GOMENASAI hamba ucapkan untuk para reader yang udah ngebaca fanfict chapter 1. Sebenarnya judul awal fanfict ini adalah Destiny, namun entah hidayah apa yang hamba dapatkan, tiba-tiba saja hamba ingin mengubah judulnya menjadi The Red Thread of My Destiny. Jadi, mulai saat ini hamba umumkan, bahwa judul fanfic ini adalah The Red Thread of My Destiny. Mohon dimaafkannnnn…

Previous Chap :

"Itu jimat yang aku dapatkan dari okaa-san. Beliau memberikan itu saat aku masih kecil. Jadi karena sekarang akau sudah besar, maka aku berikan ini untuk Hinata-chan agar Hinata-chan selalu dilindungi oleh Kami-sama. Jadi tolong dijaga ya Hinata-chan" jelas Naruto panajang lebar.

"Uhum! Na-Naruto senpai..A-arigatou."

"Nah, sekarang masuklah." Ucap Naruto sembari merapikan poni rata Hinata yang telah ia kesampingkan sebelumnya.

"I-Iya. Jaa..Na-naruto senpai."

"Jaa..Hinata-chan" jawab Naruto yang masih berdiri di depan rumah Hinata, menunggu sampai gadis itu benar-benar telah masuk ke dalam rumahnya.

Tanpa Naruto atau Hinata sadari sepasang mata obsidian yang kelam melihat apa yang telah mereka lakukan.

"Hyuuga Hinata.."


The Red Thread Of My Destiny © Aida Yie

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romance. | Warning : AU, OOC, Typos, etc. | Rate : Fiction T |

Pairing : NaruHina, SasuHina.

DON'T LIKE, DON'T READ!

Chapter 2

.

Konoha University ..

"Ssst..hey, apa kau sudah dengar?"

"Tentang Sasuke senpai kan?"

"Ssst..Sasuke senpai pacaran dengan Sakura senpai!"

"Kyaaa….Sakura senpai benar-benar beruntung bisa berpacaran dengan Sasuke senpai."

Kegiatan pagi di kelas Hinata dimulai dengan bisik-bisik junior yang kebanyakan perempuan tentang Sasuke yang berpacaran dengan Sakura. Tidak ada yang mengetahui dari mana sumber berita itu berasal.

"Ssst..Bukankah Naruto senpai menyukai Sakura senpai?"

"Lalu bagaimana dengan Naruto senpai? Ku dengar mereka sudah sahabatan sejak senior high school."

Hinata yang awalnya tidak peduli dengan teman-temannya yang sedang bergosip tentang Sasuke tiba-tiba langsung terhenyak saat salah satu dari temannya berbicara tentang Naruto.

"Iya, aku juga tahu. Naruto senpai kan sangat menyukai Sakura senpai sejak mereka di senior high school."

"Jadi itu cinta yang bertepuk sebelah tangan ya? Kasihan Naruto senpai."

Setelah mendengar percakapan itu entah mengapa Hinata merasa bahwa Naruto begitu mencintai Sakura.

'Sejak senior high school ya?' gumam Hinata dalam hati.

Tiba-tiba pikirannya melayang mengingat kejadian saat ia pertama kali bertemu dengan Naruto. Ya, ia jatuh cinta pada Naruto sejak saat itu. Ia sangat menyukai mata Safir Naruto yang sebiru samudera.

.

.

.

Flashback : ON

"Oy, Naruto! Lihat! Ini adalah foto-foto para junior kita. Ternyata mereka cantik-cantik ya."

Kiba dan Naruto saat itu berada tepat di depan Mading jurusan mereka. Di Mading itu terdapat pembagian kelas bagi para mahasiswa baru menurut jurusan masing-masing yang di sertai dengan foto dari mahasiswa itu sendiri.

"Lihat ini, menurut kabar yang ku dengar gadis ini adalah salah satu Juara Karate tingkat Nasional se-Konoha. Whoaa… Jadi, namanya Matsuri ya?"

Naruto hanya melirik dengan malas ke foto yang ditunjuk oleh Kiba.

"Lalu apa hubungannya denganku, Kiba?"

Jujur saja ia tidak begitu peduli dengan foto para juniornya yang menurut Kiba mereka semua cantik. Atau lebih tepatnya ia tidak peduli seberapa cantik junior mereka nanti, karena satu-satunya perempuan yang menurutnya lebih cantik dari semua foto yang ada di sana hanyalah Sa…

"Lupakanlah Sakura."

