Naruto © Masashi Kishimoto
Koizora/Sky of Love © Mika
Insert Song: Ai no Uta © Fukui Mai
Collab Story By Yumi Murakami&Namikaze Miku
Warning: AU, OOC, OC (mungkin), Typo bertebaran, Abal, Gajje, Cerita adaptasi dari Dorama: Koizora Sky Love(Tapi tenang saya_Yumi sudah merubahnya agar berbeda dengan cerita aslinya).
Genre: Romance/Hut/Comfort/Angst
Dont Like Dont Read
.
.
Sky Of Love
.
Chap_ 2
"Na-naruto-kun jangan terlalu kencang mengendarai montornya, kita bisa jatuh." Teriak Hinata di atas montor Naruto. Kecepatan yang bagi Hinata ini diatas rata-rata membuatnya ketakutan. Tapi Naruto malah tenang-tenang saja, seperti menikmati ketakutan Hinata dibelakangnya. Untuk mengurangi ketakutannya, Hinata melingkarkan lengannya ke pinggang Naruto erat.
Ino dan Tenten yang melihat temannya berboncengan melewati mereka dengan seorang laki-laki kaget seketika.
"Hinata-chan? Dia pacaran dengan si Naruto itu?" Tanya Ino.
"Benarkah? Jangan asal bicara kamu, belum tentu itu Naruto kan?" Timpal Tenten.
"Ya sudah, coba kita lihat saja." Mereka pun mendekati temannya-Hinata yang baru saja turun dari montor, Naruto sendiri dengan mengacak rambutnya yang sudah teracak gara-gara angin tadi.
"Tuh kan, benar kataku. Itu Naruto dan Hinata." Telunjuk Ino mengarah pada sepasang remaja di parkiran itu yang ditanggapi dengan anggukan Tenten sebagai pembenaran.
"Ne, nanti pulang bersama ya? Bagaimana?" Mengacak rambut Hinata yang tadi sudah ia rapikan, Hinata sendiri tidak memprotes kebiasaan Naruto ini.
Melihat gantungan kodok hijau yang masih menggantung di HP Naruto, berniat untuk memberikan sebuah hadiah pada pemuda pirang itu. Namun suara sapaan seseorang membatalkan niatannya.
"Ohayoo Hinata-chan" Ternyata Sakura yang datang dengan Sasuke, teman Naruto.
"Ohayoo.. Hei, pacarmu baru ya teme?"
"Hn," Gumam Sasuke menanggapi pertanyaan sahabat pirangnya.
Melihat kedekatan antara Naruto dan Hinata membuat Sakura senang, "Wah jadi kalian sudah berpacaran? Sama donk, aku dan Sasuke-kun juga sudah berpacaran." Ungkapnya menggandeng lengan kekasih barunya itu.
Hanya gumaman khas milik Sasuke lah yang menanggapi perkataan Sakura, berdecak bosan Naruto dibuatnya.
"Nah ayo teme, kita ke kelas."
Tiba-tiba saja Sasuke mencium bibir Sakura kemudian berlalu meninggalkan kekasihnya yang memerah akibat ciuman tiba-tiba itu. Begitupun Hinata.
"A-apa Sa-sasuke-kun selalu se-seperti itu ya Sa-sakura-chan?" Tanya Hinata masih berwajah merona. Sontak Sakura berteriak membuyarkan bengongan Hinata. Ia tampak bahagia dengan perlakuan penuh kejutan kekasihnya itu
.
.
.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Terjadi obrolan tentang hubungan baru mereka sepanjang lorong menuju kelas.
Dimainkannya jari sebagai pengurang rasa gugupnya, wajahnya pun merona karena pertanyaan Sakura, "Umm.. A-ano ya seperti itu lah.." Melihat reaksi teman satunya ini membuat Sakura tertawa geli.
"Oh ya, setelah beredarnya hubungan tentang mu dan Naruto langsung terjadi rumor buruk disekolah ini." Ungkap Ino yang tadi menyusul Hinata dan Sakura bersama Tenten.
"Umm? Benarkah?"
"Hei, itu yang namanya Hyuuga Hinata ya? Apa benar mereka pacaran?"
"Masa sih? Tidak mungkin mereka sama sekali tidak cocok."
"Naruto-kun itu kan sempurna, kaya, baik, tampan, ceria. Sedangkan dia, jauh berbanding dengannya. Lebih baik dengan Shion saja ya?"
Mendengar kata-kata menyakitkan bagi Hinata yang dilontarkan para siswa di sepanjang koridor membuat Sakura sebagai temannya tentu tak terima. Segera saja ia menghampiri orang tadi.
Menatap tajam mata lawan bicaranya, "Kau pikir kau siapa berani membicarakan hubungan orang hah?"
"Sudah Sakura-chan.." Sia-sia saja usaha Hinata untuk menghentikan niatan teman pinknya yang mulai naik darah walaupun sudah dibantu Ino dan Tenten.
"Tidak usah berlagak disini, aku tahu tentangmu. Jangan sampai aku menghancurkanmu dan keluargamu ya" Ditunjukannya kepalan tangan ke depan wajah gadis itu.
"Aku tidak takut padamu, memang kau siapa?" tantang gadis itu berani maju yang langsung ditahan oleh temannya. Keadaan mulai memanas, menarik perhatian murid disekeliling mereka.
"Aa.. Begitu ya? Jadi kau berani?"
"Kau pacar Sasuke-kun kan? Ya kau juga tidak cocok bersama dengannya tahu. Sama dengan temanmu ini." Telunjuk gadis itu mengarah pada Hinata yang langsung ditepis kasar oleh Ino.
"Jaga sikapmu ya," Ujarnya menarik lengan Sakura. "Ayo kita pergi, kita tidak punya waktu untuk meladeni sampah seperti mereka."
Akhirnya Sakura mengalah atas keinginan temannya, ia berjalan mengikuti teman-temannya yang sebelumnya menunjukan jari tengah kearah gadis itu.
