Re-publish
Naruto © Masashi Kishimoto
Wish © Thia Nokoru
Rate : Teen (Remaja)
Pairing : Naruto – Sakura
Genre : Romance
* WISH 2 *
"Huwweee… Kakakkk…!"
"Huuuwweee…."
Sakura yang sedang tiduran di bangku taman ini, mendengar suara tangisan yang sangat kencang hingga membuatnya terbangun dari tidur siangnya. Semakin lama, suara tangisan itu semakin mendekati Sakura. Sakura sepertinya kenal dengan suara ini. Lalu, dari balik semak-semak yang ada di taman ini muncul sosok anak kecil yang Sakura kenal.
"Konohamaru?"
"Hiks… Kakakkk!" Konohamaru yang melihat Sakura langsung berlari menghampiri Sakura dan menangis di depan Sakura dengan kencang.
"Kau kenapa?"
"Hiks… hiks… huuwwaaa…" Konohamaru malah menangis kencang.
"Hei… sudah jangan menangis... Konohamaru kenapa sampai menangis seperti ini?"
"Hiks… Kak Naru, JAHAT!" kata Konohamaru yang terlihat kesal.
"He? Naruto jahat? Kenapa?"
"Konohamaru diusir… hiks…" kata Konohamaru sedih.
Apa? Diusir?
"APA KAU BILANG? KAU DIUSIR SAMA NARUTO?" Sakura terkejut sambil berteriak.
"Hm," Konohamaru hanya mengangguk.
"DASAR NARUTO BODOH! TEGA SEKALI DIA MENGUSIR ADIK SATU-SATUNYA INI! TERNYATA NARUTO ADALAH ORANG YANG JAHAT!" Sakura marah besar.
Konohamaru menatap Sakura yang terlihat sangat marah—membuatnya merinding takut.
"Dimana Naruto?" Sakura menatap Konohamaru tajam.
"Ka-Kakak mungkin sekarang a-ada di kelasnya…" jawab Konohamaru takut-takut. Konohamaru sepertinya sudah membuat keadaan semakin parah.
"Antar aku ke kelas NARUTO!"
Konohamaru hanya bisa mengangguk saja, dengan cepat Konohamaru mengantar Sakura menuju SMA Konoha.
Sakura menatap di depannya ini adalah sekolah elit tempat orang-orang kaya bersekolah.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Sakura pada Konohamaru.
Konohamaru melihat Sakura yang sudah terlihat lebih tenang—dibanding tadi yang terlihat sangat menyeramkan. Konohamaru berpikir, apakah murid dari sekolah luar boleh masuk ke sekolahnya? Konohamaru menatap Sakura yang mengenakan seragam sekolah SMA Sui, kemeja berwarna putih dengan rok hitam. Lalu mata Konohamaru melihat jaket yang dililitkan pada pinggang Sakura.
"Kakak! Kakak bisa masuk kalau mengenakan jaket Kakak!"
"Benarkah?"
"Iya, tutupi kemeja sekolah SMA Sui, rok hitamnya sama dengan seragam anak SMA Konoha!"
Sakura berpikir, iya juga. Seragamnya hanya beda pada kemeja sekolahnya saja. Sakura melepaskan jaketnya yang berwarna putih itu. Sakura memakainya, dan jaket itu terlihat agak besar untuk tubuh Sakura yang ramping.
"Begini?"
"Hm, iya! Tidak terlihat seperti murid dari sekolah luar!" seru Konohamaru.
Sakura tersenyum pada Konohamaru, lalu mereka berdua memasuki sekolah yang terdiri dari kelas paling kecil sampai SMA, mungkin? Sepertinya tujuan awal mereka datang ke sekolah ini sudah dilupakannya. Sakura terlihat takjub dengan sekolah elit itu. Sakura malah bertanya-tanya pada Konohamaru tentang sekolah elit itu. Konohamaru juga terlihat senang menjawab pertanyaaan dari Sakura. Sampai akhirnya Sakura tersadar tujuan awalnya datang ke sekolah ini.
"Hei, kenapa kita malah mengobrol? Dimana Naruto?"
Konohamaru sudah merasakan aura kemarahan Sakura muncul lagi.
"Di gedung SMA…" Konohamaru menunjuk pada salah satu gedung yang ada di sana.
"Ayo kita ke sana!" seru Sakura marah.
"E-eh… tapi…" Belum Konohamaru melanjutkan kata-katanya, Sakura sudah berlari menuju gedung SMA Konoha.
"Kakak… aku tidak tahu kelas Kak Naru berada…" keluh Konohamaru.
Dengan takut-takut Konohamaru berlari mengejar Sakura yang sudah jauh.
