Chapter 2
Cast :
Do Kyungsoo, Kim Jongin, Wu Yifan
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Oh Sehun
and other cast;
Genre : Romance, School Life
Rated : T
AUTHOR POV
Kyungsoo berjalan cepat menuju kelasnya. Ini masih lumayan pagi untuk datang kesekolah. Tapi Kyungsoo tidak peduli. Ia ingin segera sampai dikelasnya dan mengindari bertemu dengan manusia menyebalkan bernama Kim Jongin.
"Uh, kenapa kelasku jadi terasa sangat jauh begini?" gumam Kyungsoo sambil terus berjalan.
Ia sampai dikelas dan langsung menghempaskan bokongnya pada kursi. Nafasnya terengah karena berjalan sangat cepat.
"Hhh, aku berharap tidak satu kelas dengannya. Pergi sepagi ini juga tidak membantu. Aku akan tetap bertemu dengannya dan itu menyebalkan." lirih Kyungsoo. Ia menjatuhkan kepalanya berbaring pada meja kelas.
Kyungsoo benci mengingat kejadian kemarin saat di EXO Cafe bersama dengan Jongin. Tapi diam termenung seperti ini dikelas, justru kembali mengingatkannya pada kejadian kemarin malam.
Flashback
"Apa maumu sebenarnya Kim Jongin?" Kyungsoo mulai emosi.
"Hanya ingin bermain-main denganmu Do Kyungsoo. Habisnya, kau orang yang tak pernah peduli dengan semua ulahku disekolah. Ketika semua orang memperhatikanku, kau malah tak menyadari keberadaanku. Itu membuatku kesal." jawab Jongin panjang lebar.
"Kita tidak punya urusan!" tegas Kyungsoo.
"Kalau begitu aku akan membuat urusan denganmu." Dan seringai setanpun terlukis dibibir sexy milik Kim Jongin.
"Mwo?" Kyungsoo melotot. "Apa kau kurang kerjaan? Untuk apa membuat urusan denganku?" kesal Kyungsoo.
"Tentu saja agar aku punya alasan untuk berada didekatmu dan membuatmu selalu mengingatku." Jongin menyeringai lagi.
"Aku susah payah menghindarimu dan sekarang kau malah datang untuk membuat masalah denganku? Pergilah! Aku benar-benar tidak berminat meladenimu." tukas Kyungsoo.
"Tapi aku berminat." Jongin melipat kedua tangannya didada. "Kau yang ku lihat paling menarik dari ketiga teman bodohmu itu." tambahnya.
"Mereka bahkan lebih pandai daripada kau." bela Kyungsoo pada sahabat-sahabatnya.
"Cih! Kalau mereka jauh lebih pandai, bagaimana mungkin mereka hanya menjadikanmu teman. Kalau aku jadi mereka, aku pasti akan menjadikanmu pacar. Jelas-jelas kau itu sangat cantik dan manis." Jongin mengerlingkan matanya pada Kyungsoo.
"Mereka masih waras." sergah Kyungsoo.
"Tentu saja. Karena kalau mereka gila, mereka pasti akan menjadi seperti aku yang jadi menyukaimu." Jongin menyeringai.
Kyungsoo mengerang. Ia tidak bisa menang berbicara dengan Jongin. Otak pembuat masalah memang berbeda.
"Well, Kyungsoo." Jongin memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Kyungsoo. Kyungsoo spontan memundurkan wajahnya menjauhi Jongin. "Aku menyukaimu dan tidak akan suka kalau kau mengejar-ngejar namja lain." ujar Jongin.
"Mwo?"
Flashback of
Kyungsoo meringis mengingat percakapannya dengan Jongin kemarin. Apalagi setelahnya Jongin malah memaksa ingin mengantarkannya pulang. Untung bis yang Kyungsoo tunggu langsung datang, jadi Kyungsoo dapat terbebas dari namja gila -menurut Kyungsoo- itu.
"Wah, kau datang pagi juga ternyata." suara bass terdengar oleh Kyungsoo. Ia mendongakkan wajahnya untuk melihat pemilik suara itu. Dan mata lebarnya semakin lebar kala ia mendapati Jonginlah pemilik suara itu.
"Kau?" tunjuk Kyungsoo.
