Cerah.
Itulah yang membuat seulas senyum mengembang di bibir Munakata Reishi ketika semilir angin menembus tubuhnya. Matanya ia tutup, menikmati pancaran hangat dari timur, tepat dimana balcony kamar tidur mereka menghadap. Reishi maju perlahan,mendekati pembatas yang terbuat dari marmer. Tangannya mengusap permukaan licin. Basah oleh embun.
Pandangannya diwarnai merah ketika dirasanya hangat mentari kini mengecup wajahnya. Reishi menarik nafas. Sepasang tangan melingkari pinggangnya, menambah rasa hangat di tubuh Sang Ratu. Tak perlu membuka mata untuk tahu siapa. Reishi dengan mudah menjadikan tubuh orang itu sebagai sandarannya.
"Suoh…" ia menghembuskan nafas. "Rajaku Mikoto Suoh…"
Reishi bisa merasakan senyum lelaki itu di lehernya.
"Kau tahu caranya membangkitkan mood, Reishi…"
Oh, betapa ia suka cara Suoh menyebut namanya. Tetapi Reishi tetap memasang wajah netral ketika sekarang ia berbalik dalam pelukan pria itu, membiarkan sinar matahari menghangatkan punggungnya. Reishi menjauhkan bagian atas tubuhnya sedikit seraya membuka mata, mendapat pemandangan lebih jelas akan wajah rajanya.
Suoh… rambutnya merah dan liar… mirip surai singa …, terhembus angin sepoi-sepoi pagi hari. Mata emas itu terfokus pada bibir Reishi. Ia tidak bisa tidak memandangi tubuh rekannya yang masih tanpa pakaian, hanya ditutupi oleh celana hitam panjang. Pelukan Suoh menguat, possesif, mengomando, menuntut. Yang ia berikan sebagai jawaban hanyalah sebuah senyum sebelum menyegel bibirnya pada Suoh.
"Selamat pagi…" Reishi kehabisan nafas. Ia bisa melihat garis samar saliva mereka yang menghubungkan mulut dengan mulut, ditembus cahaya matahari.
"Hmmm…"
Reishi masih ingin menikmati ritual pagi mereka kalau saja tak dipotong oleh sebuah ketukan di pintu. Suoh melepas pelukannya, langkahnya pelan dan tenang. Reishi menunggu sampai rambut merahnya menghilang di balik pintu kamar mandi sebelum mengomando siapapun yang mengetuk pintunya masuk.
"Selamat pagi, Yang Mulia…" ia menunduk, " Nona Ilithya sudah tiba."
Ilithya?
"Baiklah, kau boleh pergi."
Sang pelayan membungkuk sekali lagi sebelum mengundurkan diri. Reishi mendesah pelan, melepas gaun tidurnya hingga menyisakan tunik biru dengan aksen bunga sakura di sekitar kerahnya.
"Suoh…" panggilnya. Ketika mendengar respon berupa geraman pelan, Reishi melanjutkan,
"Ilithya datang."
K
Ruangan bermandikan cahaya emas, membuat dua singgasana berkilauan. Dua buah patung singa dengan rahang terbuka mengucurkan air, mencurahkannya ke kolam di kiri-kanan ruangan, permukaan beriak menimbulkan bayangan di langit-langit. Pintu— yang menyerupai gerbang— ganda mahoni berukir terbuka perlahan. Seorang wanita melangkah pelan dengan tongkat di atas karpet merah yang melapisi marmer putih. Reishi menatap dari tempatnya duduk di sebelah Suoh. Bibirnya mengembang ketika sang wanita membungkuk hormat.
"Bangunlah, Nana Ilithya." Sapanya lembut.
Ilithya, terlepas dari usianya yang memang terbilang tua, bangun tanpa kesulitan. Wajahnya yang dipenuhi kerut meregang oleh senyum, menyembunyikan bola mata cokelatnya. Reishi tak bisa tidak menyadari; Wanita tua itu mengenakan pakaian Pendetanya. Badannya yang kurus kini dibalut tunik putih dengan aksen emas dari Balkan, disertai jubah panjang. Saking panjangnya, sampai-sampai ujungnya menyapu lantai. Bahkan rambut putih beruban itu disanggul dengan tiara perak.
"Ada apa Ilithya?" Tanya Suoh. "Apakah kami melupakan ritual penting?"
Nada bicaranya mengandung nada kesal dibalik kedataran di wajah yang selalu ia sandang sebagai ekspresi. Tetapi Ilithya hanya tersenyum makin lebar menanggapinya. Ada kerling aneh di mata wanita tua itu.
