.
.
.
The Liar
Disclaimer: Amano Akira
Story by: Aoi The Cielo
Rated: K+ atau mungkin T
Genre: Friendship, Romance.
Pair: HayatoxTsuna, TakeshixHayato, HibarixTsuna
WARNING! BL(BOYS LOVE) BOYXBOY! YAOI! OOC, AU, Typo(s), dll...
.
.
.
Ruangan besar dengan cahaya dari lampu yang menerangi membuat deretan pakaian yang telah tersusun rapi terlihat menarik mata. Beberapa menekin yang mengenakan sempel baju terlihat memamerkan bagaimana cara memadukan pakaian yang terlihat keren dan good looking. Namun, kenyataan bahwa hari telah beranjak malam membuat ruangan besar yang penuh dengan pakaian itu terlihat sepi dari pengunjung. Terutama bagian pakaian laki-laki. Hanya terlihat 2 orang laki-laki saja di sana. Berdiri tegap sambil sesekali melihat-lihat pakaian yang tergantung rapi di tempatnya.
Memantapkan hati dan pikiran, sosok pria berpakaian formal itu melangkah dengan pasti menuju kedua pelanggan setia Toko pakaian ini. Senyuman bisnis merekah di belahan bibir merah itu. Pelanggan adalah pelanggan—bukan pembeli adalah raja. Tidak perduli dari golongan mana, yang terpenting Tsuna harus melayani mereka semaksimal mungkin.
"Sumimaesen Hibari-sama, Kusakabe-san," kedua mahluk itu menoleh ke sumber suara. Menatap sosok yang akan membantu mereka memilih pakaian. "Senang bisa bertemu dengan Anda kembali," ucapnya lalu sedikit membungkuk sopan.
Kusakabe tersenyum melihat prilaku itu, ditambah dengan penampilan dan wajah sang Sawada... Oh, pria yang baru dikenalnya semalam ini terlihat serba bisa. "Yamamoto-san, kau benar-benar berbakat menjadi penjaga Toko, bohong bila baru kali ini melakukannya," ucapnya kagum.
Tsuna tersenyum canggung mendengarnya seraya menegabkan tubuh kembali. Entah itu pujian atau hinaan. "Err... Tidak benar-benar sekali. Sebelum menjadi pegawai kantoran, dulu pernah kerja serabutan. Termasuk menjadi penjaga Toko," akunya jujur. Yah... Saat SMA Tsuna pernah part time jadi penjaga Toko. Dan sekarang ia hanya meniru tingkah beberapa pelayan yang sering melayaninya di beberapa Butik langganan di Tokyo.
"Kau sangat profesional."
Tsuna tersenyum seraya meggaruk pipinya. "Kusakabe-san terlalu memuji," ucapnya canggung. Lalu ia kembali fokus memandang sang Hibari. Tsuna menelan liur paksa. Si reven hanya diam seraya menatapnya dengan pandangan yang menusuk. "Hibari-sama dan Kusakabe-san, apa yang kalian berdua ingin kenakan? Pakaian santai atau formal kah?" tanyanya sopan.
"Kyo-san lah yang ingin berbelanja," jawan Kusakabe—sukses membuat alis Tsuna terangkat. Kyo-san? Ah... Kyoya? Hibari Kyoya? Sepertinya Kusakabe bukan hanya sebagai Tangan Kanan, tetapi menjadi sosok yang sangat dekat dengan si bungsu Hibari ini. Mereka teman yang akrab sepertinya.
"Wakatta," Tsuna mengangguk. "Hibari-sama, apakah ada jenis pakaian yang Anda inginkan? Atau mau saya merekomendasikan beberapa pakaian yang menurut saya, sangat cocok untuk Anda?" tanya Tsuna sopan—bersikap profesional meski hanya dihadiahi deathglare yang sukses membuatnya tersenyum kaku. Uh... Apa salahnya?
"Bukan untuk Kyo-san, tetapi untuk orang lain," ucap Kusakabe—mengkoreksi.
"Go, gomen, saya tidak tahu," Tsuna menelan liur paksa. Pantas ia dikasih deathglare geratisan.
Kusakabe menggelengkan kepalanya. "Daijobu, ini kali pertama kau melayani kami, sikapmu sudah baik, Yamamoto-san," ucapnya. Lalu, secarik kertas diberikan, membuat Tsuna mau tidak mau mengambil kertas yang berisikan tulisan dan angka. "Itu ukuran dan jumlah pakaian yang ingin dibeli. Kali ini kami ingin pakaian santai, untuk bermain. Di sana sudah tertera yang mana untuk perempuan dan laki-laki kan?"
Tsuna membaca kertas itu sekilas, lalu mengangguk. "Ee, saya mengerti," sebuah senyuman tulus mengembang di belahan bibir itu. Entah bagaimana, dada sang Sawada menjadi terasa hangat saat menyadari apa yang si reven ini inginkan. "Akan saya pilihkan yang terbaik," ucapnya sungguh-sungguh. Semua pakaian yang ingin dibeli Hibari Kyoya merupakan pakaian anak-anak, dalam jumlah banyak dengan berbagai ukuran. Bahkan ada pakaian bayi. Hanya satu hal yang ada di dalam pikiran si brunette.
Hibari Kyoya... Bukanlah orang yang jahat.
.
.
.
Pria dengan sepasang iris hazel yang lembut itu terlihat serius membandingkan pakaian yang satu dengan pakaian yang lain. Helai kecoklatan membingkai wajahnya yang diantara cantik dan tampan. Ekspresinya dengan mudah berubah-ubah. Terkadang alisnya terpaut lucu, terkadang bibirnya membentuk senyuman, atau bahkan wajahnya mendadak terlihat kaget dan dengan lincah tubuh yang hanya setinggi 170cm itu berlari ke bagian lain ruangan sambil membawa keranjang berisi pakaian—yah, efek samping tidak memiliki troli, membuat pria berpakaian formal itu harus menyeret-nyeret keranjang yang berisikan banyak pakaian. Dan anehnya, sosok itu sedikit pun terlihat tidak kewalahan. Ia menghendel sendiri pakaian-pakaian itu, para pelayan perempuan yang lain hanya kedapatan menyusun beberapa pakaian yang sudah dibuat berantakan karena memilih pakaian oleh si brunette.
Kyoya sungguh tidak mengerti kenapa sepasang metalnya tidak bisa lepas memandang si brunette. Pria yang mengenakan setelan formal itu terlalu ekspresif untuk pria seumurannya, namun harus diakui bahwa irisnya justru tidak bisa teralihkan dari sosok yang entah bagaimana... Terliat sangat menarik itu.
Yamamoto Sora hanya salah satu dari sekian banyak orang yang pernah tersesat ke kotanya dan sulit untuk pulang. Namun diantara orang-orang yang lain, entah kenapa si brunette jauh lebih mudah bergaul dan membaur dengan sekitarnya. Sangat mudah menebak bahwa dalam hitungan detik banyak yang menyukainya. Bibirnya yang dengan mudah menyuguhkan senyuman, ekspresinya yang menanggapi setiap percakapan, tutur kata dan gerak tubuhnya yang saling mendukung... Entah kenapa, hal itu benar-benar tidak luput dari pandangan si bungsu Hibari. Terlebih kenyataan bahwa pria yang 1 tahun lebih tua darinya itu sudah 2 kali menghindari tonfanya...
Sebuah seringai merekah di belahan bibir tipis itu. Si Yamamoto itu bilang bahwa ia memiliki insting yang tajam. Yah... Selayaknya seekor Herbivore yang memanfaatkan insting demi menyelamatkan nyawa dari serangan Carnivore, Kyoya dengan mudah mempercayai ucapan si brunette. Tetapi... Bagaimana bila sedikit tes?
Akan sangat menarik bila sosok yang sedang sibuk sendiri itu dikerjai kan? Entah setan apa yang memasuki pria tampan ini, sebuah ide mendadak memasuki kepalanya—membuatnya tanpa pikir panjang merealisasikannya secara langsung.
Mengambil sebuah pakaian dari tempatnya dan melepaskan hanger yang bertugas menggantung kemeja pria itu, Kyoya menatap sasarannya yang tengah membaca kertas yang diberikan Kusakabe. Bibir itu bergumam lalu menconteng kertas dengan pena yang ada di dalam saku jasnya.
Wush!
Plak!
Binggo!
"Ky—Kyo-san!?"
Kyoya tidak bisa menahan seringainya saat mendengar pekikan kaget diiringi ringisan saat hanger yang ia lempar tepat mengenai kepala brunette itu. Mengumpat seraya memegang kepalanya, sosok bermarga Sawada itu memandang sekelilingnya dengan ekspresi galak. Dan saat sosok berpakaian formal itu berbalik untuk menatap tepat ke sepasang iris metal yang tengah menyeringai puas...
Wajah si Herbivore memerah sempurna. Si brunette terlihat akan mengeluarkan sumpah serapah, namun ia justru memalingkan wajah. Bergumam seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit lalu melanjutkan aksinya untuk memilih pakaian.
