Hubungan saling membutuhkan memaksa mereka untuk saling memanfaatkan. Namun, siapa sangka hubungan itu akan terus berlanjut ketika kebutuhan lain memaksa mereka untuk terus bersama. Akankah percikan bernama cinta benar-benar singgah? Atau malah sebaliknya?
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasuke Uchiha x Sakura Haruno
Save Me, Baby ! © Biii Uchiha
.
.
Chapter 2 : Marry Me, Marry You
.
Happy reading ..
..
"Menikahlah denganku."
What?
"A-apa? Bisa kau ulangi Uchiha-san?" pinta Sakura tak yakin. Ayolah, mungkin pikirannya berkelana terlalu jauh karena saat ini Sasuke masih menggenggam jemarinya. Mungkin ada kamera tersembunyi yang menjebaknya untuk sebuah acara variety show dan, Tadaaa! Kau kena.
Semua wanita akan berpikiran seperti itu jika pria tampan yang melamarmu. Hoho~
"Kau mendengarnya, Sakura."
"Tapi kupikir ini mustahil. Aku pulang dulu, permisi." Sakura bangkit dari kursi penumpang mobil Sasuke, menghempaskan genggaman Sasuke diudara. Namun memar dilututnya berdenyut ngilu membuatnya hilang keseimbangan dan terhuyung. Dengan sigap pria itu menahan tubuh mungil Sakura yang condong kearahnya.
Terdengar klise, tapi siapapun rela melakukan hal klise ini jika 'cacther'-nya Sasuke. Kyaaa~
Pandangan mata tak terelakkan terjadi. Jelaga hitam pekat itu seolah menghisap semua energi emerald miliknya dan meninggalkan tubuh tak bertenaga yang lunglai dipelukan sang elang. Sakura lelah. Dia mengingat kembali kapan terakhir kali tubuhnya terisi nutrisi. Benar. Dia makan salad dan diet coke tengah hari kemarin dan belum sempat mengunyah apapun sebelum bertemu Sasori beberapa saat lalu.
Kenapa keadaanku menyedihkan sekali hari ini?
Sakura mengerjap. Kelopak matanya seolah menolak untuk terbuka kembali. Rasanya berat dan sangat menggoda untuk terus tertutup.
Ayah, ibu. Bolehkah aku terlelap sebentar?
"Sakura? Kau baik-baik saja?" Sasuke berusaha menyadarkan Sakura dengan menepuk-nepuk pipinya, namun separuh nyawa gadis itu seolah terbang dan meninggalkan tubuh yang kosong. Kau tidak mati 'kan, Sakura? Ceritaku baru saja dimulai.
PUK !
Kepala Sakura menyandar sepihak dibahu Sasuke. Netra cerahnya tertutup dan bibir sensualnya terlihat pucat.
Sasuke masih mempertahankan posisinya didepan pintu mobil sambil mendekap gadis merah muda yang terlelap dipelukannya. Telapak tangan besarnya mengusap peluh dan kening oversize Sakura.
Panas dan dingin. Demam. Itulah kesimpulan yang didapat Sasuke sejauh ini.
Sasuke tidak tahu dimana rumah Sakura dan tidak bisa begitu saja mengekspos gadis itu pada publik. Gosip akan mudah tercipta ketika penerus Uchiha Company 'kepergok' mendekap seorang gadis misterius. Semuanya masih abu-abu. Satu-satunya cara hanya dengan membawa Sakura ke apartemen miliknya sampai gadis itu sadar. Benar, hanya itu.
Sasuke tak membuang waktu. Setelah memasangkan sabuk pengaman untuk Sakura, Sasuke langsung tancap gas menuju kediamannya.
Semoga semua akan 'baik-baik saja'.
.
.
.
Lima belas menit yang lalu Sasuke menghubungi dokter pribadi keluarganya dan memerintahkan untuk segera datang ke apartemen miliknya. Sepuluh menit kemudian, seorang dokter berperawakan tinggi dan berambut pirang sudah berada didalam kamar yang diranjangnya terbaring seorang gadis cantik bersurai merah muda. Wajah gadis itu pucat dan peluh membasahi wajah dan lehernya.
"Apa aku tidak salah memasuki apartemen, Sasuke?" tanya dokter itu pada Sasuke seraya mengerling. Sasuke yang duduk bersandar pada singgasananya diruangan itu bangkit dan bersedekap sambil memperhatikan sosok yang masih terpejam tersebut.
