu:

Arigato, ya! Arigato sudah mereview fict lemon abal ini xD

Ehehehe, entah kenapa saya juga merasa sedikit berpendapat dengan anda! :D

:

Eh? Lemonnya kurang, ya? Ehehehe, emang saya newbie dalam genre Mature/Adult. Maksudnya yang di kurangi itu lemonnya atau apanya, ya? Kalo romance munkin saya pikirkan nanti :D

DarkLidyaNuvuola Del Cielo:

Makasih! Makasih! xD

Well, ide ini muncul tiba-tiba pada saat baca fanfict AG2718 buatan temen saya di Facebook! xD

Untuk sequel...

...

...

...

Shiranai, dayo!#PLAK! Benarkah? FKHRI Kekurangan Rated Mnya? Souka...maaf, maaf, maaf, mata saya gak bisa menangkap, mana typos, mana yang huruf normal, ahahaha :D#abaikan. Well, untuk AG2718, saya pikirkan nanti!

Terima kasih sudah mau fave xD

Sebenernya, saya berniat mau bikin 3 buah side story, tapi tergantung dengan pembaca, apakah anda setuju? Yes or no?

Sekian dari saya :)