A/N : Hai, minna! Chapter 2 udah diupdate :) sebenarnya chapter 1 dan 2 itu digabung jadi 1, tapi Haru sadar kok itu kepanjangan haha. Btw, ini 5k words? Seriously? Aduh maaf ya, kebiasa nulis novel yang panjang-panjang wkwkw. Oh ya, dan masalah hari update-nya, nggak setiap hari Minggu kok :D. Tapi, selambat-lambatnya satu minggu satu chapter. Oke Haru balas yg review dulu ya~
AcchanZu211 : Sudah yaa^^ Terima kasiih c:
Anya : Hahaha.. arigatou^^
Chihaya : Ah itu tanda positif apa negatif? /plak/ sebenarnya aku udah buat story line nya dan pasti ini seputar kehidupan Rin di Crypton, tapi aku pastikan ceritanya tidak akan bercabang kok. Dan um, sad ending tidak yaah sad ending tidak yaah.
Raira Michaelis : Makasiih haha :D
Hana : Thank you haha, oh iya ig aku shikioru juga :D
Aijo : Haloo.. sebenarnya nggak harus Minggu juga kok. Aku bilang kaya gitu maksudnya selambat-lambatnya chapter diupdate itu sekali seminggu. Oh ya aku udah buat story linenya dan aku udah pertimbangin endingnya. Jadi meskipun aku kena writer block ditengah jalan seenggaknya ada notesnya, jadi gak berhenti di tengah jalan :)
Yukinohara-san : Nggak! Nggak! Kosakata bahasa inggrisku dikit banget. Dan versi B Inggris? Malu sih acak adul bahasa inggrisnya, but I'll try :D
Ayaneshoujo : K-kawaii? :'D Makasih makasih, ini udah update :)
Thanks for the reviews! And happy reading..
Oh ya tambahan! Bagi yang kurang nyaman dengan kata-kata kasar bisa stop scrolling dan tidak membacanya. Haru sudah memperingatkan ya :)
BUG!
"K-kaito!"
Kaito menjitak kepala Len lagi. "Bersikap baik terhadap cewe," seru Kaito. "Maafkan aku ya, Kagamine-san. Namaku Kaito."
"Ya tidak apa-apa."
"Gak, gak kumaafkan."
Kami berdua menjawab bersamaan membuat kami saling memberikan death glare. Oke, pokoknya aku nggak bakal MAU suka sama Len. Nggak mau! Idih. Siapa tuh orang. Sombongnya minta ampun. "Berisik lo, diem!" teriakku.
Semua anggota Vocaloid tak terkecuali Len menatapku. Aku langsung menutup mulutku.
"Holy Cheese!"
.
.
~ Crypton Life ~
Disc : Yamaha Corp
Pairing : Len x Rin (NOT INCEST)
Genre : Romance, Friendship, Slice of Life
Rate : T
Warning : LenXRin! Typo(s)! Rude Word(s)!
Note : Sekali lagi ditekankan, di dalam cerita ini Len dan Rin sama sekali tidak ada hubungan darah. Jadi bagi yang tidak suka dengan pairing ini, bisa stop scroll dan klik tombol back.
.
.
[Len POV]
"Jadi bolos atau ikut belajar?"
Aku menaikkan bahuku. Aku sebenarnya males sih ikut pelajaran biologi. Gurunya killer banget. Ah, tapi kalau buat aku pelajarannya enteng. Palingan kalau nggak tentang tubuh, ah ya pasti tubuh. Mungkin paru-paru, jantung, ginjal, dan sebagainya. Itu sudah diluar hafalan. Aku memang salah satu murid pintar di Crypton. Sebenarnya reputasiku tidak jelek-jelek banget sih. Selain kaya, pintar, dan ... ganteng (i... itu kata cewe-cewe! Sumpah aku nggak pernah nganggep diriku keren). Yah shota gini-gini tapi banyak yang mau, hidupku kurang apa coba?
Masalah suara?
Duh, aku itu tim inti Vocaloid. Vocaloid itu sebenarnya dibagi-bagi. Ada tim inti, tim A, tim B, dan tim C. Tim inti ada Miku, Meiko, Kaito, dan aku, Len. Tm inti biasanya untuk konser mendadak atau pokoknya yang mendadak deh. Kenapa kami? Selain suara kami diatas rata-rata, kami juga anak lama Vocaloid. Sisanya anak-anak yang baru kami rekrut saat SMP kelas 2. Kalau tim A, ada Meiko dan Kaito. Tim B ada Gumi, Gakupo, dan Miku. Tim C itu yang terakhir, Luka dan aku, Len. Sebenarnya tim A, B, dan C itu masih belum fix. Itulah kenapa kita memilih satu orang lagi untuk bisa melengkapi kami. Kalau tim A, udahlah mereka berdua aja si Meiko dan Kaito. Suara mereka benar-benar bagus dan harmonis!
Tapi aku heran, mereka nggak jadian. Malah Kaito sama Miku. Memang sih Kaito dan Miku itu lebih cocok. Tapi, berdasarkan perspektif penikmat lagu kami, Meiko dan Kaito lebih cocok. Maaf ya fans KaiMei, karena yang sebenarnya jadian itu KaiMiku. Hahahaha... nikmatilah derita kalian para KaiMei shippers!
...
Oke, jadi kalian marah ke aku gara-gara aku ngejudge KaiMei? Ah iya deh, aku minta maaf, Ladies. Coba lihat keluar rumah kalian, aku udah bawain mawar lho untuk para ladies ;) *wink*. Dan untuk yang laki-laki...
Yak lanjut. Aku belum membalas pertanyaan Kaito.
"Bolos ajalah! Ntar lo tinggal pinjem catatan gue aja," jawabku acuh tak acuh. Lagian Kaito nggak bodoh-bodoh banget kok, dia termasuk rivalku. Pokoknya kalau ulangan, setidaknya harus ada 10 pelajaran yang diatas nilainya. Tapi sayang sekali, Kaito itu pinternya juga kelewatan. Bodoh, kenapa Kaito itu harus ada di kelasku.
Tapi aku ranking 2 satu sekolah kok.
