Almost is Never Enough
By_KyuJ
Cast : Min Yoongi, Park Jimin, and Other member BTS
Genre : Hurt/YAOI
_Author Pov_
Malam hari di kota besar selalu sama di belahan bumi manapun, kemerlip lampu – lampu jalanan. Kafe-kafe pinggir jalan yang dipenuhi para sejoli, dan Yoongi melangkahkan kakinya memasuki salah satu Bar terkenal di Stockholm,'The Solidaritet' . Duduk di counter menunggu bartender menghampirinya.
"Seville Sangria" ejanya kepada sang bartender, Yoongi tidak kuat minum ngomong-ngomong.
Sambil menunggu pesanannya datang, Yoongi memperhatikan sekeliling. Tidak biasanya Bar ini penuh sesak begini, Yoongi bertanya pada pengunjung disebelahnya
"Apa ada sesuatu yang spesial malam ini? Penontonnya lebih gila." Tanya Yoongi pada pengunjung tersebut
"Malam ini ada Rapper Underground yang tampil, 85% pengunjung malam ini penggemarnya"
"Wow, sehebat apa dia sampai membuat tempat ini lebih ramai dari biasanya" gumam Yoongi
"Selain hebat wajahnya membuat presentase penggemarnya meningkat" ucap pengunjung tersebut antusias
Saat akan melanjutkan percakapan, pesanannya datang. Mengucapkan terima kasih dan menikmati minumannya, Yoongi bertanya pada sang bartender.
"Siapa namanya?"
"Maaf, nama siapa tuan?"
"Rapper Underground itu"
"Ah...nama panggungnya J-Hope" jawab sang bartender
"Nama aslinya?"
"Aku tak tau tuan, rapper itu tak pernah memakai nama aslinya"
Jawab bartender sambil beralalu, meninggalkan Yoongi yang masih penasaran dengan siapa sosok 'J-Hope' itu
.
Jimin duduk berhadapan dengan Taehyung di meja makan restouran di hotel tempat mereka menginap. Taehyung memperhatikan tingkah Jimin yang sedikit pendiam hari ini, bahkan beberapa kali Taehyung mendapati Jimin sedang melamun.
"Jim, are you okay?" tanya Taehyung khawatir sambil menyentuh tangannya perlahan
"Eoh, i'm okay" jawab Jimin dengan senyum tapi Taehyung tau itu terpaksa
"Berjalan-jalan keluar sepertinya menyenangkan Jim, let's go" tawar Taehyung
"Habiskan makananmu dulu baru kita keluar" kilah Jimin
"No, aku sudah selesai, ayo"
Jimin mau tidak mau mengikuti permintaan istrinya, mau bagaimanpun keadaannya Taehyung adalah semestanya. Mereka berjalan beriringan sambil merangkul dan tertawa sesekali. Pandangan mata Taehyung berhenti pada Bar yang terlihat ramai.
"Jim, lihat Bar diujung sana" tunjuk Taehyung
"Ada apa dengan Bar itu, sayang" tanya Jimin tidak mengerti
"Sepertinya ada pertunjukan spesial disana, lihat saja pengunjungnya Jim" ucap Taehyung antusias
"Lalu kau mau apa Tae?"
"Kita kesana" balas Taehyung sambil menarik tangan Jimin memasuki Bar itu
Keduanya memasuki Bar itu dan mengambil tempat duduk sedikit disudut ruangan agar mereka mudah saat akan keluar Bar. Memperhatikan riuhya penonton saat sang Rapper menampakkan dirinya.
Ketiganya tercengang ditempat masing – masing dan 'Jung Hoseok' seru mereka bersamaan. Taehyung mengalihkan pandangannya pada jimin "Bukankah dia Jung Hoseok teman sekolah kita dulu?" tanya Taehyung memastikan dna dibalas anggukan oleh Jimin. Setelah menikmati penampilan Rap dari kawan mereka Jimin berpamitan ke toilet. Saat urusannya selesai dirinya berpapasan dengan Yoongi yang akan masuk ke toilet.
"Hyung" Jimin menahan pergelangan tangan Yoongi saat dia akan berbalik
"Berhenti menghindariku dan katakan alasan kau pergi hyung" desak jimin
"Lepas, lepaskan tanganku Tuan PARK" jawab Yoongi dengan nada mengintimidasi
"Tidak sebelum kau mengatakannya hyung"
"Apa-apaan kau ini, apa hak mu memaksaku huh? Apa aku mengenalmu?" jawabnya dengan raut wajah datar dan sorot tajam
Yoongi menghempaskan pegangan tangan Jimin, berdiri menghadapnya.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya Tuan Park?"
