Pink atau merah muda sangat identik dengan yang namanya hari Valentine. Begitu juga dengan coklat. Para perempuan berlomba-lomba membuat coklat untuk laki-laki yang disukainya. Begitu juga dengan para lelaki yang berlomba-lomba merebut perhatian para perempuan agar bisa mendapat coklat dari perempuan yang disukainya. Karena tidak mendapatkan coklat dari orang yang disukainya merupakan penghinaan yang besar bagi para lelaki. Well, sejujurnya itu adalah pemikiran yang kuno.

Tetapi berbeda dengan para perempuan maupun lelaki yang semangat menjelang Valentine. Seorang pemuda berambut pirang cerah, bermata biru dan berkulit tan tampak terlihat berjalan dengan lesu sambil membawa beberapa kantong belanjaan yang berisi bahan-bahan untuk membuat coklat Valentine.

Pemuda itu sesekali menghela napas lesu saat matanya lagi-lagi menemukan beberapa pita berwarna pink ditoko-toko yang dilewatinya.

"Hah~ seharusnya saat ini aku berada dikamar sedang memikirkan sebuah rencana untuk mendapatkan coklat dari Sakura-chan. Tetapi kenapa harus aku sih yang membeli bahan-bahan untuk membuat coklat ini?" Kata pemuda itu sambil melirik sebal kantong belanjaan yang ada di tangannya.

"Aku berharap saat hari Valentine nanti bakal ada seseorang yang memberikan coklat padaku sambil menyatakan perasaannya kepadaku." Kata Pemuda itu lagi sambil membayangkan seseorang yang menyatakan cinta kepadanya seperti "Aku menyukaimu Naruto."

Imajinasi yang konyol.#authordihajar.

Pemuda yang diketahui bernama Naruto itu kembali melanjutkan jalannya sambil menatap malas pemandangan yang ada dihadapannya.

Merah muda. Merah muda. Hitam. Merah muda. Mer- Tunggu dulu. Naruto langsung memicingkan matanya saat melihat warna hitam diantara warna merah muda yang berjejer rapi didepan toko coklat. Ya Naruto sangat yakin kalau dia tadi melihat warna hitam, yang entah kenapa terlihat..

..cantik.


Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Rating : T

Warning : AU, OOC, Shounen ai, Typo, Gaje.

Pair : NaruSasu

Genre : Romance, Friendship dan Humor.

Summary : Perjuangan Sasuke dalam membuat coklat Valentine untuk orang yang dicintainya.

For Valentine's Day

Ket:

'bla bla' berpikir/berbicara dalam hati

"bla bla" berbicara biasa

Don't Like Don't Read!


TING TONG

TING TONG

"Oy, Sasu-Teme aku datang menjemputmu." Seorang pemuda berambut pirang yang lebih dikenal dengan nama Namikaze Naruto ini tampak berulang kali membunyikan bel rumah yang diketahui milik keluarga Uchiha itu.

"Iya, tunggu sebentar." Sebuah suara feminim menyahut panggilan Naruto. Beberapa saat kemudian pintu dibuka oleh seorang wanita cantik yang diketahui oleh Naruto sebagai Ibu Sasuke.

"Ohayou, Bibi Mikoto. Apa si Sasuke ada?" Tanya Naruto setelah memberi salam. Mikoto tersenyum manis kemudian menjawab, "Iya, dia ada kok. Aduh, Naruto-kun benar-benar romantis ya, menjemput dan mengantar Sasu-chan setiap hari. Apa kamu nggak merasa bosan bersama Sasu-chan terus?" Naruto hanya menyerngit mendengar pertanyaan Mikoto yang entah kenapa terasa sangat..

.. ambigu.

"Eer.. soalnya inikan sudah kebiasaan dari kecil, mengingat aku dan Sasuke selalu masuk ke sekolah yang sama. Lagian maksud bibi apa?" Tanya Naruto bingung. Keringat dingin mengalir di tengkuknya saat dia melihat senyum Mikoto yang terlihat mempunyai banyak arti. "Ah.. jangan pura-pura tidak mengerti dong Naruto-kun. Kamu pasti mengerti, kan?" Tanya Mikoto lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.

'Tapi aku benar-benar tidak mengerti!' Teriak Naruto dalam hati. Sepertinya dia akan menjadi stress bila menghadapi Mikoto yang entah kenapa tiba-tiba menjadi sangat OOC.