Tiba-tiba Kiba memotong pikiran Naruto yang sedang memikirkan Sakura. Seakan laki-laki itu tahu apa yang sedang Naruto pikirkan.

"Aku tahu, gadis yang ada di pikiranmu hanyalah Sakura."

Naruto terdiam, seakan ia membenarkan apa yang dikatakan Kiba.

"Dan laki-laki yang ada di hati gadis itu hanyalah Sasuke. Kau tahu, Sakura bukanlah perempuan satu-satunya di bumi ini."

"Aku tahu Kiba, tapi a..."

"Hey, Naruto. Kau punya spidol?"

Perkataan Naruto langsung terpotong dengan perkataan Kiba yang meminta spidol padanya.

"Untuk apa?"

"Sudahhh.. berikan saja padaku!"

Naruto pun memberikan spidol hitam yang ada di saku jaket hitam orangenya.

"Lihat ini!"

Naruto melihat kearah foto seorang junior mereka yang telah dilingkari Kiba dengan spidol hitam tersebut. Dan di atas foto tersebut Kiba menambahkan kata-kata NARUTO's TARGET!

Naruto begitu terkejut ketika ia membaca coretan Kiba di salah satu foto seorang gadis. Dengan cepat, Naruto berusaha menghapus kata-kata tersebut.

"Sial! Ini permanen!" decih Naruto.

Melihat usahanya yang sia-sia, Naruto pun berusaha merebut spidol tersebut dari tangan Kiba.

Butuh beberapa lama bagi Naruto untuk mendapatkan spidolnya kembali. Namun pada akhirnya Naruto berhasil mendapatkan spidolnya yang masih terbuka – tanpa tutup dengan menarik paksa benda tersebut dari tangan Kiba. Senyum kemenangan ditunjukkan Naruto pada Kiba, namun ekspresi yang diperlihatkan Kiba sungguh aneh.

"Na-Naruto, di belakangmu.."

Dengan polosnya Naruto melihat ke arah belakangnya. Di sana berdiri seorang gadis bersurai indigo dengan kemejanya yang berwarna ungu pastel.

'Lalu apa yang salah?' Tanya Naruto dalam hati.

Naruto pun melihat ke arah Kiba karena tidak menemukan keanehan pada gadis tersebut. Dengan isyarat gerakan, Kiba menunjukkan dimana kesalahan Naruto dengan mencontohkannya pada kemejanya sendiri. Naruto pun memperhatikan Kiba.

'Baju? Bagian atas dada kanan?' itulah yang mampu di cerna oleh otak Naruto dari gerakan yang dibuat Kiba.

Dengan perlahan Naruto melihat ke arah belakang sekali lagi, berharap ia menemukan kesalahan yang ia lakukan pada gadis bersurai indigo tersebut.

Dan benar saja, sebuah garis hitam yang diciptakan Naruto –secara tidak sengaja terlihat dengan jelas di kemeja ungu pastel tersebut. Sontak Naruto langsung terkejut.

'Sial! Ini kan permanen!' keluh Naruto dalam hati.

Perlahan namun pasti, Naruto berusaha untuk memandang wajah dari pemilik kemeja yang telah ia beri sebuah karya' disana. Belum hilang keterkejutan Naruto karena 'karya' yang ia ciptakan, semakin membulat mata Naruto melihat wajah pemilik kemeja ungu pastel tersebut. Dia adalah junior mereka, yang fotonya dilingkari Kiba plus dengan coretan NARUTO's TARGET.

Melihat Naruto yang masih terdiam, Hinata pun memberanikan diri untuk bersuara.

"A-ano.."

Seakan cicitan Hinata adalah sebuah suara lonceng, Naruto pun langsung tersadar.

"A-a-a…go-gomen a-aku.." tiba-tiba saja Naruto menjadi kikuk.

Tidak tahu apa yang harus dikatakan Naruto. Minta maaf, sudah Naruto lakukan, ya meskipun ia mengatakannya dengan gagap. Tapi bukankah ia sudah minta maaf?

