Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...
Ck! Dengan malas Sasuke mengambil telepon genggam yang sengaja ia taruh dalam saku celananya. Seorang yang ia kenal menelpon.
Dobe
+818082xxxxxxx
Pip!
"Hnm?" gumamnya menanggapi panggilan tersebut.
"Sasuke? Kau di mana? Aku butuh teman~!" suara rengekkan dari seorang pemuda diseberang sana membuatnya menghela napas berat. Mata onyx-nya tetap fokus pada jalanan. Mobil porsche carrera biru tua melaju mulus di jalan raya yang cukup ramai malam ini.
"Tidak bisa, Dobe. Aku ada acara sekarang." tolaknya.
"Ayolah Teme! Temani aku?! Aku butuh bantuanmu." kelihatannya pemuda yang menelponnya itu benar-benar membutuhkan Sasuke.
"Ck! Baiklah! Tapi nanti setelah aku selesai dengan urusanku!"
"Benar ya?! Telepon aku kalau kau sudah pulang. Aku akan ke apartemenmu nanti! Hehehe!" cengiran khas yang sangat ia kenal terdengar saat Sasuke menerima ajakan pemuda itu.
"Hnm." cepat Sasuke mematikan panggilan pada telepon genggamnya. Ia berdecih kesal. Setiap kali ia akan menolak pasti ujung-ujungnya ia akan menerima ajakan dari pemuda itu juga. Gadis berambut hitam kebiruan yang duduk di sampingnya tersenyum melihat ekspresi Sasuke.
"Kenapa kau tersenyum, Hinata?" tanya Sasuke tanpa menoleh pada gadis itu.
"Ah, ti-tidak Uchiha-san... hanya saja ke-kelihatannya kau sangat dekat dengan seseorang yang tadi meneleponmu." jawab Hinata lembut dengan segaris senyum menghiasi bibir merah mudanya. Hahh~ gadis ini memang tak pernah berbicara kasar atau pun membentak. Ia diciptakan dengan penuh kelembutan. Sepertinya Tuhan terlalu sayang pada makhluk-Nya yang satu ini.
"Hnm..." tanggap Sasuke.
.
.
Sunflower with Lavender
By B Dhii Chu
Disclaimer : Naruto,cs Masashi Kishimoto
Pair : Uzumaki Naruto Hyuuga Hinata Uchiha Sasuke
Rate : T
Genre : Romance, Drama, Friendship, Hurt/comfort, etc.
Song : Ronan Keating – "This I Promise You"
.
.
Sasuke dengan santai menyetir mobilnya. Tangan kanan ia tompangkan pada pintu mobil, sedangkan tangan kirinya tetap fokus memegang setir. Pemuda Uchiha itu terlihat begitu keren dengan blazer terbuka dan celana jeans serba hitam yang ia kenakan, serta sepatu boots yang menutupi jemari kakinya. Jangan lupakan kemeja putih tanpa dasi dengan dua kancing di bagian atasnya terbuka dibalik blazer-nya. Ia sangat sempurna dan tampan. Mata tajam yang menatap lurus ke depan. Tubuh tinggi berisi. Rambut yang di tata rapi bergaya ala emo.
Tak kalah dari Sasuke. Gadis yang tengah duduk pada kursi mobil di sampingnya begitu manis dan anggun. Ia memakai dress tanpa lengan berwarna biru tua selutut yang menempel pada badannya, memperlihatkan lekuk tubuh seorang gadis yang mampu membuat laki-laki mana pun jatuh cinta. Pernak-pernik yang ia kenakan pun cukup simple, rambut panjang berwarna hitam kebiruannya tergerai indah dihiasi jepit rambut berwarna perak berbentuk bunga lavender. High heels bening bak sepatu kaca yang ia kenakan begitu serasi dengan kaki jenjang berkulit putih susunya.
Sasuke tersenyum memperhatikan penampilan gadis Hyuuga di sampingnya yang tengah asik melihat pemandangan di luar kaca mobil. Ia bangga karena pilihannya tepat. Baju itu begitu cocok untuk Hinata. Baju yang sengaja ia beli dan dititipkan pada Karin untuk dipakai Hinata malam ini. Mereka berdua tampak sempurna. Tak pernah Sasuke menyesal telah membawa gadis itu ke Konoha. Saat ini, ia dan seorang gadis di sampingnya sedang dalam perjalanan menuju sebuah rumah makan mewah bergaya klasik.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai pada tempat tujuan. Sasuke memarkir mobilnya. Ia keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Hinata.
"Te-terima kasih Uchiha-san..." kata Hinata pada Sasuke dengan wajah merona. Bagaimana tidak, jika pemuda bak pangeran berkuda putih tersebut membuka pintu sembari mengulurkan tangannya untuk sang gadis! Aroma maskulinnya terasa sekali mengenai indera penciuman Hinata.
"Hnm." balas Sasuke kalem. Hinata keluar dari mobil dan menyambut uluran tangan Sasuke. Mata lavender-nya memandang bangunan mewah yang ada di hadapan mereka. Sepertinya hanya orang yang memiliki banyak uang saja yang mampu berkunjung ke tempat itu. Semua itu dapat Hinata simpulkan karena yang terparkir di halaman restoran tersebut hanyalah mobil-mobil mewah bermerek terkenal dengan harga selangit saja.
