(Un)Lucky
.
.
.
Beruntung : Nasib yang baik
Ketidak berutungan : Nasib yang buruk
Nasib : Takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang
- - - menurut Kbbi - - -
Kuroko No Basuke — Fujimaki Tadatoshi
(Un)Lucky — ReRaibu
Warning : OOC, TYPO, BAD EBI, alur maju-mundur cantik mamen~, Genderblend, Kekerasan sexsual(mungkin), adegan pembullyan, hal-hal kotor lain dan lain sebagainya —uhuk—
Author tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan fic ini.
—FLASHBACK ON—
Namaku Kagami Taiga.
Aku adalah anak tunggal dari sepasang suami-istri yang hanya sibuk untuk mencari uang. Mereka bahkan lupa akan hari ulang tahunku. Dan jika mereka tak lupa, maka aku harus sakit parah hingga dirawat di rumah sakit, barulah mereka akan pulang dan menangis sambil membawakan banyak mainan untukku.
Namun, apa aku perlu selalu sakit untuk mengemis perhatian?
Aku menghembuskan nafas secara kasar. Uap-uap putih tipis terkepul dengan halus. Kueratkan topi rajutan dan syal hangatku. Hari begitu dingin. Apa lagi setelah badai semalam. Kugosok-gosokkan kedua tanganku dengan perlahan, sebelum kutiup-tiup pelan. Keningku berkerut dan alisku hampir menyatu.
Untuk pertama kalinya setelah aku pindah kemari, aku begitu berharap segera sampai sekolah.
Gedung tinggi berwarna abu muda terlihat menjulang. Dengan jam dinding super besar yang rasanya bisa dilihat hampir semua orang dari kejauhan.
'Juara Satu Olahraga Lari Putra'
Adalah apa yang tertulis dibanner besar dibawah jam besar.
Itu adalah sekolahku.
Sekolah dasar Teiko.
Kakiku terus berjalan dengan perlahan, apa lagi saat kurasa jarak antara aku dan gerbang sekolah semakin dekat.
Bunyi decitan ban sepeda yang berjalan diatas aspal terdengar dimana-mana, begitu juga dengan suara 'tap-tap' dari sepatu-sepatu mungil milik para murid. Dapat kudengar juga, sayup-sayup suara obrolan beberapa orang ditengah terpaan angin musim dingin.
Kueratkan jaket hangatku sebelum mulai berlari.
Aku perlu penghangat ruangan.
Segera.
Aku berdiri didepan loker sepatuku dengan wajah sedih.
Lagi-lagi hal ini terjadi.
Sepatu dalam ruanganku hilang.
Dan aku bahkan tak perlu bertanya pada siapapun untuk tau siapa pelakunya.
Kudengar cekikikan gadis-gadis seumuranku yang begitu bahagia atas kemalanganku.
Aku mendecih. Walau hanya bisa kulakukan dalam hati.
Ingin rasanya kusumpal mulut mereka dengan satu kilo merica bubuk dan dua ton lada hitam, Itu pun jika aku punya cukup nyali untuk melakukannya
Tak mau lama-lama ditempat ini, aku pun segera melepas sepatuku, sebelum mulai melangkah menapaki lantai koridor dengan beralaskan kaus kaki.
Dapat kurasakan bagaimana tubuhku bergetar halus karena dingin. Belum lagi langkahku yang harus begitu hati-hati karena licin.
"Loh, Kagamin?!"
Aku menoleh kearah suara bernada tinggi yang berteriak kaget kearahku.
Momoi Satsuki. Si gadis cantik dengan surai sakura yang indah diikat ekor kuda.
Aku tersenyum kecil sambil menggosok-gosok hidungku saat melihatnya mendekat dengan Kuroko Tetsuya.
"Kagami-san, dimana sepatumu?" Kuroko bertanya dengan nada agak takjub. Bagaimana tidak, dicuaca yang begitu dingin aku malah berjalan-jalan dengan pakaian tebal tanpa sepatu.
"Ku-kurasa aku meninggalkannya disuatu tempat,"balasku agak gugup sambil mengaruk pipiku yang memerah.
Momoi menatapku dengan raut khawatir. "Nanti kamu bisa sakit, loh!"tegurnya.
