Maaf baru diupdate.. Ele baru sampai rumah~ :3 hayoo yang follow atau favorite tanpa ninggalin review~
.
.
.
LIKE GOD SAYS
Based on Japanese Manga by Moegi Yuu. Made into fic by Xiahtic4Cassie.
.
.
.
"Hei, kamu—" baru saja Jaejoong mau menyentuh gagak tersebut, tiba-tiba burung hitam tersebut meronta dan paruhnya menghantam mulut Jaejoong.
"Aduh.. paruhnya.." Jaejoong yang terjatuh akibat gagak tersebut mendarat di atas sebuah…. Err…..
"…? Apa ini? Kulit? Kenapa ada kulit manu—"
"Jaejoong-ah." Jaejoong mengangkat wajahnya.
"Geli tahu.. Apa kamu bisa berhenti meraba-rabaku seperti itu?" kata Yunho dengan senyumnya yang terlihat canggung.
'Y-YU-YUNHO?!'
.
.
"Mari kita telaah situasi ini." Kata Yunho tersenyum. "Jaejoong-ah, bagaimana dengan kuliahmu hari ini?" Tanya Yunho mengintrogasi.
"Ugh.. A-Aku bolos…" Jawab Jaejoong ketakutan ketika ditanya pertanyaan yang ia berharap tidak akan ditanyakan oleh Yunho.
"Begitukah? Kalau begitu, aka nada hukumannya. Lalu, untuk apa tasbih Buddha dan dupa ini?" Tanya Yunho lagi.
"I-Itu, uh… Karena kukira kamu adalah hantu dan… Kupikir aku bisa membantumu istirahat dengan tenang." Jawab Jaejoong setengah bergumam.
"…" Yunho sama sekali tidak berkomentar apapun mendengarkan jawaban Jaejoong. Hanya tersenyum dengan senyumnya yang khas. Reaksi Yunho yang diam membuat Jaejoong semakin merasa bingung.
"A-Apa?"
"Aku hanya berpikir jangan-jangan aku tidak membesarkanmu dengan baik… Apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengusir hantu dengan benda-benda ini? Kamu bahkan tidak memiliki pematik untuk membakar dupa ini." Kata Yunho sambil menghela nafasnya memikirkan betapa 'pintar'nya Jaejoong. Jaejoong sendiri hanya menunduk malu karena ini merupakan kecerobohannya yang ke sekian.
"Kenapa kau berpikir kalau aku adalah hantu?" Tanya Yunho ke inti permasalahan.
"Kau… tidak terpantul di cermin tadi pagi… dank au tidak memiliki bayangan." Jawab Jaejoong.
"Oh, jadi kau sudah mengawasiku seebelumnya. Akhir-akhir ini kondisiku sedang tidak begitu baik." Ujar Yunho. "Kondisi?"
"Ya. Lihat kan? Sekarang aku pnya bayangan.." kata YUnho sambil menunjukkan kalau sekarang ia memiliki bayangan sedangkan barusan ia tidak memiliki bayangan.
"Whoa…"Jaejoong menatap Yunho kagum. YUnho tersenyum dan menceritakan kembali alasan mengapa dirinya tidak terpantul di cermin.
"T-Tunggu! Jadi kau adalah seekor burung gagak?!" tanta Jaejoong ingin tahu.
Yunho tersenyum dan berkata "Aku ini adalah Dewa. Dewa gagak lebih tepatnya." Kata Yunho menjelaskan. Wajah Jaejoong berubah menjadi wajah bodohnya ketika mendengar pengakuan Yunho.
"D-D-Dewa?"
"Iya, Dewa."
"…. Satu-satunya hal yang kuingat adalah seekor gagak besar yang sedang bermain air di dalam baskom…" kata Jaejoong tidak percaya.
"Jahatnya… Aku sedang melakukan penyucian diri dengan air suci." Kata Yunho menghela nafas."Tapi, kau tahu, baskom ini.. Baskom ini dibuat dari hamaecyparis—"
"Aku tidak butuh penjelasan mengenai baskom bodoh itu! Yang aku ingin tanyakan adalah Kenapa kamu mau menemaniku, tinggal bersamaku dan mengurusku?" Tanya Jaejoong. Pandangan Yunho berubah menjadi serius.
"Aku punya alasanku sendiri." Jawab Yunho.
"Alasan apa?" Tanya Jaejoong.