Tidak di lorong saja semua murid membicarakan Hinata, tapi dikelas juga. Sakura yang sebangku dengannya berusaha menyabarkan teman indigonya dan menawarkan bantuan. Tapi ditolak halus oleh Hinata, ia tahu nati Sakura pasti akan bersikap seperti tadi dan masalah akan semakin runyam.
Diliriknya ametyhs ke arah bangku pemuda berambut merah yang berada di pojok depan. Sepertinya ia masih marah, sekalipun Hinata sudah meminta maaf malamnya.
"Ga-gaara-kun?"
Merespon panggilan Hinata hanya menoleh sedikit untuk mengetahui sosok si pemanggil lalu kembali memandangi luar.
"A-ap-"
"Hey kau!"
Perkataannya terpotong saat panggilan agak membentak menginstrupsi mereka, Hinata menoleh sedangkan Gaara sendiri hanya melirik dari sudut matanya.
"Setelah Namikaze-san, kau juga menginginkan Sabaku-san? Dasar.."
"Murahan sekali, tidak tahu malu! Apa setelah ini kau juga akan mendekati Uchiha-san dan lelaki yang lain?"
Sungguh kalimat bagai belati tak kasat mata yang keluar mulus dari bibir para gadis itu menusuk telak dalam hati Hinata yang hanya bisa menunduk tanpa adanya pertahanan dari apapun atau siapapun mengakibatkan air mata sedikit keluar dari matanya.
"Sekarang kau menangis, minta dikasihani, eh?"
Lengan gadis itu hampir mengenai Hinata dan mungkin tubuh mungil itu akan terjatuh kelantai jika tak ada tangan lain yang menghentikan.
Jadenya menunjukan emosi didalamnya menatap tajam kedua gadis itu, memposisikan dirinya didepan Hinata seolah menjadi tameng.
Masih memegang lengan si gadis yang mungkin satu kelas dengannya, "Tidakkah kau berpikir? Kalian lebih murahan, sudah tahu dia sudah resmi dengan laki-laki yang kau maksud tadi. Tapi masih mengejar-ngejarnya, kalian ini pelayannya atau apa? Sampai sebegitunya? Dibayar berapa kau?"
Terdiam dalam katupan bibir mereka, tak sanggup membalas kalimat menusuk yang berasala dari salah satu dari pemuda yang tadi mereka sebut-sebut.
"Ma-maafkan kami, Sa-sabaku-san," Melepas kasar pegangannya, seakan pemuda itu merasa jijik akan gadis itu.
"Te-terima kasih Ga-gaara-kun." Ujar Hinata mengusap jejak air matanya yang masih terlihat di kedua pipinya.
Nampak acuh dan kembali ke bangkunya dan pandangannya pun kembali tertuju pada luar kelas yang entah apa itu?
"Masih marah ya soal kemarin?" Menghela nafas terlebih dahulu untuk menghilangkan kegugupannya, Hinata berhasil dengan lancar berucap.
"Tidak, berbahagialah dengannya. Aku akan menunggumu," Setelah itu, Gaara bangkit melewati Hinata disampingnya keluar kelas, gadis bersurai hitam hanya bisa diam dan menunduk. Sepertinya pemuda tadi marah besar padanya, dan ada sebuah kalimat yang tadi sempat terlontar darinya. Maksudnya apa?
Tanpa disengaja pundaknya bertabrakan dengan seseorang didepan kelas, menoleh untuk menemukan sosok dari murid sebelah. "Maaf, Namikaze," Berniat pergi sebelum lengannya terasa digenggam.
"Jangan ganggu Hinata lagi," Pemuda blonde spike berujar sebelum genggamannya dilepaskan oleh si pemilik netra jade.
"Lihat saja nanti." Berlalu meninggalkan Namikaze Naruto disana dengan luapan emosi setelah melihat dari sapphiernya aksi heroik Sabaku Gaara.
Tergelapkan akan emosi, Naruto memasuki kelas XI-A, kelas milik kekasihnya. Melihat gadis yang duduk dibangkunya dengan kasar ia menarik pergelangannya keluar dari kelas tersebut. Tak menghirauka panggilan dari teman gadisnya atau rintihan dan pertanyaan lainnya.
Membawanya menuju atap sekolah, mendorongnya pada sudut atap tersebut. Memenjarakannya dengan kedua lengan. "Apa sebenarnya hubunganmu dengannya?"
Sedang merintih dan mengurut pergelangannya yang sedikit sakit, alis hitam Hyuuga Hinata mengerut bingung dengan pertanyaan Naruto.
"A-apa maksudmu?"
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kemarin maupun tadi, bagaimana sikapnya terhadapmu. Ada hubungan apa kau dengannya hah?"
Baru satu hari mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Naruto sudah membuat masalah dengan kesalah pahaman ini. Cukup.
"Dengarkan aku Naruto-kun, Ga-gaara-kun denganku tak a-ada hubungan apapun. Di-dia hanya teman sekelasku ti-tidak lebih."
Memegang belakang kepala lavender Hinata dan mendekatkan wajahnya yang miring, berniat melakukan hal yang waktu itu pernah ia lakukan pada gadis ini. Mengerti akan situasi yang akan terjadi, buru-buru Hinata segera menjauhkan tubuh Naruto.
Air mata sudah menganak sungai pada kedua pipi merah Hinata, ia menangis sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Tersadar dengan tindakannya, Naruto menunduk.
"Maaf kan aku, a-aku gelap mata." Merasa bersalah, apalagi ketika melihat keadaan Hinata.
"A-aku tak mungkin me-mengkhianati Naruto-kun dengan la-laki-laki lain." Terucap jujur dan tulus dari bibir bergetar masih dengan logat gugupnya, menatap kedalam sapphier itu berusaha meyakinkan.
Senyuman pun terukir apik di wajah tan milik Naruto, mendekatkan tubuhnya dan itu membuat Hinata meringkuk takut. Bukan bibir sasaran Naruto, tapi dahinya. Lembut bisa dirasakan pada dahinya ketika kecupan itu sampai. Seolah ada permintaan maaf dalam kecupan tersebut.
