DEG

"ARGHH...!!!"

Saat sedang asik-asiknya meremas dada Sakura serta menciptakan kissmark di sekitarnya, tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit seperti tetimpa puluhan ton besi.

"DAMN ! Jangan keluar sekarang! ARGHHHHH.."

Sasuke mulai meracau sambil mencengkram erat kepalanya guna menahan rasa sakit itu.

"Hah...hah...Anda kenapa?"

Sakura yang semula bernafas lega karena Sasuke sudah melepaskan ciumannya, sekarang malah dibuat kebingungan lagi oleh Sasuke yang terlihat sedang menahan sakit di kepalanya.

"ARRGGHHHHHHH...!!!"

"Sa...Sasuke-san!"

~~*~~

HEAL ME !

.

.

.

.

.

Descleimer Mashashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Rate M

.

.

.

.

.

Sasuke Uchiha - Sakura Uchiha

.

.

.

.

"Sasuke-san, anda baik-baik saja?"

Sakura bertanya setelah menyadari Sasuke mulai tenang.

"Ugh..."

Tak ada jawaban dari Sasuke yang ada hanyalah rintihan sakit yang terdengar dari Sasuke yang masih mencengkram kepalanya. Terlihat jelas kerutan di dahi pria tampan yang sedang menahan rasa sakit itu.

Sakura yang mulai khawatir perlahan-lahan mencoba memegang bahu Sasuke, bermaksud menenangkan pria tersebut. Tapi belum sempat tangan mungil itu menyentuh bahu bergetar di hadapannya, tiba-tiba saja Sasuke mencengkram erat tangan Sakura.

"Sa...Sasuke-san? A...Anda baik-baik saja?" Tanya Sakura hati-hati serta menatap Sasuke yang sekarang terdiam dan menundukkan kepalanya menyembunyikan sepasang onyxnya.

Perlahan-lahan Sasuke mulai mengangkat kepalanya, terlihat jelas butir-butir keringat membasahi dahinya. Tatapan Sasuke mengarah pada sepasang emerald yang memancarkan sorot kekhawatiran dihadapannya.

"Hn. Aku baik-baik saja." jawabnya sambil terus menatap tajam mata Sakura.

"Aah...Syukurlah anda baik-baik saja." helaan nafas lega serta senyuman manis pun tercipta di wajah cantik Sakura setelah mendengar bahwa Sasuke baik-baik saja.

"Apa yang telah terjadi? Kenapa kau bisa ada disini?"

Sasuke akhirnya bertanya setelah menyadari Sakura yang duduk di samping ranjang rumah sakitnya dengan keadaan yang err... berantakan.

Sakura yang mendengar pertanyaan Sasuke itupun tersadar lalu segera melihat keadaan dirinya sendiri.

Rambut soft pink nya yang biasanya terlihat digelung rapi kini berantakan seperti orang bangun tidur, dua kancing kemeja putih kesayangannya terbuka sehingga memperlihatkan leher jenjangnya serta belahan dada nya, dan yang lebih parah rok hitam selututnya yang tersikap memperlihatkan paha putih mulusnya. Bodoh. Kenapa ia baru menyadarinya?! Dirinya hampir saja diperkosa oleh pasiennya sendiri, dan dengan polosnya ia bersikap tenang seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Wajahnya pun memerah menahan perasaan malu sekaligus marah setelah menyadari keadaannya.

"KYAAAA !!!"

Teriak Sakura sambil beranjak dari tempatnya duduk tadi serta merapikan kembali pakaiannya yang berantakan.

"Ka..Kau...KAU!!!" tunjuk Sakura tepat di depan wajah Sasuke yang memandang bingung dirinya.

"Hn?"

"Ke..Ke..KENAPA KAU MELAKUKAN ITU PADAKU?!" teriak Sakura dengan wajah merah dan berusaha menahan air mata yang siap untuk keluar dari emerald indahnya.

"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa padamu."

Sasuke yang sejujurnya masih bingung itupun berusaha untuk bersikap tenang dihadapan wanita cantik yang sedang marah-marah padanya.

"BRENGSEK! Jangan berpura-pura bodoh! "

Hilang sudah rasa malu pada dirinya tatkala dengan mudahnya pria itu mengatakan tak melakukan apapun pada dirinya, kini rasa amarah lah yang menguasainya.

