Pair: AkaKuro, lil bit NijiMayu
Warning: OOC, yaoi, typos, possibly-mpreg, bad english, pwp, fluff, etc...
(Dan akan ada lemon di chapter akhir ini, kalau tidak suka, mohon untuk di-skip saja. I already warn you...)
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, i gain no profit from this fiction.
For Kina Arisugawa-san, arigatou-ssu! ^_^v
Btw, saya nulis ini sambil dengerin Jim Gaven yang 'make this moment last'. Sorry for the long wait...
.
Secret Escape (Part 2 of 2)
.
Irisan besar tomat ranum bercampur feta dari mangkuk salad, sengaja ditusuk penuh emosi menggunakan garpu mengilap. Berbagai sajian bertema laut, tidak sanggup memadamkan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun, dan mungkin sebentar lagi bakal meledak layaknya semburan dahsyat volcano. Padahal aroma gurih pasta, setumpuk fresh mussels, dan belahan steamed lobster itu sungguh mengundang liurnya untuk tumpah dengan tidak elit di atas meja.
Sabar Tetsuya, sabar... orang sabar disayang Tuhan...
"Kau suka saladnya, atau memang sedang diet?"
"Bukan urusan Seijuurou-san. Humph."
Mendengar balasan sedingin es batu, ujung-ujung bibir Seijuurou malah tertarik ke atas. Mata sewarna rubi itu memancarkan keriangan aneh—atau menyeramkan yang sanggup membuat tengkuk Tetsuya meremang.
Setelah insiden (tidak penting) yang melibatkan ia dengan satu pria-asing-brengsek-mesum-menyebalkan di tengah jalan tadi, tiba-tiba saja Tetsuya baru menyadari kalau dirinya sudah diseret (paksa) menuju sebuah sea side restoran terdekat di tepi Marina Piccola. Salahkan perut Tetsuya, yang dengan memalukan malah memilih untuk berbunyi nyaring tanpa permisi di hadapan Seijuurou—ugh, dasar pengkhianat!
Mulut Tetsuya terkunci rapat selama perjalanan kemari. Seijuurou setali tiga uang. Tak ada satupun kalimat keluar dari mulut pria muda itu. Baik saat ia membuka peta digital dalam ponsel, atau saat mereka melangkah singkat menyusuri jalan setapak menuju restoran dengan pemandangan langsung ke arah laut lepas di depan mata. Padahal banyak sekali pertanyaan dalam benak yang ingin Tetsuya ajukan. Dan dengan bodohnya ia mau-mau saja dibawa ke sini tanpa sedikitpun perlawanan.
Tapi ini benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa Seijuurou muncul secara ajaib di hadapannya? Apa diam-diam dia ternyata punya kekuatan teleportasi? Selama hampir sepuluh tahun mengenal, Seijuurou tidak pernah menunjukkan kejanggalan semisal punya kekuatan super atau hal semacam itu—kecuali kekuatan untuk membuat orang lain mengurut dada akibat tingkahnya masuk hitungan. Ini jelas bukan adegan dalam film fiksi, jadi hal tersebut bakal Tetsuya coret dari daftar kemungkinan.
(Saking syok, terkejut, kaget, atau entah apa namanya, otak Tetsuya mendadak blank—alias korslet. Ia masih tidak mempercayai penglihatannya, dan berkeras kalau ini hanyalah mimpi belaka. Besok pagi ia pasti akan terbangun dengan damai di atas ranjang, tentu saja tanpa kehadiran iblis tampan yang sungguh mengguncang pertahanan iman...)
"Makan pastanya, Tetsuya. Kau terlihat lapar."
"Seijuurou-san sedang apa di sini? Di Capri?!" Tak tahan harus terus berdiam saja, Tetsuya terpaksa mengorbankan 'kehormatan diri' untuk bertanya. "Seijuurou-san menguntitku?"
Postur tubuh Seijuurou tetap elegan sewaktu memisahkan daging kerang dari cangkang dengan bantuan pisau dan garpu, padahal pertanyaan menghakimi barusan saja terlontar dari mulut Tetsuya tanpa ragu. Secuil daging kerang berbumbu dikunyah santai, ia lalu gantian mencicipi salad tomat yang sepertinya sangat disukai oleh Tetsuya, dan langsung setuju kalau semua menu di sini sangat fresh sesuai jargon La-Fontelina di website milik mereka.
"Berlibur tentu, untuk apa aku menguntitmu..." jawab Seijuurou tanpa beban.
Garpu di genggaman nyaris terlempar. Untung Tetsuya merematnya kuat-kuat, coba kalau tidak, bakal ada tragedi berdarah di sini... Ia mengatur napas bak tengah mengikuti kelas yoga. Tarik, keluarkan, tarik, tenangkan pikiran, jangan membuat aliran energi negatif menguasai, tenang, jangan panik...
"Ta-tapi, bagaimana bisa?"
Gagal, semua musnah saat Seijuurou memberikan satu senyum penuh arti. "Apa Tetsuya percaya kalau aku dapat ber-teleportasi ke sini dalam sekejap mata?"
Damn! Seijuurou ternyata bisa membaca pikirannya! Jangan bilang kalau dia adalah mind-reader juga! Ah, bukan... mind-manipulator, itu baru julukan paling tepat bagi seorang Akashi Seijuurou.
"Tidak—jangan mengada-ada, dan tolong jawab saja pertanyaanku..."
Seijuurou terkekeh menggoda. "Coba tebak," terlintas kilatan jahil pada kedua matanya. "Darimana aku tahu lokasi Tetsuya berada, dan bagaimana bisa aku menemukanmu 'secara kebetulan' seperti ini, hmm?"
"Jangan katakan kalau Ibu membocorkan semua, atau Chihiro-nii? Atau Ryouta-kun? Atau-atau... Nigou?" Karena Tetsuya sempat mencurahkan isi hati pada sang Ibu dan kakaknya, juga pada Nigou—kurang kerjaan memang, tapi anak anjing lucu itu seperti selalu mengerti saat Tetsuya berbicara padanya. Dan tentang Ryouta, ia telah tanpa sengaja memberi hints mengenai rencana trip kali ini pada pemuda pirang tersebut. Awas saja kalau benar Ryouta yang memberitahu destinasi pengasingan dirinya ini pada Seijuurou, Tetsuya tidak akan memaafkan si pirang itu.
"Anjing kecilmu tidak bisa bicara, aku tidak akur dengan kakak laki-lakimu, dan kau benar mengenai opsi pertama by the way..."
Apa? Jadi Mama Kuroko yang sudah memberitahu Seijuurou mengenai rencana 'mengasingkan diri' miliknya ini! Ibu, kau sungguh tega!
"Okaasan khawatir padamu, dan menyuruhku untuk menyusul kemari."
Bibir Tetsuya mengerucut saat mendengar alasan Seijuurou. "Aku sudah terbiasa pergi sendiri," garpu ia letakkan teratur di sisi piring. Sembari menghela napas, Tetsuya melontarkan juga apa yang selama seminggu ini membuatnya merasa sesak di dada. "Lagipula, kita sudah tidak punya hubungan apapun, jadi mulai sekarang Seijuurou-san tidak usah mencampuri urusanku."
Alis Seijuurou naik sebelah, sementara ia meneguk air mineral dingin dari gelas dalam pegangan tangan. Oh, level merajuk Tetsuya ternyata berhasil naik tingkat sekarang. How adorable.
"Kita sudah putus, ingat?" Tetsuya berujar pelan, lidahnya terasa pahit sewaktu mengucapkan kalimat barusan. Seluruh hidangan lezat mendadak bagai hilang dari pandangan. Tuhan, ia ingin segera kabur saja dari cengkraman setan di hadapan! Kaki-kaki Tetsuya sudah tidak betah lagi untuk tetap diam bertahan...