Aku hanya nyengir mendengarnya.
"Ehem~ Ku rasa aku harus pergi." aku bicara dengan suara seperti sedang berkumur. "A-aku harus segera mencari uwabakiku,"lanjutku dengan sangat cepat saat ku lihat surai navy berjalan diantara gerombolan siswa.
"Aomine!"teriakku sambil tergopoh mengejarnya.
Aku bahkan harus berulang kali terjungkal karena licin yang kurasa ketika aku berlarian dengan menggunakan kaus kaki. Tak jarang juga aku menubruk kakak kelas atau adik kelasku, atau membuat diriku terjatuh beberapa kali, yang tentunya berujung pada tertawaan mereka.
"Aomine! Tunggu!"
Aku mengejarnya hingga dapatku rasakan paru-paruku kosong dan terbakar. Aku terengah sambil bersandar pada tembok terdekat.
Tubuhku jatuh merosot kelantai.
Sebelum air mata mulai jatuh membasahi pipiku.
Kututupi wajahku dengan kedua tanganku yang terbalut sarung tangan.
Kenapa aku?
Aku dan selalu aku?
Apa ada yang salah dengan sedikit berbeda?
Aku duduk didepan pintu menuju atap.
Aku sudah tidak masuk kelas mulai pelajaran pertama. Namun, karena aku bukan murid yang menonjol, kurasa tak akan ada masalah. Lagi pula aku tak punya teman yang cukup dekat.
Aku terus duduk disana sambil memeluk kedua kakiku.
Air mataku bahkan sudah berhenti mengalir. Namun, tidak dengan hidungku yang mampet, dan sekarang mungkin sudah memerah. Ku usap-usap wajahku dengan lengan jaket.
Aku benar-benar kedinginan dan kacau. Serta lapar.
Aku masih diam disana. Merenungi nasib.
Apa ada yang salah jika aku adalah seorang gadis cilik dengan surai gradasi merah-hitam dan beriris merah tua?
Apa salah jika aku memiliki alis yang bercabang?
Apa salah jika aku bahkan masih kesulitan berbicara dengan bahasa Jepang?
Apa salah? Apa salah?
Mungkin . . . benar . . . itu salah . . .
Kan?
"Hei!"
Aku menoleh saat sebuah suara —seperti— memanggilku. Seketika itu iris fire brick ku membola saat bertatapan dengan manik midnight blue.
Sosok itu melempar kantung bening padaku.
"Kau jutaan kali tampak jelek saat penuh ingus." ia mendengus saat aku hanya terbengong sambil menatapnya dengan bibir terbuka.
"Te … rima kasih,"ucapku lamat-lamat sebelum mulai membuka kantung plastik tersebut.
Didalamnya berisi beberapa plester luka, roti isi daging, dan teh kalengan. Mataku berbinar melihatnya.
"Hoi! Hoi! Kenapa kau menangis lagi?"ia bertanya dengan suara heran saat aku memakan roti yang ia bawa dengan wajah berlelehan ingus dan air mata.
"I … ini enak …"
Aku terus memakannya tanpa berkata apapun lagi.
Aku benar-benar kelaparan karena tidak sempat sarapan.
Bekal makan siangku bahkan juga ketinggalan.
Eh?
Tunggu …
Sepertinya aku lupa point penting …
"Hoi!"panggilnya.
Aku menelan ludah pahit saat menoleh dengan sangat perlahan kearahnya.
"Kau … bawa bentou mu kan?"
Irisku menjelajah liar kesana-kemari, bibirku ku gigiti dengan kelisah, sementara tubuhku bergerak-gerak tak nyaman saat pandangannya yang tajam seolah ingin merobek tubuhku.
"Hoi!"
Set.
Dengan kedua tangan ku. Ku berikan sisa roti isi ku padanya.
"Ma-maaf . . . a-aku tadi bangun kesiangan, ja-jadi tidak sempat ambil bentou, da-da-dan tadi uwabakiku hi-hilang."
Sunyi.
Ada jeda yang begitu panjang saat aku mengaku padanya.
Sementara aku masih menunduk dengan kedua tangan memegang roti isi yang kuserahkan padanya.