"Se-sebenarnya kita ada keperluan apa kemari U-Uchiha-san...?" tanya Hinata yang sampai sekarang masih belum mengerti kenapa Sasuke membawanya ke restoran mewah ini.
"Tentu saja untuk makan malamkan?" Sasuke menjawab Hinata dengan nada bertanya balik. Jelas Hinata tahu jika datang ke sebuah restoran pastilah untuk makan, tetapi maksud dari pertanyaannya bukanlah itu. Hinata menghela napas perlahan. Sasuke memperhatikan wajah gadis Hyuuga di sampingnya. Senyum tipis terlukis sesaat pada bibir pucatnya tanpa sepengetahuan Hinata.
"Ayo." ajak Sasuke sembari memasang pose seolah lengannya meminta untuk digandeng oleh Hinata.
Dengan malu-malu Hinata menggandeng lengan pemuda tampan di sampingnya. Sasuke sendiri memasang wajah cool andalannya. Tangan yang tak digandeng Hinata, ia masukkan ke dalam saku celana. Mereka berdua berjalan berdampingan. Setiap langkah yang mereka ambil membuat makhluk Tuhan yang terlihat begitu serasi itu tampak bagai sepasang model yang tengah berjalan di atas catwalk, menjadikan pusat perhatian hampir seluruh pengunjung restoran tertuju pada mereka.
Dari kejauhan terlihat tiga orang tengah duduk bercengkerama sembari menikmati anggur merah yang tersaji di atas meja. Hinata dan Sasuke menghampiri mereka.
"Oh! Otouto? Kau sudah datang..." salah satu diantara ketiga orang itu bangkit berdiri dan tersenyum ramah, menyambut kedatangan Sasuke dan Hinata. Pemuda dengan dua garis halus pada wajahnya dan rambut panjang dikuncir tersebut bernama lengkap Uchiha Itachi, Kakak Sasuke. Sedangkan dua orang yang lain adalah Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, Ayah dan Ibu Sasuke.
"Hnm." tanggap Sasuke atas sapaan sang Kakak.
Sasuke menarik kursi dan mempersilakan Hinata duduk, lalu ia sendiri duduk diantara Hinata dan Itachi.
Hinata menjadi gugup. 'Sebenarnya kenapa aku dibawa ke sini? Apakah mereka keluarga Sasuke?' tanyanya dalam hati.
"Hei, Otouto. Siapa yang kau bawa ini? Tidakkah kau ingin memperkenalkannya pada kami?" tanya Itachi pada sang adik yang baru saja selesai memesan makanan. Ibu Sasuke mengangguk menyetujui pertanyaan putra sulungnya. Senyum ramah tak pernah lepas dari wajah Itachi dan sang ibu.
"Namanya Hyuuga Hinata. Dia model baruku." jawab Sasuke datar.
"Ha-hallo..." Hinata menundukkan kepalanya sejenak untuk memberi salam.
"Wah, wah... kau beruntung sekali. Gadis ini begitu cantik." puji Itachi dengan segaris senyum ramahnya. Sasuke tak menanggapi karena ia tahu anikinya itu orang yang cerewet sejak lahir (?) dan suka sekali menggoda dirinya.
"Aku Uchiha Itachi, kakak Sasuke. Salam kenal." Itachi bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hinata. Gadis itu ikut berdiri dan menyambut uluran tangan Itachi.
Itachi sengaja melakukan itu di depan Sasuke, sempat ia menyenggol wajah sang adik ketika mengulurkan tangannya pada Hinata, lalu dengan enteng Itachi berkata, "Makanya Otouto,kau jangan duduk di situ."
Tiba-tiba muncul kedutan pada pelipis Sasuke. Itachi tersenyum mengejek saat menyaksikan ekspresi sang adik, sedangkan Hinata yang melihat itu dengan sedikit ragu segera menjawab salam perkenalan Itachi agar ia dapat secepatnya kembali duduk.
"Sa-salam kenal, Uchiha-san... sa-saya Hyuuga Hinata." Hinata sedikit membungkuk untuk memberi salam.
Itachi dan Hinata duduk kembali. Seorang pelayan datang dengan membawa kereta dorong. Di atasnya telah tersaji lima porsi steak dan dua gelas anggur merah. Setelah menaruhnya di atas meja keluarga Uchiha, pelayan itu mempersilakan untuk menikmati hidangan yang telah tersaji dan berlalu pergi.
"Ehem!" sang kepala keluarga berdehem, membuat perhatian semua yang akan menyantap hidangan tertuju padanya. "Sasuke, apakah dia yang menjadi model produk baru perusahaan?" tanyanya.
"Iya." Sasuke menjawab sekenanya, lalu mengambil segelas anggur merah untuk diteguk.
"Pilihan yang bagus. Dia membuat tingkat penjualan atas produk itu naik pesat..." sebelum meneruskan perkataannya Fugaku menyeruput anggur merahnya. "...apakah dia juga calonmu?" tanyanya tiba-tiba, membuat Itachi tersedak minumannya.
