Story Of Evil Series : The Truth Story

Ch.2 : The New Queen Of Lucifenia

Chapter 2 update walaupun gaada yang minta horeeee XD Enjoy~


Disebuah taman yang tenang, tepatnya kursi kayu panjang ditengah desa Elphegort duduk seorang anak perempuan berambut pirang yang berumur kuranglebih lima tahun. Ia sedang duduk manis dikursi itu sendirian. Sesekali ia tersenyum jika ada penduduk desa yang ia kenal lewat didepannya dan menyapanya. Terus begitu, sampai seorang anak kecil laki-laki yang mirip dengannya datang menghampirinya membawa satu es krim.

"Rin-chan! Lihat aku bawa apa! Tou-san membelikanku es krim. Makan berdua yaaa!" Ucap anak laki-laki tersebut, ia menunjukan senyumnya kepada teman sebaya-nya tersebut, lalu duduk di disampingnya.

"Hm!" Angguknya semangat. "Tapi namaku Rilliane, ri-li-en! Bukan riiiiiiin"

"Ehehehe, habis, lebih enak dipanggil Rin daripada... siapa? Sirien ya?" Balasnya dengan wajah cengiran.

"E-eh? Allen jahaaaaat!" Sang anak perempuan yang mari kita panggil Rilliane –tepatnya ri-li-en, berpura-pura marah, padahal jelas sekali dipipinya terdapat semu merah. Namun sayangnya Allen tidak menyadari garis-garis kecil dipipi sahabatnya itu, sehingga ia malah panik dengan polosnya, "A-aku minta maaf Riiiiiin-chaaaaan"

Andai saja mereka sedikit dewasa, orang akan mengira mereka pacaran –selain dugaan bahwa mereka kembar tentunya.

Sayang sekali ya, tidak ada yang memperkirakan kalau bahkan itu hari terakhir mereka bersama.


Leah Croft

Proudly Present

"The Truth : Story Of Evil"

For Teen

Based on Story Of Evil Stories (Akuno-P/MoTHY)

Plot and Character isn't mine. But this fanfiction is mine.

Let's begin the story and hope you enjoy it


Aku baru kembali dari kerajaan Lucifenia dan sekarang sedang menuju ke desa Elphegort. Setelah tadi bicara dengan seorang maid centil, bajak laut pirang jejadian dan seorang aneh ubanan –kumohon jangan beritahu orangnya, aku langsung berniat untuk menjemputnya. Asal kalian tahu, aku selalu menunggu sampai saat ini tiba; saat dimana masa hidupku tenang setelah tugas atau bisa kalian sebut sebagai misi selesai. Maksudku hidupku baik-baik saja, namun lebih menyenangkan jika hidup tanpa beban kan? Sebenarnya, hidupku kemarin lusa sangat-sangat-baik-baik-saja. Ya, kemarin lusa. Hari dimana tidak ada–

"Luka-samaaaaaaaa~ tunggu akuuuuuu~"

Hari dimana tidak ada sesosok makhluk terong yang menggangguku.

"Luka-sama! Kau ini memang diberikan kekuatan untuk jalan cepat atau memang sudah bawaan dari lahir?". Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya. "Kau yang berjalan terlalu lambat." Jawabku simpel. Sekarang kubalikkan pertanyaan; dia memang terlahir seperti itu atau memang bawaan dari lahir? Ah, aku rasa aku yang terlalu jenius untuk berhadapan dengannya. Dia masih mengoceh tidak jelas dan langsung terdiam dengan glare mematikan yang aku miliki dan tentunya dengan senang hati kukirim padanya –nah, itu baru bawaan dari lahir.

Daripada itu, biarkan aku menjelaskan tugas ku yang sebenarnya. Aku adalah salah satu spirit baik yang diadopsi oleh... errr... sebut saja orang yang setingkat dibawah angel. Tuanku menyuruhku untuk membunuh atau menghentikan Seven Deadly Sins, dan ini adalah tugas terakhirku. Setelah itu aku akan bebas dan menikmati hidup sekali lagi –aku sudah pernah mati, jangan komentar.