"Aku berpikir untuk datang pagi, dan ternyata kau juga. Kita memang berjodoh." Jongin sudah duduk didepan Kyungsoo.
"Huh! Kalau begini apa gunanya aku datang sangat pagi." lirih Kyungsoo.
"Kau tau saja kalau sekolah sangat sepi di jam segini, kita jadi bisa berduaan." Jongin memberikan wink-nya pada Kyungsoo. Membuat Kyungsoo bergidik.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" Kyungsoo kembali membaringkan kepalanya pada meja.
Jongin menyeringai dan beralih berjongkok disamping meja Kyungsoo agar mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kyungsoo yang sedang membaringkan kepalanya.
"Do Kyungsoo, jangan berani mengacuhkanku." ujar Jongin.
Kyungsoo terkejut mendapati wajah Jongin yang sangat dekat didepannya. Ia segera mengalihkan kepalanya kearah yang lain, menghindari Jongin. Kali ini wajah Kyungsoo menghadap pada jendela.
Jongin tidak tinggal diam. Ia berjalan kesamping Kyungsoo dan duduk dikursi yang tepat berada disamping Kyungsoo. Itu adalah kursi milik Chanyeol, teman semeja Kyungsoo. Setelah duduk disana, Jongin kembali bisa menatap wajah Kyungsoo. Ia ikut membaringkan kepalanya menghadap Kyungsoo.
"Ck!" Kyungsoo kesal, lalu memilih untuk meninggalkan kelasnya. Jonginpun mengikuti.
Kyungsoo menoleh kesamping dan mendapati Jongin berjalan disebelahnya. Kyungsoo memasuki toilet, begitupun Jongin. Saat Kyungsoo ingin memasuki salah satu bilik toilet, Jongin juga ingin ikut masuk, dan Kyungsoo langsung memelototinya.
"Apa?" tanya Jongin tanpa dosa.
"Aku ingin masuk dan kau tidak boleh ikut!" tegas Kyungsoo.
"Kenapa? Padahal aku ingin melihat punyamu." ujar Jongin diiringi senyuman jahilnya.
"Yack!" Kyungsoo mendorong Jongin dan langsung masuk kedalam bilik toilet.
Setelah Kyungsoo masuk, Jongin langsung tertawa.
"Uh, tidak ku sangka akan semenyenangkan ini membuat masalah dengannya." Jongin kembali mengeluarkan seringaiannya.
Jongin menghadap pada kaca besar didalam toilet itu dan menata rambutnya. Ia kemudian menoleh pada bilik yang tadi dimasuki Kyungsoo dan ini sudah menit kesepuluh namun Kyungsoo tak juga keluar dari sana. Jongin mendekati bilik itu dan mengetuknya.
"Kyungsoo-ya, kenapa kau betah sekali berada didalam sana?" tanya Jongin.
"Diamlah! Lebih baik sekarang kau pergi. Aku malas keluar karena ada kau." teriak Kyungsoo dari dalam toilet.
"Ahh~ kau ingin aku menyusulmu masuk kedalam? Kau perlu bantuanku untuk membuka celanamu?" tanya Jongin dengan seringainya.
"Yack! Ku bilang pergi dari sini Kim Jongin." teriakan kembali terdengar dari dalam bilik toilet itu.
"Ayolah! Tak usah malu." Jongin mengetuk pintu toilet itu sedikit kasar. "Kau mau keluar atau aku yang masuk dengan mendobrak pintu toilet ini?" tanya Jongin.
Kyungsoo menyerah dan langsung membuka pintu toilet itu, "Apa maumu, Kim Jongin?" teriak Kyungsoo tepat didepan wajah Jongin.
"Akhirnya kau keluar juga. Apa sudah selasai? Mau kuperiksa?" Jongin beralih pada celana Kyungsoo dan akan membukanya sebelum Kyungsoo berteriak dan menepis tangan Jongin.
Kyungsoo langsung berlari pergi dari toilet itu. Meninggalkan Jongin dengan tawa setannya.
.
Kyungsoo memasuki kelasnya dan berbafas lega ketika menemukan sudah banyak anak yang datang. Luhan, Baekhyun, dan Chanyeol juga sudah ada.
"Hhh." Kyungsoo mendudukkan bokongnya pada kursi, tepat disebelah Chanyeol.
"Kau dari mana?" tanya Chanyeol.