"Kaasan hentikan. Lihat, si Dobe ini sudah membuat ekspresi bego kayak gitu." Kata Sasuke yang sudah datang bersama Itachi yang sedari tadi menahan tawanya mendengar percakapan antara Mikoto dan Naruto.

"Oy, Teme! Apa maksudmu dengan 'ekspresi bego' hah?" Tanya Naruto yang tidak terima dengan perkataan Sasuke yang seolah mengejeknya. Naruto langsung memberikan Deathglare terbaiknya yang tentu saja tidak mempan dengan Sasuke. Sasuke sendiri hanya memasang ekspresi mengejek, membuat Naruto menggeram marah.

"Hentikan. Pagi-pagi begini jangan membuat keributan yang tidak perlu." Naruto dan Sasuke sontak menghentikan adu deathglare mereka saat mendengar suara Fugaku yang juga keluar.

"Ohayou. Paman Fugaku. Gomen sudah membuat keributan." Kata Naruto sambil membungkuk. Fugaku hanya mengangguk pelan kemudian berkata, "Seandainya aku punya menantu yang baik seperti kamu."

"Hoe?" Naruto hanya bisa memasang ekspresi cengo saat mendengar perkataan Fugaku. 'Tu-tunggu dulu. Bukannya seharusnya dia bilang 'anak' ya? Kenapa malah menantu?' pikir Naruto heran.

"Ck, tidak usah didengarkan Dobe. Ayo kita pergi kesekolah." Kata Sasuke sambil menarik lengan Naruto. "Ah.. tunggu dulu Sasu-chan." Kata Mikoto.

"Apalagi?" Tanya Sasuke malas karena yakin kalau Mikoto pasti akan mengatakan hal yang aneh lagi.

Mikoto dengan senyum manis menghampiri Naruto, kemudian memeluknya dengan erat. Membuat Naruto sedikit berjengit karena takut dengan sikap Mikoto yang sumpah OOC banget.

"Jaga Sasuke dengan baik, ne~." kata Mikoto sambil melepaskan pelukannya. Naruto hanya bisa sweatdrop melihat mata Mikoto yang berkaca-kaca. Sweatdrop Naruto bertambah saat melihat Mikoto yang langsung menangis tersedu-sedu sambil memeluk Itachi yang hanya tertawa pelan sambil mengelus rambut Kaasan-nya.

Belum sepenuhnya Naruto sadar, Fugaku kemudian ikut menghampiri Naruto dan memegang kedua bahu Naruto sambil memasang ekspresi serius. Mau tidak mau Naruto menelan ludah takut melihat ekspresi Fugaku.

"Kuserahkan Sasuke kepadamu. Aku harap kamu bisa membahagiakannya."

Naruto hanya memasang ekspresi shock sekaligus bingung saat mendengar perkataan Fugaku. Sedangkan, Sasuke hanya bisa menepuk dahinya frustasi mendengar perkataan konyol kedua orangtuanya itu. Sungguh ingin rasanya dia mengubur dirinya sendiri untuk menghilangkan malu yang didapatnya. Dan karena dia tidak mau menambah rasa malunya, Sasuke langsung menarik Naruto sebelum Itachi juga ikut-ikutan kedua orangtuanya mengatakah hal yang lebih gila lagi sekaligus menyelamatkan harga dirinya.

"Kami pergi dulu." Kata Sasuke sambil menarik Naruto dan berlari cukup kencang.

"Naruto-kun, Sasu-chan! Berbahagialah!" teriak Mikoto dengan cukup kencang.

Kelihatannya keluarga Uchiha masih mempunyai semangat yang tinggi ya. Sepertinya sebentar lagi keluarga Namikaze akan mempunyai rival yang bisa menyaingi mereka dalam membuat 'keributan' ya.#authordigampar


"Ne.. Teme, sebenarnya keluargamu itu kenapa, sih?" Tanya Naruto setelah mereka berjalan atau lebih tepatnya berlari cukup jauh dari kediaman Uchiha.

"Tidak tahu." Jawab Sasuke dengan singkat, padat tapi nggak jelas.

Naruto langsung memasang ekspresi cemberut mendengar itu. "Masa nggak tahu sih? Kan kamu tinggal serumah dengan mereka. Jawab yang benar dong, Suke." Kata Naruto lagi.

"Sudah aku bilang, kalau aku tidak tahu, Dobe." Jawab Sasuke lagi dengan singkat. Naruto hanya mengembungkan pipinya kesal karena mendengar jawaban Sasuke.

