Fanfic

Rated M (Love, Romance. NC. Warn: SexScene. MyungJong Shipper/BlackLemon~ )

(Disclaimer: themselves)

*Ini adalah side story dari Fanfic-ku yang sebelumnya : Our M Scene.

*Rated-nya sama-sama M, dan sama-sama geje. Kkkk~

Chapter 2

.

Just Us

(Side Story of Our M Scene)

.

Previous Story:

"Hyung, aku…"

"Jongie…" Potong Myungsoo dengan terengah-engah.

"Mm?"

"Buka bajumu…"

.

.

Sungjong yang ingin menyelesaikan tugas-tugasnya lebih dulu, awalnya menolak ketika Myungsoo memintanya buka baju.

Bisa-bisanya Myungsoo minta jatah di saat-saat seperti ini! Pikir Sungjong.

Tetapi, pemirsa. Berhubung tanpa bantuan Myungsoo, tugas-tugas Sungjong dijamin tak akan selesai, maka maknae kita ini akhirnya menurut.

Jadi, begitulah. Sungjong mengeratkan pelukannya pada punggung Myungsoo saat pinggul lelaki itu bergerak naik-turun di atas selangkangannya.

Perut Sungjong beberapa kali mengejang. Tapi ia menuruti permainan Myungsoo, pinggangnya samar-samar bergerak naik-turun meminta kenikmatan lebih.

Sprei di bawah mereka bergemeresak hingga kusut.

Padahal junior Myungsoo belum memasukinya, namun junior mereka yang sama-sama sudah tegang dan saling bergesek, menimbulkan sensasi yang tak kalah nikmat.

Myungsoo terus bergerak konstan. Sesekali ia berhenti untuk membetulkan posisinya, mengeratkan pelukan Sungjong, lalu kembali bergerak-gerak nikmat di atas kekasihnya.

"Hyung, aku mau keluar." Desah Sungjong tiba-tiba.

"Ishh.. cepat sekali."

"Hyung hentikan sebentar." Pinta Sungjong di tengah-tengah gerakan Myungsoo.

"Ck. Keluarkan saja Jongie.."

"Nanti celana hyung kotor." Timpal Sungjong, mengingat Myungsoo baru menurunkan celananya sebatas paha.

Myungsoo tak menjawab, ia justru menunduk dan mengarahkan bibirnya pada leher kekasihnya itu. Tentu Myungsoo tahu bahwa itu adalah area sensitif Sungjong. Pasalnya Sungjong seringkali mendesah lebih keras tiap kali lehernya tersentuh. Manis sekali Sungjongie-nya. Lehernya yang putih dan menggoda, siapa sangka ia begitu sensitif di area itu.

Sungjong semakin kewalahan. Keningnya mengalirkan keringat dingin. Padahal ia sudah bilang kalau sperma-nya mau keluar, tapi Myungsoo malah bermain-main dengan lehernya.

"Nngghhh~"

Myungsoo tersenyum di sela-sela permainannya, Sungjong mendesah makin kentara. Membuatnya semakin ingin bergerak lebih lagi.

"Mendesahlah lebih keras sayang…" Bisik Myungsoo pada leher Sungjong. Membuat Sungjong bergidik geli.

"Hyungg… berhenti seben…hh…taar. eunghh~"

Sungjong menggelinjang. Myungsoo menyerangnya kian cepat.

Area selangkangannya sakit karena terlalu lama menahan cairannya, sementara Myungsoo semakin genjar menyerangnya. Lama-lama Sungjong benar-benar tak kuat lagi. Setetes sperma-nya mengalir keluar, Myungsoo masih bergerak liar. Sungjong mencengkeram kaus Myungsoo dan ia melenguh keras, diiringi seluruh spermanya yang meluncur tak terkendali.

"Aanghhhhh~" Sungjong mendesah lega. Selangkangannya menghangat.

Myungsoo terkekeh. "Banyak sekali." Godanya.

