'Tok tok tok'

Hyukjae sekali lagi mengetuk pintu dihadapnnya yang sudah coba ia buka sedari tadi. Dengan sebuah tas jinjing tangannya, ia terlihat tidak sabar melihat pintu yang masih tertutup rapat. Rasanya ia ingin mendobraknya agar pintu itu cepat terbuka. Hyukjae kemudian mengecek jam tangannya untuk memastikan sudah berapa lama ia berdiri seperti peminta sumbangan yang wajahnya kelewat manis disana.

'Kemana sih anak itu? Apa dia belum bangun? Padahal sudah jam 10 pagi. Lee Donghae, benar-benar!'

Baru saja Hyukjae ingin mengetuk sekali lagi pintu dihadapannya, mata bulatnya dipaksa melebar melebihi batas normal. Sebuah pemandangan menakjubkan menyapa indra penglihatannya. Itu adalah Donghae yang muncul dari balik pintu apartemennya. Tapi apanya yang menakjubkan?

"Hahhh siapa sih yang pagi-pagi begini.. Lho, Hyukkie? Kau datang kemari? Huaaa aku merindukanmu, Chag-

"YA! IKAN AMIS! KENAKAN DULU PAKAIANMU!"

.

.

.

.

Hidden Marriage

.

.

by Tsuioku Lee

.

.

HaeHyuk

.

.

slight!KhunHyuk

.

.

HaeHyuk belong to each other

.

.

Typos / AU / OOC / BL / lil bit Humor / and find by your self

.

.

Chapter 2: Affair?

.

.

Dont like? Dont read!

.

.

Enjoy your self~


"Nyam.. makanannya enak sekali.. nyam Hyukkie~"

"Makanlah pelan-pelan, jangan terburu-buru. Seperti kau sudah tidak makan 1 bulan saja."

Karena insiden pemandangan-full-naked-Donghae-dipagi-hari, Hyukjae langsung saja menyuruh Donghae memakai baju terlebih dulu, atau ia tidak akan mau masuk keapartemennya. Akhirnya dengan terpaksa Donghae memakai kaus oblongnya dan celana santai selututnya, barulah Hyukjae mau masuk kedalam.

Alasan kenapa Donghae full naked -lebih tepatnya ia masih memakai boxer pendek untuk menutupi bagian terprivasinya. Hyukjae saja yang terlalu heboh- adalah karena cuaca yang sudah memasuki musim panas. Tentu saja untuk menghindari kepanasan ia tidur dengan keadaan benar-benar full naked. Untung saja ia masih ingat untuk memakai boxer sebelum membuka pintu apartemenya yang diketuk. Dan untung lagi yang mengetuk pintu adalah istrinya dan bukan ahjumma genit yang suka menggoda suaminya. Bisa habis dirape si Ikan Mokpo ini.

Dan saat ini mereka tengah duduk diruang makan seraya menyantap sarapan -menjelang makan siang- yang dibawa Hyukjae.

"Lebih tepatnya aku sudah tidak makan enak itu 1 mingggu 2 hari. Dan itu semua karena istriku yang kelewat manis ini tidak datang keapartemen suaminya yang merana sendirian tanpa makanan." Donghae berucap seperti itu seraya mencubit gemas pipi mulus istrinya.

"Aww, Hae!" Hyukjae langsung mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah setelah Donghae melepas cubitannya.

"Iya, maafkan aku. Kan sudah kukatakan, seminggu ini aku diminta Sungminnie untuk menemani dia dirumahnya. Lantaran orang tuannya yang sedang keluar negeri, alhasil aku harus menginap dirumahnya. Dan tidak bisa menemuimu." ucap Hyukjae merasa bersalah.

"Kau 'kan bisa mengantar makanannya ketika senggang. Bukannya malah menelantarkan suami tampanmu ini. Kau tega sekali padaku." Donghae berucap seraya menampilkan raut sedihnya.

"Ah soal itu.. aku juga.. hmm.. ma..maafkan aku.." Hyukjae hanya bisa tertunduk menyesal mengingat kurang perhatiannya ia kepada sang suami.

