Disclaimer by Masashi Kishimoto
Arti Sebuah hati by Pastinya aku sendiri lah!
Rated : T+
Genre : Romance
Inspiration : First Love Forever love, by Syu Yi (yang kisahnya mungkin akan melenceng 80-85% hahaha…)
Warning! Sudut pandang orang pertama (Sakura). typo beterbangan ke mana-mana. Terdapat dua percakapan antara dua orang yang berbeda dalam 1 paragraph.
Dua
Debaran Hati
~o0o~
Angin berhembus melewati celah terpencil hidupku.
Menari laksana daun yang berjatuhan di depan mataku.
Kau datang tiba-tiba mencoba mengisi tiap detik keheningan yang ada.
Apa aku salah jika jantung ini berdetak tak biasa.
…
"Hinata-chan, hari ini ada mata kuliah apa saja di kampus?" tanyaku pada Hinata salah satu teman seapartemenku. Hinata itu sebenarnya anak orang kaya tapi dia suka sekali jika hidup membaur dengan kalangan menengah ke bawah seperti kami, dengan dalih: "Aku ingin merasakan bagaimana hidup seseorang dengan bebas tanpa ada sangkut paut kehidupan uang."
Ingin tertawa jika mengingat ucapannya dulu waktu pertama kami berkenalan. Kini dia selalu tersenyum jika pertanyaan yang sama hampir setiap hari ku ucapkan, "Sakura-chan, hari ini ada mata kuliah Basis Data Lanjut, Sistem Operasi Linux, dan Sistem Manajement Akuntansi." Dia mengatakannya dengan wajah malaikatnya. Selalu dan selalu dia tersenyum jika mendengar serta memberi jawaban padaku atas pertanyaanku ini, kenapa tidak? Soalnya mungkin baginya aku adalah teman yang masih sangat polos sehingga selalu berfikir untuk memberiku semangat untuk mejalankan amanat kedua orangtuaku.
Ino tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan kami serta merusak moodku yang masih ogah-ogahan menginjakkan kaki di kampus. "Apa kau sudah mendapatkan berita tentang pangeran konyolmu itu Sakura-chan sayang?" Dia mengatakannya dengan tampang meledekku.
Mungkin dengan adanya mereka aku merasa hari-hari yang membosankan ini jadi lebih bermakna. Aku tidak tahu jika tidak ada mereka, pasti aku akan sangat kesepian.
…
Hari ini pun seperti hari biasanya, sangat membosankan! Tidak ada satu pun yang dapat membuatku bersemangat untuk mempelajari jajaran rumus-rumus algoritma dan script-script yang berderet rapi di hadapanku saat ini.
Menyebalkan! Rumus apa-apan ini, kenapa salah memberi tanda titik koma (;) saja semua program dari ribuan kata langsung error. Mungkin benar kali ya? Kata Hinata, kalau aku ini masih polos dalam perkomputeran dan harus belajar lebih giat lagi untuk bisa setidaknya membuat program baru yang belum pernah orang lain bikin buat tugas akhirku di semester 3 ini, "Arg... " Aku mengeram frustasi jika mengingat ketidak berdayaanku dalam program ini.
Jam sudah menunjukkan jika pelajaran hari ini telah usai, aku mengeram frustasi berkali-kali hari ini, sudah rambut pada rontok karena selalu berfikir akan rumus-rumus yang tertata rapi di layar komputer ditambah ingatan tentang pemuda aneh yang setiap kali muncul tiba-tiba dalam benakku.
Aku berjalan tanpa memperdulikan tatapan konyol pria-pria aneh yang selalu mengejarku. Entah kenapa semua terasa hampa bagiku? Seperti tidak diriku, aku bagai tersihir oleh sesuatu yang kasat mata dan membuat pandangan mataku terasa ada hamparan fatamorgana yang siap menelanku hidup-hidup.
Kaki jenjangku melangkah tanpa aku tahu harus ke mana? Aku tidak tahu jika rutinitas biasa yang kulakukan seusai pulang dari kampus adalah bermain dulu dan mampir ke Mall sekedar cuci mata dan mencari cemilan pengganjal perut setiap hari. Sekarang memang aku berada di dalam Mal ini dan berjalan-jalan seperti biasa, tapi serasa ada yang berbeda. Aku bahkan tidak memperdulikan semua barang-barang yang baru datang tapi malah keasyikan berjalan tanpa tujuan.
