How to Say 'Thank You For Loving Me'
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by C.M.A
KEESOKAN HARINYA
LAPANGAN SEPAK BOLA
Naruto menatap nyalang gawang di depannya lantas menendang bola di kakinya sekuat tenaga. Namun sayang, konsentrasinya buyar saat melihat siluet orang di kejauhan sana.
"Anjrit!" Naruto menjerit keras, sama sekali tidak mengontrol arah tendangannya. Alhasil bola tersebut melesat cepat dan menghantam kepala Shino, si penjaga gawang—yang entah bagaimana caranya, bisa menjalankan tugasnya dengan baik meski dia memakai kaca mata hitam. Aneh memang.
Mengabaikan Shino yang sekarang dikerumuni anggota yang lain, Naruto melesat cepat ke tepi lapangan dan bersembunyi di antara semak rimbun. Matanya nanar demi melihat ceweknya sedang bersama cowok lain.
Sebenarnya, rencana Ino biasa saja. Dia hanya membuat kondisi semua cowok itu terancam oleh pesaing a.k.a cowok-cowok yang 'menaruh hati' pada Hinata, Sakura, Tenten dan Temari. Ino tahu ini sama saja dengan gambling. Awalnya ia ingin mereka balas bersikap cuek pada cowok-cowok itu. Tapi setelah dipikir, kadar kesadaran pacar mereka saja sudah rendah meski mereka bertemu setiap hari. Kalau benar mereka jadi mengabaikan lima cowok tak berhati itu, bisa-bisa putus beneran. Jadi yang paling tepat adalah menunjukkan maksud mereka dengan jelas. Dalam teori yang sudah dibuktikan, seseorang yang terdesak (dalam kata lain disebut cemburu buta) oleh pesaing yang muncul, biasanya akan melakukan segala cara untuk mengklaim dan menunjukkan kepemilikannya. Jangan dikira mereka bisa santai hanya karena ceweknya terlihat tidak memiliki penggemar. HELLO! HEL to the LO! Kelima cewek itu bukan cewek sembarangan. Mereka semua cantik dan memiliki kualitas untuk jadi cewek impian. Tapi karena cewek-cewek itu memikirkan perasaan pasangan mereka, mereka semua menyembunyikan fakta-fakta seperti bahwa sebenarnya selalu ada satu-dua surat cinta di loker mereka atau hadiah yang muncul tiba-tiba di kolong meja. Tentu saja pelakunya bukan cowok-cowok tampang es—dan ngantuk, yang mereka sebut pacar. Oh. Mereka terlalu sibuk dengan penggemarnya sendiri sehingga tidak sempat memikirkan hal itu. Dan itulah yang Ino jadikan senjata.
Senjata yang membuat cowok-cowok itu kena serangan stroke tiba-tiba. Ditambah magh untuk Neji yang belum juga makan sejak pagi lantaran ceweknya 'terjebak' dalam kelihaian lidah seorang Yamanaka sehingga tidak bisa menemaninya makan. Atau tepatnya, menyuapinya makan.
Hell yeah!
Mereka semua memang manja dan pencemburu sebenarnya. Misalnya saja Naruto yang sekarang sedang mengintip Hinata dan Kiba yang asik bercanda di depan ruang kesehatan. Keduanya tampak dekat. Naruto cuma bisa menggerutu dalam hati. Padahal Hime-nya itu tidak memiliki banyak teman cowok. Jadi kalau sampai Hinata bisa mengobrol santai dengan cowok lain selain dirinya, itu artinya buruk. Padahal sampai kamarin Naruto masih bisa tersenyum bahagia karena merasa hidupnya lengkap berkat Hinata di sisinya. Baginya, ketiadaan Hinata di tepi lapangan untuk menyemangatinya sudah cukup membuat semangatnya drop. Dia tidak akan bisa konsentrasi meskipun ada ratusan siswi bersorak menyemangatinya jika tidak ada seorang Hyuuga Hinata di sana.
"Ino sialaaaannnn!" maki Naruto frustasi. Untung saja suaranya tak sampai terdengar dua orang di kejauhan sana. Kalau iya, bisa malu dia. Dengan menahan tangis dan nyeri di dada, si cowok pirang itu kembali mengingat kejadian kemarin.
