Sepertinya aku bertemu Akashi pada saat aku sedang menghadapi masalah. Dan itulah yang terjadi saat pertemuanku yang ketiga. Saat itu aku sedang menyebrang jalan dan berikutnya aku terbangun di ruangan serba putih. Wajah datarnya dan mata heterokrom itu langsung menyambutku saat sadar.

"Aku dimana? Dan kau— Akashi-san?"

"Rumah sakit." Jawaban singkat itu membuatku meangguk paham dan menatap jarum yang menancap di tanganku. Aku benci rumah sakit karena baunya membuatku benar-benar merasa sangat sakit.

Lalu seorang dokter bersurai hijau datang menghampiri kami. Aku mendengar percakapan mereka berdua dan tampaknya Akashi mengenali dokter itu. Terbukti dia memanggil dokter dengan nama kecilnya dan tanpa embel-embel sensei.

"Untung saja kepalanya tidak apa-apa. Tapi untuk memastikannya, kita harus melakukan melakukan tes. Bagaimana Akashi?"

Kepalaku? Aku meraba kepalaku dan baru menyadari jika ada perban yang melilit kepalaku. Tapi kenapa mereka minta izin pada Akashi? Bukankah pasiennya aku? Kenapa mereka tidak bertanya padaku?

"Lakukan yang terbaik." Hanya itu perkataan Akashi, lalu meninggalkanku begitu saja karena menerima telepon. Hei, aku bahkan belum sempat bertanya apapun padanya?!

"Maaf sensei, tapi kenapa tadi meminta izin memeriksaku pada Akashi-san?" Pada akhirnya aku bertanya pada dokter yang bernama Midorima Shintani (terima kasih name tag yang ada di dadanya) itu. Dia mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaanku itu. Sepertinya dia merasa heran mendapatkan pertanyaan itu.

"Apa kau lupa jika Akashi adalah walimu?" Pertanyaanya itu malah membuatku membeku.

Haaah? Wali? Ingatanku mungkin memang buruk, tapi aku ingat jika baru bertemu dengan Akashi dua kali. Tidak, kalau dihitung dengan ini maka menjadi tiga.

Dan kepalaku mendadak sakit. Mungkin karena efek kecelakaan yang barusan kualami.


.

.

Don't You Dare Love Me

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

AU, lil OOC, typos. Tidak mengambil keuntungan profit dalam pembuatan fanfic ini. Saya tidak sanggup memasangkan Akashi dengan chara perempuan di fandom ini karena saya cinta Akashi seperti besarnya cinta saya pada suami saya di fandom sebelah =)) #youdontsay

Akashi Seijuuro x YOU (terserah bagaimana interpresentasi kalian dengan ini, yang jelas saya pakai first POV)

Don't You Dare Love Me © Green Maple

.

.


Setelah perawatan selama dua hari, akhirnya aku di izinkan pulang. Awalnya dokter Midorima yang menanganiku tidak mengizinkan. Tapi aku memberontak dan menelepon Akashi terus-terusan selama dua hari belakangan untuk membiarkanku pulang.

"Ah iya, aku harus mengurus administrasi bukan?" Tanyaku pada dokter Midorima

"Tampaknya ingatanmu memang benar-benar terganggu," komentar dokter Midorima yang membuatku mendelik kesal. Menyadari tatapanku, dokter Midorima berkata, "Akashi sudah membayarnya sejak kau kecelakaan. Dan sebelum kau lupa lagi, dia itu walimu."

Aku menghela nafas pasrah saat mendengarnya. Aku lelah menjelaskan pada dokter Midorima jika Akashi bukan waliku. Kami bahkan tidak mempunyai hubungan kekerabatan apapun. Bukannya dokter Midorima mempercayai perkataanku, dia malah mengira efek kecelakaan itu membuat ingatanku makin terganggu.

Dan saat keluar dari ruang perawatanku, Akashi sudah ada di depanku. Mata heterokrom itu sepertinya memang diciptakan untuk membuat orang lain tunduk padanya. Tapi aku melihatnya berbeda, aku tertarik untuk mengetahui lebih jauh karena ilmu pengetahuan. Ahh— salahkan otakku sebagai seorang yang memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi.

"Sampai kapan kalian berdua menghalangiku untuk keluar?" Perkataan dokter Midorima itu membuatku tersadar jika aku sejenak terperangkap dalam tatapan Akashi.

"Maaf," gumamku dan segera berjalan menjauh dari pintu. Aku tidak sadar langkahku ini bukan seperti orang berjalan, tapi malah lebih mirip dengan berlari. Dan aku malah sampai di taman rumah sakit, padahal aku berniat untuk mencari keluar. Memandangi sekitar untuk mencari tanda-tanda jalan dimana jalur yang harus kulewati untuk pergi keluar. Namun tampaknya hal itu tidak berhasil.