Ah iya, nggak masalah si ranking 2. Tapi coba liat ranking 1 ; KAITO SHION. Dan nilai kami? BEDA TIPIS. O,3 saja.
"Catatan? Lo nyatet apaan? Materi aja nggak tahu," Kaito menjulurkan lidahnya.
"Tch," decakku. "Bodo amat pokoknya gue mau bolos!"
"Ya ya ya demi sahabatku tercinta."
"Sumpah itu menjijikkan."
Kaito hanya melipat tangannya. "Mau bolos kemana sih emangnya?"
Aku sebenarnya nggak tahu sih, tapi... "Kantin aja, kantin. Laper banget soalnya."
Kaito mengangguk setuju. Kami berdua berjalan menuju kantin dan ternyata ada Meiko, Gakupo, Luka, dan Miku disitu. Wah hebat sekali! Anak Vocaloid yang bolos pelajaran, makan-makan di kantin. Aku langsung duduk di samping Luka dan melemparkan senyum kepadanya. Tapi yang kudapatkan adalah jitakkan darinya.
"Bisa berhenti jadi player?" cibir Luka.
Aku hanya tertawa. "Berhenti setelah mendapatkan yang bagus."
Luka hanya melihatku dengan tatapan jijik. Tatapannya itu kayak.. mau jauh-jauh dari aku! Kayak matahari sama bumi. Berapa kilometer tuh? Tapi tenang aja, guys karena Luka adalah mantanku dan aku nggak mungkin macarin dia lagi. Lagian, it was just for fun. Girls were nice. Really nice. Nah karena dia bukan pacarku, aku jadikan saja dia sebagai kakakku! Yay!
Kaito hanya menarik napas dan duduk di samping Miku. Dia melempar senyum dan bertanya, "Gimana kabarnya, Miku-chan?"
Kaito, klasik banget dah. Dia gak memenuhi standar anak player.
Miku membalas senyumnya. "Hai Kaito-kun. Baik kok. Kaito-kun nggak belajar?"
Kaito baru menjawab, "Nggak ada gu-
"Kita bolos," potongku singkat. "Nah kalian ngapain disini? Bolos juga?"
"Apa? Bolos?!" Miku langsung menatap tajam Kaito. "Kaito-kun, sudah kubilang jangan seenaknya bolos pelajaran! Pokoknya kamu harus ke kelas sekarang juga!"
Kaito kembali menatap tajam diriku. Apa? Sampai kapan mau bohong terus? Hahahaha... sahabatku, kasihan dirinya. Dimarahi pacarnya yang begitu peduli~ Uwuwuwuwu...tapi aku nggak jahat, Ladies ;). Karena aku akan menyelamatkan sahabatku! "Nggak kok Miku, emang nggak ada gurunya. Tadi kita baru lewat di ruang guru dan gurunya tidak ada. Jadi ya kami disini saja. Kalau kalian?"
Kaito menarik napas lega. Ah ya, aku suka kalau orang-orang lega karena pertolonganku. Aku, pahlawan kan?
"Aku tidak ada kelas," ujar Meiko.
Gakupo dan Miku mengangguk. "Kami sekelas dengan Meiko. Jadi ya, daripada bengong di kelas kami kesini saja."
"Lagipula di kelas itu berisik, minta tanda tanganlah, foto, ini, itu," jelas Meiko. "Tapi, kalau Luka... mungkin dia bolos."
"Heh, nggak, enak aja," ketus Luka. "Aku kesini karena guru pelajaran sosial sedang ada rapat. Alasannya sama sih kenapa aku kesini, kelas berisiknya kebangetan! Dan aku tidak punya teman dekat disana."
"Heee... tapi kau bisa mencari teman baru Luka," ujar Kaito.
Luka menggeleng. "Susah mencari teman. Depannya manis belakangnya busuk."
Miku tersenyum. "Tapi kami temanmu kan?"
Luka tertawa dan mengedipkan matanya. "Bukan! Kalian semua adalah sahabatku. Aku mencari teman yang depan belakangnya manis. Bukan depannya busuk belakangnya manis, atau sebaliknya. Coba bayangkan, jika aku membencimu tapi didalam hati aku sangat menyayangimu. Kamu pasti akan tersinggung kalau aku mengejekmu atau apa. Karena teman itu... gunanya untuk membuat hidup kita lebih berwarna kan?"
"Preach!" seru Meiko.
"Kalau pacar?" tanya Miku, melirik diriku. Apa-apaan tuh, kok aku?
"Kenapa aku?" tanyaku menaikkan alisku.
"Kau itu player, apa untungnya berpacaran terus menerus," cibir Luka.
"Oh kau cemburu?" godaku menunjukkan 'smirk' maut.
Timbul semburat merah di pipi Luka.
"Oh~ Luka's blushing~!"
Luka hanya tertawa. "Maaf ya Len, aku hanya tertarik dengan senyumanmu saja. Tapi, kau itu masih jauh dari.. hem," Luka tersenyum malu.
"HEM," Meiko tertawa kecil, sepertinya dia tahu apa yang dimaksud Luka. Lebih tepatnya, siapa. Dan aku juga tahu siapa doi-nya Luka. Ah ya, orang berambut ungu panjang itu. Dan kami benar-benar melihat laki-laki bersuara keren itu.
"Hah?" Gakupo bodoh.
"Orang yang tidak peka itu memang menyebalkan!" Luka melipat tangannya.
"Oh~" aku tersenyum. "Aku peka lho?"
"Kamu itu kegeeran," Luka menjitak kepalaku. Aduh, orang-orang suka sekali ya menjitakku. Apa mungkin rambutku ini... kece ya?
"Hi guys!"
Eh buset siapa tuh! Serem tiba-tiba ada yang nongol di samping kiriku. Aku memang duduk paling kiri sih. Tapi seenggaknya jangan langsung nongol gitu napa. Saat kuperhatikan, ternyata itu Gumi. Dan disampingnya... orang lain? Perempuan, tidak terlalu tinggi, lebih pendek dari Gumi, berambut kuning dan pendek. Dia tampak terbelakak melihat kami. Matanya memancarkan kekagetan yang benar-benar kaget, tidak diperbuat. Kenapa? Aku kegantengan ya? Haha.