Sekelebatan ingatan tentang pria misterius yang beberapa hari lalu muncul tiba-tiba dalam ingatanku, aku berupaya menolak dan terus menolak fatamorgana dalam bayanganku, "Tidak mungkin! Aku bisa terjerat dalam pesona pria aneh misterius hanya dengan sekali memandang mata elangnya, itu sangat konyol Sakura!" Aku meyakinkan dalam hati tentang kejadian beberapa hari lalu adalah sebuah pandangan semu yang pasti akan hilang tertelan waktu.
Tanpa sadar bibir ini berucap lirih, "Apakah aku bisa bertemu lagi denganmu wahai mata elang?" Aku segera memukul otakku yang error ini karena berfikir akan hal aneh yang tak seharusnya terlintas dalam benakku. Aku kesal pada diri sendiri, kulanjutkan saja perjalananku menuju kontrakan.
Deg
Apakah benar penglihatanku kali ini? Ah, mungkin salah. Aku tetap melanjutkan perjalananku, tapi hati ini berkata lain. Kuhentikan langkah kakiku dan memutar kembali arah jalanku, tanpa sengaja aku melihat seseorang. Ya, sesorang yang beberapa hari ini selalu mengahantui hari-hariku.
"Sasuke-kun, nanti malam bisa menginap di rumahku kan? Kita bisa bersenang-senang hingga pagi, serta berbagi kehangatan. Kau mau kan?" ucap seorang perempuan manja pada seorang pemuda asing yang tak lain dan tak bukan adalah seorang pria yang berani dengan lancang mencuri hari-hariku.
"Lain kali saja ya, sekarang aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan." ucap pria itu pada gadisnya dan mereka lalu berciuman sangat mesra. Benar-benar pasangan yang menjijikkan, mereka bahkan tidak malu jika harus mengumbar kemesraan di depan umum, dasar hewan!
Aku kesal, entah kenapa aku merasa kesal dan tanpa pikir panjang aku langsung saja pergi dari situ untuk menghindari mereka. Semua orang menganggap aku gila karena berlari dan beberapa kali hampir menabrak orang.
Aku berhenti di sebuah taman dekat kontrakanku, di sini adalah salah satu taman yang aku sukai, taman di sini didomisili oleh pohon sakura yang belum tumbuh bunganya dan tingginya cuman 4-5 meteran, di taman ini sangat sejuk. Aku melangkah mencari tempat duduk yang terbuat dari kayu berwarna putih kesayanganku. Aku duduk termenung dan melihat ke atas, ternyata awan-awan itu entah mengapa mengerti perasaanku sekarang ini. Kunikmati keindahan alam itu dengan memandangi awan yang entah mengapa dapat memikat penglihatanku.
"Nona manis, apakah ada sesuatu yang menarik hatimu sehingga nona manis tak sedikit pun berkelit untuk melihat hal lain selain awan-awan itu?" Aku terusik akan kata-kata orang di sampingku, kutorehkan mukaku ke arah kanan dan melihat siapa gerangan yang mengusik ketenanganku ini.
Deg
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini, hah?" tanyaku yang langsung berdiri karena entah mengapa emosi yang beberapa waktu lalu sempat hilang kini muncul lagi.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, dia malah tersenyum sambil menyeringai melihat wajahku yang memerah karena emosi. Aku yang tak tahan dengan senyum mautnya itu hendak pergi dari hadapannya tapi ada tangan lain yang menggenggam tangan kiriku sehingga aku terhenti, "Duduklah nona manis."
"Aku sama sekali tak ada hubungannya denganmu lagi, kau tahu itukan?" Dia tak melihat wajahku yang emosi ini tapi malah sibuk melihat tangan kiriku yang di genggam oleh kedua tangannya, "Tanganmu sangat halus dan indah."
