Hallo (lagi) minna~~~~

Terimakasih buat reviewnya~~~~

Neyta Minaira : arigatou reviewnya Neyta-sannn XDDD. Lain kali saya akan perbaiki ejaan/kata-kata yang salah! :DD btw, salam kenal yah, neyta-sann

acchan lawliet : makasii reviewnya, acchan-saann :DDDD. Maaf, kalau ada typos, saya ngetiknya gradakan siihh agak males ngoreksinya juga *dilempar obor. Ah, btw, salam kenal acchan sann

edogawa Luffy : Siiippp boss,, sudah saya lanjutkan X3 makasiihh reviewnyaaaa :DDD salam knal juga , edogawa sann :3

sasoyouichi : makasih reviewnya, sasoyouichi saannnn XDDD lain kali saya perbaiki, biar readers gak bingungg X3, maklum, saya masih pemulaaa :D, salam knal juga yah, sasoyouichi saaann

Markony : Iaaa,, ini udah tak lanjutiiinnn,, soal Nalunya, tenang, pasti akan saya bikin sefluff mungkin X) salam knal yah, Markonyy

Sekali lagi, saya ucapin terimakasih bwt reviewnya ya, minna2 yang diataasss :p

Disclaimer: fairytail bukan punya saiaa, melainkan punya Hiro Mashima-sensei.

Endless Scratch

Chapter 2

Unexpected Moment

Enjoy!

Lucy POV

"Kau yakin, akan langsung mengambil pekerjaan S class, Natsu!"

"Tentu saja! kau tahu kan, Lucy, sekarang kita adalah S mage!" jawab si rambut pink itu tanpa ragu-ragu. Bahkan mungkin menunjukkan sedikit ekspresi 'menantang'.

'Yang benar saja! kau tahu, Natsu? Aku hampir tak bernyawa ketika mengerjakan pekerjaan S class, sewaktu berada di pulau Galuna!' ucapku dalam hati. Yah, aku hanya bisa berharap Erza sependapat denganku.

"Berikan padaku request itu!" Sahut gray yang hanya berbalut boxer biru tua. Kelihatannya semua sudah terbiasa dengan kebiasaan Gray, sampai-sampai kali ini tak ada seorangpun yang mengingatkannya.

Aku mendekati Gray dan ikut membaca request itu dengan berdebar-debar. Aku bukan seorang yang gila harta, namun, pandangan pertamaku tertuju pada bayaran misi itu.

"12.000.000 jewel!" aku menjerit kaget melihat total bayaran itu. aku mundur beberapa langkah, mencoba menenangkan diri dengan segala pikiran yang merasukiku. Namun, kelihatannya otakku tak bisa menerima angka sebanyak itu, sampai ahirnya aku jatuh terduduk. Andai saja, aku adalah seorang 'Cana', aku akan segera menjatuhkan barel birku dan jatuh pingsan seketika. Gila. Uang sebanyak itu bisa membuatku tinggal di apartementku untuk jangka waktu yang lama!

Normal POV

Lucy hanya bisa menundukkan kepala sampai seseorang menepuk pelan pundaknya.

"Kau harus ikut, Lucy." Lucy langsung mendongakkan kepalanya mendengar perkataan Natsu. Haruskah...?

"Aku tak tahu..." Ujar lucy pelan. Raut mukanya menunjukkan keraguan.

"Aku juga tak begitu yakin..." kata Erza pelan yang berdiri lesu di belakang Lucy. Lucy hanya bisa kaget akan pendapat Erza.

Erza yang sudah terbukti sebagai S mage saja masih ragu-ragu. Bagaimana denganku! Lucy semakin bimbang dengan keputusannya antara ikut atau tidak.

"Kau tak harus terburu-buru dalam menentukan pilihan..." ujar seorang laki-laki tua berambut putih yang tingginya bahkan tak mencapai dada Erza.

"Master..." Erza langsung menoleh pada sumber suara.

