Cast : Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun and other member SJ
Pairing : KyuWook
Genre : Drama/ Romance/Angst
Rate : T
Disclaimer : Ryeowook milik ku *digebuk* cerita ini real punya aku
Warning: Genderswitch, OOC miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD
Don't Like Don't Read
.
.
.
-/-
Kaki kecilnya menyusuri jalan setapak beralaskan batu-batu kecil yang saling menempel dan merekat. Tangannya berayun seiring dengan gerak langkahnya, saat kaki kiri yang maju maka tangan kanannya akan mengayun kedepan, begitu seterusnya. Bunyi gemerisik yang berasal dari tas plastik putih yang menjadi penampung untuk barang-barang yang baru dibelinya tadi mengundang banyak tatapan orang yang ia lewati.
Kim Ryeowook mendecih! Itu memang kebiasaannya, ia tak suka suasana sepi yang hanya akan membawa mood nya makin jelek.
Jika suatu ketika ia terkurung dalam kesepian, sebisa mungkin ia akan mencoba mengubah suasana itu lebih ceria atau boleh dibilang dia gadis cerewet. Dia tak bisa diam, tipikal pemarah juga dan sedikit ambisius.
Ryeowook mulai berlari saat struck belanjaan di dalam plastik yang ia ombang-ambingkan kabur terbawa angin. Entah mungkin alam sedang tak bersahabat dengannya, angin semakin kencang dan membawa pergi barang penting yang harus ia selamatkan sebelum disembelih si umma. Kim Ryeowook terpaku saat struck seukuran KTP itu tergeletak di tengah jalan, sepi mengingat hari sore akan berganti malam. Matanya membulat kala sebuah sepatu menginjak barang yang jadi incarannya. Oh! Sekarang bukan hanya selembar kertas yang ia kejar! Bahkan ia tak ingat jalan apa yang tadi ia lalui, bagaimana cara ia pulang dengan utuh sampai rumah sedangkan ia orang yang baru 2 hari pindah di kota ini. Yang terkumpul dalam otaknya adalah cara-cara menghentikan namja asing yang kini ia kejar. Apa harus melempar batu? Ryeowook melambatkan kecepatan larinya saat orang itu sudah memasuki sebuah mobil warna silver.
Matanya mengedar disekeliling, sedetik kemudian ia jambak rambut coklatnya yang sebelumnya terkuncir rapi "Arrggh!"
TIN TIN!
Brmmmmmmm
Ingin rasanya ia tendang ban mobil itu sampai pecah, pemikiran yang konyol pastinya. Kaki kecil Ryeowook hanya menendang udara, malah sendal jepitnya ikut terlempar jauh kedepan. Kkkk memalukan!
.
"Cepat bawa ini!" Ryeowook mundur selangkah menyadari wajah sang umma ada di depan hidungnya. Dengan cepat ia mengambil alih panci dari tangan Leeteuk, ia tak ingin membuat ummanya marah kesekian kali untuk hari ini. Semenjak kejadian beberapa jam lalu tentang nota belanjaan yang ia hilangkan dan akhirnya ia pulang dengan taksi karena memang masih bingung dengan jalanan berkelok, meski difikir jaraknya tak terlalu jauh. Leeteuk mengomel, tentu saja selain karena ongkos taksi juga kelakuan anak bungsunya yang ceroboh. Padahal itu hanya sebuah struck belanja yang tak mempunyai arti apa-apa, tak bisa juga dicairkan jadi uang. Ibu itu terlalu keras.
Ryeowook membawa panci sup ke meja makan yang sudah terhidang berbagai lauk, appa dan eonninya pun sudah duduk tenang disana.
Heechul menaikkan alis ketika menangkap bibir adiknya bergumam kecil, rupanya Ryeowook masih memikirkan ucapan ummanya. Bagaimana tak difikirkan? Meskipun ia tak bisa melawan tapi tetap saja ia tak sependapat. Akan lebih baik jika ia naik kereta atau bis saja ke sekolah. Uggh
Menumpang?