Kyoya tertegu. Bukan... Bukan karena ia marah. Justru mendadak merasakan sesuatu yang berbeda. Ribuan kupu-kupu seolah hinggab di perutnya—memberikan sentuhan seringan bulu yang membuatnya merasa melayang. Bagaikan terhipnotis, sedikit pun tidak ada yang dapat ia pikirkan selain sosok pria yang tengah menjalankan tugasnya itu. Apa... Ini? Kenapa ia merasa senang dengan reaksi tadi?
Kusakabe panik. Ia yang dari tadi di samping bungsu Hibari ini sukses kaget atas tindakan yang tiba-tiba dilakukan Bossnya. Sungguh tidak sopan dan berkesan kekanakan. Apa yang sebenarnya Kyoya pikirkan? Untuk apa melakukan tindakan seperti anak SD mencuri perhatian tadi? "Kyo—" Kusakabe bungkam. Sepasang matanya menatap fokus iris yang sedikit pun tidak teralihkan itu.
Ah... Ia tahu Hibari Kyoya tidak akan mendengarkannya sama sekali. Bingung, sang Tangan Kanan menoleh ke arah pandang si reven, alisnya terangkat lalu kembali memandang Kyoya. Dan seolah bisa membaca situasi dengan baik, Kusakabe Tetsuya hanya dapat menghela nafas lelah. Ia tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya.
.
.
.
"Semuanya sudah saya pisahkan yang untuk perempuan dan laki-laki," ucap Tsuna seraya tersenyum menatap kedua pria yang memborong pakaian di Toko yang ia kelola. Kedua pria itu telah membayar belanjaannya dan Tsuna—dibantu beberapa pegawai lain—telah selesai mengepak semua belanjaan dengan rapi. Kusakabe mengangguk mendengar ucapan Tsuna. Tanpa diminta, Tsuna justru melakukan hal yang mereka inginkan. "Apakah ada lagi yang perlu saya bantu?" tawarnya. Sepasang hazel itu berkilat, kelewat semangat menyadari semua pakaian ini untuk anak-anak. Oh, seandainya ia punya uang, Tsuna sudah pasti mau ikut nebeng menyumbangkan.
"Iie, ini sudah lebih dari cukup," jawab Kusakabe lalu mulai mengangkat 2 kardus besar berisikan pakaian. Tsuna yang melihatnya refleks langsung mengitari meja kasir dan mengambil salah satu kardus.
"Biar saya bantu."
"Tidak perlu Yamamoto-san," tolak Kusakabe geli. Tsuna menggeleng. Satu kardus sudah berada di tangannya dan kardus yang full ini lumayan berat. Bagaimana bisa ia membiarkan Kusakabe membawa sendirian kedua kardus ini? Apa lagi ini di lantai 2 sementara parkiran berada di bawah tanah.
"Iie, anggab saja service tambahan," ucapnya mantap. Kusakabe menghela nafas mendengarnya.
"Tidak perlu repot-repot, aku sudah—"
"Keras kepala."
Deg!
Tsuna membatu saat tiba-tiba punggungnya menyentuh sesuatu yang hangat. Tubuhnya menegang saat mendadak sepasang tangan putih muncul dari belakang tubuhnya dan dengan gerakan pelan namun pasti, tangan putih itu memegang kardus besar yang dibawa sang brunette.
Dan ribuan kupu-kupu seolah menghinggapi perutnya—memberikan singal yang sukses membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Kepalanya terasa kosong dan berputar—kelewat panik dan kaget atas apa yang baru saja sosok reven itu lakukan. Mereka terlalu dekat dan entah kenapa... Jantungnya benar-benar terasa tidak tenang. Tsuna merinding saat tangannya nyaris bersentuhan dengan tangan putih yang mengambil alih kardus yang tadi diambilnya.
"Jangan bertingkah, Herbivore," ucap Kyoya dingin lalu menaruh kardus yang dibawanya di atas tumpukan kardus yang dibawa Kusakabe. Dan tanpa banyak berbicara lagi, sosok yang mengenakan jas dan kemeja ungu itu melangkah pergi diiringi dengan Kusakabe yang langsung memohon undur diri lalu mulai mengekori Bossnya kembali.
"A...," Tsuna membuka mulutnya. Kepalanya masih meloading kejadian beberapa detik yang lalu—yang entah kenapa, terasa bagaikan seribu abad. Tubuhnya masih berdiri tegak di depan meja kasir dengan wajah yang memerah sempurna. "A—"
APA-APAAN TADI ITU!?
Dan kenapa Tsuna merasa deg-degan!? Si brunette refleks memegang kedua pipinya yang masih terasa panas. A, astaga... Pasti ada yang salah dengan otaknya! Ya, Tsuna yakin ada yang salah dengan otaknya. Mungkin karena ia kelelahan? Menggelengkan kepala dengan tidak percaya, si brunette mencoba mengenyahkan perasaan asing yang mendadak muncul itu. Ia harus melanjutkan pekerjaannya. Fokus Tsuna... Fokus...
.
.
.
"Yamamoto-sama, jaa ne!"
"Ee, Jaa!"
Tsuna tersenyum seraya melambaikan tangannya melihat 5 orang pegawai Toko Sasagawa izin untuk segera pulang. 5 orang perempuan cantik itu berjalan memunggungi Tsuna seraya mulai bercakap-cakap dan secara berlahan, mulai menghilang dari pandangan saat kelimanya berbelok ke tikungan. Yah... Hari sudah pukul 11 malam. Kelima perempuan itu berteriak senang saat Tsuna menyelesaikan pembukuan dengan cepat. Biasanya mereka bahkan sampai jam 12 bila pembeli sedang ramai. Belum lagi bukankah hari ini ada barang masuk? Mau tidak mau pekerjaan ekstra ini akan memakan waktu sampai jam 1. Namun Sawada Tsunayoshi mengerjakannya dengan kelewat cepat—meski para pegawai jadi kelabakan karena pergerakan cepat pria Sawada itu memerintah—tetapi hasil yang diberikan sangatlah nyata. Tsuna menghela nafas. Tubuh berbalut kemeja putih dengan rompi hitam dan celana hitamnya membuatnya dengan mudah merasakan angin malam. Well, tidak mungkin juga Tsuna mau pulang dengan menggunakan tuksedo kan? Rasanya terlalu aneh bila menggunakannya di jalan.
Menghela nafas berat, Tsuna menoleh ke belakangnya dan memandang gedung besar yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ia berbalik, memandang lebih fokus kegagahan bangunan terbesar di kota ini. Rasanya ia sangat mengerti kenapa Mall ini susah sekali mendapat izin. Peraturan ketat dan sikap anti sosial klan Hibari benar-benar mempersulit dokumen yang diperlukan, namun... Yah, berkat kegigihan pegawainya yang sangat menginginkan keberadaan Mall ini di lingkungan Namimori, mereka berhasil mendapat kelengkapan izin. Kabar bagusnya, Vongola menjadi satu-satunya Mall di kota kecil ini.
Sepasang hazel itu menyendu saat teringat dengan penuhnya toko-toko yang tersaji di dalam gedung itu. Pakaian, salon, perlengkapan make-up, taman hiburan kecil, makanan—hampir semua yang diinginkan ada di dalam gedung ini. Yah... Hanya satu hal penting yang bagusnya, tidak ada di dalam Mall ini. Kelengkapan pangan. Ya, klan Hibari melarang pihak Mall menjual kelengkapan pangan demi menjaga pasar tetap stabil dan perebutan konsumen tidak terjadi.
Oh, sungguh, benar-benar keputusan yang bijak. Memikirkannya saja sudah membuat Tsuna tidak bisa berhenti tersenyum. Ah... Satu lagi sisi yang membuat Tsuna merasa Hibari Kyoya bukanlah sosok yang benar-benar jahat. Pria itu justru bertingkah layaknya pemimpin yang baik. Ya... Benar-benar baik dan mencintai tanah ini dengan tepat walau dirasa... Pajak Mall ini memanglah kelewat mahal untuk sebuah kota kecil seperti ini.
.
.
.
Tubuh berbalut kemeja putih itu terdiam. Wajah manis dengan helai coklat berantakan itu terlihat memucat horror memandang jalan sepi yang ada di depannya. Tidak ada siapapun. Tidak ada apapun selain tembok rumah yang membentuk jalan di sisi kanan dan kirinya. Di labirin perumahan ini hanya ada dirinya seorang bersama beberapa tiang lampu jalan yang menyala.
Di, DIMANA INI!?
Tsuna panik. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung. A, ASTAGA! Demi apapun itu, masa' dirinya tersesat lagi!? Sumpah, Tsuna benar-benar merasa penyakit buta arahnya sangat berbahaya. Yang lebih parah dari itu, kenyataan bahwa ia tidak bisa meminta tolong ke siapapun membuatnya semakin panik. Kenapa baru jam setengah 12 semua orang sudah tidur!?
Dan lagi...
Tsuna menelan liur paksa. Kok tempat ini rasanya seram sekali ya? Kenapa rasanya tengkuknya merinding terus? Melirik ke kanan dan kiri, Tsuna memilih berjalan dengan berlahan sambil memandang sekitarnya dengan awas. Sepi, tidak ada siapapun, hanya dinding-dinding tinggi pagar beton dan lampu-lampu rumah yang sudah dimatikanlah yang dapat ia lihat. Okay, Tsuna mulai parno. Rasa-rasanya seperti akan ada makhluk menyeramkan yang mendadak muncul.