"… Jaejoong-ah, ada hal di dunia ini yang akan lebih baik jika dibiarkan tidak diketahui. Aku adalah 'penjaga'mu dan kau akan berada di bawah pengawasanku sampai kamu bisa hidup sendiri." Ujar Yunho. "Bahkan jika kamu tahu alasannya sekalipun—"
"Akhrinya kau hanya akan mengganti topic pembicaraan, Yun." Potong Jaejoong dengan wajah yang ditekuk. "Kenapa? Jadi kau mau bilang kalau aku yang mengetahui alasanmu akan merepotkanmu?" Lanjutnya.
Yunho mulai merasa Jaejoong salah paham dengan masalah ini. "Jaejoong-ah… Apa kau takut padaku? Tidak apa-apa. Aku tidak akan 'menyentuh'mu jadi jangan khawatir." Kata Yunho berusaha menenangkan Jaejoong.
"BUKAN BEGITU! Kau tidak mau memberitahuku alasanmu!Meskipun kau tahu semuanya tentang diriku, kenapa aku tidak boleh tahu segalanya tentang dirimu eoh?!" emosi Jaejoong semakin meningkat.
"Ini semua untuk kebaikanmu, Jaejoong-ah. Dan bahkan meskipun memang Cuma salah paham saja, kau sempat mengira aku adalah hantu dan mencoba untuk menghilangkanku. Bukankah itu kau lakukan karena kau piker akan lebih mudah jika aku tidak ada hm?" kata Yunho. "Bukankah tidak perlu mengerti sesuatu tentang seseorang yang tidak penting bagimu?"
"…! YUNHO BODOH!" Jaejoong marah dan berlari keluar.
.
.
'Aku tidak pernah sekalipun berpikir kalau akan lebih baik jika Yunho tidak ada! TIDAK PERNAH! Aku selalu merasa takut jika suatu hari Yunho akan menghilang… Ini semua salah Yunho!' Jaejoong berlari meninggalkan rumah. Perasaannya masih kacau megingat ucapan Yunho tadi.
'Bukan.. Ini bukan salahnya..'
.
.
Aku penasaran siapa Yunho dan hubungan apa yang Yunho dan aku miliki? Tapi aku takut jika aku mengetahui jawaban pertanyaan itu, Yunho akan meninggalkanku. Aku tidak pernah bertanya karena taku akan ditinggal sendirian.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Jaejoong sedang duduk di kursi taman karena tidak tahu harus kemana. "Ah, sudah benar-benar lewat jam malam." Gumamnya.
'Apa Yunho marah ya? Aku bahkan tidak mau memikirkannya.. Terlalu menyeramkan.' Gumamnya dalam hati. Pikiran Jaejoong masih terfokus pada pengakuan Yunho tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
"… Dewa gagak itu juga sebenarnya apa?"gerutunya. Jaejoong teringat pertanyaan Yunho tentang apa Jaejoong takut padanya atau tidak. "Tentu saja aku takut. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya." Pout Jaejoong.
Tiba-tiba Jaejoong teringat ekspresi wajah Yunho ketika mengatakan kalau ia tidak akan menyentuh Jaejoong. "Mungkin aku sudah mengatakan sesuatu yang jahat…"
Menurutnya, Yunho adalah Yunho dan hal tersebut tidak akan pernah berubah. Jaejoong sendiri sebenarnya tahu kalau Yunho tidak akan melukainya atau berniat buruk padanya.
"Permisi." Seseorang menepuk bahu Jaejoong.
"GYAAA!" pekik Jaejoong kaget. Jangankan Jaejoonng, orang yang menepuk bahunya saja juga kaget.
"Oh, maaf, aku hanya kaget saja. Ada apa ya?" Tanya Jaejoong dengan wajah bodohnya. Dia kira hantu yang selama ini diceritakan oleh Yunho akhirnya muncul juga.
"Well, kau tahu, kami sedang kesulitan sekarang. Bisa pinjamkan kamu uang sekarang?" Tanya namja tersebut.
'Hanya tukang palak saja rupanya…'
"Sebaiknya kau memberikan semua yang kau punya jika tidak ingin terluka." Kata seorang temannya dan disambut anggukan dari namja satunya lagi.
"Kau terlihat lemah. Kau kira kau bisa mengalahkan kami jika kau melawan? Tubuhmu kecil sekali~" ejek keduanya dan disambut 4 siku-siku yang muncul di dahi Jaejoong.
"DIAM. Jangan bertingkah sombong jika kalian hanya bisa mencuri dari orang lain, bodoh." Kata Jaejoong menghina keduanya.
