Kaisoo
.
.
The story is mine. Only mine. And forever will be mine.
But,
The casts are not belong to me. They have their own life.
.
.
Lady Wu's Present
Red Rose
.
.
Kehidupan pernikahan yang hampir memasuki tahun ke enam, dan dengan pengenalan awal selama tiga bulan, selama itu pula Kyungsoo tahu bahwa Jongin selalu suka melakukan sesuatu sesuai kehendaknya walaupun Kyungsoo melarang dengan keras. Jongin akan terus memaksa Kyungsoo agar keinginannya tercapai. Tak peduli Kyungsoo yang menolak dan berteriak histeris sampai suara habis, Jongin akan terus memperjuangkan keinginannya hingga tercapai.
Dan dari dulu sampai sekarang, Kyungsoo juga tahu bahwa Jongin sangatlah kekanak-kanakkan.
"Bagaimana? Lucu, bukan?"
Kyungsoo mendelik tajam. "Keluar."
Dengan cepat Jongin merubah raut wajahnya. Mengeluarkan wajah memelas dan meminta pengabulan. "Dia sangatlah menggemaskan."
"Keluar." Kyungsoo berdesis pelan.
"Sayaang.." Jongin mulai bersikap seperti balita kecil berumur tiga tahun.
"Jangan kira aku akan mengabulkan ide sialanmu itu." Ia menatap Jongin tajam. "Bawa dia keluar. Dan buang dia."
"Aku suka dia."
"Aku tak peduli!"
"Sayang, dia lucuuu."
"Lucu setelah dia menyabotase seluruh isi apartementku. Lucu setelah dia menghancurkan seluruh ruangan diapartmentku. Lucu setelah dia membuang kotorannya disofaku. Lucu setelah dia mengacak-acak apartmentku."
Jongin mengernit bingung. "Sayang, dia belum menyentuh apapun. Kami baru tiba"
"Itu bayangan gilaku tentang anjing sialan itu. Nanti setelah dia tinggal disini dan kau membiarkannya hidup bersamaku, pada akhirnya dia akan menghancurkan isi apartementku!" Kyungsoo mengerang marah.
Mendengar Kyungsoo yang berkata begitu membuat bibir Jongin terkulum manis. "Sayang," Panggilnya lembut sembari mengangkatnya tepat dihadapan Kyungsoo. Seekor hewan kecil berbulu coklat lembut. "Jjanggu masih kecil dan menggemaskan."
"Jjanggu?" Kyungsoo menatapnya tak percaya.
Dengan bangga pula Jongin mengangguk yakin. Ia melangkah masuk kedalam dan meletakkan anjing itu diatas sofa. Gonggongan kecilnya menyadarkan Kyungsoo yang masih terdiam di pintu.
"Keluarkan dia dari apartmentku!" Kyungsoo mulai berteriak marah.
"Apartment kita" Jongin menyela cepat.
Kyungsoo berdecih. Ia melangkah murka menjauhi pintu hendak masuk kedalam kamarnya dan membiarkan Jongin berdua dengan anjing sialannya itu. Tapi sebelum itu terjadi, sahutan Jongin mengubah segalanya.
"Oh, ya ampun. Sayang, dia pipis. Bagaimana ini?"
"JONGIN!"
.
.
Kyungsoo membuka mata secara perlahan. Jemarinya telah meraba kesisi sampingnya tapi tak menemukan siapapun. Seseorang yang semalam tidur disampingnya pergi entah kemana. Ia mulai menggerakkan kedua bola matanya melihat jam dinding yang bergantungan. 04:50 a.m. Dan Kyungsoo menghela pelan.
Kyungsoo mulai mengangkat diri dan duduk bersandar pada ranjang. Kepalanya menunduk, tangannya digerakkan untuk menumpu kepalanya sendiri. Diurutnya perlahan-lahan keningnya yang berdenyut, lalu menghela lebih keras. Ia menarik udara kemudian menghembuskannya. Beberapa hari terakhir ia merasa sangat lelah.
Sedetik Kyungsoo menoleh ke sampingnya yang tak ada siapapun, namun tak berlangsung lama ia mengalihkan kepala dengan cepat. Ada sebuah kertas merah kecil diatas meja nakas, beberapa deretan kalimat didalam sana menarik perhatiannya hingga Kyungsoo mengambilnya dan mulai membaca.
Ia terdiam beberapa detik dan mendengus. Tersenyum meremehkan, "Bukankah memang selalu seperti ini?"
Kyungsoo bangkit. Ia berjalan keluar kamar sembari menyanggul rambutnya keatas hingga berbentuk bulatan cepol. Jemarinya meremas kertas yang masih berada disaku baju tidurnya lalu dibuangnya sembarangan.
'Aku ada jadwal, kau tahu 'kan? Kris baru saja menghubungiku dan kami akan pergi bersama. Kali ini akan memakan waktu yang sangat lama. Aku akan menelfonmu nanti seperti biasa. Jaga kesehatanmu, sayang. Aku mencintaimu.'
Your love,
Kim Jongin
.
.
Hal yang Kyungsoo benci hari ini adalah gonggongan keras diapartmentnya. Sejak ia membersihkan diri dan tengah bersiap untuk ke tokonya, anjing kecil itu terus menerus menggonggong tanpa etika. Jjanggu terus menerus meneror Kyungsoo, mengikuti Kyungsoo bahkan sampai ke kamar mandi sekalipun dan puncaknya saat ini, anjing kecil tersebut mencakar-cakar kakinya yang terbalut celana jeans menggunakan tangan-tangan kecil itu. Bagaimana Kyungsoo akan pergi dengan tenang setelah ini?
