Chapter 2 : A New Classmate
Previous Chapter
"Kau salah besar jika kau telah melihat identitas asliku. Nona.." Sahut Sang Kitsune dengan dingin. Suara bariton yang sungguh menakutkan hati dan jiwa. Benar - benar terasa olehku.
"hiks..hiks"Sama,aku tak menjawab apapun kepadanya. Hanya menundukkan kepalaku. Mencoba mempertahankan diri.
Tapi tak bisa..
"Selamat tinggal..."
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sakura x Naruto
Genre : Romance x Friendship
.
Warning : OOC,AU,TYPO DLL
"Selamat tinggal.."
Kupejamkan kedua mataku. Ku menunduk dengan tubuh yang bergetar hebat. Kukepalkan tanganku. Menahan teriakan pilu yang akan keluar jika timah panas itu telah menancap di tubuhku..
Tuhan,,Bolehkah aku berharap jika aku bisa selamat?
Saat hampir pelatuk itu ditekan. Sebuah genggaman tangan kekar yang menggenggam tangan sang Kitsune telah membuat sang Kitsune tersentak kaget.
"Tunggu. Namikaze - sama" Ujar Seseorang yang sukses membuat sang pemuda Namikaze itu berhenti. Ia tolehkan kepalanya kepada seseorang yang berani menghentikannya.
"Lepaskan.."Sahut Sang Kitsune dengan dingin. Nadanya tak terlihat intonasi sama sekali. Begitu..
Datar
"Kumohon hentikan Namikaze - sama.."Aku kenal gadis ini."Dan aku begitu menyayanginya.."Mohon Seseorang itu dengan sopan. Akupun hanya diam seraya membulatkan kedua mata emeraldku. Namun,aku masih enggan untuk mendongak.
"Siapa gadis ini?"Tanya Sang Kitsune to the point. Ia menurunkan pistolnya seraya menunjukku. Akan tetapi,aku tak menyadarinya karena keadaanku yang masih menunduk.
"Dia...Keponakanku.."Aku seseorang itu. Mendengar itu,aku langsung mendongak. Ingin melihat rupa seseorang tersebut yang sudah mengakuiku sebagai keponakannya. Dan,betapa terkejutnya aku tatkala melihat seseorang itu yang sangat terlihat jelas di mataku. Rambut keperakannya yang melawan gravitasi. Serta..
Kemeja abu - abu serta Jas hitam dihiasi dasi berwarna merah?
Aku yakin,ini seragam keanggotaan Organisasi Kyuubi No Youko itu.
Hanya, perbedaannya dengan Kitsune dengan anggotanya adalah dari warna dasinya saja..
"Kakashi Ji - san?" Ucapku tak percaya. Melihat pamanku yang sudah di katakan hilang 6 tahun silam. Dan sekarang? Aku melihatnya dengan keadaan seperti ini?
Sungguh menyedihkan..
Perlahan,pria setengah baya itu menghampiriku seraya berjongkok di hadapanku. Bermaksud agar menyesuaikan tingginya denganku-yang masih dalam keadaan jatuh tersungkur-.
"Hai Sakura - chan!"Lama tak jumpa.."Sahutnya dengan tersenyum. Walaupun setengah wajahnya telah tertutupi oleh sebuah masker,aku yakin dia sedang tersenyum kepadaku dengan mata yang menyipit.
"..."Diam,tak ada jawaban dariku. Aku masih terpaku di tempat. Lidahku terasa kelu untuk berbicara. Nafasku sesak.
"Kakashi Ji - san.."Kenapa?"Tanyaku akhirnya. Setelah beberapa menit aku bersusah payah untuk mengeluarkan suaraku.
Awalnya,paman hanya terdiam. Namun,saat beberapa detik setelahnya akhirnya ia mau membuka suaranya.
"Maaf Sakura - chan.."Aku tak bisa memberitahu-"
"Kakashi,ayo berangkat.."Ya,suara dingin itu memotong pembicaraanku dengan paman. Pamanpun mengalihkan pandangannya yang sempat tertuju kepadaku itu kepada Sang Kitsune. Dia hanya mengangguk pelan seraya menatap kepadaku.