Aku berkomat-kamit dalam hati.
Degupan dijantungku seolah tak bisa berhenti.
Tolong!
Siapapun!
Kumohon tolong aku.
"Begitu …" suaranya begitu lembut, seolah apa yang kukatakan padanya barusan bukanlah masalah besar.
Jawaban darinya membuatku mengangkat wajah dengan setitik harapan. Bahkan, kufikir suaranya barusan diiringi oleh petikan harpa. Begitu lembut dan menawan. Laksana suara surga.
Tangan dimnya kemudian terulur padaku. Dengan gestur seolah meminta sesuatu.
Alis ku menyeryit bingung.
"Uang,"ujarnya saat melihat wajah ling-lung ku.
"I-itu … aku kan tadi sudah bilang kalau bangun kesiangan. Ja-jadi …"
Belum sampai aku menyelsaikan kalimatku tiba-tiba tatapannya berubah jadi begitu lembut. "Begitu ya. Baiklah, aku mengerti." ia tersenyum begitu manis padaku. Membuatku turut tersenyum juga.
"Kau fikir aku akan berkata begitu, hah?"ia berteriak marah sebelum menampik kasar tanganku yang berisi roti.
Tubuhku pun langsung mundur dengan spontan.
"Ma … maaf,"cicitku penuh penyesalan.
Ia mengangkat tangannya ke udara. "Tidak bawa bentou, tidak bawa uang." ia menghitung dengan jari-jari kecoklatannya.
Matanya memicing tajam. Bahkan aku dapat melihat adanya taring kecil disudut bibirnya yang mencuat keluar. "Menurut mu~ apa yang akan kulakukan untuk menghukum mu, huh?"
Tubuhku bergetar saat melihat seringai lebar tercetak jelas diwajahnya.
"Hem~ mungkin~ aku perlu saran Akashi, untuk hukumanmu." ia tersenyum begitu lebar saat mengatakannya. Membuat tubuhku menggigil ketakutan.
"Ja-jangan!"pintaku padanya dengan wajah memelas. "Ku-kumohon jangan Akashi,"ucapku penuh ketakutan.
Aku pernah hampir buta karena dicoblos gunting olehnya saat aku lupa mengerjakan pr Aomine.
Aomine menarik rambut panjangku yang terurai. "Mungkin~ aku perlu membuat mu makan masakan Satsuki."
Aku menjerit takut dengan suara pelan.
Tanganku berusaha menarik-narik rambutku yang dipegang kuat oleh Aomine.
"Ja-jangan … kumohon. Jangan,"pintaku—lagi—sambil menangis tersedu.
"Atau~ bagaimana dengan menguncimu di ruang biologi bersama Nigou?"
Wajahku memucat, dan itu membuat tawanya menjadi semakinkeras serta kencang.
"Bagus-bagus." ia lepaskan rambutku dari tangannya dan mulai bertepuk tangan dengan meriah.
"Temui aku di atap 5 menit sebelum bel pulang. Telat semenit aku benar-benar akan membuatmu tidur di kuburan,"ancamnya, sebelum ia berdiri dan memasukkan kedua tangannya disaku celana.
"Uwabaki jelek mu bisa kau ambil di belakang gudang serba guna."
Aku menatapnya dengan wajah tak percaya.
"Sebaiknya kau cepat, atau Yori-san akan membakarnya bersama sampah-sampah."
Ia berlalu dari hadapanku setelah memberitahuku hal itu.
Tanpa pikir panjang, aku pun segera berlari menuruni tangga untuk kegudang belakang.
Dapat ku lihat bayangan Aomine yang berbelok menuju ruang kelasnya.
Meski hanya sekejap. Aku melihatnya. Senyum lebar mengerikan yang terpampang jelas di wajahnya.
- - - Beberapa tahun lalu - - -
Saat itu adalah hari pertamaku masuk sekolah dasar.
Aku benar-benar menantikannya.
Menantikan bagaimana aku akan bertemu dengan orang-orang.
Sebelumnya aku tinggal di Amerika dengan kedua orangtuaku dan kakek-nenekku. Aku tinggal disebuah desa kecil. Dengan pekerjaan kakek-nenekku sebagai peternak, masa kecilku tak pernah kesepian walau orangtuaku setiap hari sibuk bekerja di kota.
