Woohooooo...
Akhirnya apdet chappie 1...
Bagi yang menunggu lanjutan fic saya yang satu ini, silahkan membaca... *Reader: Gak ada yang nunggu!*
Disclaimmie BLEACH © TAITO-SENSEI
WINTER DISCIPLIN © Kurochi Agitohana
Nyahaha... Okay, daripada kebanyakan bacot, let's read...!
p.s: balasan ripiu ada di bawah
.
.
.
Kilas balik prolog
Rukia yang selalu datang terlambat ke sekolah dipergoki oleh salah seorang siswa cowok. Hal ini sangat mengejutkannya, ia pun berusaha kabur dari sang 'malaikat maut'. Sesaat setelah sampai di atap, sang 'malaikat maut' sudah dapat menyusulnya berlari dan dia berbisik pelan di telinga Rukia, "kau tak akan bisa lari dariku, midget!" siapakah sang 'malaikat maut' satu ini?
.
.
.
Chappie 1
"Kau tak akan bisa lari dariku, midget!"
Orang itu berbisik lirih dekat sekali dengan telingaku.
Deg... Deg... Deg...
Siaaaalll... Kenapa aku deg-degan seperti ini? Kami-sama kumohon bantu aku kali ini...
"Ayo ikut aku sekarang!"
SRETT... BRUKK...
"Hwaaa... apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku sekarang juga!" Aku meronta sebisaku. Bagaimana tidak meronta? Dia saja menggendongku (baca: membawa) di pundaknya.
"Kalau tidak dengan cara seperti ini, kau pasti akan kabur lagi seperti tadi. Jadi diam saja di situ tak usah banyak bicara, dan berhenti memukul punggungku. Itu sakit bodoh!" si maniak satu ini mulai berjalan menuju pintu atap.
"Heh! Biar kau tahu rasa baka! Dan siapa yang kau panggil bodoh itu?" aku menghentikan sejenak kegiatanku memukuli punggungnya, dan menatap belakang kepalanya yang ditumbuhi rambut berwarna nyentrik, alias orange!
"Tentu saja kau! Memangnya siapa lagi yang ada di sini selain aku dan kau, midget?" dengan santainya dia menurunkan pegangannya yang semula ada di pinggangku menuju tempat terlarang.
"Hei! Jauhkan tanganmu dari situ, dasar mesum!" mukaku kini dipenuhi dengan rona merah yang aku yakini sangat merata di seluruh wajahku.
"..." dia sama sekali tak berbicara apalagi memindahkan tangannya dari bokongku.
"Hei! Apa kau tak dengar jeruk?"
BLETAKK...
Aku menjitak kepalanya dengan sangat kuat. Dan seketika itu,
"AWWW..." teriakan nistanya keluar juga.
"Jauhkan tanganmu dari bokongku! Cepat!"
"Ini pelajaran pertama midget!" ia mengusap belakang kepalanya yang terkena jitakan mautku dengan satu tangannya yang masih bebas.
"Apa maksudmu? Pelajaran pertama apa?"
"Pelajaran karena berani-beraninya kau lari dari hadapanku."
"Hei! Apa-apaan itu?"
"Itu hukuman namanya!"
"Aku tahu itu namanya hukuman. Tapi kenapa tak wajar seperti ini?"
"Tak wajar?" ia membalikkan wajahnya ke belakang dan bertanya seperti itu dengan muka innocent.
"Jangan pura-pura bodoh jeruk!" wajahku semakin memerah melihat tampangnya yang seperti itu.
"Bagian mana yang kau maksudkan tak wajar?" ia membalikkan lagi wajahnya ke depan.
"Bagian mana?" wajahku semakin memerah. Bukan karena malu, tapi karena amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Tentu saja bagian dimana kau memegang bokongku seperti sekarang ini bodoh!" aku berkata padanya disertai dengan mengeluarkan aura membunuh tingkat tinggi andalanku dan penekanan dalam tiap suku kata yang kuucapkan.
"Heh! Kan sudah kukatakan tadi, kalau ini pelajaran pertama untukmu! Tak usah banyak protes!" dia membuka sebuah pintu yang ada di hadapannya. Rupanya kami berdua telah sampai di tempat yang si jeruk bilang adalah ruangannya. Aku sama sekali tak menyadarinya.
BLAMM... CKLEKK... BRUKK...
"Aduh... sakit bodoh!" aku mengusap bokongku yang terasa nyeri setelah dilempar olehnya di sebuah kursi.
"..." dia sama sekali tak meresponku. Menyebalkan.
SRETT...
Dia memutar kursi yang kududuki menghadap ke arah sebuah meja yang cukup besar. Dan yang membuat mataku terbelalak lebar adalah tulisan di atas meja itu. Ditulis dengan huruf besar dan dibuat sejelas mungkin.