Deg!
Jantung Tsuna terasa mencelos saat bayangan mayat yang kemarin ia lihat muncul di dalam kepalanya. Tubuh yang putih pucat, dengan linangan cairan kental berwarna gelap. Aroma busuk yang mengeluar bersamaan dengan wajah yang telah hancur.
Bruk!
Tubuh berbalut kemeja putih itu jatuh terduduk di atas tanah saat mendadak energinya terasa menghilang. Nafas si brunette terengah dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Wajah Tsuna memucat saat merasakan debaran jantungnya kian tidak tenang. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Bayangan itu terus muncul di dalam kepalanya—di depan matanya. Mayat itu berada di sana. Tepat di sampingnya.
Tidak...
Sang mayat bergerak. Menoleh ke arahnya dengan mata yang tertutup. Bagaikan sebuah tangisan, sosok itu mengeluarkan air mata berwarna gelap diringi aroma busuk yang membuat perut sang Sawada terasa diaduk. Rahang yang bergeser itu bergerak diiringi mulut yang—dengan bibir pecah dan belatung yang memenuhi rongga mulut—terbuka.
Tidak...
"To... hgh...," sebuah suara terdengar. Serak diiringi rintihan memilukan. Tsuna menggeretakkan giginya. Geraman itu terdengar—diringi uluran tangan dengan kulit yang kotor dan mengelupas. "Tohh... thholong..."
Tsuna menggelengkan kepalanya seraya memejamkan kedua mata. Kedua tangannya menutup kuping dengan rapat. Tidak! Tidak! Ini ilusi—ini hanya ilusi! Tsuna menggeram saat rintihan itu semakin terdengar dan justru, bayangan itu semakin terasa nyata saat ia mencoba menulikan pendengaran dan membutakan pandangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Deg!
Tsuna refeks membuka matanya saat mendengar suara itu. Ia mendongak dan mendapati sosok jangkung berdiri tepat di depan matanya. Sosok pria dengan wajah tampan yang terukir oleh helai revennya itu menunduk memandang ke arahnya. Hazel Tsuna membola saat mendapati sepasang metal fokus memandang matanya. Dalam hitungan detik, kepalanya dengan mudah mencerna siapa yang berdiri di depannya.
"Hi, Hibari-sama?" gumam Tsuna—menyebutkan sosok yang beberapa jam lalu ia temui. Perasaan lega menghinggapi dada sang brunette. Wajah yang memucat dengan keringat dingin yang membasahi pelipis itu benar-benar merasa ingin menangis.
Dengan di latar belakangi cahaya bulan yang bersinar di atas sana, sepasang iris coklat itu dapat dengan jelas melihat helai hitam yang membingkai wajah tampan itu. Kulit seputih pualam terlihat berpendar redup, dengan sepasang iris kelabu yang menatap lurus ke arahnya. Tsuna menelan liur paksa saat bayangan sang bungsu Hibari benar-benar mengalihkan pandangannya dari taburan bintang dan keindahan bulan yang menghiasi langit malam. Bagaimana bisa matanya memandang sosok Hibari Kyoya sebagai... Malaikat?
"Apa yang kau lakukan di sini, Herbivore?" tanya Kyoya—mengulang pertanyaannya. Tsuna tersentak dan refleks menunduk. Dapat ia rasakan wajahnya terasa panas. Astaga... Apa yang ia lihat tadi? Menelan liur gugup, ia menggosok belakang tengkuknya.
"Umn... Aku tersesat," akunya jujur. "Aku tidak tahu aku di mana...," Yah, Tsuna baru sehari di sini dan lagi ia buta arah, mana mungkin kan bisa hafal jalanan di sini? Yang terparah... Satu-satunya alasan kenapa ia bisa di Vongola Mall hanya karena Ryouhei dan Kyoko mengantarnya. "Apa Hibari-sama tahu di mana kediaman Sasagawa?" tanyanya ragu.
Apakah Hibari akan membantunya? Entahlah... Tsuna tidak terlalu banyak berharap akan hal ini. Kyoya mungkin bukan tipe orang yang sangat jahat, namun tetap saja. Dirinya orang asing, terlebih ia adalah orang luar, bagaimana mungkin bungsu Hibari ini mau menaruh sedikit belas kasihan atau perhatian kepada dirinya?
"Berdiri."
"Eh?" Tsuna refleks kembali mendongak. Irisnya memandang si reven yang masih setia berdiri menjulang di depannya. Bingung, alis Tsuna terpaut, namun beberapa detik kemudian dengan mudah otaknya menangkap apa maksud si reven. Menelan liur paksa, si brunette langsung mencoba bangkit berdiri.
"Eh? Loh?" sepasang hazel itu mengerjab bingung. Alisnya mengernyit saat menyadari kedua kakinya yang terasa lemas seperti agar-agar. "Loh? K, kok?" Tsuna memucat. Kedua kakinya gemetar. Bahkan tangannya sendiri masih gemetar. "Hibari-sama," Tsuna menelan liur paksa. Entah kenapa ia benar-benar merasa dirinya sangat merepotkan. Uh... Jelas, Hibari Kyoya tidak mungkin akan berbaik hati lebih dari ini. "Go, gomenasai, sepertinya aku—Hiiee!?"
Tsuna refleks langsung menutup mulutnya dengan tangan saat tahu-tahu tubuhnya melayang ke udara. Sepasang iris coklat itu memandang tidak percaya tubuhnya yang tiba-tiba dengan mudah dibopong.
A, ASTAGA! AKU DIANGKAT ALA PENGANTIN!?
"Hi, Hibari-sama! Aku bisa—"
"Diam!"
Tsuna bungkam. Pemberontakannya berakhir begitu saja saat sepasang metal menatapnya dengan tajam. U, uh... Dari jarak sedekat ini, mata Kyoya benar-benar terlihat menakutkan. Menelan liur paksa, Tsuna menunduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia pasrah sekarang, dan beraharap tidak ada seorang pun yang melihat mereka.
Demi apapun yang ada di dunia ini... Tsuna bersumpah ia benar-benar malu. Ia hampir kepala tiga dan bisa-bisanya... Digendong ala pengantin. Sawada Tsunayoshi, 28 tahun, lajang, salah satu pimpinan Vongola Crop, bisa dengan mudah membanting orang dan melawan penjahat dengan tangan kosong tetapi tunduk dan gemetar ketakutan hanya karena mendapat ancaman dari sepasang iris metal yang tajam itu. Okay, fix. Tsuna benar-benar ingin mengubur dirinya hidup-hidup sekarang.
.
.
.
Ting Tong.
Perempuan berhelai orange yang mengenakan jaket putih dan masker itu dengan segera melangkah menuju pintu. Celana jins dengan pakaian tebal, Sasagawa Kyoko sudah siap untuk pergi bersama Niisannya untuk menjemput sayuran, namun, mereka harus menunggu sang tamu pulang lebih dahulu. Yah... Bungsu Sasagawa ini terkena flu gara-gara kemarin seharian bekerja. Menjaga Toko dan menemani Niisannya mengantar Sayur. Well, berkat Tsuna, sekarang pekerjaannya jauh terasa lebih ringan. Terlebih kenyataan bahwa Tsuna adalah tipe yang mudah menangkap semua penjelasannya. Jelas, si brunette sudah ahli dalam bidang ini.
Kyoko tersenyum. Ia tidak sabar menanyai tentang hari pertama bekerja sang tamu. Apa lagi hari ini jadwal rutin Hibari untuk berbelanja. Bagaimana reaksi Yamamoto-san ya? Kyoko benar-benar penasaran dengan cara Tsuna melayani tamu specialnya itu.
Ceklek.
"Oka—Eh?" Kyoko mengerjab bingung saat mendapati sosok lain lah yang berada di depan pintunya. Alisnya mengernyit melihat sang reven berdiri di depan pintu rumahnya. "Hibari—astaga! Yamamoto-san!" Kyoko panik saat sadar sosok reven itu membopong pemuda yang dikenalinya. Dengan segera perempuan berhelai panjang itu mendekati Tsuna—membantu pemuda brunette yang baru saja diturunkan dari gendongan sang Hibari untuk berdiri. "Yamamoto-san, ada apa? Kau—"
"Ja, jangan melihatku, Kyoko-san," sela Tsuna. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan sementara tangan yang satunya mencegah Kyoko untuk lebih mendekat. "Ku, kumohon... Biarkan aku sendiri," pintanya. Dan tanpa menatap ke arah Kyoko atau Kyoya, Tsuna langsung membungkuk. "Arigatou Hibari-sama," dan dengan kecepatan cahaya, si brunette langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Sang Tuan Rumah menatap kepergian Tamunya dengan bingung. Tidak sopan sebenarnya, tetapi apa mau dikata? Ketimbang memikirkan Etika, Kyoko lebih mengkhawatirkan apa yang terjadi dengan pria itu.