Sasuke sendiri sebenarnya juga ikut tersedak, tapi ia segera meneguk minumannya susah payah. Beruntung Hinata tidak sedang memakan atau meminum apapun, namun rona kemerahan semakin nampak pada wajah cantiknya karena mendengar perkataan ayah Sasuke barusan. Perhatian Hinata teralih pada Uchiha Mikoto yang tersenyum melihatnya.
"Ibu sangat setuju jika kau menjadi calon Sasuke." ucap Mikoto pada Hinata yang wajahnya telah semerah tomat kesukaan Sasuke.
"A-ano... Saya-" belum sempat Hinata berbicara, Sasuke telah memotong ucapannya.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa..." bantah Sasuke dengan tanpa ekspresi sembari meneguk kembali minumannya.
Hinata cukup lega dengan pernyataan Sasuke. Walau bagaimanapun di hatinya sudah ada yang mengisi. Ia baru saja akan menghela napas dan meminum anggur merahnya ketika Sasuke kembali melanjutkan ucapannya.
"...untuk saat ini. Mungkin nanti kami bisa berubah pikiran." tambah Sasuke yang kembali menyeruput minumannya. Kini yang tersedak adalah Hinata dan Itachi!
"Sa-saya...!" lagi-lagi belum sempat Hinata berbicara, Itachi memotong pembicaraannya.
"Tapi Otouto! Bukannya kau GAY?!" serunya sembari bangkit berdiri dan menggebrak meja melupakan bahwa dia adalah seorang Uchiha yang penuh wibawa dan ketenangan. Semua mata tertuju pada Itachi.
.Twitch.
"Uhuk! Uhuk!"
Yak! Kerja bagus Itachi! Kau berhasil membuat Ayah dan Ibumu tersedak steak yang baru saja mereka telan. Fugaku cepat-cepat menyeruput minumannya.
"I-Itachi?! A-apa itu benar?" tanya sang ibu dengan susah payah menelan steak yang baru saja tersangkut pada tenggorokannya.
Belum sempat Itachi menjawab, Sasuke telah melempar death glare andalannya pada Itachi. Dan dengan kalem Sasuke menginjak kaki sang kakak.
Krekk!
Tidak hanya menginjak dia juga memutar telapak kakinya yang terbungkus boots hitam di atas kaki aniki-nya yang cerewet itu. Bayangkan saja ekspresi wajah Itachi saat ini. Bayangkan! Bayangkan! Sangat luar biasa! Ckckck, Author saja sampai menangis karena menahan tawa, hahaha...
"Hehe... aku hanya bercanda." ujar Itachi usai menerima 'hadiah' serta death glare dari sang adik pada kedua orang tuanya dan Hinata. Ia lalu duduk kembali dan berdehem pelan untuk mengembalikan ekspresinya menjadi seorang Uchiha yang sesungguhnya.
Hinata sendiri dengan polos memandang wajah Sasuke yang kini sibuk memotong steak di hadapannya dengan sedikit kesal. 'Apa benar dia Gay?' batin gadis itu bersamaan dengan Mikoto yang menatap khawatir pada Sasuke.
Keluarga Uchiha kembali menikmati makan malam mereka dengan tenang tanpa ada yang tersedak lagi. Itachi menyantap steak-nya sambil sesekali tersenyum ramah dan mengajak Hinata berbicara. Uchiha Mikoto ikut tersenyum menyaksikan kepolosan Hinata saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari putra sulungnya tersebut, sedangkan Uchiha Fugaku lebih banyak diam dan menikmati makanannya.
Sejujurnya Sasuke ingin sekali menonjok wajah Aniki-nya saat itu juga, karena pertanyaan yang ia lontarkan pada Hinata adalah seputar hubungan Sasuke dengan Hinata, dan tentu tentang Sasuke yang hombreng! Sasuke sedikit bersyukur karena ayah dan ibunya tak terlalu menanggapi ucapan Itachi mengenai orientasi seksualnya.
Itachi dapat menyimpulkan adiknya itu seorang homoseksual karena ia sering melihat Sasuke pergi bersama dengan pemuda pirang yang ia tahu adalah seorang penyanyi terkenal, dibandingkan pergi bersama seorang gadis seperti saat ini. Selain itu, ekspresi Sasuke ketika bersama pemuda pirang tersebut tampak berbeda dari biasanya, ia jadi lebih banyak tersenyum bahkan marah-marah tak jelas dengan berbagai macam ekspresi. Itachi semakin yakin ketika ia tak sengaja melihat Sasuke masuk ke sebuah apartemen yang merupakan apartemen dari pemuda pirang itu. Lama Itachi menunggu, namun sang Adik tak muncul juga dan akhirnya ia menyimpulkan Sasuke pasti menginap di apartemen tersebut. Semenjak saat itu, Itachi selalu menggoda sang adik setiap kali mereka bertemu di kediaman orang tua mereka atau saat makan malam keluarga seperti saat ini.
"Hei, Otouto. Jadi, kau benar-benar normal sekarang?" tanya Itachi dengan senyum mengejek pada Sasuke yang sedari tadi berusaha keras menahan kekesalannya.