Cup
Satu kecupan dia berikan pada tangan kiriku, aku tidak tahan kemudian langsung kutarik paksa tangan kiriku. Aku meronta agar dia melepaskan tanganku, bukannya dia lepas tapi malah dia menarikku sehingga sekarang posisi kami sangat merugikanku. Mungkin hanya 5 cm jarak antara muka kami.
Deg
Mungkin saat ini mukaku sangat memerah, sehingga dia memandangku dengan tampang setannya. Aku benar-benar tak dapat berfikir lagi, semua amarah yang tadi sempat terekam dalam ingatanku kini hilang entah ke mana dan tergantikan kupu-kupu kecil yang berterbangan di dalam hatiku. Dia menarikku mendekat, semakin mendekat kepadanya.
"Bukankah kita berjodoh nona manis. Tadi tanpa sengaja aku melihatmu berlari saat setelah melihatku dan aku mengikutimu." Dia berkata dengan lirih di depan mukaku, itu membuat mukaku serasa memanas, dia tersenyum dan memandangku. Rasanya pandanganku kosong.
Cup
Sebuah ciuman singkat, kututup mataku. Aku merasa jantungku kini berdetak tak seiring keinginanku. Dia memang menghentikan ciuman itu beberapa detik, aku tak kuasa membuka mataku walau hanya sekedar untuk melihat wajahnya. Sekarang aku merasa dia memegang leher belakangku menggunakan tangan kanannya dan tangan kirinya dia gunakan untuk memegang pinggulku. Aku melayang bagai tersapu ombak, hatiku hanyut dalam pesona iblis yang diam-diam mencuri ketenanganku ini. Dia menciumku lagi, dia mencoba memasuki daerah dalam mulutku, dia gigit kecil bibirku.
Aku tahu ini salah tapi aku masih menikmatinya dan enggan membuka kelopak mataku. Mungkin sekarang dia mulai marah karena aku tak kunjung membuka mulutku untuk mempersilahkan dia masuk, hingga kurasakan tangan kirinya mulai jahil dan mulai meraba ke bawah pinggangku.
Aku tak tahan dengan sentuhan jahilnya, hingga aku tanpa sadar membuka mulutku untuk berbicara, tapi apa yang terjadi? Dia menggunakan kesempatan ini untuk memasukinya. Bagai melayang, ini pengalaman pertama bagiku.
Aku sudah tak kuat lagi, seluruh tubuhku terasa lemas. Akhirnya dengan seluruh tenaga yang tersisa aku gunakan untuk mencoba membuka kelopak mataku, "Matamu sangat cantik nona manis, emerald yang indah." Aku terbius akan kata-katanya sehingga tanpa sadar memegang wajahnya dan berusaha meraba wajah yang terhias sangat sempurna itu.
Garis wajahnya keras seperti batu karang, postur wajahnya tirus. Rambutnya membentuk emo mencuat kebelakang. Rahangnya kuat. Matanya hitam kelam bagai sang elang yang melihat mangsanya. Hidungnya sangat mancung. Bibirnya tipis berwarna pink dan terlihat ada sisa-sisa air liur di sudut-sudutnya. Menegaskan sosoknya sebagai lelaki sejati. Sempurna dalam kemaskulinan. Aku terpana akan sosok pria di hapanku ini, sangat sempurna.
"Kau terpana akan ketampananku nona manis?" Sekejap ilusi yang menghalangi akal sehatku kian menepis dan aku mulai tersadar akan posisi kami yang bisa dibilang sangat tidak sopan ini. Dengan sekuat tenaga aku melepaskan pelukannya terhadapku. Aku pelototi wajahnya dengan muka angkuh.
Dia tertawa, "Hahaha… kau sungguh manis jika seperti itu dan jauh lebih manis lagi jika tersenyum, cobalah tersenyum sedikit untuk menyambut kedatanganku nonaku yang manis?"
"Kakekmu!" Aku bergegas berdiri tapi dia mulai menarikku lagi, "Apa kau lupa dengan perkataanku beberapa hari yang lalu nona? Aku… ingin… menagih… hutangmu… padaku." Dia mengucapkan tepat di telinga kiriku, ucapan terakhirnya sempat membuat jantungku terasa terhenti. Dia tiup pelan telingaku sebelum dia pergi, baru beberapa langkah dia berjalan, dia berhenti dan mengucapkan sesuatu yang benar-benar ingin membuatku mengubur diriku di tempat saat ini juga.