Tidak keren sekali sih. Jika mungkin namja itu adalah Hangeng mungkin ia langsung setuju. Tapi tidak, ingat Hangeng ada di Seoul dan dia di Chunan. Dan pria itu seorang mahasiswa, bukan anak SMU lagi. Khayalan Ryeowook sudah kabur kemana-mana.
Baru sehari gadis ini tak bertemu namjachingunya sekaligus tetangganya, sekaligus teman dekat kakaknya. Ryeowook sudah merasakan rindu. Biasanya jam segini mereka akan sama-sama keluar rumah dan duduk di teras masing-masing mengingat rumah mereka yang berhadapan. Dari jarak yang tak bisa dibilang dekat itu, senyuman tak pernah enyah dari bibir cherry miliknya. Bermodal ponsel di tangan masing-masing mereka mulai mengirim pesan. Cara pacaran yang aneh. Sebab Leeteuk memang melarang anak-anak gadisnya berpacaran. Jadi yang tahu hubungannya dengan Hangeng hanya Heechul.
"Menyebalkan," umpat Ryeowook pelan dan menarik kursi didekat kakaknya. Heechul memandang heran dongsaengnya yang sering bertingkah ajaib itu. Ia bisa menebak pasti masalah dengan umma lagi. Leeteuk sejauh ini menjadi umma yang tegas untuk kedua putrinya, banyak perintah dan banyak aturan semata-mata karena ia menyayangi mereka. Sungguh.
Ryeowook menunjukkan ekspresi malasnya "Eonni tahu..."
"Saat makan tak boleh ada suara," Kangin, sang appa menginterupsi, memberi tanda agar keduanya diam. Tak tahu saja jika kakak adik itu mulai membicarakan sesuatu rumah mereka bisa mirip tempat arisan. Ryeowook diam dan sedikit memajukan bibir, segera ia rubah ekspresinya saat Leeteuk datang. Dalam hidupnya satu yang ia inginkan tapi belum ia capai, mencuri perhatian ummanya. Sekalipun ia tak pernah bicara berdua dengan Leeteuk, maksudnya bicara tentang kehidupan pribadinya seperti kata-kata sahabatnya dulu mereka sering bercerita tentang masalah cinta pada umma mereka.
Tak pernah. Tak pernah ia mendapat elusan lembut di kepala, yang ia hapal hanya omelan Leeteuk. Tak jauh beda, Heechul juga begitu, bahkan ia merasa lebih mudah dekat dengan sang appa daripada umma mereka.
Ryeowook mengetuk-ketukkan kakinya pada lantai pelan. Saat makan adalah saat yang hening untuk keluarganya. Justru itu saat untuknya mencari kegiatan lain seperti ini, atau ia akan lebih keras mendentingkan suara sendok dan garpu hingga Leeteuk akan melotot.
.
-()()()()()-
.
Bibir bawahnya mendapat gigitan lagi, entah sudah hobi atau kebiasaannya saat gugup yang jelas ia hanya bisa pasrah saat punggungnya didorong dari belakang.
"'Jangan lupa ucapkan 'tolong' dan 'terimakasih' nanti'" ucapan sang umma masih berdenging ditelinganya. Ini pemaksaan!
Uhh, bahkan ia tak berniat untuk bicara apapun.
Ryeowook tak berkedip saat menoleh ke kanan. Ke arah rumah sebelah yang hanya berbatas pagar kayu pendek dari rumah barunya. Yang membuatnya terpana adalah sosok yang sedang membenahi dasi emm lebih tepatnya sedang dibenahi dasinya oleh seorang yeoja cantik. Namja itu memakai seragam yang sama dengan Ryeowook.
Si namja terlihat malas dan gerah dengan seragam atasannya yang dikancingkan sampai leher. Ia kibaskan tangannya "Umma, sudahlah."