Namun, karena pekerjaan orangtuaku pula kini aku pindah ke Jepang. Tanah kelahiran Ayahku dan aku. Tapi, meski aku lahir disini, aku besar di Amerika, sehingga bahasa Jepang ku sangat buruk.
Untungnya, sebelum kami benar-benar pindah orangtuaku mengundang guru les bahasa kerumah.
Tapi, saat aku sudah disini.
Semuanya benar-benar kosong.
Kakek-nenekku dari pihak ayah sudah lama tiada, bahkan sebelum aku lahir. Disini pun kami tinggal di apartement.
Setiap aku bangun tidak pernah ada orang dirumah. Yang tersedia hanya sarapan diatas meja dan beberapa tumpuk makanan beku yang bisa ku hangatkan di microwave.
Aku rindu Amerika.
Aku rundu kakek dan nenekku.
Aku rindu aroma jerami dan jagung muda saat pagi hari. Aku rindu suara jelek traktor milik ku. Aku rindu dengan suara sapi dan kotekan ayam di peternakan. Aku bahkan mulai rindu dengan cicitan burung pemakan gandum di ladang.
Di Jepang tidak ada orang.
Hanya ada aku sendiri di apartement luas ini.
Mangkanya~
Aku begitu bersemangat dengan hari pertamaku masuk sekolah.
"Sudah siap, sayang?" ayahku melongok dari pintu kamar.
Aku menoleh sambil tersenyum lebar padanya. "Sudah,"jawabku dengan riang.
Ayah ku tersenyum simpul sebelum mengacak rambutku. "Ayo berangkat."
Aku menganggukkan kepala dengan bersemangat sebegai jawaban.
Aku duduk diam dibangku ku dengan perasaan gelisah. Sekarang sudah jam istirahat, dan itu artinya ini adalah waktu yang sangat tepat untuk berbincang. Ku tolehkan kepalaku kekiri dan kekanan, mencari sosok yang sekiranya dapat ku ajak berteman. Irisku yang berwarna merah—hati tiba-tiba terfokus pada dua sosok yang duduk dipojok depan kelas. Yang satu bersurai pendek dengan warna biru langit, sementara yang satunya bersurai hot pink yang dikuncir ekor kuda. Ku perhatikan cara mereka berbicara satu sama lain, sepertinya mereka tipe yang lembut dan pengertian.
Ku tarik kedua sudut bibir ku keatas, sebelum aku mulai menyahut bekal makan siang ku dan mulai berlari menuju kearah mereka.
Namun, belum sampai aku berada didepan mereka, tubuhku tiba-tiba saja terjatuh dan terjungkal kebelakang.
"Aduh!"pekikku pelan. Mataku terpejam sementara tanganku menepuk-nepuk pantatku yang ngilu akibat bertabrakkan dengan lantai.
Dan saat aku membuka mata, irisku lantas membola. Sosok itu tinggi. Sanggat tinggi. Benar-benar tinggi.
Mulutku terbuka-tutup hendak bicara, namun tak ada satu pun yang keluar darinya.
"Kalau jalan pakai mata,"katanya jengkel dengan wajah malas, surainya yang berwarna dark violet sepundak membuatku yang melihat dari dinginnya lantai mengkerut ketakutan.
"Ma-maaf . . ."aku bergumam dengan suara yang begitu lirih, kurasa ia mungkin hampir tak mendengar apa yang kuucapkan.
Sosok yang begitu tinggi itu mendecih pelan, sebelum kembali berjalan melewatiku. Seolah tak ada apa-apa.
Ku hembuskan nafas lega setelahnya. Aku bahkan baru sadar jika untuk beberapa saat lalu aku menahan nafas ku.
Tiba-tiba mataku terasa panas, dan tak terasa bulir-bulir dingin mulai jatuh dan membasahi pipi ku, aku senggukkan pelan sebelum ku seka air liquid bening tersebut dengan lengan bajuku.