"Aku berkata jujur. Aku bersumpah tidak melakukan apapun padamu. Dan kumohon tenanglah, ini rumah sakit, kurasa sebagai dokter kau lebih tau peraturan disini."

Sasuke mencoba menenangkan sang dokter cantik yang kini berwajah merah menahan amarah dan menatap tajam dirinya.

"Persetan dengan itu! Kau berpura-pura bodoh atau memang kau bodoh hah?! Kau hampir saja memperkosaku disini! Dan dengan mudahnya kau mengatakan kau tak melakukan apapun padaku! Sialan! Brengsek! "

Peduli setan dengan peraturan rumah sakit yang menyatakan bahwa ketenangan pasien adalah No.1. Baginya yang terpenting saat ini adalah meminta penjelasan dan permintaan maaf dari salah satu pasien nya yang dengan se enak dengkulnya hampir memperkosanya itu.

Bagai hilang kendali, Sakura kini kembali mendekat kearah Sasuke dan masih dengan amarahnya yang meluap, ia melayangkan telapak tangannya ke wajah pria itu. Tapi sebelum menyentuh wajah tampan dihadapannya, tangan nya telah dicengkram kuat oleh sang pemilik wajah.

Kini jarak antar keduanya hanya beberapa centi. Sasuke menatap tajam mata emerald dihadapannya.

"Sekali lagi ku katakan. Aku tak melakukan apapun pada mu, nona " jawab Sasuke dengan penuh penekanan.

Sekilas Sakura merasa tertegun menatap onyx sekelam malam yang memandangnya tajam saat ini. Tapi detik selanjutnya ia tersentak tatkala onyx itu berubah memandangnya sendu.

"Omong kosong! "

Dengan sekuat tenaga Sakura menyentak tangan Sasuke yang mencengkram tangannya. Merasa lelah dengan perdebatan ini dan jengah memandang wajah datar tak bersalah pria itu, kini ia mulai berbalik dan pergi dari ruang ini secepatnya.

Tanpa ia sadari, sang pria masih setia menatap setiap pergerakkannya sampai ia menghilang di balik pintu dengan pandangan tajam dan sulit diartikan.

.

.

*

.

.

"Pria brengsek! Tak tau malu! Sialan!"

Setelah pergi dari ruangan Sasuke, sekarang disinilah dirinya. Di kamar mandi khusus dokter. Mengumpat di depan cermin merutuki kesialannya hari ini.

Splash

Dibasuhnya wajah cantiknya, berharap air bisa menghilangkan sedikit amarahnya.

"Oh... apa yang harus kukatakan pada Gaara-kun setelah ini?!"

Dibukanya dua kancing kemeja nya, hingga tampaklah sedikit belahan dadanya. Terpampanglah tiga tanda kepemilikan yang masih terlihat baru itu. Dirabanya tanda itu perlahan sampai cepat dan kasar berharap tanda itu bisa hilang.

Tanpa ia sadari air mata mulai mengalir kembali dari mata emerald nya.

"Kami-sama... apa salahku?"

.

.

.

*

.

.

.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 9 tepat. Waktu dimana segala pekerjaan harus ditutup, menunggu esok hari untuk melanjutkannya. Waktu dimana semua orang mengistirahatkan badan serta pikirannya dari kesibukan hari ini.

Tapi tidak untuk seorang gadis yang masih berkutat dengan dokumen yang seharusnya ia periksa besok di ruangan kerja mewahnya.

Entah kenapa dokter berparas cantik ini enggan meninggalkan pekerjaannya, sejak pagi ia hanya memeriksa satu orang pasien dan setelahnya menolak memeriksa pasien lain. Alhasil semua pekerjaan sang CEO muda itu diambil alih oleh Dokter Ino, sahabat sejatinya.

Ino rela menggantikannya karena ia merasa Sakura terlihat berbeda hari ini. Paras cantiknya yang selalu bersinar setiap waktu kini terlihat layu bagai bunga yang tak diberi air. Ino sebenarnya sangat khawatir dengan sahabat pink nya itu, sampai ia menanyakan keadaannya.

"Hei forehead! Ada apa denganmu?"

"Aku baik."

Menghela nafas setelah mendapat jawaban singkat Sakura. Ino memilih pergi dan memberikan waktu sendiri untuk Sakura menenangkan diri. Ino hanya bisa berdoa semoga teman sepermainannya itu kembali ceria seperti biasanya.