"Kau sangat menikmati ciuman singkat kita. Bagaimana jika kita coba yang lebih menantang? Akan kutunggu sampai saat itu tiba. Jadi bersiaplah membayar hutangmu."
Aku ingin membunuh orang iblis itu, aku yakin dia menggunakan guna-guna terhadapku, buktinya aku langsung terjebak seketika. Aku tersadar akan satu hal. Barusan itu ciuman pertamaku! Dan dengan tampang tidak berdosa dia mencurinya, "Dasar iblis!" teriakku kencang entah pada siapa.
…
Ini sudah hari ke-enam sejak kejadian konyol di taman yang tanpa sengaja merenggut kesucian ciuman pertamaku. Aku sudah bosan setiap hari mengeluh pada diri sendiri dan merutuki ketololanku. Aku benar-benar bodoh jika sampai saat ini masih belum bisa melupakan pria iblis itu dan malah jika ada waktu senggang sedikit saja, hanya wajah, mata, hidung, bibir, serta suara berat seksi pria itu yang selalu terlintas di otak konyolku ini. Aku berharap tak akan menemui lagi pria brengsek itu. Ya, kuharap! Tapi entah mengapa otakku yang error ini malah bertarung dengan akal sehatku dan malah berharap sebaliknya. Sial!
Hari ini seperti biasa, berangkat kuliah dengan tampang dan mood yang pas-pasan. Aku berjalan melewati koridor kampus dari kelas ke kelas, langkahku terhenti pada papan tulisan di atas yang bertuliskan kelas Jaringan Komputer, "Huh! Menyebalkan, masa aku yang masih malas ini harus bertemu dosen killer dan gerombolan orang culun yang membuat sepet mata dan otak. Apakah tidak ada hal yang bisa membuatku tertarik?"
Sepanjang pelajaran aku lewati dengan tampang ogah-ogahan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk menghibur diri. Biasanya jika masih di desa aku senang sekali pergi ke pantai karena tempat tinggalku di sana adalah di pinggir pantai. Mengingat tentang pantai membuatku merindukan kampung halamanku, bermain bersama teman-teman masa kecilku, berjalan di tepi pantai dengan mereka dan saling menyiram air pada masing-masing teman. Sungguh itu adalah kenangan yang tak akan aku lupakan sampai kapan pun.
Sungguh aku sangat kesepian dan merasa ingin sekali bertemu dengan teman-temanku itu dan mengulang masa-masa indah itu. Tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk mataku. "Aku merindukan kalian," lirihku. Bagiku sekarang ini adalah masa-masa paling tidak membahagiakan.
Aku hanya bisa berjalan melewati teman-temanku tanpa mempedulikan mereka dan terbayang akan masa-masa kecil bersama mereka. "Sakura-chan yang cantik, apa kau hari ini ada acara?" tanya Kiba, membuyarkan lamunanku.
"Ah, tidak! Memangnya kenapa?" Sepertinya dia terlihat senang dengan jawabanku kali ini. Perasaan apa ini, apa aku salah atau mataku mulai rabun tapi sekilas tadi aku merasakan senyum Kiba yang tulus itu sangat manis.
"Sakura-chan. Jika malam ini kau tidak ada acara, bagaimana jika kita jalan?" Dia terlihat agak ragu mengatakannya, "Apa kau ada waktu untuk itu dan jangan berfikir aku ada maksud lain untuk mengajakmu jalan kali ini. Aku cuma tidak suka melihatmu murung akhir-akhir ini, itu saja." Kiba menggaruk-garuk belakang kepalanya, sepertinya dia malu setelah mengatakannya.
"Hm," Kuberikan senyumanku dan pertanda bahwa aku menyetujuinya.
"Terima kasih Sakura-chan, aku senang sekali mendengar kau mau menerima ajakanku kali ini," Benar-benar terlihat polos, saking malunya dia sampai langsung pergi setelah mengatakan itu. Dilihat dari punggungnya saja sudah terlihat jika dia sangat grogi, entah mengapa hanya melihat itu saja aku langsung tersenyum dan tak terasa aku merasa kesepian lagi karena rasa rinduku pada teman-teman kecilku di desa belum terobati.