"Yosh! Daripada aku bingung, dengan hal apa yang terjadi soal tadi, mending aku memikirkan rencanaku saja. Yang penting mulai sekarang aku harus rajin-rajin merebut perhatian Sakura-chan nanti!" Kata Naruto sambil mengepalkan tangannya ke atas.

Dahi Sasuke berkedut pelan mendengar perkataan Naruto. Menatap sebal kearah Naruto sebelum akhirnya memberikan dengusan mengejek. "Huh, untuk apa kau repot-repot membuat Sakura perhatian kepadamu?" Tanya Sasuke dengan nada mengejek.

"Tentu saja untuk mendapatkan coklat enak dari Sakura-chan saat hari Valentine nanti." Jawab Naruto dengan semangat.

"Heh.. sampai segitunya. Kau ini benar-benar suka dengannya ya, Dobe?" Tanya Sasuke lagi.

Naruto langsung menghentikan jalannya dan berbalik menghadap Sasuke yang memang berjalan di belakangnya. Otomatis Sasuke juga ikut menghentikan jalannya dan menatap Naruto dengan tatapan datar.

Sasuke hanya bisa tertegun saat melihat senyuman lembut yang terpasang di wajah Naruto. Sasuke langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan gurat merah yang muncul di pipinya hanya karena melihat senyum Naruto yang terlihat tampan itu. Sasuke kembali tersadar saat didengarnya Naruto mulai berbicara.

"Suka! Aku sangat sangat sangaaaaaat menyukai Sakura-chan!" Jawab Naruto lagi dengan nada yang terdengar lebih dewasa di telinga Sasuke. "Itu sebabnya kenapa aku sangat berharap kalau Sakura-chan akan memberikan coklat bagiku. Menurutku, aku sudah cukup senang hanya mendapatkan coklat dari Sakura-chan." Sambung Naruto lagi, tanpa menyadari perubahan ekspresi Sasuke.

Sakit. Jantung Sasuke terasa sakit seolah-olah ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan saat mendengar perkataan Naruto. Tidak ada lagi gurat kemerahan yang muncul diwajahnya saat melihat senyum Naruto yang selalu terlihat menawan dimatanya itu.

"Ayo, Teme kita kembali jalan. Nanti terlambat loh." Kata Naruto sambil berbalik pergi dan mulai berjalan meninggalkan Sasuke yang menunduk saja.

'Kalau begitu percuma saja aku berusaha keras membuat coklat untuk dirinya. Semua ini sia-sia saja.' Pikir Sasuke kesal sambil melihat jari-jarinya yang ditempeli oleh plester, akibat teriris pisau. 'Lebih baik aku hentikan saja niatku untuk membuat coklat untuknya.' Pikir Sasuke lagi sambil memandangi punggung Naruto dengan hampa. Menghela napas pelan, Sasuke kemudian kembali berjalan dengan lesu. Tetapi apa yang dikatakan oleh Naruto cukup membuat Sasuke menghentikan langkahnya karena terkejut.

"Tetapi, meskipun aku tidak mendapatkan coklat dari Sakura-chan, aku juga senang mendapatkan coklat darimu, Sasuke." Kata Naruto sambil berbalik dan memberikan cengiran khasnya. Sasuke yang melihat itu hanya bisa terdiam. Tanpa disadarinya muka Sasuke yang awalnya putih berubah menjadi merah seperti tomat yang masak.

"Oy, Sasu-Teme! Teme!" Sasuke tersentak pelan saat mendengar namanya berualang kali dipanggil. Sasuke refleks memundurkan langkahnya saat sadar bahwa wajah Naruto dengan dirinya hanya berjarak sekitar 5 cm sehingga membuatnya dapat mencium aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto.

"Be-berhenti membuat aku kaget, Dobe!" Bentak Sasuke gugup. Naruto hanya terkekeh pelan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke hingga hanya berjarak 5 cm. "Hm, wajahmu merah. Kau malu ya, Teme? Manisnya." Goda Naruto.

"Siapa yang malu, Dobe? Muka aku merah karena pagi ini sangat panas." Kata Sasuke sambil mendorong muka Naruto dengan kasar. Naruto hanya tertawa pelan melihat reaksi Sasuke yang terlihat manis. Mata biru Naruto tidak sengaja melihat tangan Sasuke yang dipenuhi oleh plester. Penasaran Naruto langsung memegang tangan Sasuke dan melihatnya secara seksama.

