Bagian 2
Keesokan paginya di Aula Besar,
Draco menyantap oatmealnya dengan ogah-ogahan. Waktu yang tersisa tak banyak dan dia harus rela buang-buang waktu hanya untuk menelan sarapan yang tak lagi terasa nikmat di lidahnya. Sepanjang hari, selama berjam-jam beruntun dan akan kembali berulang di hari kemudian untuk waktu yang tak pasti, Draco harus berkutat meneruskan pekerjaan yang belum juga terselesaikan. Pekerjaan yang membuatnya hampir gila karena tak ada seorangpun yang bisa membantu. Pekerjaan yang sangat sulit dan harus disembunyikan rapat-rapat secara terorganisir dengan Crabbe dan Goyle karena taruhannya sangatlah besar, nyawa orangtua Draco.
Entah sudah berapa kali Draco menghela nafas panjang dan memijat-mijat keningnya. Dia hampir frustrasi. Banyak yang mengatakan sekarang dia agak kurusan dan tampak tidak sehat. Mereka benar. Draco memang merasa sedang tidak fit. Dia sangat lelah. Tenaganya sudah terkuras habis-habisan. Begitupula dengan otaknya yang penuh sesak karena dimaksimalkan sedemikian rupa untuk memikirkan tentang misi ini sehingga tak lagi menyisakan tempat untuk memikirkan studi.
Saat Draco mengamati refleksi dirinya lewat piala perak berisi jus labu kuning, dia mendapati seorang pemuda berpenampilan semrawut dengan lingkaran hitam yang menghiasi kedua mata balas memandangnya dengan sorot sayu memilukan. Tak mungkin aku berubah menyedihkan begini, pikir Draco kecut.
Harusnya pagi ini akan menjadi pagi yang menyenangkan. Terutama bagi para anggota tim Quidditch yang nampak sudah tak sabar lagi. Pertandingan besar akan segera dimulai dalam hitungan menit. Semua siswa penggila Quidditchpun ikut menanti dengan perasaan menggebu-gebu. Mereka semua sudah siap dengan yel-yel dan bersumpah sepenuh hati tidak akan pernah beranjak sedikitpun dari kursi mereka demi menonton pertandingan Griffindor Vs Slytherin dari detik ke detik, tentu saja, kecuali mereka dijungkirkan dengan mantra Levicorpus.
Tapi tidak bagi Draco. Dia tak boleh menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Apalagi hanya untuk terlibat dalam sebuah permainan yang akan sangat menyita waktu dan tenaga seperti Quidditch. Waktu dan tenaganya sangat berharga untuk saat ini. Malahan pertandingan hari ini akan membantu melancarkan progresnya. Hogwarts akan menjadi sangat sepi bahkan nyaris kosong melompong. Dengan demikian, Draco bisa berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya tanpa khawatir akan ada penguntit ataupun penyusup. Tapi dia tetap akan membutuhkan bantuan dari dua kaki-tangannya, Crabbe dan Goyle.
Tentu saja anggota tim Slytherin tidak senang dengan keputusan Draco. Hari ini adalah pertandingan perdana mereka di musim ini serta harus melawan musuh besar mereka, Griffindor, sebagai pertandingan pembuka, dan Draco tidak bisa ikut bertanding tanpa memberikan penjelasan detil mengenai apa yang menghalanginya tampil pagi ini. Menggertak Urquhart tidak lagi mempan kali ini. Kondisi tim sedang buruk, jelas kapten Slytherin itu, dan dia mendesak Draco untuk tidak memperparah keadaan.
Hal ini memaksa Draco menggunakan jurus pamungkas yang tidak disukainya. Biarlah. Hanya makan malam bersama Urquhart tidak akan merugikan Madeline sedikitpun, bukan? Gadis itu pasti mau melakukan ini demi Draco. Madeline adalah sepupu yang pengertian, pikir Draco. Mungkin dia akan menolak keras pada awal-awal, tapi dia pasti akan mengerti apa alasan Draco melakukan ini. Lagipula dia sudah dewasa. Draco tidak boleh overprotektif kepadanya.
"Kau tampak tak sehat pagi ini, Draco," sapa Pansy dengan suara mendayu-dayu.
Draco mendongak dan menemukan Pansy sedang menatapnya dengan tatapan ingin tahu. Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menebak apa keinginan Draco saat ini.
