AUTHOR: Itami Shinjiru
DISCLAIMER: FAIRY TAIL by Hiro Mashima. Sedikit bumbu dari Rick Riordan, Herodotus, Plato, dan filsuf-filsuf Yunani lainnya
WARNING: Alternate Reality. Maybe contains some OOC, Typographical Error, and many more
GENRE: Fantasy, Adventure, Supranatural
.
.
.
The power is not valuable anymore if you use it to hurt anyone
(Kekuatan takkan lagi berharga ketika kau menggunakannya untuk melukai orang)
.
.
FAIRYTAIL : THE HEART OF OLYMPIANS
Chapter Two
Fire Meets Ice!
GRAY SEDANG KETAGIHAN MEMBANTAI MONSTER.
Lusa, dia menghabisi seekor empousa yang menyatroni ternak-ternak milik seorang petani di desa. Petani tersebut menghadiahinya beberapa drachma, cukup untuk menyambung hidupnya selama beberapa hari ke depan. Kemarin, Gray mengusir burung-burung Stymphalian, burung-burung ganas sebesar merpati dengan paruh dan cakar perunggu yang dapat mencabik-cabik daging dan tendon. Secara teknis, mereka adalah piranha udara yang tak kenal lelah memburu mangsa. Gray bisa melakukannya semata-mata karena ... yah, kita lihat saja. Dia punya kelebihan.
Biar kutebak, katamu. Orang bernama Gray ini pasti seorang mage juga!
Benar.
Gray penasaran monster macam apa yang bakal dia hadapi hari ini, setelah dia terus berjalan ke arah baratdaya dari kampung tempat tinggalnya. Dia sudah empat bulan lulus dari akademi mage milik seorang guru ternama bernama Ur. Gray memutuskan untuk hidup mengembara, mencari kebenaran sendiri, sekaligus berupaya mencabiki monster macam apa saja yang berniat buruk pada manusia, terlebih mereka yang bukan mage. Kedengarannya tidak buruk, meskipun Ur beranggapan dia akan mati sebaik-baiknya dua atau tiga tahun jika terus-terusan melakukan pekerjaan solo seperti itu. Gray tidak peduli.
Dari jarak sejauh ini, dia mendengar suara raungan. Gray kenal suara itu. Akademi pelatihannya memiliki beberapa harimau salju untuk membantu pelacakan, pelaksanaan misi, atau sekedar teman bermain lempar-tangkap tulang musuh. Suara ini tidak jauh berbeda dari itu.
"Yang di depan itu singa," desis Gray. "Pasti singa."
Ia berlari tepat ke sumber suara. Tak lama berselang, dia mendengar suara lain. Suara yang ini amat berbeda dibanding raungan sebelumnya—lebih mirip suara binatang-binatang yang diselamatkannya ketika seekor empousa berusaha mencabik-cabik mereka.
"Kambing?" gumamnya. "Mungkin singa itu sedang memburu kambing?" dia mempercepat larinya. Samar-samar, terdengar suara seorang gadis. Apa monster itu sedang memburu gadis?
"Oh, ya," Gray berceloteh sendiri. "Mungkin singa itu memburu kambing yang dijaga oleh seorang gadis penggembala! Itu masuk akal!"
Ia menyibak semak-semak, makin dekat ke tujuan. Tak lama, pilar api berkobar ke udara, substansi panas berwarna kuning keputihan yang mendorong udara dan memanaskannya ratusan derajat. Gray menggelosor ke bawah, sebab monster itu tampaknya berada di dasar tebing. Ia bersembunyi dibalik semak-semak, mendengarkan.
AAUUUMM!
Suara singa lagi.
MBEEKK!
"Suara kambing," gumam lelaki berambut hitam itu. "Dan ada suara seorang perempuan juga. Pasti ini gadis gembala yang diserang singa! Tapi dari mana api tadi berasal? Apa gadis penggembala itu juga seorang mage?"