Masih tidak ada reaksi dari si gadis tersebut. Di saat yang canggung ini, ia tidak tahu apa yang mesti ia katakan. Jadi untuk beberapa saat, kesunyian menyapa daerah di depan mading tersebut. Kiba yang bosan pun menunujukkan seringainya. Sepertinya ia mendapatkan sebuah ide.

"A-ah.. kau mahasiswi baru ya?" Tanya Kiba pada gadis yang masih menundukkan kepalanya.

"A-ano..I-iya.."

"Ini fotomu kan?"

Kiba menunjuk sebuah foto yang sebelumnya ia lingkari dengan spidol plus coretannya NARUTO's TARGET. Mendengar pertanyaan itu, secara bersamaan Naruto dan gadis itu melihat ke foto yang di tunjuk Kiba. Secara tidak langsung, Kiba menyuruh gadis tersebut membaca coretan yang ia buat. Naruto membulatkan matanya melihat coretan Kiba yang gagal ia hapus karena spidol permanennya.

Dengan gerakan patah-patah, Naruto melihat kearah Kiba dan menampilkan ekspresi kekesalannya.

'Ki-kiba!' geram Naruto dalam hati.

Dengan seringaiannya yang masih setia menempel di bibir Kiba, ia pun mengedipkan satu matanya ke Naruto.

"Ah..jadi namamu Hyuuga Hinata ya?"

"…."

Diam. Hinata tak berani menjawab pertanyaan Kiba. Tentu saja karena ia tanpa sengaja membaca coretan yang ada di atas fotonya

"Whoaa... Hinata-chan, lihat! Kau adalah Target Naruto."

Saat itu juga Hinata berharap laki-laki yang bernama Kiba ini tidak mengatakan kata-kata itu. Hinata bisa baca, jadi tidak usah di ucapkan lagi.

"Ck, Naruto, kau benar-benar pandai memilih target."

Masih dengan seringainya, Kiba melihat kearah Naruto. Sedangkan Naruto membalasnya dengan wajah yang penuh dengan kekesalan.

'Ki-Kiba!' geram Naruto.

Tidak peduli dengan wajah kesal Naruto, Kiba melanjutkan percakapannya dengan Hinata.

" Jurusanmu Seni Musik ya? Whoaa.. kebetulan sekali!" lirik Kiba ke Naruto.

'Sekarang apalagi!' geram Naruto.

"Naruto kan jurusan Seni Musik juga!" seringaian Kiba makin lebar setelah mengatakannya.

Dalam sekejap, wajah Naruto berubah menjadi cengo.

'Dia? Seni Musik juga?' Tanya Naruto dalam hati sembari melihat Hinata yang masih menunduk.

"Nah, Naruto. Berhubung Hinata-chan adalah targetmu dan kebetulan sekali kau adalah senpainya, tolong kau antar Hinata-chan ke kelasnya."

Sungguh, kekesalan Naruto terhadap Kiba sudah melewati batas maksimum. Ingin sekali ia menjambak rambut coklat Kiba saat itu juga. Di tambah lagi perintah Kiba yang seenaknya saja menyuruhnya mengantar gadis bersurai Indigo itu ke kelasnya.

"Baiklah, aku pergi dulu! Ah..Hinata-chan, jangan takut sama Naruto senpai, dia tidak menggigit kok. Kau tinggal ikuti saja dia. Ok! Jaa…"

Itulah kalimat terakhir Kiba sebelum meninggalkan Naruto dan Hinata di dalam kecanggungan yang luar biasa. Naruto hanya mampu memandang punggung Kiba, sedangkan Hinata masih saja menundukkan kepalanya.

.

.

.

Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Narutolah yang memulainya.

"Err namamu Hinata ya?"

Sungguh sebuah pertanyaan yang bodoh. Mengingat sudah beberapa kali Kiba memanggil nama gadis tersebut. Tetapi hanya itulah pertanyaan yang muncul di otak Naruto saat itu.

Hinata pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Naruto.

Kembali Diam. Berakhir dengan satu pertanyaan yang di jawab hanya dengan sebuah anggukan. Naruto sudah tidak tahan dengan suasana yang seperti ini. Maka dari itu, ia pun berusaha membuat suasana yang lebih ceria atau bisa di katakana kelewat ceria.

"NAH, HINATA-CHAN! SEKARANG PANGGIL SAJA AKU NARUTO SENPAI! AKU AKAN MEMBIMBING JALAN MENUJU KELASMU!"