Sungjong cemberut. Sementara pipinya memerah di wajahnya yang mulai sayu. Myungsoo yang menangkap ekspresi itu langsung menghentikan aktifitasnya. Wajah sayu yang menandakan Lee Sungjong-nya sudah siap untuk ronde-ronde mereka beberapa jam ke depan.

Tentu saja itu tadi masih pemanasan.

Myungsoo mulai melepas celananya yang sedari tadi hanya turun sepaha. Ada sperma Sungjong di sana. Hangat. Melihatnya saja sudah membuat Myungsoo makin semangat.

Sex dengan Sungjong benar-benar menggairahkan. Tubuh ramping Sungjong sangat indah. Apalagi jika mendapat kehangatan dan kenikmatan dari tubuh itu. Membayangkannya saja kadang membuat Myungsoo sulit tidur.

Mengingat bagaimana cara Sungjong mencengkeram pundaknya dengan erat sambil mendesah karena permainan Myungsoo.

Myungsoo tersenyum.

"Mesum." Desis Sungjong. Mengomentari senyuman lelaki itu.

Mendengar itu Myungsoo memiringkan kepalanya. "Lucu sekali kau mengataiku mesum sementara kita sudah pemanasan dan sama-sama telanjang begini.."

Sungjong diam, matanya bulatnya mengikuti gerakan Myungsoo yang kembali mengambil posisi di atas dirinya.

Tangan Myungsoo mengusap kening Sungjong yang basah. Menyibak poni panjangnya, membuat dua mata bulat itu terlihat jelas.

Bahu Sungjong bergerak untuk membenarkan posisinya. Myungsoo meliriknya.

Bahu Sungjong basah karena keringat. Dan leher putih itu. Saat Sungjong memiringkan kepala, kulit leher putihnya terekspos dan seolah memanggil-manggil bibir Myungsoo untuk memberikan kissmark. Dan, jangan lupakan bibir merah Sungjong. Sedikit ciuman saja, akan membuat bibir itu ranum.

"Hyung?" Panggil Sungjong. Entah mengapa ia tiba-tiba ingat tugasnya. Ia ingin menyelesaikan tugasnya segera, tetapi Myungsoo justru mengulur waktu dan hanya memandangi tubuhnya.

"Mm?"

"Tugasku…" Ucapan Sungjong menggantung.

Myungsoo tersenyum. Menunjukkan deretan giginya.

Ia paham. Maka ia segera menurunkan rahangnya dan menekan bibir Sungjong dengan bibirnya sendiri.

Tangan Myungsoo bergerak meraba dada Sungjong, mencari nipple kekasihnya itu. Dan mudah saja. Nipple Sungjong sudah mencuat karena rangsangan dari Myungsoo. Myungsoo memilin bagian itu. Membuat Sungjong membuka mulutnya untuk mengeluarkan lenguhan.

Saat bibir Sungjong terbuka, Myungsoo langsung meraup bibir itu ke dalam mulutnya. Menghisapnya seseduktif mungkin. Membuat tubuh Sungjong menghangat.

Sungjong meraih punggung Myungsoo. Di tengah-tengah ciuman mereka, juniornya mulai tegak lagi. Ia ingin Myungsoo segera memuaskannya di bagian itu.

Sementara Myungsoo, menyadari bagian bawah Sungjong mulai mendesak selangkangannya, langsung menurunkan pinggulnya ke bawah. Menekannya. Lalu mulai menggesek pelan.

Sungjong mendesah makin keras. Kesannya yang terburu-buru membuat Myungsoo melepas ciuman mereka dan mendengus tersenyum.

Bibir Myungsoo berpindah ke leher Sungjong. Menggigitnya singkat lalu menghisap kuat-kuat.

Sungjong mendongak. Bibirnya terbuka dan mendesah hebat. Ia meremas rambut Myungsoo.

Dan tanpa diduga, tiba-tiba Sungjong membuka kedua kakinya. Lutut Sungjong terangkat dan menyilang di atas pantat Myungsoo.

Myungsoo menoleh, meninggalkan leher Sungjong yang kini memiliki tanda kemerahan dan mengalirkan banyak salivanya.

"Kau ingin aku menyentuh itu ?"