"Aku hanya sedikit terlalu bersemangat! Benar, Happy!" seru Natsu sambil memamerkan api yang membara di tangan kanannya. Happy menganggukkan kepala setuju.

"Kau harus ikut, Lucy. Natsu akan sangat tertekan bila kau tak ada di sampingnya..." kata seorang berambut perak di meja bar. Lucy hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.

"Ah, kau benar! Aku pasti akan membutuhkan horologium bila cuaca tidak menentu!" ujar Natsu setengan berteriak.

"Bilang saja kau akan merindukannya..." kata Gray mencoba menyulut kemarahan Natsu.

"Aye!" seru Happy sambil melayang-layang di seluruh ruangan. Sejak kapan Happy bisa sependapat dengan Gray? Batin Lucy heran.

"Yah, yang penting, aku tak sabar untuk hari esoookkk!" teriak Natsu sambil melemaskan kedua tangannya ke atas.

"Dasar anak-anak..." Ujar master Makarov sambil menyeringai tipis.

'Kalian bahkan belum menyadarinya...' batin Makarov dalam hati.

_oOoOoO Endless_Scratch OoOoOo_

Normal POV

Hari mulai menjelang petang. Sinar terik matahari mulai tak terlihat tertutup awan. Walau jalanan sudah mulai gelap, gadis bernama panjang Lucy Heartfilia itu tetap saja melanjutkan langkah demi langkahnya, diikuti seorang dragon slayer dan seekor kucing di belakangnya.

"Natsu."

"Hn?"

"Sampai kapan kau terus mengikutiku...?"

"Apa yang kau bicarakan? Kita satu tim, kan?" jawabnya enteng sambil memamerkan cengiran khasnya.

'Aku tak pernah mendengar bahwa satu tim harus selalu bersama dimanapun' batin Lucy sambil bersweatdrop ria.

Jalan lurus itu ahirnya bermuara juga tepat beberapa meter dari tempat Lucy berpijak. ia hendak melangkahkan kakinya ke kiri, namun seseorang menggenggam erat tangannya dari belakang. Ia lantas menoleh.

"Natsu?" tanyanya heran sambil menatap tangannya yang kekar menggenggam erat tangannya.

"Lucy..." desahnya pelan sambil menundukkan kepalanya. Semburat merah itu tiba-tiba saja muncul di wajah Lucy.

"N..natsu? Kau sakit?" ucap Lucy sambil mendekatkan tubuhnya. Ia mencoba menoleh ke kanan, ke kiri mencari kucing biru itu, namun nihil hasilnya.

Ia mencoba menundukkan kepalanya, mensejajarkan dengan kepala Natsu sebelum ahirnya Natsu mendingakkan kepalanya cepat.

"LUCY! ANTAR AKU KE PASAR MALAM ITUUU!" teriak Natsu semangat sambil menunjukkan Puppy eyesnya.

"A...apa?" tanya Lucy terheran-heran plus bersweetdrop-ria.

Natsu langsung membalikkan badannya dan mengarahkan telunjukknya ke depan, tepat dimana sebuah pasar malam digelar. Tampak dari kejauhan, lampu-lampu berkilauan dan ramai sekali. Lucy hanya bisa mengangkat kedua alisnya.

"Pasar malam?" ucap Lucy pelan. Natsu yang tampak menggebu-nggebu langsung menyeret tangan Lucy dan membawanya ke pasar malam itu.

"Happy! Tunggu akuu...!" Ucap Natsu sambil melambai-lambaikan tangannya pada Happy yang ternyara sudah berada di pintu masuk pasar malam itu.

_oOoOoO Endless_Scratch OoOoOo_

Suasana begitu hening. Wanita yang mengenakan armor besi, Erza,hanya tampak resah setelah sekian lama menunggu di temani seorang exhibitionist, Gray, yang sedang topless di sebuah ranjang di sudut ruangan itu.

Erza mulai kehilangan kesabarannya. Ia beranjak dari kursinya dan menyibakkan gorden itu dengan keras. Langit sudah tampak gelap. Raut mukanya manpak semakin gusar.