"Aku pulang dulu, jangan terlalu memaksakan dirimu. Jaa forehead!"

.

.

*

.

.

Hari ini adalah hari tersialnya. Ingatan tentang kejadian tadi pagi kembali hinggap di pikirannya. Sungguh ia masih merasa terhina dan marah akan hal itu. Ia mencoba melampiaskan kekesalnya dengan berkutat dengan dokumen-dokumen di ruangannya.

Ia menolak memeriksa semua pasien yang seharusnya ia tangani secara langsung dan malah menyerahkannya kepada Ino. Anggap dirinya tidak professional sebagai dokter tertinggi dirumah sakit ini. Tapi lupakan hal itu, ia merasa kacau hari ini, sungguh hati dan pikirannya sangatlah lelah.

Tiba-tiba ia tersentak dari lamunannya saat mendapati handphone nya bergetar menandakan adanya pesan masuk. Segera saja ia mengechecknya.

From : Gaara-kun

To : My Hime

Aku tau kau belum pulang. Aku menunggumu diluar.

Segera saja ia merapikan meja serta penampilannya dengan tergesa-gesa, ia tak ingin kekasihnya menunggu lama.

Setelah sampai di pintu masuk rumah sakit, ia terpaku sesaat kala melihat kekasihnya telah menunggu dirinya dengan bersender pada mobil Lamborghini Gallardo merah kesayangannya.

Dan oh, liatlah kekasihnya yang sangat keren itu, dengan penampilan yang berantakan namun terkesan seksi, lengan kemeja putihnya yang terlipat sampai siku, celana bahan yang pas membalut kaki panjangnya, rambut merah acak-acakan, serta tatapan jade nya yang tajam mampu membuat Sakura membayangkan adegan panas bersama prianya itu.

Menggelengkan kepalanya guna menghilangkan pikiran kotornya, serta menepuk-nepuk pelan pipinya yang entah sejak kapan bersemu merah.

Ia berlari kecil menghampiri sang kekasih dengan senyuman manis yang dimilikinya. Sampailah ia didepan Gaara yang kini juga melayangkan senyum manis yang hanya diperlihatkan pada kekasih merah mudanya itu.

"Kau sudah lama menunggu, Gaara-kun?"

"Hm."

Bukannya menjawab pertanyaan sang kekasih. Gaara dengan secepat kilat menarik pinggang Sakura, membawanya kedalam pelukan erat.

"Aku merindukanmu." bisik Gaara ditelinganya.

Blush

Bagai apel merah yang siap dipetik kini wajahnya memerah sampai ketelinga dan degup jantungnya yang semakin menggila tatkala mendengar bisikan dari sang pria.

Perlahan ia membalas pelukan Gaara, serta menenggelamkan wajah bersemu nya didada bidang sang kekasih.

"A...Aku juga merindukanmu, Gaara-kun." ucap Sakura yang masih setia berada dipelukan Gaara.

"Hm." gumam Gaara sambil menyesapi aroma wangi dari tubuh kekasih yang sangat dicintainya itu.

Melepaskan sejenak pelukan penuh kerinduan antara keduanya, namun tidak sepenuhnya pelukan itu lepas mengingat tangan Gaara yang masih bertengger manis dipinggang Sakura, hingga terciptalah jarak yang sangat dekat.

Memandang sejenak iris mata satu sama lain, sampai akhirnya sang adam semakin mempersempit jarak yang ada guna mencium dengan lembut bibir manis sang hawa.

Setelah satu menit lamanya mereka berciuman, segera saja Gaara mengajak Sakura masuk kedalam mobil mengingat hari sudah semakin larut.

Tanpa mereka sadari, sejak awal ada sepasang onyx sekelam malam menatap kemesraan mereka berdua dengan pandangan sulit diartikan dari ruang rawatnya.

Sasuke Uchiha, sang pemilik mata tajam itu terus menatap gadis berhelaian merah muda dibawah sana dengan penuh arti.

Hingga ia melihat dengan jelas sang gadis dicium oleh pria berambut merah, entah kenapa timbul perasaan tak suka hinggap dihatinya. Tanpa sadar ia semakin mencengkram erat tiang infuse disebelahnya.

DEG

"Arggh..." lagi dan lagi kepalanya berdenyut sakit.

Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakit itu. Sampai akhirnya ia berhasil dan bergumam dengan nada lirih.

"Haruno Sakura."

.

.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

.