"Bagaimana kalau aku memijat bahumu?"
Pansy segera berjalan memutari meja dan berdiri tepat di belakang Draco sebelum Draco sempat mengutarakan penolakan. Perlahan-lahan jemarinya memijat bahu Draco yang kaku dan melemaskan otot-otot yang kelelahan. Draco memilih untuk diam dan menikmati, walau sebenarnya dia jengah.
Sementara itu, meja Slytherin semakin ramai saja. beberapa anggota tim Quidditch yang baru saja ikut bergabung menambah kemeriahan. Dengan kompak, mereka berkoor mencemooh setiap anggota tim Griffindor yang memasuki aula besar dan bersorak riuh bukan main saat ada anggota tim asrama mereka yang datang menghampiri sambil mengacungkan tinju ke udara.
"Pagi yang cerah. Semoga saja akan membawa pengaruh baik kepada tim," kata Urquhart sambil menarik kursi yang berada persis di hadapan Draco dan menggumam dari sudut bibirnya, "Walau kita hanya tampil dengan formasi seadanya."
"Sudah kubilang aku punya alasan melakukan ini, Urquhart. Kupikir kau sudah benar-benar mengerti," ujar Draco geram.
Urquhart hanya memberinya lirikan sebal sebelum meraih sepotong pudding caramel. Dia tidak ingin berdebat dan memperpanjang masalah. Lagipula, Draco sudah menawarkan imbalan untuk kesediaannya membebaskan pemuda itu dari kewajiban tampil di pertandingan pagi ini.
Sudah lama Urquhart naksir Madeline dan gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya. Lebih parah lagi, Urquhart tidak bisa leluasa mengejar Madeline. Gadis itu terlalu menarik. Bukan hanya Urquhart saja yang terang-terangan menginginkan jalan bareng atau duduk berduaan dengan Madeline, tapi juga deretan pemuda Slytherin dari tingkatan yang bervariasi dan beberapa pemuda penghuni asrama lain yang diam-diam juga sudah mengincar gadis itu sejak lama. Untunglah Madeline dingin-dingin saja menanggapi semua gangguan ini. Berarti Urquhart masih punya kesempatan.
"Jujur, aku masih tidak mengerti kenapa kau melewatkan pertandingan perdana musim ini. Kukira kau sangat menggemari Quidditch. Apalagi si Potter yang jadi kapten Griffindor sekarang," kata Pansy sambil memijiti leher Draco.
Draco menggeliat. Tapi Pansy tidak cepat menangkap apa maksudnya. Gadis itu menolak melepaskan Draco dan terus saja memijat.
"Quidditch tak lagi menyenangkan, Pansy. Buatku, tak ada lagi yang akan menyenangkan untuk sekarang dan seterusnya."
"Bahkan kau tidak merasa senang walau bersamaku?" desak Pansy mendongkol dan memijat dengan tekanan lebih keras.
Draco memekik kesakitan tertahan, semakin sebal dengan ulah Pansy. Kesebalannya memudar saat menyadari meja Slytherin mendadak jadi heboh. Draco memutar kepalanya dan tersenyum paham.
Seorang gadis berambut panjang terurai sepinggang baru saja muncul. Cahaya matahari yang menyorot dari atas membuat warna rambutnya yang coklat keemasan terlihat semakin berkilau. Seragam kombinasi perak-hijau yang dikenakannya sebagai salah satu anggota tim Quidditch menambah pesona gadis ini. Setiap langkah yang membawanya semakin mendekat ke meja Slytherin membuat para pemuda blingsatan, tak betah lagi untuk duduk rapi. Udara pagi yang hangat menghasilkan efek wajah cerah merona yang memukau. Apalagi saat gadis itu tersenyum ceria dengan wajah berseri, hampir semua orang tak ingin melepaskan pandangan darinya.
"Er… selamat pagi, Lestrange…" sapa Urquhart kaku.
Madeline hanya menoleh sejenak sebelum kembali bersikap tak acuh seperti biasa, "Pagi."
"Bagaimana kondisimu pagi ini, Madie?" tanya Draco merujuk kepada jantung sepupunya itu. "Benar kau yakin ingin tetap bertanding?"