"Crap."
"Crap?"
Aku langsung melihat ke sumber suara yang tak lain adalah anak yang dibawa Gumi tadi. Dia... yang tadi bilang crap? Dia itu, cewe kan? Dia tahu apa arti dari crap? Apa dia hanya ikut-ikutan bahasa-bahasa gaul jaman sekarang? Tidak, maksudku itu aneh. Dia tampak otomatis mengucapkan kata 'crap' yang artinya dia terbiasa menggunakan kata itu.
Gumi melihat kearahku. "Hah?"
Aku menggeleng. "Tidak, sepertinya aku salah dengar." Heh, perempuan itu! You were just saved by the bell! Sekarang, aku ingin dia mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan dia.
...
Nggak ngomong apa-apa? Senyum saja tidak? Gerakan tangan pun tidak? Itu anak nggak tahu aku sudah menyelamatkannya dari bullyan anak Vocaloid? Ah maaf, aku lebay. Anak vocaloid bukan tukang bully kok :)
Tapi cewe ini beda. Harus dibully.
"P-permisi. Sepertinya aku lancang sekali, ya?" Oh iya, lancang sekali! Aku ingin sekali mengusirnya dari sini sekarang juga. Lagian ini tempat VIP Vocaloid. Ngapain dia disini?
Dan bodohnya si Meiko menarik tangan si anak itu dan menyuruhnya untuk bersamanya. Heh Meiko bodoh! Aku nggak tahu anak ranking 5 sesekolah ini sebodoh itu! Liat muka muak gue, Meiko. LIAT!
Dan dia nggak ngeliat. Oke, gapapa.
Crap, kenapa Meiko memposisikan cewe itu duduk di sampingku? Hah? Seriously? Aku langsung meluruskan badanku, aku nggak mau ngeliat mukanya yang polos itu. Apaan tuh sok innocent, ngomong crap tanpa berpikir dulu.
"Dia siapa?" tanya Miku.
Ah ya, aku juga sedikit penasaran namanya. Terima kasih, Miku.
"Kagamine Rin," jawab Gumi singkat.
Aku langsung tersedak mendengar nama keluarganya. Kagamine? What the hell? Holy cheese, nama gue sama kaya dia? Dan Rin? What? Rin? Len? Itu namanya mirip banget. Ya Tuhan, apa ini kembaranku?
Hah, aku ngomong apa tadi?
"Air, air, gue butuh air! Cepetan!" aku tersedak kembali dan mengkode Kaito untuk meminta pelayan membawakan air putih.
Dan ternyata yang aku dapatkan adalah jitakannya. "Didepanmu tuh ada air. Lagian, lo bisa tersedak tanpa makan apa-apa."
Sesakit ini kah bersahabat dengan Kaito? Seorang sahabat dijitak oleh sahabatnya sendiri padahal dia sedang mengalami kesusahan? And what? Aku minum air di gelasnya Miku?
Aku ingin sekali tersenyum karena ini adalah indirect kiss bukan? Tapi, nggak. Ga mau. Makasih Kaito. Lo sahabat yang gak guna. Aku menunggu setidaknya ada yang memanggil pelayan untuk membawa air putih.
"Namanya sama. Disini Hatsune Miku."
Apaan tuh? Aku nggak ditanya lagi tentang insiden tadi? Mereka nggak care sama aku?
"Aku Kagamine Rin, dan biar kuklarifikasi lagi, aku dan Kagamine Len tidak ada ikatan darah," ujar Rin sambil menatapku sinis.
Itu anak, punya nyawa berapa sih?
"Semua orang tahu Kagamine Len itu anak satu-satunya," balasku kesal.
"Oh ya, aku hanya bilang agar tidak ada salah paham. That's it," dia tampak meninggikan suaranya. Dan aku bisa menilai dari suaranya, dia benar-benar kesal padaku. Aneh, orang cakep kaya gini dibikin marah.
"Oh, Miss Crap," sindirku.
"Apa? Kau tidak suka?"
"Tidak."
"OH urusi saja duniamu itu sendiri," dia melipat tangannya. Heh, itu gayaku! Apa-apaan tuh!
"Bodo amat." balasku kesal.
BUG!
Another punch. "K-kaito!" teriakku. Serius deh, udah berapa kali aku dijitak hari ini? Apa mereka sebegitu cintanya sama rambutku yang manis dan harum ini?
"Bersikap baik terhadap cewe," Kaito, kamu ngajarin aku ya? Ah baiklah Kaito-sensei~ Aku akan patuh dan taat pada guru terbaikku ini. "Maafkan aku ya, Kagamine-san. Namaku Kaito."
Sejak kapan dia menyebutku Kagamine-san? Oh atau mungkin dia merasa bersalah. Hahaha... ya Kaito, akhirnya kau menyadari kesalahanmu sendiri.
"Gak, gak kumaafkan."
"Ya, tidak apa-apa."
Kami, aku dan Rin, langsung berpandangan. Kalau di drama berpandangan seperti ini bisa menambah kemesraan, jatuh cinta, suka, pokoknya yang mesra-mesra. Nah, kalau realitanya, kami melemparkan death glare masing-masing. Ditambah, Rin menambahkan wajah jijiknya terhadapku. Heh? Aku kotor?
"Berisik lo, diem!" tiba-tiba Rin berteriak sambil berdiri dan membanting meja, benar-benar kesal. Apa salahku? Itu kan hanya salah paham. Aku kira Kaito minta maaf denganku. Lagian, make nama Kagamine. Aku kan juga Kagamine. Cewe emang sulit ya.
Tapi, aku speechless. Dan dia langsung terbelakak melihatku. Bentar, mata kami bertautan sama lain. Aku yakin sekali Miku dan yang lainnya juga kaget melihat Rin, tapi Rin seperti tidak mempedulikan mereka.
Dia langsung menutup mulutnya. "Holy cheese!"
H-holy cheese? My phrase! She stole it!
"A-aku permisi dulu!" dan dia langsung kabur tanpa meminta maaf atau mengucapkan selamat siang. Mataku langsung mengikuti arah gadis itu berlari. Dia tampak tergesa-gesa. Bahkan panggilan Gumi dan Miku tidak mempan padanya.