"Toilet." jawab Kyungsoo singkat.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Kau tidak sedang kelihatan baik." Luhan bertanya dari meja belakang.
"Kau tidak sedang kedatangan tamu bulanan kan, Soo?" tanya Baekhyun tanpa dosa.
"Yack!" Kyungsoo memberikan deathglare-nya pada Baekhyun. Sedang Luhan dan Chanyeol terkikik. "Aku namja, bukan yeoja, Baek." kesal Kyungsoo.
Baekhyun mengedikkan bahunya, "Habisnya kau kelihatan pucat sekali." ujarnya.
Kyungsoo mendengus.
"Baiklah, lupakan tentang tamu bulanan. Sekarang aku ingin menanyakan tentang tugas kelompok yang kita punya. Kapan kita akan mengerjakan itu?" Luhan mengganti topik pembicaraan.
"Ah iya. Bagaimana kalau kita mengerjakannya hari ini?" tawar Chanyeol.
"Sepertinya aku sedang tidak sibuk hari ini, jadi aku setuju." tanggap Baekhyun.
"Kau sok sibuk sekali, Baekhyun-ah." Luhan mendengus.
"Memang kenapa?" Baekhyun memeletkan lidahnya pada Luhan.
"Bagaimana kalau kita mengerjakannya di EXO Cafe saja?" usul Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya, aku pikir dirumahku akan jauh lebih menyenangkan." tanggap Chanyeol.
"Tapi jika bisa melihat Yifan, akan jauh lebih menyenangkan." rengek Kyungsoo.
Chanyeol menghela nafas, "Terserah kau saja." ujarnya.
"Bagaimana dengan Jongin? Apa kita benar-benar tidak akan mengajaknya?" tanya Luhan.
"Apa maksudnya tidak akan mengajakku?" suara Jongin terdengar menginterupsi pertanyaan Luhan.
Kyungsoo menunduk frustasi begitu melihat wajah Jongin.
"Aku adalah bagian dari kelompok, jadi kalian harus mengajakku." tambah Jongin.
"Kami pikir kau tak akan tertarik." tanggap Baekhyun.
"Siapa bilang?" Jongin melirik pada Kyungsoo. "Tentu saja aku sangat tertarik." imbuhnya.
"Baiklah. Sudah diputuskan. Kita akan membuat tugas itu hari ini saat jam pulang sekolah di EXO Cafe." ujar Luhan.
Chanyeol dan Baekhyun mengangguk setuju, dan Kyungsoo ingin menangis saja rasanya. Kenapa harus mengikursertakan Jongin juga?
.
Waktu istirahat tiba dan seorang siswa langsung mengabarkan Kyungsoo bahwa ia diminta menemui Kepala Sekolah diruangannya.
"Ada apa Kepala Sekolah memanggilmu?" tanya Chanyeol. Kyungsoo hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
"Apa kau telah membuat sebuah masalah, Soo?" tanya Bekhyun.
"Aniya." jawab Kyungsoo yakin.
"Sudahlah, mungkin ini menyangkut prestasi Kyungsoo disekolah. Memangnya kalau dipanggil Kepala Sekolah, harus selalu tentang hukuman dan membuat masalah? Ayolah! Teman kita ini bukanlah Kim Jongin." tutur Luhan.
"Benar juga." Baekhyun mengangguk setuju.
"Sudah, cepat temui Kepala Sekolah. Dia tidak akan suka dibuat menunggu." suruh Chanyeol pada Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk dan segera pergi menuju ruangan Kepala Sekolah.
"Cha~ sekarang ayo kita kekantin." ajak Baekhyun. Ia mengamit lengan Chanyeol dan Luhan dengan lengan kanan dan kirinya.
"Ah, chakkaman." Luhan menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Luhan-ah?" tanya Chanyeol.
"Emm. Sebenarnya aku ada janji untuk bertemu dengan seseorang dari Dance Class saat jam istirahat." jawab Luhan.
"Mwo? Nuga?" tanya Baekhyun.
"O-Oh Sehun." jawab Luhan dengan rona merah pada kedua pipinya.
"Mwo? Manusia cadel itu?" tanya Baekhyun lagi.
