Tittle: Love me Tender

Universe: AU

Rating: T, enggak ada Lemon tapi akan ada 'lime' di chapter2 berikutnya.

Genre: Romance/Drama/Comedy

Summary: Sakura menikah dengan pria yang selalu dicintainya selama ini. Seharusnya itu membuatnya bahagia, tapi sebuah rahasia membuat pernikahan mereka berubah menjadi komedi yang menyedihkan.

Disclaimer: Naruto punya Kishimoto-sensei

Note: Saya bukan fujoshi, 'slash' yang muncul di cerita ini cuma bagian dari plot. Ratting cerita ini nggak sampai M tapi dianjurkan untuk 16 tahun ke atas.

.

CHAPTER 1
MONKEY DAY

.

Jogging bukanlah aktifitas favoritku, tapi joging adalah aktivitas penting untukku. Menikah dengannya memaksaku untuk menjaga kondisi tubuhku dan bentuk tubuhku sebaik mungkin. Oh, kalian akan tahu alasanku nanti.

Aku berhenti di dekat rumahku dan mengatur nafasku yang tersenggal-senggal. Ternyata joging pagi ini lumayan juga. Aku menuju ke kotak surat sambil mencoba mendinginkan tubuhku. Air... Aku butuh air!

"Uzumaki san!" panggil Tsunade-san mengejutkanku.

Aku menghela nafas sebal. Pagi-pagi bertemu dengan tetangga yang usil bukanlah hal yang menyenangkan. Tsunade-san adalah tetangga sebelah rumahku yang beberapa tahun lebih tua dariku. Aku tidak tahu usia pastinya tapi mungkin ia berumur lebih tua dari kelihatannya.

Aku menoleh ke arahnya. Ia tersenyum ke arahku, di tangannya ada secarik amplop, rupanya ia berniat menyerahkan suratku yang salah alamat ke tempatnya lagi. Entah sudah berapa kali tukang pos salah memasukan surat.

"Lari pagi lagi?" tanyanya dengan senyum lebar di wajahnya. Wanita ini sebenarnya cantik, hanya saja ia terlalu ingin tahu tentang urusanku.

Aku pun mengangguk dan memaksakan untuk tersenyum. Ia berjalan dengan elegannya ke arahku. Sejujurnya, wanita ini cukup mengintimidasiku dengan bentuk tubuh, wajah dan sifatnya. Ia selalu mau tahu tentang apapun yang terjadi di rumahku. Aku cukup maklum sebenarnya mengingat suamiku adalah seorang idola, tapi tetap saja aku tidak terbiasa diperhatikan seperti ini.

Ia menatapku dengan tatapan menilai, "Mana suamimu? Bukankah seharusnya suamimu yang tampan itu menemanimu?" Ia menatapku setengah menggoda, "Kau tahu kan, untuk menjaga sang istri dari tatapan para pria iseng…"

Aku tertawa mendengarnya. Yang benar saja, suamiku mungkin malah ingin agar pria-pria itu melirik dirinya.

"Naru-kun benci joging. Dia lebih memilih gym." Aku berkata dengan hati-hati mengingat wanita di depanku ini sangat menyukai gosip, aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya curiga, "Sebenarnya dia sangat ingin menemaniku, kau tahu, tapi dia tidak bisa bangun pagi," aku menambahkan sambil setengah menyeringai, "Biasa, artis..."

'Yeah, tentu saja. Dia tidak akan mau bangun pagi. Tidur yang cukup akan membantunya menjaga kulit tetap sehat.'

"Ah…" Tsunade-san menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, pipinya memerah dan ia menatapku dengan tatapan nakal, "Tentu saja suamimu tidak bisa bangun pagi," ia tertawa,"Dasar pengantin baru!"

Wajahku memerah.

"Terima kasih untuk suratnya, Tsunade-san!" kataku buru-buru, "Aku harus masuk sekarang."