Kemudian, ia mendengar suara lain, yang berbeda dibanding ketiga suara sebelumnya. Nada mendesis naik-turun agresif, yang tidak mungkin salah dikenali.
"Ular?" Gray mulai mempertimbangkan lagi pemikirannya. "Peduli amat." Dia melompat, menerjang, meneriakkan pekikan perang, tapi begitu dia mendarat, dia tahu prediksinya salah. Ur memang benar. Gurunya kerap kali meledeknya karena Gray payah dalam menganalisa situasi dari bunyi. Mendengar seratus kali memang nggak sebanding dengan melihat sekali.
Pertama-tama, Gray terpaku pada si gadis. Dia mengenakan mantel bulu berwarna biru tua, topi musim dingin, dan seabrek peralatan lain khas musim dingin yang kini mulai berasap. Gadis berkulit putih agak pucat itu menatapnya dengan iris mata sebiru pakaiannya, setengah terkejut, setengah bingung. Di hadapannya, berdirilah monster paling aneh yang pernah dilihat pemuda itu. Gray mafhum kenapa dia mendengar suara dari singa, kambing, dan ular ... pada dasarnya karena bina—monster itu adalah perpaduan dari ketiganya.
Secara keseluruhan, tubuhnya adalah seekor singa—kucing sebesar truk berpenampilan garang, dan di tengkuknya tumbuh kepala dan leher dari seekor kambing jantan bertanduk raksasa. Bulu-bulu si singa berpadu dengan bulu-bulu kumal si kambing, dan dia punya kaki belakang berkuku alih-alih cakar. Di ekornya, pantatnya bersisik dengan pola belah ketupat, dan di ujungnya menggantunglah setengah tubuh ular sebesar paha Gray, taringnya menetes-neteskan bisa.
"Waw, Non," ucap Gray, "kau nggak semestinya berkelahi lawan monster seperti ini sendirian."
Gadis itu tidak menjawab. Ia masih menatap Gray dengan pandangan yang sulit lelaki itu artikan. Apa dia minta makanan?
"G-ganteng," gumam gadis itu. "WAAA! GANTENG!"
Gray sewot. "Itu bukan reaksi lumrah saat kau sedang dalam bahaya," desisnya. Ia melirik monster, itu, yang kini mengambil ancang-ancang, lantas menerkamnya dengan momentum setara seekor singa raksasa seberat ratusan kilo.
"Hmph," decih Gray. Ia berguling ke samping, si singa menubruk sebuah batu, lantas mengaum marah. Ekor ularnya meludahkan cairan berbisa. Si singa menunduk, alhasil menampakkan kepala kambingnya, dan tanpa tanda-tanda langsung menyemburkan api. Gray melompat guling ke belakang, menghindari api.
"Itu Chimaera!" seru si gadis. Tampaknya pikirannya telah kembali normal. "Perpaduan antara seekor singa, kambing, dan ular berbisa! Kau tidak bisa mendekat tanpa terbakar!"
Gray mengertakkan jemarinya. "Api, ya? Kalau cuma itu sih, nggak masalah."
Chimaera itu mengeluarkan suara auman, embikan, dan desisan sekaligus. Kepala kambingnya kembali menyemburkan api. Gray merembeskan Ethernano dari kedua tangannya, dalam sekejap membuat suhu udara di sekitarnya anjlok beberapa puluh derajat.
"Ice Make Shield!"
KRAAKK!
Api Chimaera diblok oleh dinding es tebal, yang kini beruap banyak karena berusaha menahan panasnya api. Gray mundur selangkah, lantas melompat melampaui ketinggian perisai esnya sendiri, dan membuat benda lain dari Ethernano-nya.
"Ice Make Hammer!"
Ia memukulkan palunya tepat ke kepala kambing. Chimaera menggerung, mundur, dan berputar. Buntut ularnya berusaha menyambar kaki Gray, tapi pemuda itu berhasil jatuh tanpa tergigit. Si ular meliuk dan menyemburkan bisa. Gray mundur ke balik perisai esnya dan mendorongnya, pecah berkeping-keping saat membentur kepala singa Chimaera, tapi monster itu terhuyung-huyung. Gray menggebuk mocong Chimaera dengan palu esnya, kemudian memukul dadanya, membuat monster itu merangsek hingga menabrak sebuah pohon.