…
Kini kami berdua berjalan menikmati indahnya kota Tokyo di malam hari. Kami sekarang berjalan berdampingan tapi jarak kami berjalan tidaklah dekat mungkin sekitar 1,5 meter-an lah, padahal aku sudah mengatakan untuk mendekat tapi dia takut kalau aku nanti berubah pikiran dan mau kembali secepatnya.
Teringat tadi waktu Kiba menjemputku, dia bahkan lebih awal hampir satu jam dan merelakan dirinya berdiri di luar apartemenku, padahal dia sudah kusuruh masuk ke dalam tapi dengan halus dia mengatakan: "Aku ini seorang laki-laki dan akan lebih baik jika aku menunggu di luar saja. Ehm, karena di sini penghuninya para perempuan, jadi tidak sopan."
Aku tersenyum jika mengingat kejadian tadi, sungguh sangat polos dia. Kalau di ingat-ingat aku bahkan tidak sekali duakali selalu menolak pemberiannya dan ajakannya tapi entah kenapa kali ini aku merasa butuh sekali hiburan dan teman.
Kami berdua kini berhenti pada sebuah taman, sungguh sangat indah sekali. Kenapa aku tidak tahu jika di sini ada sebuah taman yang sangat indah. Letak taman ini ada di atas bukit, ada sebuah pohon besar di atasnya dan di bawahnya ada kursi yang terbuat dari kayu usang tapi masih bisa di duduki, dengan diterangi lampu-lampu kecil di tiap jalan sekeliling taman ini. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Kota Tokyo jika di lihat dari sini seperti sebuah pemandangan bintang-bintang, banyak sekali lampu-lampu yang terlihat gemerlapan menambah kesan romantis bagi pasangan yang sedang bermesraan.
"Sakura-chan, apa kau suka?" Kiba memandangku dan itu membuatku tersentak sejenak dari acara menikmati pemandangan itu, "Aku tahu tempat ini karena dulu kira-kira 4 tahunan yang lalu salah satu teman dari temanku mengajak makan-makan di sini dan kurasa aku berharap suatu hari nanti bisa mengajak seseorang yang spesial bagiku ke sini."
Aku tersentak akan ucapannya, tanpa sadar bibirku berucap lirih, "Kiba." Dia menoleh padaku, "Sakura-chan, kau jangan merasa canggung seperti itu. Aku tidak ada niatan apa pun." Dia membalas berucap dan memandangku dengan tersenyum dan menampilkan sederet gigi rapinya.
"Maaf Kiba, bukan maksudku mengatakan ini tapi aku harus mengatakannya," Kutarik nafas pelan-pelan dan berucap lirih, "Kurasa aku lebih suka jika kita menjadi teman saja, itu pun jika kau mau-"
Kiba memotong perkataanku, "Jujur aku sedikit kecewa tapi aku senang bisa menjadi temanmu dan bisa berbicara santai denganmu."
Kupegang telapak tangan kirinya yang ada di sebelahku dan kupandangi dia sesaat, telapak tangannya lebar dan terasa dingin namun sangat nyaman. Dia hanya tersenyum memandangku. Aku senang soalnya dia tak lagi merasa canggung seperti tadi.
Kiba mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan sesuatu padaku, ternyata itu adalah sebuah gedung pencakar langit yang tinggi dan terlihat seperti sebuah menara yang berhiaskan kerlipan bintang. "Kau lihat Sakura-chan? Jika aku berada di sini pada saat malam seperti saat ini, aku selalu melihat keindahan Tokyo Tower itu karena dia terlihat paling mencolok dan sangat indah. Bagaimana menurutmu?"
"Hm, itu memang sangat indah. Aku suka jenis arsitektur unik salah satunya Tokyo Tower itu, dulu ayah selalu bercerita padaku tentang Tokyo Tower. Tokyo Tower berada di daerah Shiba dengan tinggi 333 meter dan berat sekitar 4000 ton adalah menara transmisi untuk 24 gelombang radio dan televisi, termasuk asahi TV, Tokyo FM, NHK…"
"Sepertinya kau sangat menyukai Tokyo Tower, sudah berapa kali ke sana? tanya Kiba.