Seorang pria tegap berkemeja biru muncul dari arah pintu keluar dari rumah tadi. Seorang yang diyakini Ryeowook seumuran dengan appanya mendekati 2 orang yang menutupi jalan keluar "Aku juga mau dipasangkan dasi," rajuknya.
Si yeoja tersenyum setelah menepuk pundak namja yang bertampang malas lalu beralih mendekati pria didepannya.
Satu hal yang tertangkap di otak Ryeowook, mereka suami istri dan yang berambut ikal pasti anak mereka. Bibi Kibum, paman Siwon seperti yang dikatakan ummanya tadi malam. Jadi Kyu itu kepanjangan dari Kyuhyun? Ternyata dia bisa menjumpai yang namanya 'Kyu' lebih cepat dari yang ia perkirakan. Entah ia tidak terkejut.
"Eh, Wookie. Kau Wookie kan?" Ryeowook mencoba tersenyum saat Kibum tak sengaja melihatnya. 2 namja di samping Kibum ikut menoleh, Kyuhyun hanya memperhatikan sekilas bahkan tersenyum saja tidak. Namja berambut ikal itu berjalan menuju tempat motor sport miliknya terparkir.
"Aigo kau sudah besar, neomu yeopo!" Tatapan Ryeowook makin menunjukkan keheranan saat yeoja yang harus dipanggilnya bibi itu berjalan memutar, menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya. "Bibi mengenalku?"
Kibum mengangguk semangat "Sangat mengenalmu malah, kau ingat dengan paman Siwon? Atau dengan Kyuhyun?" tanya Kibum membuat 2 orang yang ia sebut namanya menoleh. Kepala mungil Ryeowook mengeleng.
"Aku juga tak mengingatnya kok!" timpal Kyuhyun yang mulai memasangkan pengait helm yang bertengger dikepalanya "Tak penting juga!" lanjutnya dengan suara kecil memasang wajah stoick dibalik kaca helm. Oke padahal tak ada yang bertanya pada namja itu. Kenapa ia jadi sensi sendiri?
Kibum berdecak. "Kyuhyun berhenti!"
Kyuhyun urung menyalakan mesin motornya, ia melirik malas ke arah Ryeowook yang digeret ummanya hingga kini berdiri disamping motornya. "Umma sudah bicara semalam kan Kyu. Mulai hari ini kau berangkat dengan Ryeowook-ah!"
Kyuhyun mendesah sebal "Aku tak mau! Aku sudah berkali-kali bilang tak mau!"
Suara tegas Kyuhyun membuat tangan Ryeowook yang menggenggam rok terkepal. Rahang gadis itu mengeras saat bersitatap dengan Kyuhyun.
"Tak ada penolakan Kyu! Cepatlah kalian berangkat!" Siwon mulai turun tangan, ia mendekati Kibum dan menarik istrinya kebelakang "Kau belum menyiapkan jas untukku chagi."
Mereka berbalik dan berjalan berangkulan, Kyuhyun semakin sebal saat si appa berbalik sejenak "Dan kalian yang akur ya!"
Cih!
Ryeowook membuang muka. Ini hari pertamanya pindah sekolah dan sudah menjadi hari menyebalkan baginya. Fikiran awal tentang 'Kyu' adalah namja yang baik sirna. Dia hanya seorang namja kekanakkan dan keras kepala. Bukannya kalian sedikit mirip sekarang? Sama-sama keras kepala!
"Sampai kapan kau mau disitu? Kau bisa membuatku telat. Cepat naik!"
Oh! Tak bisakah ia memakai kata-kata yang lebih halus, bagaimanapun Ryeowook itu wanita meskipun sifatnya setengah-setengah dalam mencerminkan figur wanita.
"Kalau kau keberatan aku bisa berangkat sendiri!"