Apa-apaan itu perempuan?
"Hey," Kaito menepuk pipiku.
"Damn! Ngapain si?!" ketusku.
"Lo nyadar gak sih, daritadi lo ngeliatin Rin pergi bahkan sampai sekarang lo gak gerak," Kaito menjelaskan kenapa dia menamparku. Tapi itu tetap sakit, lho, kaito. Kau harus tahu itu.
"Oh, masa," gumamku. "Aku tidak sadar? Berarti tadi aku kerasukan. Itu bukan aku. Hahahaha," tawaku kencang.
Dan tampaknya aku salah ngomong karena mereka melihatku dengan tatapan takut.
Shit.
"Jadi, care to explain about Kagamine?"
"Kagamine? Marganya Len?" tanya laki-laki shota berambut silver itu, namanya adalah Utatane Piko.
"Iya, tapi ada cewe namanya Kagamine Rin," jawab Kaito.
"Pertanyaan gak penting," ketusku. Lagipula, Kagamine itu nama belakang yang populer kok. Kenapa mereka begitu mempermasalahkannya sih. "Nama marga anjing gue Kagamine dan dia nggak mempermasalahkan tuh."
Kaito dan Piko saling berpandangan. "Lah dia kan anjing. Ya gak bakal mempermasalahkanlah," Kaito hampir saja menjitakku jika saja aku tidak menangkap tangannya.
"Not now, Kaito," sudah lelah aku di jitak-jitak terus.
"Aku heran kenapa nama anjing Len diberi nama Kagamine juga?" kata Piko dengan nada bertanya.
Kaito tertawa. "Lo gatau, Piko? Kan Len sama anjingnya sama-sama anj-
BHAKK!
"Ngomong sekali lagi gue jitak lagi kepala lo," seruku kesal. Hah, pembalasan! Well done, Kagamine Len. Kau berhasil menjitak kepala temanmu yang begitu bodoh ini. Ya kali seorang Len Kagamine disamakan dengan anjing? Um... tapi aku cinta anjing! Maafkan aku, doggy telah merendah-rendahkanmu.
Kaito menggaruk-garuk kepalanya. "Terus gimana yang Kagamine? Itu memang banyak yang make nama marganya atau apa?"
"Hmm..," gumamku. "Aku juga bingung sih sebenarnya karena Kagamine itu nama yang rare, langka. Masa laluku baik-baik saja kok. Nggak ada mimpi buruk karena kecelakaan atau apa, atau kehilangan adikku sendiri. Dari bayi emang udah sendiri, nggak kembaran. Entahlah, no idea," ujarku. "Tapi selama dia tidak mengangguku aku tidak masalah."
SEBENARNYA dia mengangguku. Itu berarti masalah. Ini masalah besar! Berterima kasihlah Rin karena aku tidak menjelek-jelekkanmu sekarang.
"Aku kira kalian berdua bertunangan," ujar Piko dengan polosnya.
"What the f-
"KPI lewat," Kaito membungkam mulutku dengan rapat.
"BWAH!" aku langsung melepaskan tangannya dari mulutku. "PIKO, KENAPA? KENAPA KAU BERPIKIRAN SEPERTI ITU?" aku menggoyang-goyangkan bahunya dengan dramatis dan keras.
"Ah... kau bilang kan kau tidak bersaudaraan dengannya," tawa Piko. "Jadi ya yang paling dekat adalah tunangan. Lagian, nikah muda nggak salah kok," Piko memamerkan sederet giginya yang putih bersih mengkilap dan indah.
"Benar juga ya! Asik nikah muda, aku mau makan makan!" seru Kaito kekanak-kanakkan.
Aku hanya perlu menarik napas dan mengeluarkannya. Tarik napas lebih tinggi lagii, dan keluarkan. Oke, aku sedikit bisa mengendalikan emosi sekarang. "Stress aku temenan sama kalian."
"Butuh teh panas?"
"Ngga. Butuh kehangatan," aku langsung meletakkan kepalaku di atas tanganku di meja. Habis ini pelajaran sosial dan aku benci sosial.
Piko dan Kaito berpandangan, lalu langsung memelukku. "TELETUBBIES!"
"F*** OFF!"
[RIN POV]
Teman-teman, aku boleh menarik perkataanku? Maksudku, aku tadi bilang bahwa hari ini adalah hari terbaikku. MAAF. MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA. Hari ini adalah hari yang memalukan, benar-benar malu diriku ini. Lebih tepatnya, hari yang menjengkelkan, memalukan, mengesalkan, ugh. Pokoknya, hari pertamaku ini, benar-benar tidak asik! Ditambah Gumi tidak ada pelajaran sosial habis ini. Ugh... kenapa sih tiap pelajaran beda temen. Dan sekarang aku sendiri berjalan di koridor yang lumayan ramai. Oh ya, sebenarnya tadi aku tidak ke perpustakaan. Aku bingung mau kemana, karena udah malu pake banget.
Didepan tangga ada kerumunan siswi-siswi yang berteriak-teriak histeris. Aku penasaran ada apa. Tampaknya mereka senang sekali. Aku mencoba melihat siapa yang dikerumunin dan oalah...
Hatsune Miku.
Sip. Selamat dibully karena kejadian barusan, Kagamine Rin.
"Rinny-chan!"
Holy cheese! Aku dipanggil Rinny-chan? Suara Meiko? Bukan. Gumi? Bukan. Len- NO!. Maksudku, itu bukan siapa-siapa. Tapi tanganku tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Seseorang yang sangat manis dan cantik berambut hijau tosca panjang dan diikat dua. H-Hatsune Miku! Itu, MIKU-SAMA! MIKU YANG SANGAT POPULER, MENARIK DAN MENYERET ANAK YANG TAK TAHU DIRI INI.
Oke ini lebay. Tapi ini realita. Terkadang, realita tak sepahit ekspetasi.
"Rinny-chan kenapa? Maaf ya aku tiba-tiba menarikmu. Lagipula, diantara mereka aku tidak kenal. Jadi aku tarik saja kamu haha," jelasnya dengan polos. Benar-benar polos. Saking polosnya dia tidak tahu bahwa dibelakangnya ini para fansnya menatap tajam diriku. Uh oh... pertama Gumi, sekarang Miku.