Sakura baru sadar kalau dirinya kini tersesat. Sakura sudah memasuki gedung SMA Konoha yang sangat besar. Lorong-lorong sekolahnya terlihat sepi. Kemana dia harus mencari si bodoh Naruto? Sebutan baru untuk Naruto yang sudah mengusir adik kecilnya itu. Sakura melihat ke samping gedung sekolah itu ada beberapa ruangan yang sangat besar. Sakura keluar dari dalam gedung sekolah dan berjalan menghampiri ruangan-ruangan yang ada di samping gedung SMA Konoha. Sakura melihat ruangan-ruangan yang terlihat seperti tempat untuk kegiatan ekskul. Semua ruangan itu kosong.
Plokk
Seseorang menepuk pundak Sakura dari belakang. Sakura dengan segera menoleh pada orang yang menepuk bahunya itu. Sakura melihat sosok laki-laki yang menepuk bahunya. Sakura dengan kasar menyingkirkan tangan laki-laki itu yang masih bertengger di bahunya.
"Siapa kau?" tanya laki-laki itu pada Sakura.
Sakura menatap laki-laki berambut hitam kebiruan yang menatapnya sangat tajam dan menusuk.
"Aku mencari NARUTO!" kata Sakura dengan menekankan nama Naruto.
"Naruto? Kau sepertinya bukan murid sini, bagaimana kau bisa masuk ke sekolah ini?"
"Bukan urusanmu!" kata Sakura sambil mulai berjalan lagi.
"Hei, berani sekali kau masuk seenaknya di sekolah ini." Laki-laki itu mencengkram tangan Sakura dengan kencang.
Sakura menatap laki-laki yang mencengkram tangannya. Dengan segera Sakura menendang ke arah laki-laki itu. Dengan refleks yang bagus laki-laki itu bisa menghindar dari tendangan Sakura.
"Tck, kau mau melawanku?"
"Hn, kenapa? Kau pikir aku takut?" kata Sakura berani.
Laki-laki itu melepaskan cengkraman tangannya pada Sakura. Menatap seorang gadis cantik yang rambutnya berwarna merah muda lembut yang di ikat ekor kuda panjang. Ada rasa sedikit terpesona pada sosok gadis yang ada di depannya ini. Tapi sayang, gadis itu terlihat tomboy dan berani.
"Kau mencari Naruto? Aku akan memberitahumu dimana Naruto sekarang, asal kau mau mengatakan untuk apa kau mencari Naruto."
"Aku mau menghajarnya!" Sakura menyeringai.
"Hn, menghajarnya?"
"Ya. Jadi dimana dia berada?"
"Dia ada di lapangan basket, sebelah sana." Laki-laki itu menunjuk pada lapangan basket yang sangat besar yang berada di belakang gedung SMA Konoha.
"Baiklah, terima kasih." kata Sakura lalu pergi berlari menuju lapangan basket.
"Hn, sepertinya akan terjadi sesuatu yang menarik." Laki-laki itu menyeringai dan mengikuti Sakura menuju lapangan basket.
Sakura melihat ke lapangan basket, di tengah-tengah lapangan sana ada Naruto yang sedang bermain basket. Sakura tidak perduli dimana ia sekarang. Yang ada di otaknya sekarang hanyalah ingin menghajar Naruto yang sudah mengusir Konohamaru. Sakura berlari kencang menuju lapangan basket. Terlihat Naruto sedang membelakanginya, orang-orang yang melihat Sakura berlari ke tengah lapangan sangat heran.
"NA-RU-TOOO…!"
BUAGHH
Satu tinjuan maut mendarat di pipi kanan Naruto. Naruto terjatuh dan menatap orang yang tiba-tiba saja meninjunya dengan tanpa perasaan. Matanya melotot melihat siapa yang telah meninjunya.
"Sa-Sa-Sakura?" tanya Naruto tidak percaya. Naruto tidak merasakan rasa sakit pada pipinya, melainkan Naruto merasa hatinya kini berbunga-bunga melihat gadis pujaan hatinya ada di depannya.
"APA?" kata Sakura ketus.
Laki-laki yang bertemu Sakura tadi menyeringai melihat pertunjukan tadi. Semua orang yang melihat kejadian tadi terlihat sangat shock.
"KENAPA KAU MENGUSIR ADIKMU, HAH?" tanya Sakura marah sambil berteriak di depan Naruto.
"Hah? Mengusir?"
"Mau mengelak? Kau memang tidak punya perasaan! Jahat! Kakak yang kejam!" kata Sakura marah.
"Tunggu dulu! Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali…"
"Kau tahu? Konohamaru datang padaku sambil menangis dengan kencang!"
"Eh? Konohamaru menangis?"
"Ya. Kau mengusirnya, kan?"
"Aku tidak mengusirnya!"
"Jangan berbohong Naruto! Kau mau kuhajar lagi?" Sakura menunjukkan tinjunya.
Naruto bangun dari jatuhnya tadi. Naruto mengelus pipinya yang baru terasa sakit akibat tinjuan maut dari Sakura. Naruto tidak percaya kalau Sakura ternyata mempunyai tenaga seperti monster. Tapi itu tidak mengurangi rasa suka Naruto pada Sakura.