"Ne, kembali ke kelas yuk?" Ajak Naruto mengacak rambut indigo Hinata seperti biasa yang hanya dibalas senyum.
"Um!" Anggukan yakin menyahuti ajakan Naruto, ditautkannya jari jemari di telapak tangan Hinata. Menariknya menuju kelas. Semua masalah ini telah selesai dengan sedikit insiden, namun Hinata bahagia. Masih ada sisi lembut dalam diri seorang Namikaze Naruto.
.
.
.
Mengantar Hinata mungkin sudah menjadi kegiatan tambahan bagi Naruto, berhubung rumah Hinata tak terlalu jauh dengan rumahnya. Senang hati Naruto mengantar sampai depan rumah milik keluarga Hyuuga.
"Umm.. Sebenarnya aku.." Menggantung kalimat seraya menggaruk pipi yang tak gatal, ia agak ragu dengan kalimatnya sendiri.
"Apa Naruto-kun?" Nmpak sekali bingung dengan tingkah Naruto ini, Hinata berusaha mencari tahu.
"Ya, aku se-sebenarnya ingin se-sekali men.." Tertular sudah ketidak percayaan Naruto yang biasanya brisik ini dan kegugupan kekasihnya. "Sudahlah.. Tidak penting." Ujarnya menghela nafas.
"Ka-kalau ada yang ingin di-disampaikan. Sa-sampaikan saja padaku Naruto-kun."
"Aa.. Nanimonai" Buru-buru mengibaskan kedua tangannya melihat Hinata yang terus mendesak, nampak Naruto kebingungan menjelaskan perkataannya tadi. Tapi memang ini belum saatnya kan? Ia tahu, Hinata belum siap.
"Ne, aku pulang ya, Hinata." Ujarnya menepuk pucuk rambut indigo Hinata yang dibalas oleh senyum.
-Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya, namun aku tidak menyadari bahwa ada hati yg terluka karena kami-
.
.
.
-Terasa tiap detik, tiap menit dan tiap jam aku semakin terpesona akan sosoknya. Terlebih akan sorotan sapphier hangatnya itu seakan menarikku terus masuk ke dalam dirinya, dalam.. Dan semakin dalam-
Hari ini Naruto sengaja membawa sepeda kesekolah dan tetap mengantar jemput Hinata seperti biasa, dengan alasan "Montorku lagi diservice." dan "Mobil lagi dipake tou-san, hehehe.." Begitulah alasannya. Tapi Hinata tahu alasan yang sebenarnya, karena ingin lebih lama bersama dirinya hingga rela menempuh jarak dan menurunkan harga dirinya sebagai Namikaze dengan menaiki sepeda.
Sekarang saja Naruto santai menuntun sepeda dengan Hinata yang berjalan dibelakangnya, padahal langit sudah menggelarkan karpet kelamnya.
"I'm telling you, oh yeah. I slowly whisper, tonight, tonight, you are my angel. Aishiteru yo. Futari wa hitotsuni, tonight, tonight. I just to say. Wherever you are, i always make you smile. Wherever you are, i always by your side. Whatever you say, kimi wa omou kimochi. I promise you forever right now."
Seraya menikmati alunan lagu dari suara Naruto yang nampak tak buruk, Hinata diam-diam memasukan sebuah gantungan yang kemarin tidak sempat ia berikan ke dalam saku jaket abu-abu Naruto.
"Nah, sampai sini saja ya Hinata." Memberhentikan langkahnya dan menghadap kebelakang. "Maaf, soalnya aku takut dibantai oleh ibuku nanti dirumah," Menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dengan senyuman lima jari khasnya, membuat semburat merah muncul pada wajah chuuby Hinata.
"I-iya, tidak a-apa-apa kok.. Lagipula tinggal beberapa meter saja." Memang sudah nampak bangunan rumah Hinata dari situ, jadi tak masalah. Hinata pun tak ingin merepotkan Naruto.
"Maaf ya," Seperti sebuah kebiasaan, Naruto selalu mengacak rambut panjang Hinata sebelum berpisah.
Melangkah berlawan langkah mereka menuju tujuan mereka masing-masing. Tanpa tahu akan apa yang terjadi setelah ini.
.
.
.
Mengayuh sepedanya sambil bersiul ria, kebahagiaan merasuk dalam tubuhnya selama ia bersama sang kekasih seharian ini. Seolah dalam perutnya itu ada berjuta kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Entah mungkin perasaan itu benar-benar ia rasakan, membuatnya tertawa pelan sepanjang jalan turunan.
Deg
Kring
Tiba-tiba saja perasaannya terasa tidak enak, khawatir akan diri Hinata. Naruto menghentikan laju sepedanya dan tanpa sengaja sapphiernya tertuju pada sebuah benda.
"Gantungan kunci?" Mengambil benda tersebut lalu melihat bentuknya, gantungan kunci berbentuk beruang oranye dengan matanya yang berwarna biru. Seperti dirinya saja.
Ternyata ada suratnya juga.
Dear, Naruto-kun
Gantunganmu jelek :p dan kau harus menggantinya. Jangan hanya dengan Shion saja kau ber-couple gantungan. Aku juga ingin :D. Semoga kau suka dengan hadiah dariku :*
Ini dari Hinata, tersenyum sebelum membalikan sepedanya. Mengayuh melewati jalan sebaliknya menuju rumah Hinata, mungkin saja Hinata belum melangkah jauh.
"Aku ingin berterima kasih, hehe.."
.
.
.
"Shi-shion.."
"Ikut aku.
