Akhirnya saya bisa juga ngapdet fic ini! Malah ane ngapdetnya pas jam 11 malem lagi ... gapapa lah! Happy reading all


Diclaimer: Eyesheild 21 itu sepenuhnya punya Ricihigo Inigaki dan Yusuke Murata dan Touhou Project Cuma punya Team Shangai Alice.

WARNING: gaje,gayus(garing dan jayus), typo gak kasat mata, OOC author yang mencoba mendewa, dan kejanggalan-kejanggalan lainnya. Bila kejanggalan berlanjut hubungi dokter terdekat anda.


.

.

.

"Jadi, enka itu adalah, bla bla bla …"

Anak-anak hanya bisa menguap bahkan tidur di kelas ketika pelajaran SBK, terlebih lagi, yang dijelaskan dari semester 1 sampai sekarang itu sama!

Bahkan anak-anak yang dicap rajin oleh anak-anak kelas malah tidur.

"Mengerti anak-anak?" Tanya guru SBK mereka, pak Doburoku.

"Mengerti." Jawab anak-anak dengan nada lemas.

"Yasudah, tugas untuk minggu besok-" tiba-tiba perkataan pak Doburoku terpotong oleh Aya.

"Tugas nyanyi Enka, ya?"

"Untung kalian sudah tau, minggu depan harus tampil semua, ya!" Anak-anak hanya mengangguk lemas mendengar perkataan pak Doburoku.

Berarti, ini sudah tugas nyanyi Enka yang ke-10 kalinya di 3 bulan terakhir ini.


"Jadi, kalian mau belajar sejarah apa lagi?" Tanya bu Keine kepada anak-anak kelas.

Anak-anak langsung pada bengong. Sejarah kemerdekaan Indonesia udah, pra sejarah udah, tentang Eropa udah, Amerika apalagi. Ahkirnya mereka menggalau.

"Anu ibu" tiba-tiba Sena bicara "saya belum ngerti tentang sejarah perang dunia 1."

"Oke, ibu akan menjelaskan lagi tentang sejarah perang dunia 1." Kata bu Keine dengan bersemangat.

Dan akhirnya kelas mereka kebablasan sampai mengambil jam istirahat selama 15 menit.


"Laper~" keluh anak-anak kelas bersamaan.

"Untung tadi aku tidur." Kata Pachouli dengan santainya.

"Enak ya jadi patchun." Batin anak-anak bersamaan.

Tiba-tiba seseorang datang membubarkan obrolan kecil mereka.

BRAK!

"Ayo ade kelas, semuanya duduk!" kata seseorang yang tiba-tiba dateng ke kelas mereka.

"Idih! Kita kan belum istirahat! Masa disuruh duduk lagi?" protes Hatate, anak kelas angguk-angguk.

"Udah! Kalian semua duduk! Gak ada yang berdiri." Perintah orang itu.

"KAK SANAE JAHAT!" teriak anak-anak kelas serentak. Yang dipanggil Sanae hanya senyum-senyum mesem.

"Baiklah kalau itu mau kalian." Sanae tiba-tiba beranjak pergi ke luar kelas mereka. Tapi sebelum itu, dia menghentikan langkahnya "nanti setelah istirahat, kusuruh Takami yang ngasih tau kalian, ya!" tiba-tiba wajah anak-anak kelas langsung berubah drastis.

"GAK MAU!" teriak anak-anak kelas bersamaan.

"Ogah ih dikasih tau sama ketua OSIS yang punya 2 jiwa berbeda. Udah gitu serem lagi!" Kata Marisa sambil mengembungkan pipinya.

"Mending dikasih tau sama kak Sanae." Kata Riku sambil memasang wajah inosen.

Gara-gara Riku, akhirnya Sanae luluh juga.

"Yasudah." Sanae menghela nafas "kakak akan memberitahu kalian. Tapi, kalian duduk yang manis dulu. Baru kakak mau ngasih tau."

Akhirnya mereka duduk dengan manis seperti anak SD.

.

.

.

"Jadi, intinya apa?" kata Hiruma sambil menggembungkan permen karetnya.

"Ya kalian harus bersikap manis semanis manisnya sama tamu kelas kalian besok. Apalagi ditambah yang ngajar bukan guru-guru dari sini. Ngerti gak?" balas Sanae.

"Ngerti kak." Jawab anak-anak kelas bersamaan.

Setelah Sanae pergi meninggalkan mereka, anak-anak kelas langsung berhamburan pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.