Lalu, saat aku kembali melihat kedepan, saat itulah ku lihat ada sebuah tangan yang terulur padaku. Ku dongakkan kepalaku keatas untuk melihat siapa yang mengulurkan tangan padaku.
Ia berwajah cuek, mungkin hampir sama menyebalkannya dengan si raksasa ungu tadi, matanya sipit dan merucing agak lebar, namun meruncing dibagian ujung luar. Ia tak tersenyum, bahkan mungkin ia tak bisa tersenyum. Dan ia memandangku dengan wajah datar.
Aku sebenarnya tak ingin menyambut uluran tangannya, namun akan sangat tak sopan jika aku hanya diam saja sementara ia sudah repot-repot mengulurkan tangannya padaku.
Ku lemparkan senyum terbaikku padanya, sebelum mulai menjabat tangannya. "Terima kasih,"ujarku padanya. Tapi, belum sampai aku benar-benar berdiri, ia melepaskan tangannya dariku.
Dan aku pun kembali terjatuh.
"Uups~ maaf~ kurasa kau kurang erat memegangnya,"ujarnya sambil terbahak.
Aku sendiri hanya diam, tak bergerak dari tempatku terjatuh. Aku terlalu bingung dengan apa yang barusan trjadi.
"Maaf saja . . . aku tak mungkin membantu anak haram sepertimu."
Mataku terbelalak, dan kurasa seluruh kelas juga terkaget. Karena aku tak mendengar gema tawa itu lagi.
"A . . . apa maksudmu . . ."
Ia menyunggingkan senyum paling menyebalkan yang pernah kulihat.
"Ayahmu rambutnya hitam, sedang ibumu rambutnya merah, terus bagaimana kau bisa punya rambut berwarna dua? Sudah jelas kan kalau kau itu anak haram,"jelasnya panjang lebar.
"Ti . . . tidak . . . a-aku anaknya Papa sama Mama."aku berbicara dengan terisak, mataku kembali tergenang dengan air mata.
Aku kembali menahan nafas saat ku lihat ia memajukan wajahnya hingga begitu dekat kearah ku. Aku bahkan dapat mencium aroma blueberry lembut darinya."Kau bahkan punya alis aneh, kau pasti dikutuk oleh Kami-sama karena berbuat jahat dikehidupanmu yang lalu."
"Tidak!"aku berteriak dengan lantang. "Kakekku juga punya alis seperti ini, kok!"belaku pada sosok menjengkelkan itu.
Ia kembali melempar senyum mengerikan kearah ku. "Da~~n, bagaimana aku bisa percaya jika kakekmu juga alis aneh seperti itu?"ia bertanya dengan nada main-main yan terdengar begitu jahat ditelingaku. "Sedang aku bahkan tak kenal kakekmu,"lanjutnya dengan mencibir.
Aku terdiam. Mataku mulai terasa panas, sedang kedua tanganku terkepal erat, aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis.
"Dai-chan!"bentakan keras terdengar membelah kerumunan yang mengerubungiku.
Mataku kembali membulat melihat sosok dengan surai hot pink dikuncir kuda berjalan mendekat dengan menghentak.
"Sa-satsuki!"sosok yang dipanggil 'Dai-chan' terpekik kaget sebelum mulai berlari bersama rombongannya, menjauh.
"Kamu tidak apa, Kagami-san?"
Tubuhku menegang saat mendengar suara halus berbicara dari sebelah kiriku. Spontan aku pun menoleh, dan wajahku berubah pucat saat melihat mata bulat besar dengan iris light cyan menatap ku khawatir.
"Huwaaaaahhhh~"
Dan hal terakhir yang kuingat hanya kegelapan.
Setelahnya kehidupan sekolahku tak lagi sama.
Aku bahkan lebih suka di Amerika.
Disana ada kakek dan nenekku yang akan menyambutku saat aku pulang sekolah. Ada banyak hewan ternak yang bisa ku jahili saat aku sengangg. Aku juga punya lumayan banyak teman bermain disana.
Tapi.
Disini semuanya berbeda.
Tak ada siapapun saat aku bangun tidur, dan masih tak ada siapapun saat aku akan pergi tidur. Aku pun hanya bisa nonton televisi saat sengang. Aku juga tak punya teman. Dan yang terburuk.
