Apapun Yang Terjadi.

Chapter 2, Blaze

.

.

.

"Masih jauhkah, Ice?"

"Lumayan, Kak Fang... Aku ingat tadi itu kita dibawa melewati beberapa rel kereta." Ice berada di bangku depan mobil yang dikemudikan Fang, memandu arah menuju tempat dimana ia dan Blaze diturunkan sore hari tadi. Jantungnya berdegup semakin kencang, merasakan dirinya semakin dekat dengan tempat tujuannya.

Mobil Nissan Stagea R34 Wagon hitam milik Kaizo yang ditumpangi Ice, Gempa, Halilintar dan Taufan dipacu seaman mungkin oleh Fang. Sudah hampir setengah jam yang lalu mobil itu meninggalkan rumah ketujuh BoBoiBoy Bersaudara itu dan belum nampak tanda-tanda akan melambat. Fang memang sudah memiliki surat izin mengemudi, namun tetap saja ia berhati-hati untuk tidak merusak mobil milik kakaknya.

"Halilintar... Apa rencanamu?" Tanya Fang sembari melirik ke arah Halilintar yang duduk di belakang melalui kaca spion tengah mobilnya. "Pastinya kita tidak akan meminta mereka baik-baik untuk mengembalikan Blaze, kan?"

"Aku juga belum tahu, Fang. Kita rencanakan nanti kalau sudah sampai" Jawab Halilintar yang terlihat mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil itu. "Kita juga belum tahu seperti apa tempat mereka menyekap Blaze, kan?"

"Yang aku tahu, kak... Tempat itu hotel tua yang bobrok."

"Maksudmu Hotel Rintis yang ditutup karena sengketa dan gedungnya rusak itu?"

"Mungkin, aku ngga sempat lihat jelas."

"Tunggu..." Taufan angkat bicara. "Kita sudah jalan lumayan jauh lho... Jadi, Ice... Kamu berjalan kaki sejauh ini waktu kamu kabur tadi?"

"Ya..."

Taufan menggelengkan kepalanya membayangkan adiknya yang berjalan kaki dengan badan penuh luka dan tangan terikat menembusi semak belukar, dan ladang ilalang. "Aku bahkan tidak tahan gatalnya kena ilalang... Kamu hebat, Ice..."

"Aku payah, lemah...Kak Blaze ditangkap... Aku panik... Padahal bisa saja aku turun ke jalan dan minta tolong orang lewat, mungkin Kak Blaze sudah pulang sekarang ini." Jawab Ice dengan mata yang berkaca-kaca. "Kalau saja dulu aku ikut taekwondo seperti saran Kak Gempa..."

"Ngga, Ice. Kalau kamu tadi itu minta tolong dijalan, bukan tidak mungkin kamu malah bertemu dengan para penculikmu yang mencarimu." Ujar Gempa yang dari tadi diam saja dengan raut wajah yang kaku dan tegang. Ia paling tidak tahan melihat ada adiknya yang bersedih. "Kau tidak lemah Ice... Kamu sangat kuat. Buktinya kamu bisa kembali ke rumah dengan keadaanmu tadi."

Seulas senyum tipis melintas pada bibir Ice. Kata-kata Gempa sedikit membuatnya merasa terhibur. "Terima kasih, Kak Gempa..."

"Nah, habis ini semua, kamu ikut taekwondo bareng kakak ya?" Tawar Gempa yang langsung disambut dengan anggukan oleh Ice.

"Kira-kira... Bagaimana keadaan Blaze sekarang ya.. ?" Gumam Halilintar memikirkan nasib adiknya.

"Aku sempat melihat Kak Blaze dipukuli sampai jatuh karena aku kabur..."

Sebuah jawaban dari Ice yang cukup untuk membuat darah Halilintar mendidih lagi. "Fang... " Halilintar mendesis.

'Maaf Bang Kaizo... Ini darurat...' Batin Fang. Ia menganggukkan kepala dan menghujamkan kakinya pada pedal gas mobil milik kakaknya. Raungan mesin mobil itu kini dibarengi dengan suara melengking dari putaran turbin kompresor turbonya.

.

.

.

Entah sudah berapa lama Blaze merasakan dirinya di tengah kegelapan. Hanya cahaya remang-remang melewati pintu kokoh dengan jendela kecil berjeruji dari sebuah lampu diluar ruangan dimana ia disekap menjadi satu-satunya penerangan. Bau desinfektan bercampur bau pesing dan bau badannya sendiri memenuhi seluruh ruangan kecil itu.