Semilir angin memainkan helai-helai rambut keduanya dengan lembut, menggoyang ringan atap pergola(1) di atas kepala mereka dalam sebuah harmoni bak lantunan lagu. Riuh ombak berkejaran lalu pecah sewaktu mencapai garis pantai, dibarengi nyaring jerit camar di kejauhan, membuat kepala Seijuurou menoleh sejenak dari wajah Tetsuya yang sendu.
"Kau yang mengakhiri secara sepihak, Tetsuya," ujarnya. "Bukan aku."
Pita memori Seijuurou berputar cepat demi mengulang lagi hari terakhir mereka bertatap muka dan saling bicara. Ia masih ingat betul, karena peristiwa itu baru terlewat seminggu lalu. Hari dimana Tetsuya telah menuduhnya berselingkuh tanpa alasan jelas, bersikap kekanakkan, dan langsung memutuskan hubungan mereka lewat sebuah pesan singkat tanpa dosa yang sampai ke ponsel Seijuurou di akhir pekan.
Sungguh tidak gentleman sekali dia. Atau tidak ladylike sekali dia, ah, terserahlah...
(Buat apa juga Seijuurou melakukan perbuatan yang Tetsuya tuduhkan? Itu hanya makan malam bisnis biasa, tidak lebih. Walau ia mengakui sudah mendapat dua kali ciuman di pipi—yang membuatnya risih ingin memaki. Seharusnya Tetsuya mengkaji semua, bukan malah merajuk tidak jelas macam perempuan memasuki periode datang bulan.)
Sejak minggu lalu, mereka putus kontak—atau Tetsuya yang selalu mengelak tiap kali Seijuurou berusaha untuk menjangkaunya. Sibuk dan lelah oleh bertumpuk pekerjaan, membuat Seijuurou melupakan masalah 'ribut-ribut kecil' mereka. Hal ini sudah biasa terjadi. Paling sebentar lagi Tetsuya luluh dan dengan penuh penyangkalan bakal memerintahkan Seijuurou untuk segera meminta maaf.
Itu prediksi Seijuurou sebelumnya.
Semua kesalahpahaman ini ternyata berlanjut sampai melebihi batas biasa mereka berargumen. Puncaknya dua hari lalu, kabar kepergian Tetsuya ke luar negeri sampai juga di telinga. Dan setelah berbagai ancaman (kosong) membahayakan jiwa (mengganggu saja) dari calon kakak ipar tercinta, a.k.a cough Shiithiro cough, yang tidak bosan membombardir ponsel dan semua akun media sosial miliknya—Seijuurou rasa ia perlu berbicara empat mata langsung dengan Tetsuya.
(Dan ia bisa mengendus ada sesuatu yang 'amis' di balik acara ngambek dan kepergian buru-buru Tetsuya kali ini.)
Berkat kerjasama Mama Kuroko, Seijuurou berhasil mendapat informasi mengenai destinasi pengasingan diri Tetsuya—berikut alamat hotel tempat ia menginap. Ini memang sering terjadi dan sudah bagai tradisi, tiap kali pemuda mungil itu tengah dilanda mood emo. Biasanya Chihiro yang dititah untuk mengawal sekaligus menjemputnya pulang. Tapi kali ini Seijuurou memutuskan untuk turun tangan langsung membereskan semua.
Capri di Italia.
Pulau kecil di Semenanjung Sorrentine yang menjadi tempat liburan prestis wisatawan, bahkan sejak zaman Romawi kuno berjaya. Tempat itu ada di belahan benua lain, tetapi Tetsuya nekat pergi seorang diri ke sana... Kucing kecil macam Tetsuya memang harus diingatkan kalau dia tidak boleh melarikan diri setiap kali memiliki masalah dalam hidupnya. Dan Seijuurou datang ke sini untuk menjemput, sekaligus memberi Tetsuya 'sedikit pelajaran' agar dia berhenti bersikap semacam ini untuk ke depannya. Tidak mungkin 'kan ia mesti kawin-cerai setiap saat dengan Tetsuya kalau nanti mereka hidup berumah tangga...
Mata Seijuurou menatap pada postur lesu si Rambut biru, pada kantung hitam tipis di bawah mata, dan bibir merah muda yang mengerucut lucu seakan minta dikecup mesra. Betapa ia ingin mendekap 'mantan' pacar sepihaknya itu sekarang juga. Tapi bisa-bisa ia terkena tamparan di pipi, lalu disiram air dingin dalam gelas tanpa permisi.
Sakitnya memang tidak seberapa, malunya itu yang setengah mati.
"Seijuurou-san lebih baik kembali saja ke Jepang," kata Tetsuya tiba-tiba nyaris tanpa suara. "Kalau Seijuurou-san di sini, aku malah tidak bisa tenang."
Mulut Seijuurou membuka untuk melancarkan aksi pembelaan diri. Dikira dia siluman badung yang suka mengganggu manusia apa? Tega sekali Tetsuya mengusirnya pulang, setelah ribuan mil ia tempuh hanya demi menemui dirinya dan mencoba menjelaskan semua.
"Semoga kalian bahagia." Bibir bawah Tetsuya terjepit di antara deretan gigi seri.
Huh. Seijuurou terdiam saat tiba-tiba mendengar kalimat absurd milik Tetsuya tadi.
"Aku," Tetsuya berhenti sejenak untuk merangkai kalimatnya. "Walau aku belum sanggup melepaskan, tapi ka-kalau Seijuurou-san merasa nyaman bersama perempuan itu, aku bisa berpikir dua kali untuk—"
Whaat? Tunggu sebentar, ini maksudnya apa, sih? Tetsuya sedang bicara mengenai apa? Seijuurou bingung sendiri. Ah, jangan-jangan ini soal berita hoax mengenai 'perselingkuhan' yang dikatakan oleh si Kuroko sulung minggu lalu... Kabar bohong itu benar-benar sukses membuat mereka salah paham—dan herannya, kenapa Tetsuya mudah sekali terpancing umpan-umpan sialan sejenis yang selalu disebar oleh Chihiro untuk memisahkan mereka?
Kalimat Tetsuya terpotong oleh gelak tawa dari orang di hadapannya.
"—memberikan restu pada kalian ber~"
Dan Seijuurou masih tertawa geli, tidak peduli pada tatap menghakimi dari orang-orang asing di sekitar mereka yang penasaran pada pembicaraan dua pemuda Asia tampan di sudut restoran terbuka tersebut.
Raut wajah Tetsuya mengeruh, mulutnya langsung saja berseru kesal. "Seijuurou-san jangan tertawa, aku serius, tolong berhenti tertawa sekarang juga, karena ini sama sekali tidak lucu!"
"Demi Tuhan, Tetsuya! Kau ini bicara apa?" Setelah reda dari rasa geli akibat ucapan Tetsuya tadi, Seijuurou segera menyeka sudut-sudut matanya yang berair. "Darimana kau, ah, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kau menuduhku mendua dengan siapa?" Tangan-tangan Seijuurou lalu bersedekap di depan dada, senang mendapati wajah cemberut Tetsuya menginvasi jarak pandangnya. Geeze, apa jangan-jangan sindrom tidak waras milik Chihiro sudah mulai menginfeksi dunia juga?
Tetsuya hampir saja menggebrak meja mereka, sewaktu mendengar lagi tawa 'mengejek' milik Seijuurou. Ia berniat menyingkirkan semua makanan di atasnya ala opera sabun di televisi—tapi tidak jadi. Tangan Tetsuya bisa sakit sewaktu bersinggungan dengan keramik-keramik kokoh itu, lagipula... ia belum sempat mencicipi pasta-nya yang terlihat lezat, huk.