"Ano...," kembali menatap sang reven, sepasang iris senja itu memandang bertanya kepada sosok yang pasti mengetahui apa yang terjadi. "Sebenarnya apa yang terjadi, Hibari-sama?" tanya Kyoko bingung. Baru beberapa jam mengobrol dan mengenal Yamamoto Sora, Kyoko yakin ada hal aneh yang terjadi dengan pria itu.
Kyoya hanya diam mendengar pertanyaan itu. Ia menatap ke arah bagian dalam rumah dari pintu yang masih terbuka, lalu mendengus. "Berikan peta kepada Herbivore itu, dia tidak tahu jalan pulang," ucapnya lalu berbalik dan melangkah pergi.
Kyoko mengernyitkan alis mendengarnya. Tidak tahu jalan pulang? Ah! Sepasang matanya membulat—tidak percaya dengan informasi yang diberikan si reven. Benar juga! Bukankah jarak dari sini ke Vongola Mall lumayan jauh? Dan lagi... Astaga! Mana mungkin Yamamoto langsung hafal jalan pulang!
Merutuki sifat bodohnya, Kyoko benar-benar sangat berterimakasih dengan Penjaga Keamanan kotanya itu. Menghela nafas lega, bungsu Sasagawa lebih memilih masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu mendapati Kyoya telah pergi begitu saja meninggalkan kediamannya. Nanti, ia akan meminta peta kota dengan Ryouhei yang masih keluar karena menjemput pacarnya— Hana. Haah... Harusnya ia menyadari ini lebih awal. Bahwa orang yang mudah menghafal jalan sekali pun pasti akan tersesat bila hanya sekali ke rumahnya dan lagi, sedikit pun tidak dijelaskan arah ke rumahnya ini. Ya ampun... Sasagawa Kyoko benar-benar melakukan hal fatal.
Tetapi...
Perempuan cantik itu mengernyitkan alisnya.
Kenapa Yamamoto-san tadi dibopong?
.
.
.
AAAAAAAHHHHHH!
Tsuna membekap wajahnya yang memerah sempurna dengan bantal. Ia memeluk bantalnya dengan gemas, lalu berguling-guling di atas singel bed guna melampiaskan perasaan di dadanya yang meletup-letup. Oh astaga! Astaga! Astaga! Dimana harga dirinya sebaga lelaki!? Dimana harga dirinya sebagai pria dewasa!? Tsuna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak! Tidak! Tidak! Ia tidak boleh memikirkan Hibari Kyoya!
Plak!
Memukul pipi dengan kedua tangannya sendiri, Tsuna memantapkan hatinya. Dengan segera ia melepaskan bantal yang dipeluknya dan langsung membereskan kasur yang mendadak berantakan gara-gara aksi brutalnya tadi. Tidak... Tsuna harus berpikir jernih. Ia harus berpikir secara rasional. Ya, ia harus dalam mode tenang agar dapat melakukan semuanya dengan baik.
Selesai membereskan kasur, Tsuna langsung melepaskan kemeja dan celananya. Ia mengenakan celana pendek dan kaos oblong yang tadi pagi diberikan Lambo. Senyumannya merekah. Ia hanya memiliki 3 baju sekarang. Setelan jas miliknya, setelan tuksedo yang diberikan Kyoko, juga setelan pakaian santai yang diberikan Lambo. Well, ini tidak buruk. Setidaknya ia memiliki lebih dari 1 pakaian.
Bruk!
Menghempaskan tubuh di atas singel badnya, Tsuna menatap langit-langit kamar barunya dengan pandangan menerawang. Ah... Semuanya berubah terlalu cepat. Ini baru sehari, namun entah kenapa terasa seperti 1000 tahun baginya. Aneh... Padahal biasanya waktu berjalan terlalu cepat di sekitarnya. Seringkali, setiap ia bekerja pasti tahu-tahu sudah jam makan siang—atau makan malam. Atau bahkan tanpa sadar, Hayato sudah mengetuk pintu kamarnya dan mengajak sarapan.
Tsuna mendengus. Mendadak ia teringat dengan ucapan Yamamoto Takeshi kemarin pagi—saat pemuda jangkung dengan helai reven itu memasuki ruangannya begitu saja. Saat itu Hayato tidak ada—sekretarisnya pergi untuk memesan beberapa cemilan yang wajib dimakan Tsuna. Well, Tsuna ada magg dan sosok yang merasa seperti ibu itu bersikap sigab dengan mencegah agar Tsuna tidak sakit.
"Malam ini aku akan melamar Hayato."
Dunia terasa hancur saat itu. Tanah tempatnya berpijak mendadak hilang saat Takeshi mengatakannya sambil tersenyum senang. Kilat kebahagiaan yang terpancar dari iris sewarna susu coklat itu sedikit pun tidak tergambar di sepasang manik hazel Tsuna. Tsuna hanya dapat memaksakan senyumannya. Memasang topeng bahwa ia turut antusias. Lalu mereka sama-sama merencanakan berbagai macam hal... Seperti Tsuna yang akan pulang cepat hingga Hayato dapat pulang juga dan pergi makan malam romantis bersama Takeshi. Lalu saat mereka makan malam, pemuda itu akan membawanya ke puncak gedung—memamerkan keindahan malam yang bertabur lampu Tokyo di bawah mereka.
Ah...
Bagaimana dengan lamaran Takeshi?
Tsuna menggigit bibir bawahnya. Mendadak otaknya dengan mudah mencerna dan membaca situasi. Tsuna menghilang di malam itu, mungkin Hayato baru menyadarinya saat Fuuta sudah di rumah? Fuuta selalu pulang jam 11 dan... Dan bukankah itu jam yang pas untuk melamar Hayato? Di atas gedung bertingkat tinggi, bernaung lautan gemerlap lampu Tokyo dan keindah bintang yang tersaji di atasnya...
Tetapi bagaimana bila Fuuta menelfon saat Hayato akan memberikan jawabannya?
Tsuna memejamkan kedua matanya seraya menarik nafas panjang. Dapat ia rasakan perasaan sesak kembali terasa menindih dadanya. Tidak... Ia tidak boleh memikirkan apapun. Ia diberikan kesempatan untuk menjauh dari Hayato, jadi lebih baik ia memanfaat waktu seperti ini untuk menghilangkan perasaannya kan? Tidak perduli apakah jawaban Hayato tertunda atau tidak, bukankah sudah pasti mereka akan menikah?
Menggeretekkan giginya, dapat ia rasakan dadanya terasa bergemuruh. Jarum-jarum kecil seolah menusuk jantungnya. Dan... Ia tidak suka dengan hal ini. Menelan liur paksa, Tsuna mencoba memikirkan hal lain. Semua yang terjadi hari ini—hari tanpa ada Hayato di sekelilingnya. Hari dimana... Ia bertemu dengan klan Hibari dan terjebak di dalam kurungan sang reven. Tsuna tersenyum. Semoga besok ia tidak bertemu dengan Hibari Kyoya—
Hibari... Kyoya?
Sepasang hazel itu kembali terbuka. Bagaikan ditampar oleh kenyataan, wajah itu memucat dengan cepat saat menyadari hal fatal yang telah ia lakukan. Otaknya memikirkan hal itu dengan cepat saat menyadari sesuatu yang seharunya tidak boleh ia lakukan.
Tidak seharusnya Tsuna dekat dengan Kusakabe Tetsuya atau pun Hibari Kyoya. Ya, seharusnya interaksi mereka se-minim mungkin. Bagaimana bisa Tsuna lupa bahwa ia tengah menyamar? Dan bila sampai ia ketahuan sebagai pemimpin Vongola crop...
Tsuna menelan liur paksa.
Jangankan 1 bulan, 1 tahun pun Tsuna ragu ia diperbolehkan keluar. Dan prilaku warga yang begitu hangat kepadanya pasti juga akan berubah. Sasagawa bersaudara akan memecat dan mengusirnya dari sini. Tidak ada yang akan menerimanya di sini namun ia tetap harus berada di kota kecil ini—dibuat menderita dan mati secara berlahan. Semua ini karena ia sudah memalsukan identitasnya dan sekarang, 100% Tsuna yakin Hayato tengah membuat identitas palsu untuknya. Oh bagus, bagus sekali... Si brunette mengacak rambutnya dengan frustasi. Besok ia harus menghindari mereka. Terlalu berbahaya bila di dekat kedua makhluk itu. Semoga saja mereka tidak datang lagi ke Vongola Mall. Ya, semoga...
.
.
.
Membaca kertas yang ada di tangannya dengan serius seraya sesekali memandang tumpukan pakaian dan menghitungnya, pria bertubuh tegap itu hanya diam. Berkonsentrasi dengan apa yang ia lakukan di ruangan terang yang penuh dengan beberapa pakaian yang menumpuk dan terlipat di dalam lemari.