"Ah, tidak sabar untuk memanjakan suamimu?" Katanya masih dengan senyum nakalnya, "Aku sering mendengar suara-suara berisik dari rumahmu di malam hari." Katanya dan saat ia melihat wajahku yang berubah merah padam ia buru-buru menambahkan, "Jangan khawatir, aku paham kok! Pasangan muda pasti sering melakukannya. Aku dengar meski telah menikah kau masih SMA kan? Suamimu juga masih muda. Bercinta dengan kasar itu cukup wajar untuk kalian." Ia mengibaskan sebelah tangannya sambil tertawa, "Apalagi kalian pengantin baru. Tentu ingin mencoba berbagai macam posisi kan?"

Bercinta dengan berbagai macam… apa?

"Itu pasti suara tikus," kataku mencoba menyembunyikan rasa gugupku, "Banyak tikus di sekitar sini."

'Naruto bodoh! Sekarang semua tetangga pasti berpikir kalau aku maniak seks!'


Aku segera masuk ke rumahku dan menutup pintu dengan kasar.

Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum kemudian berteriak marah, "NARUTO! KEMARI SEGERA! NARUTO UZUMAKI!"

Aku berjalan menuju dapur dengan kesal., menunggu si bodoh sialan itu muncul. Aku mengambil sebotol air mineral dingin di kulkas dan meminum setengahnya tanpa bernafas langsung dari botolnya.

"Apa yang kau inginkan?"

Aku berhenti meneguk minumanku dan menoleh ke arah pintu dapur dimana Naruto tengah berdiri dan menatapku dengan tatapan kesal.

Aku terpana saat melihat ke arahnya. Suamiku tercinta berdiri di ambang pintu sambil menatapku dengan dahi berkerut. Tubuhnya masih setengah basah pertanda bahwa ia tengah mandi saat aku memanggilnya. Rambut pirangnya yg juga basah jatuh menutupi wajahnya dan ia menggunakan sebelah tangannya untuk menyisir rambutnya ke belakang.

Mataku tertumpu pada tubuhnya.

Ya Tuhan! Tubuhnya masih setengah basah dan aku melihat beberapa bulir air mengalir di dadanya ke perutnya yang berotot. Kulitnya sedikit terbakar matahari dan otot-ototnya sempurna. Aku menelan liurku sendiri saat melihat handuk yang melingkar di pinggangnya. 'Apa sih yang dia sembunyikan di sana?'

'Sakura Hentai!' Aku menegur diriku sendiri dalam hati, 'Jangan berpikir macam-macam!'

"Tuan Putri!" Ucapnya sinis, ia melipat kedua lengannya di depan dada, "Mandi itu penting untukku, ingat? Jadi apa yang begitu penting sampai mengganggu kegiatanku?" suaranya lembut tapi kilatan di matanya menyiratkan bahwa ia sangat merasa terganggu, aku tahu itu.

Aku mengangguk seperti idiot sejati dan meneguk air lagi. Aku harus membersihkan otakku dari hal-hal kotor mengenai tubuh suamiku itu.

"Kamu harus belajar menyembunyikan kebiasaanmu itu!" Ujarku mencoba berkonsentrasi tapi mataku lagi-lagi melihat perutnya yang dihiasi otot-otot yang indah, "Tsunade-san mendengarmu—ugh—melakukan kegiatan kotormu itu.."

Aku kesulitan menemukan istilah yang tepat.

Jangan salahkan aku, hal-hal semacam ini bisa membuatku malu. Aku tidak terbiasa dengan… Ah, aku tidak ingin membicarakannya sekarang.

Ia mengusap hidungnya dengan sebelah tangan dan menyandarkan dirinya di ambang pintu. Ia memasang pose seksi—yang mungkin dia sendiri tidak sadari—dan itu membuatku berdebar-debar, "Maksudmu monkey sex-ku?" tanyanya menggodaku.

Aku memerah, tapi bukan sepenuhnya karena kata-katanya yg menggodaku melainkan karena keseksiannya.