"Maaf Sakura - chan.."Aku harus pergi. "Dan tolong rahasiakan tentang identitas asli Kitsune. "Aku tak mau kau dan keluargamu mengalami masalah yang besar."Ujar paman seraya beranjak berdiri. Pergi menjauhiku. Namun,belum beberapa langkah ia berjalan,paman langsung berhenti dan menoleh kearahku.
"Oh ya,salam pada kakakku dan kakak iparku.."Ujarnya sembari tersenyum. Dia lalu berbalik dan meninggalkanku. Akupun hanya tersenyum seraya melambaikan tanganku kepada paman.
'Tidak paman..keluargaku memang mempunyai masalah yang besar..'Batinku sendu. Sungguh,aku belum ingin pulang kerumah. Tapi untuk kebaikan,alangkah baiknya jika aku segera pulang ke rumah.
.
.
Crieett
Kubukakan pintu rumahku yang terbilang mewah itu dengan perlahan. Tak ingin mendengarkan tangisan dari kedua orangtuaku.
"Kita bangkrut ma!KITA BANGKRUT!"Dan benar, Baru saja aku ingin melangkahkan kakiku ke rumahku. Tetapi sudah terdengar suara teriakan dari ayahku.
"Aku tahu.."Tapi,aku tidak tahu jika rumah kita dan perusahaan besar kita akan disita!"Teriak ibuku dengan membahana.
Deg!
Apa?Rumah?Perusahaan ayah?Kenapa?!
Entah keberapa kalinya aku dikejutkan oleh sesuatu hal yang tak pernah kuperkirakan. Mungkin,memang ini nasibku.
Tatapanku mulai sayu. Kulangkahkan kakiku melewati kedua orangtuaku yang sedang berdebat hebat.
"Tunggu Sakura!"Sahut ayah yang sukses membuatku menghentikan langkahku. Namun aku belum berbalik menatapnya.
"Darimana saja kau?!"Bentak ayah dengan penuh amarah. Aku hanya mengigit bibirku menahan kesabaran yang akan membuatku tegar.
"Aku ada urusan ay-"
"Urusan?!"Kau tak pernah memikirkan keluargamu yang sedang kacau HAH?!"Maki ayah memotong pernyataanku. Dengan cepat,kulangkahkan kakiku ke lantai dua seraya mengucapkan sesuatu.
"Hontou ne Gomenasai,Tou - san.."Maafku pada ayah. Menghiraukan ayah yang sedang memanggil - manggil namaku dengan keras.
Selalu begini. Selalu begini jika aku pulang dari sekolah. Sungguh,bagaimana kelanjutan kisah dari sebuah keluargaku?
Keluarga yang sangat suram bagiku.
Sesampainya dilantai dua,kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamarku. Kubuka dan kututup pintu kamarku. Kusandarkan punggungku ke pintu kamarku. Dan sekarang?Ya,aku tak bisa menahan tangisanku lagi. Kini,Cairan bak kristal telah mengalir di kedua pipiku. Kini,aku membiarkannya. Karena,sekarang hatiku begitu kacau. Tubuhku juga mulai bergetar. Dan isakan tangiskupun keluar dengan hebatnya.
Sakit,sakit jika melihat kedua orangtuaku sepeti itu..
Aku memang anak yang tidak berguna..
Bruk!
Tubuhkupun jatuh tersungkur karena kedua kakiku tak sanggup lagi menopangnya. Kesadaranku juga mulai menghilang. Dan akhirnya,aku mulai tertidur lelap dengan jejak - jejak air mata yang berada di kedua pipi mulus.
.
.
Kelopak kedua mataku mulai terbuka. Menampilkan iris emerald yang indah bagiku. Kumulai menggeliat. Saat kesadaranku telah penuh seutuhnya,aku baru sadar jika aku tidur di tempat yang salah. Kasurku masih jauh beberapa meter dariku. Ya,tak menyangka jika aku tertidur di depan pintu. Sungguh memalukan.
Kuarahkan kepalaku menuju jam dinding antik yang terbilang mahal itu. Dan ternyata saatnya aku besekolah.
Aku beranjak dari tidurku dan menuruni tangga untuk pergi ke sekolah. Sejenak,kulihat ruang tamuku yang terdapat di meja ruang tamuku. Akupun meraih sepucuk surat itu dan kubacakan dengan perlahan.