"Mmm... tidak apa-apa," senyumku. "Miku-san habis ini apa?"
"Aku ada sosial," jawab Miku dengan sangat bahagia. "By the way, kau tidak perlu pakai suffiks. Panggil saja Rin."
"Oh sama, aku juga sosial. Berangkat bareng yuk?" tanyaku dengan senang sambil meraih tangannya. Miku melihatku tak berkedip. Aku melakukan kesalahan? Oh tidak, aku menarik tangan orang paling ngetop di Crypton! Astaga! Aku buru-buru melepaskan dan menunduk. "Maafkan aku, Miku-san!" aku memang lancang ya.
Miku terdiam tapi dia langsung merangkulku. "Ayooo~ Kau tidak perlu minta maaf, hm. Dan copot suffiks san itu! Aku tidak suka itu," ujarnya dengan wajahnya yang lucu. Kalau aku laki-laki, aku pasti sudah jatuh cinta dengan Miku melihat senyumannya yang manis. Tapi tenang, aku itu masih normal kok. Hahaha...
"Okay, Miku~ Jadi kelas kita ada dimana ya?" rasanya aku seperti sudah akrab dengan Miku. Kuharap dia tidak merasa risih.
"Hmm... di dekat perpustakan!" jawab Miku dengan riang. Ah tampaknya dia tidak memedulikan sikapku yang lancang tadi.
Kami bergandengan tangan layaknya teman dekat dan sukses membuat fans-fans Miku mengaktifkan death glare-nya. Aku jadi merasa tidak enak melihatnya. Tapi Miku tampak biasa-biasa saja, malah dia semakin mempercepat langkahnya. Mungkin dia sebenarnya juga risih tapi mau bagaimana lagi. Ini resiko sebagai public figure kan? Aku mendekap notebookku yang sebenarnya sudah dipegang dari tadi.
Miku melirik ke arah notebookku. "Death Note?"
"Ah?" aku melihat notebookku. Death Note. Iya, covernya berjudul Death Note. Tampaknya Miku suka Death Note? "Iya, ini notebookku. Custom, haha."
"Wah, sugoi!" Miku mengambil notebookku dengan cepat lalu melihat cover depannya. Di cover belakangnya terdapat rules-rules yang berlaku di death note. "Keren sekali, Rinny-chan~! Kau beli dimana?"
"Aku lupa sih, haha...," kataku tertawa kecil.
"Keren banget!" puji Miku berkali-kali membolak-balikkan notebookku.
"Miku suka Death Note?" tanyaku sambil tersenyum.
"Ssst!"
"Hah?"
"Jangan sampai ketahuan yang lain ya? Reputasiku hancur nanti kalau ketahuan suka baca komik," bisiknya lalu tertawa lepas.
Aku tertawa. "Tentu saja!"
Miku tiba-tiba terdiam. "Oh iya! Aku lupa memberimu sesuatu." Miku mengobok-obok tas selempangnya yang dia bawa.
"He?" aku ikut-ikutan diam. Apa itu? Uang tip? Bukan. Kado ulangtahun? Baru ketemu tadi pagi kok, dan hari ini juga bukan ulang tahunku.
"Nah ini dia!" katanya sambil tersenyum. Aku mengintip apa yang ia pegang. Audisi vocaloid?
Wait, what?
"Rinny-chan, ayo ikut audisi Vocaloid!" serunya dengan mata berbinar-binar sambil menunjukkan brosurnya. "Kamu bisa datang tiga hari lagi nanti sepulang sekolah di ruang klub Vocaloid! Bagaimana? Kau setuju kan? Apalagi yang menawarkanmu itu Hatsune Miku!" serunya bergembira.
He? Seriously? Aku? "M-miku, kau benar-benar mengajakku?"
Miku menaikkan alisnya. "Tentu! Aku ingin mendengar suaramu."
"S-suaraku?!" aku langsung tertawa receh. "Setelah mendengar suaraku, gempa akan terjadi, menyebabkan tsunami dan gunung meletus. Lalu korban jiwa bertebaran dimana-mana. Kau tahu kenapa itu terjadi? Suaraku itu dibawah rata-rata. Bahkan, minus! Minus seminus-minusnya."
"But it's worth to try," ucapnya sambil tersenyum manis. Dia mengambil notebookku dan meletakkan selembar brosur di notebook tersebut.
"H-hey!" kataku.
Miku tertawa kecil. "Join, lho!" katanya sambil tertawa. Aku jadi ikut tertawa. Chemistry Miku benar-benar cerah ya. Wajar kenapa banyak sekali yang ngefans dengan anak satu ini.
Kami berdua berhenti tertawa dan melihat ada perempuan manis sedang menunduk malu.
"Halo?" tanya Miku ramah. "Kau mau ikut audisi Vocaloid?"
"Ah... um... sebenarnya aku ingin sekali masuk Vocaloid," ujarnya dengan semburat merah di pipinya. Dia memainkan jari telunjuknya. Oh God anak ini benar-benar memenuhi persyaratan anak Vocaloid. Cantik, manis, suaranya lembut, pasti dia pintar bernyanyi. "Tapi... aku tidak yakin bisa masuk."
"Eh? Kau bisa mencobanya dulu kan? Jangan takut," hibur Miku.
"Um, sebelumnya namaku adalah Mayu! Kau boleh memanggilku Mayu. Senang berkenalan denganmu, Miku-san!" anak berambut gelombang itu menunduk.
Miku yang tampak canggung mengangguk-angguk. "A-aku Miku. Senang berkenalan denganmu juga," ucap Miku sambil tersenyum. Anak itu juga menunduk ke arahku, aku hanya membalas dengan tundukkan saja.
"Rin Kaga-
"Sebenarnya, Miku-san, aku tidak yakin bisa masuk ke klub kalian," ujar Mayu tersenyum simpul. Aku hanya speechless karena tampaknya dia tidak ingin mengetahui namaku. Yeah, padahal namaku ini sama dengan Len, kan? Dia sudah kehilangan kesempatan karena jika dia bertanya lagi aku hanya akan menjawab Rin. Ah, memangnya dia penasaran dengan bocah ingusan kayak diriku ini? Hahaha, funny.