"Kau kenapa bisa masuk ke sini?" tanya Naruto menatap Sakura lembut.
Sakura hampir saja salah tingkah ditatap seperti itu oleh Naruto. Tapi Sakura berhasil mengatur perasaannya itu. Entah kenapa sekarang Sakura merasa seperti ada yang menggelitik perasaannya saat menatap Naruto.
"Jangan mengalihkan pembicaraan kita!"
Naruto berjalan menghampiri Sakura dan langsung menggenggam tangan Sakura dengan lembut.
"Ikut aku. Jangan bicara disini." Naruto menarik Sakura dengan lembut. Sakura hanya pasrah mengikuti Naruto menariknya.
Andai Sakura bisa melihat wajah Naruto yang ada di depannya itu, wajah Naruto kini sudah memerah karena melihat Sakura ada di sekolahnya. Apalagi sekarang Naruto menggenggam tangan Sakura, jantungnya ini sudah berdetak-detak tidak karuan.
"Naruto, kau mau membawa aku kemana?" tanya Sakura kesal.
"Ikut saja." jawab Naruto.
"Bagaimana bisa kau mengusir adikmu satu-satunya itu? Kasihan Konohamaru, dia masih sangat kecil. Senakal apapun dia, seharusnya kau tidak sampai harus mengusirnya!"
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini."
"Eh? Salah paham? Apa maksudmu?"
"Kita cari Konohamaru dulu!"
Naruto dan Sakura berkeliling mencari Konohamaru. Sampai di taman sekolah ini, Naruto dan Sakura melihat Konohamaru yang sedang terduduk di bangku taman sekolah. Sakura menatap takjub pada taman sekolah itu. Sangat terawat, indah dan penuh dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
"Konohamaru,"
Konohamaru menatap Naruto dan Sakura yang kini ada di depannya. Air mata mulai terlihat lagi dari matanya.
"Kak Naruto, JAHAT!" Konohamaru berteriak pada Naruto.
"Apa maksudmu aku jahat, hah!"
"JAHAT!JAHAT!JAHAT!" Konohamaru berteriak.
BLETAKK
Naruto menjitak kepala Konohamaru karena kesal melihatnya berteriak-teriak.
BLETAKK
Gantian Naruto yang dijitak oleh Sakura karena menjitak kepala Konohamaru.
"Kau benar-benar Kakak yang jahat!" Sakura marah pada Naruto.
"Adduuhh… Sakura, kenapa kau menjitakku…?" rintih Naruto kesakitan.
"Jangan kasar sama adikmu!"
"Nah, sekarang bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Konohamaru bilang kau mengusirnya, dia menangis menghampiriku."
Naruto menatap Konohamaru kesal.
"Sebenarnya tidak seperti itu Sakura, aku tadi memang bertengkar dengannya. Konohamaru menghampiriku yang sedang latihan basket, dia merengek padaku ingin membeli mainan seperti mainan temannya. Aku sedang latihan, tidak bisa pergi begitu saja. Tapi dia malah menangis kencang ingin pergi saat itu juga. Karena kesal aku menyuruhnya pergi dari lapangan dan menyuruhnya untuk menungguku saat selesai latihan, di sekolahnya." jelas Naruto.
"Begitu," Sakura mengerti. Sepertinya Naruto yang sedang kesal, menyuruh Konohamaru pergi, Konohamaru menganggapnya serius—dia diusir oleh Naruto. Yah, namanya juga anak kecil. Masih belum mengerti.
"Konohamaru… kau dengar? Naruto tidak mengusirmu… dia menyuruhmu pergi agar tidak mengganggunya yang sedang latihan. Dia menyuruhmu untuk menunggunya di sekolahmu." kata Sakura.
"Tetap saja Kak Naruto, jahat!" kata Konohamaru.
"Huh! Dasar anak kecil!" gerutu Naruto kesal.
Sakura menatap Naruto tajam. Naruto hanya nyengir lebar pada Sakura.
"Bagaimana kalau dengan aku?"
Naruto dan Konohamaru tidak mengerti dengan pertanyaan Sakura.
"Konohamaru mau membeli mainan, kan? Boleh aku yang menemani?" tanya Sakura pada Naruto.
"Eh… tapi…" Naruto bingung mau menjawab apa.
"Kakak… teman Konohamaru, Udon membeli mainannya di festival kota!"
"Di festival kota?" tanya ulang Sakura.
"Iya, dia bercerita kalau di sana banyak sekali mainan. Makanan manisan juga banyak!" seru Konohamaru.
Sakura menatap Konohamaru yang terlihat senang sekali.
"Festival kota memang masih berlangsung, tapi itu dibukanya malam hari. Kalau jam sekarang belum buka."
Konohamaru cemberut mendengar kata-kata Sakura. Sakura menatap kasihan pada Konohamaru. Sepertinya tanda-tanda Konohamaru akan menangis lagi sudah terlihat.