Luhan mengangguk. Ia kemudian menatap Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Ah, baiklah. Aku dan Baekhyun akan pergi duluan. Kau selesaikan urusanmu dan segera menyusul, karena aku tak akan suka jika kau melewatkan makan siangmu." ujar Chanyeol.
"Ne. Aku akan segera menyusul. Bye." Luhan melesat pergi setelah mengatakan itu.
Chanyeol dan Baekhyun juga melangkahkan kaki mereka menuju kantin.
"Apa menurutmu Luhan dan Sehun mempunyai hubungan?" tanya Baekhyun pada Chanyeol.
"Entahlah." jawab Chanyeol singkat.
.
Kyungsoo side
Kyungsoo masuk setelah mendapat izin dari Kepala Sekolah.
"Chogi." Kyungsoo membungkuk pada Kepala Sekolah yang sedang duduk.
"Oh, Do Kyungsoo. Silahkan duduk." perintah Kepala Sekolah pada Kyungsoo.
"Ne." Kyungsoopun duduk pada salah satu kursi yang bersebrangan dengan milik Kepala Sekolah. "Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Kyungsoo.
"Ah, ini mengenai Kim Jongin anak pembuat masalah itu." Kepala Sekolah memulai pembicaraan. "Kau sekelas dengannya dan tentu tahu bagaimana ia selama satu minggu lebih bersekolah disini bukan?" tanya Kepala Sekolah.
"Ne" Kyungsoo mengangguk. Perasaannya mulai merasa tak enak saat mendengar Kepala Sekolah menyebut nama Jongin.
"Kau tentu juga tahu bagaimana reputasi sekolah ini kan?" tanya Kepala Sekolah lagi.
"Ne." Kyungsoo kembali mengangguk dan mulai tidak sabaran karena merasa kalau Kepala Sekolah sangat bertele-tele.
"Sekolah ini terkenal dengan semua prestasi siswanya dalam bidang akademik maupun non-akademik. Dan kehadiran Kim Jongin dengan semua kelakuannya benar-benar menggangguku." tutur Kepala Sekolah.
Kyungsoo hanya diam dan menunggu Kepala Sekolah melanjutkan ucapannya.
"Dia selalu membuat masalah, nilai-nilainya dalam pelajaran jelek semua dan dia belum juga masuk ke salah satupun kelas bakat hingga saat ini." imbuh Kepala Sekolah. "Dan dengan itu semua, aku membuat keputusan." tambahnya.
Kyungsoo menunggu dengan was-was. Keputusan apa yang telah dibuat oleh Kepala Sekolah dan kenapa ia dipanggil kesini untuk mendengarkan?
"Ia harus mendapatkan tutor sebaya yang akan membantunya dalam belajar. Dengan begitu, dia mungkin akan menjadi lebih baik." ujar Kepala Sekolah.
Mendengar itu, perasaan Kyungsoo berada pada mode siaga.
"Dan aku memilihmu untuk menjadi tutor dari Kim Jongin. Kau bersedia bukan, Kyungsoo-ssi?" itu seperti perintah telak dan bukan pertanyaan untuk Kyungsoo.
"M-Mwo? T-tapi kenapa harus saya, pak? Saya hanya juara dua. Ada Jongdae di tingkat pertama." tukas Kyungsoo.
"Apa kau lupa kalau Jongdae telah menjadi korban kenakalan Kim Jongin?" tanya Kepala Sekolah. "Aku rasa Jongdae bukan orang yang tepat untuk dimintai bantuan. Aku memilihmu karena kurasa kau mampu untuk menangani seorang Kim Jongin. Selain pintar, kau juga punya sikap yang baik dan tegas. Kau pasti bisa merubahnya menjadi lebih baik." jelas Kepala Sekolah.
Kyungsoo menggigit bibirnya.
"Kyungsoo-ssi, tolonglah. Demi sekolah ini. Kita tidak bisa membiarkan ulah satu orang mencoreng reputasi baik yang sudah di nobatkan. Dan berpikir tentang sebuah sekolah. Tidak mungkin membiarkan siswanya berlaku tidak sebagaimana mestinya. Ia dikirim kesekolah ini untuk dididik." Ujar Kepala Sekolah dengan tatapan memohonnya pada Kyungsoo.
Kyungsoo nampak berpikir keras. Bagaimana harusnya ia memutuskan ini? Ia justru ingin Kim Jongin tidak berada disekolah ini.