"..."
"Kenapa tak menjawab? Kau takut Hyuuga-san akan menolakmu ya?" lagi. Itachi sungguh cerewet di mata Sasuke. Perlahan Sasuke menghembuskan napasnya untuk meredam amarah yang kian meluap hampir tak terkendali.
"Bisakah kau tak mencampuri urusanku." kata Sasuke sembari melempar death glare andalannya tanpa menghiraukan pertanyaan dari sang Kakak. Itachi yang diberi jawaban seperti itu tersenyum tipis.
"Tentu itu menjadi urusanku, Otouto. Kau adik kecil yang tak peka rupanya." tanggap Itachi.
"Apa maksudmu?"
"Aku ini kakakmu, adikku sayang. Tentu aku akan khawatir terhadap orientasi seksual adikku." jawab Itachi dengan tatapan yang menyebalkan bagi Sasuke. Perang dingin pun dimulai. Fugaku tak terlalu menghiraukan karena hal ini sering terjadi tiap kali mereka makan malam bersama. Ia lebih memilih pergi sebentar untuk mengangkat telepon dari rekan bisnisnya.
"Jaga bicaramu Uchiha Itachi." desis Sasuke.
"Aku yang seharusnya bicara begitu, Otouto. Aku ini kakakmu. Tak pantas rasanya kau menyebut namaku seperti itu." senyum tipis namun sinis masih saja bertengger pada bibir Itachi.
Hinata yang mendengarkan percakapan kakak-adik itu hanya terdiam. 'Apa cara mereka menunjukkan keakraban mereka dengan berbicara seperti itu? Aku merasa seperti sedang berada di kutub sekarang. Dingin sekali.' pikir Hinata. Uchiha Mikoto memperhatikan wajah Hinata yang tampak bingung dengan obrolan Sasuke dengan sang kakak.
"Hinata-chan." panggil Mikoto. Hinata menoleh ke arahnya. Sasuke dan Itachi juga melihat ke arah sang Ibu. "Bukankah kedua anakku ini terlihat 'manis'?" tanyanya. Sasuke dan Itachi mengerutkan kening dan berkata dalam hati secara bersamaan, 'Aku benci disebut manis, Ibu!'.
Hinata yang bingung pun memberanikan diri menjawab pertanyaan Mikoto dengan suara lembut dan senyum manisnya, "I-iya... aku rasa mereka tampak manis. Dan keakraban yang mereka miliki cukup unik..."
Mikoto tersenyum puas. Sasuke sungguh merasa ingin muntah sekarang. 'Akrab, heh?! Akrab dari Hongkong!' pekiknya dalam hati. Sedangkan Itachi kebalikan dari Sasuke, ia tersenyum ramah penuh arti pada Hinata dan berkata, "Tentu saja kami akrab. Adik kecilku itu sangat berarti bagiku..." Itachi menunjuk Sasuke yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, mual mendengar kata-kata Itachi.
.
.
.
Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...
Telepon genggam Sasuke kembali bergetar. Nama yang sama dengan penelpon sebelumnya tertera pada layar.
Dobe
+818082xxxxxxx
Pip!
"Kau di mana? Apa masih lama?!" belum sempat Sasuke menjawab pemuda yang menelponnya tersebut langsung bertanya.
"Aku baru selesai, Dobe. Sebentar lagi aku sampai di apartemenmu." jawab Sasuke malas. Ia masih kesal dengan apa yang dilakukan Itachi saat makan malam tadi.
"He? Kenapa kau yang ke apartemenku?"
"Sekalian mengantar teman. Ia tinggal dekat apartemenmu."
"Oh! Kalau begitu aku tunggu ya?! Sampai ketemu."
"Hnm."
Sasuke mematikan panggilan pada handphone-nya. Ia kembali fokus menyetir. Gadis di sampingnya tampak sedikit mengantuk. Wajar saja, sekarang telah pukul 22.15 dan jadwalnya begitu padat sejak pagi tadi. Sasuke meliriknya. Tiba-tiba Sasuke menghentikan laju mobil di pinggir jalan yang cukup sepi. Hinata tersentak kaget dan menjadi gugup.
"U-Uchiha-san... ke-kenapa kita berhenti di sini?" tanyanya sembari melihat ke luar kaca mobil. Baru ia sadari Sasuke yang tengah melepas blazer-nya, setelah ia menengok ke arah Pemuda itu.
"A-ano... Ja-jangan-" Hinata baru saja akan memprotes kelakuan Sasuke sampai ia merasa hangat karena ternyata blazer tersebut sengaja Sasuke lepas untuk menyelimutinya. Tanpa banyak bicara Sasuke kembali menyalakan mesin mobil dan melaju di jalan raya yang mulai sepi.
"Arigatou..." ucap Hinata lirih. Ia tertunduk dengan wajah merona, tak menyangka Sasuke akan melakukan itu. Aroma maskulin pemuda di sampingnya semakin terasa karena blazer pemuda tersebut kini telah menyelimuti tubuh mungil Hinata. Segera ia menarik blazer hitam Sasuke untuk menutupi wajah malunya.
.
.