"Bagus sekali!" seru si gadis.
"Dia monster yang merepotkan," komentar Gray. "Omong-omong, siapa namamu dan untuk apa kau di sini?"
"Juvia," sambarnya cepat. "Juvia kemari untuk melaksanakan permintaan. Sebuah misi. Ada yang bilang misi itu adalah menyingkirkan monster berelemen api. Juvia punya elemen air, jadi Juvia pikir ini pekerjaan yang tepat, tapi ..."
"Mereka nggak bilang monsternya adalah Chimaera," tebak Gray.
"Cowok es ganteng memang jago!"
"Namaku Gray," ralat pemuda itu. "Gray Fullbuster. Panggil saja Gray."
"Gray-sama, ayo kita basmi Chimaera itu bersama-sama!"
GRAAAWW!
Monster itu bangkit, kali ini lebih marah dibanding sebelumnya. Air liurnya menetes baik dari kepala singa maupun kambingnya, dan keduanya menyemburkan api, meledakkan tanah, melemparkan dua mage itu beberapa meter ke belakang. Ekor ularnya meliuk ke udara, meludahkan lebih banyak racun yang segera membuat rerumputan layu.
"Kau punya elemen air?" selidik Gray. "Sekarang saatnya memberi makhluk itu pelajaran!"
"Baik, Gray-sama!"
"Jangan panggil aku seperti itu!"
Neptune: Kanoni nerou
"Neptunus: Water Cannon!"
BUM—BUM—BUM!
Selusin bola air padat menghajar Chimaera. Selagi bulunya basah, dia kelihatannya tidak suka menyemburkan api. Gray segera menyusul. Ia mengumpulkan Ethernano.
Alcyoneus: Aichmes Pago
"Alcyoneus: Ice Spikes!"
DRAK!
DRAK!
DRAK!
Belasan duri-duri es setinggi rumah memagari dan menusuk-nusuk perut monster blasteran tiga binatang buas itu. Chimaera mengaum dan menyemburkan api, tapi dagu singanya terhantam salah satu duri es. Ekor ularnya tergores di sana-sini karena hantaman duri, dan bahu serta perut dan dada monster itu mulai tersayat, meskipun lukanya sekilas tidak tampak berarti. Makhluk itu mengaum dahsyat, suara singa bercampur kambing dan desisan ular marah. Chimaera menyemburkan pilar api, melelehkan duri-duri es. Ekor ularnya terangkat dan menyemprotkan bisa. Gray melindungi dirinya dan Juvia dengan dinding es, yang segera pecah ditabrak monster itu, yang mengayunkan kedua kaki depan bercakarnya secara acak. Salah satu cakar singa mengenai perutnya.
Gray mundur sambil mengaduh. Chimaera menyemburkan api, tapi dinding air menghalanginya.
"Gray-sama terluka!" seru Juvia panik. "Juvia harus apa? Apa sedikit pelukan bisa membantu?"
"Atasi monster itu!"
"Oke!"
Chimaera mengembik, menubruk ke depan, tapi Juvia memutarnya dalam pusaran air dan membantingnya ke sisa-sisa pecahan es Gray.
"Neptune: Kofti nerou"
"Neptunus: Water Slicer!"
Kedua kaki depan Chimaera terpotong. Monster itu menggerung, ekor ularnya menembakkan bisa, melubangi pakaian bagian lengan atas Juvia. Ia menyemburkan api.
"Tidak!" Gray berseru, meskipun gadis itu tampaknya baik-baik saja, sebab entah kenapa tubuhnya bisa berubah menjadi air. Tapi tetap saja, bisa itu melukainya. Tangannya jelas-jelas melepuh. Dia takkan bisa menyerang sebagus yang tadi. Chimaera menyeruduk dengan kepala kambingnya, merangsekkan Juvia hingga membentur sebuah batu besar.