"Kyungsoo-ssi? Otthe?" tanya Kepala Sekolah setelah mendapati Kyungsoo hanya terdiam.
"Em, s-saya bersedia." jawab Kyungsoo akhirnya. Kepala Sekolah lega mendengar jawaban itu.
"Kamsahamnida, Kyungsoo-ssi." Kepala Sekolah tersenyum.
"T-tapi bolehkah saya mengajukkan sebuah permintaan?" tanya Kyungsoo.
"Apa itu?" tanya Kepala Sekolah.
"S-saya ingin diizinkan untuk bekerja sambilan." jawab Kyungsoo.
"Mwo?" Kepala Sekolah melotot mendengar permintaan Kyungsoo. "Kyungsoo-ssi, permintaanmu itu melanggar peraturan sekolah ini." ujar Kepala Sekolah.
"Saya hanya meminta itu. Dan saya berjanji akan merubah seorang Kim Jongin seperti sebagaimana mestinya siswa S. High School." tutur Kyungsoo.
Kepala Sekolah menghela nafas, kemudian terdiam untuk berpikir. Ia menatap Kyungsoo yang berada didepannya dengan resah.
"Kau harus melakukannya dengan sungguh-sungguh, Kyungsoo-ssi. Kuanggap ini sebagai ucapan terima kasih untuk kesediaanmu melakukan permohonanku. Meskipun yang kau lakukan ini sebenarnya tidak pantas. Bagaimana bisa kau meminta untuk melanggar peraturan sekolah? Haah~" kepala sekolah menghela nafas lagi.
"J-jadi, bapak menyetujui permintaan saya?" tanya Kyungsoo meyakinkan.
Kepala sekolah mengangguk, "Berjanjilah untuk melakukan tugasmu dengan sungguh-sungguh." ujarnya.
"Ne. Kamsahamnida." Kyungsoo membungkuk beberapa kali dalam duduknya.
"Ne, sekarang kau boleh menikmati waktu istirahatmu." tutur Kepala Sekolah.
Kyungsoo berdiri dari duduknya, kemudian kembali membungkuk dalam sebelum meninggalkan ruangan kepala sekolah. Kyungsoo menutup pintu ruangan itu pelan. Ia bersorak kegirangan atas apa yang ia dapatkan hari ini.
"Ini kesialan dengan keberuntungan sekaligus." ujar Kyungsoo. "baiklah, aku akan melakukan ini dengan sungguh-sungguh. Kim Jongin, tunggu saja. Kali ini aku yang akan bertindak. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk bekerja di EXO Cafe. Maka aku akan merubahmu." tekad Kyungsoo.
.
Kyungsoo berjalan penuh semangat menuju kantin dan menemukan ketiga sahabatnya yang tengah menikmati makan siang. Luhan sudah bergabung setelah menyelesaikan urusannya dengan Sehun. Kyungsoo menghampiri ketiganya dan pertanyaan tentang mengapa Kyungsoo dipanggil oleh Kepala Sekolah benar-benar tak bisa dielakkan. Kyungsoo menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya menceritakan semuanya kepada ketiga sahabatnya itu. Dan, beginilah tanggapan ketiga orant tersebut.
"MWO?!" mulut ketiga orang itu terbuka sangat lebar. Beruntung saja lalat yang kebetulan lewat tidak masuk kedalam mulut mereka. Kyungsoo sendiri segera menutup kupingnya karena teriakan ketiga sahabatnya itu.
"Kyung-ah, kau benar-benar nekat. Bagaimana bisa kau melakukan ini?" tanya Chanyeol tak percaya.
"Chanyeol-ah, ini adalah kesempatanku. Dengan izin yang diberikan langsung oleh kepala sekolah, aku tidak perlu khawatir akan ketahuan bekerja sambilan dan kalian tidak akan melihatku dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan melanggar peraturan. Aku bisa dengan leluasa bekerja disana dan mendekati Yifan." ujar Kyungsoo.
"Tapi bagaimana dengan Jongin?" kali ini Luhan yang bertanya.
"Ini memang akan sangat sulit, maka dari itu aku ingin kalian membantuku." Kyungsoo dengan tatapan memohonnya.
"Kalau sudah bagian tidak enaknya, kau meminta bantuan kami." sungut Baekhyun sebal.