"Mereka pasti akan datang sebentar lagi..." ucap Gray sambil melemaskan otot kedua tangannya.

"...:" Erza sama sekali tidak menjawab.

Gray mengela nafas panjang. Ia beranjank dari kasurnya, dan mengenakan kembali jaket tuanya.

"Ayo kita susul mereka." ujar Gray yang kelihatannya juga mulai resah. Erza langsung menolehkan kepalanya ke Gray, tetap dengan tatapan tegasnya. Gray hanya berdiri menunggu Erza segera beranjak dari tempatnya.

Erzapun memejamkan matanya sejenak, kemudian kemudian menatap selembar kertas yang ia genggam erat.

"Ayo." Ujarnya pelan.

_oOoOoO Endless_Scratch OoOoOo_

"Lucy! Lucy! Kemarilah!" teriak Natsu kegirangan dengan tangannya yang menggenggam berbagai macam barang yang ia beli dari pasar malam itu.

"Tunggu aku, Natsuuu..." ujar Lucy yang kelihatannya sudah capai berjalan mengikuti Natsu yang sangat bersemangat itu.

"Lucy, kau kelihatannya mulai lelah." Ujar Happy yang berjalan di sampingnya.

"Aku memang sudah lelah sejak tadi..." jawabnya sambil menyeret kedua kakinya, memaksanya untuk berjalan.

Natsu yang tak sabar menunggu Lucy yang berjalan terlalu lama itu ahirnya menyusul Lucy yang jaraknya tak jauh darinya. Ia menyerahkan semua barang bawaannya pada Happy.

"Ayo, Lucy! Kau lama sekali!" kata Natsu sambil langsung menggendong Lucy di punggungnya.

"Natsu! turunkan aku!" pinta Lucy sambil menjauhkan badannya dari punggung Natsu. namun, Natsu malah merapatkan kedua tangannya, mencegah Lucy turun dari punggungnya.

"Sudahlah, kau capai kan?" ujar Natsu sambil tetap berjalan. Lucy pasrah akan tindakan Natsu.

Diam-diam, Lucy melirik bahu Natsu yang jaraknya sangat dekat dari dagunya. Perlahan-lahan, pipinya mulai memerah. Ia tersenyum kecil.

'Akankah selamanya, kau menjadi anak yang polos, Natsu?' batinnya pelan. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Natsu. Hangat...

Semburat merah di pipi Natsu sempat muncul, sebelum ia melontarkan sebuah pertanyaan.

"Lucy? Kau tak apa?" ujar Natsu sambil menghentikan langkahnya. Happy yang terbang mengikutinya juga langsung berhenti.

"Tak apa. Teruslah berjalan, Natsu..." bisik Lucy pelan sambil meletakkan dagunya di bahu Natsu. Natsu diam, kemudian langsung melanjutkan kembali jalannya.

Beberapa saat kemudian, tibalah mereka bertiga di depan sebuah wahana raksasa setinggi kira-kira 30 meter bertulis 'ferris wheel' tepat di tengahnya. Natsu dan Happy pun tercengang melihat wahana itu berputar dan nyala lampu warna-warni yang mengintari jeruji-jerujinya.

"Hoaaaa! Lucy! Happy! Ayo kita coba wahana itu!" teriak Natsu tak sabar sambil berlari menuju antrian masuk wahana tersebut.

"Lucy?" tanya Happy tiba-tiba ketika menyadari Lucy sama sekali tak bereaksi.

"Lucy!" Happy mulai kawatir dan menggoyang-nggoyangkan badan Lucy yang tersandar di punggung Natsu. natsu juga langsung menolehkan kepalanya mencoba menatap Lucy. Percuma, poni rambutnya menutupi wajah cantiknya.

"Ia tertidur, Natsu." Ujar Happy.

"Haa? Lu..."

"Sssssttttt...! biarkan ia tertidur, Natsu...!" ujar Happy sambil memegangi kepala Lucy yang tertunduk.