Menarik lengan Hinata paksa menuju tempat yang sama sekali tak diketahui oleh Hinata. Ini seperti gudang, padahal dekat dengan rumahnya, tapi sama sekali ia tak mengetahui. Di gudang tersebut sudah menunggu 3 orang laki-laki yang dilihat dari penampilannya sudah jelas tak bisa dinilai baik
"Kau pikir kau siapa hah?" Menjambak indigonya menyebabkan suara rintihan tercipta dari bibir mungil Hinata. "Putus dengan Naruto sekarang!" Teriakan gadis bernama Shion itu menggema di seluruh penjuru gudang tersebut.
"Ugh.."
'Naruto-kun..'
.
.
.
Perasaannya semakin tak enak, ditambah ketika sosok yang dicarinya tak ada. Hanya ada tas saja tergeletak di trotoar pinggir jalan menuju rumah.
"Hinata!"
Tak sengaja matanya menangkap sebuah barang yang dikenalnya, sebuah sapu tangan dengan nama di pojoknya.
"Shion."
Meremas kesal dan membuang sapu tangan tersebut, Naruto memacu larinya ke tempat yang ditujukan oleh feelingnya.
"Hinata.."
"Naruto.." Menolehkan kepalanya untuk menemukan sahabatnya tak jauh dari tempatnya berdiri. "Mau kemana kau?"
"Kau melihat Hinata?" Tanyanya langsung mendekati sahabatnya-Sasuke.
Pertanyaan Naruto hanya mendapat gelengan dari Sasuke, "Memang kenapa?"
"Perasaanku tak enak,"
Menautkan alisnya bingung, "Apa yang terjadi?"
"Setahuku dia pulang, tapi aku baru pergi sebentar. Tak mungkin kalau Hinata sudah jauh. Tapi saat aku kembali tak ada orang di sekitar sini." Jelas Naruto terlihat gelisah. "Ahk!" Seakan mengingat sesuatu Naruto tersentak.
"Ada apa?" Tanya Sasuke bingung.
"Aku tahu dimana, ikut aku."
.
.
.
Plak
"Aku peringatkan kau sekali lagi ya, jauhi Naruto mulai sekarang."
"Tidak akan!"
Bruk
"Aww.."
Kasar Shion mendorong Hinata hingga terjerembab, mata kembarnya terdapat kebencian disana.
3 orang di samping Shion sudah menunjukan tanda-tanda tak baik, membuat Hinata ketakutan setengah mati dan perasaan tak enak hinggap dihatinya.
Seringai Shion sudah jelas menunjukan hal apa yang akan dilakukannya, apakah dirinya akan dibunuh?
"Kau berani padaku rupanya,"
"Ke-kenapa aku harus takut padamu?" Berusaha untuk menormalkan suaranya agar tak bergetar. Dengan berani iris amesthyt nya menatap azure didepannya
"Bagus.. Bagus, urus dia."
Memberi tanda pada ke tiga pemuda lain dengan seringai diwajah mereka, langsung menangkap tubuh Hinata yang berniat kabur. Jeritan membahana dalam ruangan gelap tersebut.
Satu orang memegangi Hinata, satu orang lagi berusaha membuka blazernya dan sisanya bersiap dengan handycam nya.
Tidak. Pasti akan terjadi yang tak diinginkannya, sebuah pelecehan. Apakah pada mereka ini dirinya akan menyerahkan harga dirinya yang selama ini ia jaga untuk seorang yang ia sayangi?
"NARUTOO-KUUUNN!"
Brak
"Brengsek!"
Teriakan seseorang menggelegar kaca gudang tersebut, membuatnya sedikit bergetar. Tanpa menghilangkan kesempatan pemuda itu memukul salah satu dari mereka yang sedang berusaha membuka kemeja Hinata. Lalu kakinya ia arahkan ke rahang orang yang sedang memegang. Mereka terpental jauh oleh pukulan sekali pemuda tersebut.
Sedangkan si pemegang handycam bergetar ketakutan melihat kemarah pemuda didepannya, sapphier itu menunjuka kilatan emosi. Terlambat. Niat untuk kabur langsung lenyap ketika pemuda tersebut menarik kepala orang itu lalu membanting kepalanya ke lantai. Menciptakan erangan dari mereka menahan sakit.
Mengambil handycam tadi yang langsung pemuda itu banting keras, menginjaknya dan menghancurkannya berkeping-keping tak berbentuk. Sudah terlihat jelas bagaimana ia marah kali ini. Apalagi mengingat jika ia sudah marah, tak ada lagi yang bisa menghentikannya. Mungkin kecuali orang yang mengerti ia.
Shion yang melihat keganasan mantan kekasihnya-Naruto berusaha kabur, tetapi lengannya ditahan oleh seseorang. Ia kira Naruto datang sendiri, ternyata ada orang lain.
"Kau sudah tak dapat kabur lagi."
"Kau tak apa Hinata?" Membantu Hinata bangun dan memakaikan blazernya lagi. Sapphiernya kini menuju gadis surai pirang tua yang sedang ditahan Sasuke.
"Bawa dia kerumahku teme."
.
.
.
oOo
.
.
.
Namikaze Ryuu, kakak perempuan Naruto nampak bersedekap menatap benci pada Shion yang sedang duduk ketakutan.
Sasuke berdiri bersender pada tembok sedangkan Naruto sedang memeluk Hinata yang bergetar ketakutan mengingat bagaimana brutalnya anak buah Shion dan bagaimana mereka hampir melakukan pelecehan terhadap Hinata.
"Jadi aku harus bagaimana padanya otouto?"
Maju berniat memberi pukulan namun segera ditahan oleh Sasuke yang menggeleng memberi tanda. Menurut saja Naruto mundur kembali pada posisinya, "Bunuh saja kalau perlu."
Tersentak ketika mendengar pernyataan Naruto, Shion menggeleng. "Kita tak sesadis itu," Ryuu melangkah mendekati Shion, memainkan gunting ditangannya sebentar. Lalu menghadapkan pada Shion yang menunduk, "Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan kalau dihadapkan dengan ini? Terserah kau mau kau gunakan seperti apa untuk menghukumu." Menyelipakan jari pada lubang gunting Ryuu mengantungnya dijari.