Head of Disciplinary Committee
KUROSAKI ICHIGO
Apa-apaan iniiiiii...? Yang benar saja. Aku baru tahu kalau si jeruk ini adalah ketua komite kedisiplinan di sekolah. Selama ini aku hanya mengira kalau dia ini hanya anggota biasa dari komite satu ini.
Aku benar-benar mati sekarang!
Tapi, huh! Apanya yang ketua komite kedisiplinan? Dia bahkan tak mengikuti jam pelajaran pertama. Apalagi rambut nyentriknya itu! Aku tak percaya kalau itu adalah rambut yang tumbuh alami atas pemberian Tuhan. Dia pasti mengecatnya. Aku yakin itu.
Lagipula kenapa orang dengan kerutan permanen di dahinya ini bisa menjadi ketua komite kedisiplinan? Dia pasti memeras dan menggertak anggota komite dan juga kepala sekolah. Aku yakin seratus persen kalau dia ini keturunan kuat dari yakuza.
"Apa? Kenapa kau menatapku dengan tatapan membunuh seperti itu?" dia bertanya padaku tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas di hadapannya. Rupanya dia sedang menulis sesuatu yang tak kuketahui apa isinya, dan aku tak mau tahu apa isinya.
"Menyelidikimu!" sambil menyipitkan mata, aku tetap memperhatikan wajahnya yang serius di hadapan kertas-kertas tadi.
"Apa yang kau selidiki?"
"Semua yang bisa kuselidiki dari maniak macam kau!"
"Aku bukan maniak midget!" aku melihat kerutan di dahinya tambah mengkerut setelah kupanggil dia dengan sebutan maniak.
"Dan aku bukan midget, jeruk!"
"..." lagi-lagi dia tak meresponku. Benar-benar menyebalkan!
Lima menit berlalu...
Kali ini benar-benar hening. Aku tetap saja melihatnya dengan tatapan membunuh. Tapi yang kudapat, dia sama sekali tak terpengaruh dengan apa yang sudah kulakukan. Aku jadi kesal dibuatnya.
"Heh! Belum menyerah?" dia mematahkan kesunyian yang dari tadi menggerogoti.
"Apanya?" masih tetap dengan menyipitkan mataku.
"Kegiatan yang tadi kau bilang menyelidiki semua yang bisa kau selidiki dari maniak macam aku ini." Dia mulai mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas tadi dan melihat ke arahku. Oh Tuhan! Tidaaakkk... Mukaku memerah melihat wajahnya yang dibingkai dengan kacamata tanpa frame.
Aku baru menyadari kalau dia memakai kacamata. Sial! Kalau memakai kacamata seperti itu dan menatap wajahku dengan serius, aku tak menjamin kalau-kalau hidungku nanti tidak dialiri darahku sendiri. Sekarang saja aku hanya terpaku melihat wajahnya. Bukan, bukan melihat wajahnya, tapi aku terpaku pada dua bola matanya yang sama dengan musim gugur.
Aku sering mendengar teman-teman perempuan di kelasku bergosip ria tentang wajahnya yang tampan. Selama ini aku tak pernah melihat wajahnya dengan serius. Kalian tahu kan apa maksudku? Maksudku, aku benar-benar tak pernah memperhatikan orang-orang di sekitarku dengan sungguh-sungguh. Jadi, ini pertama kalinya bagiku melihat seseorang dengan serius, apalagi yang kuperhatikan sekarang adalah salah satu siswa dari yang kata temanku cowok-idaman-wanita –yang-pernah-ada.
Konyol! Apa-apaan itu cowok-idaman-wanita-yang-pernah-ada? Tapi, benar juga. Dia terlalu mempesona! Mataku jadi silau.
"Heh! Kau tertarik padaku?" dengan percaya diri tingkat tinggi, dia bertanya padaku sambil menopang dagunya dengan tangan kanan di atas meja.
Hiiee... dia bisa membaca pikiranku...
"Ja-jangan bodoh kau! Mana mungkin aku tertarik padamu?" sambil menunjuk wajahnya dengan telunjuk tangan kananku, kutambahkan lagi pendapatku tentangnya, selain mempesona, ternyata dia ini terlalu menyebalkan dan terlalu ge-er.
"Tak usah mengelak! Aku tahu dari gerak-gerikmu itu." Dia melepas topangan dagunya dan kembali memusatkan perhatiannya pada kertas-kertas di hadapannya.
"Dari mana kau bisa berkesimpulan seperti itu?"
"..." lagi-lagi...
"Hei bodoh! Apa yang kau lakukan?" aku bertanya dengan sedikit berteriak.