Tsuna tersenyum. Tidak ada pakaian yang cacat tadi. Well, bisa saja ada beberapa pakaian yang dimakan tikus kan? Atau kotor karena bungkus pelastiknya terbuka. Bukan hal bagus bila itu terjadi. Menghela nafas, Tsuna merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Hari ini ia harus ke Bank untuk menyetor uang. Agak mengagetkan sebenarnya bahwa ia dipercaya untuk menyiapkan hal tersebut, namun yah... Tsuna tidak bisa menolaknya. Ia senang, karena Sasagawa Kyoko mempercayainya. Meskipun itu... Yah, sejujurnya, terasa sangat janggal. Tsuna tidak tahu apakah keluarga Sasagawa benar-benar tulus mempercayainya atau hanya... Mengetes? Entahlah. Sungguh, si brunette hanya ingin sedikit mengikuti alur ini dengan berlahan dan hati-hati. Ia orang baru dan hal yang aneh orang baru mendapakan kepercayaan semudah dan secepat ini.
"Ne, I-pin," Tsuna menoleh—memandang salah satu pegawai yang baru saja masuk dan terlihat mencari beberapa ukuran pakaian. Sosok perempuan berkepang dua itu menoleh ke arah Tsuna yang melepaskan jasnya. "Aku akan pergi ke Bank," ucapnya menjelaskan.
I-pin mengangguk. "Hai' Wakatta Yamamoto-sama," ucapnya kalem seraya tersenyum lalu lanjut mencari sesuatu di tumpukan lipatan pakaian yang tersusun rapi. Tsuna menggaruk pipinya melihat betapa konsentrasinya pegawai termuda ini. Yah... Toko baru saja buka dan pengunjung belum lah banyak. Belajar dari pengalaman kemarin, Tsuna 100% yakin Toko akan ramai saat sore atau jam makan siang.
"Ne... Bisa kau menemaniku, I-pin?"
"Eh?" I-pin refleks kembali menoleh ke araha Boss barunya. Alisnya terangkat bingung sebelum akhirnya beberapa detik kemudian sebuah senyuma merekah di bibirnya. Ah... Benar juga. Bukankah Bossnya ini orang luar? "Ee,tentu," ucapnya ramah dan Tsuna yang mendengarnya hanya bisa membalasnya dengan senyuman terimakasih.
.
.
.
Sepasang iris hazel itu tidak berhenti memandang sekelilingnya dengan senang. Dengan ditemani gadis manis pemandu jalan yang jago kung fu—menurut info dari Kyoko—Tsuna yang menenteng ransel penuh uang dengan santai menikmati pemandangan di sekitarnya.
Mereka melewati pasar yang ramai. Beberapa Ruko tersusun rapi di kanan dan kiri jalan. Tidak ada kendaraan bermotor karena memang terlarang untuk daerah ini, namun keramaian yang tercipta membuat jalanan terasa sempit. Yah... Ini pagi hari. Banyak daging dan sayuran segar berdatangan dan mayoritas kaum ibu-ibu yang berkumpul memperebutkan bahan pangan yang terbaik dengan harga yang bisa ditawar.
"Rasanya seperti jalan-jalan," aku Tsuna jujur. Ia memandang sekitarnya dengan penuh minat. Semuanya terasa asing dan baru di matanya. Yah... berbeda dengan Tokyo, tempat ini jauh lebih tradisional. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit atau bisingnya suara kendaraan bermotor. Udara juga jauh lebih segar tanpa adanya polusi.
I-Pin yang mendengar ucapan Tsuna terkekeh. Gadis mungil yang berjalan beriringan dengan pria brunette itu mengangguk setuju. "Yamamoto-sama baru kali ini benar-benar berkeliling ne?" ucapnya.
"Ee," Tsuna mengangguk membenarkan. Secara berlahan, mereka mulai meninggalkan lingkungan Pasar. Sekarang bagian tempat yang lebih menyerupai tempat nongkrong anak muda. Banyak Cafe, Toko Buku dan beberapa Bakery. Tsuna tersenyum. Ternyata ada juga tempat seperti ini. "Oh ya, apa Sasagawa bersaudara hanya satu-satunya mobil pengangkut sayur?" tanya Tsuna penasaran.
"Iie," I-pin menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan itu. "Ada sekitar 5 keluarga yang lain juga, tetapi yah... Hanya 5, tidak lebih atau kurang," jawab I-pin. Tsuna bergumam mendengarnya. Hanya 5... Berarti setiap hari tidak ada libur? Terlebih bila di hari besar, sudah pasti mereka yang bertugas membawa bahan pangan jadi pihak pertama yang akan sangat kerepotan.
"Kyoko-san dan Niisan pasti sangat kerepotan, terlebih Kyoko-san juga punya Toko sebesar itu di Mall," gumam Tsuna seraya menghela nafas lelah. I-pin tersenyum mendengarnya. Wajar bila Tsuna berfikir seperti itu.
"Daijobu, pihak Keamanan selalu membantu bila kami kerepotan," ucapnya kalem—sukses membuat si brunette menoleh ke sampingnya. Alis Tsuna terangkat bingung—menuntut penjelasan. "Yamamoto-sama lihat orang-orang yang mengenakan jas?" I-pin menunjuk salah satu orang yang memakai jas—membuat Tsuna mau tidak mau mengikut arah tunjuk gadis mungil itu. Ah... Benar. Banyak laki-laki berjas bila dipikir-pikir. Mereka hilir mudik—menyatu dengan pejalan kaki yang lain hingga membuat Tsuna nyaris tidak menyadari bahwa mereka kelewat sering terlihat di matanya. "Mereka adalah Penjaga Keamanan Namimori."
"Eh!?"
"Ehehehe... Keren kan?" ucap I-pin bangga. "Mereka sangat baik, menjaga keamanan Kota dan yang terpenting, sering membantu kami. Apa lagi saat mendekati hari perayaan. Nah, mereka lah yang sering membantu. Memang, pajak yang ditanggung lumayan tinggi, tetapi yah... Hasil yang Klan Hibari-sama berikan sangat memuaskan," jelasnya.
Tsun tersenyum mendengarnya. Irisnya memandang sekitar di mana beberapa pria yang mengenakan jas hitam berkeliaran. Dalam sekali lihat saja Tsuna menyadari bahwa jas yang mereka kenakan merupakan jas anti peluru. Ah... Bahkan dalam keadaan apapun, mereka tetap siaga ne?
"Tetapi sebagai gantinya, kami susah untuk mendapatkan izin ke luar. Bukannya tidak boleh keluar, tetapi memang kami harus mengurus izin. Itu demi keaman katanya, tetapi aku tidak mengerti keamanan apa," I-pin menghela nafas berat. "Itu sebabnya, di kota ini, bila ada pendatang baru, pasti rasanya sangat menyenangkan. Wajah baru, orang yang berbeda, dan yang terpenting... Cerita mereka tentang dunia luar," sebuah senyuman kembali merekah di wajah manis yang berbingkai helai gelap itu. "Yamamoto-sama, bila dipikir-pikir, Yamamoto-sama belum cerita apapun tentang tempat tinggalmu. Kau berasal dari Tokyo kan? Bukankah itu kota yang besar sekali?" dan kilat penasaran langsung terlihat dari sepasang mata yang memandang pria di sampingnya.
Tsuna tertawa melihat antusiasme pegawai Kyoko yang paling muda ini. "Yah... Tidak ada yang menarik," akunya jujur. Ketimbang memperhatikan sekitarnya, Tsuna lebih fokus dengan teman, keluarga dan pekerjaannya—membuatnya cenderung jarang benar-benar berpergian guna merilekskan tubuh selain di rumah. Sekali liburan juga Tsuna lebih memilih latihan ketimbang bermain keluar. "Bila di Tokyo, jam segini semua orang sudah sangat sibuk," akunya jujur.
"He... Di sini juga. Yamamoto-sama lihat kan tadi di pasar? Tidak ada bedanya bila itu," gerutu I-pin. Ia mengelembungkan pipinya—agak jengkel bahwa Tsuna menceritakan hal yang tidak menarik. "Misalnya taman hiburan, Mall—Ah! Bagaimaa Mall di sana? Oh ya! Bagaimana dengan Akita? Apa sama persis dengan yang di internet? Kereta bawah tanah?"
"Hmn... Mall di sana lebih banyak dan besar," aku Tsuna jujur. Dan Tsuna sedikit pun tidak berniat untuk membangun Mall di kota sebesar itu. Ia lebih memilih membangun Apartemen—dan terbukti bahwa Apartemen memang cenderung lebih 'menjual' di kota yang harga sewa tanahnya mencekik dompet kalangan menengah.
"Sudah kuduga!" gerutu I-pin. "Mall di Tokyo lebih bagus kan? Pakaian di sana? kudengar banyak sekali brand yang manis dan—"
"Oh, di sini juga tidak kalah kok, justru aku kaget karena Kyoko-san memesan beberapa brand terkenal dan menjualnya di sini," sela Tsuna. Ya, ia sendiri agak kaget karena beberapa brand yang lumayan terkenal ternyata juga dijual di tempat ini. "Memang pilihannya tidak sebanyak di Toko aslinya, tetapi beberapa memang banyak. Merk-merk yang dipesan Kyoko-san malah ada yang tidak aku tahu ternyata bahan dan kwalitasnya sebagus itu," akunya jujur.
"Benarah?"