Dia pasti salah paham dengan alasanku memerah karena ia lalu berkata, "Kau naïf sekali," Ia tersenyum, "harusnya kau segera mencari orang yang mau bercinta denganmu agar kau tidak lagi memerah hanya karena mendengar kata 'seks', Tuan Putri"

"Aku hanya akan melakukannya dengan orang yang kucintai!"

'Yaitu kau bodoh!' Tambahku dalam hati.

"Aku kenal banyak pria, kau tahu, aku bisa mengatur kencan dengan salah satu dari mereka untukmu..." Katanya serius. Matanya berkilat menyebalkan.

Kenapa aku begitu mencintai mata itu?

"Tidak perlu." Kataku ketus, "Tapi aku serius, Naruto. Kau perlu lebih tenang saat melakukannya. Para tetangga mulai berpikir kalau aku sangat menyukai seks. Kau mungkin tidak peduli, tapi aku peduli!" aku menambahkan dengan marah, aku mengacungkan jari telunjukku untuk menunjukkan kemarahanku, "Bagaimana kalau infotainment tahu dan kemudian meliput, 'Naruto Uzumaki, leader dari grup 'The Ninjas' menikahi seorang maniak seks', kau tidak ingin itu terjadi kan?"

"Ok, ok. Baiklah aku paham. Aku akan lebih hati-hati! Tapi sebagai seorang perawan kau harusnya lebih mencemaskan kehidupan cintamu sendiri." godanya sambil melangkah ke arahku.

Tanpa sadar aku menahan nafasku saat ia semakin mendekat ke arahku. Ia menepuk kepalaku dengan lembut dan kembali ke kamar mandi sambil tertawa.

Lututku terasa lemas. Segera setelah ia meninggalkan dapur dan kembali ke kamar mandi aku terjatuh ke lantai. Astaga...

"Aku butuh air lagi..." gumamku sambil menatap botol kosong di tanganku.

"Hey, Sakura! Sebelum aku lupa, ingat siang ini kau ada janji denganku..." kata Naruto tiba-tiba kembali ke dapur. Aku mendongak menatapnya dan ia menunduk menatapku yang terduduk di lantai. Ia menaikkan sebelah alis dan menatapku dengan bingung, "Apa yang sedang kau lakukan di lantai?"


"Hey!" Inoo melambaikan tangan dan berlari ke arah mobil kami, menyambut kami di depan pintu gerbang sekolah.

"Aku buru-buru. Aku ada syuting dan janji dengan Sasuke sejam lagi. Bye, Sakura..." kata Naruto buru-buru sambil mendorongku ke luar dari dalam mobil.

Aku menjulurkan lidahku padanya dan dia hanya tertawa sambil mengendarai mobilnya menjauh.

"Kemana Naruto pergi, kelihatannya dia buru-buru?" kata Inoo sambil mengawasi mobil sport mewah yang dikendarai suamiku itu menjauh, "Dia bahkan tidak mengucapkan salam padaku."

"Kencan dengan salah satu cowoknya mungkin? Aku benar-benar nggak tahu soal kehidupannya sebagai artis." Kataku masam dan mulai berjalan. Saat aku menoleh pada Inoo yang berjalan di sampingku, ia menunjukkan seringai yang membuatku kesal, "Apa sih?"

"Sudah berapa lama kalian menikah? Satu Tahun? Entah kenapa aku merasa dia sudah nggak benci kamu lagi..." kata Inoo dengan kepolosan yang dibuat-buat, aku tahu ia hanya sedang menggodaku, "Memang apa yang terjadi di antara kalian? Aku ingat tatapan kalian di upacara pernikahan, sepertinya kalian siap menerkam satu sama lain." Ia menambahkan sambil tertawa, "Menerkam dalam arti sesungguhnya tentu saja…"

"Dia berhenti membenciku setelah aku bilang kalau dia boleh membawa cowoknya pulang ke rumah asal dia bilang dulu padaku.." kataku akhirnya setelah menghela nafas panjang.