"Bukan urusanmu midget!" sial! Orang ini benar-benar menguji kesabaranku.
"Tentu saja urusanku jeruk!" nada suaraku semakin meninggi.
"Dari segi mana hal ini juga urusanmu?"
"Jadi. Urusanku. Karena. Kau, MENGURUNGKU DI TEMPAT SEPERTI INI!" aku berdiri tiba-tiba dan menggebrak mejanya kuat-kuat. Aduuuhh... tanganku sakit sekali, tahu begini tadi tak usah menggebrak meja segala.
Dia mengangkat wajahnya dan melihatku dengan tatapan datar. Matanya itu menusukku. Setelah itu, hal yang tak terduga kembali terjadi. Dengan entengnya dia kembali memusatkan perhatiannya pada kertas-kertasnya. Aku semakin dongkol. Kepalan tanganku di mejanya menguat. Aku benar-benar ingin menonjoknya sekarang. Lupakan apa yang tadi kubilang kalau dia itu mempesona. Anggap saja tadi itu kau hanya berhalusinasi mendengar pikiranku berkata kalau dia ini mempesona.
Tiba-tiba dia berdiri dari kursinya sambil membawa salah satu kertas yang sedari tadi menyita perhatiannya dan menganggapku sebagai kacang. Dia berjalan menuju salah satu lemari yang ada di seberang ruangan. Aku tak tahu apa yang dilakukannya.
Sekarang dia berbalik dan berjalan dengan tenang ke arahku. Aku dari tadi hanya mengamatinya dari depan mejanya saja. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia ini tinggi sekali. Pantas saja dia menyebutku midget. Tapi aku tidak pendek! Dia saja yang terlalu tinggi.
Setelah sampai di hadapanku, dia memberikan kertas yang dia bawa-bawa kepadaku. Aku menatapnya heran.
"Ambil ini midget!"
"Apa ini?" aku hanya menunjuk kertas yang disodorkannya padaku sambil menatap wajahnya yang mulai terlihat kesal. Dasar pemarah!
"Ck! Ambil saja dan baca sendiri!" perintahnya sambil terus menyodorkan kertas bodoh itu.
"Seenaknya!" aku merebut kertas itu dari genggamannya dan mulai membacanya baris per baris.
Daftar Hukuman Yang Diterima Kuchiki Rukia
Sebagai Kompensasi Atas Keterlambatan Datang Ke Sekolah
Membersihkan lorong seluruh sekolah
Membersihkan toilet
Menjadi pembantu pada semua klub di sekolah yang membutuhkan bantuan
Menjadi pembantu Kurosaki Ichigo selama waktu yang tidak bisa ditentukan
Kegiatan ini akan dimulai pada hari ini, tanggal X, bulan X, tahun 20XX selama satu bulan, terkecuali nomor empat.
Head of Disclipinary Committee
Kurosaki Ichigo
APAAA? TIDAAAAKKK...
Aku membaca ulang setiap kata yang tertera di sana, berharap kalau ini hanya halusinasi belaka. Tapi berkali-kali kubaca pun, sepertinya hal ini bukan halusinasi. Tanganku bergetar memegang kertas laknat satu ini. Tanpa sadar, aku meremasnya hingga menjadi bulatan indah di mataku.
"Ck! Percuma kau lakukan itu. Aku masih mempunyai banyak kopiannya."
Kami-sama... neraka benar-benar ada di hadapanku. Aku rela kalau Engkau cabut nyawaku sekarang!
TBC
.
.
.
HYAAA... Selesai chappie 1. Tapi kok pendek ya? Biarlah...
Yosh! Sekarang balas ripiu...
Yang pertama dari So-Chand 'Luph plend': hahoii... sudah terjawab kan siapa si 'dia'? Haha... tentu saja 'dia' itu si mikan head alias Ichigo! Sudah apdet!
Sara Lily Evans: huwaa... makasih... senamgnya diriku dibilang seru ceritanya... ini sudah apdet!
ika chan: hwehehe... ini sudah apdet...
Mae Otsuka: yosh! Ayo R&R... sudah apdet nih!
erikyonkichi: hwahaha... kebiasaan lama yang tak bisa hilang itu... sudah apdet...
Jee-ya Zettyra: ahooiii... bagaimana kelanjutannya sekarang? Baca aja chappie depan. *dikemplang Jee-san*
Yang terakhir dari aRaRaNcHa: hehehe... entah kenapa aku buat Rukia jadi seperti itu. Kupikir emang lucu sih! *besar kepala* ternyata pikiran kita sama! *ditendang*
Ya...! Begitulah balasan ripiunya.
Untuk kali ini juga, aku memohon ripiunya minna... m(_ _)m
Hontou ni arigato!