"Hahaha.. aku bercanda chagiya~ aku tidak benar-benar marah kok. Aku mengerti keadaanmu." Donghae memamerkan senyum hangatnya seraya mengusap surai brown Hyukjae sayang.

Melihat Hyukjae yang masih tertunduk ia mulai mendekatkan wajah childishnya tepat kearah Hyukjae yang berada dihadapannya. Dan dengan gerakan lembut ia menempelkan bibir tipisnya dengan bibir tebal Hyukjae. Walau posisi Hyukjae yang tertunduduk membuatnya susah untuk menggapai bibir manis Hyukjae, mereka tetap menikmati ciuman hangat pagi hari itu.

.

.

.

.

"Hyukkie."

"Ne?"

"Aku ingin kau pindah kesekolahku."

"Dan berteman dengan murid-murid arogan disana? Tidak terimakasih."

Kini Donghae dan Hyukjae tengah duduk disofa sambil menonton TV. Seperti biasa, Hyukjae setiap minggu selalu seharian bersama Donghae untuk melakukan kegiatan romantis yang jarang mereka lakukan sebagaimana pasangan suami istri. Posisi Hyukjae yang tengah bersandar pada dada bidang Donghae, dan Donghae yang memeluknya posesif dari belakang seraya menikmati wangi khas sang istri, benar-benar menggambarkan betapa serasinya mereka berdua.

Dan pertannyaan Donghae barusan sungguh membuat Hyukjae malas seketika. Ayolah membicarakan soal kepindahan sekolah adalah hal sensitif yang Hyukjae selalu berusaha hindari.

"Sudahku katakan, tidak semua yang ada disana seperti itu. Kau tahu Kyuhyun, Siwon dan Yesung, 'kan? mereka sahabatku dan semua orang-orang baik." Donghae masih berusaha meyakinkan.

"Itu karena bersamamu saja. Kalau nanti bertemu, mereka juga pasti akan menatapku tidak suka dan 'rendah' seperti yang lain."

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." ucap Donghae seraya mengeratkan pelukannya karena mendengar nada lirih terucap dari bibir plum sang istri.

"Aku tahu."

"Aku hanya ingin lebih sering bersama istriku." Donghae mengecup tengkuk Hyukjae sayang.

"Aku juga. Tapi kau tahu bagaimana sifatku 'kan, Hae?" Hyukjae berusaha mengingatkan Donghae bagaimana sifatnya yang tidak mudah bergaul dan tertutup.

"Maka dari itu aku mau merubah sifat jelekmu itu. Lebih banyaklah bergaul dan berhenti mudah curiga dengan seseorang yang baru kau kenal. Itu tidak baik." Donghae kemudian mengecup pipi putih Hyukjae.

"Hhahh~ aku akan mencobanya."

.

.

.

.

From: Hae Fishy

Subject: Mianhae

Nae Hyukkie~ maaf ya, hari ini aku masih ada kelas tambahan, jadi aku tidak bisa menjemputmu dan pulang bersama. Kau pulang saja duluan, tidak usah menungguku, ne. Dan hati-hatilah dijalan. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Beritahu aku kalau kau sudah sampai. Saranghae.

ps: Jeongmal Mianhaeyo nae Yeobo~

"Haahh~"

Hyukjae menghela nafas berat setelah membaca pesan dari suaminya. Mungkin minggu-minggu ini ia bakal jarang bersama sang suami. Padahal musim ujian masih lama, tapi Donghae sudah direpotkan dengan segala latihan dan ulangan. Huh sekolah elit memang beda.

Setelah membalas pesan Donghae, ia kemudian membenahi buku dan segala alat tulisnya. Lima menit yang lalu bel sekolahnya sudah berbunyi dan itu artinya semua murid sudah boleh pulang.

"Ada apa, Hyukkie-ya? Kenapa menghela napas terus?" Sungmin yang duduk disebelah Hyukjae berkata khawatir melihat sahabatnya menghela napas hingga dua kali. Karena tanpa sadar, setelah membalas pesan Donghae, Hyukjae menghela napas lagi.

"Tidak apa-apa, Minnie-ya." Hyukjae menarik sudut bibirnya, meyakinkaan sahabatnya kalau dirinya baik-baik saja.