"Ee," Tsuna mengangguk. Senyuman I-pin kian mengembang dan beberapa pertanyaan mulai muncul seiring dengan jawaban Tsuna. Oh, tidak salah Tsuna mengajak I-pin. Perempuan yang baru lulus SMA ini benar-benar menyenangkan dan mudah diajak mengobrol. Ah... Bukan hanya I-pin. Beberapa orang di kota ini juga sangat mudah diajak mengobrol. Mereka cenderung ramah dan baik. Tsuna tidak bisa berhenti tersenyum. Lingkungan yang tercipta di kota kecil ini... Benar-benar hangat. Rasanya ia jadi agak betah berada di kota ini.
.
.
.
Tsuna memucat. Tubuhnya mendadak terasa kaku saat melihat seseorang yang paling dihindarinya justru muncul begitu saja. Mungkin, satu-satunya orang yang membuat Tsuna tidak betah berada di kota ini hanyalah satu orang. Hibari Kyoya. Ya, siapa lagi bila bukan si pemegang tonfa itu? Tsuna menelan liur gugup. Ia dan I-pin baru saja selesai menyetor uang di Bank dan berencana untuk kembali ke Mall, namun... Oh, astaga! Apakah pemuda ini memang biasa berkeliaran seperti ini!?
Tsuna melirik dari ekor matanya. Ia tidak boleh terlihat menghindari Hibari Kyoya bila tidak ingin terjadi masalah. Well, ia tidak lah bodoh. Terlihat menghindari seseorang justru akan memunculkan kecurigaan. Ia harus bersikap biasa saja. Ya, bersikaplah seperti biasa Tsuna... Toh bukankah mereka berpapasan juga karena unsur ketidak sengajaan?
"Jadi bila di sini, biasanya—ah! Hi, Hibari-sama," I-pin bungkam. Gadis mungil itu refleks langsung menunduk saat tengah menjelaskan beberapa hal tentang Namimori. Pura-pura baru menyadari kehadian sang reven yang berjalan berlawanan arah dari mereka, Tsuna baru benar-benar menoleh memandang sosok berpakain jas dan berkemeja ungu gelap itu.
"Ah, Hibari-sama," gumam Tsuna seraya tersenyum. Ia menghentikan langkahnya—membuat I-pin juga menghentikan langkahnya. Gadis mungil itu melangkah agak menjauh dari Tsuna karena Bossnya, dengan sangat berani menyapa sosok yang mengeluarkan aura 'akan kubunuh' itu. Lebih parah lagi, Hibari Kyoya yang lebih cenderung mengabaikan siapapun itu menghentikan langkahnya tepat di depang sang Boss, membuat I-pin bergidik dan berdo'a di dalam hati agar Bossnya yang baik ini tidak kena cium tonfa di pagi hari.
"Ohayou, Hibari-sama," sapa Tsuna sopan dan ramah. Kyoya memandang pria yang ada di depannya dari ujung kaki sampai ujung rambut—sukses membuat si brunette merasa risih dadakan. Lalu, sepasang kelabu itu melirik ke arah I-pin yang berjalan bersama Tsuna. "Ah, dia I-pin, pegawai Kyoko-san. Aku memintanya menemaniku agar tidak tersesat lagi," info Tsuna. Dan mendadak, wajah sang brunette memanas saat teringat pertemuan terakhir mereka. A, astaga! Bisa-bisanya ia mengingat hal itu di sikon yang tidak tepat seperti ini! Tsuna berdeham—mencoba mengenyahkan ingatan memalukan semalam dari dalam kepalanya.
Alis Kyoya terangkat. Ia bahkan tidak bertanya tetapi pria ini menjelaskannya? Kyoya mendengus. Untuk apa si brunette itu memberitahunya? Dilihat juga sudah ketahuan bahwa perempuan ini hanya sebagai penunjuk arah. "Hn," gumamnya lalu melangkah meninggalkan sosok yang menyapanya dan melanjutkan patroli rutinnya.
Sawada Tsunayoshi menghela nafas lega. Yah... Setidaknya ia beruntung karena karakter dari si reven bukan tipe yang mau repot-repot diajak mengobrol, Tsuna juga sengaja tidak memancing agar mereka memiliki bahan obrolan. Setidaknya, dengan begini ia terlihat tidak menghindar kan?
"Ya, Yamamoto-sama sugoi!"
"Eh?" Tsuna refleks menoleh ke sampingnya. Iris coklatnya menatap perempuan mungil yang dengan semangat berlari mendekatinya. Sejak kapan I-pin menjauhinya? Namun ketimbang bingung dengan perempuan yang tahu-tahu sudah menjaga jarak tadi, ia lebih heran dengan kilat kagum yang terpancar dari ekspresi perempuan yang menginjak umur 18 tahun itu.
"Yamamoto-sama berani sekali menyapa Hibari-sama! Bahkan orang yang sudah lama tinggal di sini dan aku sendiri juga tidak berani menyapa, tetapi Yamamoto-sama tadi menyapa Hibari-sama!"
Tsuna membatu. Mendadak kepalanya terasa kosong saat mendengar pengakuan dan ungkapan kagum itu. Wajah si brunette kian lama kian memucat menyadari kesalahan fatal yang ia lakukan. Ma, mampus. Tahu seperti itu seharusnya ia tidak menyapa Kyoya dan berpura-pura tidak melihatnya kan? Gara-gara terlalu panik tadi, seharusnya Tsuna sadar bahwa banyak warga yang menghindari sang reven hingga memberikan akses berjalan.
"Be, begitu kah?" Tsuna tertawa canggung. Ia menangis dalam hati dan merutuki sikap sok akrabnya. Oh bagus, bukannya mencoba menghindar dengan cara halus, Tsuna justru terlihat mencoba akrab. Bagus Sawada Tsunayoshi... Kau bertindak sebelum menyadari informasi terpenting. Semua warga di sini takut dengan Hibari Kyoya dan bahkan, Tsuna yakin satu-satunya orang yang akan menyapa dan tidak menghindari sang reven hanya para anak buahnya—sang Penjaga Keamanan.
Tsuna menghela nafas berat. Bersiaplah... Untuk lebih lama berada di kota isolasi ini sebagai Yamamoto Sora, Sawada Tsunayoshi...
.
.
.
"Yamamoto-san, bagaimana menurutmu?" tanya salah satu pelanggan. Pemuda yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu baru saja keluar dari dalam box dan menunjukan apa yang dikenakannya kepada Tsuna. Tsuna tersenyum.
"Cocok, tetapi baiknya jangan dikancing semua. Anda kan anak muda, biar sedikit lebih santai, bukan 2 atau tiga kancing teratas, gunakan kaos dengan warna yang berbeda pada bagian dalam, itu akan terihat jauh lebih keren," ungkapnya jujur. "Dan bila perlu pada bagian lengan, baikanya agak sedikit digulung hingga sikut."
"Benarkah?"
"Ee, silahkan dicoba."
Dan sang pelanggan kembali masuk ke dalam Box untuk mencoba saran Tsuna. Tsuna menghela nafas lega. Setelah memutuskan hanya melayani laki-laki, beberapa perempuan terlihat kecewa dan ada yang dengan agresif memaksa. Namun toh Tsuna sudah terbiasa, ia bisa menolaknya dengan halus dan sebagai gantinya, beberapa pemuda cenderung mendatangi Toko—meminta saran trend terbaru demi menggaet gebetan baru. Haah... Dasar anak muda. Tsuna tidak bisa menahan senyumannya. Untungla selera fationnya tidak terlalu buruk. Yah, setidaknya ia lumayan sering melihat beberapa model pakaian yang terpampang ketika sedang iseng ingin pulang menggunakan kereta.
Ternyata... Hoby anehnya memperhatikan sekitar ketika sedang bosan dan memilih pakaian sendiri dari satu Butik ke Butik lain membawa dampak positif.
.
.
.
3 hari. Ya, 3 hari sudah Tsuna menjalani rutinitas barunya di tempat baru ini dan... Tidak ada kabar dari Hayato. Tsuna memeluk bantal tidurnya. Sebagai pendatang, ia dilarang untuk memegang alat komunikasi. Dalam bentuk apapun itu, bahkan ponselnya benar-benar disita dan belum dikembalikan. Hal terkahir yang ia lakukan hanyalah menghubungi Hayato di malam pertamanya di tempat ini. Si brunette menghela nafas. Iris coklatnya yang besar menatap ruangan kamarnya dengan perasaan hampa.
Ruangan berbentuk kubus ini hanya terdapat sebuah singel bed dengan sebuah lemari dan meja kayu kecil yang berada tepat di samping singel bed yang menempel dengan sudut ruangan. Terdapat sebuah jendela di kamar ini dan Tsuna membiarkan jendelanya terbuka lebar—mempersilahkan angin malam untuk masuk tanpa harus terhalang horden kamar. Dengan sengaja Tsuna mematikan lampunya—berpura-pura telah terlelap dan membiarkan satu-satunya penerangan hanya dari luar jendela.
Sunyi... Sepi... Gelap...