"Oh, ayolah. Aku harus ke tokoku anjing sialan." Umpatnya. Kyungsoo menggerak-gerakkan kakinya sendiri, mendorong Jjanggu agar menjauh darinya tapi sialnya lagi anjing itu kembali dan mengganggu Kyungsoo dengan kuku-kuku kecilnya.
Kyungsoo mengerang kasar. Ia mulai berkacak pinggang. "Aku bukan tuanmu!"
Jjanggu mendongak, ia menatap Kyungsoo iba. Lidahnya terjulur keluar dan mulai duduk dengan rapi tanpa memutuskan kontak mata diantara mereka. Lama mereka bersitatap hingga pada akhirnya Kyungsoo mengangkat tubuh kecil tersebut ke dalam dekapannya.
Dengan menggerutu sepanjang langkah, Kyungsoo membuka pintu apartment dan menguncinya kasar. Ia berjalan kesal sembari merogoh saku celana guna meraih ponsel. Mencari nama seseorang lalu menghubunginya,
"Aku ada urusan yang tak penting tapi penting." Katanya ketika telfonnya tersambung tanpa mengucapkan salam. "Mana kutahu artinya. Kau fikir saja sendiri." Ucapnya lagi.
Kyungsoo menekan tombol lift, dan masuk kedalam kotak persegi tersebut ketika terbuka. "Aku tak akan pergi ke toko hari ini. Bisakah kau pergi sekarang? Baekhyun dan Luhan kurasa sudah menunggu diluar."
Sejenak ia memperbaiki posisi anjing kecil itu, matanya melirik tajam. "Maafkan aku yang menggangu tidurmu, tuan Oh Sehun. Tapi kau juga berkerja ditokoku. Dan sayangnya lagi kau memiliki kunci cadangan itu. Jadi, pergi sekarang. Jangan biarkan dua gadis itu menung... AKU TAK MENERIMA ALASAN APAPUN, BODOH!"
Dengan kasar Kyungsoo mematikan panggilan, lalu mendengus keras. "Terpujilah aku hari ini"
.
.
"Jadi, lihatlah sekarang." Katanya. "Si anjing lucu yang kelaparan dan aku menungguinya makan. Apa kau begitu menyukainya? Aku merasa diabaikan."
Baru saja Kyungsoo selesai membeli beberapa keperluan untuk anjing kecil itu. Tali ikatnya, tempat tidur kecil untuknya, mangkuk makanan, beberapa bungkus kotak makan, bahkan Kyungsoo juga membeli aksesoris untuk leher anjing kecil itu. Kalung platinum berbandul bola kerincing. Bola tersebut selalu berbunyi ketika Jjanggu berjalan.
Kyungsoo memeluk kedua kakinya. "Apa kau makannya masih lama? Berapa lama lagi aku harus menunggumu makan?" Jemarinya bergerak menyentuh kepala mungil yang terus bergoyang mengunyah makanannya dimangkuk berwarna hijau tua.
Mereka bersantai dibawah pohon dipinggir jalan. Duduk berdua guna menunggu Jjanggu menyelesaikan makannya. Kyungsoo tak keberatan dengan pandangan remeh orang berlalu lalang padanya. Ia menganggap tatapan itu sebagai angin lalu. Apa salahnya duduk dibawah pohon hanya demi menunggui seekor anjing makan? Akan lebih repot jika Kyungsoo membawanya ke apartement dan jika Jjanggu mati ditengah jalan karena kelaparan sebelum tiba bagaimana? Jongin pasti akan membunuhnya.
"Dia membawamu, lagi." Kyungsoo menumpukan dagu diatas lututnya sendiri. "Aku tahu maksudnya agar aku tak kesepian. Tapi caranya salah. Ini bukan yang ku mau." Jemarinya bergerak mengelus bulu-bulu lembut itu. "Dan sialnya aku tak bisa menolak."
Jongin selalu melakukannya. Mengirim hewan peliharaan untuk menemani Kyungsoo, lalu lelaki itu pergi. Berkali-kali seperti ini. Menghilang sepagi tadi bukanlah hal baru untuk Kyungsoo. Ia terbiasa. Dan selalu terbiasa.
"Heii Jjanggu.." Kyungsoo tersenyum, lembut. "Mari kita saling mengenal."
.
.
Setelah ini aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi kita selalu bersama selamanya, 'kan? -Kyungsoo-
12 Februari 2015
.
.
This is my first time to published a story on this fandom. I never thought that i would do it because i didn't have enough courage. So, i hope you all like my story. And please leave a review that would make me more courage to write the next stories.
I'm sorry for not writing this important thing. This is a Genderswitch story. Seriously, i really forgot it. Thanks for reminding me, guys.
Dan terimakasih juga untuk yang ngereview Big thanks for you all. Aku kira gak bakal ada yang suka ahaha. Btw, Chapter satu dan duanya memang sedikit karena baru pengenalan. Dan oh ya, di setiap chapter ada potongan-potongan yang bisa dijadiin penguat chapter terakhir. Jadi semoga bisa bener-bener memahami per chapternya ya biar gak bingung.
Heii, guys, Menurut kalian, kenapa Jongin ngebawa Jjanggu untuk nemenin Kyungsoo diapartment? Jjanggu juga ikut andil dalam inti permasalahan lho. Hihihi, Ada yang tahu? Ada yang bisa nebak?
Last, mind to review?
And Hi, salam kenal.
Love ya,
A fanfiction by Me,
Lady Wu