Otot-otot rahang Blaze terasa kaku dan nyeri. Sebuah batang kayu berukuran lumayan besar mengganjal kedua rahangnya lebar-lebar, mencegahnya bicara dan menelan ludahnya yang tumpah keluar dari mulutnya dan mendarat pada badannya yang tak berbaju lagi. Seutas tali terikat dan melingkari kepalanya mencegah Blaze mendorong batang kayu pada mulutnya itu.

Hanya celana pendeknya saja yang sudah basah dan berbau pesing yang tersisa melekat pada tubuhnyai. Tidak ada luka satupun yang menggores kulitnya, bahkan mukanya. Namun badannya yang tak tertutup baju dipenuhi lebam memar bekas pukulan dan tendangan sepatu. Para penculiknya melampiaskan kekesalan dan kemarahan mereka karena Blaze sukses membuat adiknya melarikan diri . Siapapun peculiknya ini seperti tidak ingin melukai wajahnya.

Belum lagi rongga mulut dan tenggorokannya yang tercekat kering. Belum ada setetes air pun yang membasahi tenggorokannya sejak tadi siang, ketika ia dan adiknya menjadi korban sasaran penculikan. Ketidakmampuannya menelan bahkan ludahnya sendiri menambah perderitannya.

Kedua tangan yang terikat juga membuat keadaannya semakin buruk. Entah sudah berapa kali Blaze merintih-rintih menahan nyeri ketika otot lengannya keram. Begitu pula dengan kedua kakinya yang terikat pada bagian pergelangan dan lutut. Untuk kesekian kalinya keram otot kembali menyerang bagian pinggulnya yang membuatnya melenguh kesakitan. Ketatnya tali-temali yang mengikatnya membuat tangan dan kakinya mati rasa, bahkan ujung jari-jarinya sudah sulit untuk merasakan apapun.

Yang lebih membuatnya merasa hancur berkeping-keping adalah Blaze tidak tahu mengapa ia berada di tempat itu. Tidak ada satupun dari penculiknya yang menggunakannya sebagai alat untuk meminta uang tebusan. Bahkan tidak ada satupun dari para penculik itu yang mendatangi dirinya. Terakhir kali para penculik itu menyentuhnya sewaktu Blaze diseret kedalam ruangan dimana ia berada sekarang setelah badannya dipukuli dan ditendangi.

Mendadak pintu ruangan dimana Blaze disekap itu terbuka. Cahaya lampu yang mendadak menerangi pengelihatan Blaze membuat padangannya mengabur. Seberkas sosok muncul menghalangi cahaya lampu tersebut. Dari ukuran badannya, Blaze menarik kesimpulan bahwa yang mendatanginya itu kurang lebih seumuran dengannya sendiri.

Dipandanginya seorang anak yang mendekati dirinya. Di tangan anak itu terdapat sebuah nampan berisikan sebuah dua buah mangkuk yang diletakkannya di hadapan Blaze. Kemudian anak itu melepaskan batang kayu yang dari tadi siang mengganjal rahang Blaze.

"Itu makanan, minuman buatmu. Habiskan sebelum mulutmu dibekap lagi." Gumam anak itu sebelum berbalik badan dan beranjak keluar.

"Tu.. Tunggu... " Panggil Blaze dengan suara yang sangat serak dan pecah. "Siapa Kau ? Kenapa... Aku... Disekap disini?"

Anak itu terdiam sesaat dan berbisik. "Kamu, Api BoBoiBoy Blaze, satu dari kembar tujuh yang mereka inginkan."

"Mereka... Siapa mereka?"

"Nanti kamu juga akan tahu...Saranku hanya satu. Jangan melawan, turuti saja mereka, mungkin nasibmu bisa lebih baik seperti aku ini" Jawab anak itu sambil kembali melangkah keluar dari kamar tempat Blaze disekap. Persis di ambang pintu, anak itu berhenti sejenak dan berbalik menengok ke arah Blaze "Dulu aku juga bernasib sama seperti kamu sekarang ini...".

"Tunggu... Kumohon... " Belum sempat Blaze bicara lebih lanjut, pintu ruangan itu ditutup kembali.