"Oh, Seijuurou-san butuh bukti? Oke, akan kuberi..." secepat kilat, ransel yang tergeletak di sebelah kursi, digeledah Tetsuya demi mencari ponsel pintar miliknya. Password ditekan, layar digeser tidak sabaran masuk ke dalam menu galeri foto untuk mencari bukti 'pengkhianatan' Seijuurou minggu lalu.
Potret ini diambil Chihiro (secara diam-diam ala paparazzi) saat dia tengah makan malam bersama Shuuzou. Fine dining yang jatuh tepat pada 'hari jadi' tahun ketiga mereka resmi berpacaran, dirayakan di Ekki Bar and Grill milik Four Seassons Marunouchi. Suatu kebetulan tempatnya sama dengan lokasi makan malam bisnis Seijuurou kala itu.
Dan sebagai kakak yang baik, melihat kekasih sang Adik tengah bermesraan dengan orang lain, otomatis membuat gerah dan tidak betah. Ide untuk mengabadikan momen cium pipi tiba-tiba saja terlintas tanpa diminta—tambahkan sedikit 'bumbu-bumbu' untuk mengompori pikiran polos adiknya, dan voila! Ia sukses besar! Chihiro hanya melaksanakan tugasnya saja, karena Akashi Seijuurou adalah jelmaan iblis. Chihiro ingin agar keluarga mereka tahu kalau sikap 'bangsawan' Seijuurou di hadapan Keluarga Kuroko selama ini hanyalah bentuk pencitraan belaka. Dasar serigala berbulu domba... apapun yang terjadi, Chihiro mesti melindungi Tetsuya dari predator ganas macam Seijuurou! Ya, title bro-con memang sudah lama menjadi nama tengah Chihiro, terus kenapa?
(Chihiro dan Seijuurou itu, sejak awal keduanya memang sudah terlanjur berburuk sangka.)
"Ini," kata Tetsuya penuh kemenangan. "Seijuurou-san main-main dengan orang lain di belakangku 'kan?"
Mata Seijuurou mendadak berkunang-kunang sewaktu tersiram cahaya terang dari layar ponsel. Segera digenggamnya pergelangan tangan Tetsuya—isyarat agar ponsel sedikit dijauhkan dari wajah, sekaligus modus—lalu mulai mencermati foto yang terpampang di sana. Ia melihat potret dirinya dan seorang wanita anggun berambut hazel-panjang bergelombang, yang diambil dari kejauhan dengan kamera ponsel beresolusi tinggi. Candid, dari samping, tapi di-zoom sampai semua detil tidak penting jadi terlihat jelas.
"Ini memang fotoku." Ya, mana mungkin ia bisa menyangkal, rambut merahnya adalah ciri khas dari setiap keturunan Keluarga Akashi.
"See?"
Seijuurou mendesah lelah saat mendengar nada puas dalam seruan Tetsuya. "Tapi maaf harus mengecewakanmu. Aku tidak mungkin berhubungan dengan orang lain jika aku masih terikat denganmu Kuroko Tetsuya. Haram hukumnya bagiku berbuat begitu." Ia tersenyum penuh misteri, sedikit senang karena menyadari sikap cemburu Tetsuya terhadapnya.
Kerutan dalam di dahi muncul, pemuda yang lebih mungil menggeser lagi layar ponsel dengan penuh energi. "Seijuurou-san membiarkan wanita ini bersikap intim dengan menciummu."
Foto lain lagi, keduanya kini berdiri di sebelah pilar dekat pintu masuk restoran, dan tubuh si Wanita condong untuk memberikan kecupan manis di pipi kiri Seijuurou.
"Masih mau menyangkal apa lagi? Dasar raja tega..."
Seijuurou malah menatap Tetsuya dengan bibir gemetar menahan tawa. "Tetsuya saja yang ratu drama," ujarnya santai. "Tunggu sebentar, kau harus lihat ini dulu ..." ia merogoh saku celana untuk mengeluarkan smartphone-nya dari sana. Ibu jari dengan cekatan menggeser layar, lalu gantian menyodorkan gadget tersebut di depan hidung Tetsuya.
Halaman instagrram milik seseorang. Dan ada potret narsis Akashi Seijuurou bersama wanita berambut hazel panjang-familiar pada postingan terakhir akun dengan user-name HyuugaRiko. Caption 'candlelight dinner bersama Akashi Seijuurou-kun di Marunouchi! Aku yakin baby-chan nanti pasti bakal se-briliant dia!' dengan emot hati tertera mentereng di bawah foto.
"Tetsuya pernah kenal Riko-san 'kan?" Seijuurou bertanya pelan. "Dia dan suaminya, Hyuuga Junpei-san, adalah salah satu client bisnis ayah."
Kedua mata Tetsuya menyipit demi mempertajam penglihatan.
"Lihat outfit kami? Bukankah kau merasa pernah melihatnya?" Seijuurou meraih ponsel Tetsuya, lalu membandingkan kedua foto. Sama persis. Seijuurou dalam balutan blazer hitam, dan gaun berwarna nila membungkus tubuh wanita misterius dalam potret yang diambil Chihiro. Begitu mirip, serupa kembaran. "Aku sudah mengatakan, kalau wanita yang makan malam bersamaku minggu lalu adalah Riko-san, tapi Tetsuya tidak percaya, dan malah menuduhku yang bukan-bukan."
Foto di-zoom berkali-kali. "Tapi rambut Riko-san tidak sepanjang ini, dan kenapa, kenapa dia yang sudah bersuami, tega sekali mencium Seijuurou-san?"
"Memang kapan terakhir kali Tetsuya bertemu Riko-san? Setahun, atau dua tahun lalu? Dia mungkin sudah berkali-kali berganti model rambut. Err, atau mengoperasi hidung dan bagian lain wajahnya agar terlihat lebih menarik..." senyum maklum mengembang di wajah, jemari tangan kiri Tetsuya yang bebas, keburu digenggam tak mau ia lepas. Lumayan bisa modus lagi, mumpung hati Tetsuya sedang melunak. "Kelemahanmu hanya satu," mata mereka bertemu lambat di antara ramai suasana. "Ah, bukan satu, mungkin banyak." Seijuurou terkekeh melihat hidung Tetsuya mengerut tidak suka sewaktu kalimatnya mengudara. "Kau naif—kadang impulsif, dan itu jadi pemicu hal-hal negatif dalam hubungan kita."
"Sikap posesif Seijuurou-san tidak dihitung?" sambarnya tidak bersemangat, karena sadar kalau ia baru saja dikalahkan.
"Ya, itu juga..., mungkin." Bola mata Seijuurou hampir memutar malas mendengar protes dari pemuda mungil di seberang meja. "Walau sudah sepuluh tahun saling mengenal, tapi kita baru mulai serius setahun belakangan. Ada yang belum aku tahu mengenai Tetsuya—hal-hal kecil yang terlewat, begitupun sebaliknya,"
Setahun lalu, Seijuurou akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko dengan mengubah ikatan 'pertemanan' mereka menjadi sesuatu yang lebih istimewa. Seijuurou mengenal Tetsuya lewat hubungan persahabatan tanpa mutual antara ia dan Chihiro sejak mereka bersekolah dulu. Tak disangka, anak bungsu kesayangan Keluarga Kuroko itu ternyata menyimpan perasaan serupa untuknya. Usia mereka terpaut lima tahun, dan Tetsuya baru saja lulus kuliah ketika Seijuurou memintanya untuk menjadi kekasih—itupun setelah melewati berbagai macam rintangan, sampai ikatan mereka jadi seperti sekarang.