"Sekalipun belum pernah, tapi aku ingin sekali pergi ke sana suatu hari nanti dan menikmati keindahan kota Tokyo dari sana dan tentunya ditemani orang yang spesial bagiku. Itulah mimpiku waktu kecil." Sepertinya Kiba merasa canggung, "Bukan hanya itu saja, aku ingin berkeliling melihat tempat-tempat bergaya arsitektur unik lainnya juga. seperti gunung Fuji TV di Odaima yang terkenal dengan "jembatan langit" yang menghubungkan dua gedung pencakar langit dan sebuah bola titanium perak di tengahnya, butik Prada di Aoyama yang transparan di malam hari, patung laba-laba raksasa di Roppongi dan masih banyak lagi."
Kiba sepertinya menikmati ceritaku, sehingga dia bertanya, "Kau sepertinya sangat tertarik dengan semua hal yang unik dan menarik. Apakah kau pernah bermimpi ingin mejelajahi dunia? Yah, setidaknya di seluruh pelosok negeri Jepang ini?" tanya Kiba antusias.
"Hm, sangat ingin sekali," Aku mengangguk, "Dari kecil aku selalu bermimpi menjadi seorang arsitektur handal, berkeliling dunia melihat aneka ragam bentuk keunikan dunia arsitektur."
"Kenapa kau tidak mengambil kuliah jurusan desain arsitektur saja Sakura? Bukankah itu salah satu peluang buat mengabulkan impianmu." Kiba masih menunjukkan rasa penasarannya.
"Terima kasih Kiba karena kau telah mengajakku ke sini. Aku senang sekali!" Aku tersenyum kepadanya dengan sangat tulus, "Apa suatu hari nanti aku boleh kembali ke sini lagi?"
"Maaf Kiba bukan maksudku tidak menjawab pertanyaanmu itu, tapi ini prifasiku." ucapku dalam hati.
"Tentu saja," Kiba manis sekali saat tersenyum tulus seperti itu. "Maaf jika aku menggangu prifasimu."
Beberapa menit kami lewati dengan memandangi pemandangan indah ini, tak ada satu pun dari kami yang saling mengganggu saat-saat moment seperti ini. Angin meniup helaian-helaian rambut sebahuku menimbulkan kesan dingin namun sangat nyaman. Entah kenapa tiba-tiba terlintas lagi wajahnya, wajah pria aneh yang mencuri ciumanku itu. Tiba-tiba bibirku mengeram pelan dan itu membuat Kiba tersentak dan langsung memandangku.
"Ada apa Sakura-chan? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu, katakanlah?" Dia memandangku dengan khawatir.
"Tidak ada apa-apa kok? Eh, Kiba! Kenapa kau memakai kacamata seperti kacamata kuda itu sih? Apa boleh aku mencopotnya sebentar?" Kuarahkan kedua tanganku dan mulai mengambil kacamata itu dari wajahnya tapi tangan kanannya menghalangiku, "Sakura-chan, maaf."
Aku tersentak sejenak lalu tersenyum padanya serta berucap, "Maaf Kiba jika itu mengganggumu."
"Seharusnya aku yang meminta maaf karena kurasa aku belum siap jika kau melihatku tanpa kacamata ini," Dia tertunduk malu.
Kuangkat mukanya dengan kedua tanganku dan berucap lirih, "Kau temanku dan aku menerima apa pun kelebihan dan kekurangan dari temanku, percayalah!"
Dia menggeleng, "Aku percaya Sakura-chan tapi maaf, mungkin lain kali." Dia kembali tersenyum.
Aku mengerti dan aku kembali memandangi pemandangan itu tapi samar aku mendengar Kiba berucap, "Bukan maksudku seperti itu, mungkin karena aku sangat senang kau sudah mau menjadi temanku dan aku takut kau tidak suka melihatku tanpa kacamata ini."
"Kau tahu Kiba, persahabatan terjalin bukan karena adanya sebuah status, tampang ataupun perbedaan kasta tetapi karena orang tersebut sendiri yang mau menjalin persahabatan tersebut dan yang pasti persahabatan yang tulus itu adalah saling mengisi dan saling menghargai kelebihan serta kekurangan teman."