"Berhenti hyung"
"Apa menggangguku itu menyenangkan untukmu, huh?" intimidasi Yoongi seakan tiada henti
"Hyung kau, apa kau gila?" tanya Jimin tak habis pikir
"Kau yang positif gila, pergi dan periksakan dirimu Tuan. Dan siapa yang kau panggil hyung huh? Kita bahkan baru bertemu siang tadi, sadarkan dirimu terlebih dahulu Tuan Park"
"BERHENTI!" bentak Jimin, Yoongi sedikit terkejut tapi dia mampu mengontrol ekspresi wajahnya
"Wah wah...kau luar biasa menakjubkan tuan park. Membentak kepada orang baru kau temui kurang dari 24 yang lalu, aku tidak mau berurusan denganmu. Aku permisi" ucap Yoongi dan berlalu meninggalkan Jimin dengan pandangan kosong.
.
.
.
_Yoongi Pov_
Atap rumah adalah tempatku kembali kepada jati diriku, disini aku bisa berteriak sesuka hatiku. Holy berada dipangkuanku,duduk bersila dikursi panjang bertudung payung lipat memandang langit Stockholm yang dipenuhi bintang membuat senyum terlukis diwajahku.
"/Haha/ Kau tau holy, tadi aku bertemu dengannya" gumamku sambil membelai holy
"Kau tau, dia semakin tampan saja"
"Mata sendunya masih sama. Membuat hatiku berdenyut nyeri holy, dia adalah kesakitan paling aku rindukan holy"
"Mata sendu yang penuh kehangatan itu menatapku penuh binar kerinduan holy" aku mulai meracau sampai tanpa sadar setetes air mataku mengalir
"Matanya seakan kembali memperangkapku holy, kau tau holy hal yang paling aku benci?" air mataku semakin berderai
"Saat hati, pikiran dan mulutku tak bisa selaras, mereka menghianatiku, aku benci itu" aku tertawa hambar layaknya orang gila
"Huh...kenapa kau lakukan ini padaku PARK KEPARAT JIMIN" aku berteriak menatap langit malam
"Hiks...hiks...aku merindukanmu Jim"
Aku tak kuasa menahan emosi yang kupendam sejak bertatap muka denganya siang tadi, sungguh Jimin makhluk ciptaan tuhan terkutuk yang selalu kuharap tidak akan pernah hadir kembali pada hidupku.
.
_7 A.M Stockholm_
Matahari telah membumbung tinggi diawan, mengusik tidur nyenyak Yoongi. Menggerakkan badan sedikit dan meraih smartphonenya di nakas, berusaha menghubungi sekertarisnya untuk mengosongkan semua jadwal. Yoongi ingin diam dirumah saja hari ini.
.
Kaki kecilnya menapak di bebatuan taman depan rumahnya, berkeliling memperhatikan seisi taman mencari hal menarik. Sedikit olahraga dipagi hari tidak buruk pikir Yoongi. Setelah lelah berkeliling beberapa putaran di halaman rumahnya Yoongi duduk di rerumputan menikmati semilir angin mengurai surai merah menyalanya.
.
Yoongi berfikir dia akan jalan-jalan dan hunting foto saja selama cuti seharinya, sudah lama dia tidak bersenang-senang bukan. Yoongi menghubungi sesorang.
"Namjoon-a, apa kau sibuk?" Tanya Yoongi sambil menyiapkan keperluan jalan-jalannya
"Gamla Stan kurasa bukan pilihan yang buruk. Bagaimana?"
"Tidak, bukan urusan perusahaan hanya ingin refreshing saja."
"Kutunggu 20 menit, terlambat lihat saja masa depan karirmu" ancam Yoongi sambil cekikikan
Yoongi bersiap sambil tersenyum sesekali mengingat sahabat satu-satunya itu, Namjoon. Sejak menginjakkan kaki di Stockholm 2 tahun silam Yoongi memutuskan untuk tidak terikat dengan siapapun, tapi entah kenapa Namjoon bisa membuat Yoongi melanggar prinsipnya itu dengan menjadi sahabat dengan waktu singkat. Salahkan Yoongi yang saat itu benar-benar polos sehingga tidak bisa membedakan yang mana Red wine dan sirup rasa stroberry yang membuatnya dalam masalah karena terlibat perkelahian dengan seseorang, Namjoon nama orang itu. Pertemuan pertama mereka memang tidak menyenangkan, tapi disanalah menariknya hubungan persahabatan mereka.