.
.
.
.
HALAMAN DEPAN KONOHA GAKUEN [Kemarin]
Ino memijat dahinya. See? Mereka memang harus bergerak cepat.
Begitu mereka lumayan dekat dengan halaman utama, bisa dilihatnya kerumunan cewek yang mengelilingi kelima cowok yang sibuk sendiri tanpa mau repot memerhatikan sekeliling. Ada Shikamaru yang meletakkan kepalanya di atas lutut, melanjutkan tidurnya yang terpotong bel pulang sekolah. Ia benar-benar acuh pada cewek-cewek yang heboh mengagumi wajah damainya ketika ia sedang tidur dan sama sekali tidak merasa terganggu.
Di sebelahnya ada Neji yang masih setia dengan wajah datarnya. Satu tangannya memegang sebuah file map dan satu tangannya lagi memegangi perut. Hanya dalam skala nano saja bisa terlihat kalau ketua OSIS kita sedang menahan rasa laparnya. Sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang kurus lantas mendengus sebal.
Sementara si atlet sepak bola sedang asik sendiri ber-jugling ria. Entah hanya sekedar mengusir rasa bosan atau sekalian menarik lebih banyak perhatian. Yang jelas, hampir seperempat cewek-cewek itu menatapnya penuh kekaguman.
Sasuke hanya memutar matanya sekilas saat suara para cewek yang terkesima oleh aksi Naruto menimbulkan polusi suara di sekitarnya. Mulutnya sibuk komat-kamit merapal formula baru yang sedang diujinya. Ia harus menyelesaikannya sebelum akhir pekan ini untuk dilaporkan pada Orochimaru Sensei.
Sedangkan Sai yang masih kebat-kebit lantaran perilaku Ino yang keluar aslinya hanya bisa pundung di pojokan sambil menggambar sketsa hati yang retak.
Pemandangan super harem itu jelas membuat kelima cewek itu bete seketika. Bahkan Temari yang biasanya tenang pun ikutan kesal lantaran Shikamaru yang masih saja tidur saat cewek-cewek itu sibuk mengambil fotonya. Fotonya! Temari saja tidak punya! Sementara Tenten yang keburu khawatir duluan kalau Neji akan pingsan dengan tergesa menuju sang pacar, sayang, Ino sudah membaca gelagatnya.
"Tenten." Ino mengingatkan dengan disertai tatapan mengancam.
"Iya… aku tahu." Tenten pun akhirnya hanya bisa bersimpati dari jauh.
Sementara Hinata, oh, dia sudah bersembunyi di balik lengan Sakura. Bukan apa-apa, ia hanya takut tidak bisa bertindak sesuai sekenario dan langsung lari menghambur ke arah Naruto. Sialnya, Naruto terlihat senang saja dikerumuni banyak cewek seperti itu. Sakura hanya menepuk-nepuk kepala Hinata sebagai bentuk pengalihan pengendalian diri. Dia pun sama, rasanya ingin menghambur memeluk Sasuke.
Mata Ino pun jelalatan mencari seonggok bentuk yang masih pundung di sudut yang terjauh. Senyum sadis tergambar di wajah cantiknya.
"Tenten!" Neji yang pertama menyadari kehadiran ceweknya. Meski begitu ia tidak berlari ke arah Tenten melainkan hanya berdiri menunggu seperti biasa. Biasanya, Tenten yang akan menghampirinya.
Mendengar seruan Neji, keempat kepala lain—termasuk Shikamaru, menoleh ke arah pacar-pacar mereka.
"Ino!" Sai langsung menghambur ke arah Ino tapi…
DUAKK—
"Jauh-jauh." Dengan sadisnya Ino mendorong wajah Sai hingga cowok itu terhuyung dan ditangkap Naruto.
Shikamaru yang baru bangun dan tidak membaca situasi, tiba-tiba langsung menarik tangan Temari. Yang ditarik mencoba menahan langkahnya, membuat Shikamaru mengerutkan alis.
"Ayo pulang." Katanya dengan wajah bosannya yang biasa.