"Jadi?" tanya seorang pemuda pada temannya yang sejujurnya tak benar-benar ia anggap teman dihadapannya.
"Ayolah Teme! Aku membutuhkan seorang gadis untuk video klip laguku. Aku tahu kalau kau pasti bisa membantuku. Hehehe!" jawab pemuda berambut pirang yang tengah merajuk pada Sasuke.
Sasuke hanya menghela napas berat. Ia melepas blazer yang ia pakai dan mengeluarkan kemeja yang sedari tadi rapi. Jemarinya bergerak untuk melepas kancing pada kemejanya satu persatu, lalu melenggang pergi meninggalkan pemuda pirang itu menuju sebuah pintu di sisi lain ruangan.
"Hei! Kenapa kau malah pergi Teme?!"
"Ck! Aku ingin mandi dulu Dobe!"
BLAM! Pintu ditutup. Naruto menggerutu kesal melihat tingkah Sasuke yang tak menghiraukan permintaannya. Tak berapa lama pintu kamar yang terletak di samping pintu kamar Naruto itu terbuka kembali.
"Di mana kau menaruh pakaianku kemarin?"
"Huh, di lemari. Apa kau tidak melihatnya TUAN." Naruto menekankan ucapannya pada kata TUAN, karena jika pemuda Uchiha itu ada di apartemennya ia selalu bertingkah layaknya tuan rumah. Tak peduli jika tuan rumah yang sebenarnya, tengah cemberut atau menatapnya sinis. Sasuke menutup pintu kamarnya.
Yahh, kamar berdaun pintu berwarna biru tua itu sudah seperti kamar Sasuke sendiri sejak ia sering menginap di apartemen Naruto. Bahkan ia mendekorasinya sesuai keinginannya. Hal ini juga sempat membuat kekasih sang empunya apartemen, terus-menerus cemburu pada Sasuke, siapa lagi kalau bukan Sakura? gadis yang over protective terhadap Naruto.
Naruto sendiri malah terkekeh geli ketika memperhatikan kedua daun pintu yang tak jauh dari tempatnya duduk itu. Pintu kamar Naruto berwarna soft orange, yang didalamnya juga dominan dengan warna-warna itu karena ia adalah penggemar berat warna orange. Sedangkan pintu kamar yang sering ditempati Sasuke berwarna hard blue dan dekorasi kamarnya pun dominan dengan warna biru.
Pemuda bermarga Uzumaki itu masih ingat betul ketika Sasuke menemaninya membeli apartemen ini dulu. Naruto sengaja membeli apartemen dengan dua kamar karena ia pikir kalau-kalau ada teman yang akan menginap di apartemennya. Tanpa Sasuke sadari bahwa teman yang dimaksud adalah dirinya. Seiring berjalannya waktu dan kedekatan mereka karena urusan pekerjaan dan lain sebagainya, Sasuke menjadi sering sekali menginap di apartemen Naruto. Pakaiannya pun tertata rapi pada lemari pakaian yang ada dalam kamar. Ia sendiri mulai berpikir untuk mendekorasinya dan melarang siapapun kecuali dia dan Naruto yang boleh masuk ke kamar tersebut.
Naruto tertawa seorang diri saat mengingat itu semua. Hahh~ ... ia menghela napas lega. Pikirannya kembali terfokus pada lembaran kertas yang berhamburan di atas meja. Kertas-kertas tersebut berisi lirik lagu barunya dan konsep video klip yang akan ia buat. Tak berapa lama Sasuke keluar dari dalam kamar dengan mengenakan kaos oblong berwarna putih polos dan celana pendek biru tua. Rambutnya yang basah ia gosok-gosok dengan handuk kecil yang disampirkan pada pundaknya.
"Apa kau punya seseorang yang cocok untuk menjadi pemeran perempuannya Sasuke?" tanya Naruto. Sasuke tampak sedang berpikir. Ia melirik ke arah Naruto yang terus menatap penuh harap padanya.
"Bisakah kau buatkan jus tomat untukku?" tanya Sasuke datar. Kepala Naruto berkedut seketika. Aura gelap menguar dari dalam tubuhnya. Sasuke tetap tenang dan memperbaiki posisinya. Berbaring di atas sofa dan menaruh ujung kakinya di pangkuan Naruto.
"Kalau kau tak mau, aku juga tidak akan mau mencarikan model yang cocok untuk video klipmu." seringaian licik terpatri pada wajah tampan Sasuke. Naruto yang tengah menahan amarahnya berusaha keras untuk menenangkan diri dengan menghela napas berulang kali.
"Iya. Iya! Aku akan membuatnya. Kau baca ini baik-baik! Itu konsep video klipku!"
Naruto melenggang pergi ke dapur setelah melempar lembaran kertas ke pangkuan Sasuke. Dengan seksama iris mata hitam sekelam malam itu membaca tiap kalimat yang tertera pada kertas-kertas tersebut. Ia lalu mengambil gagang telepon di atas meja kecil samping sofa dan mulai menekan beberapa nomor untuk menelepon seseorang.
.