"Setidaknya kau bukan orang bodoh kan?." Ujar Ryuu datar.
.
.
.
Berdiri di depan pintu kediaman Hyuuga yang berhadapan langsung dengan anggota keluarganya. Naruto membungkuk hormat, "Selamat malam, maaf mengantar Hinata selarut ini. Ada masalah ketika kami pulang."
"Siapa kau?" Tanya Neji langsung, sedangkan ibu Hinata kaget melihat keadaan anak keduanya dalam keadaan memprihatinkan, Hanabi menutup mulutnya yang terbuka dan Hiashi menatap tajam pemuda yang ia perkirakan adalah dalang masalah ini.
"Nama saya Namikaze Naruto, teman sekelas Hinata." Masih tetap pada posisinya-membungkuk untuk menghindari tatapan para anggota lelaki Hyuuga.
Hiashi langsung menarik lengan Hinata menjauh dari Naruto yang membuat Hinata meringis sakit pada lengannya.
"Kau kenapa?" Tanya Hiashi khawatir, Hinata menyahutinya dengan senyum dan gelengan saja.
"Terjadi kecelakaan kecil tadi ketika kami diperjalanan," Dusta Naruto. "Maaf."
"Masuk Hinata, ayah, ibu dan Hanabi juga. Biar aku yang urus." Semua menuruti perkataan Neji selaku putra pertama. Tampak wajah tak rela dari Hinata, takut jika kakaknya itu akan memakai kekerasan untuk berbicara dengan Naruto.
Setelah semua anggota keluarganya masuk Naruto mengangkat tubuhnya atas perintah Neji.
"Namikaze, putra dari Minato-sama ya?"
Hanya anggukan yang menjadi jawaban Naruto. Ia sudah tidak bisa berbicara apapun jika berhadapan dengan hal seperti ini.
"Kau siapanya Hinata?"
"Hanya teman." Lagi, Naruto harus berdusta demi melindungi Hinata.
Neji tak percaya dengan kata-kata Naruto, alisnya terangkat tak suka. "Hanya?" Menekankan kata 'Hanya'. Kembali Naruto menganggukan kepalanya.
"Hn, pulanglah. Ini sudah malam." Ujar Neji memejamkan matanya.
"Baiklah saya mohon pamit. Selamat malam. Permisi." Setelah berpamitan Naruto memasuki mobil Ferrari Enzonya lalu melajukannya menjauhi kediaman Hyuuga.
Sepeninggalnya Naruto, Neji masih berdiri di depan pintu rumahnya sampai Hanabi memanggil, "Ayo masuk Nii-san."
"Bagaimana keadaan Hinata sekarang?"
"Dia baik-baik saja kok. Ayo." Menarik lengan Neji untuk ikut masuk ke rumah mereka.
.
.
.
oOo
.
.
.
Menatap seragamnya menginat kejadian semalam, bagaimana jika teman-temannya tahu kejadia semalam jika ia tetap nekat untuk berangkat? Apa lagi Shion itu orangnya tak main-main. Ia pasti akan melakukan sesuatu untuk membuat Hinata malu dimana pun itu.
Ketika pikirannya sedang bergelung tiba-tiba Handphonenya berdering, ada telepon dengan contact name Naruto-kun. Sedikit lemas ia mengangkat telepon tersebut.
"Moshi-moshi." Sapanya memulai percakapan.
"Ohayoo Hinata." Suara bersemangat terdengar dari seberang telepon, khas seorang Namikaze Naruto dan itu mengembangkan senyum pada wajah sedikit pucat Hinata.
"Ohayoo mo Naruto-kun,"
"Kau terdengar lemas, bersemangatlah! Coba lihat ke jendela." Menuruti perkataan kekasihnya Hinata melihat keluar jendela, lalu ke arah samping kamar yang disana ada pohon. Dan tepat diatas dahan pohon tersebut seseorang yang ia sayangi disana sedang duduk, tangannya memegang HandPhone sedangkan tangan sebelahnya sedang melambai ke arah Hinata.
Bagaimana bisa Naruto-nya ada disini? Ia lewat mana untuk masuk?
"A-aku akan menemuimu sekarang. Tu-tunggu."
Segera Hinata menutup sambungan dan berlari menuju halaman samping kamarnya. Untung saja keluarganya masih sibuk menyiapkan diri mereka.
Sesampainya disana Naruto sudah turun dari pohon. "Hai."
"Hai."
"Ayo kesekolah sekarang." Ajak Naruto yang disahuti anggukan dari Hinata.
.
.
.
Setelah berpamitan dengan keluarganya Hinata langsung masuk ke mobil Naruto, alasannya kini membawa mobil adalah agar sosok mereka tak terlihat dari luar. Itu kata Naruto.
Ternyata niatan Naruto bukan untuk kesekolah tapi menuju tempat yang pernah ia datangi dengan Hinata ketika mereka ada masalah waktu itu. Dan Hinata diajak bolos pun tak meprotes, karena dasarnya Hinata memang sudah tak berniat ke sekolah hari ini.
"Kau sudah tahu kan kalau aku menyukai sungai, juga tempat ini. Tempat penuh kenangan bagiku. Aku juga sudah menjelaskan alasannya kan waktu itu?" Hinata mengangguk mengiyakan pertanyaan Naruto, "Dulu ketika aku kecil, aku tak mempunyai teman karena badannya kecil," Terkekeh pelan mengingat bagaimana masa lalunya ketika masih kecil, namun bisa dilihat dari sapphiernya kalau kekehan itu mengandung kepedihan Hinata tahu itu.
"Saat aku diganggu oleh teman kelas aku langsung berlari kemari, menangis sendirian di pinggir sungai. Sendiri." Mengehela nafas sejenak memberi jeda, lalu melanjutkan dengan senyum khasnya, "Disini pula aku menemukan sahabat seperti Sasuke. Lalu kami sepakat untuk membalas mereka, kami menghajar mereka sampai habis!" Membenturkan kepalan tangan dan telapak tangannya bersemangat. Melihat betapa bahagia kekasihnya itu saat bercerita tak sadar mengembangkan senyum manis sang putri Hyuuga.