Perkataan Naruto hampir seperti sebuah teriakan. Tentu saja hal itu membuat Hinata semakin takut.

Tidak ada reaksi yang di dapat Naruto dari Hinata. Gemas karena Hinata hanya diam saja, Naruto pun langsung menarik pergelangan tangan Hinata dan berjalan bersama. Di saat itu juga, Hinata memberanikan diri melihat kearah Narutoyang berjalan di depannya sembari menarik tangannya.

Butuh beberapa menit bagi Hinata untuk menyadari bahwa Naruto tidak membawanya menuju kelas, melainkan ke wastafel yang biasa digunakan mahasiswa untuk mencuci muka sehabis berolahraga.

Masih dalam keadaan bingung, Hinata pun memperhatikan Naruto mulai membuka keran airnya, menampung airnya dan mencipratkannya kearah 'karya'nya yang ada di kemeja Hinata. Sontak Hinata langsung mundur dua langkah dan menundukkan kepalanya.

"Go-gomen Hinata-chan, aku hanya ingin membersihkan garis itu."

Naruto berusaha menjelaskan kenapa ia melakukan semua itu. Namun bagi Hinata hal itu tentu saja membuatnya malu.

"Ti-tidak apa se-senpai. Bi-biar saya saja yang me-membersihkannya."

Sungguh, Hinata sangat malu bahkan sudah mencapai batas maksimumnya. Melihat Hinata yang seperti itu, Naruto menjadi tidak tega untuk melanjutkan kegiatannya.

"Baiklah. Tapi, sebagai tanda bahwa aku adalah senpai pertama Hinata-chan, …."

Naruto menarik Hinata untuk mendekat ke arahnya dan mulai membuat 'karya' lagi di kemeja Hinata.

"…ini, Hinata-chan adalah junior pertama yang mendapatkan tanda tanganku. Jadi garis tadi tidak terlihat mencolok kan?"

Naruto mengatakannya dengan kagum setelah melihat hasil 'karya'nya yang malah semakin terlihat mencolok di banding 'karya' sebelumnya.

Hinata yang melihat tanda tangan Naruto yang ada di kemejanya hanya terdiam.

'Ter-ternyata memang semakin mencolok ya?' Tanya Naruto dalam hati.

"Hahhh.. Baiklah Hinata-chan. Pakailah ini."

Naruto meminjamkan Hinata jaket hitam orangenya.

"Ta-tapi se-senpai.."

Yak! Akhirnya Hinata bersuara.

"Tidak apa. Pakailah."

Dengan ragu, Hinata mengambil jacket Naruto dan memakainya. Tepat seperti dugaan Naruto, jaket itu sangat kebesaran untuk Hinata. Bahkan Hinata saja hampir tenggelam dibuatnya.

"Penguin."

Tanpa sadar Naruto mengatakannya. Bagaimana tidak, lengan jaket yang kepanjangan untuk Hinata, dan panjang jaket yang hampir mencapai paha Hinata.

"E-eh?"

Hinata merasa bahwa sepertinya Naruto megucapkan sesuatu. Dan Naruto kembali mengatakan apa yang diucapkannya tadi.

"Menurutku Hinata-chan seperti penguin. Lucu sekali."

Melihat Naruto yang tersenyum saat mengatakan itu, membuat pipi chubby Hinata merona. Mata Safir Naruto seakan seperti samudera yang mampu membuatnya tenggelam hingga ke dasr samudera. Dengan segera Hinata menundukkan kepalanya, tidak ingin terlalu lama terbuai akan mata indah senpainya.

"Nah, Hinata-chan. Ayo! Aku akan mengantarmu ke kelas."

Mata itu, mata yang membuat Hinata jatuh cinta pada senpainya. Mata yang membuat Hinata beranggapan bahwa itulah mata terindah yang pernah ia lihat sampai sekarang.

.

.

.

.

Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk menenmukan kelas Hinata. Meskipun kelas Hinata berada di lantai empat. Di Konoha University bagi para mahasiswa baru, ruang kelas berada di lantai paling atas, sedangkan mahasiswa lama berada di lantai tiga, dua dan satu.

"Nee, Hinata-chan ini adalah ruang kelasmu. Kalau Hinata-chan membutuhkanku, cari saja aku di lantai tiga. Tanyalah kepada siapa saja disana, dimana ruang kelas Uzumaki Naruto, maka mereka akan langsung memberitahukannya padamu."