"Baekhyun-ah, kalau aku bekerja di EXO Cafe, aku berjanji akan memberikan makanan atau minuman gratis pada kalian." rayu Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya, kau tahu ini tidak akan semudah itu." Chanyeol menatap Kyungsoo serius.
"Aku akan berusaha sangat keras, Chanyeol-ah." Kyungsoo balas menatap Chanyeol serius.
"Kyungsoo-ya, aku juga akan membantu sebisaku." Luhan mengusap kedua punggung Kyungsoo dan memberinya senyuman.
"Kau mendukungku, Luhan-ah?" tanya Kyungsoo berbinar.
Luhan mengangguk, "Mau bagaimana lagi, aku terlalu menyayangi sahabatku. Dan juga, kau sangat menyukai Yifan. Aku ingin melihatmu bahagia. Jadi, aku tidak punya pilihan lain selain membantumu." ujar Luhan tulus.
"Gomawo, Luhan-ah." Kyungsoo memeluk Luhan.
"Kyung-ah, aku juga ingin bilang kalau aku bersedia membantumu. Jadi, kau juga harus memberiku sebuah pelukan." rengek Baekhyun.
Kyungsoo terkekeh, kemudian membawa Baekhyun dalam pelukannya bersama Luhan. Chanyeol hanya menatap malas pada ketiga orang itu.
"Chanyeol-ah." panggil Kyungsoo.
Chanyeol berdecak, "Aku benci mengatakan ini. Tapi aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia." ujar Chanyeol, kemudian ikut bergabung dalam pelukan hangat itu.
.
Pelajaran terakhir telah usai, dan bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tiga menit yang lalu. Chanyeol, Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo sudah bersiap-siap akan pergi ke kafe untuk tugas kelompok yang akan mereka kerjakan bersama. Tapi satu orang lainnya -Jongin- masih sibuk menata mimpinya. Kyungsoo berdecak.
"Yack! Ireona!" Kyungsoo menggoyangkan bahu Jongin keras. "Yaaacck! Jongin-ah, palli ireona!" teriak Kyungsoo ditelinga Jongin.
Jongin tak bergeming, Kyungsoo menghembuskan nafasnya kesal.
"Kyungsoo-ya, biar aku bantu." Baekhyun merenggangkan otot-ototnya dan bersiap melakukan serangan.
"Baekhyun-ah, jangan bilang kau akan mengeluarkan jurus Hapkidomu." Luhan was-was.
"Manusia seperti dia harus dibangunkan dengan cara yang istimewa." ujar Baekhyun. Ia mulai bersiap, dan...
DUAK
"Akh!" Jongin berakhir dengan terjatuh dilantai kelas. Ia mengusap-usap sayang pantatnya yang bersentuhan mesra dengan lantai. Rupanya Baekhyun menendang kursi yang dipakai Jongin. Beruntunglah hanya kursinya yang melesat jauh.
Keempat orang itu langsung tertawa melihat keadaan Jongin. Jongin melirik mereka dengan kesal. Tatapannya tertuju pada Kyungsoo yang tertawa paling nista.
"KAU!" Jongin bangkit dan berteriak didepan wajah Kyungsoo. Ia mengeluarkan tatapan membunuhnya.
"Wae? Kau tidak suka?" Kyungsoo membalas tatapan tajam Jongin.
Jongin mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang sudah membakarnya pada Kyungsoo.
"Sudah. Ayo kita pergi sekarang." Chanyeol menginterupsi kegiatan Kyungsoo dan Jongin yang saling melemparkan tatapan tajam.
Luhan dan Baekhyun menarik Kyungsoo untuk segera keluar dari ruang kelas.
"Jongin-ah, kajja." ujar Chanyeol. Kemudian ia juga keluar dari ruang kelas itu.
Tinggal Jongin yang tersisa disana. Detik berikutnya, ia juga keluar meninggalkan ruang kelas.
.
Kelima orang itu sampai di EXO Cafe dan langsung memasukinya. Mereka langsung mendapat sapaan ramah dari salah satu pelayan kafe yang sudah sangat hafal dengan mereka -kecuali Jongin-. Mereka memilih meja yang biasa dan duduk disana.
"Hari ini aku yang traktir." cetus Kyungsoo.
"Jinjja?" teriak Baekhyun.