"Oh, tentu, Yang Mulia." Katanya, terkekeh sambil bersandar pada tongkatnya. "Kalian baru melewatkan Ritual Ilithyia."
Oh?
"Ritual… Ilithyia?" Reishi mengangkat alis. "Aku belum pernah dengar."
Yang tidak terduga terjadi. Ilithya tertawa. Badannya yang memang seperti pohon willow tua di kebun istana berguncang, satu tangannya memegangi perut. Reishi setengah khawatir setengah bingung. Ia mengira Suoh, tanpa ba-bi-bu akan mengirim Ilithya pulang, dengan tak terhormat. Tetapi Sang Raja hanya membeku di tempat, mata emasnya agak melebar.
"Oh, maafkan hamba, Yang Mulia…" Ilithya mengusap bagian di bawah matanya. "Anda tidak diberi tahu? Ini wajib bagi… keluarga yang menikahi sesama jenis, Paduka."
Ujung-ujung bibir Reishi turun ke bawah. Ia menyadari mungkin maksud Ilithya tidak buruk. Mau tak mau, ingatannya kembali pada mendiang Ayahandanya. Pria setengah baya dengan mata biru dingin seperti es. Kalau melihat tepat padanya, Reishi selalu merasa dingin. Tatapannya saat mengetahui hubungannya dengan Suoh bukanlah ingatan yang menyenangkan. Mungkin ayahnya sengaja tidak member tahu. Hingga detik terakhir ia masih merutuk hubungan mereka.
Seolah bisa membaca perasaannya, Suoh menggenggam tangan Reishi. Namun tatapannya tak pernah beralih dari Ilithya. Wanita tua itu kini tersenyum lembut, mamandangi tangan mereka yang bertaut.
"Kemarilah, Yang Mulia, hamba akan tunjukan."
Ilithya tertatih ke depan, menaiki undakan kecil, dan mengitari singgasana Suoh. Reishi mengikuti di belakang. Di sana, ada simbol kerajaan. Terpahat di dinding bata. Insignia merah dengan selingan pita biru di setiap lekuk. Ilithya menekan pahatan itu, dan dindingnya terdorong ke belakang, membentuk cerukan kubus.
Sejenak, tidak ada yang terjadi. Reishi bertukar pandang dengan Suoh. Mendadak, dinding di sebelah mereka bergeser, membantuk sebuah lubang. Ia hendak melongok ke dalam, tetapi Suoh menghalanginya, tangan merentang sedikit. Ilithya melangkah ke depan Sang Raja tangannya melambai pada deretan tangga melingkar ke bawah. Di dalam benar-benar gelap, hanya diterangi cahaya obor.
"Mari, ikut saya."
Reishi mengekor di belakang Ilithya. Pandangannya lurus ke depan, suara tak-tok-tak-tok tongkat Sang Pendeta menggema di lorong gelap. Tangga yang diinjaknya berderak pelan. Tampaknya Suoh juga menyadari itu, pemuda berambut merah itu mencengkeram lengan Reishi seolah kalau ia lepas, Reishi akan jatuh. Hmph… ia bisa menjaga diri, terima kasih banyak. Tetapi begitu sang Raja Merah menangkap wajahnya, sebuah senyum kemenangan merebak di bibirnya. Oh… Kadang Reishi terganggu dengan kemampuan Suoh membaca ekspresi.
Setelah itu perjalanan sunyi. Reishi mengusap bahunya sedikit, dingin. Bau apek menguar di mana-mana. Ia kaget perutnya belum memprotes. Belum. Punggungnya terasa kaku, lurus seperti papan, cahaya obor menjatuhkan bayangan di mana-mana, menari mengikuti permainan lidah api yang membakar obor. Kakinya mulai berdenyut.
Baru saja ia hendak menanyakan seberapa jauh lagi jalannya ketika tiba-tiba Ilithya berhenti mendadak, Reishi hampir menabraknya.
"Kita sudah sampai." Ilithya mengumumkan, ekspresinya menunjukkan kebanggaan. "Inilah kuil untuk ritual Ilithya."
Reishi menaikkan pandangannya, dan berdengap.
Di depannya adalah kebudayaan leluhur yang mungkin sudah lama terkubur. Sebuah kuil memang. Langit-langitnya sekitar enam hingga sepuluh kaki dari lantai 'gua' dihiasi lukisan dengan tinta cokelat yang membentuk dua belas rasi bintang. Seolah belum merasa cukup aman, langit-langit itu ditopang dengan empat pilar gaya Balkan, lengkap dengan obornya. Lantainya berukir motif tanaman rambat. Di antara dua pilar yang merapat di dinding seberang, adalah sebuah altar. Untuk mencapainya, harus menapak kira-kira 12 anak tangga lagi. Bunyi berliter-liter air tumpah terdengar nyaris jelas di kejauhan.