Sementara itu, di dalam sebuah kamar apartemen yang dominan dengan warna lavender, seorang gadis tengah tertidur pulas diselimuti oleh kain tebal yang begitu lembut menyentuh kulit putih mulusnya. Baru sekitar satu jam ia tertidur, setelah tadi menemani seorang pemuda makan malam bersama keluarga Uchiha. Tidurnya begitu nyenyak sampai suara telepon membangunkannya. Lama ia tak mengangkat dan berharap telepon itu segera mati dengan sendirinya, tetapi rupanya si penelepon cukup keras kepala. Gadis berambut hitam kebiruan itu sedikit menggeliat untuk meregangkan sendi-sendinya.
Tlililit. Tlililit. Tlililit.
Jemari mungil nan lentiknya menggapai-gapai handphone yang sengaja ia taruh di atas meja samping tempat tidur.
"Ha-halo..." ucapnya pelan, setengah mengantuk dengan mata yang terpejam.
"Apa kau sudah tidur?" tanya seseorang di seberang sana. Gadis itu segera membuka matanya lebar-lebar. Memperlihatkan iris lavender-nya yang tampak menawan. Ia cukup terkejut saat menyadari siapa yang menghubunginya.
"U-uchiha-san? ... go-gomen ne, aku tadi sedang ti-tidur makanya lama mengangkat telepon darimu." jelasnya, tentu saja dengan nada suara yang tetap lembut.
"Tidak apa-apa. Aku ingin memberimu tawaran pekerjaan yang baru." kata Sasuke menanggapi ucapan Hinata tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hinata menghela napas. Tentu saja pemuda itu tak akan mungkin meminta maaf hanya karena telah membangunkannya tengah malam untuk urusan pekerjaan. Sasuke itu orang yang egois, keras kepala, acuh terhadap hal-hal yang menurutnya tidak penting, dan sebanyak apapun kau bicara dia akan membalas dengan kata favoritnya "Hnm". Jangan lupa, dia juga termasuk orang yang gila kerja! Ini adalah penilaian yang dapat diambil oleh Hinata selama mengenal seorang Uchiha Sasuke.
"Ba-baiklah... kalau boleh aku tahu, pe-pekerjaan apa Uchiha-san?" tanya Hinata tanpa mengurangi kelembutan pada setiap tutur katanya.
"Kau a-"
Samar-samar terdengar suara seseorang memotong pembicaraan Sasuke. Hinata mempertajam pendengarannya. Tentu saja ia tak mampu mendengarnya karena orang itu kelihatannya berada cukup jauh dari Sasuke.
.
"Teme! Pakai gula tidak?!" teriak Naruto dari arah dapur pada Sasuke yang kelihatannya sedang asik menelepon seseorang.
"Berikan gula tanpa kalori sedikit saja Dobe." balas Sasuke. Ia menutup telepon dengan telapak tangannya agar pembicaraan mereka tak terlalu didengar oleh orang yang sedang ia hubungi.
"Halo?" Sasuke kembali menempelkan gagang telepon pada telinganya.
"Iya?" seorang gadis di seberang sana segera menjawabnya.
Sasuke tersenyum. "Kau akan tahu saat aku membawamu ke lokasi tempatmu bekerja." katanya datar.
"Oh, begitu... a-ano, Uchiha-san... apa kau se-sedang bersama seseorang?" dari suaranya Sasuke dapat menangkap keraguan pada pertanyaan gadis itu.
"Hnm." jawab Sasuke singkat. "Tidurlah, pekerjaan sudah menanti kita besok..." tambahnya dengan kalem.
Lama gadis itu tak menjawab. Sasuke sendiri belum berniat menutup teleponnya. Entah kenapa ia selalu merasa nyaman saat mengobrol dengan gadis tak banyak bicara seperti Hinata.
"Ng, ka-kalau begitu se-selamat malam... Uchiha-san..." akhirnya suara Hinata terdengar juga. Sasuke merasa lega mendengar suara penuh kelembutan itu. Ia ingin membalas ucapan gadis tersebut, tidak dengan kata "Hnm" favoritnya seperti biasa.
"Selamat malam... Hyuuga Hinata." katanya lirih dengan mata terpejam, tubuhnya yang terbaring di atas sofa terasa begitu rileks sekarang. Segaris senyum tipis tersungging pada bibirnya. Tak berapa lama telepon ditutup. Sasuke meletakkan gagang telepon berwarna orange itu pada tempatnya.
"Yare, yare~... sepertinya ada yang sedang kasmaran di sini?! Siapa gadis itu 'Suke?" suara cempreng Naruto tiba-tiba terdengar. Ia muncul dari dapur membawa dua gelas jus di atas nampan. Jus Jeruk dan Jus Tomat, minuman favoritnya dan Sasuke tentunya.
Sasuke mendengus kesal dan mengambil jusnya dari nampan Naruto.
"Aku sudah mendapat modelnya Dobe." ucapnya seraya menyeruput minuman berwarna kemerahan dalam gelas bening yang bisa dikatakan cukup besar itu, lalu meletakkannya kembali di atas nampan yang di taruh Naruto di atas meja.
"Oh, benarkah?! Siapa Teme?" iris mata biru langit pemuda pirang itu nampak berbinar-binar.
"Kau tak perlu tahu."