Kiba tersentak akan ucapanku tadi kemudian dia berucap, "Aku tidak menyesal mengenalmu. Walaupun tidak bisa menjadi orang yang spesial di hatimu tetapi aku sudah sangat senang hanya dengan menjadi sahabatmu. Kau tidak hanya cantik Sakura-chan tetapi kau juga berhati baik."
Hahaha… aku ingin tertawa mendengar ucapan terakhirnya. Sungguh sangat polos, benar-benar lucu. Dia bahkan melupakan sejenak tingkah laku-ku yang dulu selalu menolak pemberiannya dan selalu mengusirnya, benar-benar lucu. Tapi ada satu kesimpulan yang kudapat hari ini, ternyata Kiba adalah orang yang tulus.
…
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu di atas bukit. Kiba dan aku sekarang sudah mulai akrab dan dia juga sudah tidak mengejar-ngejarku seperti dulu. Nyaman rasanya punya teman seperti dia. Tidak hanya itu, terkadang Kiba menyempatkan diri untuk mengajariku materi-materi dari pelajaran yang belum aku kuasai, dia sangat baik dan sangat sabar dalam mengajari murid dedel kayak aku. Aku salut akan kesabarannya, dia bahkan tidak pernah sekalipun mengeluh ataupun marah padaku jika aku sering salah, mungkin hanya tersenyum saja melihat ke tololanku ini. Dan terkadang itu membuatku malu padanya.
…
"Hah," Lelah rasanya seharian bergelut dengan materi-materi kuliah yang membuat pusing, apalagi jika memandangi dengan mata mau copot pada layar komputer sederet angka dan rumus script pembuatan sebuah aplikasi game dan animasi yang menggunakan aplikasi Blender. Ya, memang aplikasi ini sering di gunakan para animator untuk membuat jenis animasi 3D sederhana tapi tetap saja otakku selalu dedel jika berhubungan dengan pembuatan aplikasi baru. Belum lagi harus menguras otak untuk merancang pembuatan gambar animasinya serta alur ceritanya. Itu memusingkan.
Mungkin sekarang mukaku sudah sangat lecet karena sudah tahap lelah sekali, aku benar-benar lelah dan membutuhkan hiburan. Langkah kakiku berjalan menuju gerbang depan kampus. Aku tidak mempedulikan tatapan teman-temanku itu, aku fokus berjalan lurus. Samar-samar aku dengar ada seorang gadis mendesah karena mungkin menikmati acara berciumannya dengan teman prianya, sepertinya dia sebaya denganku.
Aku tidak mau ambil pusing dan melanjutkan langkahku, tapi tiba-tiba aku berhenti sejenak karena mendengar gadis itu mendesah dan mengucapkan, "Sasuke-kun, aku merindukanmu. Aku belum puas hanya dengan ciuman seperti ini, aku ingin lebih."
"Maaf sayang tapi aku masih sangat sibuk, lain kali saja ya?" Pria itu mengatakan pelan di telinga kiri sang gadis. Sepertinya sang gadis agak cemberut tapi sang pria dengan sigap memberikan ciumannya lagi dan meyakinkan gadisnya untuk bersabar.
Oh my God! Apa yang aku lakukan di sini, aku bahkan tak sanggup melangkahkan kakiku, rasanya kelu. Aku benar-benar kaget, dia kan pria brengsek itu dan gadis itu berbeda dengan gadis yang lain beberapa hari yang lalu. Satu lagi kesimpulan yang kudapat, dia tidak hanya brengsek tetapi playboy.
Di selela-sela ciuman mereka sang pria yang memang berada berhadapan denganku. Tiba-tiba dia memandangku dan menyeringai melihatku, bahkan sampai menjilat sendiri bibirnya dan mengedipkan mata kanannya padaku, menjijikkan!
Brengsek! Dasar pria kurang ajar. Aku harus pergi secepatnya dari sini. Aku mencoba menggerakkan kakiku dan langsung saja berjalan dan bersikap seolah-olah tak pernah melihat apa pun.