Kyuhyun mengangguk, "Terserah kalau kau mau jalan kaki, kupastikan siang pun kau belum sampai!"
Mesin motor mulai dinyalakan dan Ryeowook masih terlihat berfikir, Leeteuk benar-benar akan mencincangnya nanti jika mendapat kabar bahwa anak gadisnya hanya mengikuti 2 jam pelajaran terakhir untuk hari pertama kesekolah, suatu rekor. Aish jika saja ia tahu bis jurusan apa yang bisa ia naiki, atau mungkin dengan sepeda akan lebih baik walaupun berakhir di sekolah dengan keringat membanjir bak tukang becak.
Gadis itu mulai mendekat, saat tangannya berhasil meraih pegangan belakang motor mengingat motor besar itu sulit dinaiki, apalagi dengan rok yang dipakainya. Entah disengaja atau tidak Kyuhyun malah memutar gas dan melajukan motornya hingga Ryeowook nyaris terjungkal jika tak bisa menjaga keseimbangan.
Belum ada satu meter Kyuhyun menghentikan motor kesayangannya dan menoleh, senyum yang terpasang dibibirnya mirip sebuah seringaian ataukah setiap senyum yang ia buat terlihat seperti itu. "Aaa.. Jadi kau mau ikut denganku? Kau tidak bilang sih!"
Ryeowook menggeram tertahan, isi kepalanya bisa-bisa menjadi muara lava jika menatap Kyuhyun terlalu lama.
Kalau saja ia tak ingat wanti-wanti ummanya agar tetap sopan dan tidak membuat onar. Banggakah kau jika umma mu bilang kau anak pembuat onar? Lupakan ucapan 'tolong' dan terimakasih, ia berusaha tak mencekik Kyuhyun saat ini.
.
-()()()()()-
.
"Kyu, tahu tidak ada murid baru di kelas sebelah?"
Namja berambut ikal mengedikkan bahunya meski teman sebangkunya terus ribut sedari tadi. Kyuhyun mulai mendelik saat kepalanya ditoyor dari samping, saat itu pula usaha Zhoumi membangunkan setan yang sibuk sediri dengan kegiatannya tak sia-sia. Kyuhyun sejenak memberi decihan kecil lalu kembali fokus pada benda elektronik yang ia genggam.
Zhoumi tak putus asa untuk menepuk pundak Kyuhyun "Hei-hei! Kabarnya dia gadis cantik loh! Kau tahu tidak?"
Kyuhyun menelan ludah saat membaca tulisan 'LOSE' dilayar PSP miliknya. Ia menatap Zhoumi dengan pandangan mematikan. Salah siapa coba?
"Dari yang aku dengar sih gadis itu pindahan dari Seoul. Ahh.. Jadi penasaran."
Kyuhyun mendengus. "Tak penting!"
Seheboh inikah? Memang selalu begitu. Di sekolahnya jika ada murid pindahan namja maka yang heboh para yeoja dan apabila itu yeoja para namja yang giliran bergosip. Tapi ia tak seperti itu. Anti saja untuk menggosipkan wanita, Kyuhyun lebih senang berbicara seputar game, sepak bola dan pelajaran jika memang penting. Ia bukan namja kurang kerjaan seperti sahabatnya yang satu ini. Tak usah dijawab toh nanti Zhoumi tahu sendiri siapa murid pindahan yang membuat tanda tanya besar diatas kepala Zhoumi dan tanda silang di atas kepala Kyuhyun. Hidupnya untuk beberapa hari selanjutnya akan hancur. Bukan beberapa hari juga tapi mungkin untuk selamanya.