"He?! Kenapa begitu Teme!"
"Kapan kau akan mulai pembuatan video klipnya?" tanya Sasuke kembali membaca konsep video klip yang direncanakan Naruto.
"Hmm, kalau bisa secepatnya... Aku inginnya besok. Lokasinya sudah kutentukan jauh-jauh hari. Hanya kurang modelnya saja." Naruto mengambil gitar yang ia taruh di atas meja. Mulai memetiknya pelan. Sepertinya Naruto akan mulai menyanyikan lirik yang ia tulis pada kertas-kertas itu. Sasuke terus memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Permainan gitar Naruto begitu indah didengar. Diam-diam Sasuke sebenarnya adalah penggemar lagu-lagu yang diciptakan oleh Naruto, tapi hal tersebut tak akan pernah ia akui seumur hidup pada pemuda pirang tersebut. Sasuke merasa setiap lirik yang Naruto tulis begitu ia hayati. Dan semua yang tersirat dalam butir kata dalam lirik tersebut nampak mencerminkan perasaan Naruto terhadap seseorang. Perasaan yang mendalam...
Jreng... jreng. Jreng...
...My love... here, I stand before you...
I am yours now... from this mome-
"Aku mau tidur." suara Sasuke menginterupsi nyanyian Naruto. Dia menghabiskan jus tomatnya lalu bangkit berdiri. "Kau juga harus tidur Dobe. Besok kita mulai pembuatan videonya."
"Be-benarkah?! Apa kau yakin Teme? Hahaha... akhirnya!" seru Naruto senang. Senyum lima jarinya mengembang. "Thanks Sasuke!" secepat kilat ia memeluk Sasuke. Pemuda itu langsung terjengkal dan ambruk di atas sofa, tertindih badan Naruto.
"Ck! Dobe! Lepaskan!" Sasuke meronta-ronta. Mendorong pemuda pirang itu agar melepas pelukannya. Naruto tertawa dan mulai menjahili Sasuke dengan menggelitik pinggang pemuda itu. Susah payah Sasuke menahan untuk tidak tertawa sampai wajahnya memerah. Saat ada kesempatan Sasuke segera melompat dari sofa dan berlari menuju pintu kamarnya. Sempat ia berteriak sebelum menutup pintu kamarnya.
"BAKA DOBE!"
Blam!
Naruto sendiri malah cengengesan karena ia berhasil membuat wajah tanpa ekspresi itu ternoda oleh semburat-semburat kemerahan. Ia beranjak menuju pintu kamarnya di samping kamar Sasuke.
Sasuke terkekeh pelan dibalik pintu berwarna hard blue yang ia jadikan sandaran bagi tubuhnya. Meski ia tak pernah mengakui Naruto sebagai teman dari mulutnya sendiri, hatinya selalu mengingatkan bahwa pemuda tersebut lebih dari seorang teman. Naruto adalah sahabat pertama bagi Sasuke yang anti sosial. Hanya Naruto seorang yang berani dekat dengannya, makanya ia berharga.
Sasuke akan menjadi out of characther hanya pada saat bersama pemuda itu. Bertingkah manja seperti tadi, meminta Naruto membuatkan jus untuknya. Menginap di apartemen Naruto tanpa rasa tak tenang karena ia selalu merasa nyaman berada di situ. Dan yang pasti, ia tak pernah menolak permintaan Naruto padanya. Bahkan semburat kemerahan akan menghiasi wajah tampannya kala Naruto tengah menjahili dirinya.
Deg!
Sasuke terdiam. "Bukankah bersama Hinata juga..." gumamnya seorang diri. Ia berjalan dan duduk di pinggir tempat tidur. Bayang-bayang gadis beriris lavender yang beberapa jam lalu bersamanya, berputar kembali dalam ingatan Sasuke.
Senyumnya...
Rona wajahnya yang selalu membuatnya tampak manis dan menggemaskan...
Tutur katanya yang lembut...
Sentuhan halus tangannya ketika ia menyambut uluran tangan Sasuke...
Dan jelas, gadis itu begitu cantik... anggun... tak banyak bicara, dan kelembutan tak pernah lepas dari dirinya.
Hinata bagai replika Uchiha Mikoto, Ibu Sasuke. Ibu yang anggun, ramah pada siapapun, dan penuh kelembutan. Seorang yang Sasuke jadikan standar atau lebih tepatnya kriteria untuk pasangan hidupnya kelak.
Sasuke terpaku. Detak jantung perlahan melebihi normal. Wajahnya yang memanas langsung ia tutupi dengan salah satu tangannya.
"Apakah mungkin aku..." Sasuke tak meneruskan kata-katanya ia lebih memilih menggeleng pelan, karena apa yang akan ia ucapkan sangat jauh dari karakter seorang Uchiha. 'Cinta', satu kata itu sejak dulu sangat tabu untuk ia keluarkan dari bibirnya karena ia sangat menyadari bahwa dirinya adalah seorang Uchiha!