Pertanyaannya, bagaimana cara kau, tepatnya aku menghentikan Seven Deadly Sins itu? Mudah. Mereka memiliki benda yang akan membuat mereka dikendalikan oleh iblis. Banica Conchita contohnya, seorang yang dirasuki oleh Evil Of Glutton sehingga menjadi kanibal. Barangnya adalah Gelas, ketika gelas itu pecah, ia normal lagi. Tapi, selain itu, kau juga bisa menggunakan cara lain; membuatnya melihat orang terpenting baginya mati didepan matanya.

Makhluk berambut violet –atau ungu agar tidak terkesan banci yang sedang berjalan disampingku ini termasuk salah satu Seven Deadly Sins, lebih tepatnya Lust. Ia tidak sengaja terkena pengaruh Evil of Lust –entah siapa namanya aku lupa ketika menyentuh Swords of Venomania. terlebih lagi dia memang keluarga dari Venomania. Nama aslinya Sateriajis Venomania. Tidak elit memang, mungkin itu salah satu alasan mengapa tuan mengganti namanya menjadi Gast Venom setelah berhasil dibebaskan dari kutukan evil-siapalah-namanya dan dihidupkan kembali.

"Luka-samaaa. Seburuk itukah aku sampai kau harus berwajah datar terus?"

Ya, sangat. Inginnya berkata seperti itu, tapi tidak, aku masih punya hati bahkan untuk makhluk sepertinya. "Tidak. Aku berwajah datar pada siapapun, pada tuan sekalipun. Jadi tidak, kau tidak seburuk yang kau pikirkan." Ia terlihat sumringah mendengar jawabanku. "Ya, kau tidak seburuk yang kaupikirkan. Hanya saja kira-kira tigakalilipat lebih buruk." Tambahku lagi, kali ini dengan senyum manis yang sedikit mengintimidasi. Dan sukses membuatnya sedikit lebih tenang karena perubahan mood-nya.

Mari kita sudahi pembahasan absurd ini. Didepanku sudah ada sepasang anak kecil berambut pirang. Aku tersenyum sebelah –smirk. Yang dikatakan oleh tuan memang benar. Sepasang anak kecil menyerupai kembar padahal tidak se-ayah atau se-ibu ini terikat oleh takdir. Aku kasihan pada mereka. Dari jutaan anak didunia, mereka berdualah yang harus dipilih oleh takdir untuk dipermainkan.

"Hey, terong venom, kau tahan anak laki-laki itu, aku akan mengambil yang satunya lagi." Komando-ku. Ia mengangguk. Jadi kami langsung menjalankan rencana.

Kami memisahkan mereka satu sama lain, si anak laki-laki alias Allen mulai memberontak dan berteriak, sedangkan putri –mulai sekarang kita panggil begitu– Rilliane menangis. Rakyat desa yang sepertinya hampir semua mengenalnya mulai menarik kami berdua. Kerusuhan terjadi. "Kami dari Istana! Penasihat kerajaanlah yang mengirim kami!". Teriak partner-ku itu. Seketika hening. Rakyat desa mundur, tentu saja mereka ketakutan akan istana. Terlebih lagi fakta itu dibenarkan oleh kereta kerajaan yang baru saja datang menjemputku. Sekarang ini yang terdengar hanya tangisan dan jeritan dua anak kecil yang kami tangkap. Hm, dia bisa juga diandalkan.

Kamipun langsung berpisah. Aku naik kereta kuda istana sedangkan Gast pergi ke rumah orangtua Allen –Leonhart dan Lilliane, Three Heroes favoritku.


Sekarang kami berada di ruangan rahasia yang rupanya tempat tinggal dari Lucifer bodoh itu. Sosoknya yang memakai jubah hitam memberikan kesan tua. Oh, sudahlah. Sekarang dia menarik sebuah kaca bekas. Iya, itu adalah kaca sekitar sembilan puluh tahun lalu yang menjadi favorit Ratu Arne. Disebut-sebut sebagai The Four Mirrors Of Lucifenia. But, For Your Information, hanya ada dua cermin. Sungguh bodoh yang menamainya. Atau mungkin dulu memang mereka belum mengenal urutan angka.