"Hn. Kau tidak salah Tsunade-san. Memang aku yang membawanya kemari."
"Ahaa~. Kalau begitu, apa aku akan segera menerima undangan pernikahan penerus Uchiha Company yang kedua?" goda dokter yang dipanggil Tsunade itu sambil mengibaskan jemari lentiknya.
Sasuke menyeringai, "kita lihat saja nanti."
Tak banyak bicara lagi, dengan keahliannya dokter Tsunade memeriksa Sakura. Dokter cantik itu mengernyit, kemudian menatap Sasuke. "Apa kau tidak memberinya makan sebelum mengajaknya kemari?"
Sasuke yang ditanyapun tidak tahu harus menjawab apa. Bukankah mereka bertemu di cafe? Seharusnya gadis itu sudah makan 'kan?
"Apa itu penyebab dia pingsan?"
"Oh, Uchiha. Kalian tak terkalahkan dalam bisnis dan harus kuakui itu. Tapi untuk urusan sepele, banyak dari kalian dibawah rata-rata orang biasa. Hal sepele itu dapat menyebabkan kau tak menerima jatahmu diranjang ini, bung." Jelas Tsunade tak tahu malu sambil (lagi-lagi) mengerling.
Shit. Goresan merah muda terlukis dipipi putih Sasuke yang membuang muka dari godaan Tsunade. Jatah? Bahkan pria tampan itu tak memikirkannya sejauh itu.
Ehm, kalau sekarang bagaimana Sasuke? Tentu saja, sudah. Gubrakk~
"Kalau begitu, bisa kau teruskan pekerjaanmu?"
Wanita bernama Tsunade itu kembali memeriksa tubuh lunglai Sakura. Mulai dari pemeriksaan dengan stetoskop sampai pengukuran suhu tubuh, dilakukannya dengan cermat. Tsunade memang dokter yang teliti. Dia tidak akan puas sampai pemeriksaan yang dilakukannya melewati standar perfeksionisnya. Karena itu pula-lah wanita itu dipercaya menjadi dokter pribadi Uchiha. Uchiha tidak menerima keraguan.
"Yah, gadis ini tidak mengalami gejala 'berbahaya'," ucapnya sambil membuat tanda kutip dengan jari tengah dan telunjuknya diudara, Sasuke memutar bola mata bosan. "Tapi, tolong beri dia nutrisi seimbang untuk tubuh kurusnya itu. Aku tidak mau mendengar jika suatu hari kau memanggilku karena gadis ini mengalami patah tulang karena 'pertempuran' kalian, oke."
"Kau benar-benar menjengkelkan."
"Oh, suatu kehormatan mendengarnya langsung darimu tuan Uchiha-sama. Bye." Sahut wanita berdada 'wah' tersebut berlalu pergi meninggalkan Sasuke dengan berbagai arti dari kata 'pertempuran' dikepalanya.
Jangan terlalu dipikirkan, Sasuke. Kau masih terlalu suci.
.
.
.
Sasuke teringat akan keinginan ibunya untuk bertemu dengan 'kekasih' fantasi yang mereka bicarakan beberapa waktu lalu. Nasi sudah menjadi bubur, kata-katanya sudah terlontar dan seorang Uchiha tidak akan pernah menarik kembali perkataannya. Untuk malam ini dia harus berhasil membujuk Sakura untuk membantunya. Toh, gadis itu sudah berada didepan pelupuk mata. Dan kesempatan belum tentu datang dua kali, sekalipun untuk seorang Uchiha.
Sasuke meraih ponselnya diatas meja dan mengubungi nomor telepon kediaman kakeknya. Dua kali deringan, telepon diseberang sana diangkat oleh suara yang sudah familiar baginya.
"Halo, ibu. Ini aku Sasuke." Sapa Sasuke sopan.
"Oh, ada apa Sasuke?" balas Mikoto dari seberang sambungan.
"Maaf, ibu. Sepertinya aku tidak bisa datang untuk acara malam ini. Sakura sedang demam dan aku tidak bisa meninggalkanya sendirian." Sasuke mulai menyusun skenario. Entah apa yang ada dipikirannya untuk tetap bersikeras menjadikan Sakura sebagai pasangan aktingnya, padahal tanpa diminta-pun banyak dari wanita diluar sana rela menjatuhkan harga dirinya hanya untuk terbaring diranjang yang ditempati Sakura saat ini.
