Jaemren di sini saya setting dewasa, menyesuaikan ide cerita sekaligus karena saya tak piawai bikin cerita seputar anak2 SMA hehehe...

Gengsi

Jaemren

BxB? GS? 모릅니다

"Lort*! Di mana bajuku, eh? Di mana?!" Sosok cantik yang punya perawakan ramping menjurus mungil itu marah-marah, mengabaikan tampangnya yang super berantakan lewat muka bantal dan rambut acak-acakan. Ia tampak sangat geram, terkesan agak horor.

Anehnya, Jaemin justru tenang-tenang saja, malah memamerkan senyum paten yang lebar ala bintang iklan pasta gigi sembari memperhatikan ekspresi Si Cantik. Laki-laki gagah pemilik tato burung hantu dan ular kobra di lengan ini sama sekali tak terpengaruh pada tampang horor milik Si Cantik. Alih-alih horor, baginya tampang Si Cantik justru tampak konyol.

"Aku ingin membantumu mencarinya, Renjun-ah, tapi agak repot kalau aku harus menutupi yang ada di sini," Jaemin yang duduk bersandar di ranjang berkata seraya menunjuk bantal yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

"Bisa minta tolong ambilkan boxer-ku, Honey?" Jaemin menunjuk ke arah lantai, tepatnya ke arah sebuah boxer hijau miliknya yang berjarak sejengkal dari lawan bicaranya yang cantik, Renjun.

"Gå ad helvede til*!" Sebagai respon, Renjun justru berseru berang, menyerukan sebuah umpatan dalam bahasa Denmark.

"Kau memang sangat-sangat brengsek, Na Jaemin! Aku membencimu sampai ke tulang sumsum!" Matanya yang cantik mendelik.

"Oh, ya? Tapi kenapa semalam kau begitu manis, sampai mengatakan jeg elsker dig* segala, hmm?" Jaemin bertanya dengan nada menggoda, sekali lagi membuktikan bahwa amarah Renjun sama sekali bukan apa-apa baginya.

"Manis, lalu berubah agresif. Sepertinya Denmark sukses besar mengubahmu. Barangkali kau mau tahu, kau yang menciumku duluan, Renjun-ah." Laki-laki itu seolah menahan tawa.

"Tapi tak apa. Aku suka, suka sekali malah."

"Kau mengarang cerita! Tak mungkin aku sudi mendekatimu duluan. Sudah pasti kau yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan gara-gara aku terlalu banyak minum! Dasar tak tahu adat!" Renjun sama tak terima atas pernyataan Jaemin, tetapi semburat merah di pipinya seolah mengkhianati dirinya sendiri.

Jaemin tentu saja melihat semburat merah di pipi mulus itu dan efeknya lari ke senyum bintang iklan pasta gigi yang menjadi trademark-nya. Senyuman Jaemin semakin lebar dan sepasang bola matanya bersinar-sinar jenaka. Ibaratnya saat ini Renjun sedang melawak dan dia tengah menikmati pertunjukan dari Si Cantik.

"Mengarang cerita, katamu? Lalu bagaimana kau bakal menjelaskan jejak-jejak ini, eh?"

Jaemin menunjuk tubuhnya sendiri, tepatnya bekas-bekas merah yang terpeta pada lengan, dada dan lehernya. Beberapa malah ada yang berwarna keunguan, ibarat pulasan cat pada kanvas.

"Menurutmu, kenapa jejak-jejak ini bisa bertebaran di tubuhku, hmm?"

Wajah Renjun yang sudah merona seketika merah padam sempurna, seolah-olah dia terserang demam tinggi. Kentara benar dia mati gaya di hadapan Jaemin.

"Na Jaemin, k-kau..." Suaranya mendadak bergetar.

"Sudahlah, Renjun," Jaemin kembali menyebutkan nama Si Cantik.

"Tak perlu malu. Akui saja kalau kau masih mencintaiku. Katakan jeg elsker dig sekarang juga, kujamin aku bakal kembali tinggal bersamamu dan Sofia." Raut wajah Jaemin tiba-tiba berubah serius.

"Aku tak main-main. Katakan jeg elsker dig sekarang juga. Saranghae, wo ai ni juga boleh. Kita akhiri perang dingin yang konyol ini, Renjun-ah. Apa tak cukup dua tahun kau dan Sofia meninggalkanku sendiri di sini? Tak tahukah kau betapa merananya aku selama itu? Sekalinya menyusul ke Denmark sampai kantongku kering, aku hanya berhasil menemui So-So saja, itu pun hanya di TK. Sekarang kalian berdua sudah ada di Seoul, setidaknya beri aku kesempatan sekali lagi."

Sekarang Renjun tampak terguncang. Sesaat Si Cantik itu seakan tak sanggup berkata-kata.

"Jangan mimpi!"

Sekonyong-konyong Renjun berseru tertahan.

"Aku sama sekali tak ingin tinggal satu atap denganmu lagi, Na Jaemin-ssi! Jangan lupa, aku tak main-main tentang proposal perceraian itu!" gertaknya.

"Perceraian apa, hmm?" Jaemin sama sekali tak terpengaruh.

"Sudahlah, Injoon-ah. Jangan membohongi dirimu sendiri. Kalau kau sungguh-sungguh ingin bercerai, kau tak akan terus-terusan mengenakan cincin itu, Yeobo," kata Jaemin kalem.

Renjun tersentak. Serta-merta dia memeriksa tangan kanannya sendiri dan tampak syok melihat cincin emas putih melingkar cantik di jari manisnya.

"Kau..." Suara Renjun lagi-lagi bergetar.

"Na Jaemin, aku benci kau!"

Renjun mendengus, kesal sekaligus malu. Masih dengan selimut membungkus tubuhnya, Si Cantik mendadak berlari menuju pintu. Tergesa-gesa ia membuka pintu dan berlari keluar, bahkan membanting pintu tersebut kuat-kuat sebagai bonus.

"Hei! Kau melupakan bajumu!" Jaemin berseru dari tempat tidurnya.

"Persetan!" Terdengar Renjun berseru menjawabnya.

"Renjun, Renjun," Jaemin terkekeh. "Dasar Huang Renjun, apa-apa gengsi."

Lelaki bertato itu menggeleng-gelengkan kepala, tampak tak kuasa menahan seri di wajahnya yang tampan.

FIN

Kamus

Lort: Sh*t

Gå ad helvede til!: Go to hell

Jeg elsker dig: I love you