Mempererat pelukan ke benda empuk itu, Tsuna dengan sengaja menenggelamkan wajahnya di dalam bantal. Posisinya yang sekarang hanya terduduk di atas kasur sambil menyandarkan punggung di dinding membuatnya nyaman. Terlebih kenyataan bahwa Kyoko dan Ryouhei sudah pergi. Ah... Entah kenapa, Tsuna merasa menyesal. Seharusnya ia ikut dengan Sasagawa bersaudara. Bukankah ia sedikit pun tidak merasa lelah? Ia tidak mengantuk karena pekerjaan di Toko tidaklah menguras energi dan sekarang... Apa yang harus ia lakukan? Berdiam diri dan tidak melakukan apapun seperti ini hanya akan membuat dadanya terasa sesak. Sungguh, Tsuna tidak mau merasakan perasaan sakit dan rindu berlebih ini kembali. Ia perlu melakukan sesuatu—apapun agar bisa mengalihkan pikiran.
Tsuna melepaskan pelukannya dari bantal dan dengan segera bangkit berdiri. Pria yang menginjak umur kepala dua itu langsung berjalan menuju jendela dan menatap suasana sepi dari kamar di lantai 2 ini. Irisnya menyipit—memperhatikan langit malam yang terlihat cerah tanpa ada tanda-tanda akan hujan.
Apa sebaiknya ia sedikit maraton? Mengingat bahwa sedikit pun Tsuna tidak bisa tidur dan ia tidak melakukan apapun, ini merupakan satu-satunya opsi yang ada di otaknya. Mengambil map yang ada di atas meja, tanpa memikirkan apapun lagi si brunette langsung melangkah keluar dari dalam kamarnya.
.
.
.
Berjalan tanpa meninggalkan jejak suara, pria yang mengenakan setelah jas dengan kemeja ungu gelap itu menatap sekelilingnya dengan awas. Sepasang metalnya memandang tajam setiap pergerakan kecil yang ada di sekitarnya. Melakukan patroli rutin, Hibari Kyoya menikmati malam hari sebagai waktu yang tepat untuk berkeliling dengan leluasa. Selain karena kecenderungan insomnia yang ia miliki, malam adalah waktu dimana tidak ada keramaian dan panas matahari.
Oh, panas dan banyak berkerumun merupakan perpaduan yang buruk bagi pria reven ini. Ia membenci keramaian, ia tidak suka rasa panas yang juga akan membuat moodnya jelek. Ia tidak suka gerombolan orang-orang. Dan karena sikap seperti itulah bila di siang hari ia menemukan gerombolan orang yang sangat ramai, mood sang reven akan sangat buruk. Mengerti akan situasi, semua yang ada di jarak jalannya akan otomatis menghindar saat ia mulai melangkah—memberikan ruang agar sang Kyoya sedikit pun tak tersentuh. Bukan... Ini bukan karena Kyoya terlihat bak seorang Raja, namun lebih karena mereka takut dengan ancaman 'kamikorosu' dari bibir itu.
Namun Herbivore itu berbeda.
Ya, Yamamoto Sora berbeda dengan Herbivore yang selama ini Kyoya tahu. Baru di hari pertama saja, pria brunette itu sukses membuatnya tertarik. Makhluk yang terlihat seperti hewan kecil itu berhasil menghindari serangannya, namun tidak berhasil menghindari lemparan iseng si reven. Sepertinya jelas, apa yang sosok itu lakukan hanya karena insting. Insting bertahan hidup. Seolah-olah... Bukan kali itu ia mengalami kejadan hampir mati.
Hibari Kyoya bukanlah orang yang bodoh. Ya, Kyoya yakin ada yang disembunyikan sosok itu. Sosok yang terlihat mudah bergaul dan murah senyum itu menyembunyikan sesuatu dibalik senyuman ramahnya. Membiarkan pendatang baru tanpa pengawasan? Tidak, Kyoya tidak seceroboh itu. Ia mengawasi si brunette dan menerima laporan hampir setiap hari tentang apa yang dikerjakan oleh satu-satunya pendatang asing itu—memastikan bahwa Yamamoto Sora memanglah murni karena tersesat, bukan mata-mata dari Klan atau Yakuza lain yang berniat menyerang wilayah kekuasannya.
Namun, entah bagaimana, ketimbang memikirkan apakah Yamamoto Sora adalah mata-mata atau bukan, Kyoya jauh lebih tertrik memandang foto cetak dari hasil pengawasan anak buahnya. Ada perasaan penasaran yang mengelitiknya, ada perasaan senang saat melihat beberapa ekspresi dari si brunette, dan ada perasaan menjengkelkan saat melihat sosok itu begitu dekat dengan lawan jenisnya.
Hibari Kyoya sungguh tidak tahu apa yang tengah ia rasakan. Rasanya... Ia sangat tidak menyukai perasaan ini hingga membuat pemegang tonfa ini ingin memukul siapapun guna membuang sesuatu yang menurutnya, sangat Herbivore ini. Okay, mungkin itu juga satu-satunya alasan Kyoya cenderung menghindari jalur yang akan dilalui si pendatang baru. Kyoya mengernyitkan alisnya saat menyadari sesuatu. Kenapa sekarang yang bertindak seperti seorang Herbivore yang menghindari masalah adalah dirinya?
"Akh!"
Mendengar suara rintihan, dengan sigap tubuh atletis berbalut pakaian formal itu berlari mendekati ke sumber suara. Bagus, sepertinya malam ini tidak akan membosankan. Kyoya menyeringai. Sepasang iris metal itu menyipit saat suara-suaranya kian terdengar besar. Ada keributan, pertarungan yang salah satu lawan menang secara mutlak sepertinya. Kyoya langsung menghilangkan aura keberadaannya. Ia mendekat dan dengan mudah membaca situasi yang ada.
Bruk!
Tubuh besar itu jatuh tersungkur di atas tanah hingga meninggalkan suara bedebum besar dan suara tulang yang retak. Beberapa rintihan terdengar dari 5 sosok tubuh pria yang semuanya terlihat tersungkur di atas tanah. Tidak ada yang bisa berdiri, tidak ada yang bisa melawan kembali, semuanya kalah telak menghadapi seseorang yang hanya mengenakan sendal jepit, kaos oblong dan celana pendek.
"Ini semua salah kalian sendiri, aku sudah bilang bahwa aku sedang maraton kan?" si brunette menggeram jengkel seraya menatap 5 sosok yang berhasil ia kalahkan dengan tangan kosong.
Seringai merekah di belahan bibir tipis itu. Ia menjlat bibirnya sendiri tanpa sadar dan dengan gerakan cepat, mendekat dan menyerang.
"Hie!?"
Si brunette menunduk—menghindari serangan yang mendadak dari arah belakang. Ia berputar dan langsung membuat jarak saat gerakan dari penyerangnya terlihat ada celah. Dan saat Tsuna akan membentuk pose bertahan, sepasang iris hazelnya membola sempurna saat menyadari siapa yang ia lawan.
"Hibari-sama!?" beonya kaget. Kyoya menyeringai seraya mempererat genggaman kepada kedua tonfanya. Dan dalam hitungan detik, Tsuna merasakan alarm tanda bahaya. Ga, gawat... Sepertinya ia memancing keinginan bertarung Hibari ini. Menelan liur gugup, Tsuna melangkah mundur—berniat untuk melarikan diri. "Sayonara!"
Dengan kecepatan tinggi, Tsuna langsung berbalik dan melarikan diri—membuat Kyoya yang meihatnya refleks mengejar. Seringai semakin merekah di belahan bibir tipis itu. Mencoba kabur huh? Bila ini permainan seorang Omnivore yang menyamar jadi Herbivore... Hibari Kyoya akan mengikuti permainan ini dengan senang hati.
.
.
.
Mati aku! Mati aku! Mati aku!
HHIIEEEEEEE!
Tsuna panik luar biasa. Kakinya terus berlari sambil sesekali menghindari serangan yang mendadak muncul dari arah belakang. Bahkan, hanya untuk menoleh ke belakang pun ia tidak berani. Horror tingkat dewa. Membayangkan nyawanya akan melayang hanya karena berkelahi melindungi diri—ASTAGA! Kenapa Hibari Kyoya gigih sekali mengerjanya sih!?
Menelan liur paksa, dapat Tsuna rasakan degub jantungnya kian meningkat. Ia berlari tidak tentu arah—efek samping karena memang buta arah—dan berharap tidak menemukan jalan buntu di lingkungan perumahan yang seperti labirin ini. Oh bagus! Rasanya ia benar-benar ingin menangis! Tadi saat maraton, ia malah dihadang oleh segerombol pencuri yang tidak sengaja tertangkap basah si brunette. Tidak berniat ikut campur, ia malah dihadang dan dikeroyok. Berhasil membereskan masalah kecil itu sekarang ia berhadapan dengan Hibari Kyoya!?
Sumpah! Tsuna benar-benar ingin menangis rasanya. Ini kok hidupnya tidak jauh-jauh dari kematian sih!? Tinggal di Tokyo dengan hidup glamor, nyawanya diincar banyak pihak. Bahkan beberapa kali ia mendapati makanan dan minumannya diberikan racun. Hidup sederhana dengan identitas berbeda di sini, nyawanya terancam oleh makhluk gila kekuatan di belakangnya! Hell! Tsuna benar-benar ingin berteriak frustasi sekarang!