Benar, harga diri. Tak peduli seseorang itu kaya ataupun miskin, jika mereka mempunyai harga diri tinggi, mereka disambut dikeluarga Uchiha. Tidak mengemis karena cinta dengan tawaran one-night stand. Itulah kunci kenapa Uchiha menjadi klan paling dihormati di seantero Jepang.
"Sakura? Apa itu nama calon menantu ibu, nak?" tanya Mikoto berapi-api.
"Hn." Jawab Sasuke ambigu. Dia sendiri juga masih ragu dengan jawabannya.
"Oh, nama yang indah sekali. Katakan padanya ibu sendiri yang akan datang melihat kondisinya, sayang. Tunggu ibu, jaga dia dengan baik, Sasuke. Jaa~Tuttt...tuttt...tuutt."
"H-halo? Ibu?" Sial. Ini diluar skenario. Dia baru akan meyakinkan Sakura malam ini tanpa berpikir ibunya akan datang dengan semangat membara untuk melihat gadis itu. Jadi, apa yang akan kau lakukan Sasuke?
"Nggh .." Sasuke menoleh. Kelopak mata yang sedari tadi menyembunyikan hijau cerah dibaliknya itu mengerjap beberapa kali hingga benar-benar terbuka dan memperhatikan kondisi disekelilingnya. Sakura berusaha duduk, kepalanya masih terasa pusing.
Ruangannya besar sekali. Apa aku disurga?
"Apa kau baik-baik saja, Sakura?" Sasuke mendekat dan menyodorkan nampan dengan sepiring roti lapis keju dan segelas susu yang sudah disiapkannya berhubung Sasuke hanya mempunyai bahan makanan terbatas seperti roti gandum dan beberapa iris keju. Pria itu duduk dipinggir ranjang dan menatap Sakura intens.
Oh, tuhan. Apa dia bidadari surga? Tampan sekali. Tapi aku seperti mengenalnya. Mungkinkah ...
"Jangan menatapku seperti itu." Tegur Sasuke.
"U-UCHIHA-SAN?" teriak Sakura tidak elitnya.
"Hn." Sasuke mengangguk samar.
"A-apa yang t-terjadi? Kenapa aku disini?" Sakura sontak menutupi dadanya dengan tangan menyilang. Ayah dan ibu disurga. Apa yang sudah aku lakukan?
Sasuke hanya menatap datar gadis dengan sikap preventif itu. Memang apa yang sudah aku lakukan, baka?
Sakura ingin sekali menanyakan 'sesuatu' yang kini melayang-layang dikepalanya. Apakah hartanya benar-benar sudah hilang dan lenyap selamanya? Apakah dia tidak bisa menjaga amanah yang dititipkan ibunya? Berjuta pertanyaan seakan berebut ingin keluar dari bibirnya dan Sakura merasa akan muntah.
Tenang, tenang Sakura. Kau bahkan masih berpakaian lengkap.
"U-uchiha-san?"
"Hn?" Sasuke kembali meletakkan nampan ke tempat semula. Sepertinya sesi pertama akan diisi dengan tanya jawab.
"Ano, i-itu .. a-apa kau baru saja menyentuhku?" Pertanyaan macam apa itu? Batin Sakura memaki.
"Tidak."
"Oh, syukurlah." Ucapnya seraya menghembuskan nafas lega.
"Tapi, aku melakukannya saat kau pingsan." Sambung Sasuke.
Wajah lega gadis gulali itu sontak berubah pucat setelah mendengar pengakuan pria dihadapannya. Bulu romanya bergidik, dan keringat perlahan menyusuri kening lebarnya. Oh, Sasuke. Apa kau tahu makna sebenarnya dari kata 'menyentuh' yang diucapkan gadis ini?
"Apa saat ini kau sedang bercanda? Jika iya, ini benar-benar tidak lucu."
"Aku tidak bercanda. Aku benar-benar melakukannya."
"Oh, tuhan. Bagaimana jika nanti aku .." Sakura menggantungkan kalimatnya. 'itu' adalah hal terakhir yang ingin dipikirkan kepala merah mudanya. Karirnya terlalu indah untuk hancur diwaktu yang singkat ini. Bagaimana ini?
"Jika kau apa?" Sasuke membuyarkan lamunan liar Sakura. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kembali menatap onyx Sasuke takut-takut.
"Bagaimana jika nanti aku ..," Sakura menarik napas dalam dan menghembuskannya,"Hamil?"