"Aku sehat, Draco," jawab Madeline santai sambil mencomot sepotong kecil pie apel, mengabaikan tatapan nakal dari pemuda-pemuda yang mengelilingi meja mereka.
Harper yang baru saja datang buru-buru menarik sebuah kursi untuk diduduki Madeline, namun gadis itu memilih menarik sendiri kursi yang ada di sebelah Draco dan mendudukinya dengan gaya seanggun mungkin.
"Aneh sekali. Kulihat kau tidak mengenakan seragam Quidditchmu?" tanya Madeline setelah menghabiskan segelas limun dan mengelap bibirnya hati-hati dengan serbet.
"Hari ini aku tidak ikut bertanding," jawab Draco enteng sambil ongkang-ongkang kaki.
"Apa?!" Madeline tersentak. "Tapi kau tak punya alasan untuk mangkir dari pertandingan. Posisimu sangat penting dalam tim. Kau harus bermain bersama kami. Harus!"
"Dia sedang sakit, Lestrange!" sela Pansy tersinggung. "Apa kau tidak lihat wajah Draco pucat?"
Madeline menengok Pansy sekilas untuk memberinya tatapan remeh, "Oh, jadi kau penanggung jawab kesehatan tim Quidditch. Sejak kapan?"
"Aku bukan penanggung jawab kesehatan. Tapi setidaknya aku tidak memaksa seseorang tampil jika kondisinya tak memungkinkan. Aku masih punya hati nurani," balas Pansy tak mau kalah.
"Kau punya hati nurani? Aku baru tahu," sahut Madeline asal.
"Tentu! Tidak seperti kau!"
Serta merta Pansy menarik kedua tangannya dari Draco, berkacak pinggang galak dan memandangi Madeline dari atas ke bawah dengan sorot menghina. Madeline hanya balas memandang seraya bertopang dagu santai. Bibir merah jambunya menyunggingkan senyum melecehkan untuk Pansy.
Sudah lama mereka berdua berselisih seperti anjing dan kucing. Penyebabnya adalah Pansy tidak senang menyadari kehebatan Madeline dalam hal menebar pesona di depan para pemuda. Sedangkan Madeline benci melihat gaya Pansy yang menganggap dirinya sebagai Sang Primadona Slytherin tanpa mau bercermin terlebih dulu. Mengingat dua orang gadis ini punya hubungan dekat dengan Draco, tak pelak mereka sering bertemu dan juga bertengkar, tentu.
"Jadi kau mengataiku tak punya hati, begitu? Karena aku tidak peduli dengan kondisi Draco yang tampak sedang tak memungkinkan di matamu," ujar Madeline tenang dan bangkit dari kursi untuk menghadapi Pansy. "Baik. Akan aku tunjukkan padamu seperti apa kondisi tak memungkinkan itu."
"Cukup!" teriak Draco sambil beringsut dari kursinya.
Madeline dan Pansy saling mendelik dengan salah satu tangan terselip di saku jubah masing-masing. Tak diragukan, mereka sudah siap merapal mantra kutukan dalam hitungan detik lagi. Buru-buru Draco berusaha menengahi.
"Madie, aku ingin bicara denganmu berdua saja!" pinta Draco tegas.
Sementara itu, Pansy menggenggam tongkatnya erat-erat dari dalam sakunya. Dia sudah cukup mahir merapal mantra non-verbal, jadi tak akan ada yang tahu kalau saat ini dia berniat meluncurkan kutukan bisul-berair untuk Madeline.
"Madie?" usik Draco, kesal mendapati sepupunya belum juga beranjak. "Ayo!"
"Protego!" teriak Madeline tiba-tiba.
Seketika Pansy menjerit histeris, membuat semua kepala menoleh ke arahnya. Tawapun meledak. Beberapa anak malah terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. Keributan ini memancing keingintahuan dari meja-meja lain. Ramai-ramai mereka mencari tahu apa sumber keributan ini dan segera ikut tertawa setelah menemukan ada yang aneh pada wajah Pansy.
Bisul-bisul besar berwarna merah muda pucat muncul serentak di pipi, dahi dan dagu Pansy. Yang tumbuh di hidung bahkan lebih menjijikkan lagi, bentuknya mirip jamur cendawan. Rasa gatal hebat yang menyerang kulit wajahnya membuat Pansy sadar kalau kutukan tadi justru berbalik ke arahnya. Entah bagaimana Madeline bisa tahu niat buruk Pansy dan memblokir kutukannya dengan Mantra Pelindung. Ketakutan, panik dan rasa malu yang bercampur jadi satu membuat Pansy memilih untuk lari terbirit-birit sambil melolong memilukan.