Dan pasti. Sepulang sekolah mereka akan mengadakan rapat lagi.

.

.

.

"Ya! Jadi untuk menyambut guru baru, kita harus melakukan persiapan!" Teriak Suzuna sekalian membuka rapat kelas hari ini.

"Selaku ketua rapat ini, pertama-tama kita harus membesihkan kelas ini ze~" kata Marisa sembari mengacung-acungkan sapunya.

"Interupsi marisa!" tiba-tiba Kakei angkat tangan.

"Memangnya ada yang mau ngebersihin kelas ini?" Pertanyaan Kakei membuat tanda Tanya besar di kepala anak-anak kelas.

Kelas ini kalau diliat dari luar memang bersih, apalagi depannya, tapi kalau liat bagian belakang, serasa masuk dunia lain. Ada kursi di atas lemari, terus ada boneka jerami, kertas-kertas ulangan, death note(?), replika pak beye(?), tumbuhan paku, raflessia, ikan, dan masih banyak lagi yang numpuk di bagian belakang kelas mereka.

Setelah lebih dari 2 menit mereka berdiam ria, Marco angkat bicara.

"Bukannya bisa pakai sihir? Di sini ada Marisa, Riku, sama Patchun yang bisa sihir, terus ada Aya yang bisa ngeringin ini ruangan, terus ada golongan anak rajin kan?" kata Marco menjelaskan "Lalu ada Suzuna yang bisa mengepel lantai ini dengan cepat, terus ada scarlet sister yang bisa bersihin lumut-lumut di bagian belakang. Ada Hiruma, Momoji, Hatate, sama Taka yang bisa ngedekor kelas ini. Jelas kan?" semuanya hanya Mengangguk mendengar perkataan Marco. Memang calon anak penerus perusaahan!

"Sudah jelas kan?" Marisa membenarkan topinya, "ayo semua kita kerja!"

Langsung, anak-anak kelas mengerjakan tugas masing-masing.

.

.

.

" 'Water sign' raindrop blaze!" Patchouli melafalkan mantra, lalu membuat ruang kelas mereka basah. Setelah itu, Riku membekukan ruangan kelas.

"Baiklah, Soap bubble keluarlah!" Lalu Marisa mengeluarkan gelembung-gelembung sabun. Anak-anak kelas yang lain hanya bisa terpukau melihatnya.

Biasanya mereka kalau menggunakan sihir itu sukanya bikin kekacauan, apalagi Marisa yang suka membuat mereka mengganti tabung reaksi karena sihirnya. Tapi berbeda dengan Patchouli dan Riku yang memang sudah terlatih dari dulu.

Setelah kelas mereka benar-berar bersih, anak-anak yang lain mulai merapihkan barang-barang yang ada di atas loker dan meja.

.

"Shin! Bantu aku buat ngangkat lemari ini dong! Sekalian bersihin yang di bawah dan siapa tau nemu harta karun." Teriak Momoji. Yang dipanggil hanya mengangguk.

"Remilia." Panggil Kakei "Kau bisa menyimpan beberapa kertas ini ke lemari?"

"Oke." Sebelum Remilia mengambil kertasnya, tiba-tiba ada yang menyambarnya duluan.

"Wi~ serunya! Coba setiap hari bisa bermain seperti ini." Teriak Flandre sambil berterbangan mengelilingi kelas.

Terjadilah acara kejar-kejaran antara Flandre dengan Remilia dan Kakei. Yang lain hanya sweatdrop melihat mereka.

.

"Um Sena, bisa kau ambilkan kunci pas yang ada di kotak peralatanku?" Pinta Nitori kepada Sena.

Sena cuma bengong setelah membuka kotak peralatan Nitori. Karena gak tau dan makin bingung, Sena pengen nanya ke seseorang. Tapi siapa? Akhirnya Sena bingung sendiri.

"Itu yang di sebelah kirimu kuso chibi" tiba-tiba Hiruma menegur Sena. Yang ditegur hanya menundukkan kepalanya.

"Ini Nitron, ada lagi?"

"Oh ya Sena, bisa kau ambilkan solder? Aku lupa."

Sena hanya bisa menatap kotak peralatan Nitori lagi, dia tak tau yang mana namanya solder ataupun perkakas lainnya. Akhirnya dia hanya bisa menundukkan kepala meratapi nasib.

Poor sena

.