"Kenapa? Kau bisa mencobanya?"
"T-tidak... aku benar-benar ingin masuk ke klub kalian! Tolong! Perbolehkan aku! Aku sangat gila akan Vocaloid! Jadi tolong, cantumkan namaku di klub kalian!" Mayu menunduk menunjukkan betapa hormatnya pada Miku.
"Kau bisa lewat audisi, kan?"
Mayu menunjukkan wajah kecewanya. "B-bukan..."
Oh crap, I know where this is going! Nyogok? Bisa jadi.
"Jadi?"
"A-aku akan membayar berapapun yang kau mau! Asalkan aku masuk ke klub kalian!" bisik Mayu dengan pelan.
Miku melirik ke arahku, begitu juga denganku. Miku menatap Mayu dengan wajah kesal. "Halo! Hatsune Miku disini, dan akan memberikan brosur tentang audisi Vocaloid! Hanya ini satu-satunya cara untuk masuk ke klub kami. Tolong bagikan kepada teman terdekatmu. Terima kasih dan selamat siang!" Miku menarik tanganku tanpa jeda.
"M-miku-sama!"
"Maaf aku ada urusan penting!" tolak Miku tanpa melihat kebelakang, meninggalkan gadis malang itu.
"Tidak apa-apa?" tanyaku.
Miku menggeleng. "Aku benci orang yang kotor dan hanya menggunakan duit. Bahkan dia ngomong tanpa rasa bersalah. Aku tidak akan memilihnya jika dia benar-benar ikut audisi tersebut!"
Aku tertawa kecil. "Jangan seperti itu, dia benar-benar fans kalian, lho."
"Tapi dia curang," debat Miku. "Orang yang curang tidak akan diterima di klub Vocaloid."
Aku tersenyum simpul mendengarnya. Miku benar-benar idola yang tidak sekedar hesemeleh-hesemeleh saja ya?
Tanpa sadar kami sudah berada di depan kelas sosial. Pintunya terbuka dan aku langsung nyelonong saja masuk.
DUGH!
"HOLY CHEESE!"
"O HOLY CHEESE!"
Aku memegang kepalaku yang sepertinya terbentur dengan kepala seseorang. Gila, ini sakit banget. Beneran deh. Aku langsung membuka mataku dan mendapati Kagamine Len sedang mengusap-usap kepalanya. Mataku membulat dan kaget, begitu juga dengan Len. Kami diam sebentar, mencerna apa yang baru saja terjadi.
"LO LAGI!" aku dan Len sama-sama menunjuk satu sama lain dengan kekesalan yang mengebu-ngebu.
"Lo ngapain disini, Miss Crap?!"
"Itu pertanyaan gue! Lo yang ngapain disini, dasar freak!"
"Freak?! Heh ayam, dengerin ya! Jalan tuh liat-liat. Udah tau ada orang di depan lo masih serudukkin!"
What? Aku dibilang ayam? "Eh, itu kalimat gue! Minggir aja deh, Shota!"
"S-shota?!" dia terdiam sebentar dan tampak tak terima dengan kata 'shota'.
Aku langsung nyengir. Jadi ini titik kelemahannya. Shota. Ya, shota. "Kenapa? Kau tidak suka? Bukan masalahku! Sekarang minggir, Shota! Gue mau belajar!" aku langsung mendorong Len dan berjalan cepat mencari kursi. Oke aku tahu kalau fangirl-nya Len Kagamine ini sedang mengumpat-umpatku karena telah merendahkan idolanya. Haha, who cares. Selama gue senang, gue gak akan peduli dengan mereka-mereka yang punya selera aneh.
Um, tapi aku juga fans Len. Um.. no! Maksudku, dulu. Oke, dulu. Jangan samakan dengan sekarang.
"Rinny-chan, tunggu!" Miku berlari menghampiriku dan duduk disampingku. Dia tampak menahan ketawa melihat kejadian tadi. Aku menarik napas lega karena Miku tidak marah padaku akibat kejadian yang 'baru banget' terjadi. Dan iya aku tahu, sekarang fansnya si Miku, kembali menatap tajam diriku. Oh well, ada apa? Kalian kesal padaku? Selama gue senang, gue gak akan peduli dengan mereka.
As simple as that.
Wait, itu ngapain Len masih berdiri disitu. Mana ngeliatin aku lagi. He, ngeliatin? Rin? Ini aku yang geer, atau dia yang otaknya jadi miring gara-gara insiden tadi?
Aku menggelengkan kepalaku. Ngapain aku pikirin! Aku pura-pura cuek dan langsung meletakkan notebookku di meja. Suasana kelas menjadi hening. Mungkin karena kami sempat bertengkar tadi? Aku jadi agak canggung.
"Rinny-chan, kau kenapa benci sekali sih sama Len?" tanya Miku penasaran.
Terima kasih Miku sudah melelehkan suasana panas ini.
"Um... tidak tahu. Dia menyebalkan," jawabku pendek.
Miku mengangguk-angguk. "Sebal sih boleh, tapi jangan sampai keterlaluan."
"Apa? Nanti jadi cinta? Haha, gak, makasih," potongku.
"He?" Miku mengedipkan matanya berkali-kali. Aku jadi takut.
"A-apa? S-salah ya? Lupakan!" doh malu.
"Hahaha," Miku tertawa lepas. "Tidak, maksudku, kamu akan dimusuhi fangirl-nya. Kamu tahu sendirilah fangirlnya benar-benar gila."
Oh ya, masuk akal Miku. "Hahaha, iya juga ya," kataku menyetujuinya.
"Mm, tapi bisa juga sih perkataan kamu. Hati-hati jadi cinta," Miku mengedipkan matanya.
Aku langsung memukul lengannya pelan. "Tidak akan!" kami berdua tertawa lepas, seakan-akan kami sudah kenal dekat.
"Selamat siang, boys, girls," sapa guru sosial kami memasuki kelas.
Aku dan Miku langsung terdiam dan ikut berdiri bersama yang lainnya untuk memberi hormat kepada guru kami. "Selamat siang, Hanami-Sensei..."