To : Sakura
Ibu dan ayah akan pergi selama dua hari karena ada keperluan penting. Tolong jaga rumah!
Ps :
Ibu sayang padamu
Seketika,sebuah senyum tulus tersungging di bibir mungilku.
"Aishiteru yo,Kaa - san(Aku juga mencintaimu ibu).."Ucapku seraya meninggalkan ruang tamu dan mempersiapkan untuk pergi ke sekolah.
.
Konoha Senior High School
.
Sregg
"Ohayou minna - san!"Sahutku ceria. Seperti biasa.
"Ohayou Sakura - chan.."Sahut semua murid seperti biasa. Aku hanya tersenyum senang melihat keramahan mereka padaku.
Bagiku,sekolah ini adalah rumah yang berharga dibandingkan rumahku. Keluarga lain yang sangat kucintai. Maka dari itu,aku takkan pernah bosan jika berada di sekolah.
"Sakura - chan!"Siniii!"Seru sahabatku bersurai pirang ikat ponytail,Yamanaka Ino.
Akupun mengangguk antusias dan segera menghimbur kearah mereka.
"Hei kalian!Aku punya berita bagus nih!"Sahut temanku yang bersurai pirang pucat,Shion..
"Dan bukan tentang Namikaze - sama kok!"Tenang saja!"Tutur Ino cepat. Mungkin agar aku tak pergi lagi seperti kemarin.
Akupun hanya tertawa hambar. Tak menyangka aku bertemu mafia terkenal dan Pengusaha terkenal dan dihormati dalam wujud satu orang. Benar - benar suatu keajaiban bagiku.
"Lalu?Tentang apa?"Tanyaku penasaran. Tidak biasanya mereka tak membicarakan tentang Kit-err Namikaze - sama.
"Begini,katanya kita akan kedatangan murid baru yang katanya tampannn!"Seru Ino histeris. Membuatku sweatdrop. Ah,seharusnya aku tahu mereka akan membicara kan sesuatu tanpa jauh dari cowok.
"Ino!Kau ini!"Berarti,jika kau ingin bersama murid baru,Namikaze - sama akan jadi milikku!"Sahut Shion tak kalah histeris.
"Eh?Memangnya kau bisa mendapatkannya?"Kau tahu kan bagaimana sifat Namikaze - sama?"Dingin dan tajam!"Kau takkan bisa mendapatkannya!"Hanya wanita luar biasa yang bisa mendapatkan hati Namikaze - sama!"Bela Ino tak mau kalah.
Huh!Tetap saja ujung - ujungnya membicarakan Pemuda Namikaze itu lagi!
"Justru akulah wanita luar biasa itu Ino!"Teriak Shion tak mau kalah.
Akhirnya terjadilah perdebatan memperebutkan cowok ideal yang takkan mungkin mereka dapatkan.
"Kalian!Hentikan!"Ya,saat mereka sedang berdebat,seorang guru datang ke kelas dan menghentikan perdebatan kedua sahabatku ini. Aku hanya terkekeh geli saat melihat raut muka Ino yang merenggut kesal.
"Seperti yang kukatakan barusan,Akan ada murid baru yang akan menjadi siswa kelas XI B."Ujar Seorang guru yang kuketahui bernama Asuma.
"Tepatnya,murid terhormat.."Imbuh Asuma - sensei yang semakin penasaran dengan rupa siswa itu.
"Silahkan masuk,Tuan.."Ujar Asuma - sensei seraya membungkukkan tubuhnya hormat.
Dan seketika,kami dikejutkan lagi oleh siswa baru tersebut.
"Na,Namikaze - sama?!"
TBC
Yosh!Chapter 2 selesai!XD
Dan terimakasih buat para senpai yang sudah memberi tahu tentang cara meng update fic..
Bagaimana?Masih terlalu sedikitkah?
Maaf,saya tak bisa membuat fic terlalu panjang dikarenakan laptop saya sedang koma. Dan saya hanya bisa mengetik fic lewat ponsel. :)
Dan mungkin,chapter selanjutnya updatenya akan lama. Karena saya akan menjalani ulangan semester yang mungkin lebih dari 1 minggu. Maklum,saya baru kelas 1 SMA. :P
Sekali lagi,review kalian sangat membantu..:D
RnR?