Jangan bilang Kyuhyun tak ingat siapa gadis berperawakan kecil dengan jalan terseok membawa plastik besar kemarin, yang namanya Ryeowook itu. Dari situ saja ia sudah merasa sial, jika bukan karena insiden tabrakan ia takkan kehilangan gelang hitamnya. Bukan benda yang penting bagi Kyuhyun, ia hanya malas mendengar rentetan ceramah yeojachingunya saat menangkap pergelangan tangannya yang polos tanpa gelang yang wajib ia kenakan bahkan saat mandi sekalipun. Dan ia semakin sebal saat tahu Kim Ryeowook itu tetangganya, orang yang akan selalu berangkat dan pulang sekolah bersamanya setiap hari. Tolong beri Kyuhyun obat sakit kepala, hidupnya tak lagi bebas sekarang.
"Kyuuu" Panggilan manja dari arah pintu kelas mengentalkan fikiran Kyuhyun tentang dimana gelangnya terjatuh? Ia sangat yakin gelang itu pasti lepas saat ia menabrak Ryeowook. Tapi waktu ia kembali lagi ke tempat itu gelangnya memang tak ada. Siap-siap saja ia hari ini dapat ceramah lagi!
"Pagi Henly-ah!" sapa Zhoumi pada gadis yang baru masik kelas mereka dan mengambil tempat duduk didepan mejanya.
Gadis bernama Henry tersenyum. "Pagi Zhoumi." Didetik berikutnya ia beralih pada Kyuhyun yang pura-pura membaca buku. "Chagiya kau sudah makan, aku membawakanmu makanan. Hasil masakanku sendiri loh!"
Henry mulai mengeluarkan kotak bekalnya dari tas kertas dan meletakkannya dimeja Kyuhyun yang masih tak menanggapinya.
"Kenapa cuma Kyuhyun yang ditawari, untukku mana?" Zhoumi cengengesan saat Henry memandangnya heran, gadis itu membuka kotak bekalnya lalu menggesernya ketengah meja antara Zhoumi dan Kyuhyun "Mimi langsung ambil saja, gratis kok. Tapi tak ada asuransi jika sakit perut."
Seperti sebelumnya, disaat Henry datang ke kelas namjachingunya membawa makanan, bekal itu habis terkoreti oleh Zhoumi, tapi yang Henly tau Kyuhyun juga ikut memakannya. Ia bahkan terus berusaha agar masakan buatannya lebih enak lagi dan berharap yang mencomot makanannya untuk pertama kali adalah Kyuhyun. Ia memang baru belajar masak semua itu demi namjachingunya meski ia tak diminta. Ia merasa tak pantas saja bersanding dengan Kyuhyun sementara ia hanya gadis pasif yang tak bisa membuat sesuatu jadi 'wah'.
Membuat Kyuhyun lebih lama memandangnya, dari awal namja itu menerima Henry hanya dengan 3 kata 'Oke kita pacaran!' Saat itu juga Henry mulai berubah, belajar memasak, mengerti apa itu game dan sepak bola hingga ia kini menjadi gadis yang banyak bicara karena Kyuhyun lebih banyak diam.
"Kyu? Gelangnya tidak ketemu?" Henry menatap kecewa saat Kyuhyun menggeleng. Apa kau tak bisa sedikit saja menjaga perasaanku Kyu? Batin Henry.
Kyuhyun tetap tak acuh, 5 bulan mereka pacaran hanya seringkali Kyuhyun memperhatikannya. Saat namja itu bertanya dia sudah makan apa belum? Satu kalimat itu saja sudah membuat Henry senang dan sulit tidur malamnya. Tapi sekarang sifat Kyuhyun makin dingin, entah yang difikirkan Henry namja itu sengaja menghilangkan gelang pemberiannya.
"Aku ingin kau mencari gelang itu sampai ketemu Kyu. Bukannya dulu kau janji tak akan pernah melepasnya."
Kyuhyun mendongak, "Tinggal membeli yang baru apa susahnya sih. Repot sekali!"
Deg.
Kyuhyun memang mengatakannya dengan nada datar tapi berasa seperti hantaman palu di hati Henry. Mata gadis berpipi tembem itu sedikit berkaca.