"Kenapa dengan tanganmu, Teme?" Tanya Naruto dengan nada penasaran yang terdengar jelas di telinga Sasuke. Sasuke langsung menarik tangannya dan menjawab dengan dingin, "Bukan urusanmu, Dobe."

Naruto menyeringai licik. "Jangan-jangan tanganmu terluka karena membuat coklat untukku ya?" Goda Naruto lagi.

BUAGH

"Jangan terlalu GE-ER, Dobe! Tangan aku terluka saat tidak sengaja teriris pisau saat memotong tomat kemarin." Kata Sasuke bohong. Mana mungkin dia mengakui kalau perkataan Naruto benar adanya. Bisa-bisa harga dirinya bakal jatuh.

"Ayo Dobe, sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi." Kata Sasuke sambil berlari kencang dan meninggalkan Naruto yang masih mengelus perutnya yang barusan ditendang oleh Sasuke.

"Iya..iya." Sahut Naruto malas sambil mengelus perutnya yang masih terasa sakit. Naruto hanya tersenyum tipis melihat tingkah Sasuke yang pagi ini terlihat seperti anak-anak. Akan tetapi, senyum Naruto lenyap dan berubah menjadi seringai licik yang terlihat sangat menakutkan. Dan tiba-tiba saja terlintas percakapan pagi ini dengan seseorang mengenai hari Valentine yang sebentar lagi akan datang.

"Hhh.. Sepertinya aku akan kalah…" Gumam Naruto pelan, sambil melihat kearah langit yang tiba-tiba berubah menjadi mendung seolah-olah mengejeknya. Dia pun mulai berlari mengejar Sasuke yang sudah mulai menjauh.

'..dari Dia.'

TBC


A/N: Yey.. Author sangat senang karena bisa meng-update fic ini. Maaf ya kalau lama, Author sama sekali tidak mempunyai waktu untuk mengetik dikarenakan kesibukkan Author akan tugas-tugas sekolah dan karena keasyikkan coretnontonanimecoret sekaligus kehilangan ide.

Padahal rencananya fic ini harus selesai tepat pada hari Valentine, tapi karena berbagai alasan, pada akhirnya gagal.

Author juga berterimakasih bagi yang sudah membaca, me-review, mem-fave dan mem-follow fic ini. Tanpa kalian Author mungkin tidak bisa melanjutkan fic ini.

Author sudah membalas Review yang Log-in lewat PM. Sedangkan yang tidak Log-in akan dibalas disini.


Balasan Review :

Guest : Makasih atas pujiannya. Yup, ini udah update, terimakasih sudah me-review.

Guest : Yup, Sasuke memang imut kalau jadi uke. Ini udah update, terimakasih sudah me-review.

NamikazeNoah : Iya, kasihan si Fugaku punya anak kayak Itachi, bikin malu orangtua saja.#dor

Author juga baru tahu kalau ada ayam yang bisa bikin coklat.#chidori

Ini sudah update, terimakasih sudah me-review.

Indahyeojasparkyuelfsarangha e Kim Hyun Joong : Nama anda panjang sekali o.O

Author juga tidak percaya kalau Sasuke berpenampilan seperti itu. Itachi dari sananya udah aneh makanya Author bikin dia tambah aneh lagi.#dihajar

Ini sudah update, terimakasih sudah me-review.

Ha-chan : Awas, nanti dibawa ke rumah sakit gila loh.#plak

Iya, keluarga Uchiha mau menandingi keluarga Namikaze dalam membuat keributan.

Aduh, jangan panggil senpai, Author ini masih pemula dalam menulis fic. Ini sudah update, terimakasih sudah me-review :)

Shikawa : Awas nanti ketularan penyakit gilanya Itachi.#ditendang

Si Sasuke pasti akan selalu semangat kok, kan demi Naruto.#dihajar

Terimakasih sudah me-review.

geek : Yey*ikutan joget*

terimakasih sudah me-review.

namichiha polepell : Author juga sebenarnya ngakak sendiri saat membayangkan Sasuke megang spatula dan keluarga Uchiha yang OOC. Makasih udah bilang fic ini keren. Dan terimakasih sudah me-review, ini udah update kok.


Bagi reader yang mau memberikan Kritik, Saran atau Flame, Silahkan dan terimakasih karena sudah mau membaca fic ini.

Review or Flame Please~