Aku selalu diganggu.
Tiap hari aku menangis diam-diam.
Entah karena benda milikku hilang, atau karena aku terjatuh.
Dan yang leih buruk.
Yang menindasku adalah Aomine.
Ia bukan hanya merampas bekalku, tapi juga uang sakuku.
Atau jika ia bosan, ia mungkin akan melakukan hal yang sangat buruk padaku.
Aku pernah mencoba melawannya, dan itu berakhir dengan rambutku yang penuh dengan permen karet, serta pakaianku yang ditumpahi cat tembok.
Aku tidak mengerti, kenapa Kuroko tidak ditindas juga, padahal kan dia begitu lemah. Lebih lemah dari ku malahan.
Tapi, setelah ku fikir lagi, ia tak ditindas karena hawa keberadaannya yang tipis seperti hantu. Lalu, Momoi. Ia ternyata adalah sahabat Aomine dari bayi. Belum lagi fakta jika ia adalah tetangga sebelah rumahnya. Aku yakin itu yang membuat Aomine terlihat agak lumayan takut padanya.
"Kagamin?" panggilan pelan dan tepukan dipunggung tangan kiriku membuatku segera bangun dari lamunku.
"I-iya? Ada apa?"aku bertanya dengan gugup.
Momoi tertawa sejenak sebelum mulai berbicara, "Daritadi kulihat alisnya Kagamin bergerak-gerak lucu, jadi kufikir Kagamin mungkin sedang memikirkan sesuatu yang menarik."
Wajah ku memerah saat mendengar ucapan Momoi.
"Mungkin, Kagami-san sedang memikirkan orang yang ia sukai."
Tubuhku tersentak sebelum aku memekik dengan keras. "Kuroko! Bisakah kau tidak mengagetkanku!"
Kuroko menatap ku dengan wajahnya yang datar, "Tapi, aku sudah disini dari tadi."
"BOHONG!"semburku padanya.
Sementara aku sibuk berdebat dengan Kuroko, dapatku dengar suara tawa rlirih Momoi.
Andai.
Andai saja aku tak pernah bertemu dengan Aomine.
Mungkin masa-masa sekolah dasarku akan lebih menyenangkan.
Hari ini adalah hari kelulusanku.
Tak terasa sudah enam tahun aku bertahan pulang-pergi menimba ilmu dari neraka mengerikan bernama sekolah dasar Teiko.
Aku berdiri diatas atap sambil merenungi nasib sembari memikirkan masa depan (mungkin).
Setelah ini Momoi dan Kuroko akan bersekolah di SMP Teiko, dan sepertinya Aomine juga akan kesana.
Itu sedikit membuatku senang. Karena itu artinya aku bisa menjauh darinya. Apa lagi, tak jauh dari lokasi apartementku ada sekolah baru yang baru dua tahun dibuka. Sekolahnya memang kecil untuk ukuran sekolah-sekolah lain yang lebih ternama, namun fasilitasnya cukup memadai. Belum lagi fakta jika sekolah itu cukup dekat dengan apartementku.
Aku sudah bilang pada ayahku untuk menyekolahkanku disana, dan beruntungnya Beliau setuju.
Mungkin karena lokasinya yang strategis yang dekat dengan stasiun, halte bus, dan pusat perbelanjaan, sehingga aku bisa mudah diantar-jemput Papa atau Mama.
Aku tersenyum diam-diam.
Selamat tinggal hari buruk~~~
Atau itulah yang aku harapkan.
Nyatanya hidup tak seindah ekspetasi.
Proses penerimaan murid barunya benar-benar membuat tulangku hampir patah.
Oh, tapi mungkin aku sudah menemukan klub yang sesuai.
Aku berfikir soal baseball, mungkin akan menarik saat aku melempar bola lengkung dengan begitu tunggi dan akurat. Atau mungkin akan begitu menakjubkan dan memukau kala aku dapat memukul bola yang sulit.
Sukut-sudut bibir ku tertarik dengan lembut saat aku memvisualisasikan hal itu dalam benak ku.