"Ah, Henly ah! Kebetulan sekali aku baru ingat ingin menanyakannya. Kau tahu ada murid pindahan di kelasmu?" Zhoumi menepuk punggung tangan Henry hingga gadis itu beralih menatapnya.
Henly melirik Kyuhyun yang masih membaca buku lalu ia mengangguk "Ne, tapi aku belum tahu siapa namanya. Kepala sekolah akan memperkenalkannya nanti!"
Mulut Zhoumi membundar, membentuk huruf 'O'
"Aku pergi dulu ya! Sebentar lagi bel masuk. Zhoumi annyeong. Kyu makan yang banyak yah!" Lama mata Henry lekat pada Kyuhyun hingga gadis itu beranjak berdiri dan pergi.
Kyuhyun mengusap wajah setelah menutup buku didepannya. Terlalu jahatkah ia? Ia juga merasa seperti itu. Harusnya ia bisa membalas perlakuan sayang Henry dengan lebih baik.
"Kau benarh tak mau ini. Kalau begihtu khuhabiskhan saja." ucap Zhoumi dengan makanan yang belum ia telan.
.
-()()()()()-
.
"Masuklah dan perkenalkan diri!"
Ryeowook menyapu pandangan di kelas barunya. Wajah-wajah asing menatapnya penuh tanya, ada pula yang berbisik-bisik.
'Gila!' batin Ryeowook melihat seorang namja di barisan paling belakang mengangkat tangan tinggi dan memberi 1 jempol padanya. Kaki gadis itu merapat saat sampai disamping sonsaengnimnya. Ryeowook membungkukkan badan "Nama saya Kim Ryeowook, saya murid pindahan dari Seoul. Mohon bantuannya!"
Kelas makin gaduh dengan banyak bisikan 'Murid pindahan dari Seoul?'
"Terlalu singkat perkenalannya!" Namja yang tadi memberi jempol untuk Ryeowook berteriak.
"Silahkan jika ada yang mau bertanya lebih." ujar sonsaengnim yang sungguh berbeda dengan harapan Ryeowook karena ia ingin cepat-cepat duduk,ia lelah setelah di ruang kepala sekolah ia sudah menunggu lama sambil berdiri.
"Umurnya berapa?"
"17 tahun!"
"Punya kakak perempuan?"
"Ya!"
"Pasti cantik seperti adiknya!"
"Hmm.."
"Hobinya apa?"
"Memasak!"
"Aku mau dong dimasakin"
Huuuuuu!
"Masih single kah?"
"Aku.. Sudah punya pacar!"
Ryeowook menjawab tegas untuk pertanyaan yang terakhir lalu menoleh pada guru disampingnya. "Pak! Bolehkah saya duduk!"
Guru iu menaikkan kacamatanya dan memandang kedepan "Ne! Kau duduklah disamping Amber," tunjuknya pada seorang yeoja berambut blonde sebahu, barisan kedua dari belakang.
Ryeowook mengangguk dan mulai berjalan ke tempat duduknya, ia tak menanggapi tatapan namja-namja aneh dikelasnya. Sebenarnya mereka belum selesai mengajukan pertanyaan untuk Kim Ryeowook.
"Kenalkan aku Ryeowook. Maaf mungkin aku akan merepotkanmu tentang buku paket karena aku belum punya!"
Gadis disamping Ryeowook tersenyum. "Namaku Amber, gwaenchana, kita bisa sebuku berdua!"
Ramah! Semoga bisa menjadi awal yang baik, fikir Ryeowook.
Kepalanya mulai berbalik kebelakang setelah mendapat colekan pada punggung. Namja yang dari tadi aktif menanyai Ryeowook nyengir. "Namaku Key, semoga kita bisa lebih akrab..hehe!"
Ryeowook tersenyum lebih tepatnya meringis, beralih pada teman sebelah Key mata Ryeowook membulat "Kau namja yang kemarin!"