"Hmm baiklah.. Oh astaga!" Sungmin berseru heboh ketika melihat jam tangannya.

"Waeyo, Minnie?"

"Aku sudah telat. Maaf ya, Hyukkie. Eomma dan Appa sudah pulang dari Jepang. Dan aku harus menjemput mereka dibandara. Maaf hari ini aku tidak bisa pulang bersama. Sampai jumpa, Hyuk!" Setelah mengatakan itu, Sungmin segera berlari keluar kelas. Bahkan ia tak mendengar respon Hyukjae terlebih dulu. Sepertinya Sungmin benar-benar sedang diburu waktu.

Hyukjae maklum saja. Mengingat sudah seminggu lebih Sungmin tidak bertemu kedua orang tuannya. Pastinya ia sangat merindukan mereka.

'Hari ini pulang sendiri. Hhahh~'

"Hyukjae-ah!"

"Hn?"

Hyukjae menoleh kesumber suara. Seseorang berdiri didepan pintu kelasnya dengan wajah berpeluh keringat tapi sarat akan kelegaan.

"Nickhun?"

"Bisa minta bantuanmu?"

"Hah?"

"Aku anggap itu iya."

Dan Hyukjae hanya bisa pasrah ketika Nickhun menarik pergelangan tangannya tanpa mendengar persetujuannya.

.

.

.

"Huaaahh capek!"

Hyukjae menggerakan badannya berusaha merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Ia melakukan gerakan seperti sedang pemanasan.

"Hehe mianhae, Hyuk-ah. Aku benar-benar tidak tahu siapa lagi yang harus kumintai tolong. Jeongmal gomawoyo ne."

"Sudahlah jangan sungkan. Kita ini kan sudah kenal dari dejak SMP."

Hyukjae dan Nickhun kini tengah berjalan keluar gedung sekolah mereka. Mereka baru saja dari perpustakaan. Nickhun yang ketua basket putra diminta menyusun nama murid angkatan satu yang mendaftar ekskul basket untuk kemudian diseleksi menjadi anggota. Nickhun meminta Hyukjae membantunya karena memang manager club basket sedang tidak hadir sedangkan sang pelatih mempercayakan seluruh tugas tersebut kepadannya. Jadilah Nickhun harus mencari seseorang untuk membantunya dan kebetulan nama Hyukjae lah yang terlintas dibenaknya.

Itu juga karena mereka memang teman sejak SMP, jadi tidak heran Hyukjae yang susah bergaul bisa langsung meng'iya'kan permintaan Nickhun yang mendadak itu.

"Lalu apakah hari ini kau akan pulang sendiri?" Nickhun bertannya seraya melirik Hyukjae yang berjalan disampingnya.

"Kurasa begitu." Hyukjae berkata lirih mengingat pesan Donghae.

"Kalau begitu, kita pulang bersama saja. Kebetulan rumah kita searah. Otte?"

"Hmm.. geurae." Hyukjae akhirnya menyetujui. Lagi pula apa alasannya untuk menolak. Sekalian ada teman ngobrol. Dan lagi Donghae tidak bilang tidak boleh pulang bersama teman dari SMP 'kan?

Dan detik itu Nickhun langsung tersenyum senang dibuatnya.

.

.

.

.

"Hyuk-ah."

"Ne?"

"Sudah berapa lama kita tidak ngobrol seperti ini ya?"

"Kurasa lebih dari 3 tahun. Setelah masuk SMA kau 'kan lebih fokus dengan club basketmu."

"Ah ne. Mianhae."

"Kenapa minta maaf?"

"Hmm.. entahlah, hanya merasa bersalah saja. Kau memang tidak begitu?"

"Anniyo."

"Huh dasar tidak berperasaan." Nickhun menjitak Hyukjae pelan.

"Aww, kenapa menjitaku?!" Hyukjae berusaha balas menjitak Nickhun tapi usahanya sia-sia karena postur tubuh Nickhun yang terlalu tinggi. Dan begitulah kelakuan mereka selama perjalanan pulang. Bertukar canda dan tawa teman lama sambil melepas rindu. Tanpa tahu langit yang mulai mendung menandakan akan turun hujan.

"Hyukkie!"