"Hm, geser sedikit bingkainya. Ah! Agak miring, tegakkan lagi!" Hatate dan Marco daritadi hanya memindahkan bingkai foto kelas mereka saat memasuki sekolah ini. Well kalau dilihat-lihat dan dibandingkan dengan wajah mereka sekarang, mungkin sudah banyak perubahan yang terjadi pada wajah dan tabiat mereka sekarang.

"Aya, sampai kapan kita akan memindahkan bingkai ini?" Marco mengeluh, sedangkan yang ditanya tidak merespon.

"Mungkin sampai dia menjadi gagak sepenuhnya, kekeke~" ejekan Hiruma tadi tak juga memancing Aya untuk bicara.

Setelah pengunguman yang disampaikan Sanae tadi siang, Aya terus melamun. Bahkan tak biasanya dia bisa lupa menyimpan kameranya. Kalau Aya sudah bersikap seperti itu, anak-anak langsung khawatir. Pasti ada yang tak beres. Tapi bukan berarti, anak-anak kelas harus membiarkan Aya seperti ini. Mereka tau, Aya bukanlah orang yang diam tanpa alasan ataupun orang yang akan bertindak tanpa memikirkan resiko.

"Hei gagak mesum, sampai kapan kau mau melamun? Si Hape Kuning sialan sama si Bulu Mata sialan udah mau membatu tuh!" kata Hiruma yang segera memecahkan lamunan Aya.

"Oh ya! Maaf, eh, sudah pas di sana sekarang tinggal mengecat bagian yang kotor dan pudar. Ayo Taka, Hiruma, dan Akaba bantu aku." Kata Aya sambil membawa beberapa kaleng cat, kuas, dan roller.

Sembari mengecat, Aya kembali tenggelam dalam lamunannya. Tentu saja itu membuat yang lain khawatir.

"Aya, kalau kau punya masalah, sebaiknya kita bicarakan bersama." Tegur Riku sambil menepuk pundak Aya. Aya lalu melihat di sekitarnya. Teman-temannya lalu tersenyum kepadanya. Bahkan orang yang sangat jarang tersenyum seperti Shin dan Patchouli ikut terbawa suasana.

"Terimakasih. Tapi-" tiba-tiba perkataan Aya terpotong oleh Suzuna.

"Tapi apanya?" Suzuna lalu tersenyum "kalau tak mau membuat kami khawatir, ayo segera kita bereskan ruangan kelas kita." Aya hanya tersenyum. Perkataan dan senyuman teman-temannya sudah lebih dari cukup untuk mengusir kegundahan hatinya.

"Yosh." Tiba-tiba Aya berdiri "Ayo kita selesaikan ini segera! Ayaya~"

.

.

.

"Mya~ akhirnya selesai juga. Wew, kita bersih-bersih sampai lewat dari jam 7." Kata Suzuna sambil meregangkan badannya.

"Aku lapar ze~" Marisa mengeluh tentang perutnya. Sepertinya cacing yang ada di perut yang lain juga menuntut hal yang sama.

"Bagaimana kalau kita makan di restoran yakinikunya orin terus dibayarin Hiruma? Kan dari kita dia yang uang jajannya paling banyak. Setuju?" usulan Akaba langsung menerima persetujuan dari anak-anak yang lain. Sedangkan Hiruma? Dia langsung mengarahakan senapannya kea rah anak-anak kelas.

"Woy! Jangan seenaknya ngabisin duit gue dong! Kan kalian juga bisa beli sendiri!" percuma, teriakan Hiruma tidak didengan oleh anak-anak yang lain.

Akhirnya Hiruma hanya bisa pasrah menerima keadaan.

.

.

.

Hari ini menjadi hari yang sangat dingin bagi Aya. Selain suhunya yang mencapai 20 derajan celcius, ia harus berangkat subuh-subuh untuk mengecek kelas dan piket. Sebenarnya Nitori dan Flandre kebagian piket pagi. Tapi, mereka bilang mereka akan telat.

Sekolah mereka memang ini memang indah kalau siang hari. Tapi bisa berubah menjadi rumah hantu ketika tak ada penerangan sekalipun. Bahkan di ruang guru. Sepertinya satpam maupun kesiswaan belum datang. Atau, tak mungkin ada yang datang sepagi Aya.

Akhirnya Aya sampai di kelasnya. Setibanya di kelas, tadinya Aya mau langsung bersih-bersih. Tapi karena ia melihat bayangan yang mencurigakan. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bersih-bersih. Diambilah kipas dan kamera di tasnya. Lalu ia pun bersiap-siap di pintu kelasnya. Dan…

BRAK!