"Oh, jadi itu kenapa kamu sering sekali menginap di tempatku?" Lalu ia melompat ke depanku dan memaksaku menghentikan langkah, "Tapi kau tahu kan, jauh jauh jauh jauh jauh jauh jauh jauh jauh jauh di dalamnya Naruto masih seorang laki-laki..."

"Ayolah, Inoo! Berapa banyak kata "jauh" yang perlu kau ucapkan?" tanyaku kesal karena teman baikku itu selalu meledekku soal cinta monyet ini, "Ketika aku memutuskan untuk suka sama dia dulu, aku sudah pasrah kalau dia nggak bakal suka sama aku. Jadi temannya sudah cukup untukku."

"Jadi kamu pasrah dan terus menginap di tempatku sementara di rumahmu suamimu sedang bercinta dengan cowoknya?" tanya Inoo entah mengapa terdengar kesal,"Demi Tuhan, Sakura! Ada banyak ikan di laut! Ada banyak cowok yang bisa kamu taksir!"

"Cowok-cowok itu bahkan nggak separuhnya lebih cakep dari cowok-cowok yang ditiduri suamiku! Inoo, aku mencintainya, tapi harga diriku sebagai wanita bersaing dengannya. Dia gay, Inoo. Aku wanita asli, tapi tetap saja cowok-cowok itu lebih tertarik padanya dibandingkan aku!" Kataku nyaris tidak sanggup menahan emosi.

Inoo menangguk paham, "Ya, aku mengerti, pasti berat rasanya bersaing dengan seorang Naruto Uzumaki."

"Yang membuatku sangat kesal," kataku tidak menghiraukan Inoo, "Kenapa para gay itu cakep-cakep tapi tetap saja mereka memilih sesame pria. Bagaimana mereka bisa bereproduksi dan membagikan gen kualitas bagus mereka kalau begitu?"

Inoo tertawa, "Astaga, kau harus mulai kampanye anti homo dari sekarang."

Kami tertawa dan berjalan menuju gedung sekolah kami.


Aku menekan bel pintu sepuluh kali malam itu. Aku marah karena aku harus terjebak di luar rumahku sendiri sementara udara sangat dingin. Aku buru-buru pulang karena aku sudah berjanji pada Naruto dan sekarang aku menunggu dan kedinginan karena si homo bodoh itu tidak juga membukakan pintu untukku.

"Istriku!" kata Naruto terkejut sambil membukakan pintu untukku.

Aku menatapnya tanpa mampu berkata-kata. Alisku terangkat tinggi melihat penampilannya. Nafasnya sedikit terengah-engah, rambutnya tampak acak-acakan, dan bibirnya... Aku tahu ia baru saja berciuman.

Bajunya tidak terkancing, begitu pula celana jeansnya. Berlebihankah kalau aku menamparnya? Aku ingin sekali menampar wajah tampannya itu tapi aku tahu aku tidak punya hak untuk melakukannya.

Meskipun aku istrinya sekalipun.

"Apa yang baru saja kau lakukan?" tanyaku curiga.

"Istriku sayang! Kukira kau akan datang terlambat!" katanya dengan senyum yang menyebalkan, jelas-jelas menghindari pertanyaanku.

"Aku sudah telat dua jam!" Kataku kesal, aku akan melangkah masuk tapi ia menghalangi langkahku dengan tubuhnya. Aku menatap wajahnya dan berkata dengan suara manis yang kubuat-buat, "Suamiku sayang… Kau menghalangi pintunya. Di luar dingin sekali!"

"Ups! Aku tidak sadar." katanya sambil tertawa.

Ada yang aneh.

"Masuk.. Masuk.." katanya sambil menggiringku masuk. Aku menatapnya dengan bingung tapi aku mencoba mengacuhkan perasaan tidak enak yang sejak tadi memenuhi hatiku.