"Ah. ne?" Hyukjae seketika menghentikan aksi menjitaknya yang sia-sia. Ia sedikit terkejut dengan panggilan akrab Nickhun. 'Ah kenapa aku jadi teringat si ikan itu?'

"Apa ada seseorang yang kau sukai?" Nickhun bertannya serius.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Sudah jawab saja "

"Hmm tentu..

'ZRASHH'

Hyukjae mendongak menatap langit yang menghujam wajahnya dengan air.

"Hujan.."

'Grep'

"Kenapa bengong?! Ayo lari!" Nickhun lagi-lagi menarik tangan kecil Hyukjae. Hyukjae hanya pasrah saja ketika tubuhnya mengikuti kemana Nickhun membawanya.

Setelah berlari cukup lama akhirnya Hyukjae dan Nickhun menemukan sebuah toko yang sedang tutup. Mereka memilih berteduh disana menunggu hujan reda. Seragam mereka terlihat lumayan basah.

'Kenapa hujan? bukankah sedang musim panas?' Hyukjae berkata dalam hati seraya menatap hujan yang turun cukup deras.

"Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba hujan? Apa sedang musim pancaroba?" seolah membaca pikiran Hyukjae, Nickhun berkata entah kepada siapa.

Hyukjae hanya mengangguk membenarkan.

'Ah ya! bagaimana dengan Donghae? Apa dia sudah pulang? Apa dia juga sedang berteduh? Dia pasti tidak bawa payung?' Hyukjae berkata khawatir. Dia tidak mau suaminya itu sakit, maka dari itu ia mengambil handphonenya untuk menghubungi Donghae.

"Sial!" Hyukjae mengumpat kesal.

"Hah? Ada apa, Hyukkie?" Nickhun yang mendengar umpatan Hyukjae bertanya bingung. Entah kenapa Hyukjae agak tidak suka panggilan akrab Nickhun.

"Hmm.. ini ponselku mati. Batrainya habis. Aku jadi tidak bisa menghubungi eomma. hehe." Hyukjae berkata jujur, kecuali soal menghubungi eommanya.

"Pakai saja ponselku. Ini." Nickhun menyerahkan handphone canggihnya yang ia ambil dari kantung jaketnya.

"Ah tidak perlu. Lagi pula aku tidak hapal nomer telpon rumahku."

'Yak! alasan bodoh macam apa ini?!' Hyukjae merutuki alasan konyolnya dalam hati.

"Oh yasudah." Nickhun yang percaya saja kembali memasukan handphonenya kesaku jaketnya.

Dan selanjutnya hanya ada keheningan diantara mereka. Cukup lama mereka seperti itu -terlarut dengan pikiran mereka sendiri- sampai Nickhun yang melihat tingkah Hyukjae yakin kalau namja disampingnya tengah kedinginan. Tanpa ragu Nickhun akhirnya melepas jaket yang ia kenakan dan menyampirinya dipundak bergetar Hyukjae.

"Eh.. Tidak perlu Nickhun-ah. Aku tidak kedinginan. Kau saja yang pakai." Hyukjae berusaha melepaskan jaket Nickhun, tetapi Nickhun sudah keburu menahan jaketnya dipundak Hyukjae.

"Tidak kedinginan bagaimana? Aku tidak mau kau sakit. Ini juga kesalahnku. Kalau aku tidak menahanmu pulang. Mungkin saat ini kau sudah ada dirumah. Jadi maafkan aku, Hyukkie." perkataan Nickhun membuat Hyukjae diam seribu bahasa. Tapi setelahnya ia membuka suaranya.

"Hhhh baiklah. Terima kasih. Dan berhenti memanggilku 'Hyukkie'"

"Waeyo?!" Nickhun berakata tak terima.

"Karena hanya keluarga dan orang yang benar-benar dekat dengan ku saja yang memanggilku begitu."

'Dan Donghae tentunya.' ucapnya menambahkan dalam hati.

'Grep'

Ini sudah yang ke tiga kali dalam sehari ini Nickhun dengan tiba-tiba memegang tangannya.