"Sayang sekali. Aku berani bertaruh ia pasti akan terkesan dengan pemandangan di atas sana..." ujar laki-laki berambut pink itu sambil mendesah pelan.

Ahirnya, Natsu dan Happy memutuskan tetap membawa Lucy naik walau dalam keadaan tertidur. Dengan hati-hati, Natsu mendudukkan Lucy di kursi panjang itu.

Setelah Natsu memastikan pintunya terkunci dengan rapat wahana mulai berputar. Natsu semakin bersemangat menunggu kereta yang di naikinya mencapai tempat yang paling tinggi.

"Whoaa! Happy! Lihat! Lihat! Guild kita terlihat dari sini!" teriak Natsu kegirangan sambil menunjuk-nunjuk bangunan yang terletak nun jauh disana.

Hening. Sama sekali tak ada suara sedikitpun.

"Happ...?" Natsu tercekat. Sama sekali tak ada kucing biru di sana. ia mencoba mencari di setiap sudut ruangan kecil itu, namun, ia ama sekali tak menemukan sesosok kucing biru bersayap itu.

"Kemana ia pergi...?" gumam Natsu bertanya-tanya.

Ahirnya, Natsu hanya bisa diam dan mengamati pemandangan Magnolia seorang diri. Magnolia di malam hari terlihat sangat indah. Lampu-lampu rumah menyala berwarna-warni. Dari kejauhan, nampak seperti ribuan kunang-kunang. Natsu tersenyum kecil menikmati pemandangan yang indah itu.

"Lucy... Magnolia indah sekali dari sini..." gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.

Ia lalu menoleh ke arahn Lucy, menatapnya sesaat. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke sebelah Lucy.

"Kau tahu, Lucy, aku selalu berharap malam detik ini bisa berlangsung selamanya..."

_oOoOoO Endless_Scratch OoOoOo_

Jalanan itu tampak sunyi. Suasana telah menunjukkan bahwa waktu telah melewati tengah malam. hanya suara hewan-hewan kecil berkeliaran yang sesekali tertangkap oleh daun telinga kedua orang itu.

Erza dan Gray berlari menyusuri jalanan dengan sigap. Sesekali ia menoleh ke kanan-kiri, namun, sosok yang mereka cari masih belum tampak. Erza yang berlari di depan menjadi semakin resah, dan langsung menambah kecepatannya. Gray yang sudah lumayan kelelahan mengikuti Erza dari belakang ahirnya mulai kehabisa tenaga. Nafasnya sesak, jantungnya berdenyut kencang.

"Erza! Bisakah kau lebih santai!" ujarnya sambil tetap berlari di belakang Erza.

"Tak ada waktu lagi, Gray!" teriak Erza keras. Gray hanya bisa diam saja menerima detahglare Erza.

Gray pun terpaksa menambah kecepatannya, mencoba menyusul Erza yang hampir tak terlihat. Setelah berhasil menyusul Erza, Erza berhenti mendadak. Gray yang berlari dengan kecepatan penuh pun ahirnya hampir terjungkal mencoba menghentikan langkahnya.

"Lebih cepat, sebaiknya kita berpencar. Aku akan mengambil jalan kanan, kau sebaiknya cepat mengambil jalan kiri. Kita akan bertemu di tempat ini satu jam lagi." Ujar Erza dan langsung meninggalkan Gray di pertigaan kecil itu.

'Apa-apaan dia...?' batin Gray sambil mendengus kesal.

Ahirnya, Gray mulai melangkahkan kakinya. Kali ini, ia lebih santai, karena sudah tak ada seseorang yang bisa mengeluarkan deathglare bak dewa itu.

Namun, langkah itu terhenti beberapa detik kemudian. Gray ternganga dengan sesuatu didepannya.

"PASAR MALAM!" teriaknya gembira sambil berlari kecepatan penuh menuju pasar malam itu. memang, sudah beberapa tahun ia sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di tempat hiburan semacam ini.