Sepasang alis tegas Sasuke mengernyit tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis gulali dihadapannya. Hamil? Memang apa yang sudah dilakukannya? Sekalipun Sakura pingsan dengan kondisi setengah telanjangpun, dia tidak akan pernah menodai anak orang lain tanpa seizin yang bersangkutan. Gadis itu pikir sentuhan macam apa yang sudah dilakukannya?
"Apa maksudmu dengan hamil?"
Sakura membuang muka, "k-kau bilang kau sudah m-menyentuhku, kan?"
"Lalu? Apa dengan menyentuhmu kau bisa hamil?" Oh, ayolah Sasuke. Jangan katakan kalau nilai biologimu dibawah standar nilai rata-rata. Reproduksi Sasuke, bab reproduksi.
"Tentu saja aku bisa hamil." Sakura yang mulai gemas dengan tingkah Sasuke yang kelewat polos menurutnya, secara tidak sadar mengucapkan kata 'hamil' agak keras.
"Hamil? Siapa yang hamil, Sasuke?" Mikoto yang datang dengan rencana memberi kejutan, malah mendapat kejutan lain.
DEG
Secara bersamaan kedua sejoli itu menoleh ke arah pintu masuk kamar dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam terurai tengah menjinjing rantang piknik dan tas tangan ditangan lainnya. Wanita itu tidak menampakkan ekspresi wajah berarti.
"I-Ibu. Kapan ibu datang?" Sasuke lekas bangkit namun uluran tangan Mikoto yang menyuruhnya tetap berdiri ditempat memaksa Sasuke tetap berdiri disamping ranjang. Dilliriknya Sakura yang terlihat antara malu dan terkejut.
"Apa kau yang bernama Sakura, nak?" Ibu dua anak itu mendekati Sakura dan duduk ditepi ranjang persis seperti yang dilakukan Sasuke. Sakura sekilas melirik Sasuke, kemudian mengangguk. Mikoto menyentuh dagu Sakura lembut, memaksa gadis itu untuk bertatapan langsung dengannya.
"Apa benar Sasuke menyentuhmu, sayang?" tanya Mikoto lagi. Sakura tidak tahu harus menjawab apa. Jawaban Sasuke masih ambigu baginya. Lagipula apa Sasuke mengerti dengan 'sentuh-menyentuh' yang dimaksudkannya?
Mikoto kemudian menoleh ke arah Sasuke disampingnya,"Benarkah, Sasuke?"
"Hn." Jawabnya enteng. Apa kau benar-benar mengetahui arah pembicaraan ini, Sasuke?
Mikoto yang mengartikan kata 'menyentuh' sama seperti yang diartikan Sakura hanya mengangguk paham. Bagi Mikoto ini bukanlah termasuk pencemaran nama besar keluarga. Secara teknis Sasuke mengatakan jika dirinya sudah melamar Sakura yang berarti secara tidak langsung Sasuke mengakui janin itu. Jadi semuanya sah-sah saja. Ayolah, ini Jepang, batin ibu dua anak itu sambil manggut-manggut sendiri.
"Apa karena itu kau melamar Sakura tanpa sepengetahuan Ayah dan ibu? Bahkan kakek?"
Pertanyaan Mikoto barusan membuat Sakura menoleh cepat kepada Sasuke. Melamar dirinya? Kapan? Oh, benar. Dia mengatakan kalau aku tunangannya.
"Nyonya, saya bisa meluruskan ini. Saya sama sekali –"
"Tidak apa-apa, sayang. Aku tidak akan menghakimimu. Sasuke juga sudah mengatakan jika dia sudah melamar kekasihnya. Itu artinya Sasuke akan bertanggung jawab. Aku tidak menyangka akan mempunyai satu lagi menantu yang cantik." Ucap nyonya Uchiha dengan mata berbinar.
"Tapi, ini tidak seperti yang anda pikirkan, Nyonya." Sakura kembali menyangkal. Firasatnya mengatakan kesalahpahaman ini akan berbuntut panjang.
"Tidak ada yang salah, sayang. Nah, jangan tambah beban pikiranmu dengan hal ini. Jalani dan rawatlah calon cucuku dengan baik." Mikoto bangkit dan meletakkan rantangnya diatas meja, "Dan, panggil aku ibu mulai sekarang, Sakura." Tambahnya lagi.