'Bagaimana aku bisa minum kalau tanganku diikat begini...' Batin Blaze. Hanya ada satu cara dan ia tahu betul apa yang cuma bisa diperbuatnya untuk membasahi tenggorokannya. Dengan susah payah dan bersandar pada dinding, Blaze berusaha untuk berlutut dari posisi duduknya. 'Aku bukan binatang... Aku bukan binatang... Aku bukan binatang!' Gumam Blaze berulang-ulang dalam hatinya ketika ia membungkukkan badannya dan mendekatkan bibirnya ke permukaan air di mangkuk yang terletak di hadapannya.

Blaze bisa membayangkan bagaimana sosok dirinya sendiri yang tengah menjilat-jilat permukaan air minumnya seperti seekor anjing yang kehausan. Kedua matanya terrpejam erat mencoba menolak realitanya sekarang ini, namun usahanya sia-sia. Ia tahu bahwa pertahanan mentalnya semakin tipis dan sepertinya memang itu tujuan para penculiknya. Harga dirinya lah yang diserang habis-habisan. Mulai dari batang kayu pembekap mulutnya yang membuatnya meneteskan air liur tanpa henti pada badannya sendiri, terpaksa membuang hajat dalam celananya hingga membasahi seluruh badannya sendiri, sampai yang terakhir ini dipaksa minum dan makan seperti binatang hina.

Dahaganya terpuaskan dan Blaze kembali duduk bersandar pada dinding. Walaupun sedikit, air yang dijilatinya tadi lumayan cukup untuk mengurangi sedikit penderitaannya. Rongga mulut dan tenggorokannya terasa lembab kembali.

'Ice...' Pikiran Blaze kembali pada adiknya yang berhasil melarikan diri. 'Semoga kamu selamat...Kalau saja kamu melihatku begini...' Tanpa disadari air matanya menitik, meratapi keadaan dirinya.

Entah berapa lama waktu berlalu ketika sebuah sorotan lampu senter membuyarkan lamunan Blaze. Dari balik pintu, ia bisa mendengarkan beberapa orang bercakap-cakap.

"Ya, dia lumayan... Masih muda, wajahnya imut-imut pula."

"Ya boss, seharusnya bisa kita jual dengan harga mahal."

"Sayang adik kembarnya lolos... Kalau tidak, mereka berdua bisa kita jual dengan harga tinggi."

"Ya, sayang sekali... Bisa saja yang satu ini kita jual, yang satu lagi bisa kita pakai... Sudah lama aku tidak menikmati badan anak muda semanis dia... Bagaimana dengan anak-anak yang lain? sudah diangkut?".

"Sebagian sudah."

"Bagus... Sekalian infokan ke pelanggan kita kalau kita akan pindah tempat. Bocah sial yang kabur tadi pasti lapor polisi."

'APA?!. Aku mau dijual?!' Jerit Blaze dalam hatinya yang sekarang serasa diiris-iris. Sekarang dia mengerti kenapa ia diculik dan ia mengetahui siapa yang menculiknya 'Mereka... Mafia pedofil yang menculik anak-anak seumuranku untuk dijadikan budak sex mereka!'

Pintu kamar itu kembali dibuka. Dua orang berbadan kekar memasuki kamar dimana Blaze berada. Tanpa belas kasihan sedikitpun, batang kayu bertali yang tadi sempat dilepaskan kembali diganjalkan diantara kedua rahangnya sebelum diikatkan talinya di belakang kepala. "Jangan berisik ya, nak..." Goda orang yang membekap mulut Blaze sembari tertawa-tawa. Dielusnya kepala dan pipi Blaze yang tergembung karena rahangnya terganjal batang kayu. "Kamu lebih imut begitu saja... Sayang kalau kulepaskan kayu itu... Yah, semoga kamu tidak terjual di lelang, sudah lama aku tidak menikmati badan semulus kamu itu."

Kepanikan dan kengerian luar biasa melanda Blaze yang kini menemukan kekuatan baru untuk berusaha melepaskan diri. Ia pernah, bahkan sering mendengar cerita-cerita dan mitos-mitos mengenai gerombolan orang yang menculik anak-anak seumuran dirinya untuk dijadikan pemuas birahi atau dijadikan pekerja seksual. Tidak pernah terpikir oleh Blaze bahwa ia akan bernasib seperti itu.

Kalau boleh ia bernapas sedikit lega, Blaze sekarang tahu bahwa Ice berhasil kabur dan tidak tertangkap lagi.

.

.

.

BERSAMBUNG.