"Shikamaru-kun, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu."
"Kenapa?"
Temari melirik ke kerumunan fans Shikamaru yang melemparkan death glare ke arahnya. Huh. Apa mereka lupa kalau dia mantan ketua klub karate? Berani benar mereka menatapnya seperti itu hanya karena bicara—dan bergandengan tangan, dengan pacarnya.
"Aku harus menemani Gaara ke toko buku."
"Suruh Kankurou saja." Shikamaru menarik Temari lagi.
"Ti-tidak bisa. Gaara bilang maunya denganku." Temari menarik lepas tangannya.
Wajah bosan campur mengantuk itu berubah kesal selama sepersekian detik. "Lalu untuk apa aku menunggumu sejam di sini sampai harus tiduran di bawah hingga pantatku sakit?"
Pertanyaan itu biasa saja. Dilontarkan dengan nada bicara yang biasa. Tapi entah mengapa Temari tiba-tiba kesal. Benar kata Ino. Dia terlalu baik pada pacar pemalasnya ini. Sekarang saatnya membalas Shikamaru. Jangan salah, bukannya dia kejam. Shikamaru lebih kejam darinya. Ia pernah ketiduran saat seharusnya mereka bertemu di taman dan membuat Temari menunggu selama 2 jam.
"Kalau begitu pulang saja sana!" lalu dengan langkah berderap Temari meninggalkan Shikamaru yang masih me-loading apa yang diucapkan Temari barusan.
'Bagus! Temari-san' Ino menyeringai.
"Kenapa sebenarnya dia?" heran Naruto yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Hinata. Sontak, wajah pucat cewek itu berubah merah membara. "Hime, kita ke ramen Ichiraku dulu ya?"
Hinata gelapan sebentar sebelum tatapan Sakura dan Ino menusuknya penuh paksaan. "A-ano… Na-Naruto-kun… eto… a-aku ti-tidak bisa. Ha-hari ini a-aku harus mem-memban-tu…" Hinata kesusahan bicara, ciri khasnya saat gugup luar biasa. Naruto yang hapal dengan kebiasaan ceweknya itu hanya menunggu dengan sabar sampai Hinata menyelesaikan ucapannya. Tapi manik safir cemerlang itu terbelalak kaget begitu mendengar sisa perkataan Hinata. "Aku harus membantu Kiba di UKS."
"Kenapa?" KENAPA?! Kenapa Hinata harus membantu di UKS sedangkan dia adalah menejer klub shado yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan UKS? Dan KENAPA juga harus HINATA? Kenapa bukan Karin yang juga sama-sama anggota pengurus UKS?
"A-aku diminta Shizune Sensei." Sahut Hinata pelan. "Ja-jadi aku pergi dulu ya. Dah Naruto." Hinata langsung berlari meninggalkan Naruto yang cuma bisa bengong. Otaknya bingung bagaimana mencerna perubahan perilaku pacarnya yang tadi siang bahkan masih sedia memberikan senyum manisnya tapi barusan malah pergi tanpa menatapnya.
"Ke-kenapa sih?" Naruto menjambak rambutnya.
Sasuke yang cuek saja menyampirkan tasnya lagi sambil terus komat-kamit. Ia berjalan ke arah di mana Sakura tadinya berdiri. Ya. Tadinya. Karena ternyata ceweknya itu sudah berdiri di sebelah motor sport yang pengendaranya berambut merah dan bertampang baby face.
Diulangi sekali lagi : rambut merah dan tampang baby face.
"Sakura-chan, hari ini kamu ingin ke mana memangnya?" Sasori menyapa Sakura hangat sambil mengulurkan helm. Sakura yang menyadari Sasuke sedang menatap mereka hanya menampilkan senyum termanisnya.