"HUUUWWEEEE… AKU MAU KESANA!" Konohamaru menangis kencang.
"Cih, benar-benar merepotkan!" gerutu Naruto kesal.
"Sudah jangan menangis lagi! Nanti malam kita akan pergi ke festival!" kata Naruto.
Konohamaru langsung berhenti menangis dan langsung tersenyum lebar pada Naruto.
"Benar? HOREEE…!" seru Konohamaru senang.
Sakura senang melihat semuanya sudah baik lagi.
"Haahh… masalah sudah selesai. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya…" kata Sakura.
"Tunggu," Naruto menahan Sakura yang akan pergi.
"Ada apa?"
"I-itu…" Naruto menggaruk-garuk pelipisnya gugup.
"Hn?"
"M-maukah kau ikut bersama kami ke festival nanti malam?"
Sakura melihat Naruto yang kini tersenyum lebar padanya. Lagi-lagi ada yang menggelitik perasaannya. Naruto mengajaknya ke festival malam bersama.
"Apa aku boleh ikut?"
"Iya, Kakak juga harus ikut!" seru Konohamaru senang.
"Sakura… kau mau kan?" Naruto tersenyum lembut pada Sakura.
Sakura tersenyum manis pada Naruto dan Konohamaru. Baru kali ini ada orang lain yang mengajaknya pergi selain Kiba. Tapi sekarang mereka berdua sudah bukan orang lain lagi untuk Sakura. Hubungan mereka sudah terasa dekat. Sakura menyayangi Konohamaru, karena Konohamaru anak yang manis dan baik. Dan Naruto… Naruto menyukainya. Naruto adalah orang yang hadir dalam permohonannya saat hari valentine waktu itu. Apakah Naruto adalah benar-benar orang yang di takdirkan untuknya?
"Baiklah kalau begitu, kita bertemu di pintu masuk festival jam 7, ya…" kata Sakura. Sakura pergi meninggalkan mereka berdua.
"Yeaahh…!" seru Konohamaru senang.
"Yes!" Naruto juga ikut senang.
"Kenapa Kakak senang?"
"Karena Kakak nanti malam bisa kencan dengan Sakura…" jawab Naruto senang.
Konohamaru hanya menatap Naruto dengan tatapan tidak suka.
Saat baru berjalan 10 langkah, Sakura berbalik.
"A-anoo… pintu keluarnya di mana, ya?" tanya Sakura sedikit malu.
Naruto tersenyum, lalu menghampiri Sakura. "Ayo, aku antar."
Sakura mengikuti Naruto dari belakang, sedangkan Konohamaru masih duduk di bangku taman. Sepertinya Konohamaru masih ingin duduk di taman sekolah. Sampai di pintu gerbang sekolah Konoha,
"Terima kasih, Naruto… Maaf tadi aku sudah meninjumu…" kata Sakura mengingat tadi dia sangat marah dan meninju Naruto.
"Hehehe… tidak apa-apa, yang tadi itu cuma salah paham saja…" Naruto tersenyum lebar.
"Aku pulang, ya…" Sakura melambaikan tangannya pada Naruto.
"Ya. Aku tunggu nanti malam…" Naruto tersenyum lembut pada Sakura dan Sakura balas tersenyum manis.
"Wooohh…! YES!" seru Naruto sambil loncat-loncat ngak jelas setelah Sakura sudah pergi jauh.
Naruto tampak bahagia sekali, dan Naruto tidak sabar untuk menunggu jam 7 malam nanti.
Jam 7 malam…
"Kakak, apakah Kakak Cantik akan datang?" tanya Konohamaru.
"Hmm… mungkin Sakura akan datang telat. Ini baru jam 7, kita tunggu saja…" Naruto tersenyum pada Konohamaru.
Naruto dan Konohamaru sudah datang ke festival kota jam setengah tujuh. Janjian mereka memang jam 7. Tapi ini sudah pukul 7, belum ada tanda-tanda Sakura datang.
Sementara itu di tempat Sakura…
"Aku telat! Apakah mereka masih menungguku?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.
Sakura telat kerena dia harus membantu ibunya di tokonya. Keluarga Sakura membuka sebuah toko sayur dan buah di depan rumahnya. Sakura adalah anak satu-satunya di keluarga Haruno. Selesai mengangkut dus-dus buah dan sayur ke lemari pendingin, Sakura segera berlari ke kemarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Walau terasa lelah, tapi Sakura sudah berjanji akan pergi bersama Naruto dan Konohamaru.
Sakura mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda, mengenakan sebuah kaos berwarna hijau yang pas di tubuhnya dengan celana training panjang berwarna hitam. Tidak lupa juga Sakura mengenakan sebuah topi kesayangannya.
"Ibu! Aku pergi sebentar, ya! Ada janji dengan teman!" seru Sakura berteriak pada ibunya yang ada di dapur.