Tentu saja, siapa warga lantai tiga yang tidak menganal Uzumaki Naruto, laki-laki berkulit Tan, rambut kuningnya yang sangat mencolok dan terkenal karena keramahan dan baik kepada siapa saja.

"Ha-hai se-senpai."

Hinata masih belum berani mengucapkan 'Naruto senpai', entah kenapa ia sangat malu untuk mengatakannya.

"Dan, ah, Hinata-chan..soal coretan di fotomu tadi, a-"

Sontak Hinat langsung teringat coretan di atas fotonya "NARUTO's TARGET" , jadi belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Hinata langsung memotong kalimat Naruto.

"A-arigatou Naruto senpai"

Tanpa Hinata sadari, ia memanggil Naruto dengan "Naruto senpai" dan langsung membungkuk sebagai tanda terima kasih dan pergi memasuki kelasnya, meninggalkan Naruto yang berusaha menahan tawa melihat tingkah lucu Hinata dan tak lupa wajah meronanya.

.

.

.

Flashback : OFF

.

Ya, itu adalah salah satu kenangan indah bersama Naruto. Dan tentang kemeja dengan tanda tangan Naruto, tentu saja Hinata menjaga satu-satunya benda kenagannya bersama Naruto. Setahun setelah itu, kini ia sudah tidak di lantai empat lagi tempat kenangannya bersama Naruto, karena di lantai empat telah diisi oleh mahasiswa baru.

Semenjak saat itu, entah mengapa Hinata selalu merasa kecepatan jantungnya memompa darah menjadi tiga kali lebih cepat setiap kali bertemu dengan Naruto. Hinata menyadari, bahwa ia menyukai Naruto, ah bukan, ia mencintai Naruto. Meskipun ia tahu bahwa Naruto menyukai Sa…

"Nee, Hinata-chan. Kenapa melamun?"

Tiba-tiba saja Matsuri datang dan duduk di depan Hinata, memotong hal yang sedang dipikirkannya.

"A-ah tidak, Matsuri-chan. Aku ti-tidak melamun. Hanya saja.."

"Memikirkan Naruto senpai?"

Suara Matsuri yang cukup keras saat mengatakan itu membuat beberapa perhatian teman-teman yang ada di sekitar mereka tertuju pada satu titik, yaitu Hinata. Menyadari ia di perhatikan teman-temannya, dengan segera Hinata menutup mulut Matsuri, meskipun itu sudah terlambat.

"Ma-matsuri-chan.."

Hinata merengek, berharap sahabatnya tidak membocorkan rahasianya bahwa ia menyukai senpainya.

"Haha gomen Hinata-ch.."

"Kyaaaa.. Sasuke-senpaiiii.."

"Kyaaaa.."

Tiba-tiba suara bisik-bisik di kelas berubah menjadi teriakan teman-teman Hinata yang melihat Sasuke melewati kelas mereka.

Hinata hanya melihat sekilas kearah luar kelasnya, melihat temannya yang meneriaki Sasuke. Lalu kembali fokuspada lapangan di luar jendelanya. Semilir angin menerbangkan helaian indigonya yang halus. Sasuke yang melihat tingkah Hinata yang tidak peduli kedatangannya hanya menampilkan seringaiannya yang malah membuat teman-teman Hinata semakin berteriak histeris.

Di saat Hinata tengah menikmati semilir angin, tiba-tiba Matsuri memanggilnya.

"Hinata-chan, lihat. Itu Naruto senpai."

Seketika Hinata langsung mengalihkan pandangannya dari lapangan yang ada di luar jendelanya kearah yang ditunjuk Matsuri, yaitu sekitar tiga meter di belakang Sasuke. Ketika itu pula wajah Hinata yang semulanya putih kini menjadi lebih merona. Tanpa perintah, senyum manis terkembang di bibir Hinata.

Sungguh, hanya dengan melihat Naruto melewati kelasnya sudah cukup membuat sebuah senyum terkembang di bibirnya.

Sasuke yang melihat perubahan drastis pada wajah Hinata segera mengarahka pandangannya ke titik yang di pandang Hinata, dan titik itu adalah Naruto. Sasuke hanya dapat menggeram, berusaha menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya dan segera beranjak dari tempatnya.