Dan ketika aku sampai di dalam aku terdiam. Di sofa, sambil membenarkan kancing kemejanya, seorang pria tampan lainnya bertubuh ramping namun berotot, berbibir seksi dan bermata besar menatapku tanpa ekspresi.

Astaga... aku belum siap untuk ini.

"Apa kalian melakukannya di sofa?" tanyaku jijik.

Dalam hati aku bersumpah untuk tidak akan duduk di sofa itu lagi.

"Tidakkah dia tampan? Kau belum pernah bertemu dengannya secara langsung, kan?" Naruto berbisik padaku, menghindari pertanyaanku. Lalu dengan suara yang lebih keras ia berkata dengan ceria pada pemuda berambut gelap itu, "Istriku, kenalkan—meskipun kau mungkin sudah pernah dengar tentang dia—ini Sasuke. Sasuke-kun, ini istriku yang sering kuceritakan.."

Aku ingin membakar sofa itu. Eh, tunggu, dia bilang... istri?

"Apa maksudmu?" aku berbisik pada Naruto, tepat saat Sasuke berdiri dan menatapku.

"Ahh… jadi ini istri yang sering diceritakan Naru-chan..."

"Yup, itu aku..." kataku bercanda, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tentang aku, "dan kau tidak keberatan kalau aku menikahi kekasihmu?"

"Sayang," Naruto berkata sambil setengah tertawa, "Dia sudah tahu sejak awal tentang pernikahan kita. Seluruh Jepang sudah tahu kalau aku telah menikah." Lalu ia menepukkan tangannya, "Ok, semuanya, ayo kita makan malam. Aku kelaparan."

Hebat juga, dia masih mau bersama dengan Naruto meskipun ia telah menikah denganku. Aku tidak akan pernah mengerti bagaimana para homo menggunakan otak mereka.

"Tadi kau bilang Naruto sering bercerita tentangku padamu, tapi entah mengapa ia tidak pernah bercerita apapun padaku…" kataku sambil mencoba tetap menyembunyikan rasa cemburuku.

"Itu karena kau tidak peduli sedikit pun tentang kehidupan cintaku. Kau benci mendengar setiap perkembangannya," Naruto mengingatkanku dengan lembut, aku terkejut dengan betapa lembut caranya berbicara denganku.

Apa yang sedang direncanakan pria ini?


"Ngomong-ngomong," kataku sambil mencoba untuk tersenyum pada Sasuke saat kami tengah menyantap makan malam kami, "Aku dengar grup kalian akan mengadakan konser di Tokyo Dome, Sasuke-kun lah yang menyiapakan lagu untuk konser kali ini ya?"

"Ya, begitulah."

"Berapa lagu yang akan kalian nyanyikan?"

"Belum kami tentukan."

Tidak bisakah dia bicara lebih panjang?

"Aku mengerti," kataku canggung lalu terdiam. Harusnya aku tahu pria aneh seperti Naruto akan memilih pria yang aneh sepertinya.

"Ada nasi di dekat bibirmu," suara Sasuke menarik perhatianku kembali.

Aku mengamati kedua pasangan sejenis itu. Naruto mencoba mengelap wajahnya tapi nasi itu masih menempel di pipinya. Sasuke pun menjulurkan tangannya dan menyingkirkan bulir nasi itu dengan lembut. Mereka saling menatap dengan tatapan penuh arti. Aku menggenggam sumpitku erat-erat untuk mencegah air mataku mengalir.

Rupanya Naruto menyadari tatapanku.

"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto terdengar sedikit cemas.

"Yap. Aku cuma sedikit iri, jangan cemaskan aku..."


"Kau mencintainya, Sasuke-kun?"

Itu lebih menyerupai sebuah pernyataan dibandingkan dengan sebuah pertanyaan. Aku dan Sasuke sedang berada di dapur untuk mencuci piring kotor sementara Naruto tengah menerima telepon dari pihak agensinya. Sasuke menatapku dengan matanya yang tajam, lalu tersenyum dengan lembut.