Mendengar pekikan Ryeowook namja itu memandang heran lalu menunjuk dirinya sendiri. Ia tak mengerti kenapa gadis pindahan ini berteriak padanya.
"Kau yang menginjak struck belanjaanku!"
"Nona Kim! Perkenalan bisa dilanjutkan istirahat nanti. Kita mulai pelajaran sekarang!" Suara dengan nada tinggi sonsaengnim membuat Ryeowook terpaksa memendam amarahnya yang baru akan menguar
.
-()()()()()-
.
"Aku senang bisa bertemu dengan eonni lagi, aku sangat merindukan eonni,"
"Nado Kibummie, sebenarnya sudah lama aku ingin pindah. Tapi tahu sendiri kan Kanginie selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan sebuah kebetulan juga saat tahu ia dipindah tugaskan di Chunan!"
Yeoja berambut hitam memberi senyum manis pada yeoja berlesung pipi yang dipanggilnya eonni. Mereka memang dekat sejak dulu, lebih tepatnya mereka sahabat. Si yeoja bernama Kibummie mengaduk cangkir teh didepannya lalu mengedar pandang pada rumah Leeteuk "Tadi pagi aku sudah bertemu Ryeowookie, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik!"
Leeteuk menggeleng, "Dia sama saja seperti dulu, anak nakal dan pembantah!"
"Kurasa itu wajar eonni, tandanya ia masih polos."
"Tapi tetap ada-ada saja tingkah yang dibuatnya. Sayang sekali Bummie aku belum melihat Kyuhyun sudah setampan apa ," ujar Leeteuk,
"Kuharap mereka bisa akur sekarang, bukankah mereka berdua itu cocok eonni?" Leeteuk mengangkat bahu menjawab pertanyaan Kibum yang kini meletakkan selembar foto di atas meja dan menyodorkannya pada Leeeteuk. Foto Kyuhyun "Ia semakin mirip dengan appanya!"
Mata Leeteuk berbinar "Benarkah? Ceritakan padaku!"
.
-()()()()()-
.
Ryeowook oleng kesamping saat bahunya tersenggol keras, ia merutuk sekali. Kyuhyun menoleh dan mengangkat salah satu sudut bibirnya sayang, Ryeowook tak melihat itu.
Ryeowook masih sibuk dengan menu yang dibawanya sementara antrian didepannya tak kunjung selesai, ia menggumam tentang betapa ramainya kantin saat ini. Sangat beda dengan sekolahnya dulu. Maklumlah kantin disini hanya ada satu padahal sekolah ini terbilang besar dan penghuninya ratusan siswa. Bahkan mata gadis itu menangkap ada yang makan lesehan dengan alas sepatu untuk duduk. Sebenarnya ada makanan selain di kantin, stan-stan yang dibangun para siswa di depan sekolahan. Tapi pasti akan merogoh uang yang dalam juga, sementara ia harus hemat sekarang. Ia berencana pulang naik taksi dengan uang jajannya sendiri daripada harus menumpang namja songong itu lagi. Ia bisa kena serangan jantung dini dengan gaya ngebut Kyuhyun waktu membawa motor.
"Wookie, kita duduk disana saja!" Amber menggeret tangan teman barunya ke arah kursi kantin yang kosong, namun ada beberapa namja disana. Ryeowook mencoba melepas genggaman Amber tapi tak bisa, tenaga gadis tomboy itu lebih kuat darinya. "Kita numpang duduk disini ya?" ijin Amber ditanggapi anggukan namja yang masih berkutat dengan sumpitnya.
Hmm.. Terimakasih! Ini tempat duduk yang sangat strategis, bahkan aku fikir lebih baik lesehan saja, racau Ryeowook
"Hai Wookie, kita bertemu lagi! Hehe. Jangan-jangan kita berjodoh?"
Amber memukul kepala namja didepannya "Key! Jangan bicara sembarangan!"