Hinata terus memandang Naruto yang melewati koridor kelasnya, berharap pemuda itu melihat dirinya yang ada di dalam kelas. Namun harapan Hinata pupus seketika, bahkan sampai Naruto yang sudah tidak terlihat lagi di koridor luar kelasnya, pemuda itu tak ernah melihat gadis bersurai indigo itu di dalam kelasnya.

.

.

.

Mata kuliah terakhir untuk hari ini sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Hinata yang awalnya sangat menikmati mata kuliah terakhir ini, merasa terganggu dengan hasratnya untuk buang air kecil. Dengan malu-malu Hinata memanggil Matsuri untuk menemaninya ke toilet.

"Ma-matsuri-chan, bi-bisakah menemaniku ke toilet?"

Matsuri bukannya tidak mau menemani Hinata, hanya saja ia belum selesai mengerjakan catatan yang ada di papan tulis.

"Err.. gomen Hinata-chan. Catatanku belum selesai.."

"Ba-baiklah, tak apa Matsuri-chan. A-aku akan pergi sendiri."

".. gomen Hinata-chan."

Hinata hanya tersenyum menanggapinya.

"Umm..sensei, bisakah saya izin keluar sebentar?"

"Baiklah Hyuuga-san."

Setelah mendapatkan izin, Hinata segera berjalan melewati meja Matsuri yang ada di depannya. Namun tiba-tiba Matsuri memegang pergelangan tangan Hinata, sehingga ia berhenti sejenak.

"Nee, Hinata-chan, toilet wanita di lantai tiga sedang rusak, jadi pergilah ke toilet wanita di lantai dua."

Hinata hanya mengangguk atas informasi yang diberikan Matsuri.

.

.

.

Turun melewati tangga, sampailah ia di lantai dua. Melewati beberapa ruang kelas senior dan termasuk ruang kelas Naruto. Begitu cepat kecepatan jantung Hinata saat ia melewati koridor kelas Naruto. Ia begitu bahagia saat ia melihat Naruto di dalam kelas, senyumnya terkembang begitu saja.

Sepasang mata obsidian yang berada di ruangan yang sama melihat ekspresi si gadis bersurai indigo. Dia benci saat mengetahui bahwa hanya Naruto lah yang ada di balik senyum manis itu. Lama kedua mata obsidian itu memandang wajah si gadis bersurai indigo, sampai ia menajamkan matanya kearah sang gadis, dikarenakan perubahan mimik wajah Hinata yang memandang Naruto menjadi datar. Mengikuti kearah mana mata Hinata memandang, Akhirnya ia mengetahui perubahan wajah itu. Perubahan wajah dimana Naruto sedang yang memandang perempuan lain, Sakura.

Tanpa obsidian itu sadari, Hinata telah beranjak dari tempatnya menuju toilet yang berada beberapa puluh meter dari tempatnya semula. Tahu kemana arah gadis bersurai indigo tersebut, Sasuke berencana ingin menyusulnya.

"Sensei."

"Ya, Uchiha-san?"

"Aku keluar sebentar."

"Baiklah"

Percakapan singkat itu dimulai dan diakhiri dengan kata yang singkat pula.

Tidak butuh waktu yang lama bagi Sasuke untuk menyusul Hinata di toilet wanita. Ya, saat ini seorang Uchiha Sasuke berada di dalam ruangan toilet wanita, menunggu seorang gadis yang ada di salah satu dari ke lima pintu toilet tersebut. Secara perlahan ia mengunci pintu utama toilet wanita. Bersandar di pintu yang telah ia kunci dan ia cukup menunggu sang gadis untuk muncul.

Kejenuhan Sasuke menunggu seseorang segera hilang setelah ia mendengar suara dari kunci pintu ke-empat terbuka, menampilkan seorang gadis bersurai indigo yang sedang menunduk dan merapikan pakaiannya. Sudah ia duga, kalau gadis ini tidak menyadari keberadaannya. Memberi sebuah kejutan untuk gadis ini, Sasuke pun memanggilnya dengan sebuah seringai yang menghiasi bibir sang Uchiha.

"Hyuuga..Hinata"

TBC

^^Review Please^^

Special Thanks to Moeyoko-chan AndevilavenderS69, akan hamba usahakan untuk update secepat kereta shinkansen, arigatou :3