Anak kecil alias Rilliane yang sekarang sudah tertidur berkat sihir dari kakek iblis itu dibangunkan dalam sekejap dengan hanya sentuhan kecil ketika The Four Mirrors Of Lucifenia tepat berada didepannya. Ketika melihat itu, seketika mata indah milik putri kecil itu terbelalak. Mata indahnya terbuka lebar sedangkan pupilnya mengecil, seolah-olah baru saja ada yang merasukinya. Memang iya, sih. Oliver dan iblis itu tersenyum. Sedangkan Tey Mitapie –siapalah namanya itu tertawa puas. Aku diam. Mencoba mencerna keadaan.

AH! Dua kaca yang entah bagaimana disebut empat itulah barangnya! Lucifer memberikan Kuhancurkan maka langsung beres. Mudah. Tapi tidak. Jika kehancurkan skenarionya –yang hanya aku sendiri itu yang tahu, maka Iblis itu tidak akan hancur dan pergi. Jadi aku hanya bisa diam meratapi kehancuran dari hati murni gadis kecil itu. Dia sudah dirasuki, dia akan lupa semuanya. Secara mendadak mengerti politik dan pada akhirnya memimpin kerajaan ini dengan jahat.

Tapi bagian 'lupa semuanya' itu yang membuat dadaku menjadi sesak. Kenangan hidupnya, masa-masa indah beserta temannya, dan bahkan anak laki-laki yang menjadi temannya itu akan dia lupakan.


#NormalPoV

Setelah kau melihat dari sudut pandang Elluka dimana asal mulanya sang 'Daughter Of Evil' tercipta, akan kuajak kau melihat disisi Gast.

"Hiks. Jii-san, tapi kalau Rin-chan diambil istana 'kan, nanti dia jahat, terus lupa denganku. Terus ga nepatin janjinya kalo nanti mau ngadain Revolusi bareng ngelawan pemerintahan jahat. Kalau Rin-chan yang jahat, terus bagaimana denganku? Hiks." Serentetan kalimat polos namun mampu menancapkan pisau kehati Gast. Dan parahnya itu keluar dari mulut seorang anak kecil berumur 4 tahun yang bahkan masih diselingi isakan. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi setelah tadi. Yang ia bisa lakukan hanyalah menggendong anak tampan kecil lucu nan polos sambil menenangkannya. Itupun tadi ia lakukan sambil menahan tangis; karena tidak tahan dengan apa yang dilakukannya –ia menganggap hal ini sangat kejam, dan sakit yang menimpa kaki, tangan dan pundak maupun punggung karena pemberontakan anak kecil tampan lucu nan polos tadi. 'Bagaimana Luka-sama kuat menghadapi enam seven deadly sins lainnya kalau bahkan aku menghadapi satu anak kecil sudah hampir mau mati.' Itulah yang sedari tadi ia batin-kan.

"Nah! Itu ayahmu 'kan?" Ucapnya setengah berteriak kegirangan karena merasa pada akhirnya penderitaan hari ini berakhir. Sang anak langsung turun dari gendongan makhluk ungu itu dan berlari menghampiri Tou-sannya dengan wajah masam. Oh, apa aku sudah memberitahumu bahwa bahkan Allen kecil kita memberikan salam perpisahan pada Gast –berupa tendangan maut? Kalau belum, maka kau sudah tahu sekarang kan?

Setelah memastikan bahwa sang anak sudah selamat dan berada didekat orang tua-nya, Gast pergi meninggalkan desa itu dan berjanji tidak akan kembali dalam waktu dekat. Ia sekarang hendak pergi kerumah tuannya dan langsung beristirahat. Kumohon abaikan fakta bahwa tuan Venom itu terpasa menginap, atau bahasa kasarnya coretnumpangcoret dirumah sang tuan. Apa? Kalian kira tuannya Gast itu siapa? Kutekankan, tuan dari Gast Venom dan Elluka Clockworker tidaklah sama. Aku yakin kalian sudah dijelaskan tentang tuan dari Clockworker-san; 'orang yang setingkat dibawah angel'. Sedangkan Gast Venom sudah dibebaskan oleh 'orang yang setingkat dibawah angel' itu dan di-pindah-tuan-kan ke Elluka. Singkatnya, tuannya sekarang adalah Elluka.


Pendek? Iya Miyo tau X) nanti chapter tiga barulah sangat panjang.

Review?