"Ya! Pulangnya jangan malam-malam!" seru ibu Sakura dari dapur.
"Ya!" balas Sakura.
Sakura berlari keluar dari rumahnya. Tempat festival kota memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Berjalan sekitar 30 menit juga sampai. Sakura berlari dengan kencang di tengah jalan malam yang terlihat ramai. Sampai di pintu masuk festival itu, Sakura mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Naruto dan Konohamaru. Betapa leganya Sakura melihat dua sosok itu masih menunggunya di pintu masuk itu.
Sakura membungkukkan badannya pada Naruto dan Konohamaru. "Maafkan aku, aku terlambat!" kata Sakura.
"Yeeaahh… Kakak Cantik datang!" seru Konohamaru senang.
Sakura menatap Konohamaru yang terlihat senang dengan kehadirannya. Sepertinya Konohamaru tidak marah dengannya yang datang terlambat 30 menit itu. Sakura memandang Naruto, Naruto juga tidak terlihat marah kepadanya. Malah Naruto tersenyum lembut kepadanya.
"Maafkan aku!"
"Tidak apa-apa… kami senang akhirnya kau datang…"
"AYO! Nee-chan!" Konohamaru menarik-narik tangan Sakura agar segera masuk ke festival kota itu. Sakura mengikuti Konohamaru yang menarik tangannya itu.
Naruto terdiam di tempat menatap Konohamaru dan Sakura yang sudah masuk ke dalam festival. Naruto menyentuh dadanya yang sebelah kiri.
"Astaga… walau penampilannya sangat tomboy, jantungku berdetak sangat kencang. Hehe… aku memang sangat menyukainya…" gumam Naruto sambil tersenyum. Naruto beranjak dari diamnya menghampiri Konohamaru dan Sakura.
Malam yang ramai, menyenangkan dan indah. Konohamaru terlihat sangat senang mengunjungi festival kota ini. Konohamaru menarik-narik Sakura ke tempat-tempat yang menurutnya mengasikkan. Mencoba berbagai permainan yang ada di sana, mencoba berbagai makanan kecil di sana.
Sebenarnya Sakura sangat lelah sekali hari ini. Tapi melihat Konohamaru yang terlihat sangat senang, Sakura melupakan rasa lelahnya. Beda dengan Naruto yang dapat menyadari kalau Sakura terlihat sangat lelah.
"Katanya ada acara kembang apinya!" seru Konohamaru.
"Ya, kau mau lihat?" tanya Sakura.
"Tentu saja! Di mana?" tanya Konohamaru senang.
"Di ujung sana ada sebuah lapangan terbuka, disanalah acara kembang apinya."
"Kau tahu banyak tempat ini, ya?"
"Ya, setiap tahun acaranya sama."
Biasanya Sakura selalu datang bersama dengan Kiba, cuma tahun ini sepertinya tidak. Mengingat Kiba yang sudah mempunyai kekasih, Hinata, Sakura tidak mau mengganggu hubungan keduanya.
Naruto melihat wajah Sakura yang terlihat sedikit pucat, sepertinya Sakura benar-benar lelah…
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir.
"Eh?" Sakura terkejut Naruto bertanya seperti itu. Apakah Naruto menyadari kalau Sakura hari ini sangat lelah?
"Sakura… kita istirahat saja dulu." kata Naruto.
"Aku tidak apa-apa, kok! Sebentar lagi kembang apinya dinyalakan!" seru Sakura.
Sekarang mereka sudah berkumpul di lapangan untuk menyaksikan kembang api. Konohamaru tidak sabar untuk melihat kembang api. Naruto terus menatap Sakura yang kini ada di sebelahnya dengan tatapan khawatir. Jelas sekali kalau Sakura terlihat sangat lelah. Dengan perlahan Naruto meraih tangan Sakura yang ada di sebelahnya dan menggenggamnya dengan erat. Sakura merasakan saat tangan Naruto menggenggam tangannya, Sakura bisa merasakan seperti ada sengatan listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya. Jantung Sakura berdetak semakin kencang. Wajahnya memanas dengan perlahan. Kenapa dengan dirinya? Pikir Sakura.
"Na-Naruto…" ucap Sakura malu.
"Sebentar saja… boleh, ya?" Naruto tersenyum lembut pada Sakura.
Sakura hanya diam tidak menjawab. Tidak lama kembang api pun meledak-ledak di langit malam yang sangat gelap. Berbagai warna dan bentuk kembang api menghiasi langit malam yang luas itu.
"Waaahh… cantikkk…!" seru Konohamaru.
"Ya, cantik sekali…" gumam Sakura tersenyum.
"Ya, cantik." gumam Naruto tersenyum menatap Sakura.
Malam yang indah bagi ke tiga orang itu. Menyenangkan dan terasa dekat.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang." kata Sakura.
"Iya, Konohamaru sudah ngantuk nih! Hoaamm…" kata Konohamaru sambil menguap.