Ia mengurangi kecapatan langkahnya, setelah jalanan mulai terlihat penuh oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan, untuk melihat beberapa meter dari depannya saja, ia harus bersusah payah berdesakan melewati orang-orang yang lalu lalang disana.

" Huuff,, ramai sekali..." gumamnya pelan sambil menghembuskan nafasnya. Ia mungkin baru bisa bernafas setelah melewati jalan yang penuh dengan lalu lalang orang-orang itu.

Ia lalu melanjutkan kembali jalannya dengan santai. Namun, sebuah bayangan wahana raksasa yang menerpanya membuat ia reflek memutar badannya ke belakang.

Ia langsung tercekat melihat sebuah kincir ria raksasa, sampai-sampai tak bisa dilihat secara utuh. Mata Gray langsung membulat, dan langsung berlari menuju baris antrian di depan wahana itu yang cukup panjang.

Setelah ia menyerahkan tiket masuk pada petugas disana, tiba-tiba mata tajamnya menangkap sesuatu di salah satu kereta yang akan memutar turun. Perasaannya mendadak kacau, keringat dinginnya mulai keluar.

"L...lucy...? N..NATSU!" gumamnya pada dirinya sendiri seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, ia sontak membalikkan tubuhnya, sebelum ia terjebak didalam sebuah gumpalan air .

"Waterlock... Maafkan aku, Gray Fullbuster..." ujar seorang wanita di depannya sambil memegangi sebuah payung di tangan kirinya.

_oOoOoO Endless_Scratch OoOoOo_

'TRAAANGGG...!' bunyi benturan kedua besi itu menggema di lorong yang lebar itu.

Gadis berambut merah itu langsung terpental beberapa meter, namun ia segera bangkit dan langsung memasang kuda-kudanya kembali. Nafasnya mulai takteratur di tengan kabut yang tebal itu.

"JADI INIKAN SEORANG ERZA SCARLET YANG TERKENAL DENGAN KEKUATANNYA ITU HAH! KAU MEMBUATKU TERTAWA!" teriak seorang laki-laki kegirangan sambil menginjakkan kakinya di langit-langit lorong itu.

"REQUIP!" seru perempuan itu, dan langsung menampakkan dirinya keluar dari kabut itu. tampak jelas di wajahnya bahwa ia tak bisa mengendalikan amarahnya.

'TRANGGGG!' suara benturan itu kemba;i terdengan ketika perempuan itu mencona melindungi dirinya dari besi yang memanjang dari laki-laki setengah baya itu.

"Kau tak punya hak untuk mengganggu Fairytail!" seru Erza sambil menahan besi yang tersangkut di antara kedua pedangnya.

"HAK? JUSTRU KAULAH YANG TAKPUNYA HAK UNTUK MEMBICARAKAN SESUATU YANG BERNAMA 'HAK', SCARLET!" teriaknya keras dan langsung memanjangkan tangannya, sehingga membuat punggung Erza menatap dinding di belakangnya. Laki-laki itu langsung mendekat ke Erza.

ia kemudian menoleh ke arah kertas yang berada di antara jari Erza. Ia lantas merebut kertas itu dari tangannya, sehingga pedang yang digenggannya jatuh ke tanah.

"Misi S class... HUAHAHAHAHAHAHA? KALIAN HANYA SERANGGA KECIL YANG TAK TAHU APA-APA" teriaknya keras membaca kertas itu membaca kertas itu. Erza hanya bisa menatapnya tajam sambil mengatur nafasnya.

Laki-laki itu langsung merobek kertas yang di genggannya.

"APA YANG KAU LAKUKAN! AKU BAHKAN BELUM MEMBICARAKANYA DENGAN..." teriak Erza sebelum laki-laki itu mendaratkan tinjunya tepat di perut Erza.

"Belum? Bahkan sekarangpun kau sedang menjalankan sebuah misi S class, Erza..." bisiknya pelan tepat di telinga gadis itu.

TBC

Bagaimana? Tambah geje yahh!

Apapun pendapat anda, silahkan tuangkan di review yahhh...!

Saya tunggu reviewnya :DD