DEMI APA! DEMI APA SEKARANG SASORI ADA DI SINI! Batin Sasuke shock. Pasalnya Sasori yang terkenal sebagai playboy dan mantan ketua klub Sains yang sekarang Sasuke pimpin sudah bukan lagi siswa di sini. Apa dia datang ke sini hanya untuk menemui Sakura? Dan perlu dicatat, dulu dia dan Sasori pernah berperang dingin dalam memperebutkan perhatian Sakura. Begitu Sakura memilihnya dulu, Sasuke langsung menyeringai penuh kemenangan ke arah Sasori. Tapi sekarang…
"Aku ingin ke mana saja sebenarnya. Yang penting aku bisa mendapatkan foto yang bagus." Sakura menoleh ke arah Sasuke. "Aku mau hunting foto dulu untuk bunkasai bulan depan. Aku kan ketua klub fotografi. Jadi aku pergi dulu ya? Kamu selesaikan saja eskperimennya! Aku tidak akan mengganggu." kata Sakura penuh penekanan pada kata 'eksperimen' dan 'mengganggu' lantas memakai helm dan naik ke atas motor sport Sasori.
"Pergi dulu ya." Sasori menyeringai dan memakai helmnya kembali lalu menstarter motornya dan pergi meninggalkan halaman Konoha Gakuen itu tanpa mengizinkan Sasuke protes.
WOY! Sasuke teriak dalam hati. CEWEK GUE TUH! Namun hanya desau angin yang terdengar di halaman yang luas itu.
"A-anu… Ino-san." Sai beringsut mendekati Ino lagi. Senyum manisnya sudah retak dari tadi. Yang ada hanya wajah takut akan superioritas seorang Ino.
"Apa?" sahut Ino galak.
Sai menghela napas pelan dan mencoba tersenyum lagi. "Pulang yuk?"
"Tidak mau! Hari ini, besok, dan besoknya lagi aku tidak mau pulang atau berangkat denganmu!"
"Ke-kenapa?" senyum itu retak lagi.
Ino menghela napas. "Kalian semua," Ino menatap kelima wajah sayu yang masih setengah shock itu satu-satu, "harus tahu bagaimana caranya memperlakukan pacar. Jangan dikira karena fans kalian banyak, " Ino mengedarkan pandangan ke kouhai-kouhai yang sekarang mundur teratur melihat wajah galak Ino, "dan kalian super populer, kalian bisa bersikap seenaknya pada kami. POKOKNYA sebelum kalian tahu caranya bersikap sebagai cowok yang baik dan bisa ngomong 'I love you'," tatapan Ino semakin tajam, "jangan dekati kami dan jangan salahkan kami kalau kami cari yang lebih baik dari kalian. Kami sudah bosan dengan tingkah sok cool kalian!"
Sambil mengibaskan rambut, Ino menarik tangan Tenten yang hanya bisa memberi senyum tipis ke arah Neji sementara Naruto sudah jawsdrop, Sasuke mematung di tempat, Shikamaru berdecak kesal dan Sai—yah, mending tidak usah bayangkan bagaimana ekspresi Sai sekarang.
"Hei! Jangan bercanda!" Naruto mengejar. "Kamu pasti sudah mencuci otak Hime-ku ya?!"
"Cih. Sebelum salahkan orang lain, tanyakan diri kalian sendiri. Kalau kalian pikir selama ini hubungan kalian baik-baik saja, lantas kenapa sekarang jadi begini? Pasti ada yang salah kan? Pikirkan itu!" Ino mendorong dahi Naruto dengan satu jarinya dan pergi bersama Tenten.
Dengan dengusan napas memburu, Naruto menoleh menatap Sai. "Saiiii! Cewekmu itu coba kau kerangkeng!"
Sai tidak bisa komentar. Baik emosi dan ekspresinya sudah bercampur tak jelas. Ini terlalu banyak baginya. Ia tidak tahu harus bagaimana.
Sementara keempat kepala lain sibuk berpikir dan mencerna kejadian barusan, tubuh kurus Neji terhuyung ke depan dan jatuh terjerembab.
Dia pingsan.
Kruyuuuukkkkkk~~~~
.
.
.
.
RUANG OSIS KONOHA GAKUEN, JAM MAKAN SIANG
Masih setengah sesenggukan dengan ekspresi minta dikasihani, Naruto menceritakan kejadian tadi pagi pada teman seperjuangannya—cowok-cowok yang terancam di'rehat' dalam jangka waktu tak tertebak oleh pacar masing-masing. Shikamaru yang sejak tadi makan sambil tiduran di atas meja hanya bisa mendengus.