"Ya, ayo kita pulang." kata Naruto.
Mereka berjalan keluar ke pintu masuk festival. Konohamaru sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Mainan yang sama seperti milik temannya. Sebuah tembak-tembakan mainan yang tidak berbahaya. Sampai di luar festival,
"Kita berpisah di sini, ya…" kata Sakura.
"Eh… biar aku antar kau pulang…" kata Naruto.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri…" kata Sakura.
"Tidak bisa! Aku yang mengajakmu datang kesini, dan juga tidak baik seorang perempuan pulang sendirian di malam yang sudah larut seperti ini." kata Naruto.
"Iya, biar Kak Naruto yang antar Kakak Cantik pulang!" seru Konohamaru.
"Baiklah kalau begitu…" kata Sakura tersenyum pasrah.
Mereka kini berjalan menuju rumah Naruto terlebih dahulu. Ternyata rumah Naruto lebih dekat dengan tempat festival kota. Sakura menatap rumah besar yang terlihat sepi. Rasanya Sakura ini jauh sekali dengan Naruto dan Konohamaru.
"Konohamaru, kau masuk dulu. Aku mau mengantar Sakura."
"Ya! Sampai besok, Kakak Cantik! Terima kasih sudah menemani Konohamaru!" seru Konohamaru senang pada Sakura.
'Cup'
Ciuman singkat di pipi Konohamaru dari Sakura. Membuat Naruto teringat akan Sakura yang pernah mencium pipinya dulu.
"Sampai besok… mimpi indah ya…" kata Sakura tersenyum.
Konohamaru masuk ke dalam rumahnya dengan ditemani oleh seorang satpam rumah itu.
Naruto dan Sakura kini melanjutkan jalannya menuju rumah Sakura. Mereka berdua berjalan dalam diam. Sampai Sakura yang tiba-tiba berhenti berjalan dan duduk di pinggir trotoar jalan, membuat Naruto menatapnya heran.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto cemas.
"Ya. Aku hanya ingin istirahat saja sebentar…"
Naruto ikut duduk di sebelah Sakura.
"Kalau kau memang lelah, tidak datang juga tidak apa-apa…"
Sakura menatap tajam Naruto. "Apa maksudmu?" tanya Sakura ketus.
"Kau tampak pucat. Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri, Sakura…"
"Sudahlah… Aku sudah berkata akan pergi. Lagipula, kalau aku tidak datang, kalian bisa saja akan menungguku sampai pagi."
"Hahaha… benar juga… Sempat terpikirkan juga olehku dan Konohamaru untuk menunggumu sampai pagi." kata Naruto tertawa.
"Sudahlah… aku senang, kok! Baru kali ini aku pergi dengan orang lain selain dengan Kiba."
Naruto mendengar nama Kiba membuat hatinya sedikit cemburu. Dengan berani Naruto ingin bertanya, "Siapa Kiba?"
"Kiba adalah orang yang paling baik di dunia ini. Dia selalu ada bersamaku sejak aku kecil. Kau juga pernah bertemu dengannya waktu pertama kali kita bertemu."
Naruto mengingat saat itu memang ada teman Sakura yang berambut coklat dengan tato garis merah di kedua pipinya itu.
"Kami selalu bersama… Dia adalah teman terbaikku!"
Perkataan Sakura yang ini membuat Naruto merasa sangat lega.
"Ternyata hanya teman… bikin iri saja…" ucap Naruto dalam hati.
"Kau kenal Hinata?"
"Hinata? Oh… maksudmu Hinata yang pendiam itu?"
"Ya. Dia adalah teman kami. Dan sekarang Hinata dan Kiba adalah sepasang kekasih."
Naruto tidak menyangka kalau gadis lemah-lembut, pendiam, pemalu, dan banyak disukai di sekolahnya itu sudah mempunyai pacar yang bernama Kiba? Ternyata…
"Aku tidak begitu mengenalnya."
"Hm."
"Sakura… kau masih lelah? Biar aku gendong kau sampai ke rumahmu!" kata Naruto tersenyum.
Wajah Sakura memerah mendengarnya. "Kau pikir aku ini Konohamaru yang bisa kau gendong di punggungmu!" kata Sakura ketus.
"He? Jangan remehkan tenagaku, ya… Tenang saja… aku kuat kok menggendongmu di punggungku!"
Sakura semakin memerah wajahnya. Sebenarnya Sakura memang lelah sekali. Kedua kakinya sudah terasa pegal-pegal.
"Ayo!"
Naruto berjongkok di depan Sakura. Sakura masih sangat ragu, ini memalukan! Pikir Sakura.
"Ayo, tidak apa-apa, kok!" kata Naruto meyakinkan.
Dengan ragu dan perlahan Sakura bangun dari duduknya dan memeluk leher Naruto dari belakang. Naruto dengan perlahan menggendong Sakura di punggungnya.