"Astaga!" desah Madeline sambil memamerkan senyum kemenangan dan mengelus pipinya yang masih tetap mulus. "Lihat apa yang ingin dia lakukan padaku."
Dari jauh, meja Griffindor juga ikut heboh. Madeline sempat mengerling trio Harry-Ron-Hermione. Wajah Ron merah padam menahan geli, sedangkan Hermione tampak tak senang sama sekali. Mungkin gadis itu sedang berancang-ancang melaporkan hal ini kepada kepala asrama Slytherin. Harry, dia hanya tersenyum tipis ke arah Madeline dan Madeline membalasnya dengan seulas senyum manis. Tapi sebelum Madeline sempat berkata-kata, Draco sudah menariknya agak kasar dan mengajak gadis itu pergi menjauh dari aula besar.
"Aku tak percaya kau melakukan itu," desis Draco gusar, mencengkram tangan kanan Madeline kuat-kuat. "Kenapa kau menggunakan kemampuan Legilimensmu lagi? Kau sudah janji tidak akan menggunakan itu, kan!"
"Dan membiarkan gadis bodohmu itu mengutukku, begitu?" balas Madeline tak kalah sebal. "Aku menggunakan kemampuanku untuk melindungi diriku sendiri. Apa itu salah? Kalau saja aku tidak membaca pikirannya tadi, saat ini wajahku yang jadi korban!"
"Kau pasti akan kena detensi," ucap Draco lirih.
Madeline nyengir, "Apa? Biar saja prefek berdarah lumpur itu ngomong macam-macam. Aku yakin professor Snape akan membelaku."
Draco memilih bungkam. Percuma saja berdebat dengan gadis keras kepala ini, hanya buang-buang tenaga. Sekali lagi, tenagaku sangatlah berharga untuk sekarang, tegasnya pada diri sendiri.
"Baik, Madie. Kita butuh bicara," ujar Draco setelah menemukan sebuah lorong sepi yang cukup jauh dari jarak dengar murid-murid yang ada di Aula Besar.
"Kuharap ini mengenai alasanmu mangkir dari latihan dan pertandingan hari ini. Beri aku alasan yang masuk akal, Draco!"
"Aku tidak akan memberimu alasan apapun. Kau sudah tahu apa alasanku melakukan semua ini," tukas Draco tajam. "Aku membawamu kemari untuk memintamu agar tidak membuntutiku lagi!"
Madeline terbelalak. Dia tak tahu Draco sadar kalau selama ini gadis itu selalu membuntuti dirinya kemana saja. Namun Madeline punya pembenaran untuk melakukan hal ini.
"Kau tahu aku mengkhawatirkanmu, Draco."
"Kalau begitu, berhentilah mengkhawatirkanku!"
"Aku ingin sekali, tapi tidak bisa!" bentak Madeline. "Andai kau tahu apa yang kulihat di kelas Ramalan kemarin. Saat itu aku benar-benar ketakutan."
"Sudah kubilang jangan percaya ocehan si tua Trelawney! Dia sudah gila!"
Madeline menggeleng muram, "Bukan professor Trelawney yang meramalkannya, tapi aku."
Sontak, Draco terkesiap.
"Ada penjelasan kuat mengapa aku mendapat Exceeds Expectations untuk Ramalan dan kenapa aku meneruskan ke tingkat NEWT, Draco. Aku sering membuat ramalan yang tepat. Biasanya aku akan senang kalau ramalanku menjadi kenyataan. Tapi kali ini tidak. Bahkan aku tak ingin membahasnya saking takut."
"Katakan saja!" pinta Draco dengan harap cemas. "Aku ingin tahu."
Madeline menatap Draco selama beberapa menit sebelum membuka mulut ragu-ragu, "Akan ada pengorbanan besar, pengkhianatan tak terduga dan kematian seorang penyihir besar."
"Hanya itu?" usik Draco setelah hening sejenak.
"Mau bagaimana lagi. Aku masih dalam tahap belajar."