Sasuke? Pria itu hanya diam sambil masih berpikir kaitan antara 'menyentuh' versi Sakura dan ibunya dengan 'menyentuh' yang sesungguhnya versi dirinya.
Sakura melirik Sasuke lagi seolah mengatakan, 'Apa-apaan ini, Uchiha?'. Sasuke hanya mengendikkan bahu seolah berkata, 'entahlah.'
"Makanlah yang banyak, sayang. Rawat dirimu dan cucu ibu. Pertunangan resmi dan masalah pernikahan, tidak usah dipikirkan. Biar ibu yang urus semuanya." Setelah berkata demikian, Mikoto mengecup lembut kening lebar Sakura dan melakukan hal yang sama kepada Sasuke. Tak lama, wanita itu pamit diiringi senyum sumringah yang mengerikan dimata Sakura.
"Bisa kau jelaskan maksud pernikahan yang disampaikan ibumu, Sasuke-san?" tuntut Sakura sambil memaksakan diri bangkit dari ranjang. Lututnya masih terasa ngilu dan kepalanya pusing. Sakura terhuyung, "Jangan memaksakan diri. Tubuhmu kurang asupan nutrisi dan kau butuh makan seperti orang normal lainnya." Ucap Sasuke sembari membantu Sakura kembali duduk diatas ranjang.
"Tapi, pernikahan itu – "
"Aku bilang ikuti saja alurnya. Apa kau ingin Sasori terus mengganggu hidupmu?" Sakura menggeleng. "Apa kau ingin hidupmu bebas dari campur tangan Sasori?" Sakura mengangguk.
"Kalau begitu maukah kau menyingkirkan Sasori dari hidupmu?" Sakura kembali mengangguk. "Jika ada satu cara, maukah kau melakukannya?" Sasuke terus melancarkan mantra ajaibnya.
"Tentu saja." Jawab gadis itu mantap.
"Kalau begitu menikahlah denganku."
.
.
.
Apa-apaan ini? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang hubungan Cherry dan keparat Uchiha itu? Bagaimana bisa mereka sudah bertunangan? Apa mereka ingin mempermainkan aku?
Huh, kau pikir kau bisa menang begitu saja, Uchiha? Kau sudah melampaui batas daerah amanmu. Jika Cherry tidak bisa menjadi milikku, siapapun tidak boleh memilikinya. Dan hal itu juga berlaku untukmu.
Khekhekhe~
Sasori meraih kembali gelas berisi vodka yang dituangkannya beberapa waktu lalu. Pandangan matanya tertuju lurus ke arah berlembar-lembar kertas foto seorang gadis bersurai merah muda yang ditempelkannya disepanjang dinding yang bisa dijangkaunya. Berbagai pose Sakura berhasil dikumpulkannya menjadi album yang tak sedikit jumlahnya hanya untuk memuaskan nafsu duniawi-nya.
"Bersabarlah sayang. Suatu hari kita akan kembali bersama. HAHAHAAHAHA~"
.
.
.
Berita tentang rencana pertunangan dan pernikahan putra bungsu sekaligus cucu pemilik Uchiha Company menyebar dengan cepat seperti wabah penyakit. Para gadis yang bekerja diperusahaan itu merasa seperti harapan mereka dihempaskan ke bumi disaat harapan itu baru bertunas.
Tak terkecuali Ino. Gadis pirang yang bekerja sebagai sekretaris wakil direktur itu juga sudah mengetahui 'trending topic' yang langsung tersiar dalam hitungan jam diseluruh penjuru perusahaan besar tersebut setelah dengan resmi diumumkan melalui aplikasi khusus perusahaan yang akan memberikan notifikasi pada smartphone seluruh karyawan.
Aplikasi khusus perusahaan yang diberi nama 'U-Licth' – atau sering dipelesetkan dengan 'You Like' - tersebut dikembangkan oleh Nara Tech yang bekerja sama dengan Uchiha Company dalam bidang teknologi digital. Ketenaran produk yang dikembangkan Nara Tech sudah bukan merupakan isapan jempol saja. Contohnya saja, seluruh software anti-virus dan perangkat perlindungan database penting perusahaan sepenuhnya diserahkan kepada perusahaan raksasa Nara Tech.
"Cih." Ino berdecih pelah ketika tak sengaja mendengar para karyawati perusahaan bergosip tentang pertunangan Sasuke Uchiha di toilet. Tak hanya sekali, sebelumnya dia juga sudah mendengarnya di kafetaria dan lobi kantor. Semuanya seolah terbius akan berita itu. Ino merasa bahkan artis tenar negeri ini sekalipun tidak akan dibicarakan sesering itu.