30 menit aku berjalan, bukannya apartemen yang kutuju tapi aku berjalan tak tahu harus ke mana. Bayangan pria kurang ajar itu masih menghantui pikiranku. Kami-sama jawablah pertanyaan hatiku. Tidak mungkin aku merasa sakit sekali hatiku hanya karena melihatnya melakukan itu di depan mataku.
Tidak mungkin, tidak mungkin! Aku meyakinkan diri jika pria itu hanyalah orang kurang kerjaan yang main mampir dalam kehidupanku saja, itu pasti.
Tit… tit…
Bunyi klakson mobil dari arah belakang membuyarkan lamunanku. Kaca jendela mobil Sport Ferrari F430, D 5 DEE warna biru itu terbuka dan ternyata si pemilik mobil itu adalah pria kurang ajar itu lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan saja dan mengindahkan kehadirannya.
"Nona manis… jangan begitu, naiklah. Kita bisa ngobrol sebentar,"
"Aku tak berminat," Dia tak memperdulikan omonganku malah seenaknya sendiri main keluar dari mobilnya dan menghadangku.
"Apa maumu pria brengsek?" Aku tak perlu lagi berbasa-basi dengannya.
"Di sini banyak orang, kita bisa berbicara di mobil dan ke restouran sambil makan,"
"Maaf tuan, aku menolak," jawabku sambil geram, "Jadi Anda bisa minggir sebentar, aku mau lewat."
Dia tak mengindahkanku dan malah menarik tanganku, pegangannya sangat kuat hingga sakit rasanya, "Lepaskan!"
"Tidak untuk saat ini."
"Tolong, kalian semua tidak lihat ya? Ada seorang perempuan teraniaya." ucapku sambil berusaha mengeraskannya. Orang-orang di samping yang mau menolongku langsung terhenti langkah mereka karena omongan pria brengsek ini.
"Kami suami istri yang sedang bertengkar dan istriku mencoba lari dari mobil, maaf semuanya merepotkan kalian." ucap pria brengsek ini. Aku bengong di tempat mendengarnya, dia fikir dia siapa seenaknya ngomong begitu.
"O… cepat selesaikan masalah kalian, kalian terlihat sangat serasi. Semoga masalah kalian cepat selesai." ucap salah seorang ibu-ibu paruh baya dengan menggandeng anaknya.
"Terima kasih nyonya, permisi." Setelah mengatakan itu, pria ini langsung saja membuka pintu kanan mobilnya dan mempersilahkanku masuk, lebih tepatnya menyuruhku masuk.
Dia menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya, dia menjalankan mobil ini dengan laju pelan. Tanpa sadar aku mengarahkan pandanganku ke arahnya. Ternyata dia sedang tertawa, awalnya sangat pelan dan makin lama makin keras.
"Hahaha… kita suami-istri hahaha… mereka percaya dan mengatakan jika kita serasi, hahaha…." Bukannya berhenti tertawa malah semakin meledekku.
"Diam kau! Atas dasar apa kau tertawa dan apa yang terlintas di otak busukmu itu hinga kau mengatakan aku adalah istrimu, hah!" Aku geram, dia menghentikan tertawanya dan langsung menoleh sekilas kepadaku lalu dangan santainya menjawab.
"Nona manis, mungkin benar kali ya? Kita ini suami-istri dari masa lalu yang terpisah dan sekarang berjodoh untuk bertemu lagi."Dia sepertinya menahan tawanya.
"Huh! Tidak sudi aku jadi istrimu."
"Jangan khawatir nona manis, aku sama sekali tidak ada niatan untuk menikahimu kok, itu cuma candaanku saja." Pria ini benar-benar brengsek, dia dengan santainya mengatakan itu padaku, tapi entah mengapa sedikit sesak mendengar dia mengatakannya.
"Sampai," Dia menghentikan mobilnya di depan restauran berbintang lima, dia lalu memberikan kunci mobilnya pada penjaga depan untuk memarkirkannya. Sepertinya petugas tersebut sudah sangat hafal dengan pria ini, buktinya petugas tersebut tadi sempat berkata sambil menundukkan kepalanya, "Selamat datang lagi Uchiha Sasuke-sama."
.
.
.
Sementara bersambung dulu :)