"Menyusahkan…"
Shikamaru sendiri mengalami hal serupa. Bedanya, saingannya lebih berat, yaitu bocah berwajah papan dengan rambut merah yang selalu menempeli dan memonopoli Temari sehingga dirinya tidak bisa mendekat—Gaara. Sudah sejak pagi Shikamaru menunggu Temari di kelas seperti biasa dengan kamuflase seperti orang tidur di atas mejanya itu, berharap kejadian kemarin hanyalah delusi saja. Tapi hingga bel masuk berbunyi, sosok Temari yang biasanya datang ke kelas hanya untuk sekadar duduk di hadapannya tidak muncul juga. Dan Shikamaru harus menerima kalau pacar yang lebih tua setahun darinya itu juga seorang cewek dan sedang dalam masa merajuk yang menyusahkan. Saat akhirnya Shikamaru merendahkan sedikit egonya dan pergi mencari Temari, ternyata pacarnya itu sedang sibuk dengan adiknya. Sial.
Lain Shikamaru, lain juga Sasuke. Dia tidak bisa fokus mengerjakan eskperimennya. Kalau mau jujur, ia lebih memilih Sakura merecokinya dan membuat laboratorium meledak dibandingkan cewek itu pergi dengan Sasori. Sungguh ia rela. Tapi bahkan Sakura tidak mau repot-repot menyapa Sasuke yang sudah pasang gaya di depan pintu kelas. Cewek itu masuk saja dengan santainya dan mulai mengobrol dengan Ino tentang jalan-jalannya bersama Sasori kemarin. Membuat telinga Sasuke panas saja.
Mungkin kegalauan tiga cowok lain hanya bisa dikalahkan oleh Sai. Sepertinya mentalnya benar-benar down, secara, semua ini berawal akibat masalah intern-nya dengan Ino. Sejak kemarin, Sai terus saja membuat gambar hati yang retak di mana-mana, bukan hanya di buku sketsanya saja. Ya di meja, di kursi, di tembok, bahkan di seragam Naruto yang duduk di sebelahnya. Ia harus menerima bentakan dari Shikamaru atas aksi vandalismenya itu. Tapi yang paling menyeramkan adalah kontradiksi antara senyum yang melengkung indah di wajahnya dengan mata memerah yang menahan tangis. Sungguh, Sai berharap ada buku atau apa saja yang bisa menyelesaikan masalah ini.
"Mungkin kita harus tanya pada mereka." Sasuke menghela napas. Ia menyerah. Otak cerdasnya lebih mudah memahami zat-zat kimia dibanding cara pikir cewek.
"Tidak akan berhasil…" Sai menyuap nasi ke dalam mulutnya. "Menurut buku yang kubaca, cewek hanya akan bertambah marah jika kita menanyai apa yang mereka mau di saat-saat seperti ini."
"Menyusahkan sekali!" Shikamaru melempar sumpit dan menelungkupkan tubuh di atas meja.
"Lalu kita biarkan saja sampai mereka menyerah dan kembali seperti sedia kala?" Sasuke bertanya lagi.
"Tidak! Aku tidak rela Hime-ku dekat-dekat cowok lain!" sambar Naruto cepat.
"Jadi kita ikuti mau mereka dan mulai menjadi Don Juan?" Sasuke merinding sendiri dengan pertanyaan yang diajukannya.
"HELL NO!" Shikamaru berteriak lantang mewakili isi hati semua cowok di ruangan itu. Jika ditanya apa mereka sayang dengan pacarnya, tentu saja jawabannya sayang. Tapi mengucapkannya dengan lantang itu, beda lagi urusannya. Maaf saja, lidah mereka tidak didesain untuk mengumbar kata-kata gombal yang bahkan tidak pernah mereka pikir sebelumnya.
Akhirnya mereka memikirkan kembali jalan keluarnya sambil menghabiskan bekal makan mereka—minus Naruto yang hanya bisa membeli roti dari kantin, Hinata tidak membuatkannya bekal hari ini dengan alasan ia ketiduran karena kecapekan setelah membantu Kiba. Duh. Miris sekali rasanya.