Ryeowook meringis lagi, teman sekelasnya agak sedikit aneh, ia beralih memandang namja disamping Key yang masih makan, oh! Ia bahkan belum tahu nama namja yang kemarin ia kejar itu.
"Namanya Minho!" bisik Amber seperti bisa membaca pertanyaan di benak Ryeowook. Bisikan Amber tidak terdengar kecil dan membuat namja yang merasa namanya terpanggil mendongakkan kepala
"Aku tak mengerti apa salahku dan apa kita pernah bertemu sebelumnya. Tolong jangan-tatap aku seperti itu," ucap Minho yang mendapat pelototan kedua kali dari Ryeowook, seolah olah dia anak kos yang sudah nunggak kontrakan 3 bulan
Beralih dimeja lain, Kyuhyun memandang lurus ke depan, ke seberang meja yang ditempati gadis itu. Kyuhyun menunjukkan wajah stoicknya saat mata mereka bertemu didetik berikutnya Ryeowook membuang muka.
.
-()()()()()-
.
Tiin Tiin !
Ryeowook terlonjak mendengar suara klakson dibelakangnya, mobil silver itu kembali tertangkap oleh matanya. Mobil yang nyaris ia tendang sampai bannya gembes itu. Ryeowook ikut mendekat saat pengemudi mobil turun dan menghampirinya.
"Kau menunggu jemputan?" tanya Minho menatap sekeliling, terdapat banyak siswa yang baru keluar dari gerbang sekolah mereka. Ryeowook menggeleng. Bisakah ia menyebut Kyuhyun sebagai jemputannya? Tidak.
Ryeowook hanya menunggu Kyuhyun dan ingin bicara ia bisa pulang sendiri naik taksi lalu berharap Kyuhyun mau berbaik hati untuk berbohong pada ummanya, Leeteuk dengan bilang ia ada pelajaran tambahan. Sedikit aneh difikir murid baru sudah ada pelajaran tambahan.
"Bagaimana jika kau kuantar pulang. Sebagai permintaan maafku juga untuk yang kemarin. Eottokae?" Ryeowookmenggaruk kepala, lumayan juga ia mendapat tumpangan mobil. Ia tak perlu boros uang hari ini, ongkos taksi bisa ia perpanjang untuk besoknya. Memang semenjak Ryeowook menuduh sepihak Minho sebagai penyebab ummanya marah dan berakhir dengan ia harus berangkat sekolah dengan namja menyebalkan bernama Kyuhyun, Minho merasa bersalah meskipun ia tak sengaja menginjak kertas yang ternyata barang penting bagi Ryeowook.
Brrmmmm !
Sebuah motor sport besar warna hitam berhenti disamping Ryeowook, nyaris saja pantatnya tinggal separo jika ia tak gesit mengelak tubuh kesamping. Dasar namja gila! Choi Kyuhyun membuka helmnya dan menatap Ryeowook dan Minho bergantian "Cepat naik!"
Ryeowook berfikir lagi.
.
.
.
TBC
.
A/N
Annyeong! Chapter dua datang, sedikit aneh memang *ngaku*
For Melodyatlantick, Siwon401, yoon HyunWoon, Konanpo, July, RyeoRim411, Park min mi , Ghita wookie the pooh , Redpurplewine, , kimryeowii, rizkyeonhae, loveedensor, frosyita, and another guest
Terimakasih sudah riview chapter sebelumnya ^^
Aku cuma punya waktu free sabtu dan minggu *sok sibuk* Jadi update paling cepet ya mingguan dan paling lama ya berbulan-bulan, yang berbulan-bulan untung belum di terapkan hehe
Yang nebak Kyuhyun yg jadi tetangganya wook oke kalian bener, simulasi yang mudah ditebak. Yee
Aku tinggalin fb n' twitter aku
"Via Choi Eunjae Ryeosom" and " via_ryeongELF9"
Untuk yang terakhir
Riview please!