Merebahkan tubuhnya diatas hamparan rumput di pinggir sungai mata sapphiernya memandang langit luas diatas yang tanpa ditutupi awan itu. Langit yang warnanya sama dengan warna netranya.
"Dan disinilah aku memiliki kekuatan."
Ikut merebahkan diri diatas rerumputan Hinata juga memandang hamparan luas langit.
Tangan Naruto terangkat seolah ingin menggapai langit, "Tapi aku tak ingin menjadi sungai, aku ingin menjadi langit saja." Jelasnya ambigu menautkan alis Hinata.
"Maksud Naruto-kun?"
"Karena jika aku menjadi langit aku bisa menemukan kau dengan mudah dari atas sana dan akan segera turun kebawah ketika kau mendapatkan kesulitan. Melindungimu dengan bentangan langit itu," Kini kedua tangan Naruto terulur keatas, senyumnya menghias wajah tannya.
"Lau bagaimana Naruto-kun tahu keberadaanku semalam?" Tanya Hinata meletakan kedua lengannya didepan dada.
Tidak langsung menjawab tetapi merapikan posisinya agar nyaman, menjadikan lengan sebagai bantal kepala, "Mungkin itu kekuatan cinta." Menoleh kan kepala yang kini telah terlebar senyum manis Naruto membuat wajah Hinata memerah melihatnya.
"Ne, aku memakainya lho." Sebelah tangan Naruto mengulur pada Hinata menunjukan sebuah gantungan berbentuk beruang berwarna oranye dengan mata biru.
Senyum senang mengukir diwajah putih Hinata ia senang hadiahnya dikenakan oleh pemuda bertanda lahir tiga coretan ini.
"Terima kasih sudah mau memakainya."
Dan seterusnya mereka menghabiskan waktu ditempat itu hanya berdua hingga jam sekolah berakhir.
.
.
.
.oOo.
.
.
.
Naruto heran ketika sudah mencapai kelasnya karena di depan semua murid sudah mengerubingi papan tulis, "Ada apa ini?"
Sasuke yang melangkah disampingnya tak menyahuti ia tetap diam sampai didepan kelas, terjawab sudah pertanyaan dibenak Naruto. Sapphier dan onyx itu membulat sempurna membaca rentetan kata-kata di papan tulis itu.
Brak
Menggebrak pintu kelasnya, Naruto membuka jalan kerumunan itu kasar. Mengambil penghapus dan dengan kemarahan yang menguasai dirinya ia menghapus kalimat berisikan 'Siapapun yang menginginkanku semalam diranjang hubungi saja. Hyuuga Hinata-XI-A'
"Siapa yang melakukan ini brengsek!" Tak ada jawaban apapun, menambah emosi Naruto menaik saja. Tanpa membuang waktu dan mengacuhkan panggilan dari sahabatnya Naruto memacu lari disepanjang kelas.
Dilain tempat Hinata yang baru sampai di kelas pun sama kagetnya membaca tulisan tersebut. Ternyata Shion tak sampai dimalam itu saja mencoba membuat masalah dengannya demi putus dengan Naruto. Ketika akan menghapus tulisan tersebut tiba-tiba seseorang datang lalu merebut hapusan dari tangan Hinata. Menghapus tulisan itu menggantikan Hinata.
"Na-naruto-kun?"
"Heh! Manusia laknat! Kalian sebenarnya punya mata atau tidak sih, melihat tulisan seperti ini malah hanya dipelototi saja! Atau perlu aku saja yang menghapus nyawa kalian hah!?" Bentak Naruto membanting hapusan tersebut, Gaara yang tadi sedang membaca hanya menatap tak suka sesosok pemuda yang sedang marah-marah didepan.
"Na-naruto-kun sudahlah." Berusaha menenangkan Naruto namun hanya tepisan saja yang diterima Hinata.
"Dasar manusia tak berguna!" Setelah itu ia berlari meninggalkan kelas tersebut, segera Hinata mengejar. Ino dan Sakura yang baru datang melihat itu menyiptakan berbagai pertanyaan di kepala mereka masing-masing.
"Ada ribut-ribut apa ini?" Tanya Sakura yang dijawab angkatan bahu Ino. Saat mereka sedang menerka ada apa, seorang pemuda yang sangat Sakura kenal melewati. Langsung saja Sakura menghentikannya. "Sebenarnya ada apa ini Sasuke-kun?"
"Ada masalah."
Menuju kelas XII dan menghapus semua tulisan-tulisan itu, membentak dan memarahi kelas tersebut. Tak peduli omelan kakak kelasnya itu, sedangkan Hinata yang mengikuti terus-terusan memanggil nama Naruto untuk menghentikan semuanya.
Sampai dikelas XII-C, kelas Shion. Dengan kasar Naruto menendang pintu yang setengah terbuka itu lalu menghapus tulisan dipapan tulis. Selesainya ia langsung melempar hapusan ke arah Shion yang meleset, karena niatan Naruto memang hanya menggertak.
Memukul meja guru mata Sapphier Naruto menyalang marah, "Heh jalang! Apa kau tak salah menulis nama?"
"Apa maksudmu hah anak kelas dua?!" Seorang laki-laki menegur Naruto yang dibalas tendangan meja. "Aku tak berbicara denganmu brengsek!"
Matanya kembali menatap Shion, "Belum kapok kamu ya?!" Semua yang disitu sudah berteriak ketakutan melihat Naruto akan memukul Shion yang langsung dihentikan oleh seseorang, Sasuke.
"Cukup Naruto."
Netra Naruto melirik sosok di ambang pintu, amethystnya menatap takut. Dada Naruto yang naik turun menahan emosi mulai menenangkan diri. Melihat sahabatnya mulai tenang, dengan pelan Sasuke menurunkan pergelangan Naruto.