Saat berbalik, tahu-tahu sudah ada Akashi di depanku dan menatapku dengan tajam. Aku tahu dia marah karena ditinggalkan begitu saja, tapi kan kami sudah tidak punya urusan apa-apa lagi.

Atau itu hanya pemikiranku saja?

"Kau dibawah tanggung jawabku. Jadi jangan menghilang begitu saja."

Aku tidak terpengaruh dengan ucapannya itu dan malah sibuk mencari dompetku di tas. Aku harus membayar semua yang dibayarkan oleh Akashi, termasuk pakaian yang aku kenakan sekarang karena pakaian asliku sudah tidak layak pakai. Mengenakan pakaian yang ada darahmu sendiri itu bukan ide yang bagus bukan?

"Aku harus membayar berapa?

"Apa?"

"Membayar semuanya. Biaya rumah sakit dan biaya-"

"Kau pikir aku memerlukan uangnya?!"

Ooh, tidak. Sepertinya aku salah mengeluarkan kata-kata. Aku sudah bersiap mengambil jarak sejauh mungkin dari Akashi, namun tanganku sudah keburu ditangkap olehnya dan aku ditarik kearahnya. Tangan satunya yang bebas menangkap wajahku dan memaksaku untuk menatapnya sekali lagi, kali ini dengan jarak tidak lebih dari lima senti mungkin.

"Apa kau melihat aku membutuhkan uang itu?"

"Eum.. Tidak."

"Kalau begitu diam dan jangan buat dirimu dalam masalah lagi."

Jarak kami akhirnya merenggang dan saat aku sadari, semua orang tengah menatap kami. Beberapa diantaranya bahkan mimisan atau memasang wajah malu. Hei, mereka kenapa sih?

"Jalan. Sekarang." Hanya dua kata penuh dengan penekanan dan nada memerintah, akupun mengikuti Akashi dibelakangnya.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan heran saat beberapa orang yang menyapaku mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal seperti "Dia yang ditaman tadi kan?" atau "Kasihan sekali dia. Setelah dicium didepan umum malah ditinggalkan pacarnya begitu saja."

Sampai aku berhenti jalan karena aku berada di perempatan lorong dan aku tidak tahu jalan mana yang Akashi tempuh. Saat menoleh ke sebelah kanan, aku hampir berteriak karena kaget. Akashi disana dan menatapku sembari berkaca pinggang.

"Kau lambat sekali. Percuma merekam suasana disini baik-baik jika keesokan harinya kau melupakan semuanya."

Itu terlalu menyakitkan tahu! Iya sih yang dikatakannya benar, tapi bisa diperhalus lagi tidak perkataanya? Tapi sepertinya tidak deh. Dan artikel online yang aku baca tentang Akashi sepertinya memang benar adanya.

Sementara aku masih sibuk dengan pikiranku, Akashi sudah menarik tanganku dan memaksaku untuk jalan disisinya. Sepertinya aku memang manusia yang paling merepotkan yang pernah dia tahu sampai-sampai harus menggandengku untuk tidak membuatnya mencariku lagi.

.

.

Don't You Dare Love Me

.

.

Lalu aku tersadar bahwa aku belum memperkenalkan diriku sendiri padahal kami sudah sering bertemu.

Empat kali bertemu dan diantar pulang ke apartemen itu sudah bisa digolongkan sering bukan?

"Terima kasih Akashi-san."

"Hm."

Aku ragu mengatakan itu, tapi tatapan Akashi lagi-lagi menajam dan ditunjukkan padaku. Dan dia malah salah paham dengan apa maksudku.

"Kau masih berusaha memikirkan cara untuk membayarku?"

"Jujur?"

"Hm."

"Iya sih, sedikit. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu." Pemilihan kalimatku benar, terbukti tatapannya kepadaku tidak semakin menajam. Tapi tatapannya sekarang malah condong mengintimidasi. Untungnya mengintimidasi aku apa coba?

"Akashi-san tahu namaku? Aku belum memperkenalkan diriku sejak pertama kali kita ketemu sampai sekarang."

"Aku tahu."

"Jadi, aku harus memperkenalkan diriku. Namaku—"

"Aku tahu." Eh? Bagaimana bisa?

Sepertinya Akashi tahu jalan pikiranku, sehingga dia berkata, "Aku tahu dari kartu identitasmu."

Aku membulatkan mulutku, tanda mengerti. Satu hal sudah selesai dan sekarang ada hal yang lain harus ditanyakan. Kenapa harus mengaku menjadi waliku? Kami kan baru kenal karena bertemu secara tidak sengaja beberapa kali.

"Kenapa mengaku sebagai waliku, Akashi-san?