Gadis pirang itu keluar dengan wajah ditekuk. Dua orang wanita yang sedang berias didepan cermin toilet menghindar dengan sendirinya saat Ino berdiri dibelakang mereka dan membiarkannya mencuci tangan. Aura kurang menyenangkan seolah menguar dari tubuhnya dan mengatakan bahwa perasaanya sedang tidak baik-baik saja.
"Saranku, jangan berbicara atau berpapasan dulu dengan Yamanaka-san. Sepertinya berita ini bukan kabar baik untuknya." Celetuk salah seorang karyawati itu pada dua orang temannya yang langsung disambut anggukan keduanya.
"Hey, jangan bergosip di toilet. Kalian membuat arwah di toilet ini menjadi makin penasaran. Tidak mau kan mereka mengikuti kalian sampai dirumah karena obrolan kalian yang menarik minat mereka?" seorang wanita berkaca mata dan berambut merah menyala keluar dari salah satu bilik toilet dan mengagetkan ketiga karyawati tukang gosip tersebut.
"K-Karin-san. Jangan bercanda." Colek salah seorang dari mereka.
"Hm, aku tidak bercanda. Apa kalian tidak tahu sejarah toilet disini?" wanita yang dipanggil Karin itu tetap cuek sambil terus mencuci tangan dan mengeringkannya. Karin berbalik dan menatap ketiganya dari balik kaca mata berbingkai hitam elegan miliknya sambil berbisik, "Aku benar-benar melihat mereka."
"Hiyy. D-dimana?"
"Hm. Sebenarnya dari tadi mereka berdiri dibelakang kalian dengan wajah tersenyum." Celetuk Karin cuek. Ketiga karyawati tersebut menoleh dengan horor ke arah belakang mereka dan tidak menemukan apapun.
"PEEK-A-BOOO!"
"KYAAAAA~!"
Karin terkikik sambil menahan perutnya yang terasa tegang setelah berhasil mengerjai ketiga tukang gosip toilet yang lari terbirit-birit karena kaget sekaligus takut.
"Dasarpayah." Cibirnya dan berlalu pergi tanpa tahu jika tutup tong sampah yang berada dibawah wastafel berayun dengan sendirinya.
.
.
.
Sudah satu setengah hari Sakura memutuskan menerima ajakan Sasuke dan menginap ditempat pria itu hanya sekadar untuk membuat Sasori benar-benar menjauh dan lenyap dari hidupnya. Setidaknya kali ini dia bisa mengatasnamakan Sasuke sebagai 'tunangan'nya jika dirinya kembali berpapasan dengan pria bejat itu. Tapi Sakura harap hari itu tidak akan pernah datang lagi.
"Sasuke-san, aku ingin bertanya satu hal padamu." Sakura duduk bersila diatas ranjang sementara Sasuke berkutat dengan laptop dan beberapa lembar kertas yang tidak Sakura mengerti diatas sofa kamar mewah itu. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan piyama kedodoran milik Sasuke. Walau awalnya menolak, tapi Sakura tidak punya pilihan lain selain kembali memakai pakaiannya yang sudah bercampur keringat atau menerima kebaikan pria itu.
"Hn?" sahut Sasuke tanpa mengalhkan pandangan dari layar laptop.
"A-apa benar kau .. m-menyentuhku?" semburat merah mewarnai pipi pucatnya dan gadis gulali itu memilih menekuk wajahnya dan memandang ujung kaki piyama yang sepertinya lebih menarik ketimbang memandang wajah Sasuke.
"Hn. Aku memang melakukannya." Sahut Sasuke lagi. Kali ini dibarengi dengan anggukan.
"B-benarkah? T-tapi kenapa aku tidak merasakan sakit?" Sakura tidak percaya. Menurut buku yang pernah dibacanya dan pengakuan dari beberapa teman-temannya yang sudah menikah, melakukan 'itu' untuk pertama kali adalah hal yang menyakitkan. Tapi gadis itu sama sekali tidak merasakan perbedaan sebelum maupun setelah pingsan. Bahkan dia tidak menemukan noda darah diseprai Sasuke.
"Aku hanya menyentuhmu, bukan menamparmu." Jawab Sasuke sambil melepas kaca mata bacanya dan bangkit dari sofa.