"Kemarilah, anak muda… Ikut." Ilithya menapak lantai, dengan tenang menuju altar. Reishi menyempatkan diri menoleh ke belakang, mendapati wajah Suoh yang diisi ekspresi ingin tahu. Ia tersenyum kecil; bahkan Suohpun bisa dibuat terkesima.
Tak perlu waktu lama, mereka bertiga sudah mengelilingi altar. Ilithya mengeluarkan sebuah belati dari lipatan jubahnya.
"Reishi, Suoh…" ia memanggil nama mereka seperti nenek pada cucunya. " Kemarikan tangan kalian."
Reishi melirik pada Suoh. Ekspresinya berubah agresif Sang Raja Merah menggerit giginya, alis terangkat. Mata emas itu berkilat oleh determinasi. Reishi kenal sekali dengan determinasi ini.
"Ilithya." Suaranya berat, sarat peringatan. Suoh meju ke depan Reishi. "Ada apa sebenarnya? Kau ingin membunuh kami?"
Dijawab oleh kekehan pelan.
"Ini ritual Ilithyia. Ilithyia berarti Dewi Kelahiran." Ia mengatakannya seolah itu seharusnya sudah jelas. " Ritual ini mendatangkan anak."
Reishi menatapnya.
"Biar kujelaskan." Ilithya mendesah setelah beberapa lama suasana hening, Suoh masih berdiri protektif di depan Reishi.
"Dengan ritual ini, pasangan seperti kalian…" Reishi meringis. " Akan mendapat keturunan yang benar-benar darah daging. Yah…, melalui penyatuan darah."
Suoh masih tetap pada pendirian sepertinya.
"Kenapa tidak bisa adopsi?"
Wajah Ilithya mengkerut bahkan lebih banyak dari normal, seolah sedang menghadapi remaja keras kepala dan Sang Pendeta siap mengirim remaja tersebut untuk duduk di pojok selama 30 menit. Ide yang tiba-tiba terbesit di kepala Reishi terdengar lucu kalau saja Suoh tidak berwajah masam.
"Keturunan raja harus terhubung darah."
Reishi sadar kalau ia tidak turun tangan, masalah takkan selesai. Mereka bisa saja berargumen seharian di sini. Ia mengerutkan hidung. Tidak, ia bukan tipe yang menikmati wisata bawah tanah.
"Suoh." Tangannya bergerak menuju bahu bidang Sang Raja. "Ilithya benar. Tidak apa-apa, kita hanya perlu sedikit darah."
Ia melirik pada Ilithya untuk mengkonfirmasi. Ekspresi Sang Pendeta tak menunjukkan apa-apa. Reishi membasahi bibirnya. Mata Suoh terfokus padanya sekarang, mencari dan—mungkin— menemukan keraguan, mata Suoh menajam. Sang Ratu memaksa sebuah senyum kecil.
"Lagipula, apakah kau tidak menginginkan seorang anak?"
Kalimat ajaib. Dinding keras di balik mata Suoh meluruh, dan Sang Raja tersenyum. Ia memandang wajah Reishi seolah membayangkan sesuatu, kemudian menoleh lagi pada Ilithya. Wanita tua itu menunggu dengan wajah mengandung ekspektasi.
"Baiklah."
Reishi melepas nafas yang tidak sadar ditahanya.
"Jangan terlalu banyak darah."
Ilithya terkekeh.
"Ah, cinta masa muda."
Reishi merasa wajahnya panas sebelum ia maju dan mengulurkan tangan, Suoh melakukan hal yang sama. Ilithya mengacungkan belatinya. Mengejutkan betapa dengan lembut dan pelan, ia menorah luka di pergelangan Suoh, kemudian miliknya. Reishi memperhatikan, ketika darah mereka mengalir turun, menyatu di atas altar, dan memenuhi cerukan yang terukir membentuk simbol kerajaan.
"Sudah cukup. Ini, pakai. Akan menghentikan pendarahan." Ilithya menyodorkan semangkuk… adonan hijau lumut. Suoh menyambarnya, kemudian menarik tangan Reishi, mengoles adonan itu di atas lukanya. Sang Ratu mengerutkan hidungnya ketika bau adonan menusuk hidungnya. Pergelangannya dingin.