"Na-Naruto… kau tidak apa-apa? Aku berat, lho…" kata Sakura malu.
"Sudah aku bilang, tidak apa-apa. Nah, sekarang… di mana rumahmu?" tanya Naruto.
"Di sana…" Sakura menunjuk arah pada rumah-rumah yang sudah terlihat dekat.
Dengan perlahan Naruto berjalan sambil menggendong Sakura di punggungnya. Menggendong Sakura seperti ini membuat jantung Naruto serasa bekerja berkali-kali lipat dari biasanya. Sedangkan Sakura, Sakura merasa ada yang aneh dengan dirinya. Wajahnya memanas, jantungnya juga berdetak-detak tidak karuan. Sakura takut Naruto bisa merasakan detak jantungnya yang tidak normal itu. bersama dengan Naruto, membuat Sakura merasakan benar-benar seperti seorang perempuan.
Di malam yang sudah terasa sepi, terasa sangat indah bagi Naruto dan Sakura. Suasana mereka begitu hening dalam diam. Ini pertama kalinya Sakura merasakan hal yang seperti ini. Perasaan yang begitu menyenangkan. Begitu juga dengan Naruto.
Mereka kini sudah sampai dekat rumah Sakura.
"Sakura!" Dari belakang Naruto dan Sakura terdengar ada yang memanggil Sakura.
Sakura menoleh dan melihat Kiba yang sedang menatap mereka dengan tatapan yang sangat tajam. Sakura menyuruh Naruto untuk menurunkannya. Naruto pun menurunkan Sakura dari gendongannya.
"Kiba!" Sakura tersenyum pada Kiba.
Kiba menatap Naruto tajam. "Siapa kau? Berani sekali menggendong Sakura seperti itu?" tanya Kiba sedikit marah.
"Kiba… dia adalah Naruto. Temanku." kata Sakura tersenyum senang.
"Ah, maaf… Aku Naruto, aku sudah mendengar tentangmu dari Sakura." kata Naruto ramah.
"Sakura… kau habis pergi dengannya?" tanya Kiba.
"Ya. Kami baru saja dari festival kota!" seru Sakura senang.
"Festival kota? Kenapa kau tidak bersamaku saja?" tanya Kiba sedikit kesal. Kiba tahu akhir-akhir ini dia jarang bersenang-senang dengan Sakura. Kiba selalu bersama dengan Hinata.
"Ma-maaf…" kata Sakura menyesal.
"Aku yang mengajaknya untuk pergi ke festival! Jadi jangan salahkan Sakura kalau dia tidak mengajakmu pergi!" kata Naruto.
"Sehebat apa sih kau? Sampai-sampai bisa membuat Sakura dekat denganmu dan mau pergi bersamamu?" tanya Kiba pada Naruto. Kiba sangat penasaran dengan Naruto, Sakura yang dia kenal tidak pernah mau dekat-dekat dengan laki-laki selain dirinya.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Yah, Sakura bukan gadis yang suka dekat-dekat dengan laki-laki selain diriku. Kalau kau bisa membuat Sakura mau pergi bersamamu, berarti kau termasuk orang yang spesial untuk Sakura." kata Kiba.
"Ki-Kiba! Jangan bicara sembarangan!" kata Sakura marah.
"Kenapa? Memang benar, kan?" tanya Kiba.
Naruto senang sekali mendengar kata-kata Kiba. Sakura berarti menganggapnya orang yang spesial. Berarti kesempatan untuk membuat Sakura jatuh cinta kepadanya terbuka lebar.
"…."
Sakura terdiam. Tidak tahu mau bicara apa? Sebenarnya Sakura juga tidak mengerti dirinya yang dengan mudah menerima Naruto. Apakah ini karena permohonannya? Jadi Sakura menganggap kalau Naruto memang untuknya?
"Aku masuk dulu!" kata Sakura ketus.
Naruto dan Kiba menatap Sakura yang terlihat aneh. Sakura sudah masuk ke dalam rumahnya. Saat itu juga…
"Hahahahaha…." Kiba tertawa lantang di malam yang sepi ini. Membuat Naruto menatapnya heran.
"Hei, Naruto! Selamat, ya! Kau berhasil membuat Sakura menyukaimu! Haahh… aku saja yang teman kecilnya tidak bisa meluluhkan hati Sakura… Aku kalah dengan orang asing sepertimu…" keluh Kiba.
"He? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" tanya Naruto bingung.
"Sudahlah! Senang berkenalan denganmu! Tolong kau jaga Sakura, ya… Sejak aku punya kekasih, aku jadi jarang menemani Sakura… Aku sangat menyayanginya, dia selalu kesepian, walau dia tidak mengakuinya. Aku akan menghajarmu kalau kau hanya bermain-main dengan Sakura!" kata Kiba.
"Hehehe… aku mengerti. Tenang saja, aku sangat mencintainya, kok!" kata Naruto.