"Aw! Sakit, ah Aya, kenapa kau ada di sini? tumben sekali kau datang sepagi ini." Ternyata bayangan misterius tadi adalah Takami.

Aya malah nanya balik "dan kau sendiri ngapain? Jangan-jangan kau menyembunyikan mayat atau semacamnya."

"Hahaha." Takami tertawa lalu memberi penjelasan "kau ini, ini hari special. Sudah tugasku sebagai ketua OSIS untuk memastikan apakah sekolah kita sudah layak untuk dilihat tamu."

"Hoo, kalau ada yang tidak layak?"

"Tentu saja aku akan membuatnya menjadi layak."

Aya dan Takami lalu tertawa kecil. Lalu mereka saling menatap satu sama lain.

"Eh, kau sudah memberi tau mereka kan kalau datang ke sekolah jam 6?" Tanya Takami.

"Tentu, seorang reporter sekaligus jurnalis tak mungkin lupa." Jawab Aya.

"Yasudah, kita kembali ke tugas masing-masing, masih banyak ruangan yang harus kau cek kan? Apa mau kubantu?" tawaran Aya hanya dibalas senyuman Takami.

"Aku tak mau menggangu waktumu lebih lama dari ini. Lagipula kau harus piket. Tapi kalau kau sudah selesai, silahkan saja."

"Ayaya, awas dark-side mu keluar. Aku tak mau melihat dark side mu pagi-pagi begini. Bikin merinding."

"Oh maaf, kalau begitu, sampai ketemu lagi jam 6."

Pintu kelas 8a pun ditutup oleh Takami. Meninggalkan Aya sendirian. Sedangkan Aya langsung mengambil sapu di lemari.

"Dasar kakak kelas"

.

.

.

"Handphone sudah dimatikan?"

"Sudah."

"Hm, hei Hiruma, masukkan kemejamu lalu benarkan dasimu!"

"Ya, ya"

Ini masih jam 6 pagi. Tapi anak-anak kelas 8a sudah ada di kelas. Kalau bukan karena ada tamu, mereka tidak akan mungkin datang sepagi ini. Paling pagi cuma jam setengah tujuh.

"Hei kacamata." Panggil Hiruma "hari ini kau benar-benar menyebalkan, ya."

Yang dipanggil tersenyum. Lalu membalas "terimakasih atas pujianmu, Hiruma. Tapi kalau hari ini aku tidak menyebalkan, aku tak akan bisa merapihkan kalian. Apa reaksi tamu nanti jika kelas kalian tidak dalam keadaan layak?"

"Biar saja, lagipula pasti yang datang orang biasa."

Suasana langsung mendingin seketika ketika Hiruma berbicara seperti itu. Takami langsung menatap matanya dengan dingin. Sedangkan yang ditatap hanya cuek bebek. Karena merasa tak nyaman, Yamato mencoba untuk mencairkan suasana.

"Hei sudahlah kalian berdua. Ini masih pagi. Tak ada gunanya kalian perang dingin. Lagipula nanti mau ada tamu kan?" kata Yamato berusaha untuk menenangkan suasana.

"Kau benar." Kata Takami sambil membenarkan kacamatanya "lagipula tidak baik menyambut tamu dengan mood yang jelek. Itu saja yang harus kukatakan. Ingat yang harus kalian lakukan?"

"Besikap manis pada guru, menjawab pertanyaan dengan kata sopan, murah seyum, memberi salam, jangan menggunakan kekuatan, lalu apa lagi ya?" kata Flandre sekaligus bertanya kepada kakaknya.

"Dan jangan sampai emosi kita naik. Atau lebih tepatnya Hiruma?" jawaban Remilia langsung mengundang tawa anak-anak kelas. Yang disebut namanya hanya cuek bebek.

"Syukurlah kalian ingat. Yasudah, saya permisi." Takami lalu beranjak meninggalkan kelas. Tapi, sebelum ia membuka pintu ada yang menegurnya.

"Kak Takami juga, jangan sampai dark-sidenya keluar ya, ze~" kata Marisa sambil bergaya ala Ranka Lee.

"Oke!"

Brak

"Kenapa Takami, teringat kejadian 2 tahun yang lalu?" tegur Hina.

"Ah Hina." Yag ditegur merespon lalu menjelaskan "anak itu, tidak tau kalau kunjungan ini bisa membahayakan jiwanya, ah bahkan teman-teman sekelasnya."

"Mau bagaimana lagi, sifatnya sudah begitu."