"Shintaro meneleponku dan bilang dia menanganimu yang mengalami tabrak lari. Dia bilang menekan speed dial 1." Oke, ini menjelaskan kenapa Akashi tahu aku di rumah sakit. Tapi penjelasannya masih belum kuat menurutku. Alasan mengaku jadi waliku kenapa?

"Ada lagi?" Pertanyaan Akashi itu membuatku merasa digantung. Jawaban pertanyaanku sebelumnya belum dijawab tuntas dan dia malah melemparkan pertanyaan baru?

Dan saat aku baru mengeluarkan suaraku untuk bertanya, handphone Akashi berbunyi. Dan dari nada suaranya, sepertinya telepon itu membahas hal yang penting. Seperti sebelum-sebelumnya, Akashi meninggalkannya begitu saja saat sedang menerima telepon. Aku kesal karena diabaikan, tapi aku hanya bisa menghela nafas. Meskipun sifatnya tampak dingin dan menyebalkan, tapi kan dia baik. Buktinya dia rela membayar tagihan rumah sakit, mengaku sebagai waliku padahal jelas-jelas tidak mempunyai hubungan kekerabatan dan memberikanku pakaian yang aku kenakan sekarang.

Kupikir, itulah pertemuan terakhir kami. Tapi nyatanya tidak. Kami terus menerus bertemu dalam ketidaksengajaan dan dimana aku sedang terlibat masalah. Sampai-sampai dia mengancamku untuk memberitahukannya apapun kegiatanku dan dimana keberadaanku setiap jam.

.

.

Don't You Dare Love Me

.

.

Jadi intinya, kami bisa bersama seperti sekarang karena aku bagi Akashi adalah magnet masalah dan merasa aku tidak akan pernah baik-baik saja jika tidak berada didalam jangkauan matanya. Kalau sudah begini, aku mau tidak mau harus berbagi apa yang aku alami setiap hari meskipun dia tidak mau menceritakan tentang dirinya sendiri kalau aku tidak mendesaknya untuk mengatakannya.

Kata Chihiro, aku satu-satunya orang yang bisa memaksa Akashi untuk menuruti keinginanku. Akashi itu terkenal dengan orang yang tidak bisa diperintah oleh siapapun dan dialah justru orang yang memerintah semua orang. Aku hanya mengangguk percaya saat dia mengatakan itu beberapa kali —say thanks pada ingatanku yang jelek ini— dan juga karena fakta dia pernah satu sekolah dengan Akashi waktu SMA.

Aku juga diberi julukan oleh berbagai orang-orang disekitar Akashi, meski aku merasa julukan mereka terdengar absurd semua.

Akashi bilang aku magnet masalah (aku hanya bisa mengiyakan saja karena kenyataannya demikian adanya).

Chihiro bilang, aku Queen of Emperor (jangan tanya kenapa, aku juga tidak paham dan Chihiro tidak mau menjelaskannya padaku).

Kuroko bilang aku Miracle in Akashi Life (aku lebih merasa cocok disebut disaster ketimbang miracle).

Kise bilang aku Wonder Woman (aku tidak punya kekuatan super by the way).

Midorima bilang aku Baddest Female (kata Baddest bisa dihilangkan? Aku tidak seburuk itu sebagai magnet masalah).

Murasakibara bilang aku Infinity Shocking (sepertinya dia masih belum bisa menerima jika aku pernah mengalahkannya makan ramen. Padahal aku sudah bilang waktu itu aku benar-benar kelaparan).

Aomine bilang aku penahluk (menahlukan apa? Aku belum pernah memanjat tebing untuk adrenalin meski itu impianku).

Dan kenapa aku bisa ingat semua? Karena setiap kali mereka mengirim pesan kepadaku, nama julukanku yang akan mereka gunakan. Kadang aku merasa ini jalan hidup yang terlalu kejam.


.

.

Don't You Dare Love Me - To Be Continue

.

.


Tahu-tahu chapter ini sudah selesai saja ditulis =))

Sepertinya saya harus sungkem satu-satu sama penghuni fandom ini yang memberikan komentar positif untuk fanfic ini. Terharu ada yang memfavo dan memfollow fanfic ini :") #sungkem

Dan ini bisa dibilang masih belum mengulas point penting karena masih nyambung di prolog. Chapter selanjutnya saya akan mulai membahas permasalahan mereka berdua =))

Oiya, sebelum saya lupa, saya sepertinya bakalan lambat update fanfic ini karena mau menyelesaikan satu fanfic MC dari fandom tetangga di akun ini. Fanfic itu menuntut lebih banyak perhatian dan pikiran sih :")

Terakhir, adakah yang sudi mereview chapter ini? :D

Green Maple

06/03/2014