Hubungan ini memang baru seumur jagung, tapi Seijuurou optimis kalau mereka sanggup bertahan sampai janji sakral terucap di depan altar. Yaah, meski cobaan tak pernah henti datang bertubi—terutama agresi yang berasal dari kakak laki-laki Tetsuya a.k.a Kuroko 'Brengsek' Chihiro. Ada-ada saja hal aneh yang dia jadikan sebagai cara untuk memisahkan dirinya dan Tetsuya. Dari mulai mengadu domba, memperdaya hati malaikat Tetsuya, sampai menyebarkan rumor kalau Seijuurou adalah kasanova yang gemar bermain cinta.
Kurang busuk apa lagi coba?
Wajah Tetsuya memucat, prasangkanya invalid sudah. Seijuurou jelas-jelas bersih dari tuduhan. "Lalu, ciuman itu..." tapi ia masih ingin menyangkal—Tetsuya janji—untuk terakhir kali.
"Tetsuya tahu kalau orang ngidam suka menginginkan sesuatu yang aneh?" tanya Seijuurou tiba-tiba dengan nada bangga. "Riko-san 'memaksa' mencium pipiku, karena jabang bayinya menginginkan hal itu. Aku menolak, tapi dia memaksa. Riko-san bilang, dia ingin kalau anaknya nanti tumbuh sekeren diriku..."
Selesai mendengar penjelasan tak masuk akal yang nyaris menulikan telinga, alis Tetsuya menukik tajam tidak percaya.
"Jangan pasang tampang begitu, kalau Tetsuya menyangsikan penjelasanku lagi, kali ini tanya saja pada Riko-san langsung." Seijuurou menyodorkan ponsel miliknya. "Atau sapa Riko-san lewat instagrram."
"Bu-bukan begitu, hanya saja... Seijuurou-san tadi terdengar sangat out of chara! Narsis!"
"Terserah Tetsuya, aku sudah menjelaskan semua." Seijuurou kembali melanjutkan santap siangnya yang tertunda. "Aku tidak sadar kalau waktu itu Chihiro dan Shuuzou juga kebetulan ada di sana, kalau tahu mungkin bakalan kusapa..." atau mungkin bakal ia botaki rambutnya karena malah menyebarkan fitnah pada Tetsuya.
"Jadi, Chihiro-nii sudah salah memberikan info? Dan aku sudah salah menuduh...?" sia-sia dong acara mengasingkan diri dalam rangka memulihkan mood emo Tetsuya kali ini... duh, ia jadi bingung dan malu sendiri. Ingin rasanya Tetsuya mendadak hilang ditelan bumi...
Sebuah penne(2) berbalut saus tomat mendadak tersodor di depan mulut Tetsuya. Aroma basil dan oregano mau tak mau membuat ia melahap apa yang ditawarkan Seijuurou dari ujung garpunya. Tuh 'kan benar... rasa pasta ini benar-benar lezat!
Seijuurou menggeser piring pasta di tengah-tengah meja mereka ke hadapan si Rambut biru muda, menyuruhnya untuk segera mengisi perut yang sejak tadi belum sempat terlaksana. Dihelanya napas sebelum bicara."Kau tahu Tetsuya? Kurasa, sikap semacam ini tidak perlu terjadi lagi." Suara Seijuurou pelan terbawa semilir angin. Ia melihat Tetsuya berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya, lalu merenung. "Kita, ah... maksudku, untuk apa manusia menciptakan komunikasi kalau bukan untuk saling memahami," ujar Seijuurou lagi dengan tatap lembut. "Aku hanya ingin kita lebih terbuka. Kalau ada hal yang mengganggu pikiran Tetsuya, atau sebaliknya, bukankah lebih baik kalau kita bicarakan saja secara langsung tanpa rahasia?"
Mata Tetsuya mengerjap pelan ketika ibu jari Seijuurou dengan lembut mengusap rona merah saus dari sudut bibirnya. Oke, kali ini ia tidak bisa mengelak. Bersadarkan kenyataan yang tersaji, Tetsuya memang bersalah. Ia kalah telak, skak mat. Dan perkataan Seijuurou barusan terasa begitu benar. Tepat mengenai satu titik, dimana ego membuat Tetsuya selalu kabur setiap kali masalah datang menerpa. Ia bukan pengecut. Hanya saja Tetsuya tidak suka jika mereka mesti beradu argumen, atau membuat Seijuurou menjauh karena malas meladeninya.
(Huh, bukankah dengan cara begini, ia malah membuat hubungan mereka semakin renggang seakan terpisahkan oleh jurang?)
"Hatiku serasa diremas kuat waktu melihat Seijuurou-san menghela napas lelah setiap kali kita selesai berdebat. Jadi, aku terpaksa melarikan diri agar tidak mendengarmu mengucapkan kalimat yang paling aku benci." Di saat begitu, sesungguhnya Tetsuya paling takut mendengar kata berpisah meluncur dari mulut Seijuurou—dan dalam keadaan kalut setelah melihat Seijuurou bersama orang lain, dia mengucapkannya terlebih dulu dengan dalih agar perih tidak terlalu terasa di hati.
Seijuurou mempererat tautan jemari mereka, lalu kembali bicara. "Hei, itu karena aku takut membuat Tetsuya terluka. Jujur saja, aku sungguh bingung waktu Tetsuya minta putus tanpa penjelasan apapun."
"Benarkah?"
Seorang Akashi Seijuurou galau hanya karena tingkah labil Kuroko Tetsuya? Padahal kalau mau, ia tinggal memilih antrian panjang pelamar yang rela menjadi pendamping hidup salah satu the most wanted bachelor di seantero Tokyo.
(Mau bagaimana lagi? Orang bilang cinta pertama memang tidak pernah mati, walau itu berarti membuat mereka berdua merasa seperti hampir mati.)
"Makanya, jangan lakukan itu lagi..." tubuh Seijuurou condong hanya untuk mengusap sisi kepala Tetsuya. "Kalau ada problema dalam hubungan kita, berjanjilah untuk membicarakannya secara terbuka. Bagaimana menurutmu? Tidak perlu ada acara melarikan diri lagi?"
Tetsuya menatap lurus pada dua mata serupa rubi milik Seijuurou. Laki-laki itu selalu bisa membuatnya melakukan hal-hal di luar kendali, namun di saat bersamaan, Tetsuya merasakan nyaman tak terdefinisi. "Ummh, o~ke..." katanya dengan bibir mengerucut malu. "Aku janji, kita baikan."
"Good." Seijuurou terlihat lega. Seolah beban berat di pundaknya terangkat sudah, atau ini seperti terbebas dari sembelit berkepanjangan yang sangat menyiksa...
"Jadi, apa aku berhutang permintaan maaf pada Seijuurou-san?"
Seijuurou menoleh dari fokusnya memandangi barisan payung pantai tertiup angin selatan. "Itu kalau Tetsuya tidak keberatan." Oke, Akashi Seijuurou, kau memang tidak pernah diajarkan untuk merendahkan diri di hadapan siapapun oleh ayahmu, tapi Shiori selalu menanamkan satu hal, bahwa jika memang kau bersalah, segeralah minta maaf pada orang yang bersangkutan. Dan Seijuurou rasa, ia juga ikut andil dalam menciptakan kesalahpahaman di antara mereka.
Minta maaf tidaklah menjatuhkan harga diri, tidak juga membuat dosa.
Setelah memantapkan hati, Seijuurou membuka mulut tanpa memperhatikan kalau Tetsuya ternyata melakukan hal sama.