"Yah, sekiranya sampai disini saja," kata Hanami-sensei sambil tersenyum. "Terima kasih atas dua jamnya dan semoga kalian selamat sampai rumah."
Kami langsung berdiri dan menunduk. "Terima kasih, Sensei!" ucap kami dengan serempak. Guru itu mengangguk lalu pergi dari kelas. Suasan kelas pun menjadi ribut, entah menggosipkan sesuatu, atau membicarakan sesuatu, atau bertanya tentang pelajaran tadi.
"Rinny-chan, kau pulang ke arah mana?" tanya Miku.
"Ke selatan," jawabku.
Miku memasang wajah sedih. "Rumah kita beda arah ya. Haha. Ya sudah, sampai jumpa, Rinny-chan! Jangan lupa kerjakan PR-nya!" Miku melambaikan tangan lalu aku melihat dia sedang menghampiri Kaito. Aku tersenyum, ternyata mereka berdua pacaran ya. Aku pikir Kaito berpacaran dengan Meiko, ternyata salah. Hmm... media memang terkadang tidak sesuai dengan realitanya.
"Rin!" sahut Gumi. "Ayo pulang bareng!"
Aku menoleh. Gumi sahabatku! Yay! "Ayooo!" seruku dengan riang. Aku langsung pergi tanpa memperhatikan barang-barangku lagi dan menghampiri Gumi. "Pelajaran apa tadi? Seru tidak?"
"Pelajaran bahasa, dan yah... biasa saja," kata Gumi. "Kalau Rin?"
"Aku ada sosial. Dan Hanami-sensei benar-benar baik ya?" kataku sambil berjalan keluar sekolah.
"Hanami-sensei memang baik. Sudah gitu, cantik lagi," puji Gumi. "Dia banyak membantu klub Vocaloid!"
"Benarkah?"
Gumi mengangguk mantap. "Oh ya, kau sudah dengar tentang audisi Vocaloid besok?" tanya Gumi.
Aku mengangguk seadanya.
"Bagus!" oh mata Gumi tampak berbinar-binar. "Kalau begitu, aku harus melihatmu datang besok pulang sekolah ya!"
"He? Harus?"
"Ya, pokoknya harus lho!" cibir Gumi. "Kalau tidak ikut aku pastikan akan menjodohkanmu dengan Len!"
Jodoh? Len?! Kecepetan, Gumi! KECEPETAN.
"Oke oke oke akan kupertimbangkan lagi," kataku kesal.
"Yaayy!" Gumi langsung merangkulku. Tapi tiba-tiba, handphone Gumi bergetar. "Um, sebentar," ucapnya dibalas anggukkanku. Dia menjawab teleponnya dan tampak mengangguk-angguk.
"Ah jadi ada rapat mendadak? Untung saja aku belum terlalu jauh dari sekolah. Ya sudah, dimana rapatnya? Ohh... di ruang sosial?"
Oh ada rapat. Hm, benar-benar sibuk ya.
"Baiklah, arigatou, Miku!" ucapnya riang lalu mematikan panggilannya. "Huff.. aku ada rapat hari ini. Maaf ya, Rin-chan," kata Gumi sambil tersenyum dipaksakan.
"Ya ampun, Gumi, nggak, nggak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri kok!" kataku.
"Baiklah!" Gumi memelukku lalu melambaikan tangannya, dan berlari kembali ke arah sekolah.
Aku hanya tertawa melihat tingkah Gumi dan kembali berjalan menuju apartemenku.
Jam tiga sore.
Aku mengambil snackku dan menyalakan TV. Ada acara musik hits setiap jam tiga! Aku benar-benar menunggu acara itu. Ditambah pembawa acaranya yang kece dan ngomongnya jelas. Nama acara TV-nya adalah She Hits the Button! Aku memakan cokelat sambil mendengarkan pembawa acara berkata-kata dengan cepat lancar tapi jelas.
"Ya, sekarang saya akan menekan tombol ini dan kita lihat musik yang paling hits belakangan ini!" pembawa acara berambut ikal itu langsung memencet tombol merah disampingnya. "Lucy Hit the Button!" serunya setelah memencet tombol itu. Ya, nama presenternya adalah Lucy.
Dan layarpun berganti menjadi video klip seseorang yang sangat ia kenal. Kagamine Len. Tentu saja, hampir tiap minggu dia keluar di She Hits the Button. Aku agak bosen sih liat si shota itu keluar mulu di SHB tapi lagunya emang diatas rata-rata. Dan yang sekarang lagi ngehits adalahhh...
Servant of Evil?
"WHAT THE ACTUAL *peeeep*," seruku loncat. "Itu lagu jaman dia masih cengar-cengir dan belum kenal sama yang namanya pacaran!"
Tapi setelah didengar lagi, ini seperti diubah? Aku melihat kembali judulnya. Servant of Evil ; Classical Version. Aku mencoba mendengarkan instrumennya yang memang bagus dan membuat pikiran kita melayang jauh kembali ke masa-masa revolusi Prancis.
Marie Antoinette.
Guillotine.
Itulah yang ada di pikiranku sekarang. Marie Antoinette, ratu Prancis yang dieksekusi dengan guillotine. Dulu Len pernah bilang di suatu talkshow kalau cerita Servant of Evil terinspirasi dengan cerita Marie Antoinette. Ah.. aku suka sosial sejak saat itu. Aku menyukai sejarah-sejarah zaman dahulu, bahkan misteri apakah benar Adolf Hitler ngungsi ke Indonesia atau bunuh diri di tempat persembunyiannya bersama istrinya Eva Braun.
Tanpa sadar, aku ikut bernyanyi. Lagu itu memang lagu nostalgia.
Kimi wa oujo boku wa meshitsukai
Unmei wakatsu aware na futago
Kimi wo mamoru sono tame naraba
Boku wa aku ni datte natte yaru~
"Astaga, Rin-chan! Apa kau sebegitu cintanya dengan Len sampai-sampai rela menjadi orang jahat untuknya?"
"HOLY CHEESE!"
GUBRAK!
Aku terjatuh karena kaget melihat Gumi tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terdahulu. "Hey! Disitu ada pintu. Setidaknya ketuk dulu sebelum masuk ke kamarku!" rengutku. "Dan kamu tahu darimana kamarku?!"
