a/n1: ayo siapa yang ada di siniiii? d18 day nggak lama lagi ayo semangat otp manaaa (?)

a/n2: selamat membaca! (ini present-verse)

.


"Ciaossu."

Kyouya mengangkat alisnya, kemudian melirik ke arah jendela dari sudut matanya. Ketika menemukan sosok anak kecil pada pintu jendela ruangannya, bibirnya ditarik ke atas, membentuk sesimpul senyum tipis yang lebar.

"Apa kau ke sini untuk bertarung denganku, akanbou?"

Masih dengan senyum yang setia melekat pada wajah bayi itu, ia menjawab, "kuyakin kau pasti tak menonton berita, jadi aku ke sini untuk memberitahumu bahwa Italia sedang dilanda badai yang kuat. Kau tahu maksudku, kan, Hibari?"

Lalu setelah ia menyelesaikan kalimatnya, ia melompat pergi―entah hilang ke mana. Tak pernah ada yang tahu cara kerja anak kecil itu.

Sedangkan Kyouya? Senyumnya hilang, namun ekspresinya masih sama seperti biasa―datar dengan mata menatap tajam pada setiap objek yang ada. Ia mencerna kembali kalimat yang dituturkan Reborn barusan. Italia?

Ah, ia mengerti.


Bucking Horse and Skylark: Storm and Phonecall

December 13th, 2013 (D-5)

Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira

This is a work of fanfiction, simply written for the purpose of enjoyment and entertainment. I gain no profit from writing this.


Sudah berapa puluh menit ia duduk diam di sana? Bahkan minuman hangatnya telah lama melewati suhu yang pas untuk dikonsumsi. Ia terus memainkan burung kuning kecil yang hinggap pada puncak lututnya. "Hibari! Hibari!" demikian seru burung itu dalam suara tinggi khasnya.

Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, mencoba mengecek kontak yang tersimpan.

Ada dua nama.

'Kusakabe Tetsuya'.

'My Beloved Dino'.

... Tunggu sebentar, sejak kapan nama itu ada di sana? Lebih lagi, apa-apaan nama itu? Ia mengerutkan alisnya, pasti si Haneuma itu yang sembarang menyimpan nomornya pada ponsel Kyouya. Ia akan pastikan si Haneuma mendapat balasan yang sesuai karena telah mengutak-atik ponselnya.

Ia menekan tombol menu dengan cepat, kemudian mengerakkan kursornya ke bawah beberapa kali hingga menemukan tulisan 'hapus'. Ketika ia baru hendak menekan tombol hijau pada ponselnya, ia terdiam sejenak―tampak berpikir.

Kyoya tidak jadi menekan tombol hijau dan malah menekan tombol merah, mengembalikan tampilan layar ponselnya ke layar utama. Ia meletakkan ponselnya di meja tengah ruangannya.

Mungkin ini memang sudah agak terlambat, namun akhirnya ia mengangkat cangkir minumannya dan menyeruput minuman yang sudah dingin itu hingga habis.

Badai, eh?

Ia sungguh tidak tahu bila informasi yang diberikan bayi itu benar mengacu pada si Haneuma atau ia memang hanya sedang diganggu. Kyouya semakin merasa jengkel dan ingin sekali menggigit mati siapapun yang muncul saat ini.

Kautahu ia takkan pernah mengakuinya, namun kau memang benar. Saat ini Kyouya sangat sangat khawatir pada si Haneuma. Apa ia baik-baik saja? Apa ia terluka? Kyouya tahu pria itu sangat kuat, bahkan Kyouya tak dapat mengalahkannya sekalipun dalam sparring hingga pada saat ini. Cambuknya yang tampak lemah selalu saja menang bila tidak berakhir seri.

Ia mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan, mengecek kontak ponselnya lagi. Kemudian meletakkan kursor pada nama 'My Beloved Dino' sebelum menekan tombol hijau dan menempelkannya pada telinga.

Beberapa detik ia mendengarkan bunyi konstan itu, berharap suara itu akan terputus digantikan suara pria itu (yang sesungguhnya ia rindukan).

Lalu tiba-tiba bunyi itu memang terputus, digantikan dengan suara Don Cavallone―

"K-K-K-K-K-K-Kyouya!? Kupikir aku takkan pernah melihat nomor ini pada layar ponselku! Kau tak tahu betapa senangnya aku ketika melihat namamu di sini! Apa kau me―"

―yang pada akhirnya Kyouya putuskan sambungan juga, bahkan sebelum si Cavallone sempat menyelesaikan kalimatnya.

Apanya yang terkena badai, ia bahkan masih semangat dengan omongan panjang tak kunjung berakhirnya. Ah, tapi bila dipikir-pikir lagi, Reborn memang tak pernah mengatakan badai tersebut berhubungan dengan si Haneuma. Ia hanya mengatakan 'di Italia', dan area Italia itu tentu luas.

Ia menyelipkan ponselnya dalam kantong celananya lagi, mengabaikan getaran ponsel yang terus muncul sejak ia memutuskan sambungan itu.

'Yang penting ia baik-baik saja,' bisiknya dalam hati, tak pernah tersuarakan.


a/n3: fjksdhfljksd oke terima kasih sudah membaca! SALAM D18.