"Kalau begitu, maaf ya, Seijuurou-san."
"Tetsuya, aku minta maaf."
Kalimat mereka bercampur dengan bising pengunjung dan gemuruh samar gelombang air laut membentur karang. Keduanya lalu saling menatap dengan wajah absurd setelah sadar kalau mereka mengucapkan kata maaf secara bersamaan.
"Huh? Hahaha...!" Tetsuya tertawa paling pertama begitu moment terkejut tadi terlewat. Ia nyaris tersedak, sewaktu kekeh Seijuurou menyusul kemudian. Sudut-sudut matanya berair, dan perut Tetsuya berdesir aneh saat sadar kalau hanya dirinya yang mendapat kehormatan untuk melihat Akashi Seijuurou dalam mode semacam ini.
Begitu lepas, begitu carefree.
Begitu bahagia.
Tetsuya berjanji dalam hati, mulai sekarang ia akan berusaha memperbaiki semua. Ia ingin menjadi pasangan yang baik—kalau bisa sempurna—bagi Seijuurou, dan semoga saja Tuhan mengizinkan mereka untuk tetap bersama, walau usia mereka tidak lagi muda.
"Setelah ini apa?"
"Kembali ke hotel saja. Kita masih punya sekitar lima hari tersisa untuk sightseeing."
"Eeeh?!" Makanan dalam mulut Tetsuya hampir menyembur keluar waktu mendengar jawaban santai Seijuurou. Hotel? Apa ini undangan untuk mengajaknya 'berduel' di atas ranjang? Semacam make up sex setelah bertengkar, begitu?
Tangan Seijuurou menepuk-nepuk puncak kepala Tetsuya penuh sayang. "Berhenti berpikir mesum, baby. Aku hanya ingin istirahat sebentar, tidur kalau bisa. Apa Tetsuya tidak lihat daya mataku hanya tinggal beberapa watt? Aku baru sampai tadi pagi, dan langsung mengawasi gerak-gerikmu dari lobi hotel. Terima kasih pada sunglass dan fedora-ku, sepertinya aku punya bakat jadi detektif, benar?"
Tulang pipi Tetsuya tersapu warna merah muda pekat, "Seijuurou-san yang mesum, dan benar apa kataku, dasar penguntit!"
Setelahnya, mereka berjalan kaki menuju penginapan seraya berpegangan tangan. Tubuh keduanya lekat, dan lengkung senyum tak pernah mau meninggalkan bibir Tetsuya saat mereka berbincang mengenai apa saja di sepanjang perjalanan kembali.
.
.
"Iya, bu. Tolong bilang pada nii-san agar jangan khawatir berlebihan. Aku, maksudku, kami baik-baik saja di sini... Seijuurou-san juga sekaligus liburan." Tetsuya berbicara sangat pelan di salah satu sudut butik. Beberapa pengunjung dan seorang pramuniaga melempar tatap penasaran ke arahnya—ah, mungkin karena ia menggunakan bahasa yang terdengar bagai bahasa alien di telinga mereka. "Oke, nanti kita bicara lagi. Aku sayang ibu, bye."
"Sudah selesai?" Seijuurou menerima ponsel yang disodorkan Tetsuya. "Padahal aku masih ingin berbincang dengan okaa-san."
"Tidak perlu. Aku hanya berniat menanyakan ukuran kaki ibu, tapi malah diceramahi panjang lebar. Lagipula, nanti Seijuurou-san malah bergosip yang tidak jelas dengan ibu—tentangku."
"Hmm, Tetsuya kelewat percaya diri sekali, ya?" Tangan Seijuurou mengulurkan dua tas karton besar pada Tetsuya—hadiah untuk para ibu—lalu membimbingnya keluar dari butik sandal handmade Capri ternama yang berdiri di sepanjang Via Camarelle. Seijuurou memandang pada wajah bosan pemuda di sampingnya. "Ada tempat spesifik yang ingin kau datangi?"
"Banyak. Tapi kita tadi bangun kesiangan, dan hal itu sudah merusak jadwalku."
Nyatanya setelah kembali dari acara 'rujuk' kemarin, Seijuurou malah tertidur bagaikan mayat. Ia baru bangun ketika makan malam sudah terlewat, dan mesti rela dipapah Tetsuya menuju meja makan untuk melahap hidangan sederhana—atas jasa room service hotel tempat mereka menginap. Selesainya, ia malah ikut tertidur pulas di kamar suite Seijuurou. Tetsuya pasrah saja saat dijadikan teddy bear dadakan, karena tidur Seijuurou terlihat damai sewaktu ia mendekapnya erat.
(Mereka terbangun keesokan hari ketika matahari telah tinggi, dan waktu sudah tidak lagi pagi.)
"Salah Tetsuya karena terlalu nyaman untuk dipeluk, aku jadi tidak ingin bangun." Ia meraih kepala Tetsuya dari samping, lalu mengecup puncak rambut seharum vanilla. "Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita cari kedai pizza, lalu setelah itu kuantar ke beberapa tempat yang ingin Tetsuya tuju, deal?
Mata biru muda berbinar ceria, tawaran semacam ini tentunya tidak boleh dilewatkan begitu saja, bukan?
"Okay, deal."
.
.
Dan Tetsuya benar-benar menyeret Seijuurou ke semua titik wisata yang bisa ia tuju pada hari itu. Berpose mesra dengan latar belakang bangunan-bangunan klasik bersejarah di sana, memotret interior artistik dari kedai gelato juga pizza, atau mengabadikan diri bersama pemandangan alam pulau berupa laut sebening kaca plus gugusan apik batu-batu karang raksasa.
(Tunggu saja murka Chihiro saat Tetsuya mengunggah foto-foto mereka ke akun media sosial pribadinya. Ha, tapi Seijuurou tidak peduli juga!)
"Ah, airnya lumayan hangat Seijuurou-san!"
Setelah melepas ransel dan sepatu lalu meninggalkan mereka di atas pasir, Tetsuya segera saja berlari lurus menuju riak ombak yang berlomba menjilati kaki-kaki telanjang. Ia menjerit girang sewaktu tubuhnya nyaris limbung karena terbawa gelombang.
"Tetsuya yakin mau berenang, hei... senja sudah datang, lebih baik kita pulang."
Pantai rahasia itu tersembunyi di antara batu-batu karang besar pada satu sudut Marina Piccola. Dengan air yang jika siang hari memiliki gradasi warna hijau dan biru serupa bening permata. Perlu usaha lebih untuk sampai ke sini, karena mereka mesti melewati medan yang lumayan sulit. Dan mungkin beberapa orang pernah kemari setelah tanpa sengaja menemukan hidden beach ini—untungnya keadaan sekarang sudah sangat sepi, tanpa kehadiran satupun manusia menginterupsi. Terima kasih pada jiwa berpetualang Tetsuya, ia berhasil menemukan tempat menarik yang hampir terlewat, jika saja mata mereka tidak waspada.
"Ayolah, Seijuurou-san!" Tetsuya berlari menghampiri Seijuurou yang masih setia berdiri di atas pasir, enggan bergabung bersamanya. "Terkena sedikit air laut, tidak akan merusak kulitmu..." tanpa aba-aba, Tetsuya melucuti kaus berwarna krim dari tubuhnya. Gemerincing campanella(3) mengisi udara saat bel mungil berhias zircon merah di pergelangan tangannya bersinggungan dengan material kaus. Seijuurou sengaja membeli sepasang sewaktu mereka mengunjungi toko perhiasan yang membuat campanella sebagai memento istimewa sekaligus lucky charm dari Capri. Miliknya sama-sama dari perak, hanya saja dipenuhi zircon biru sebagai penghias.