Eh. Tidak sih. Masih ada satu orang lain yang sibuk sendiri dan mengabaikan makan siangnya.
"Neji, kau sedang apa?"
Naruto menatap bingung Neji yang sedari tadi sibuk sendiri mengobrak-abrik isi lemari di sudut ruangan. Dibanding mereka semua, sepertinya Neji-lah yang paling tenang menghadapi ini. Dia tidak seperti Naruto yang sedikit-sedikit teriak histeris membayangkan nasib hubungannya.
Keempat pasang mata itu terus mengamati sampai Neji bergabung dengan membawa sebuah buku hitam dan file map di masing-masing tangan.
"Itu apa?" tanya Sai penasaran.
"Buku." Sahut Neji datar. Ametisnya yang menyerupai Hinata mengamati setiap halaman buku yang ia buka.
"Buku apa?" Naruto ikut penasaran.
"Buku blacklist klub."
"Eh? Untuk apa?" Bahkan Shikamaru pun ikut penasaran dan melongokkan kepalanya.
"Aku mau memblacklist klub karate."
1 detik…
2 detik…
3 detik…
"Eeeehhhhh?!"
"Neji! Kembali ke alam sadarmu!" Naruto mengguncang bahu Neji dan melempar pulpen yang ada di tangan cowok itu. "Ini pasti karena kau belum makan dari kemarin makanya tidak bisa berpikir jernih! Sai! Ambilkan kotak bekalnya!"
Sai menurut, mengambilkan kotak bekal hitam yang sejak tadi tak tersentuh lantas mencomot satu onigiri dari dalamnya dan menyumpalkannya ke mulut Neji yang masih juga berwajah datar.
"Ini! Makanlah! Kami butuh otakmu untuk berpikir!"
Mereka tahu alasannya kenapa Neji begini. Pagi tadi, mereka melihat Tenten sedang berlari mengitari lapangan outdoor bersama Lee, Ketua Klub Karate yang merupakan teman Tenten sejak kecil sekaligus tetangganya. Tak disangka, efek pemandangan itu mampu mengobarkan kecemburuan seorang Hyuuga hingga membuatnya nekat menyalahgunakan kekuasaan. Sepertinya bisa dibilang kalau Neji-lah yang terparah.
Kruuyuuukkkkk~~~~~~~~~~~~~
Neji blushing di tempat. Persis seperti Hinata saat sedang malu. Si cowok berambut cokelat itu akhirnya mengunyah onigirinya dalam diam. Ia tidak pernah merasa selapar dan senelangsa ini. Padahal waktu pagi adalah waktu yang ia khususkan untuk pura-pura sibuk sehingga harus disuapi. Sial. Tidak kemarin atau hari ini, Lee sangat mengganggu.
Lee sialan! Sai sialan! Ino sialan!
Dengan tatapan sendu yang tidak kentara, Neji melihat kotak bekalnya. Biasanya, Tenten akan menemaninya makan. Dan sementara dirinya sibuk mengatur berkas atau membuat surat resmi untuk keperluan OSIS, Tenten akan menyuapinya dengan sabar sampai semua makanannya habis. Selalu seperti itu. Mungkin kedengarannya konyol dan sangat tidak sesuai dengan tampang stoic-nya, tapi Neji suka disuapi oleh Tenten. Sangat suka sampai ia tidak rela harus makan dengan tangannya sendiri.
Semuanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya mereka semua sedang memikirkan hal yang sama seperti Neji. Mereka memikirkan pacar-pacar mereka. Naruto misalnya, ia harus mengakhiri sesi latihan tadi pagi dengan mendapat omelan sadis dari pelatihnya dan pukulan balasan dari Shino. Ini semua karena absennya Hinata dari tepi lapangan. Padahal selama setahun ini, Hinata tidak pernah absen memberikan semangatnya bagi Naruto yang sedang membangun karir sepak bolanya dari bawah. Tak peduli hujan atau panas menyengat, Hinata akan selalu di sana, di tepi lapangan dengan mata tak lepas darinya. Tapi bahkan dengan perjuangan sebesar itu, Naruto tak pernah mengatakan sesuatu sebagai bentuk apresiasinya. Salahnyalah kalau sekarang Hinata memilih memberinya 'sedikit pelajaran'. Bukankah tak pantas bagi seorang cowok yang tidak bisa mengatakan 'I love you' pada pacarnya mendapat kebaikan sebanyak itu?