"Akan kubuat perhitungan denganmu lagi lain kali brengsek!"
Semua di kelas itu hanya tertegun melihat seorang murid kelas 11 dan putra dari orang paling berpengaruh dikelasnya marah. Benar-benar menyeramkan.
.
.
.
oOo
.
.
.
Semua kejadia di sekolah tadi sungguh menjadi beban pikiran Hinata, sekalipun Naruto sudah menenangkannya. Hingga saat ia disuruh mengantarkan payung pada Hanabi sekarang di tengah hujan, pikirannya berkecamuk kacau tidak beraturan. Kenapa cobaan percintaannya harus serumit ini?
Brukk
"Ugh," Hinata mengaduh pelan ketika tiba-tiba ia terjatuh karena terpeleset, payung yang tadi menaunginya terbang entah kemana. Rasa sakit di pergelangan kakinya membuat Hinata tak sanggup bangun, sepertinya terkilir.
"Na-naruto-kun," lolos sudah air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya. Hinata terus terisak diisi dengan sebuah nama yang mengisinya.
"Kau kenapa?" Hingga suara seseorang yang sedari tadi ia panggil menyentakkan dirinya sudah berdiri di depan Hinata.
"Naruto-kun?" Tidak kuat dengan perasaannya sendiri Hinata langsung memeluk Naruto yang nampak kebingungan dan hanya bisa mengelus rambut indigo kekasihnya yang basah itu.
"Sebenarnya kau mau kemana?"
Tidak ada jawaban. Hinata masih saja menutupi wajahnya di dada bidang Naruto sampai 5 pertanyaan yang diakhiri tanpa jawaban. Naruto menghela nafas pasrah. Ia pun mengangkat tubuh Hinata dalam gendongannya, mengantarkannya pulang yang malah menjadi banyak pertanyaan bagi keluarga Hinata, membuat tambah pikiran saja.
Hinata hanya bisa melihat sosok Naruto yang pergi memjauhi rumahnya lewat jendela, jemarinya menyentuh kaca berembun karena nafasnya, "Maafkan aku Naruto-kun," setetes air mata melewati pipi pucat Hinata yang jatuh mengenai mata boneka di bawahnya. Seolah boneka itu ikut menangis.
.
.
.
oOo
.
.
.
"Hinata?" Seketika tubuh gadis berambut indigo itu berjengit kaget, ia pun menoleh dan mendapati seorang pemuda berambut merah berdiri dibelakangnya ketika Hinata sedang merapikan tasnya.
"Aa.. Gaara-kun, aku kira siapa? Ada apa?" tanyanya menenangkan degup jantungnya gara-gara kagetan tadi.
"Tidak, hanya saja.." jade itu teralih kebawah tak ingin menatap langsung amesthyt depannya. Membuat Hinata memiringkan kepalanya bingung. "Ah lupakan!"
Sebenarnya Hinata tahu, ada sesuatu yang ingin disampaikan Gaara. Tapi ia tak ingin memaksa. "Ya sudah.."
"Umm... Hinata, aku lihat selama ini kau banyak diam? Kau punya masalah?" pertanyaan Gaara sukses membuat Hinata tersentak. Ia tak menjawab dan terus berkutat merapikan tasnya. "Berceritalah padaku, setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan." ujar Gaara lagi menghentikan langkah Hinata yang berniat keluar dari kelas.
"A-aku tidak punya masalah apapun Gaara-kun," dusta, Gaara tahu Hinata sedang berdusta.
"Ya dilihat kejadian yang kau alami akhir-akhir ini, tidak mungkin kau sedang tidak punya masalah, Hinata"
"Hiks.." Bahu Hinata tiba-tiba bergetar dan terdengar isakan yang berasala dari gadis indigo itu, dan Gaara tahu. Ia hanya dia menunggu tanggapan Hinata.
Menghela nafas kaki jenjang Gaara melangkah menghampiri, ia tak tahan menunggu terus-terusan. Ditariknya tangan Hinata keluar dari kelas tersebut.
.
"..aku hanya tak ingin Naruto-kun mengkhawatirkanku." Hinata mengakhiri ceritanya sembari menyeka pipi yang masih dialiri air mata.
Gigi Gaara bergemelutuk menahan amarah. Jadi semua ini gara-gara Shion, ia terus-terusan menekan Hinata tapi Hinata tak mau bercerita dengan Naruto karena takut Naruto akan mengkhawatirkannya? Argh semua itu membuatnya emosi. Diacaknya rambut merah itu gusar.
Bagaimana bisa dirinya diam saja mengetahui gadis yang diam-diam ia sukai menderita sendirian begini.
"Dengar Hinata." ujar Gaara menggenggam kedua tangan Hinata, jadenya menatap amesthtyt itu serius. "Aku akan melindungimu mulai sekarang, apapun yang terjadi. Maka dari itu, kau jangan takut akan ancaman-ancaman dari Shion, karena aku selalu ada untukmu. Kau mengerti?"
"Tapi Gaara.."
"Ijinkan aku menggantikan Naruto untuk sementara, boleh?"
Akhirnya hinata mengangguk menyetujui, senyuman menenangkan diberikan Gaara untuk sosok didepannya.
.
.
.
Gaara dan Hinata pulang bersama setelah obrolan mereka tadi, hati gadis itu sedikit tenang sekarang dengan adanya Gaara. Melupakan sosok lelaki yang kini berdiri didepannya dengan perasaan cemburu.
"Oh jadi begitu sekarang?"
Mereka kaget dengan sosok pemuda berambut pirang yang sedang memasukan kedua lengannya di saku celana berdiri dengan seringai menghias diwajahnya.
"Na-naruto-kun."
"Ahahah sepertinya aku benar-benar termakan omongan Shion." Naruto, nama pemuda itu tertawa menutup sebelah wajahnya dengan sebelah tangan.
Hinata mundur selangkah takut dengan tingkah Naruto yang aneh.