"Kalau begitu biarkan aku jadi salah satu orang yang bisa memanggilmu begitu." Nickhun berkata serius. Ia membalik tubuh Hyukjae agar menghadap kearahnya lalu menatap mata bulat Hyukjae dengan intens.

"Ma..maksudmu?" Hyukjae berkata tak mengerti. Di tatap seintens itu oleh orang lain benar-benar membuatnya salah tingkah. Dan Hyukjae benar-benar tidak suka dengan keadaan seperti ini. Kalau bisa ia lebih memilih menerobos hujan dan bertemu dengan Donghae secepatnya. Entah kenapa ia jadi rindu dengan ikan mesumnya.

'Ah Hae-ah.. Aku benar-benar merindukanmu. Sedang apa kau sekarang ya?' dan bayangan Donghae yang tengah tersenyum tampan tergambar jelas dipikirannya.

"Aku mencintaimu, Lee Hyukjae."

'Ne aku juga mencintai..

'Tunggu!'

'Itu bukan suara Donghae.'

Hyukjae mengerjapkan matanya lucu. Dan setelah sadar dengan apa yang terjadi. Ia benar-benar memilih ingin mati setelahnya.

Dihadapannya tanpa ragu Nickhun mendekatkan wajah tampannya perlahan lalu menempelkan bibir tebalnya kebibir plum Huukjae.

Mereka berciuman! Ah bukan, lebih tepatnya Nickhun menciumnya..

Tubuh Hyukjae seperti beku seketika. Bahkan bibir Nickhun yang sedang melumat bibirnya saja tidak coba untuk ia hentikan. Hyukjae hanya diam saja tanpa ingin membalas bahkan menikmati ciuman sepihak itu. Pikirannya melayang entah kemana. Hyukjae terlihat benar-benar shock.

'Hyukkie..'

Seketika bayangan Donghae yang tersenyum sendu kearahnya tercetak jelas dalam benaknya. Nyawa yang entah melayang kemana seperti tersedot kembali ketubuhnya. Ia melotot kaget. Menyadari satu hal ganjil yang terjadi. Dan entah tenaga dari mana ia mendorong kuat tubuh Nickhun yang masih menciumnya. Dan ciuman itu pun langsung terlepas karena Nickhun tidak coba untuk menahannya.

"Apa.. yang kau.. lakukan?" ucap Hyukjae sedikit terengah. Ia berkata seraya menempelkan bibirnya dengan punggung tangannya. Wajahnya memerah, entah karena malu atau menahan marah.

"Hyuk.. aku.."

'Set'

Pembelaan Nickhun terpotong seketika. Seolah mendapat bisikan, Hyukjae segera menengok kearah kiri, melihat jalanan yang masih diguyur hujan yang mulai reda. Dan tak jauh dari tempat Hyukjae berteduh, tanpa disangka berdiri seorang pemuda tampan yang tengah membawa payung. Tatapannya datar tetapi sarat dengan.. rasa sakit.

"Donghae-ah.."

.

.

.

.

tbc


a/n: Yoo aku kembali lagi dengan chapter 2 ^^ gak kelamaan kan updatenya?

Btw aku sangat-sangat berterimakasih kepada semua reader yang udah baca dan review fict ini. Jeongmal Gamsahamida /bowbow/ Maaf gak bisa bales reviewnya satu2.

Ok mudah-mudahan chap ini gak mengecewakan. Dan pertannyaan kalian akan terjawab seiring berjalannya cerita. Jadi baca terus kelanjutannya ya hehe n.n

Dan soal kenapa HaeHyuk udah nikah diumur semuda itu karena bener mereka berdua udah kebelet xD apalagi si ikan. hoho /highfivean sama Haeppa/ Dan mungkin pertemuan HaeHyuk akan aku sempil-sempilin(?) didalem cerita biar reader gak penasaran /author pegertian/ /plakk/

O ya aku bener-bener minta maaf sama fans nya Nickhun oppa cz namanya dipake tanpa izin. Tapi perannya bagus 'kan? /ditabok hottest sama winkies/

Yosh! cukup segitu cuap cuapnya. Sekali lagi jeongmal gamshahamida yang udah baca cerita aneh ini ~~~ /buat saranghae bareng hae/

Mind to Review? xD /winkwink/ /readermuntah/