.
.
Sinar mentari mengusik tidur seorang Park Jimin, dia sedang dalam mood yang buruk sejak kemarin dan berencana menghabiskan waktunya untuk tidur saja di kamar hotelnya. Tapi itu hanya mimpi saat seseorang menyibak selimutnya dan memaksanya bangun.
"Bangun bayi besar" Taehyung mengusik tidur Jimin.
"Ayolah sayang, aku sedang ingin bersantai saja disini" kilahnya sambil berusaha menarik selimutnya.
Taehyung merangkak naik keatas ranjang, mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin lalu berbisik sambil meniupnya sedikit "Mau sampai kapan kau tidur sayang, fyuuh"
Taehyung cekikikan saat melihat reaksi lucu Jimin, dia lalu berniat berdiri tapi Jimin menarik tangannya dan berakhir dengan mereka berbaring saling berhadapan. Jimin menyibak sedikit helaian rambut yang menutupi dahinya, tersenyum lalu memberi kecupan selamat pagi.
"Selamat pagi nyonya Park" dikecupnya lagi bibir itu oleh Jimin, keduanya bertatapan dan saling tersenyum lalu berpelukan. "Selamat pagi juga tuan Park, Aku mencintaimu." Taehyung membenamkan wajahnya didada Jimin, ikut bergelung manja.
Jimin semakin mengeratkan pelukannya pada Taehyung, fikirannya menerawang masa-masa indahnya dulu bersama Taehyung, lalu sekelebat bayangan wajah sembab Yoongi beberapa hari menjelang pernikahannya dulu seakan melesakkan hatinya. Matanya sekarang sudah benar-benar terbuka, dia mengajak Taehyung untuk bangun, dia berkata hari ini ada pemotretan dan minta ditemani, Jimin mengiyakan dan disinilah mereka sekarang, Gamla Stan.
.
.
_Yoongi Pov_
Kutatap Namjoon dari kejauhan, aku sudah menunggu didepan pagar rumahku sejak setengah jam lalu. Demi apa Yoongi ingin sekali menghanyutkan Namjoon ke dermaga di Gothenburg tempatku biasa mencari inspirasi dalam membuat lagu, karena demi apa dia terlambat lebih dari 15 menit dan membuatku menunggu, aku paling benci menunggu.
Saat mendekat padaku dia sedikit menggaruk kepalanya, mungkin dia sadar kalau dia terlambat. Kubunuh dia dengan tatapanku, dan tanpa banyak bicara aku langsung memasuki mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, terlihat gerak-geriknya bahwa dia ingin menjelaskan perihal keterlambatannya.
"Hyung, kau tau sekretarisku itu benar-benar susah dalam hal perijinan" ucapnya basa-basi
"15 menit Namjoon, kau terlambat 3 menit lebih lama dari terakhir kali kita bertemu bulan lalu"
Ucapku santai, salah satu hobi makhluk ini adalah terlambat dan aku benar-benar tidak menyukai hobinya itu. Kadang aku berniat untuk segera mencarikan istri untuknya agar kebiasaannya satu itu lenyap, sesekali memarahinya bukan masalah pikirku.
.
10 menit perjalanan dari rumahku, dan kami telah sampai Gamla Stan. Aku dengan antusias menuruni mobil Namjoon dan melihat sekeliling. Aku tersenyum mengamati tiap sudut Gamla, tetap indah dan penuh inspirasi untukku, tempat paling bermakna dalam perjalananku meniti karir di sini selain dermaga di Gothenburg. Namjoon menghampiriku sambil menyerahkan kameraku.
"Bersenang-senang" tanyanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku mengangguk sambil meraih tangannya dan mulai berjalan-jalan. Terkadang aku berhenti bila melihat hal yang menurutku menarik. Namjoon hanya menemaniku berjalan-jalan sambil memainkan ponsel sialannya itu. Kami terus berjalan, saat kurasa aku cukup memotret kuajak Namjoon untuk makan dan istirahat di salah satu Kafe.