Naruto menghentikan tawanya dan menatap keduanya tajam, ia melangkah mendekat. Ketika sekali lagi Hinata akan mundur Naruto berhasil meraih pergelangan tangannya dan menarik jauh dari Gaara.
Tentu Gaara yang melihatnya sedikit emosi, mengingat bagaimana janjinya ia ikrarkan untuk Hinata.
Ia menghampiri Naruto yang sedang menyeret Hinata, mengambil alih pergelangan gadis itu lalu memberi hadiah berupa pukulan keras yang mengenai wajah tan milik Naruto. Putra bungsu Namikaze itu terjatuh ke tanah dengan darah mengalir di sudut bibirnya.
"Maaf Namikaze, kau terlalu kasar pada Hinata. Sekalipun kau pacarnya kau sama sekali tak berhak. Aku sudah berjanji padanya kalau aku akan melindunginya, karena kau sendiripun tak mampu."
Rentetan kalimat panjang mengakhiri semuanya, Gaara menarik Hinata menjauhi Naruto yang masih terduduk membisu. Mencerna kata-kata bungsu Sabaku itu.
Tanpa mereka sadari, seringai kembali terkembang di wajah pemuda bernetra sapphier itu. Sebuah rencana yang akan menghancurkan Sabaku Gaara.
.
.
.
oOo
.
.
.
Pagi harinya seluruh sekolahan gempar dengan rusaknya kaca jendela gedung Konoha High School itu yang hampir semuanya tak bisa di katakan masih bisa digunakan aliasnya pecah. Dan didinding paling pojok terdapat sebuah tulisan.
'Ini semua aku lakukan karena aku sangat membenci Namikaze Naruto yang berpacaran dengan Hinata yang aku sukai.'
Seluruh warga sekolahpun tahu siapa yang menyukai Hinata. Tidak lain dan bukan..
"Pasti sabaku Gaara, dia kan menyukai Hinata dan dia juga membenci Naruto."
Semuanya bersorak menyetujui dan tanpa percakapan apapun lagi mereka langsung mendatangi Gaara yang juga sedang melihat-lihat keadaan kaca sekolahan. Seketika Gaara kaget ketika tuduhan-tuduhan terlontar padanya dan tidak mau mendengar penjelasan dari pemuda bertato ai itu.
"Jangan karena kau prema kami jadi takut padamu," satu pukulan mengenai wajahnya disusul pukulan-pukulan lainnya dilancarkan pada wajah dan tubuhnya.
Hinata yang baru datang setelah mendapat kabar dari Ino hanya dapat menutup mulutnya dengan tangan melihat kebrutalan teman-temannya memukul Gaara.
Ia tahu yang melakukan ini semua bukan Gaara, tapi kekasihnya sendiri. Ketika ia akan berlari untuk menghentikan pemukulan tersebut tangannya tertarik oleh seseorang yang segera membawanya ketempat lain.
.
.
.
"Lepaskan Naruto-kun! Sakit!" menepis genggaman kasar pemuda blonde didepannya Hinata meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya.
Namikaze Naruto, orang yang tadi menarik lengannya membawanya ke atap sekolah entah untk apa? Dan itu menjadi kesempatan untuk menanyai semuanya.
"Naruto-kun, aku tahu yang memecahkan jendela itu kau kan?"
Yang ditanyai hanya diam, sekali lagi Hinata berujar "Aku tahu dari Sakura-chan yang diberi tahu Sasuke-kun. Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga melakukan itu semua?"
"Karena aku cemburu! Kau puas!" bentakan keras mengagetkan Hinata, wajah Naruto mengeras menahan amarah.
Untuk kesekian menit mereka lalui dalam kebisuan, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Hyuuga Hinata kembali bersuara.
"Tapi tidak seharusnya seperti itu kan?"
Naruto mengalihkan wajahnya, enggan menatap wajah Hinata yang memandangnya sendu.
"Naruto-kun, kumohon.. Memintalah maaf pada Gaara, ia tak bersalah." yang dimintai tak merespon dan tetap memaku sapphiernya pada pemandangan langit membuat perasaan Hinata tak tahan lagi.
"Maafkan aku Naruto-kun," ucap Hinata lirih yang mampu didengar oleh Naruto, ia sedikit melirik menunggu kelanjutan kalimat gadis berambut indigo itu, "Sepertinya aku tak kuat lagi denganmu."
Sapphier itu seketika membulat lebar mendengar penuturan Hinata "Kita berpisah,"
Dan semuanya berakhir dengan sebuah gantungan boneka bermata lavender yang kini sudah berada di tangannya sekarang.
.
.
TBC
.
A/N:
Nah Miku-teme ini sudah selesai, maaf gak sesuai keinginanmu tbc nya XD tahu kan? ini sudah menembus 5k you know? dan kau tau teme, jadi beta reader itu susah lho == apa lagi pikiranku dipaku dalam alur yang sudah kamu buat disini. aa susah.. T.T
Dan jangan minder gara-gara cuman dapet 4 review, 4review itu gak buruk. kegagalan dalam fanfict ini juga kegagalan aku, bagaimanapun juga aku yang mengedit dengan akunmu ini. Maaf ya aku gak nanya dulu kamu mau ngomong aapaan? Ahahaha..
Oh ya jangan sensi soal review, mereka bukan mau mem flame, tapi mau mengingatkan. Ne buat para Reader saya cuman ngasih tahu Saya sejujurnya belum pernah nonton Koizora jadi kesamaan cerita atau apa ya saya gak tau, saya cuman mengikuti alur yang dibikin Mizu-teme. Padahal dah diusahain biar gak sama kaya alurnya yang pasti sama persis filmnya. ==
Makasih para silent reader, reviewer, follower, favoriter. kalian bikin Yumi semangka :D dan mohon minta doanya ya? T^T Yumi lagi sakit, jadi minta doanya biar Yumii cepet sembuh makasih.
Thanks to:
BellaYosintaL, , Suzushii Yukina, Anonymous
Mind to RnR again? ^^
