Remake by Esti Kinasih

"STILL..."

Aku mencintaimu, sekarang, mudah-mudahan sampai nanti.

Chanbaek, Hunhan, Kaisoo and other.

Maaf buat reader yang sedikit bingung, soalnya di novel nya juga begitu kok. Jadi prolog itu bukan menceritakan bagaimana ff ini tapi menceritakan tentang asal masalah yang bakal ada di ff ini. Dan makasih buat yang udah review.

BAB I

Amarah itu mematikan hati. Dan melukai. Menutup maaf, dan menciptakan benci.

Sehun tidak bisa memaafkan apa yang telah dilakukan Luhan saat kebut gunung itu. Luhan berdiri diatas batu besar, dan memperlihatkan apa yang menurut Sehun seharusnya hanya jadi miliknya sendiri.

Tapi kalaupun Luhan berpikir itu boleh dan sah saja terjadi-apalagi itu tubuh yeoja itu sendiri- Sehun merasa dirinyalah yang berhak pertama kali melihatnya. Sendiri. Bukannya menyaksikannya bersama-sama kedua sahabatnya, ditambah empat namja lain yang saat itu sangat beruntung memperoleh pencerahan agar melintas di lokasi!

Peristiwa itu benar-benar telah menghantam Sehun. Saat di menyadari, kini matanya tidak bisa lagi menatap Luhan dengan cara yang sama seperti sebelumnya . Sehun sadar, ternyata Luhan sanggup melakukan tindakan-tindakan yang tidak terduga.

Luhan memang manis, keras kepala, smart, dan nekat. Hal-hal yang membuat Sehun tertarik. Namun ternyata ada yang luput dari penglihatan Sehun dan baru terbuka belakangan ini.

Yeoja itu tangguh!

Sehun tidak bisa lagi memeluknya tanpa merasa ada sepuluh jari berkuku yang siap mencakarnya. Tidak bisa lagi menatapnya tanpa mengabaikan setiap saat yeoja itu bisa berubah menjadi lawannya. Dan itu membuat Sehun tanpa sadar jadi bersikap waspada setiap kali Luhan bersamanya.

Kemarahan Sehun makin memuncak saat mendapati bagaimana sorot mata Chanyeol dan Kai setiap kali memandang Luhan. Meskipun keduanya terlihat wajar, Sehun tahu pasti apa yang sedang berputar dalam tempurung kepala mereka masing-masing.

Luhan yang berdiri tegak di atas batu besar. Angkuh dan menantang. Dan... transparan.

"Sialan" Sehun mendera geram. Kembali dadanya bergolak hebat. Selalu, setiap kali peristiwa itu teringat.

"Sialan" Sehun mendesis lagi. Kali ini ditutupnya ke dua matanya perlahan. Sebesar apapun kemarahan ini, dirinya tetap merasa tak berdaya. Bukan karena status Chanyeol dan Kai yang notabane adalah sahabatnya, tapi karena dirinya sadar, sekalipun mata-mata itu di buatnya buta, tetap tidak akan bisa menghapus apa yang terlanjur terekam di dalam kepala, apalagi menghentikan imajinasi gila.

"SIALAN! SIALAN! SIALAN!" Sehun berteriak keras. Diraihnya setumpuk buku dari atas meja, lalu sekuat tenaga dilemparnya ke dinding. Buku-buku itu membentur dinding dengan keras dan berjatuhan ke lantai dengan bunyi berdebam. Diiringi teriakan Sehun yang menggelegar.

"ARRRRGGGGH"

...

Perang itu berlanjut. Namun hanya Luhan yang benar-benar bisa merasakan derapnya. Bergemuruh di bawah permukaan yang terlihat tenang. Dia bisa menangkap rasa asing itu. Ada yang salah. Yang tidak terbaca. Tidak terpahami. Karenanya dia ciptakan permainan. Berharap akhirnya akan tahu dan mengerti.

Dan Sehun mengikuti permainan itu. Permainan yang di ciptakan Luhan. Babak demi babak. Dengan "api" yang ditekan jauh-jauh di dalam dada. Jauh-jauh dan kuat-kuat.

Marah, sedih, kaget, dan sakit!

Tundukan yeoja itu sekarang, kemudian...lepaskan.

...

Luhan tidak mau bertele-tele. Dia tahu, cara untuk secepatnya mengetahui apa rasa asing yang dia rasakan terhadap Sehun adalah dengan cara membuat namja itu marah. Kemarahan akan mengeluarkan semua yang tersimpan rapat di dalam hati, bahkan pikiran.

Dan cara yang di lakukan Luhan cukup kelewatan, kalau tidak mau di bilang merendahkan. Dia jadikan Sehun petugas delivery order. Untuk apa saja. Pizza, fried chiken, dubboki, Ramen, majalah, tabloid, bahkan pembalut.