Sungjong menunduk. Rasanya juniornya sudah berkedut dan lututnya mengebas gara-gara menahan diri. Tapi Myungsoo masih sempat menggodanya.

"Hyuungg…" Rengek Sungjong akhirnya.

Myungsoo mengecup bibir Sungjong singkat, kemudian beralih pada bagian bawah tubuh kekasihnya.

Tangan Myungsoo turun. Menangkap junior Sungjong yang sudah tegak. Kemudian mulai menggerakkan telapak tangannya naik-turun.

Dada Sungjong memanas. Mengalir dari bahu menuju perutnya. Pinggangnya kini bergerak pelan naik-turun. Meminta Myungsoo mempercepat gerakan tangannya.

"Kenapa kau tak sabaran sih?" Goda Myungsoo lagi. "Kalau kupercepat nanti lecet lho…"

Sungjong mencengkeram sprei. "Lebihh cepatt ,hyungghh… jebal~"

Keringat mengalir di leher Sungjong. Ia benar-benar ingin dipuaskan sekarang, malah Myungsoo terus mengulur-ulur.

Myungsoo akhirnya menurut. Ia mempercepat tangannya. Memuaskan Sungjong.

Tangannya naik-turun makin cepat. Kadang ia meremas sebentar, lalu mengocok lagi. Sungjong memejamkan mata erat. Menggigit bibir bawahnya.

"Aah, hyung…" Desah Sungjong tanpa sadar.

"Hm?" Jawab Myungsoo, tanpa berhenti.

Sungjong menggeleng. Ia tak berniat memanggil hyung-nya itu. Hanya saja gerakan yang Myungsoo lakukan terhadapnya benar-benar nikmat.

"Sudah mau keluar?" Tanya Myungsoo, setengah menggoda. Merasakan junior Sungjong makin menggembung dan gerakan pinggang Sungjong yang makin liar. Kekasihnya itu hampir klimaks.

Sungjong menggigit bibirnya makin keras.

"Jongie, mendesahlah yang keras. Atau aku berhenti di tengah nih…"

"Ahh.. andwee."

Sungjong melenguh singkat. Ia mendesah lemas, tapi tak berhenti.

"Nnggghhh! Hyung… hhhhh." Sungjong mendesah panjang. Disusul spermanya yang mengalir keluar membasahi tangan Myungsoo. Hangat! Sekali lagi, membuat Myungsoo makin bergairah saja.

Myungsoo segera beralih pada kedua paha Sungjong. Mengangkatnya perlahan.

"Tunggu, hyung…" Myungsoo akan langsung masuk? efek klimaks Sungjong bahkan belum hilang dari selangkangannya.

Tapi Myungsoo mana dengar. Ia sibuk menggesekkan ujung juniornya ke bagian luar rectum Sungjong.

Membuat Sungjong mau tak mau harus bersiap diri.

Sungjong merasakan saat junior Myungsoo yang sudah mengeras, perlahan menjejal masuk ke dalam dirinya. Sungjong meremas bantalnya. Tubuhnya hampir merosot saat Myungsoo menarik pinggangnya ke bawah. Paha Sungjong membuka makin lebar, memberi akses. Sementara Myungsoo mendorong-dorong makin seduktif, menusuknya makin jauh ke dalam.

Sweet spot Sungjong tertumbuk. Membuat dirinya memekik keras.

"Lakukan… disana.." Bisik Sungjong. Sensasi di dadanya membuncah.

Myungsoo mencengkeram pinggul Sungjong, lalu menariknya turun, menumbukkan juniornya yang sudah menjejal masuk. Myungsoo menggerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang berulang-ulang, menusuk sweet spot dalam rectum Sungjong dengan keras. Makin dalam. Hingga rectum Sungjong seolah akan menelah juniornya.

Tubuh Sungjong menggelinjang liar, baru saja juniornya dipuaskan Myungsoo, sekarang Myungsoo sedang menyerangnya dengan kenikmatan lain.

Dinding rectumnya terus bergesekan dengan penis Myungsoo. Agak sakit. Tetapi sweet spot-nya berkata lain. Ujung penis Myungsoo yang menumbuk bagian itu terasa sangat nikmat.