"Kalau begitu, sampai nanti!" Kiba pergi meninggalkan Naruto.
Naruto kini sendiri, senyum lebar mengembang di wajahnya.
"YEEAAHH!" teriak Naruto senang.
Dengan perasaan yang sangat berbunga-bunga Naruto kembali pulang ke rumahnya.
T_N
Murid-murid SMA Konoha terlihat sudah keluar dari dalam gedung. Naruto berlari dengan kencang menuju gedung Sekolah Dasar Konoha.
"Konohamaru!" panggil Naruto pada adiknya yang sedang duduk dengan bosan.
"Ayo cepat! Kita ke taman bertemu dengan Sakura!" seru Naruto senang.
"Ke taman? Bertemu Kakak Cantik?" tanya Konohamaru senang.
"Ya." kata Naruto.
Dengan segera mereka berdua berjalan menuju taman yang berada di belakang sekolahnya itu. sampai di sana, mereka melihat—lagi-lagi Sakura yang sedang tertidur.
"Bahaya sekali tidur di taman sepi seperti ini…" keluh Naruto.
"Bagaimana ini?" tanya Konohamaru.
"Hehehe… kau pernah dengar cerita cara membangunkan seorang putri yang tertidur?" tanya Naruto menyeringai pada Konohamaru.
"He? Aku tidak tahu…" kata Konohamaru polos.
"Hehe… tutup matamu…" perintah Naruto pada Konohamaru.
Konohamaru bingung, tapi dia menurut untuk menutup kedua matanya erat.
"Anak pintar. Hmm… pangeran akan membangunkan putri tidur dari tidurnya." gumam Naruto tersenyum menatap Sakura.
Konohamaru sangat penasaran bagaimana caranya? Mendengar gumaman Naruto, Konohamaru mengintip sedikit untuk melihat apa yang akan di lakukan Kakaknya untuk membangunkan Sakura. Mata Konohamaru melotot melihat pemandangan yang ada di depannya.
Naruto dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura yang terlihat tenang. Sentuhan halus terasa di bibir Naruto. Dengan lembut Naruto mengecup bibir Sakura. Sakura merasakan ada sesuatu yang lembut dan halus menempel di bibirnya. Dengan perlahan Sakura membuka kedua matanya dan terkejut di depan wajahnya ada wajah seseorang yang selalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Sakura merasakan kalau sekarang ini, Naruto sedang menciumnya. Wajah Sakura langsung berubah merah, karena malu, Sakura tanpa sadar mendorong tubuh Naruto dengan sangat kencang. Membuat Naruto terjatuh terjengkang ke belakang.
"APA YANG KAU LAKUKAN, NARUTOOO!" teriak Sakura marah.
"Hehehe… adduuhh… Hanya membangunkan seorang putri tidur…" Naruto tersenyum sambil menahan rasa sakit.
"Kalau mau membangunkanku, tidak perlu pakai CIUM segala!" kata Sakura marah.
Sakura melihat di depannya juga ada Konohamaru. "APA LAGI DI DEPAN ANAK KECIL!" kata Sakura berteriak lagi pada Naruto.
"Tenang saja, Konohamaru tidak melihat, kok!" kata Naruto sambil menatap Konohamaru.
"I-iya… aku dari tadi tutup mata, kok!" kata Konohamaru gugup.
"Hei, Konohamaru… sekarang, Sakura adalah pacarku! Jadi suatu saat nanti, dia akan menjadi Kakak iparmu!" kata Naruto tersenyum lebar.
"APA? Jangan bicara sembarangan!" kata Sakura tidak terima.
Naruto bangun dari jatuhnya tadi. Naruto mendekat pada Sakura dan langsung memeluk Sakura dengan erat.
"Mulai sekarang, kau akan selalu bersamaku. Aku tidak butuh jawaban cintaku. Karena aku yakin, kau juga pasti menyukaiku. Karena aku adalah pangeran yang di utus Tuhan untukmu selamanya." kata Naruto lembut.
Wajah Sakura memanas. Sakura kali ini tidak tahu kenapa dia tidak melepaskan pelukan Naruto yang terasa hangat dan nyaman ini.
"Naruto… kau serius?"
"Aku serius."
"Terima kasih…"
"Aku akan selalu bersamamu…"
Mereka berdua tidak sadar kalau ada anak kecil yang menatap mereka masih berpelukan dengan erat. Dalam hati, Konohamaru menggerutu sebal dengan Naruto yang memeluk Sakura lama sekali.
"AKU MAU PULAAAAANGGG…!" teriak Konohamaru di depan Naruto dan Sakura yang masih berpelukan.
Mungkin Tuhan memang mengirimkan Naruto untuk Sakura. Sakura senang sekali, akhirnya Sakura pun sadar kalau dia juga menyukai Naruto. Naruto sangat mencintainya. Semoga awal cinta yang baru tumbuh ini selalu berbahagia pada keduanya.
T A M A T