"Yah..."

"Begitu, ya…"

"Apa kau cemburu?"

Aku hampir menjatuhkan gelas yang tengah kupegang, "Tentu tidak. Aku tidak mencintainya seperti yang Sasuke-kun rasakan padanya. Aku mencintainya sebagai seorang kakak. Aku hanya ingin memastikan pria yang dicintainya juga balik mencintainya."

"Benarkah?" tanyanya sambil mendekat ke arahku.

"Kau terlalu posesif padanya," kataku sambil menatapnya. Ia terlalu dekat dan aku sudah siap menamparnya kalau ia mendekat lebih dari ini.

Bagaimana Naruto memilih orang sepertinya dibandingkan dengan diriku? Padahal aku pun mencintainya, mungkin lebih dari apa yang Sasuke rasakan padanya.

"Aku tidak posesif, kaulah yang posesif..."

"Hahaha! Yeah, benar...!" kataku sarkastik, aku mencoba agar tidak terlihat grogi dengan wajahnya sedekat itu.

"Begitu?" bisiknya di telingaku, "Terima kasih telah merestuiku kalau begitu..."

"Hm…" Aku ingin membalasnya tapi lidahku kelu.

Sebuah deham membuat kami terkejut dan segera menjauhkan diri. Naruto berdiri di belakang kami dan menatap kami dengan tatapan aneh. Ia tersneyum, tapi aku merasa takut saat melihat matanya yang menatapku, ia tampak marah dan cemburu.

"Kau tidak perlu cemburu Naru-kun. Aku perempuan! Sasuke-kun tidak tertarik denganku…" kataku bercanda, aku menepuk pundaknya sekilas dan berkata, "Kutinggalkan kalian berdua disini, aku harus belajar untuk ujian besok."

Tidak ada yang menjawab.

Karena sibuk menghapus air mataku sambil berlari ke kamarku di lantai dua, aku tidak sadar bagaimana suamiku menatapku dengan bingung.


Tok! Tok!

"Masuk!" Teriakku pada orang yang mengetuk pintu kamarku.

Aku tahu siapa itu bahkan sebelum ia membuka pintu.

Naruto masuk dan kembali menutup pintu sebelum ia berjalan ke arahku. Ia berhenti tepat di hadapanku yang tengah duduk di depan meja belajarku. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di pundakku.

Dari wajahnya ia kelihatan tengah kesulitan. Ia menatapku dengan tatapan cemas bercampur ragu. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan nafasnya di wajahku.

"Kau sudah selesai belajar?"

"Belum." Kataku canggung.

Aku tidak biasa berada sedekat ini dengannya meskipun kami telah menikah selama setahun. Aku mencoba menjauh darinya, karena aku tahu aku tidak akan bisa berpikir dengan benar kalau ia berada sedekat ini dariku.

"Apa maumu?"

"Istriku," katanya sambil kembali mendekat.

"Ya?" tanyaku tidak sabar.

"Istriku," katanya lagi dengan lembut sambil membelai pundakku dan membuatku lupa untuk bernafas.

"Katakan cepat!" kataku marah. aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.

"Bolehkah Sasuke tinggal di sini bersama kita?"
.

.

Author's Note:

saya bukan fujoshi, dan bukan penggemar YAOI, slash di cerita ini cuma bagian dari plot. Soal penggambaran karakter, saya sama sekali nggak pernah baca atau nonton Naruto jadi nggak ngerti soal karakter mereka. Saya hanya membayangkan saja… Dan karena ini AU, jadi saya harap perwatakan yang saya gunakan tidak terlalu payah. 'orz.

Terima kasih untuk review-reviewnya. Ini adalah fanfic daur ulang dari fanfic yang saya tulis beberapa tahun lalu. Saya sedang belajar menulis dengan bahasa Indonesia jadi masih sedikit kurang disana-sini, but I hope I make a sense.

Thanks for reading it and leave me some review if you have time!

Cherios!

Recchinon