"Tuan-tuan mau pesan apa?" tanya pelayan restoran.
"Ice Americano dan Caramel Macchiato" jawabku
Sang pelayan telah mencatat pesananku dan pergi, lalu kulempar kotak tisu didepanku kearah Namjoon, dia terkejut dan hampr menjatuhkan ponselnya.
"Hyung apa-apaan kau" ucapnya kesal, ponsel adalah dunianya dan aku hampir saja menjatuhkan dunianya, aku tertawa keras.
Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan datang dan membahas projek musik kami bersama selanjutnya. Kami berencana membuat mixtape bersama, tapi tiba-tiba aku teringat tentang Hoseok yang aku tahu juga adalah seorang Rapper.
"Namjoon-a, cari informasi mengenai Hoseok"
Terlihat kerutan dikeningnya, "Siapa hyung Hoseok? Apa dia orang penting?" nadanya terdengar penasaran. Ah, aku lupa kalo Namjoon tidak mengenalnya.
"J-Hope, nama panggungnya J-Hope. Cari tahu tentang dia"
"Rapper undergroung yang sedang tour di sini itu? Untuk apa?" balasnya sedikit acuh, tapi aku terkejut. Bagaimana tidak, Namjoon mengenalnya.
"Kau mengenalnya Namjoon-a" tanyaku penasaran, dia mengangkat wajahnya dan mengangguk.
"Aku pernah satu panggung dengannya 1 tahun lalu di festival musim panas di Yokohama"
"Mwo? Dan kau tidak memberitahuku eoh?"
"Untuk apa, kau tidak sedang tertarik dengannya kan, kudengar banyak yang memuja ketampanannya. Apa kau salah satu penggemarnya?"
Kupukul kepalanya dengan garpu, makhluk satu ini benar-benar menyebalkan. Datang dari mana pikiran macam itu, astaga.
.
Teriknya mentari tak menghalangi sesi pemotretan Taehyung, di tepian sungai dekat Gamla dia berpose bermacam gaya sesuai instruktur dari kameramen. Banyak kru memuji kemampuan Taehyung dalam berekspresi dan bergaya, Jimin ada disana diantara staf dan kru lain, tersenyum menyaksikan kemampuan istrinya.
"Break 30 menit!" teriak kameramen dan semua beristirahat, Jimin menghampiri istrinya, memberikan botol air mineral dan menyeka keringatnya. Panas siang itu terasa membakar kulitnya, itu keluh Taehyung.
Selama break dihabiskan Taehyung dan Jimin untuk berjalan-jalan keliling Gamla sambil mencari kafe untuk makan siang, mereka berjalan beriringan sambil berangkulan mesra dan tertawa ceria. Mereka berdiri didepan musium Nobel melihat sekeliling dan baru sadar bahwa disekitar mereka semua adalah kafe, Jimin mengedarkan pandangannya mencari mana kira-kira kafe yang akan mereka masuki, lalu pandangan matanya terpaku pada sosok namja yang sedang tertawa lepas dengan namja lainnya.
Amarahnya seakan sampai di ubun-ubun dan siap meledak kapan saja, tanpa sadar genggaman tangannya semakin mengencang dan "Auw, Jim sakit" Taehyung memekik sambil melepaskan tangannya, Jimin panik dan membelai tangan tersebut "Maafkan aku, aku tidak sengaja" diciumnya punggung tangan Taehyung. Tapi pandangan matanya kembali mengarah pada namja di kafe ujung sana, Taehyung mengikuti arah pandangan Jimin dan dia merasakan nyeri di ulu hatinya menangkap tatapan cemburu dimata Jimin untuk namja itu.
Taehyung melepaskan tangannya dan tersenyum "Aku tidak apa-apa"
"Bagaimana kalau ke kafe yang diujung sana" Taehyung menunjuk kafe tempat namja tadi berada dan benar saja tebakan Taehyung, Jimin terkejut.
/Jim, semoga ini hanya perasaanku saja dan kau tetap mencintaiku/ batin Taehyung bersuara
.
TBC
replay review time
minyoonlovers : taehyung bukan jodoh jimin, jadi dia pasti ketemu yg lain
adwyasdi : bocoran dikit nie ye, happy ending kok
: jimin bakal dapet pembalasan tenang ae /smirk/
thanks buat respon kalian, review terus biar makin semangat gw ngetik.