Gray berusaha bangkit, mengabaikan rasa sakit lukanya. Ia melepas pakaiannya, yang hanya dilakukannya jika ia sedang serius. "Beraninya kau!" ia melompat ke sebuah batu dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke monster tersebut.
Alcyoneus: Tripani pagou
"Alcyoneus: Ice Drill!"
Bor es raksasa berpusing dengan kecepatan penuh ke punggung Chimaera, merobek kepala kambingnya dan menembus punggung, membekukan lukanya. Gray menembakkan lusinan tombak es dari udara, otomatis menguras banyak Ethernano lagi, tapi dia tidak peduli. Monster itu sudah melukai orang—dan pasti ini bukan kali pertama. Tombak-tombak es melukai si monster, dan tak lama, dia ambruk ke tanah dan berubah menjadi debu keemasan. Buyar.
"Juvia!" seru Gray. "Kau tak apa? Kau bisa ... Ethernano air?"
Wajah Juvia merona. "J-Juvia menguasai Ethernano Neptunus," jelasnya terbata, "versi Romawi dari Poseidon. D-dewa air."
"Bagus," Gray memaksakan diri tersenyum seikhlasnya. "Aku menguasai Ethernano Alcyoneus, ras raksasa."
"Gray-sama keren," gumam Juvia. "Anu ... kemampuan bertarung yang sangat mengesankan! Gray-sama berasal dari mana?"
"Perguruan di utara," jawab Gray. "Sebagian kecil kekuatanku berasal dari guruku, Ur. Dia memiliki Ethernano Khione, dewi salju dan es. Ur juga memiliki kemampuan spesial di mana dia bisa mentransfer konsep kekuatannya pada murid-murid yang dipilihnya. Termasuk aku, hanya dua orang yang dipilihnya untuk transfer kekuatan Khione. Dan karena aku memiliki Ethernano Alcyoneus, raksasa tertua yang mengendalikan substansi padat, aku juga bisa mengendalikan es."
Juvia tercenung. Air dan es, pikirnya. Air dan es. Pasangan yang serasi!
"Juvia, wajahmu memerah," selidik Gray. "Apa kau sakit? Racunnya?"
WAH, IYA! Juvia panik dalam hati. Juvia sering melupakan sesuatu kalau sedang kasmaran! Racunnya—semua ini gara-gara lelaki es ini! Ehhh ... tapi dia tidak hanya ganteng, dia pintar juga! Akh, bagaimana ini?
"Kita harus mengobatimu. Apa rumahmu tak jauh dari sini?"
"Oh!" Juvia menyentak. "Gray-sama, ikutlah denganku ke FairyTail!"
"Ke mana?"
"Guild mage seperti kita!" serunya. "Gray-sama pengelana? Pasti akan bagus kalau punya tempat bertandang. FairyTail berada di Magnolia. Tidak begitu jauh dari sini. Juvia bisa ... Juvia bisa mengantarkan Gray-sama sampai sana dengan selamat dan kita akan hidup bahagia!"
Gray menggaruk kepala. Setelah berbulan-bulan menyendiri, mungkin bergabung dengan sebuah guild mage tidak ada salahnya. Lagipula, dia tidak mengindahkan kata gurunya tentang berapa lama kira-kira dia bisa bertahan hidup secara solo sebelum mati di tangan monster. Bukan kebetulan dia mendengar suara Chimaera dan bertemu dengan seorang gadis mage dari guild tertentu.
"Baiklah," putusnya, "kedengarannya menarik. Tapi sebelum itu, bayarannya harus diambil dulu. Aku perlu pakaian baru. Cakar singa tadi merusaknya."
"Ah, tapi Gray-sama lebih keren tanpa baju!"
"KAU PIKIR AKU MAU KELILING KOTA BERTELANJANG DADA, HAH?"
.
.
.
.
MAGNOLIA
.
"Bagaimana jalan-jalan barengnya, Gray-sama?"