Beberapa kali Luhan bahkan sengaja memesan suatu dari lokal yang jauh dari posisi Sehun pada saat namja itu menelponnya, atau pada saat dia mengontak namja itu. Semakin kelewatan permintaannya, akan semakin kenes dan manja cara Luhan mengutarakannya. Luhan tahu pasti, memang itu cara yang harus dilakukan kalau mau keinginannya dipenuhi.

Kalau kebetulan Baekhyun dan Kyungsoo main keruamh Luhan saat malam minggu, dan Sehun juga datang bersama Chanyeol dan Kai, kedua sobatnya itu akan menjadi saksi penghinaan yang sedang di alami Sehun.

Sehun yang berdiri diam, menunggu Okonomiyaki pesana Luhan selesai dibuatkan. Sehun dengan tabloid gosip di tangan. Sehun menggabungkan diri di dalam antrian panjang sebuah konter donat. Sehun berdiri kebungungan di depan sebuah konter konsmetik, dan banyak kejadian lagi.

Pemandangan itu membuat Chanyeol dan Kai nelangsa. Keduanya bahkan seperti tidak lagi mengenali Sehun. Namun Sehun tak ingin dicegah.

"Lo tunggu aja di mobil. Nggak usah ikut turun", kata Sehun saat Chanyeol mengikuti nya.

"Surat pernyataan itu ya, yang udah bikin lo jadi begini? Pasrah di bawah kaki Luhan?" tanya Chanyeol.

"Iya" tandas Sehun, dengan rasa jengkel yang di tekan. "Lo mau salinan tu kertas nyebar di kampus? Bisa hancur reputasi kita."

Sengaja Sehun membiarkan dugaan itu, karena dia sama sekali tidak ingin mengatakan penyebab yang sebenarnya, yaitu ingin sekali dicucinya otak kedua sahabatnya itu. Tidak seluruhnya. Cukup pada bagian yang menyimpan memori saat Luhan memperlihatkan sebagian tubuh atasnya.

"Ada apa sih Lu?" Baekhyun yang juga heran melihat keanehan itu, suatu hari akhirny bertanya .

"Gue ngerasa ada yang aneh sama Sehun." Jawab Luhan.

"Apaan?"

"Itu dia. Gua nggak tau. Makanya gue lagi nyari tahu."

"Sehun kayaknya kesel banget tadi. Cuman nggak dia kasih liat aja."

"Baguslah. Emang itu tujuan gue."

Dan di satu hari minggu, saat Baekhyun dan Kyungsoo berada di rumah Luhan, akhirnya tujuan Luhan tercapai. Permintaannya agar Sehun membelikan satu jenis makanan yang memang jadi favoritnya para yeoja, yaitu rujak (ceritanya di korea ada rujak)-dengan catatan tambahan : mangga mudanya yang buanyakkkkk-akhirnya menghabiskan pertahanan Sehun.

Permintaan itu membuat Sehun harus menahan diri saat ajhuma penjual rujak yang di datanginya menatap dengan sorot mata tajam dan mencela.

"Udah berapa bulan?" tanya si ajhuma sambil meracik sambal.

Sesaat Sehun jadi bingung. "Apanya?" tanyanya bodoh. Dan ketika sadar apa yang dimaksud, di jawabnya juga pertanyaan itu. Kepalang basah.

"Oh, tujuh bulan."

Ibu itu melirik sekilas. Dengan sorot mata yang semakin mencela.

"Sebentar lagi jadi Ayah dong."

Sehun tersenyum datar. "Yaaaa...begitulah."

"Kamu pasti masih sekolah..."

"Betul."

Mendadak ajhuma penjual itu meradang.

"Orang tua susah-susah cari uang, banting tulang siang-malem, Cuma untuk anak-anak yang nggak tau diri. Nggak tau terimakasih. Dasar anak-anak sekarang. Banyak yang durhaka!"

Chanyeol dan Kai yang menunggu di mobil tapi masih bisa mendengar percakapan itu, jadi menghela nafas bersamaan. Mereka kasihan melihat Sehun. Tapi mereka tidak bisa menggantikan posisi Sehun, karena selama ini semua order datang padanya dari Luhan. Tidak pernah dari Baekhyun atau Kyungsoo.

Tak lama Sehun kembali dengan bungkusan rujak di tangannya. Dari raut mukanya terlihat jelas cowok itu marah, juga malu.

"Tau gitu gua nggak beli rujaknya!" makinya.

Dan peristiwa itulah yang membuat pertahanan Sehun akhirnya mencapai klimaks.

Tbc.

Chap 1 update. Nih aku update cepet karena pada bingung di prolog hehehe trus disini aku bakal nampilin masalah satu-satu dulu. Tenang disini tetep main pair Chanbaek kok. Trus yang nanya Kaisoo, sebetulnya mereka ga putus kok. Kemaren ceritanya kayak mancing aja biar Kyungsoo mau ikut rencana nya si Luhan. Okedeh cuap cuapnya.

Gomawo! Ditunggu reviewnya.