Baru mulut Seijuurou hendak membuka untuk melancarkan godaan karena tak tahan mendapat suguhan berupa puncak dada merah muda Tetsuya—hei, dia sungguh ingin mengisap mereka bagai dot bayi—pemuda itu keburu melakukan aksi berani selanjutnya. Celana selutut sudah bergabung tanpa dosa bersama kaus dan barang-barang hasil belanja di dekat kaki Seijuurou.
Oke, Seijuurou kecil, jangan bangun sekarang, kau masih berada di luar ruangan...
(Mana dia bisa!)
Mendapati Tetsuya kini berdiri nyaris telanjang di hadapan adalah sebuah cobaan. Kalau bukan karena celana bikini hitam yang menjadi bahan penutup selangkangan, mungkin Seijuurou bakal mengira pemuda itu adalah keturunan Aphrodite yang tengah terdampar dan tidak sabar untuk segera dapat belaian.
Ah, kapan terakhir kali mereka tidur satu ranjang? Tadi malam—tapi tanpa ada kejadian berarti. Sudah dua bulan mereka rehat, dan tidak ada salahnya jika Seijuurou berharap banyak dari honeymoon jadi-jadian mereka sekarang ini. Dia bebas memonopoli Tetsuya sesuka hati, tanpa ada gangguan dari manusia setengah zombie yang sering dipanggil Chihiro-nii.
(Entah bagaimana, wejangan Shiori akan larangan 'membuahi' Tetsuya selama mereka belum menikah, bergaung lagi di kepala. Duh, kenapa juga di saat-saat genting semacam ini kalimat sang Ibu malah berputar bagaikan mantra? Apa di dompetnya masih ada alat kontrasepsi bersegel tersisa?)
Mata Seijuurou fokus menatap bokong bulat-padat Tetsuya yang sibuk memantul-mantul—seakan membujuknya agar mau bergabung—ketika dia kembali berlari kecil menuju hamparan air jernih yang tersiram cahaya matahari dari barat lewat sela-sela karang raksasa.
Seijuurou panas dingin menahan diri. Ini benar-benar di luar kendali.
"Ini memang bukan pantai pribadi seperti milik kebanyakan private beach club... tapi sensasinya hampir serupa, iya 'kan Seijuurou-san?" Tubuh dan rambut Tetsuya sudah basah semua. Garis-garis samar cahaya awal senja membuat ia terlihat berkilau bagai tersepuh emas dari kejauhan.
"Kau memang sudah menyiapkan diri, huh?" Dua tangan Seijuurou bersedekap seraya menonton aksi Tetsuya dengan seringai puas terulas di bibir. Mungkin ini memang semacam fetish, namun ia paling suka jika Tetsuya berinisiatif untuk menggodanya terlebih dulu. Tingkah agresif berbalut gestur 'sok' polos sanggup membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Padahal Tetsuya tahu kalau Seijuurou paling tidak tahan dipancing macam begini. Dan pemuda itu malah terang-terangan menabuh genderang perang, tanpa peduli pada konsekuensinya nanti.
Bola mata Tetsuya berputar malas, tangan berkacak pinggang seakan memamerkan outfit mini yang melekat bagai kulit kedua. "Kita ada di pulau dengan pantai indah mengelilingi. Seijuurou-san ingin aku pakai apa? Mantel hujan?"
"Aku tidak rela jika orang lain melihat tubuh mulus Tetsuya. Hei, berenang pakai mantel terdengar cukup bagus juga."
"Tidak lucu, Seijuurou-san. Cepat kemari sebelum aku menyeretmu dengan tanganku sendiri..."
"Aw, kinky..."
Dan tidak ada lagi yang dapat Seijuurou lakukan, selain memenuhi keinginan 'absolut' sang tuan putri. Polo shirt abu-abu dan celana selutut sudah ikut terhampar di dekat pakaian milik Tetsuya, menyisakan swimming trunks hitam pas tubuh yang tidak dapat menutupi gurat-gurat otot bak adonis miliknya. Menyisihkan waktu untuk berkencan dengan gym di setiap akhir pekan ternyata tidak pernah berdusta, mereka sungguh memiliki efek luar biasa. Otot-otot lengan, perut dan pahanya terbentuk sempurna, dan ooh, apa ia baru saja melihat liur imajiner menetes dari sudut mulut Tetsuya?
"Berhenti membayangkan hal-hal aneh dengan tubuhku, kau sudah sering melakukan itu tahu..." Seijuurou melakukan sedikit peregangan dan membiarkan dirinya beradaptasi sejenak dengan suhu air, sebelum mulai berjalan perlahan menuju perairan dangkal tempat dimana Tetsuya berada. Kaki-kakinya tergelitik oleh tekstur pasir dan bebatuan bulat mungil yang terlihat di dasar pantai.
"Seijuurou-san juga sudah menyiapkan semua tapi tak mau mengaku..."
Pinggang ramping Tetsuya diraih, tubuh mereka sudah separuh terbenam di dalam air. "Berjaga-jaga tidak ada salahnya 'kan? Kesempatan semacam ini tidak boleh dilewatkan begitu saja..." mata Seijuurou mengintip lewat satu celah karang, dan menyimpulkan bahwa keberadaan mereka cukup tersembunyi dari penglihatan kapal-kapal yang masih berlayar di sekitar perairan Marina Piccola.
Kedua tangan Tetsuya otomatis mencengkram manja bahu Seijuurou. Aroma segar lemon dari stand kecil penjual limoncelo tadi, samar-samar masih tertinggal di tubuh mereka. Tanpa sadar, hidung Tetsuya sudah sampai di pangkal leher Seijuurou, lalu mengendusnya.
"Jangan menggodaku, tolong."
"Tidak, aku hanya ingin begini, sebentar saja..." wajah Tetsuya buru-buru menengadah dengan mata terpejam.
Seijuurou tersenyum kecil menyadari posisi mereka mirip koala dan induknya. Ia lalu menunduk untuk mengecup dahi, juga pucuk hidung mancung Tetsuya, membiarkan detak jantung mereka berlomba dengan deru gelombang memecah garis pantai.
"Tidak mau menciumku tepat di sini?" Bibir seranum stroberi sedikit membuka, lalu ditunjuk Tetsuya tanpa merasa dosa.
Tawaran tadi terdengar bagai bisik manis iblis di telinga, menghancurkan dinding iman dan segala metode bertahan dari godaan setan. Seijuurou bukanlah eksibisionis, namun kalau ia lepas kendali, bukan tidak mungkin mereka bakal berakhir dengan tubuh telanjang bertumpuk di atas pasir, puas penuh ekstasi.
"Kau yang minta."
Di bawah payungan senja, ibu jari Seijuurou bergerak untuk mengusap bibir bawah Tetsuya penuh afeksi. Ia lalu mengapit kenyal daging tadi di antara deret gigi seri, mengulum dan mengisap dengan akurasi hingga sanggup membuat Tetsuya melenguh bak sapi. Pemuda berambut biru segera saja larut dalam cumbu, tepat ketika lidah mereka mulai beradu. Seluruh tubuh Tetsuya serasa diserang ribuan kupu-kupu, bergetar lembut menikmati ciuman mereka yang bagai lumeran madu.
Seijuurou mengerang pelan waktu merasakan cengkraman putus asa Tetsuya pada tengkuknya. Ia memang posesif, tapi mendapati fakta kalau Tetsuya jauh lebih posesif ketimbang dirinya, entah kenapa hal itu membuat Seijuurou bahagia.
"Ngaahh, Seijuurou-san..."