Sai menggigit sumpitnya dengan bibir yang masih menyunggingkan senyum default. Matanya melirik buku sketsa yang ada di pangkuannya. Buku bergambar babi chibi itu adalah pemberian Ino. Ino tidak memberikannya saat Sai ulang tahun atau saat perayaan jadian mereka atau apa. Ino hanya memberikannya. Suatu pagi setelah akhir pekan, Ino memberikan buku itu saat mereka sedang menukar sepatu dengan uwabaki. "Ini untukmu. Melukislah terus, aku sangat suka lukisanmu." Ujar Ino saat itu dengan disertai senyuman manis. Melukis adalah hidup Sai dan ceweknya tahu itu. Tapi apa yang sudah Sai beri sebagai gantinya? Tidak ada. Bahkan mengucapkan satu kata 'sayang'pun sangat jarang. Sai sendiri lupa kapan terakhir kali ia mengatakannya.
Di sebelah Sai, Sasuke sedang menatap bekalnya dengan tatapan kosong. Rasanya ada yang kurang. Sesuatu… Sasuke tahu apa itu. Telinganya terbiasa mendengar suara berisik Sakura. Ocehannya yang tak jelas dan permintaan manjanya. Sasuke selalu menanggapinya dengan dingin karena Sakura mengganggu aktivitasnya di lab. Tapi Sasuke sangat merindukannya sekarang, juga kata-kata 'sayang' dan 'kagum' yang selalu Sakura lontarkan padanya dengan wajah bersemu. Sakura selalu mengatakan hal itu di setiap kesempatan hingga Sasuke merasa aneh jika sehari saja tak mendengarnya. Meski ditanggapi dengan dingin, Sakura masih tetap tersenyum. Lantas, jika pacarnya bisa mengucapkan kata-kata itu sebanyak unsur Kimia di tabel periodik unsur dalam jangka waktu satu minggu, kenapa sulit sekali baginya mengatakan satu saja kata 'sayang' dalam kurun waktu setengah tahun?
Shikamaru yang mendapati wajah-wajah mendung temannya hanya bisa menghela napas dan menutup kotak bekalnya. Ia lalu bertopang dagu sambil menatap ke luar jendela. Cuaca seperti ini sebenarnya membuatnya ngantuk dan tidur adalah suatu kegiatan yang sulit dihindari olehnya. Tidur itu sudah seperti sebagian dari keseluruhan aktivitasnya dalam sehari. Ya, dia memang pemalas. Tapi karena memikirkan pacarnya, Shikamaru sampai tidak bisa tidur dengan nyaman semalam dan saat ini pun ia tidak ada hasrat untuk bercumbu dengan permukaan mejanya. Hatinya tidak tenang.
Sesuai dengan sifat keibuannya, Temari terbiasa menemani dan menanyai Shikamaru tentang kegiatan kelasnya setiap pagi setelah ia selesai latihan karate. Dengan jari kelingking yang saling mengait di atas meja, Shikamaru akan menceritakan sedikit hal tentang tugas membosankannya dan akan ditimpali dengan kata-kata penyemangat oleh Temari karena pacarnya itu tahu betapa malasnya dirinya. Tapi hari ini ia bahkan tidak bisa mendekati pacarnya itu dan pacarnya sendiri tak mau repot-repot lagi ke kelasnya.
"Aku bisa gila memikirkan ini." Naruto menjambak rambut pirangnya. "Kalau Hinata tak juga membaik, bisa-bisa aku salah menendang kepala orang nanti."
Sasuke mengernyit. "Itu sih kaunya saja yang kelewat bodoh. Tidak bisa bedakan bola dengan kepala orang." Cibirnya.
"Diam kau, Teme!" Naruto melempar death glare pada Uchiha yang duduk di seberangnya.