Tapi, itu tak berlangsung lama. Karena setelahnya aku malah mendapati diriku tengah terduduk dijalanan dengan iris yang berkedip bingung beberapa kali. Sepertinya aku terlalu asik saat melamun, sampai aku tak sadar jika aku kini tengah dalam perjalanan pulang sehabis disuruh-suruh oleh para senior.
Saat aku sedang asik mengeluh tentang pantatku yang berciuman dengan lantai, saat itu pula aku melihat sebuah tangan terlur kearahku. Segera saja aku menyambutnya, sembari mengucapkan kata "Terima ka—" dan sebelum aku benar-benar selesai mengucapkannya, aku pun melihat sosok yang memberi ku uluran tangan.
"Lain kali kau harus lebih hati-hati,"ucapnya dengan nada dalam pada ku, sebelum berlalu.
Dan setelah beberapa menit aku terdiam seperti patung bodoh. Aku pun segera berteriak kaget.
"I-I-I-I-itu…ta-ta-tadi…A-a-a-a-a-aomine Da-da-da-daiki!"pekik ku kencang sambil meremas rambut ku. "Aaaaaghhhhhh~~"
Aku pun segera berlari secepat mungkin menuju tempat tinggalku.
Dari semua orang dimuka bumi! Kenapa harus dia? Kenapa harus orang paling menyebalkan itu yang me-me-melihat ku mengenakan rok bodoh yang terbuat dari rumbaian tali rafia dan alang-alang?
Ugh, kini aku benci tantangan dari senpai ku!
Ini sudah 2 bulan yang damai semenjak aku menginjak bangku SMP.
Hidupku jauh lebih tenang dan normal dari yang kubayangkan.
Aku bergabung dengan klub baseball pada awalnya, tapi akhirnya aku keluar karena hanya aku satu-satunya perempuan disana. Kini aku mengikuti klub tata-boga. Dan itu hanya satu dari beberapa kehidupan sekolah normal yang baru bisa aku raih.
Aku tak pernah dibully lagi, dan kini aku juga termasuk dalam golongan orang populer.
Setiap aku masuk gerbang sekolah selalu saja ada yang menyapa ku. Begitu pula saat aku menganti sepatu di loker. Dan itu benar-benar membuat ku bahagia.
Aku juga selalu berusaha untuk menghindari konflik. Mencoba berteman dengan siapa saja. Lalu yang terpenting adalah bersikap sebaik mungkin pada semua orang.
Aku tak mau hal buruk yang ku alami saat masih sekolah dasar terulang kembali. Aku bahkan tak melihat adanya satu anak pun yang satu sekolahan denganku dulu di SD, dan itu benar-benar membuat ku lega. Kebanyakan anak-anak dari sekolah dasar ku memilih untuk bersekolah di sekolah yang ternama.
Kini aku juga memiliki teman sebangku yang baik.
Namanya Furihata Kouki. Dia anak laki-laki yang mudah canggung, tapi kami dapat akrab dengan cepat.
Dan ku harap hari-hari seperti ini berlangsung selamanya.
Aku mengkerutkan kening saat melihat gerombolan aneh didepan gerbang sekolah ku. Apa ada kecelakaan? Atau mungkin ada lubang besar didepan areal sekolah ku?
Aku berjalan mendekat dengan perlahan.
Posturku yang tinggi bahkan masih belum mampu untuk dapat melihat apa yang ada didepan sana.
Aku hanya dapat mendengar sayup-sayup ucapan samar. "Tenang-tenang, aku layani semuanya." dan itu adalah satu-satunya suara pria diantara gerombolan siswi disana.
Aku mengendikkan bahu acuh. Kurasa itu artis atau semacamnya.
Kelas begitu riuh hari ini. Dan aku tak mau ambil bagian dalam apapun itu.
Surai gradasiku ku kuncir twintail, dengan pita putih ditiap sisinya. Aku bertopang dagu, sambil sesekali mencoret-coret bukuku.
Ini sudah empat hari semenjak Furihata pindah sekolah. Dan itu benar-benar membuatku bosan. Tak ada yang bisaku ajak bicara.
Kini aku mulai kesal pada diri ku sendiri. Kenapa aku bisa begitu tidak begitu perduli pada teman sebangku ku? Bahkan alamat emailnya pun aku tak tau.