"K-Kau!" salah seorang tukang palak tersebut meraih kerah baju Jaejoong dan menariknya. Jaejoong memejamkan matanya, mengambil ancang-ancang untuk meloloskan diri namun tiba-tiba dari belakang ada yang menariknya.
DUUAKKKHHH
Mata Jaejoong membesar sebesar piring melihat pemandangan di depannya. Yunho yang berpakaian serba hitam menendang telak wajah orang yang menarik kerah Jaejoong. Namja tersebut tersungkur dan dengan senyum khasnya, Yunho meminta maaf.
"Astaga, maafkan aku. Kakiku panjang sih…" katanya dengan senyum bercahaya(?)nya.
"Aku tidak bermaksud kasar tapi dalam situasi seperti ini aku berterima kasih atas bentuk tubuh yang menguntungkan ini." Kata Yunho sambil tersenyum senang. Teman namja yang ditendang Yunho tidak terima dan memegang lengan Yunho untuk memukulnya. Namun, sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, …
"Akan kumusnahkan kalian." Ancam Yunho. Mata sipit Yunho yang selalu tertutup karena senyum yang selalu ditampilkannya non-stop terbuka dan menampilkan mata berwarna hijau. Jika manusia biasa memiliki warna putih dan warna hitam atau coklat, mata Yunho berwarna hitam di tempat yang seharusnya berwarna putih.
"GYAAA! MONSTER!" teriaknya sambil lari terbirit-birit.
Yunho membalikkan badannya dan tersenyum pada Jaejoong. "Sekarang, ayo kita pulang." Ajak Yunho.
"Wah, kau ini benar-benar.. Kau membolos, dan melupakan jam malammu. Mau tidak mau aku akan memberikan 2 hukuman padamu. AKu juga sebenarnya tidak mau menghukummu tahu.." kata Yunho sambil mengenggam tangan Jaejoong.
"…. Apa Dewa diperbolehkan berlaku kasar seperti itu?" Tanya Jaejoong.
"Yidak apa-apa.. Itu bisa dikatakan sebagai bentuk hukuman. Mereka berdua orang jahat." Kata Yunho. "Lagipula, mereka tidak mati kan?" Jaejoong tersontak mendengarnya.
Yunho melihatnya dan melepaskan genggaman tangannya. "… Maaf, aku lupa aku janji tidak akan menyentuhmu."
"B-Bukan! Bukan begitu!" Jaejoong memegang lengan Yunho. "Terima kasih sudah menyelamatkanku."
Yunho tersenyum "Sama-sama."
"Oh, a-aku tidak pernah berpikir kalau akan lebih baik jika ku tidak ada di sini. Dan um, bukannya aku tidak menyukaimu, hanya saja kadang-kadang aku mudah kaget dengan..semua ini…"kata Jaejoong.
Yunho terdiam dan tiba-tiba menutup wajahnya seperti sedang menangis. "Aku membesarkanmu dengan perhatian ekstra tapi tiba-tiba kau memperlakukanku dengan dingin seperti kejadian tadi. Kau tidak tahu betapa terlukanya aku."
"M-Maaf.. Yunho, maaf.." kata Jaejoong.
"Apa kau akan intorspeksi diri setelah ini?"
"I-Iya!"
"kalau begitu, apa kamu akan melakukan semua permintaanku?"
"Ok ok aku akan—huh?"
"Benarkah~? Baguslah!" Yunho membuka kedua tangannya dan tersenyum senang.
"Kau hanya berpura-pura?!" teriak Jaejoong histeris.
"Hah… Jaejoong-ah, kau ini manusia. Wajar saja jika kau takut padaku. Ah, mengenai hal yang kau janjikan barusan, kalau kau mau menuruti permintaanku, aku akan memaafkanmu~" kata Yunho.
"Permintaan?"
"Tolong letakkan bibirmu disini." Kata Yunho sambil menunjuk bibirnya sendiri.
"MWOO?!"
"Jangan histeris seperti itu… Kau kan berjanji padaku.. Lagipula, kau tahu? Kekuatanku itu sebenarnya berasal dari ciuman manusia."
"GYAAA! YUNHO KAU GILAAAA~~~~!"
.:THE END:.
Endingnya agak berbeda, tapi that's it guys :D hope you enjoy it.. RNR please~ :3 Maaf ya kalau ada typo… ele setengah tidur ngetiknya soalnya -_- Terima kasih pad ayg sudah memberikan ucapan ultah kepada ele :D ele sayang kalian~ 3