"Giliranmu." Reishi menarik tangannya. Kini ialah yang mengoles luka di pergelangan Rajanya.
Reishi sadar benar sedang diperhatikan. Setelah beberapa lama, Ilithya terkekeh.
"Ayo, turunlah, tunggu di bawah. Sisanya hamba yang urus."
Suoh menggiringnya ke bawah, membawanya duduk di anak tangga bawah dari pintu masuk. Ilithya membacakan sebuah mantra. Tiba-tiba suhu ruangan jadi dingin dan Reishi menggeser duduknya lebih dekat pada Suoh. Sang Raja melingkarkan tangannya di sekitar bahu Reishi. Kilauan cahaya pucat muncul, bersumber dari altar. Seiring berjalannya waktu, cahaya itu bersinar semakin terang, terang, hingga seluruh kuil seolah dinyalakan oleh ribuan obor. Reishi memayungi matanya dengan tangan, mencoba melihat apa yang terjadi. Cahayanya terlalu terang. Bagian kulit yang terekspos tergelitik.
Akhirnya setelah beberapa saat, cahaya itu menghilang. Mata Reishi menatap setiap langkah Ilithya. Rasanya seperti seumur hidup ketika wanita tua itu menuruni tangga menuju mereka. Tangan Suoh mengencang di bahunya, hampir berdasarkan reflex, Reishi menggenggam tangannya balik, dan menggunakan lengan kuat itu sebagai topangan ketika mereka berdiri.
Ilithya tersenyum sambil menyodorkan bayi dalam gendongannya pada Reishi. Ia merasa seolah dadanya mengembang dan matanya panas. Tak lama, Reishi menemukan dirinya menangis. Bayi itu menggeliat dalam gendongannya, dan dadanya meledak. Suoh menempelkan keningnya pada Reishi, melihat ke bawah, pada bayi mereka. Sang Raja mengulurkan tangannya dansang bayi menggenggam telunjuk Suoh. Reishi tersenyum mendapati kilat bangga di mata emasnya.
"Pangeran Mungil…" desah Suoh.
"Akan dinamakan siapa?" Ilithya menyela. Reishi menoleh. Oh, dia nyaris lupa akan keberadaan Sang pendeta.
Sang Raja dan Ratu saling berpandangan sejenak, kemudian Suoh mengangguk.
"Yata Misaki."
Misaki membuka matanya, dan menguap. Reishi tersenyum. Matanya berwarna hazel ranum, berkilau ditimpa cahaya obor. Sejumput rambut berwarna chesnut menyembul dari kepalanya.
"Pangeran baru Shizume Empire, Yata Misaki."
K
Cermin di hadapannya menunjukkan sebuah kuil, dengan tiga orang yang mengelilingi sesuatu. Ia membiarkan senyum kosong mengembang di wajahnya. Saruhiko menghibur dirinya dengan berbagai rencana balas dendam. Oh, tapi ia sabar… sangat sabar malah. Lilin yang menjadi sumber cahaya di sana membuat bayangannya tampak tinggi di dinding, menari-nari seiring lidah api menari. Tetapi yang ia perhatikan adalah bayangan dalam cermin.
Saruhiko menyentuh permukaan kacanya, dingin dan menyengat. Namun begitu seutas aliran biru menguar dari jarinya, ia merasa hangat sebelum gambar di permukaan kaca menunjukkan sesosok bayi, digendong oleh Ratu Shizume Empire. Saruhiko bangkit dari kursi yang diduduki, kemudian hati-hati ia menggantung kembali cermin itu di dinding. Permukaannya sekarang menampilkan wajah Ratu itu. Mata violet yang berkilat ketika menunduk memperhatikan putra barunya, serta rambut gelap yang tertata rapi, poni jatuh di sekitar matanya yang dibingkai kaca.
Saruhiko benci semua itu. Lebih benci lagi pada pilar yang melindunginya, Suoh Mikoto.
Oh, tidak apa… Ia membiarkan seulas senyum lagi menghias lengkung bibirnya. Tidak apa…
Dengan satu lambaian tangan, permukaan cermin menjadi bening, memantulkan wajah si pemilik. Pucat diterpa sinar lilin, mata sapphire yang mati, ditutup rambut gelap dan dibingkai kaca mata. Ia tak berlama-lama di depan cermin. Langkahnya anggun menyeberang ruangan, kemudian meniup lilin hingga mati.
Yang tersisa hanya ruang gelap dan tawa mengerikan.
Dendammu, ibu…Dendammu akan terbalaskan.
[Type text]