Rectumnya tanpa sengaja berkedut menyempit, membuat Myungsoo mengerang singkat. Jika sudah begitu, Myungsoo akan mempercepat gerakannya, menusuknya makin brutal.

"Ngh.. Bagaimana rasanya Jongie?" Myungsoo menyeringai di tengah erangannya.

Sungjong yang sedari tadi memejamkan mata, tak mau menjawab. Jika ia menghiraukan dirty talk dari hyung-nya itu, bisa-bisa ia akan terus terangsang sampai pagi.

"Nikmat sekali bukan? Hm? …"

Seluruh tubuh Sungjong berkeringat. Ia membusungkan dadanya saat spermanya mulai keluar lagi, membasahi rectumnya yang sedang ditumbuk keluar-masuk oleh selangkangan Myungsoo.

Kedua paha Sungjong yang terbuka di antara Myungsoo, mulai bergetar hebat. Belakangan ini sperma-nya keluar banyak sekali.

Myungsoo mendorong tubuhnya lebih keras. Sungjong buru-buru mencengkeram sprei agar tidak kewalahan. Myungsoo selalu lebih gencar menggagahinya tiap kali sperma hangat itu keluar.

Tiba-tiba Myungsoo berhenti. Menghentak satu kali, lalu ia mengerang seperti hewan buas.

Pinggang dan pantat Sungjong sakit.

Ia sadar Myungsoo melakukan semuanya dengan keras kali ini.

Lelaki itu perlahan menunduk dan merebahkan dirinya di atas Sungjong. Kepalanya bersandar di perpotongan leher dan bahu Sungjong. Membuat nafas Myungsoo yang terengah menerpa dadanya.

Junior Myungsoo masih berkedut di dalam dirinya. Belum ada cairan yang keluar dari sana. Dan Sungjong tahu persis, itu artinya Myungsoo masih akan bermain berjam-jam lagi.

"Sungjongie…?" panggilnya.

Sungjong melirik ke arah Myungsoo yang tiduran di lehernya.

"Aku punya permintaan.."

"Permintaan apa?"

"Aku…" Myungsoo mengerjap. Keringatnya jatuh dari keningnya. "Aku ingin, kalau kita sedang tidak bisa bertemu, kau mau melakukan phonesex denganku…"

"Ehh?"

Myungsoo memeluk bahu kekasihnya. "Kalau kita sedang sama-sama sibuk dan aku kangen, lalu ingin melakukan sex denganmu, bagaimana? Selama ini aku selalu masturbasi sendirian kalau kau sibuk dengan sekolah…"

Sungjong merengut. Mendapat pengakuan semacam itu dari Myungsoo. Kekasihnya ini memang kadang sangat aneh.

"Mumpung kita lagi begini, makanya aku berani bilang. Kau cukup angkat telepon-ku dan mendesahlah yaa?"

"Lalu apa bedannya dengan suaraku mendesah atau tidak?"

"Tentu beda!" Ujar Myungsoo sengit. Mengingat sudah berapa kali ia memuaskan kejantanannya sendiri tanpa Sungjong. "Anggap saja aku sedang memasukkan penis-ku ke dalammu.. yaa?"

Sungjong tak mengerti. Ia membayangkan hal itu dalam kepalanya. Menelefon Myungsoo sambil mendesah, sementara Myungsoo juga mendesah nikmat di seberang sana. Bisa-bisa Sungjong ikut-ikutan terangsang.

"Bu…bukankah lebih baik langsung ketemuan saja?" Wajah Sungjong memerah.

"Yaa! Sudah berapa kali kau sibuk dengan tugasmu dan mengabaikan teleponku? Bagaimana bisa ketemu kalau dihubungi saja susah. Makanya, sekarang aku minta padamu, paling tidak angkat teleponku yaa?"

Sungjong berpikir. Dan mencoba mengerti. Sudah untung Myungsoo tidak memaksanya datang ketika kekasihnya itu sedang 'kangen'. Itu artinya Myungsoo memahami Sungjong yang kadang sibuk mendadak. Sekedar berhubungan lewat telepon, mungkin tak ada salahnya.