"Ne." Kyungsoo mengangguk.
"Kyung, kau yang terbaik." ujar Luhan.
Tak lama, seorang pelayan menghampiri meja mereka.
"Selamat sore. Pesan apa?" tanya pelayan yang tak lain adalah Yifan.
"Oh, Kris-ssi kami bertiga pesan yang seperti biasa, hanya saja porsinya menjadi dua." ujar Luhan.
Yifan mengangguk, lalu mencatat pesanan Luhan, Baekhyun, dan Chanyeol.
"Kyungsoo-ssi?" Yifan beralih pada Kyungsoo.
"Oh.. eh? A-aku pesan yang seperti biasa juga." jawab Kyungsoo. Yifan mengangguk.
"Tuan?" kini Yifan beralih pada Jongin.
"Aku pesan yang sama dengan Kyungsoo." jawab Jongin. Ia menatap tajam Yifan. Yifan yang menyadari tatapan tajam Jongin, ikut membalas tatapan itu. Bukan hal sulit baginya. Karena tatapan itu sudah menjadi khasnya.
"Mohon menunggu." ujar Yifan kemudian berlalu dari meja Kyungsoo cs.
Setelah Yifan pergi, Luhan, Chanyeol, dan Baekhyun langsung menatap Kyungsoo.
"Apa kami ketinggalan sesuatu? Bagaiaman bisa ia tahu namamu?" tanya Chanyeol pada Kyungsoo.
"Kami berkenalan kemarin. Tepatnya aku yang memperkenalkan diri lebih dulu." jawab Kyungsoo.
"Mwo? Jinjja?" Baekhyun berteriak heboh.
"Begitulah." Kyungsoo tak berniat bercerita lebih lanjut saat ia melihat kearah Jongin.
"Aku ketoilet." ujar Jongin, kemudian beranjak dari duduknya.
Ketiga orang disana hanya mengangguk acuh. Melihat Jongin pergi, Kyungsoo berinisiatif untuk melanjutkan ceritanya kepada ketiga sahabatnya. Tapi sebelum itu terlaksana, mereka berempat sudah dikejutkan oleh suara nampan yang jatuh dan barang yang pecah menyentuh lantai.
"Jongin?" - Chanyeol.
"Yifan?" - Kyungsoo.
Keempat orang itu melihat bagaimana pesanan mereka yang dibawa oleh Yifan kini sudah berakhir diatas lantai.
"Apa kau tidak melihat jalan dengan matamu? Kau membuat kotor dan basah seragamku!" teriak Jongin.
"Kau mau bilang ini salahku? Kau sendiri yang sengaja menabrakku." balas Yifan.
"Mwo? Jaga ucapanmu atau aku akan melaporkan ini pada atasanmu dan membuatmu dipecat." tukas Jongin.
"Coba saja." tantang Yifan.
"Kau!" Jongin menarik kerah seragam kerja Yifan dan bersiap melayangkan pukulannya.
"Jongin-ah!" tapi Kyungsoo lebih dulu menahan lengannya. "Jangan membuat masalah disini." tegas Kyungsoo.
"Cih!" Jongin mendecih dan melepaskan cengkramannya pada Yifan. "Wae? Kau tak suka aku membuat masalah dengan namja yang kau sumppft" ucapan Jongin terhenti karena Kyungsoo segera menutup mulutnya dengan tangannya.
Kyungsoo menarik Jongin keluar dari kafe itu.
"Apa maksudmu melakukan itu?" bentak Kyungsoo. Mereka sudah berada agak jauh dari kafe.
"Untuk bersenang-senang." Jongin menyeringai. "Aku sudah dengar dari Kepala Sekolah tentang kau yang akan menjadi tutorku dan juga tentang kau yang mengajukkan syarat agar diizinkan untuk bekerja sambilan." tambah Jongin.
"Mwo?" Kyungsoo membulatkan matanya.
"Memanfaatkan keadaan, eoh?" Jongin mendengus. "Kita lihat saja, siapa yang akan berakhir dengan 'baik-baik saja' nanti." bisik Jongin ditelinga Kyungsoo.
"Brengsek!" umpat Kyungsoo.
"Kau memilih jalan yang salah, Do Kyungsoo." Jongin menyeringai. "Hidupmu tidak akan mudah setelah ini."
TBC