"Bunkasai sudah dekat dan aku akan jadi sangat sibuk. Bisa-bisa masalah ini tidak terselesaikan." Bisik Neji pelan. Dan ia juga bisa pingsan lagi karena lupa makan akibat tugas yang banyak. Selama ini selalu Tenten yang mengingatkannya untuk makan.
"Ck. Kenapa aku bisa lupa kalau bulan depan akan ada bunkasai?" Shikamaru mendesis rendah. Sepertinya tugasnya akan bertambah banyak di akhir bulan ini. Sebagai ketua kelas, ia harus mengkoordinir teman-temannya. Semua mungkin akan lebih mudah jika ada Temari yang menyemangatinya. Tapi sekarang?
Hening lagi. Hanya terdengar helaan napas berat dan bahu yang melorot turun.
"Kenapa sulit sekali bilang 'cinta'?" desah Sai, kali ini dengan wajah yang murung.
Ya, kenapa sulit sekali bilang 'cinta'? ulang yang lainnya dalam hati. Kenapa sih mereka ini? jelas-jelas mereka tidak bisa kehilangan perhatian pacarnya, tapi kenapa masih tidak mau mengucapkan satu kata itu juga? Padahal semuanya akan terselesaikan dengan mudah.
Dasar harga diri laki-laki!
BRAAKKK—
"Loh, sedang apa kalian semua di sini? Dan kenapa dengan wajah murung itu?"
Berdiri di depan pintu adalah Kepala Sekolah Konoha Gakuen, pria berusia setengah abad—lewat banyak, yang terkenal suka menggoda guru-guru perempuan. Pria dengan imajinasi super aneh yang sudah dituangkan dalam bentuk buku dan telah tercetak ratusan copy tanpa ada bawahannya yang tahu. Pria yang mungkin bisa menyelamatkan Naruto cs.
Kenapa tidak terpikirkan oleh mereka? Di saat seperti ini, tentu saja mereka harus tanya pada yang lebih berpengalaman.
"Jiraiya-sama! Tolong bantu kami!" Naruto tiba-tiba bersimpuh di kaki pria itu. Yang dimintai tolong hanya memasang wajah bingung.
"Apa-apaan kau Naruto?"
Belum tuntas keheranannya, keempat cowok lain ikut bersimpuh di hadapannya.
"JIRAIYA-SAMA! TOLONG BANTU KAMI!"
"E-eeeeehhhhh?"
.
.
.
.
Wuaaaaa~~~~ updatenya sengaja dibikin kilat karena banyak yang minta . tapi maaf yah klo diluar ekspektasi. Pasti ngiranya ide Ino itu yang cetar membahana badai ya? WKWKWKWK. sorrryyyy...
BTW, ini bukan ff comedy loh. Tapi emangnya lucu ya? Kok banyak yang ketawa. Ini ff romance loohh... emang cast-nya aja yang OOC jadinya kesannya ancur. WKWKWK. Ngomong-ngomong, favorit saya juga Neji. Dia saya desain khusus jadi super imut dan ngegemesin. Hehe.
Kemungkinan ff ini kelar 3 chapter. Tapi mungkin updatenya lama biar mateng idenya. sabar yooo
Bagi yang udah review, THANK YOU! Berarti banget deh, serius. Makasih ya JihanFitrina-chan;Bunshin Anugrah ET;marukocan;Niizuma Eiji;hanazonorin444;Anita nurul fatm;Dattebane;Iced Cherry;june25;lovelly uchiha;41;login;Durara;Hanawa Seika;rhimadayo;Blue-senpai;Nyuga totong;almira-chan;robyzek;Guest;aeni hibiki~~~ makasih udah mau luangin waktu buat RnR.
Dan buat silent reader, saya harap kalian juga menikmati ff ini. Mungkin lain kali bersedia review?
Oke, segini aja dulu.
Ditunggu yoo review-nya. Kalo bisa kalian kasih tau bagian yang kalian suka, atau mungkin kalo ada typo yang nyelip. Saya senyum-senyum sendiri loh baca review.n yang bilang Neji manja. Hahah. Imut kan ya?
See ya~~~~