"Tapi setidaknya dia mengerti, bagaimana posisinya sekarang. Kalau kejadian 2 tahun lalu terulang aku …"

"Teringat Kogasa Tatara?"

"Ya, sedikit. Lagipula kehidupannya di sini terlalu singkat. Lagipula korbanyan bukan hanya dia kan?"

"setidaknya hanya dia yang meninggal, Shou dan Julie kan tidak apa-apa."

"Tapi tetap saja, traumanya itu lho. Bukan apa-apanya."

"Tapi yang membuatku khawatir bukan anak-anak kelas ini. Tapi dirimu lho. Sepertinya kau kelelahan."

Hina menghentikan perkataannya. Lalu melihat Takami sebentar. Wajahnya terlihat kusam, auranya juga tidak bagus, kantung mata yang nyaris mirip panda itu membuat Takami semakin suram.

"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku." Takami tersenyum lalu memberikan beberapa tumpuk kertas kepada Hina "kau juga, sekali-kali datanglah ke ruang OSIS. Aku lelah kerja sendiri."

"Hahaha, kan ada Reimu dan Ikkyu."

"Itupun kalau mereka mau kerja. Tau kan kalau mereka itu sifatnya seperti apa?"

"Yang satu mata duitan tapi jago manage uang yang satu mata keranjang tapi lumayan kalau ngasih ceramah."

"Ya, dan buat kau yang suka berputar tapi ramalanmu itu sangat tepat?"

"Ho, dan kau yang punya dua kepribadian dan suka menyembunyikan perasaanmu? Kita semua nyaris sama."

"Ya, sama anehnya."

Mereka lalu berdiam diri sejenak lalu tertawa.

"Sudah cukup." Takami menghentikan tawanya "aku masih banyak kerjaan."

"Mau kubantu?" Hina menawarkan bantuanya.

"Dengan senang hati."

Hina dan Takami lalu beranjak pergi meninggalkan kelas 8a . Tanpa mereka sadari, ada yang memotret mereka.

"Ayaya~ lumayan dapet menu special."

.

.

.

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, anak-anak kelas langsung segera masuk ke kelas masing-masing sebelum guru mereka datang.

"Sikap! Beri salam!"

"Selamat pagi bu Keine."

"Selamat pagi anak-anak." Balas bu Keine "wah, kelas kalian bersih, dan kalian semua rapi sekali. Ibu makin bangga sama kalian deh."

"Ah ibu, jangan kayak gitu dong! Jadi malu deh!" kata Hatate sambil tersipu malu. Anak-anak kelas lalu menatapnya dengan aneh.

"Ih Hatate, kamu mau ngalahin Riku ya?" Tanya Suzuna dengan nada mengejek.

"Eh sudah, sudah." Bu Keine berusaha melerai "ibu akan memperkenalkan tamu kalian yang akan mengajar kalian selama hari ini. Silahkan masuk."

Sret!

Pintu kelas 8a dibuka. Lalu, seseorang laki-laki datang membawa beberapa tumpuk buku yang tebalnya kira-kira 500 halaman. Wajahnya dingin. Langkah kakinya juga terdengar menyeramkan. Laki-laki itu lalu berdiri depan kelas.

"Perkenalkan. Saya Clifford D'Lewis. Dan saya akan mengajar kalian hari ini." Kata laki-laki itu dengan serius.

Setelah itu, anak-anak langsung merasakan adanya bahaya. Mungkin ini arti dari semua lamunan Aya kemarin.

Selagi anak-anak sibuk berkutat dengan pikiran tentan guru baru, Aya langsung memberikan tatapan horror tanda tidak suka.

"Dia, pasti orang itu!"

.

To be Continue


We are AMAZING class!

We can do anything we want

But we also have weakness

And then, we must work together!


Pojok Author:

Setelah lagu galaxias! Selesai, fic ini sukses merangkak menjadi chapter 2

eniwey, mas masatakaP emang keren ya kalo buat MMD, sekarang ada yang baru untuk promosi windows. Oh my masataka!

Huaaa! Akhirnya kesampea juga ngapdet! Bener-bener deh, saya lagi gak ada sense humor jadi gak bisa ngapdet fic yang satunya, hiks. Tapi gapapa lah, yang penting ini terapdet.

Thanks yang udah ngereview! Jujur lho saya pesimis dikirain gak bakalan ada review sama sekali tau-tau...

oh ya buat 'Lala san Machiru' udah saya jelasin di chapter ini. Semoga bisa membantu anda ;D

Terakhir RnR please*ngacir