Deg!
Jantung sang Sawada mencelos saat mendadak kakinya tersandung batu. Sepasang iris coklat itu membola sempurna saat tubuhnya terjatuh ke depan. Dan bagaikan slow motion, kedua tangannya refleks ke depan—menahan beban tubuh—lalu segera mendorong tubuhnya sendiri hingga membuatnya oleng ke samping dan berputar.
BRAK!
Tsuna memucat. dirinya yang refleks menghindar dengan rolling ke kiri membatu mendadak saat mendengar suara besi yang menghantam aspal. Besi itu menancap di atas pijakan berlapis aspal di dekatnya hingga menciptakan retakan mengerikan di sekitarnya. Bohong... Bohong... MASA' HIBARI KYOYA BENAR-BENAR MAU MEMBUNUHKU!?
"Hie!?" Tsuna refleks berteriak saat rasa syocknya membuat si brunette lengah. Entah sejak kapan Kyoya sudah berada di atasnya. Menindih Tsuna dengan kedua tangan kokoh berada di kanan dan kiri tubuhnya. Mati. Tsuna benar-benar dikunci hingga tidak bisa bergerak.
"Omnivore Yamamoto Sora," Tsuna merinding saat wajah tampan yang ada di depannya hanya beberapa cm tepat di depan wajah. Ia menelan liur paksa saat debaran jantungnya meningkat diiringi desiran aneh yang membuat perutnya seolah dihinggapi ribuan kupu-kupu. A, Apa ini!? Wajah Tsuna memerah sempurna. Kenapa ia berdebar-debar seperti ini!? Debaran ini... ke, ketakuta kah? "Berhenti dari Toko Sasagawa, aku menginginkanmu."
Sepasang hazel itu mengerjab beberapa kali mendengarnya. Kepalanya mencoba meloading apa yang pria bermata kelabu itu katakan namun percuma. Otak Tsuna benar-benar lumpuh dan mendadak kosong saat iris sewarna kelabu itu fokus menatap matanya. Tajam, namun di sisi lain... Begitu indah dan memabukkan.
Sebelah tangan pucat itu terulur dan menyentuh helai coklat yang terasa lembut di tangannya. Waktu terasa terhenti dan entah bagaimana, Kyoya benar-benar menyukai situasi ini. Namun bagaimana pun, ia harus meneruskan kalimatnya. "Mulai besok, kau akan menjadi Keamanan Namimori dan tinggal di kediaman Hibari."
Dan meski Hibari Kyoya telah menyelesaikan ucapannya, si brunette tetap belum bisa mencerna ucapan itu. Ia telah terhipnotis hingga sedikit pun, tidak bisa memikirkan apa-apa selain sosok yang tengah menindihnya ini.
.
.
.
Berjalan mondar-madir dari barat ke selatan dan timur ke utara, pemuda berhelai kecoklatan itu tidak henti bergumam dengan wajah yang memucat dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Niat keluar agar kembali ke rumah ini bisa langsung tidur, Sawada Tsuayoshi justru benar-benar dibuat tidak bisa tidur. Matanya tidak bisa terpejam bila yang terbayang adalah wajah si reven yang sangat jelas berada di dekat wajahnya—hanya berbeda beberapa cm. Namun lebih dari itu, kenyataan yang sukses membuatnya uring-uringan tingkat akut lah yang cenderung mendominasi rasa paniknya.
"Aku menginginkanmu."
Blush!
Bu—BUKAAAANNNNN! BUKAN ITU! BUKAN YANG ITU!
Tsuna refleks mengacak-acak helai coklatnya frustasi. Wajahnya blushing parah saat mengingat kalimat ambigu yang justru masuk ke dalam otaknya. Oh astaga! Apakah ini jenis cuci otak terbaru!? Ah, tidak! Tidak! Tidak! Bukan itu sekarang yang harus ia pikirkan, tetapi perintah dari si pemimpin Klan itu.
Hibari Kyoya mau Tsuna menjadi Penjaga Keamana. Okay, itu terdengar keren dan wah sekali, tetapi nyatanya itu justru bagaikan kutukan. Berbahaya. Sangat berbahaya bila mengingat ia juga harus pindah ke kediaman Hibari. Benar-benar buruk. Mencoba menghindari sang Harimau, Tsuna justru masuk ke dalam sarang Harimau.
Bagaimana bila identitasnya ketahuan!? Astaga! Lagi pula ia masih bekerja di Toko Sasgawa, lalu kenapa Kyoya memintaya menjadi Penjaga Keamanan!? Please lah! Kyoko sangat membutuhkan tenaganya dan lagi, bukankah ia hanya 'orang asing' yang sebentar lagi akan pulang!? Atau... Atau...
Tsuna memucat.
Atau Hibari Kyoya memang berniat menahannya lebih lama di kota ini?
TTIIDAAAKKKK!
Sang brunette jatuh terduduk di atas lantai. Seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas dengan kemungkinan terburuk yang sang reven rencanakan. Okay, ia baru beberapa hari di kota ini dan sosok itu... Hibari Kyoya, sukses memporak-porandakan kehidupannya. Oh, sungguh, Tsuna benar-benar putus asa sekarang. Titah itu mutlak—tidak ada penolakan atau pun sanggahan. Dan Tsuna... Benar-benar tidak tahu masa depannya akan seperti apa besok. Ini... Terlalu menakutkan.
Brrrmm...
Tubuh Tsuna refleks menegab saat mendengar suara mobil yang masuk ke tempat parkiran mobil. Dengan mudah ia menebak Sasagawa bersaudara sudah pulang dari pekerjaan tetap mereka. Sudah jam berapa ini memangnya? Kepala itu langsung menoleh ke arah jam dinding yang berada di dekat pintu. Sepasang hazel itu membola degan sempurna—syock dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jam 05.30 dan ia belum tidur sama sekali!
Tanpa ba-bi-bu kembali, pria berumur 28 tahun itu langsung bangkit berdiri dan berbaring di atas kasur. Ia menarik selimut lalu mulai memejamkan mata. Bodoh amat dengan ia yang tidak bisa tidur, yang terpenting sekarang adalah ia berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya! Ya, Tsuna harus melakukannya ketimbang dirinya akan terkena demam dan lebih emosional. Dan untuk urusan Hibari Kyoya... Biarkan itu dipikirkan nanti.
.
.
.
TBC
an:
aaahhh... anggab saja saya sedang keracunan. entahlah, aku benar-benar suka ma Hibari ver dewasa. lebih fleksibel(?) n gk segarang waktu masih kecil-kecil unyuh /ditonfa XD
tpi gomen klo agak ooc, demi kebutuhan fic n memuaskan imajinasi liar saya :'
n seperti biasa... ini terlalu panjang. kalo lgi semangat gini emk susah banget direm cobaa ;_;
okay, waktunya bales review~
aiwataru1: Aahhh... Arigatou~ ini udah update kok! dibaca yaakk :D
Bunny: eh? membingungkan kah? padahal aku nyoba buatnya sesimpel mungkin... Ahahaha... maafkan otak saya yang suka ngetik yang kayak gini, tapi ini romance fluff kok, gak berat-berat seberat badanku XD /buka aib
ah, gomen... itu demi kebutuhan fic ini dan lagi... AKU LUPA RAMBUT LAMBO DEWASA GK SEAFRO WAKTU KECIL COBA! /cry arigatou dah ngeriview bunnyku sayang :*
semoga kali ini typoku gk ada n tak terlihat di matamu yg indah itu ya bunnyku sayang :* /jangan modus oy
Natsu Yuuki: AHAHAHA! TERNYATA KITA SAMA-SAMA BERSYUKUR AKHIRNYA ADA YG FLUFF! /nangis liat berderet OTP dibuat sad semua /lu authornya oy
tpi ini fic dibuat atas unsur ketidak sengajaan ya, aku juga baru thu ada tim maso yg sukses memporak-porandakan hatiku... ini... bukan fic bales dendam kok :'
mika: Arigatou Mika :D
ettoo... bisa ngebut buatnya maksudnya? ahahaha... itu tergantung mood. kalo beneran niat dan mood sedang memuncak, 2-3 hari juga kelar 5k lebih, lah kalo lgi gk mood bisa berminggu-minggu yang ketulis cuma 3 lembar :' /cry
ni dah lanjut, jangan lupa dibaca yak :D
ookaayy~ arigatou untuk Ariefyana Fuji Lestari, Kikuuuu, AzuMiyoki0 karena sudah meng fav dan mengfollow fic ini :D
sedikit spoiler~
Astaga... Bagaimana mungkin pria super sadis ini memiliki aura yang sangat mengundang mata? Bahkan Tsuna merasa seperti orang bodoh saat irisnya, sedikit pun susah untuk berpaling dari tubuh tegap yang berjarak lumayan jauh darinya.
.
Kumohon... Jangan membuatku mencintaimu lebih dari ini.
ne, adakah yang berniat memberikan saran, keritik, pujian, masukan, semua unek-unek setelah membaca chapter ini selain flame? kotak Review menantimu~ /wink