Pintu kelas tiba-tiba terbuka. Menunjukkan sosok tegap dengan aura suram yang ketara.
Guru matematika. Hitam. Kelam. Gelap. Jahat. Banyak PR. Banyak rumus. Tidak faham. Keluar.
Aku mendesah dalam hati.
Sekarang siapa yang akan mengajariku jika aku tidak faham pelajaran hitung-hitungan ini?
"Hari ini kalian kedatangan murid baru."
Aku mengangkat alis tertarik. Tak biasanya guru mengerikan ini bicara lumayan santai.
"Menggantikan wali kelas kalian, saya yang akan memperkenalkan dia pada kalian."
Seluruh kelas bersorak penuh semangat.
"Silahkan masuk,"ucapnya kemudian.
Tak berapa lama langkah kaki yang mantap terdengar memasuki ruang kelas.
Seluruh ruang tiba-tiba hening.
Dan aku tak perduli itu.
Pelajaran ini jauh lebih membutuhkan konsentrasi, jadi aku hanya diam sambil menundukkan kepala untuk fokus pada simbol-simbol aneh dibuku paketku.
Yang pertama membuatku sadar adalah bunyi nyaring dari bel istirahat. Kepalaku yang hampir meledak tiba-tiba seperti baru lagi saat mendengar suara surga tersebut.
Aku segera mengeluarkan kotak makanku sebelum mulai berdiri. Kuikir makan diatap akan menyeyangkan. Apa lagi sekarang aku tanpa Furihata, kurasa memilih tempat yang seperti itu akan menyenangkan.
Baru aku menutup kembali tasku tiba-tiba saja bentouku sudah hilang dari hadapanku.
"Are?"aku berkedip beberapa kali sebelum merabai meja. "Perasaan tadi disini,"gumamku pelan.
"Mencari ini?"sebuah suara lembut namun berat terdengar berbisik disebelahku.
Jantungku seolah melompat keluar saat kudengar suara deru nafasnya.
Aku menoleh patah-patah kesebelah kiriku.
Sosok bersurai navy itu menyeringai.
"Merindukanku?"
Hidup benar-benar seperti roller coaster. Apa lagi semenjak Aomine datang, semua tak lagi sama.
Dan itu menjadi tahun terakhirku di Jepang. Sebenarnya ia tak mengangguku. Tak sering, maksudnya. Namun, ketakutan selalu saja menjalar disekujur tubuhku. Belum lagi fakta jika kami satu kelas, dan ia juga teman sebangku ku.
Selalu aku ingat, saat-saat paling mengerikan sekaligus memalukan dalam hidup ku, saat dimana aku baru pulang sekolah.
Deadunan yang bergoyang lembut saat diterpa angin, juga bunga sakura yang bermekaran. Harusnya itu menjadi suasana sore yang menyenangkan. Tapi, yang kuingat hanya teriakan. Pilu. Bernada tinggi. Diiringi tangisan.
Masihku ingat wajahnya.
Bagaimana ia tersenyum.
Aku membencinya.
Tapi juga takut padanya.
"Hei! Bagaimana jika aku pipis dimulut mu?"
Itu yang ia katakan saat ia memojokkan ku kedinding terdekat.
Aku begitu ketakutan, serta tertekan. aku bahkan tak bisa berkata-kata (meski hal ini sudah sangat sering terjadi saat berhadapan dengannya). telapak kakiku mendingin, dan udara disekitarku seolah menipis.
"Sepertinya seru,"bisiknya tepat ditelingaku.
Irisku membola. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan saat tangan berkulit kecoklatannya menyentuh pundakku dan menekannya kebawah, hingga aku jatuh berlutut.
Dan hal terakhir yang kuingat sebelum aku berlari pulang dengan berderai air mata adalah. . .sebuah benda panjang yang masuk ditenggorokanku.
Setelahnya aku bahkan tak mau keluar kamar.
Aku terus-terusan menangis dan meminta pulang kerumah kakek-nenekku.
Bulan itu pula.
Aku pergi.
Meninggalkan semua hal buruk dan memulai kembali hari baru di Amerika.
—FLASHBACK OFF—
つづく
Nb : review saya balas melalui PM :D