Tetsuya merajuk lirih ketika jemari badung Seijuurou meremas gemas dua bantalan bokong padatnya dalam air, lalu menguleni mereka seperti adonan kue. Senyum nakal terulas saat tonjolan merah muda di dada Tetsuya mulai mengeras dan berulang kali menggeseki kulitnya.
"Ini salahmu karena membuat pertahananku runtuh. Ayo sekarang tanggung jawab..." tambah parah saja ia memainkan titik-titik sensitif di Tubuh Tetsuya. Leher dan sebelah telinga bahkan tak luput dari serangan maut berupa gigit dan kecup sepanas bara.
"Tidak mau... ahh, dasar Seijuurou-san mesum..."
Tanpa peringatan, tiba-tiba saja wajah Seijuurou terkena percikan air. Tetsuya tertawa keras melihat adegan tadi. Sebelah tangan kembali meraih permukaan air asin lalu segera mengibaskan mereka bak melontarkan peluru bening ke arah lawannya.
"Apa-apaan, hei, hentikan, Tetsuya!"
"Rasakan... hahaha..." ia berkelit untuk melepaskan diri dari tubuh mereka yang masih berpeluk, dan langsung terkekeh geli begitu mendapati rambut dan wajah Seijuurou sudah basah akibat perbuatannya.
"Kau benar-benar minta dihukum ya?!"
Tetsuya susah payah berlari menjauh menuju perairan lebih dalam, demi berusaha menghindari murka Seijuurou yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Tidak! Lepaskan akuuu, please?! Hahaha, jangan... ahh!"
Mereka menabrak air cukup keras sewaktu Tetsuya hilang keseimbangan dan membawa serta Seijuurou yang tengah menggenggam lengannya. Dua kaki Tetsuya dengan lincah mendorong air untuk berenang ke permukaan. Ia terbatuk sebentar, namun langsung tertawa geli saat melihat Seijuurou sibuk menyeka wajah, juga rambut merah basah ke belakang kepala.
Untuk beberapa detik, Tetsuya mesti terpana melihat makhluk Tuhan di hadapan. Akashi Seijuurou sungguh ilegal. Seharusnya jelmaan iblis setampan dia tidak diperbolehkan bebas berkeliaran karena dapat melemahkan iman. Ah, 'kan... perut bawah Tetsuya jadi berdesir tidak nyaman...
Sadar kalau pandangan Tetsuya serasa menembus tempurung kepala, Seijuurou segera saja berenang mendekati si rambut biru muda. "Ada apa? Kau terluka?" Tubuh mungil direngkuh lalu dibawa lagi menuju perairan dangkal. Wajah Tetsuya memerah, apa dia mendadak demam? Apa tubuhnya tergores karang atau pecahan kulit kerang sewaktu mereka jatuh ke air dengan keras tadi?
Sebuah gelengan singkat menjadi jawaban, tubuh Tetsuya bergerak otomatis menempel pada dada bidang Seijuurou untuk menyembunyikan wajah memerah karena malu.
"Hei, ada apa?"
Kali ini tidak perlu jawaban verbal sebagai tanda, perubahan yang terjadi pada tubuh Tetsuya sudah menjelaskan semua. Gundukan di balik sepotong bikini hitam ternyata mulai bangun tanpa diminta. "Gomen..." bisikan lirih terhalang oleh dada, jemari mungil segera mencengkram punggung telanjang Seijuurou setengah putus asa.
Oh, shiit. Ternyata bukan cuma Seijuurou yang excited di sini. Yess!
"Heh, lihat siapa yang suka berkata 'Seijuurou-san mesum', padahal dirinya sendiri begini?"
"Ayo kembali ke hotel saja, please..." rajuk Tetsuya hampir tanpa suara.
Seijuurou terkekeh. "Dengan keadaan horny begini?" Ia sengaja menabrakkan selangkangannya pada perut bawah Tetsuya. "Nope, tunggulah sebentar di sini..." tergesa, ia berjalan menghampiri pakaian mereka yang terserak di atas pasir. Seijuurou mencari-cari dompet dalam saku celana, dan hampir bersorak bahagia saat mendapati bungkusan kecil persegi mendekam manis di pojok rahasia dompetnya. Sebagai pacar terbaik, ia selalu berjaga-jaga kalau saja Tetsuya minta adu gulat secara tiba-tiba.
"Ta-tapi ini outdoor, kalau ada yang melihat bagaimana?!" Tetsuya berkata begitu, namun ia menurut saja saat dibimbing Seijuurou ke salah satu sudut tersembunyi dari pandangan dunia. Airnya hanya mencapai tulang kering mereka, dan kebetulan keadaan sudah remang hampir tanpa cahaya.
"Biar mereka tahu kalau Tetsuya hanya milikku. Berbaliklah," keseriusan terpantul pada kedua bola mata miliknya, dan ia tahu jika Seijuurou tidak pernah setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu.
"Sudah kuduga kalau Seijuurou-san benar-benar menyiapkan ini semua, huh?"
Yang dituduh cuma tersenyum penuh arti dan tidak banyak berkata lagi.
Batu besar bagai dinding penghalang menjadi tumpuan kedua tangan, ia nyaris mendesah saat Seijuurou mendekapnya dari belakang. Rona merah segar merayapi pipi hingga telinga, begitu celah bokong Tetsuya digesek benda besar dan keras—yang hanya terhalang minim pakaian renang.
"Tetsuya bisa merasakan kalau aku juga excited 'kan? Hanya Tetsuya yang sanggup membuatku jadi seperti ini..." bisik rendah bak desis ular menembus dua gendang telinga, merangsang Tetsuya hingga ke titik maksimum pertahanan manusia. Geligi Seijuurou bermain-main di telinga dan lehernya. Lidah sepanas bara merambat dari tengkuk sampai ke barisan tulang belakang, terus menjilat dan terpaksa berhenti karena terhalang satu-satunya busana.
"Ukh, Sei-Seijuurou-san!"
Bagian belakang bikini disingkap, jari telunjuk Seijuurou masuk untuk menyapa kerutan merah muda yang berkedut liar seakan gembira karena mereka kembali bersua setelah sekian lama. Ia menggigit gemas bongkah daging bulat di depan mata, dan juluran lidah langsung saja menyerang pada titik paling sensitif dari tubuh Tetsuya. Seijuurou sibuk membasahi lorong sempit itu dengan saliva agar rileks sewaktu nanti menerima intrusi darinya.
Tubuh mungil berjengit kaget, mata terbelalak lebar menahan diri dari erangan yang melolosi bibir. Tetsuya berusaha tetap berdiri walau nafsu terus saja berupaya melemaskan kedua kaki, memaksanya menyerah pada gravitasi. Ia bersusah payah menumpu tubuh pada batu besar di hadapan, mencoba untuk tidak menggerakkan pinggulnya ke arah kepala Seijuurou.
"Kau sungguh erotis, baby..." Seijuurou memukul pelan sebelah pipi bokong Tetsuya, lalu bergegas berdiri. Diturunkannya karet swimming trunks demi membebaskan ereksi, memijat perlahan untuk mengetes seberapa keras dia, menikmati bahwa Tetsuya tengah mencuri pandang ke arah belakang dengan wajah merah dan napas tersengal. Bungkus karet pengaman berpelumas dirobek dengan gigi, ia lumayan terkejut ketika jemari mungil tiba-tiba merebut alat kontrasepsi itu dari tangan Seijuurou. Dengan telaten, Tetsuya memasang lateks ukuran besar melewati kepala serupa jamur merah muda, walau tak sampai ke pangkalnya.
"Selesai." Senyum seduktif mengulas, ia menepuk batang besar mirip zucchini itu seperti menepuk kepala Nigou yang menurut saja ketika dipakaikan baju-baju lucu.