"Akan lebih bagus kalau kau segera mengantarku ke guild yang kau maksud! Sudah dua jam kita berputar-putar di kota ini!"
"Itu! Itu yang Juvia maksud!" gadis itu menuding sebuah bangunan besar yang mencolok, terletak agak terpisah dari perumahan, dengan puncak berupa kubah berwarna emas dengan bendera berbentuk mirip ... sayap dan ekor, mungkin? Atapnya terbuat dari genting sirap berwarna jingga kemerahan, secara keseluruhan bangunan tersebut tampak seperti perpaduan antara bar, tempat ibadah, toko, dan losmen. Dari jarak beberapa ratus meter saja, Gray sudah bisa merasakan aroma kental khas Ethernano. Berapa banyak mage yang bisa ditampung guild itu? Makin dekat, ia membaca tulisan besar di atas pintu.
'FAIRYTAIL'
"FairyTail ..." baca Gray, "umm ... terjemahannya ... Ekor Peri? Kenapa guild mage dinamai seperti itu?"
"Juvia tidak tahu," gadis itu menggeleng, rambutnya yang biru bergelombang ikut bergoyang. "Juvia baru bergabung dengan guild ini sebulan lalu."
Mereka masuk, dan langsung disambut dengan wajah-wajah baru. Mungkin Juvia dan Gray masuk pada saat yang tidak begitu tepat, sebab mereka seperti kelihatan sedang mengadakan semacam perkumpulan dadakan untuk ... anggota baru? Gray bisa menerkanya. Di depan meja terpanjang, duduklah seorang kakek cebol beruban, dengan alis lebat, dahi berkerut, dan ekspresi menyebalkan permanen. Di depan si kakek, terdapat seorang pemuda berambut pink jabrik dan sehelai syal putih kotak-kotak terkalung di lehernya. Bersamanya, juga ada seorang gadis berambut pirang sepunggung, dan satu gadis lagi, berambut merah dan mengenakan baju zirah. Di dekat mereka ... ada seekor ... kucing biru?
"Juvia," sapa seorang perempuan pelayan. "Sudah selesai pekerjaannya? Apa monster itu cocok untukmu?"
"Mirajane-san," balas Juvia, "monster itu Chimaera!"
Delapan puluh lima persen mage yang mendengarnya memalingkan kepala ke sumber suara. Mirajane menaikkan satu alis. "Chimaera katamu? Monster yang disebutkan di permintaan itu cuma dikarakteristikkan sebagai monster penyembur api ... meskipun iya sih, Chimaera itu penyembur api! Ya ampun, syukurlah kau selamat menghadapi monster tipe berbahaya seperti itu. Dan ... siapa pemuda ini?"
"Anu, ini Gray Fullbuster-sama! Dia yang membantu Juvia membereskan Chimaera! Ya! Dia pahlawannya! Dia punya Ethernano Alcyoneus yang juga ditambah oleh Ethernano Khione dari gurunya di perguruan utara! Dia penguasa elemen es yang hebat dan keren!"
"Aku kagum kau mengingat semuanya dengan sekali dengar," cetus Gray. "Tapi ya, itu aku. Aku ingin bergabung dalam serikat mage ini. Guild FairyTail sepertinya tempat yang menjanjikan."
"Bergabung, katamu? Tidak bisa! Aku sudah diklaim oleh mereka lebih dulu!"
Gray melirik si pembicara. Dari pandangan sekilas, dia menyimpulkan lelaki ini baru saja terlunta-lunta di bengkel reparasi selama seminggu. Pakaiannya relatif kotor, bernoda jelaga api, dan dia juga sedikit berbau gosong. Apa dia juga baru saja melawan monster pemilik elemen api? Dan yang terbang di dekatnya ... tunggu, kucing itu punya sayap?
"Maaf," kata Gray sinis, "apa aku mengenalmu?"
Pemuda berambut merah jambu itu menunjuk dadanya dengan jempol kanannya. "Natsu Dragneel! Mage Hephaestus!"