"Sources," cengir Gumi. "Anyway, suaramu keren banget! Benar-benar menyatu dengan suara Len. Aku harap hati kalian juga~"
"Jangan harap!" ketusku.
"Oh ayolah," rujuk Gumi. "Kau akan ikut audisinya kan? Ya ya ya?!"
Aku menarik napas. "Gumi, dengar. Suaraku tak seindah yang kau pikirkan."
"Tapi tadi aku dengar suaramu kok! Dan benar-benar bagus! Suaramu high pitch tapi manis!"
Aku tersenyum. "Ta-
"No tapi-tapian!" tegas Gumi. "Pokoknya kalau kamu masih mau melihat matahari terbit, aku harus melihat wajahmu di audisi nanti!"
Aku melongo tidak berkedip. Sebegitu inginnyakah Gumi? Ah, aku tersanjung. Lagian kasihan dia daritadi merayuku untuk ikut audisi. "Well, akan kucoba," kataku sambil melipat tanganku. Lagipula, apa salahnya mencoba? Siapa yang tidak mau bernyanyi bersama idolanya? Siapa? SIAPA?
"Yaayy!" Gumi memelukku. "Oh ya, aku kesini kare-
DDRRRTT! DRRRTT!
Gumi langsung mengambil handphonenya. "Moshi-moshi! Ah, ya. Hah, benarkah? Um... baiklah! Aku akan secepatnya kesana!" Gumi mematikan panggilannya dan tampak sedikit pucat namun dia tenang.
"Ada apa?" tanyaku.
Gumi menggeleng. "Aku duluan ya! Aku buru-buru."
"Baiklah. Jangan lupa tutup pintunya!" seruku.
"Yayaya," dia pun keluar dari kamarku. Dan tidak menutup pintunya. Wow, nice, Gumi, nice.
[GUMI POV]
Aku cepat-cepat keluar dari apartemenku dan mencoba menelpon taksi. Aku mengobok-obok tasku untuk mencari handphoneku tapi ternyata notebook Rin masih di tasku. "Ah iya, aku niatnya mau mengasih notebooknya yang tertinggal di ruang sosial tadi." Aku melihat ke lantai dimana Rin tinggal.
"Ogah kesana lagi. Capek."
Lagipula, aku buru-buru. Aku langsung melihat sekitar dan aku mendapati Len sedang bersama Kaito dan Gakupo di depan kafe Hailey, kafe terkenal dan paling dekat dengan apartemen kami. Tampak Len melambaikan tangannya pada Kaito dan Gakupo. Oh mereka sudah selesai makan-makannya. Perfect!
Aku langsung mengambil notebook Rin dan berlari menghampiri Len.
"Oh, hai Gumi? Ada ap-
"Len! Aku minta tolong! Kasih ini ke Rin, SEKARANG. JUGA," perintahku dengan nada tersengal-sengal.
"What? Aku? Kau bo-
"I'm not listeniinng~ And I'm in hurry! Sekarang ya. Kalo kamu gak ngasih sekarang, aku jodohin kamu sama Rin!" ancamku. Haha, aku memang suka sekali dengan mereka berdua! Ah tapi aku sedang terburu-buru sekarang.
"Ya Tuhan salah gue apa," gumam Len melihat notebooknya Rin. Dia tampak terdiam melihat notebook itu.
"Oke, cabut dulu!" aku langsung pergi meninggalkan Len dan tidak menggubris panggilannya. Pokoknya kalau dia mau selamat, balikkin notebooknya sekarang juga. Aku tahu aku jahat, haha.
Aku akan melakukan apapun untuk menyatukan OTP-ku~~ :3
[LEN POV]
Dasar old hag! Aku akan benar-benar mengutukmu Gumi karena sudah membuatku menambah bebanku. Dan notebook ini? Hha, ternyata si Miss Crap suka Death Note? Well, jarang sih yang suka... mm, entahlah. Tapi ini benar-benar membuatku kesal. Ngapan sih si Rin sampe jadi nitip-nitipan gini.
Nigakute hotto na supaisu, kimi dake ni ima ageru yo~
Aku langsung melihat siapa yang menelpon. Miki? Hh. Aku langsung menerima panggilannya dan terdengar teriakan cempreng dari si Miki ini. "Leenn-kuuun! Sedang apa kau? Ada dimana? Apa yang terjadi disana? Apa kau merindukanku?"
Oke, Miki ini pacarku sekarang. Sebenarnya aku bukan yang menembaknya, dia sendiri yang menyatakan perasaannya. Makanya aku terima-terima saja. Lagian menyenangkan kalau punya pacar~. "Halo, Miki hime-sama," ucapku dengan lembut. Aku bisa memastikan disana dia nge-blushing. Yailah. "Miki, aku mencintaimu tapi sekarang aku benar-benar sedang sibuk. Bagaimana kalau besok saja kita bicara di kantin?"
Miki terdengar merengut. "Kau selalu bilang seperti itu! Besok, besok, dan besok! I'm the only one, right?!" kata Miki dengan nada sedikit tinggi.
Duh, she's annoying. "Yeah honey, you're the only one," kataku sambil memutar bola mataku. Rasanya ingin muntah aku.
Miki tertawa kecil. "Right! I'll see you tomorrow, baby~," balasnya dengan riang.
"Ye," kataku pendek. Aku langsung mematikan handphoneku dan menarik napas lalu membuangnya. "Mereka wanita yang bodoh," gumamku, lalu melihat apartemen Rin yang tinggi.
"Jadi disini dia tinggal," kataku. Aku kira dia tinggal di sebuah rumah. Berarti rumah aslinya jauh dari sekolah, ya. Aku melirik notebook yang Gumi titipi. Aku sekilas melihat kertas yang agak keluar dari notebook tersebut. "Audisi vocaloid?"
Oh, jadi begitu.
A/N : Hai hai haaaii makasih udah bacaaa :'D Oh ya, Haru minta maaf kalau kebanyakkan horizontal line-nya. Haha, soalnya partnya lumayan banyak jadi ya gitu q/q. Review ditunggguuuu~~