Seijuurou menahan kekehan, dan meraih pinggang Tetsuya posesif. "Belum, kita baru mau mulai di sini..." tubuhnya dibalik kembali menghadap batu besar, dan penetrasi segera dilakukan. "Aku masuk, Tetsuya..."
Bibir digigit untuk menahan diri dari gelombang birahi. Walau mereka sudah beberapa kali melakukan kegiatan sejenis, tapi entah kenapa, ini selalu saja bagai yang pertama bagi Tetsuya. Mulai dari rasa sakit dan penolakan sewaktu awal dimasuki, sampai debaran jantung yang menggila karena adrenalin mengalir deras dalam setiap pembuluh nadi.
Seijuurou mengerang, separuh lega, separuh lagi menahan nyeri akibat diremat terlalu kuat.
"God, it's so tight, kau menghimpitku sangat erat..."
Tubuh Tetsuya yang semula membungkuk karena menahan dorongan juga tarikan di belakang, dipaksa Seijuurou untuk menegak. Sebelah kaki yang gemetaran, diangkat untuk memudahkan ia mendapatkan posisi g-spot Tetsuya. Puting keras dijamah jemari nakal, kedua titik itu lalu dicubiti atau dijepit dengan gerakan lambat. Mulutnya langsung saja membuat tanda kepemilikan berupa ruam-ruam ungu di kulit sekitar leher dan bahu.
"Uumhh, Seijuurou-san, stop..."
Gema kulit basah yang saling menampar, tersamar oleh gelombang air memecah garis pantai. Seijuurou tanpa ampun terus menyerang letak kelenjar nikmat Tetsuya, membuat pemuda itu mendesah dan memohon agar Seijuurou berhenti, karena ia sudah tidak sanggup lagi. Sebelah tangan Tetsuya mengusap kelaminnya yang menyelinap dari celah bikini, sementara tangan yang lain berusaha mencengkram lengan Seijuurou dengan sekuat hati.
"Ber, ah, berhenti sebentar, kalau tidak aku akan, nanti aku aah, akan..."
"Kau minta berhenti, tapi malah merangsang dirimu sendiri, che, egois sekali..."
Kepala Tetsuya menengadah ke belakang untuk bertumpu pada bahu Seijuurou. Kedua matanya basah, wajahnya semerah udang dijerang air panas, dan bibir itu terus membuka untuk mengeluarkan rajuk manja atau gumam lemah betapa ia sudah tidak tahan lagi ingin segera keluar.
Seijuurou membungkam erang nista dengan satu lumatan panas. Lidah mereka membelit, tangannya lalu bergerak dari pinggang menuju organ merah muda yang mengacung di antara paha Tetsuya.
"Keluarkan sekarang, ayo..."
Dan rasa panas sekaligus geli yang sejak tadi berkumpul di perut bawah, segera saja menjalar bak tumpahan bensin tersulut api. Ibu jari Seijuurou mengusap lubang kecil yang terus mengeluarkan cecair bening lengket dari sana. Tubuh mungil serasa meletup bagai bunga api saat dihantam gelombang demi gelombang ejakulasi.
"Angghh! Iku, iku...!" Tetsuya mendesah panik sewaktu orgasme datang mendera. Ia membiarkan Seijuurou menopang massa tubuhnya, sementara ia menikmati sisa-sisa euforia dengan mata terpejam dan kening berkerut dalam. Masih gemetaran, Tetsuya menunduk untuk melihat kalau lelehan kental seputih susu telah mengotori sebelah tangan Seijuurou.
"Heh, aku selalu suka melihat wajah priceless Tetsuya sewaktu keluar, tapi masih ada urusan penting yang belum selesai di sini..."
"Uhh, apa Seijuurou-san belum~"
Tetsuya mengerang saat pinggang ramping dibimbing untuk kembali bergerak, tubuh lelah lagi-lagi terhentak akibat ulah orang di belakangnya. Ia dapat mendengar dengan jelas geraman Seijuurou di telinga, dan yakin kalau pria tampan itu sudah hampir mencapai batasnya.
"Tetsuya, akh, kuso...!" Leher penuh ruam dijadikan peredam desah penuh kelegaan. Tetsuya menggumam lirih sewaktu tubuhnya didekap erat dan ia bisa merasakan kalau semen Seijuurou keluar sangat banyak dalam tampungan karet pengaman.
Beberapa detik berlalu diiringi riuh suara alam dan napas tersengal yang mulai mereda.
"Dingin..." keluh Tetsuya kemudian, walau beberapa saat lalu suhu tubuhnya setara orang dilanda demam.
Seijuurou segera memutus tautan di antara mereka, lalu memapah Tetsuya menuju hamparan pasir untuk sekedar merebahkan diri. Langit kelam mulai terhampar di atas kepala. Bulan bundar musim panas muncul bersama kelap-kelip bintang perak yang tersebar acak di kejauhan.
"Well, tadi itu fantastis." Seijuurou buka suara terlebih dulu, sedikit keras demi mengalahkan deru ombak yang pecah di garis pantai. Ia menoleh untuk menatap wajah damai Tetsuya yang berbaring menggunakan lengannya sebagai bantalan. Pipi mulus disentuh penuh afeksi, Seijuurou tiba-tiba saja merasa kalau perselisihan mereka kemarin sama sekali tidak mendatangkan rugi.
"Uh-huh, dan sekarang bagian bawah tubuhku terasa kebas, terima kasih banyak kuucapkan padamu Mister Akashi Seijuurou..."
Seijuurou tergelak pelan saat mendengar kelakar Tetsuya yang sarat akan sarkasme dalam setiap kata.
"I love you too, Kuroko soon to be Akashi Tetsuya-san..."
Tetsuya menoleh untuk menampakkan bola mata serupa kilau aquamarine. Ia tersenyum manis, lalu mendekatkan wajahnya, dan memberi bibir Seijuurou satu kecup mesra.
"Same, i love you so much."
Mereka menghabiskan sisa waktu—sebelum kembali ke penginapan—di antara gemerisik pasir dan riak air menyapu pesisir. Tetsuya membiarkan Seijuurou menciumnya untuk yang kesekian kali di bawah luas langit malam bertabur kelip bintang.
Ia ingin waktu berhenti.
Karena dengan begitu, momen ini akan terasa bagai selamanya, tidak pernah mati.
.
.
"Ah, omong-omong, bagaimana caranya kita kembali ke penginapan?"
"Oh, tidak... kau benar."
"Dan lagi, ini sudah gelap."
"Yaah, kita akan pikirkan itu nanti."
.
.
FIN
.
.
1. Pergola: sejenis kanopi untuk melindungi dari silau atau panas matahari.
2. Penne: jenis pasta berbentuk tabung
3. Campanella: bahasa Italia buat bel kecil.
A/N: Argh, kenapa AkaKuro jadi eksibisionis?! *mengubur diri di pasir* anggap aja mereka gak masuk angin gara-gara main di air, hahaha... Maafkeun karena lama sekali diposting, trus panjang banget lagi. Mudah-mudahan masih ada yang berkenan baca (ps: yang anti lemon jangan marah, en mohon dilewat adegan akhir-akhir... btw, Iku itu artinya coming, hahaha pernah denger dari drama cd ini... hohoho ^0^) Entah kenapa saya senang sekali bikin AkaKuro salah paham, terus baikan (lalu bertanya-tanya pada diri sendiri) -_-
Dan sankyu untuk yang telah membaca, atau me-review cerita ini, i really-really appreciate it! ^_^ Kalau begitu sampai jumpa lagi di cerita lain, ciao!