"Boleh deh.."

"Janji?" Myungsoo langsung girang. Dan Sungjong mengangguk. Membuatnya makin girang.

Myungsoo bergerak, menumpukan tangannya di samping bahu Sungjong. "Bagaimana kalau aku juga merekam wajahmu yang sedang mendesah?"

"Ha? ANDWE!" Sungjong melotot. "Kau ini mesum sekali!"

Myungsoo terkekeh. Sungjong-nya salah tingkah. Meski sebenarnya tadi itu ide bagus, merekam wajah Sungjong dengan rambutnya yang sexy berantakan. ( *_*)d

Ia mendekap Sungjong, memeluknya erat, sebelum mulai kembali mengayunkan pinggulnya pada tubuh kekasihnya yang juga memulai desahannya kembali.

.

.

00.30 a.m

MyungJong yang seharusnya sedang membersihkan tubuh mereka di kamar mandi malah keterusan melanjutkan adegan ranjang mereka. Hanya saja kali ini di bathup. Membuat banyak riak air di sekitar tubuh mereka berdua.

Sungjong duduk di atas selangkangan Myungsoo dengan junior lelaki itu tegak di dalam rectum-nya. Sungjong bergerak maju-mundur dengan pelan. Tangannya mengepal erat bertumpu pada perut Myungsoo. Sebenarnya ia sudah kelelahan. Berjam-jam di ranjang tadi sudah sangat menguras tenaga. Enam kali klimaks karena perbuatan Myungsoo, sekarang masih harus melakukannya lagi karena Myungsoo tak berhenti menggodanya dengan dirty talk yang membuatnya kembali terangsang hebat.

Sperma Myungsoo entah sudah berapa kali meluncur di dalam tubuh Sungjong. Selangkangan Myungsoo yang panas. Air di bathup semakin gencar beriak. Sungjong semakin sulit berhenti.

Kalau begini caranya, meski tidak sex selama sebulan, dirinya pasti tahan.

.

.

02.00 a.m

"INI GARA-GARA HYUNG! POKOKNYA GARA-GARA HYUNG!" Sungjong hampir menangis sambil mengacak rambutnya frustasi. Rambutnya masih basah karena tadi ia keramas.

Lama-lama pensil di tangan Sungjong bisa patah karena digenggam sambil marah-marah.

Myungsoo yang sedang duduk di belakang Sungjong, atau lebih tepatnya sedang memangku Sungjong, hanya tertawa sambil memeluknya dari belakang.

"Mianhae~ Siapa suruh mau kuajak ke kamar?"

"POKOKNYA SELESAIKAN TUGASKU! AKU TIDAK MAU TAHU!" Sungjong benar-benar ingin menangis sekarang. Tugasnya belum selesai. Ia belum tidur dan sekarang sudah hampir pagi.

"Iya… iya. Kau tak perlu mengerjakannya lagi. Sekarang tidurlah, aku akan mengerjakan semuanya. Lagipula besok kuliahku siang. Anggap saja ini permintaan maafku ,ya?"

Sungjong merengut. Lalu bangkit berdiri. Menuju kamar Myungsoo untuk segera tidur.

Tapi sebelum menutup pintu kamar itu, ia berbalik dan berkata keras-keras. "Awas kau Kim Myungsoo! Sebulan ke depan aku akan sibuk! Tidak ada sex! Tidak ada phonesex juga! Dan malam ini kau tidur di sofa!"

BLAM..

"APA! SUNGJONGIE? APA KATAMU?"

End!

.

.

.

hahahahah *author tertawa nista*

chapter pertama tak ada adegan NC, tapi semua NC tercurah di sini wkwkwk~ XD

untuk Myungsoo, sungguh tak ada jatah buatmu selama sebulan wahai visual :')

sebab di Our M Scene sudah tertulis begitu (y)

Ingat, ini cuma Side Story dari Our M Scene (y)

jadi harusnya kalian baca itu dulu -_-)~

oke! Review ?