"Tiga hal itu saja bisa membuatmu paranoid. Padahal kita tidak tahu apakah ramalanmu bisa dipercaya atau tidak," seloroh Draco, berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Aku tahu kau sedang terlibat dalam sebuah misi berbahaya. Kau menanggung semuanya seorang diri tanpa menyadari seberapa besar resikonya. Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Aku takut ramalan ini tentang dirimu!" kata Madeline berang. "Bagaimana kalau ramalan itu terbukti?"
Draco menarik nafas panjang sebelum menjawab, "Kumohon percayalah padaku, Madie! Kau pasti mengerti kenapa aku harus melakukan ini."
"Aku mengerti apa alasanmu. Tapi kau tahu kalau ini semua tidak benar."
"Aku tak punya pilihan lagi, oke?!" bentak Draco frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Tentu kau punya! Kita bisa minta bantuan professor Snape, Dumbledore, para Auror, pihak kementerian atau siapa saja. Asal kau tidak mengambil jalan yang salah seperti ini!"
"Dan membiarkan kedua orangtuaku terbunuh?!"
"Pangeran Kegelapan tidak akan melakukannya. Paman dan bibi tidak akan terbunuh. Mereka berdua pengikut yang setia. Aku yakin Pangeran Kegelapan masih sangat membutuhkan mereka."
Draco menyeringai, "Tidak ada jaminan kalau Dia tidak akan membunuh orang tuaku. Kau tahu bagaimana Dia, kan?"
"Jadi kau tetap akan menjalankan misimu?" tanya Madeline lirih.
Draco mengangguk.
"Kalau begitu, maaf, Draco! Aku tidak mau terlibat dalam urusan berbahaya begini. Sudah cukup ibuku saja yang terbenam ke dalam lembah hitam penuh dosa. Aku tidak ingin mengikuti jejak ibuku," tutur Madeline penuh penyesalan.
"Sejak semula aku tak ingin kau terlibat. Biar aku saja yang menghadapi ini seorang diri. Kau memang seharusnya menjauh dari urusanku. Bahkan aku siap mengambil semua resiko walau harus terusir dari Hogwarts ataupun tewas."
"Tapi jika kau pergi nanti, apakah ini berarti kau tidak akan melindungiku lagi?" tanya Madeline sambil tersenyum getir.
Sekali lagi Draco menarik nafas panjang, "Aku tahu walau jantungmu lemah tapi kau punya kekuatan dalam dirimu. Aku yakin kau bisa melindungi dirimu sendiri, Madie."
"Aku harap begitu."
"Jangan pernah mencari tahu apa rencanaku dengan Legilimensmu!" pinta Draco, dan segera menambahkan saat Madeline terbeliak kaget, "Selain aku sudah mahir Oclumens, ini akan membuatmu tidak terlibat. Oke?"
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Tidak ada," jawab Draco. "Menjauhlah sejauh-jauhnya dariku, berbohonglah kepada semua orang kalau kau tak tahu apapun sejak awal, atau apalah terserah padamu. Aku hanya ingin kau mencari aman. Mengerti?"
Madeline mengangguk, wajahnya yang cantik murung. Draco menepuk pelan kedua pundak Madeline sambil berkata, "Pergilah, Madie! Pertandingan akan segera dimulai. Kau bawa obatmu, kan? Bermainlah sebisamu. Jangan terlalu dipaksakan."
"Baiklah…"
Madeline baru berjalan beberapa langkah ketika Draco memanggilnya.
"Mulai detik ini, kita tidak berhubungan lagi. Kau dilarang mencampuri urusanku, dan aku tidak akan membawa-bawa namamu dalam masalahku. Kita berdua tahu, baik misiku berhasil ataupun gagal, kaulah yang akan pertama ditanyai karena kau adalah sepupuku. Dan pada saat itu, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Madie?"
"Aku akan bungkam. Percayalah, aku akan menyimpan rahasiamu rapat-rapat."
"Jika mereka menggunakan Veritaserum?"
"Kuharap aku masih sempat ber-Apparate sebelum itu terjadi. Dunia Muggle mungkin tidak akan lebih buruk dibanding Azkaban," jawab Madeline pedih.
"Bagus, Madie!" sahut Draco dan berbalik untuk meninggalkan Madeline seorang diri di lorong itu. "Itulah yang kubutuhkan darimu."