Gray menyeringai. "Gray Fullbuster. Mage Alcyoneus!"
"Alcyoneus," Natsu mengusap-usap dagunya. "Nggak pernah dengar."
Gray mendecih. "Dengar ya, Natsu. Aku tidak mau menimbulkan kesan buruk untuk para anggota guild pada perjumpaan pertama, tapi kau membuatku panas saja. Ini pelajaran juga buatmu, jangan sampai menunjukkan sikap tidak sopan saat pertama kali kau direkrut oleh sebuah guild!"
"Aku nggak butuh nasihatmu!" ujar Natsu tak acuh. "Yang jelas, aku sudah datang lebih dulu ke FairyTail."
"Guild ini bisa menerima banyak anggota!" tentang Gray. "Dua tambahan jelas bukan masalah! Aku yakin," ia mengedarkan pandangan berkeliling, mencoba mencari mage yang mendukungnya—selain Juvia.
Erza mengangguk. "Dua anggota baru dalam sehari sepertinya bukan masalah. Lagipula, mereka kelihatannya kuat-kuat. Hephaestus adalah salah satu dari 12 Olympia utama, sedangkan Alcyoneus adalah raksasa tertua, pengendali substansi padat, lawan dari Pluto—atau Hades. Kurasa nggak ada salahnya kita terima mereka. Bagaimana, Master?"
Kakek cebol itu mengelus-elus dagunya. "Hmm ... dua mage kuat dalam sehari."
"Iya," timpal Lucy. "Bukankah itu bisa menaikkan reputasi FairyTail juga?"
"Jangan, Master!" seru Natsu. "Dia cuma akan memperburuk reputasi guild! Terima aku saja! Aku bisa menyelesaikan seratus pekerjaan dalam seminggu!"
"Omong kosong!" bantah Gray. "Dialah yang akan memperburuk reputasi guild! Baunya saja seperti orang-orangan sawah gosong!"
"Kau tidak berhak bicara soal bau, dasar Preman Mesum!"
"Preman mesum dari man—WAAA! Sejak kapan aku melepas bajuku?!"
"Kyaaa! Gray-sama hot!"
"Pokoknya aku yang akan maju!" Natsu mengobarkan api. "Happy, kau di pihakku, kan?"
"Aye Sir!"
"Tidak bisa! Lihat penampilanmu! Kau lebih mirip berandal pembakar daripada seorang mage dari guild tersohor!"
"SUDAH KUPUTUSKAN!" Dua tinju raksasa menggepengkan Natsu dan Gray, menginterupsi perdebatan mereka. Sang master mendehem, menegakkan punggung, dan berteriak. "MEREKA BERDUA HARUS BERTARUNG! YANG MENANG AKAN DIREKRUT OLEH FAIRYTAIL! SEKIAN KEPUTUSANKU! PERTARUNGAN AKAN DIADAKAN BESOK DI POHON KERAMAT BELAKANG GUILD!"
"APA?" raung Gray.
"Sempurna!" sambut Natsu. "Ayo, Preman Mesum! Kita buktikan siapa yang terkuat! Aku tidak akan kalah!"
"Aye Sir! Waktunya latihan!" sambung Happy.
"Ah, nggak perlu," Natsu mengepalkan tinjunya. "Aku nggak perlu berlatih sedetik pun untuk mengalahkan orang telanjang macam dia! Kalau kulepas celananya, dia pasti kalah juga!"
Gray mengertakkan gigi. Baru kali ini dia menjumpai orang selancang ini dalam hidupnya. "Aku akan membuatmu menyesal mengatakan itu, Natsu Dragneel. Akan kubuat kau bertekuk lutut di hadapanku!"
.
.
.
.
.
To be continued
Author Note:
Kyaa! Chapter 2 selesai. Nah, akhirnya kita melihat Gray Fullbuster di sini, hahaha. Seperti apakah pertarungan Natsu dan Gray? Siapa yang akan diterima di guild mage FairyTail? Nantikan kelanjutannya di chapter depan!
-Itami Shinjiru-