"Maksudmu?" kali ini Sakura benar-benar tidak mengerti.
Oh, ayolah. Kalian memiliki dua versi yang berbeda. Jangan buat aku frustasi, Sasuke.
"Aku hanya menyentuh keningmu. Dari situ aku tahu kalau kau sedang sakit dan membawamu kesini." Sasuke melepaskan dasinya dan melemparkan asal benda itu ke atas sofa.
"Jadi, yang kau maksud 'menyentuhku' saat ibumu bertanya adalah menyentuh keningku?" Sakura benar-benar dibuat pusing dengan drama-drama yang dimulainya sejak kemarin siang. Keputusannya mengikuti rencana Sasuke sepertinya tidak akan usai hanya dalam waktu singkat.
"Hn." Sahut Sasuke lagi. Pria itu mulai melepas satu per satu kancing lengan bajunya dan menggulungnya hingga siku. "Memang apa yang kau ingin aku lakukan, Sakura?" Sasuke mendekat dan merangkak perlahan ke arah Sakura. Hembusan napas hangat Sasuke yang menerpa kulit lehernya membuat bulu kuduknya berdiri. Insting bertahan dari seluruh syaraf diseluruh tubuhnya tiba-tiba terasa lumpuh tidak berkutik. Alarm bahaya yang selama ini selalu terasah saat niat buruk Sasori terdeteksi tak memberikan respon apapun pada tubuhnya.
Seolah kontrol tubuh Sakura dikendalikan pikiran Sasuke.
"A-apa yang kau lakukan, Sasuke-san?" walau gugup, Sakura masih berusaha menunjukkan pertahanan dirinya. Sasuke menyeringai, dan Sakura tidak bisa membantah jika seringaian itu benar-benar menggoda. Inner irrassionalnya bersorak gembira melihat penampakkan langka itu.
"Ne, Sakura. Bukankah kita benar-benar harus menjadikan cucu yang ibuku bilang itu menjadi nyata? Kita tidak boleh bohong terlalu banyak 'kan?" goda Sasuke masih sambil menyeringai.
Siapapun, tolong selamatkan jantung para reader dan pastikan persediaan tissue mencukupi.
"A-apa?"
Sasuke mendengus dan terkekeh kecil. Ekspresi terkejut Sakura merupakan hal baru baginya. Dan membuat Sakura terkejut merupakan hal yang menyenangkan.
"Pikiranmu terlalu kotor. Dasar gadis mesum." Candanya seraya bangkit dari ranjang dan menepuk-nepuk kepala Sakura pelan sebelum berlalu menuju kamar mandi. Sakura hanya melongo dan sedetik kemudian melempar bantal guling ke arah Sasuke.
PUK ! Yeah, strike.
Sakura tertawa mengagumi kehebatannya melembar bantal sebelum menyadari –
POK ! – bantal itu juga melayang ke arahnya. Pelaku? Berhasil melarikan diri pemirsa.
Tanpa mereka sadari, ikatan tidak kasat mata mulai membelenggu keduanya untuk terus bersama. Entah memang suratan takdir dari sang pencipta, semua canda tawa dan air mata akan memulai kisah baru mereka menuju cinta yang diwarnai dendam dan penghianatan serta kasih dan persahabatan.
.
.
.
Mind to Read n Review?
- Terima kasih untuk semua reader dan reviewer yang udah kasih saran, komentar di kotak review. Bii ga nyangka chapter pertama tembus 40-an.. Bii terhura #LapIngus
- Terima kasih untuk SiDer yang udah nyempatin baca fic Bii yang jauh dari kata sempurna ini.
Special Thanks to :
berryl uchiha, flower on the spring, echaNM, Uchiha Javaraz, ayudavf, Kirara967, shaulaamalfoy, Syakilla Ayumi, AuroraDM, zarachan, maira chan, Diiah393, piguin, Nurulita as Lita-san, KujyoNozara, kakikuda, Dewazz, kHaLerie Hikari, 1, Jamurlumutan462, Hyuugadevit-Cherry, Kagaaika Uchiha, Akashi Sakura, Yuwican, Afisa UchihaSS, Sasha Kakkoi, , akasuna no hataruno teng tong, Desta Soo, 5a5u5aku5ara, shirazen, Ge, ririsakura, , Audrey Tan, (Guest), ongkitang, vannesawijaya, shinshinri, Cerry StarMoon, Saigo no hana.
Maaf kalo ada kesalahan nama