Uchiha tak boleh menunjukkan perasaan, emosi, serta ekspresinya dalam keadaan apa pun, dan tentunya untuk mengucapkan apa yang sedang ia rasakan pun menjadi tabu dalam keluarganya. Uchiha tak butuh kata-kata panjang, tapi tindakan itulah yang terpenting. Mereka sangat menganut motto, "Talk less do more". Sasuke sangat memegang prinsip itu sama dengan sang Ayah, Uchiha Fugaku. Berbeda dengan Ibu dan kakak laki-lakinya, meski mereka orang yang penuh ketenangan dan wibawa, mereka tetap dapat tersenyum ramah dan berbicara basa-basi pada siapapun. Seolah menutup mata pada prinsip keluarga.
"Cukup." gumam Sasuke untuk menghentikan lamunannya sendiri. Ia menghela napas dan menarik selimut tebal biru tuanya. Berbaring dan menatap langit-langit dalam cahaya remang-remang kamar yang tengah ia tempati. Perlahan ia memejamkan mata untuk menghilangkan pemikiran mengenai Hyuuga Hinata, gadis yang secara perlahan merasuk dalam kehidupan seorang Uchiha Sasuke. Merubah perasaan dingin yang ada dalam hatinya menjadi hangat seketika...
Senyum tipis tersungging pada bibir Sasuke yang telah memejamkan mata.
"Kau benar-benar akan menjadi milikku, Hyuuga Hinata." ucapnya lirih tanpa melepas senyum pada bibirnya.
.
.
Dibalik pintu orange samping kamar Sasuke, Naruto memandang layar laptop mini kesayangannya. Mata biru bak langit musim panas terlihat berkabut tertutup awan mendung yang siap meneteskan air hujan. Pemuda yang biasanya selalu ceria, kini di wajahnya tersirat penyesalan, kesedihan, dan kerinduan yang mendalam.
"Kau dimana...?" tanya entah pada siapa. Tangannya mengusap lembut foto seorang gadis yang memenuhi layar laptop mini berwarna orange di hadapannya.
"Aku tahu kau ada di kota ini..." gumamnya lirih. "Suatu saat aku yakin sang waktu akan kembali mempertemukan kita. Pada saat hari itu tiba, kumohon jangan pernah kau mencoba untuk membuatku kembali padamu... karena sekali kau melakukan itu, aku tak akan pernah bisa melepaskanmu lagi, Hinata..."
Naruto memejamkan mata. Tangan kanannya refleks menutupi wajahnya yang kini dibasahi oleh air hujan dari awan mendung dalam iris biru miliknya.
'Sampai kapanpun cintaku hanya untukmu, Hinata...'
.
.
.
TO BE CONTINUE...
Trims, minna-san!
Chapter 2-nya cukup sampai di sini dulu. Bagaimana? Bagaimana? Membosankan ya? Tak ada yang menarik? Terlalu bertele-tele? Tokoh OOC? TYPO di sana-sini? Atau cerita ini membingungkan?
Ceritakan pada daku yak dalam kotak lipiuw yang imut-imut di bawah^^!
Daku siap menampung keluh-kesah para readers, karena ini akan sangat berguna untuk chapter ke-3^^...
Jangan ragu untuk mengungkapkan ide-ide yang ada dipikiran readers sekalian...
Sekali lagi Trims beratttt yaaaaakkkkkkkkk~!
.
With luph,
B Dhii Chu
.
OBSI – Obrolan Singkat
To : Amanojaku Miyanoshita
Trims ya lipiuwnya^^
Ditunggu lipiuw darimu untuk chapie 2 ini^^
.
To : Azzaqiyy
Hehehe, semoga cepat dapat yang se-tipe Hinata-chan ya^^
Trims lipiuwnyaaa~!
.
To : Lavender Sun
Eummm~ taman bunga lavender ya... ::pose mikir::
Yosh! Daku rasa ide Anda boleh juga, hehe^^
Bisa dipikirkan untuk chapie selanjutnya ya...
Makasih lipiuwnya^^
.
To : Anggra1299
Arigatou, Anggra-san... ::bungkuk hormat::
Yahh, gimana ya, memang bertele-tele sih..
Soalnya Daku tujuannya membuat fic ini tidak beralur terlalu cepat tetapi juga tidak lambat...
Hanya mencoba untuk membuat penasaran saja, haha~! ::sweatdrop sendiri::
Hinata-chan memang kasian sih ya selalu menanti Naruto-kun, tapi mau bagaimana lagi cinta sejati memang tak mudah untuk didapat begitu saja! ::nglantur lagi!::
Ckckck, ya sudah selamat membaca saja yaaa~ ^^
.
To : Algojo
Sejujurnya Daku juga jijay ma scene NaruSaku di sini, habis Sakura ganjen bangettt T_T
Wkwkwk~!
Makasih banyak ya lipiuwnya^^
.
To : Neko
Gomen Neko-chan...
Adegan NaruSaku cukup sebatas Saku yang agresif saja kok.
Naru-chan mana mau sama cewek kayak gitu, haha!
Ini sudah di update lho, ditunggu lipiuwnya ya^^
.
To : NameYoonHae
Siapppp~! Sudah di post untuk chapter 2,
Mongggoooo di baca yaaa~ ^^
Jangan lupa tinggalkan pesan Anda pada kotak lipiuw^^
